Kenyataan (Realita) Umat Islam Dan Berita Kenabian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Ditulis oleh abuamincepu di/pada September 4, 2007
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]Kata Pengantar PenulisSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah dan ampunanNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kami dan keburukan amalan kami. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.
Ama ba’du.
Sesungguhnya umat Islam telah terdampar di persimpangan jalan, mereka hidup dalam kesengsaraan yang tidak pernah disaksikan oleh sejarah umat Islam walaupun telah berlalu banyak krisis dan bencana yang silih berganti pada saat-saat lemah dan jauh dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh. Kaum muslimin kehilangan sebagian dari negeri atau harta mereka atau hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan was-was.
Akan tetapi seorang yang mengerti sunatullah yang berkaitan dengan perubahan tidak ragu bahwa kekalahan akan kembali kepada musuh-musuh umat Islam, hal itu seperti yang dikatakan tokoh mereka : “kami adalah satu kaum yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Islam, maka ketika kami menginginkan kemulian pada selain Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menghinakan kami”.
Oleh karena itu mereka cepat sekali mengoreksi (mengintrospeksi) diri, lalu mendapatkan sumber penyakitnya dan sadar akan kelemahannya, kemudian mereka segera memulai amalan yang merupakan tahap kembali kepada agama mereka, sehingga Allah mengangkat kehinaan tersebut dari diri mereka dan kekuatan mereka semakin bertambah kemudian beralihlah kekuatan mereka ke sebelah timur setelah lebih dahulu berada di sebelah barat.
Di sana muncul orang-orang yang -tumbuh berkembang- di dalam naungan Islam namun tidak mengenal kejahiliyahan, maka terlepaslah ikatan Islam itu satu persatu, dan setiap lepas satu ikatan, manusia akan berpegang dengan ikatan yang berikutnya.
Sesungguhnya kegelapan yang menyelimuti kenyataan umat Islam dewasa ini lebih dahsyat dan pahit, akan tetapi saya yakin dengan petunjuk dari Rabb saya bahwa hal itu akan hilang dan berlalu -dengan izin Allah-.
Oleh karena itu kita seharusnya memandang kenyataan tersebut dengan cara pandang Islam dan mencari penyebab mengapa hal itu dapat terjadi, kemudian memilih manhaj yang benar yang tidaklah baik akhir umat ini kecuali dengannya, karena awal umat ini telah baik dengannya.
Dan Allah maha menepati janjinya, maka aku bersandar dan percaya padanya..
Ditulis oleh
Abu Usamah Saliim bin ‘Ied Al-Hilaaly
KENYATAAN (REALITA) UMAT ISLAM DAN BERITA KENABIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Pada kenyataannya ada dua hal yang membuat umat Islam kehilangan keseimbangan, sehingga berjalan limbung ke kanan dan ke kiri sampai ada sekelompok darinya keluar dari jalan induk (lurus).
Pertama : Al-Wahn
Keadaan ini telah diisyaratkan dan dijelaskan dengan sangat tegas dan tidak ada kebimbangan, sangat jelas dan tidak ada kesamaran padanya dan gamblang sekali dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah : “Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya : “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab : “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati”
Hadits ini -yang menggambarkan keadaan Al Wahn- memberikan gambaran dan pemaparan yang sangat jelas sekali tentang keadaan (realita) umat Islam.
[1]. Musuh-musuh Allah yang terdiri dari tentara iblis dan pembantu-pembantu syaithan mengawasi pertumbuhan Islam dan negaranya, kapan mereka dapat melihat Al-Wahn menjalar padanya dan menggerogoti tubuhnya, mereka pun menerkamnya dan meninggalkan sisa-sisa dari yang berharga miliknya.
Kaum kafir dan musyrik ahli kitab senantiasa melakukan hal tersebut sejak awal kemunculan Islam ketika negara Islam baru dibangun pondasinya dan ditegakkan bangunannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al-Madinah an-Nabawiyah dan sekitarnya.
Hal itu telah terjadi dengan sangat jelas dalam hadits (tiga orang yang tidak ikut perang tabuk) sebagaimana yang dikatakan Kaab bin Maalik Radhiyallahu ‘anhu.
“Artinya : Ketika aku berjalan-jalan di pasar Madinah, seketika itu ada seorang petani dari petani-petani penduduk Syam yang datang membawa makanan untuk dijual di pasar Madinah : “Siapa yang dapat menunjukkan Kaab bin Malik ?” Lalu orang-orang langsung menunjukkannya sampai dia menemuiku dan menyerahkan kepadaku surat dari raja Ghossaan, dan aku seorang yang dapat menulis, lalu aku membacanya, dan isinya : “amma ba’du, sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa pemimpinmu telah berpaling meninggalkanmu dan sesunguhnya Allah tidaklah menjadikan bagimu tempat yang hina dan kesia-sian, maka bergabunglah kepada kami, kami akan menyenangkanmu”
Lihat dan renungkanlah wahai saudaraku yang tercinta, bagaimana kaum kafir yang berada di sekeliling negeri Islam mengintai berita-beritanya sehingga jika mendapat kesempatan, mereka akan menyerang negeri Islam tersebut dari segala penjuru. Dan hal itu semakin jelas dengan :
[2]. Umat-umat kafir menyeru sebagian mereka kepada sebagian yang lain (saling mengajak) dan berkumpul mengadakan persekongkolan (konspirasi) untuk menyerang Islam, negaranya, pemeluknya dan para da’i-da’inya.
Barangsiapa yang telah membaca sejarah pengiriman pasukan salib (perang salib) dan mengetahui rahasia perang dunia pertama, di saat orang-orang Eropa (bani Ashfar) mengirim pasukan tentaranya untuk menghancurkan negara kekhalifahan, akan sangat jelas baginya indikasi tersebut seperti jelasnya matahari di siang bolong.
Sebagai penyempurna hal tersebut, mereka mendirikan forum-forum, perkumpulan-perkumpulan dan majlis-majlis kemudian perkumpulan dunia yang baru (organisasi internasional) yang syiar-syiar mereka dipenuhi oleh katamakan dan kerakusan. Dan yang menjelaskan (hal itu) adalah :
[3]. Negeri-negeri kaum muslimin adalah pusat kekayaan dan barokah yang membuat umat-umat kafir berusaha untuk menguasainya, oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan bejana besar yang penuh berisi makanan yang enak yang membuat orang-orang yang lapar ingin memakannya, lalu mereka bersama-sama menyerangnya, dan setiap orang ingin mengambil bagiannya sendiri-sendiri.
[4]. Umat-umat kafir telah memakan kekayaan kaum muslimin, mencuri sumber kekayaan alamnya serta mengambilnya dengan semena-mena tanpa ada yang melarang dan mencegah.
[5]. Umat-umat kafir telah menjadikan negeri-negeri muslimin sebagai serdadu yang dikendalikan dan membaginya sebagai negara-negara kecil yang tercerai berai, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Hawaalah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Kalian akan dijadikan beberapa pasukan, pasukan di Syam, pasukan di Iraq dan pasukan di Yaman, lalu aku bertanya : ‘Pilihkan untuk kami wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Lalu beliau berkata : ‘Pilihlah oleh kalian yang di Syam, barang siapa yang enggan, maka bergabunglah dengan yang di Yaman dan hendaklah meminum airnya, karena Allah telah menjaga Syam dan penduduknya’. berkata Rabi’ah : ‘Aku mendengar Abu Idris Al-Kaulany menceritakan hadits ini dan berkata : ‘Siapa yang telah dijaga Allah maka tidak akan lenyap (hancur)”. [Hadits Shahih, dan dia memiliki banyak jalan periwayatannya, hal itu dijelaskan oleh Syaikh kami Abu Abdirrahman Al-Albany dalam Takhriij Ahaadits As-Syam wa Dimasyq]
Bukankah demikian kenyataan (realita) umat Islam ; negeri-negeri kecil yang tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki hak mengatur perkara dalam dan luar negeri mereka sendiri dan mereka menggantungkan kekuatan, perlindungan dan politik mereka kepada umat-umat kafir. Allahul Muta’an wa Alaihi Attuklaan
[6]. Umat-umat kafir belum menghargai (takut atau segan) kembali kepada kaum muslimin karena kewibawaan muslimin telah hilang di mata umat yang lain. Kewibawaan yang dahulu menggetarkan persendian umat-umat kafir dan membuat para hizbu syaithon menggigil ketakutan, karena senjata rasa takut yang mematikan tersebut belum kembali memenuhi hati-hati kaum kafir dan mengguncang benteng-benteng mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu” [Ali-Imran : 151]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Aku telah dimenangkan dengan perasaan takut (pada musuh) sejak perjalanan satu bulan” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/436-Fathul Baari) dan Muslim (561) dari hadits Jaabir bin Abdillah]
Dan kekhususan ini juga dimiliki oleh umat Islam dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu diatas.
“Artinya : Dan Allah akan menghilangkan dari diri mush-musuh kalian rasa takut terhadap kalian”
[7]. Unsur-unsur kekuatan umat Islam bukan pada jumlah, perlengkapan persenjataan, tentara berkuda dan infantrinya, akan tetapi pada aqidah dan manhajnya, karena mereka adalah umat aqidah dan pemikul panji tauhid. Tidaklah kalian telah mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjawab pertanyaan orang yang bertanya tentang jumlah.
“Artinya : Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak”
Dan renungkanlah pelajaran yang ada di perang Hunain, maka kamu mendapatinya sebagai contoh yang tepat untuk setiap zaman.
“Artinya : Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahnya, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun” [At-Taubah : 25]
[8]. Umat Islam belum lagi diperhitungkan oleh umat-umat dunia, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir”
Dan dalil (indikasi) ini menggambarkan hal-hal berikut :
[a] Buih yang dibawa oleh banjir yang besar akan mengalir bersama banjir tersebut dan terbawa bersama arusnya, demikian juga umat Islam berjalan bersama arus umat-umat kafir sehingga seandainya ada suara burung gagak yang keras atau lalat berdengung dalam majlis “fitnah-fitnah”, maka mereka sungguh-sungguh tersungkur dalam keadaan bisu dan buta dan menjadikannya sebagai satu kitab yang pasti kebenarannya dan sebagai penjelas.
[b] Arus banjir yang membawa buih tidak ada manfaatnya bagi manusia, dan demikianlah umat Islam belum dapat menunaikan perannya (ke ikut sertaannya) untuk dapat menjadi pemimpin umat-umat yang lain yaitu amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran)
[c] Buih-buih itu akan hilang sebagai suatu yang tidak berharga, oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengganti orang yang berkuasa dan menetapkannya kepada sekelompok orang yang dapat memberi manfaat kepada manusia di permukaan bumi ini.
[d] Buih yang terbawa arus banjir adalah campuran dari kotoran-kotoran tanah dan sampah-sampah, demikian juga pemikiran-pemikiran banyak dari kaum muslimin adalah kumpulan dari sampah filsafat, sisa-sisa jelek kemajuan dan peradaban modern.
[e] Buih yang dibawa banjir tidak tahu kemana dia harus mengalir, maka dia seperti orang yang mengeruk kuburnya dengan kuku-kukunya, demikian juga umat Islam tidak mengerti apa yang direncanakan oleh musuh-musuh mereka, ditambah lagi mereka mengikuti setiap suara dan condong bersama hembusan angin (tidak punya pendirian yang kokoh)
[9]. Umat Islam telah menjadikan dunia segala-galanya, oleh karena itu mereka membenci kematian dan mencintai kehidupan, karena mereka menghabiskan umurnya untuk dunia dan tidak mengambil bekal untuk akhirat.
Dan ini yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam takutkan atas umatnya akan sampai pada keadaan yang seperti ini
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.
“Artinya : JIka telah ditaklukan untuk kalian negara Parsi dan Rumawi, kaum apakah kalian ? Berkata Abdurrahman bin Auf : ‘Kami melakukan apa yang Allah perintahkan’ Beliau berkata : ‘Tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling behasad, kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan, kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum Muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka membunuh sebagian yang lain” [Hadits Riwayat Muslim (2961)]
Oleh karena itu ketika diataklukkan gudang harta Kisra (raja Parsi) Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menangis dan berkata.
“Artinya : Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi satu kaum kecuali Allah menjadikan diantara mereka peperangan”.
[10]. Umat-umat kafir tidak mampu menghancurkan umat Islam seluruhnya walaupun mereka telah berkumpul dari seluruh penjuru dunia untuk hal itu -dan mereka berkumpul- sebagaiman telah disebutkan dengan jelas dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyatukan untukku dunia, lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya seluas yang disatukan Allah untukku dan aku diberi dua harta simpanan yaitu emas dan perak lalu aku memohon kepada Rabb-ku untuk umatku agar dia tidak menghancurkannya dengan kelaparan yang menyeluruh, dan menguasakan atas mereka musuh-musuhnya dari selain mereka sendiri lalu menghancurkan seluruh jama’ah mereka, dan Rabb-ku berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku jika telah memutuskan satu qadha’ maka tidak dapat ditolak, dan Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak akan menghancurkan mereka dengan kelaparan yang menyeluruh dan tidak akan menguasakan atas mereka musuh-musuh dari selain mereka yang menghancurkan seluruh jama’ahnya walaupun mereka telah berkumpul dari segala penjuru – atau mengatakan- : Orang yang ada diantara penjuru dunia- sampai sebagian mereka membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lainya” [Hadits Shahih Riwayat Muslim (2889)]
Lalu apa yang membuat pohon kokoh yang akarnya menancap kebumi dan cabangnya di langit menjadi kering tidak memiliki kekuatan ?
Jawabannya ada pada (hadits Hudzaifah) :
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]
Kedua : Keadaan Ad Dakhn
Hal ini kamu dapatkan pada petunjuk kenabian yang ada pada hadits Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :
“Artinya : Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata : orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya : ‘Wahai Rasulullah kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan ? Beliau menjawab : ‘Ya’, Aku bertanya : Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan .? Beliau menjawab : ‘Ya, dan ada padanya kabut (dakhan). Aku bertanya lagi : Apa kabut (dakhan)nya tersebut.? : Beliau menjawab : Satu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik dari mereka dan kamupun mengingkarinya. Aku bertanya lagi : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi.?. Beliau menjawab : ‘Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka (Jahannam), barang siapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka’. Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah berilah tahu kami sifat-sifat mereka ?. Beliau menjawab : ‘Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita’. Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau menjawab : ‘Berpegang teguhlah pada jama’ah muslimin dan imamnya’. Aku bertanya lagi : Bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imam ? Beliau menjawab : ‘Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu”. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 6/615-616. Fathul Baari, dan Muslim 1847]
Sesungguhnya racun berbahaya yang menghancurkan kekuatan kaum muslimin, melumpuhkan gerakan mereka dan merenggut barokahnya, bukanlah pedang-pedang orang kafir yang berkumpul mengadakan tipu daya terhadap Islam, pemeluknya dan negaranya, akan tetapi dia adalah bakteri penyakit yang keji yang merebak di dalam tubuh Islam yang besar dalam waktu yang sangat lambat akan tetapi terus menerus dan efektif (berdaya guna).
Hal ini menegaskan bahwa penamaan orang-orang Yahudi terhadap negara Islam dengan nama ” laki-laki yang sakit (the sickman) ” sangat tepat sekali, karena merekalah yang menanamkan bakteri syahwat dan virus syubhat ke dalam tatanan negara Islam, kemudian tumbuh dan berkembang di dalam pemeliharaan dan pembinaan mereka serta meminum air susu mereka sampai tak tersisa.
Beraneka ragam ibarat para pensyarah hadits ini seputar pengertian Ad Dakhan, akan tetapi bertemu pada satu hasil yang sama.
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Baari 13/36.
“Dan (maknanya) adalah hiqd (kedengkian), dan ada yang mengatakan Ad Daghal (penghianatan dan makar), dan ada yang mengatakan : Kerusakan hati, dan ketiga makna ini hampir sama mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni bahkan telah keruh. Dan ada yang mengatakan : Yang dimaksud dengan Ad Dakhan adalah kabut, dan itu mengisyaratkan kepada keruhnya keadaan. Ada pula yang mengatakan : (maknanya) semua perkara yang tidak disukai. Berkata Abu Ubaid : Maksud hadits ini ditafsirkan oleh hadits yang lain yaitu.
“Artinya : Tidaklah akan kembali hati-hati satu kaum kepada apa yang telah dimilikinya”.
Dan asal maknanya adalah keruh yang ada di warna binatang tunggangan, maka seakan-akan maknanya bahwa sebagian hati-hati mereka tidak saling menjernihkan.
Imam An-Nawawi rahimahullah menukilkan dalam syarah Shahih Muslim 12/237-237 perkataan Abu Ubaid ini.
Berkata Al-Baghawi rahimahullah dalam Syarah Sunnah 15/15 dan sabdanya ‘wa fiihi dakhanun’ bermakna kebaikan tersebut tidak murni bahkan telah ada padanya kekeruhan dan kegelapan, dan asal kata Dakhan adalah kekeruhan yang menuju warna gelap yang ada pada warna bintanga tunggangan.
Al-Adzim Abaadi rahimahullah telah menukilkan dalam Aunul Ma’bud 11/316 perkataan dari Al-Qaari : Dan asal kata Dakhan adalah kekeruhan dan warna yang ke-hitam-hitaman, maka ada padanya satu penunjukkan bahwa kebaikan telah terkeruhkan oleh kerusakan.
Saya (Syaikh Salim Al-Hilali) berkata : Penjelasan-penjelasan ini dapat disimpulkan menjadi dua perkara.
[a] Marhalah (tahapan zaman) ini bukanlah mana kebaikan yang murni, akan tetapi telah tercemari dengan kekeruhan yang mengotori kebaikan yang bersih itu dan menjadikan rasanya asin sekali.
[b] Kekeruhan ini merusak hati-hati orang dan menjadikannya lemah ketika menjalar padanya penyakit umat ini dan tercemari syubhat-syubhat.
Kami di sini tidak ingin memperpanjang waktu dalam setiap penjelasan untuk menjelaskan yang benar dari yang salah, yang selamat dari yang rusak ; karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan beberapa perkara yang penting.
[1]. Kebid’ahan
Sesungguhnya kekeruhan (Ad Dakhan) ini adalah penyimpangan yang terjadi pada manhaj kenabian yang benar yang telah mengantar kepada masa kebaikan yang murni, lalu kabut kekeruhan (Ad Dakhan) ini menyebabkan terjadinya pencemaran syari’at yang telah terang benderang ini (Islam) yang malamnya seperti siangnya, bukanlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam menafsirkan makna Ad Dakhan sebagaimana telah ada dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu ketika dia menanyakan kepada beiau.
“Artinya : Satu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku”
Ini merupakan akar penyakit dan sumber bencana, yaitu penyimpangan dari As-Sunnah dalam manhaj dan pemalingan dari contoh teladan kenabian dalam prilaku dan amal.
Berdasarkan hal ini jelaslah bahwa Ad Dakhan yang mengeruhkan kebaikan, mengotori kemurnian serta merubah keindahannya adalah kebid’ahan yang telah bermunculan dari sekte Mu’tazilah, Shufiyah, Jahmiyah, Khawarij, Asyariyah, Murji’ah dan Rafidhah sejak abad-abad timbulnya fitnah, lalu menyebarkan tahrif (penyimpangan), ajaran-ajaran sesat dan ta’wil dalam Islam, sehingga tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisan hurufnya dan dari Islam kecuali namanya serta dari peribadatan kecuali bentuknya (tampak luarnya).
Dari sini jelaslah kebid’ahan itu berbahaya karena dia merusak hati-hati (jiwa) dan jasmani sedangkan musuh-musuh (Islam) hanya merusak jasmani saja. Oleh karena itu telah bersepakat ucapan para As Salaf Ash Shalih tentang kewajiban memerangi Ahlul Bid’ah dan menghijrahinya (memboikotnya).
Setelah menukil ucapan Sufyan Ats Tsauri rahimahullah : Barangsiapa memasang pendengarannya dengan baik kepada Ahlul Bid’ah dalam keadaan mengetahuinya, maka dia telah keluar dari penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diserahkan kepada dirinya sendiri. Ia juga berkata : Barangsiapa yang mendengarkan suatu kebid’ahan maka janganlah disampaikan kepada para sahabatnya dan janganlah dimasukkan kedalam hati-hati mereka. Sejarawan Islam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya yang agung Syiar A’lam Nubala 7/261 : Kebanyakan para Salaf bersepakat terhadap peringatan ini, mereka memandang hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar.
Saya (Syaikh Salim Al-Hilaali) berkata : Sungguh benar dan baik rahimahullah serta telah memberikan nasehat.
Dan dengan itu jadilah umat Islam berada di akhir rombongan manusia, mengikuti setiap gerakan dan menguatlah kebatilan di bumi sedangkan ia sebenarnya sangat lemah. Setiap munafik pun berbicara tentang perkara umat Islam.
Kemudian muncullah generasi-generasi penerus yang mengikuti syahwat dan terjajah oleh syubhat, sehingga penyakit Al Wahn menyerang hati-hati mereka. selanjutnya timbullah pada umat Islam kebodohan dan cinta kehidupan (dunia) sehingga belum dapat kembali ber-amar ma’ruf nahi mungkar dan berjihad fi sabilillah. Akibatnya, hilanglah posisi sebagai umat terbaik dikarenakan mereka belum menunaikan persyaratan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal itu. [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim karya Ibnu Katsir 1/339-405]
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Kalian berada di atas petunjuk Rabb kalian, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian muncul di dalam hati kalian dua penyakit yang memabukkan, kebodohan dan cinta kehidupan (dunia), lalu kalian berbaik dari sikap kalian dahulu, kalian tidak lagi beramar ma’ruf nahi mungkar dan tidak berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itu orang yang melaksanakan Al-Qur’an dan As-Sunnah mendapatkan pahala lima puluh orang siddiq. Lalu mereka bertanya : Wahai Rasulullah dari kami atau dari mereka ? Beliau menjawab : Tidak, bahkan dari kalian” [Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitabnya Hilyatul Auliya' 8/49 dengan sanad lemah. Saya dahulu menshahihkan sanadnya dalam kitab " Al-Qaulul Mubin fi Jamaatil Muslimin" hal.36 kemudian saya mendapatkan kelemahannya dan saya telah jelaskan dalam kitab saya "Al-Qobiduuna 'Alal Jamar" hal. 21-22. Pada kesempatan ini saya sampaikan lagi untuk melepaskan tanggung jawab saya, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni kesalahan saya. Ini adalah amant ilmiyah yang saya pegang teguh]
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan [3/3]
[2]. Benteng Pertahanan Kita (Umat Islam) Terancam dari Dalam
Agar umat Islam tidak sadar dari pengaruh suntikan racun yang berisi bakteri penyakit mematikan yang disuntikan kedalam tubuhnya, dan dalam rangka menyesatkan, menggelapkannya serta menutupi kenyataan yang sebenarnya dari pandangan mereka, maka para tokoh pimpinan orang-orang kafir membangun produk-produk dalam tubuh kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk mengokohkan racun-racun dari dalam sehingga tidak nampak akibat jelek dari penyakit yang berbahaya ini kecuali setelah jangka waktu yang sangat panjang dan pada saat itu menyulitkan para dokter dan membuat kebingungan para cendekiawan (dalam mengobatinya, -pent).
Produk-produk yang selalu dibesar-besarkan oleh musuh Islam di telinga umat Islam dan membawa misi apa yang telah disuntikaan kepadanya adalah para pemimpin yang mengajak kepada api nereka. Mereka berasal dari bangsa kita, berbicara dengan bahasa kita dan mengaku punya kepedulian terhadap umat dan beramal untuk membawa kemajuan kita.
Oleh karena itu, sesungguhnya yang menanam bibit penyakit tersebut kedalam tubuh umat Islam adalah anak-anak Islam sendiri. Akan tetapi Nabi yang penuh rahmat dan pemberi petunjuk Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan suatu kesamaranpun dalam masalah ini. Beliau menjelaskannya dengan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bukan reka-reka darinya. Maka dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu terdapat penafsiran kelompok orang-orang hasil didikan dan pembinaan langsung para tokoh pemimpin kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka (Jahannam), barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka. Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah berilah tahu kami sifat-sifat mereka ? Beliau menjawab : Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita”.
Ini adalah sifat pertama yang menjadi ciri-ciri mereka yaitu mereka dari bangsa Arab baik secara nasab atau bahasa.
Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/36.
“Yaitu dari bangsa, berbahasa dan beragama seperti kita, dan ada padanya isyarat bahwa mereka dari bangsa Arab, berkata Ad-Dawudi : ‘Yaitu dari bani Adam, berkata Al-Qaabisi : maknanya secara lahiriyah berada di atas agama kita akan tetapi mereka menyelisihi kita secara bathin karena kulit sesuatu adalah permukaannya dan dia asalnya adalah selaput penutup tubuh. Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Arab, adalah warna kulit mereka umumnya sawo matang (kecoklat-coklatan) dan warna hanya tampak dari kulitnya”.
Dan dalam riwayat lain.
“Artinya : Dan akan ada dikalangan mereka orang-orang yang berhati syaithan dengan jasad manusia” [Diriwayatkan oleh Muslim 12/236-237 An-Nawaawi]
Ini adalah sifat kedua yang menjadi ciri-ciri mereka yaitu mereka menampakkan kepedulian atas umat, kemaslahatan, kepemimpinan, kemerdekaan dan kemajuan … mereka menyenangkan umat dengan lisan-lisan mereka, namun hati-hati mereka tidak menginginkan kecuali melaksanakan apa yang telah mereka pelajari dan dapatkan dari pembinaan majikan-majikan mereka dari kalangan orang-orang Salib dan Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka” [ Al-Baqarah : 120]
Inilah yang telah dirancang para majikan dari bangsa Eropa dan Yahudi dan dilaksanakan oleh para budak dari orang rendahan umat ini yang menjadi kuat di tanah air kita karena mereka telah tinggal menetap dan memakan kekayaannya akan tetapi telah terdidik oleh pembinaan kelompok syaithan dan tentara iblis yang telah mendidik mereka diatas doktrin-doktrin salibisme yang membunuh. Sesungguhnya dia perlahan-lahan akan tetapi pasti berdaya guna.
Dan inlilah yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya.
“Artinya : Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian)” [At-Taubah : 8]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : ‘Kami telah beriman’. Dan bila mereka kembali kepada syaitah-syaithan mereka, mereka mengatakan : ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” [Al-Baqarah : 14]
Demikianlah mereka menakut-nakuti bangsa dan umat dan ditaati serta diserahkan kepada mereka tali kepemimpinan, karena umat ini telah menyimpang dari Manhaj Ilahi. Merekapun menyeret umat Islam kedalam Api neraka dan menginginkan agar umat menjadi penghuninya.
Mereka tidak pernah berhenti berdakwah kepada kesesatan dan kemungkaran. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, partai-partai, muktamar-muktamar dan konperensi-konperensi, oleh karena itu mereka disifati dengan nama du’at (para penyeru/ dai’-dai’).
Dan kata du’at dengan didhomahkan huruf dalnya adalah bentuk jamak dari da’i yang bermakna jama’ah yang melaksanakan urusannya dan menyeru manusia untuk menerimanya.[Lihat Aunul Ma'bud 11/317]
Peringatan dan penegasan kenabian ini adalah isyarat telunjuk untuk orang-orang yang menderita buta warna sehingga mereka menjadi terompet semata, yang mengulang apa yang disampaikan kepadanya dari balik laut atau luar perbatasan !
Sesungguhnya ia merupakan penggugah umat Islam agar merekan berhati-hati terhadap tipu daya orang-orang kafir dan sadar lalu tidak mengikuti jalannya orang-orang mujrimin.
Sesungguhnya kita telah mengetahui pengaruhnya dalam sejarah kaum muslimin dan telah kita lihat kejelekannya di dunia manusia seluruhnya. Adapun contoh-contohnya sangat banyak sekali dan itu turun temurun pada setiap masa dan tempat.
Para du’at kepada kesesatan, sampai saat ini senantiasa mengangkat propagandanya menyeru manusia ke neraka, semoga Allah melindungi kita dari mereka.
Maka inilah para penyeru demokrasi berkampanye, inilah pula tokoh-tokoh sosialis berkoar-koar, dan inilah mereka penyeru nasionalisme berteriak-teriak, sementara orang-orang pun mengikuti mereka di belakang.
Dan dengan demikian pembuat Dakhan adalah pendahulu para penyeru kesesatan dan dengan ini juga jelaslah bahwa mata rantai persekongkolan (konspirasi) terhadap Islam, pemeluk dan negaranya memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam.
[3]. Masa-Masa Yang Menipu
Sesunguhnya laihiriyah masa-masa ini baik, akan tetapi dibaliknya tersimpan kerusakan. Bukankah Rasulullah telah mengatakan dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim.
“Artinya : Dan akan ada dikalangan mereka orang-orang yang berhati syaithan dengan jasad manusia”.
Ini terkadang menipu kebanyakan manusia yang hanya memandang kepada lahiriyah sesuatu namun pandangan terhadap hakikat sesuatu itu tertutup. Akibatnya, mereka tidak memperhatikan sama sekali perbaikan kerusakan-kerusakan dari awal-awalnya sehingga tidak membesar dan melebar sobekan pada kain tambalan.
Sesunguhnnya Ad-Dakhan berkembang mematikan kebaikan sehingga mengalahkannya lalu muncullah masa-masa yang penuh kejelekan dan permulaan munculnya pada du’at kesesatan dan kelompok-kelompok sesat.
Sesungguhnya para pembuat fitnah sangat bersemangat dalam beramal sedangkan orang-orang yang berada dalam kebenaran lengah dan terlelap. Buktinya adalah, dakhan ini membesar sampai mengalahkan kebenaran, menyerang kebenaran dan ahlinya,menyerahkan urusan kepada selain ahlinya serta meletakkan kebenaran bukan pada tempatnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata telah bersabda Rasulullah.
“Artinya : Akan datang masa-masa yang menipu dimana-mana para pendusta dibenarkan dan didustakan orang-orang yang jujur, para penghianat diberi amanat dan orang yang amanah dianggap penghianat dan berbicara pada masa itu para ruwaibidhah. Lalu ada yang mengatakan : ‘Siapakah Ruwaibidhah itu ? Beliau menjawab : ‘Orang yang bodoh berbicara pada permasalahan umat”.[1]
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly,)
Abu Usamah Saliim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Keadaan ini telah diisyaratkan dan dijelaskan dengan sangat tegas dan tidak ada kebimbangan, sangat jelas dan tidak ada kesamaran padanya dan gamblang sekali dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu” [Ali-Imran : 151]
“Artinya : Aku telah dimenangkan dengan perasaan takut (pada musuh) sejak perjalanan satu bulan” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/436-Fathul Baari) dan Muslim (561) dari hadits Jaabir bin Abdillah]
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]
Kami di sini tidak ingin memperpanjang waktu dalam setiap penjelasan untuk menjelaskan yang benar dari yang salah, yang selamat dari yang rusak ; karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan beberapa perkara yang penting.
Sesungguhnya kekeruhan (Ad Dakhan) ini adalah penyimpangan yang terjadi pada manhaj kenabian yang benar yang telah mengantar kepada masa kebaikan yang murni, lalu kabut kekeruhan (Ad Dakhan) ini menyebabkan terjadinya pencemaran syari’at yang telah terang benderang ini (Islam) yang malamnya seperti siangnya, bukanlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam menafsirkan makna Ad Dakhan sebagaimana telah ada dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu ketika dia menanyakan kepada beiau.
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan [3/3]

