وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

  • Radio Online

  • Larangan Fanatik Buta

    Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

  • Mutiara Alquran

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

  • Mutiara Sunnah

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau akan dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jika seandainya dunia ini di sisi Allah dianggap ada nilainya dengan selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi

  • Mutiara Ulama Salaf’

    أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ "Wahai Saudaraku Kalian Tidak Bisa Mendapatkan Ilmu Kecuali Dengan 6 Syarat Yang Akan Saya Beritahukan" 1.Dengan Kecerdasan, 2.Dengan Semangat , 3.Dengan Bersungguh-sungguh , 4.Dengan Memiliki bekal (biaya), 5.Dengan Bersama guru dan , 6.Dengan Waktu yang lama, (Imam Syafi'i Rahimahulloh)
  • Admin Setting

  • Maaf Komentar Yang Dicurigai Bervirus Diblokir

Tafsir Surat Al Fatihah

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Maret 4, 2009

Para pembaca yang dirahmati Allah suhanahu wata’ala, setiap hari umat Islam menjalankan ritual shalat yang merupakan salah satu bentuk peribadahan kepada Allah suhanahu wata’ala. Setiap kita melaksanakan shalat, kita diperintah untuk membaca surat Al Fatihah sebagai salah satu rukun shalat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah)”. (HR. Abu Dawud no. 297 dan At Tirmidzi no. 230 dari shahabat Abu Hurairah dan ‘Aisyah)
Surat ini termasuk deretan surat Makkiyah (yang turun sebelum hijrah) dan terdiri dari tujuh ayat.

Nama Lain Surat Al Fatihah
Surat Al Fatihah memiliki banyak nama. Di antaranya; Fatihatul Kitab (pembuka kitab/Al Qur’an). Karena Al Qur’an, secara penulisan dibuka dengan surat ini. Demikian pula dalam shalat, Al Fatihah sebagai pembuka dari surat-surat lainnya.
Al Fatihah dikenal juga dengan sebutan As Sab’ul Matsani (tujuh yang diulang-ulang). Disebabkan surat ini dibaca berulang-ulang pada setiap raka’at dalam shalat.
Dinamakan juga dengan Ummul Kitab. Karena di dalamnya mencakup pokok-pokok Al Quran, seperti aqidah dan ibadah.

Keutamaan surat Al Fatihah
Surat Al Fatihah memiliki berbagai macam keutamaan dan keistimewaan dibanding dengan surat-surat yang lain. Di antaranya adalah;
Al Fatihah merupakan surat yang paling agung. Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al Mu’alla, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):
“Sungguh aku akan ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum engkau keluar dari masjid? Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memegang tanganku. Disaat Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam hendak keluar dari masjid, aku bertanya: “Ya Rasulullah! Bukankah engkau akan mengajariku tentang surat yang paling agung dalam Al Quran? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: Ya (yaitu surat)

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Ia adalah As Sab’u Al Matsani dan Al Qur’anul ‘Azhim (Al Qur’an yang Agung) yang diwahyukan kepadaku.” (HR. Al Bukhari no. 4474)

Al Fatihah merupakan surat istimewa yang tidak ada pada kitab-kitab terdahulu selain Al Qur’an. Dari shahabat Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Maukah engkau aku beritahukan sebuah surat yang tidak ada dalam kitab Taurat, Injil, Zabur, dan demikian pula tidak ada dalam Al Furqan (Al Qur’an) surat yang semisalnya? Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan surat itu adalah Al Fatihah”. (HR. At Tirmidzi no. 2800)
Al Fatihah sebagai obat dengan izin Allah suhanahu wata’ala. Al Imam Al Bukhari meriiwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu tentang kisah kepala kampung yang tersengat kalajengking. Lalu beberapa shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah kepadanya. Dengan sebab itu Allah suhanahu wata’ala menyembuhkan penyakit kepala kampung itu.
Terkait dengan shalat sebagai rukun Islam yang kedua, Al Fatihah merupakan unsur terpenting dalam ibadah itu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى وَلَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا أُمَّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ – ثَلاَثاً – غَيْرُ تَمَامٍ

“Barang siapa shalat dalam keadaan tidak membaca Al Fatihah, maka shalatnya cacat (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengulanginya sampai tiga kali) tidak sempurna.” (HR. Muslim no. 395, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Bahkan membaca Al Fatihah termasuk rukun dalam shalat, sebagaimana riwayat diatas.

Tafsir Surat Al Fatihah
Pembaca yang dirahmati Allah suhanahu wata’ala, berikut ini merupakan ringkasan tafsir dari surat Al Fatihah:

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin.”
Segala pujian beserta sifat-sifat yang tinggi dan sempurna hanyalah milik Allah suhanahu wata’ala semata. Tiada siapa pun yang berhak mendapat pujian yang sempurna kecuali Allah suhanahu wata’ala. Karena Dia-lah Penguasa dan Pengatur segala sesuatu yang ada di alam ini. Dia-lah Sang Penguasa Tunggal, tiada sesuatu apa pun yang berserikat dengan kuasa-Nya dan tiada sesuatu apa pun yang luput dari kuasa-Nya pula. Dia-lah Sang Pengatur Tunggal, yang mengatur segala apa yang di alam ini hingga nampak teratur, rapi dan serasi. Bila ada yang mengatur selain Allah suhanahu wata’ala, niscaya bumi, langit dan seluruh alam ini akan hancur berantakan. Dia pula adalah Sang Pemberi rezeki, yang mengaruniakan nikmat yang tiada tara dan rahmat yang melimpah ruah. Tiada seorang pun yang sanggup menghitung nitmat yang diperolehnya. Disisi lain, ia pun tidak akan sanggup membalasnya. Amalan dan syukurnya belum sebanding dengan nikmat yang Allah suhanahu wata’ala curahkan kepadanya. Sehingga hanya Allah suhanahu wata’ala yang paling berhak mendapatkan segala pujian yang sempurna.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.”
Ar Rahman dan Ar Rahim adalah Dua nama dan sekaligus sifat bagi Allah suhanahu wata’ala, yang berasal dari kata Ar Rahmah. Makna Ar Rahman lebih luas daripada Ar Rahim. Ar Rahman mengandung makna bahwa Allah suhanahu wata’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman atau pun yang kafir. Sedangkan Ar Rahim, maka Allah suhanahu wata’ala mengkhususkan rahmat-Nya bagi kaum mukminin saja. Sebagaimana firman Allah suhanahu wata’ala: “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (Al Ahzab: 43)

مَالِكِ يِوْمِ الدِّيْنِ

“Yang menguasai hari kiamat.”
Para ‘ulama ahli tafsir telah menafsirkan makna Ad Din dari ayat diatas adalah hari perhitungan dan pembalasan pada hari kiamat nanti.
Umur, untuk apa digunakan? Masa muda, untuk apa dihabiskan? Harta, dari mana dan untuk apa dibelanjakan? Tiada seorang pun yang lepas dan lari dari perhitungan amal perbuatan yang ia lakukan di dunia. Allah suhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah”. (Al Infithar: 17-19)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolonga.”
Secara kaidah etimologi (bahasa) Arab, ayat ini terdapat uslub (kaidah) yang berfungsi memberikan penekanan dan penegasan. Yaitu bahwa tiada yang berhak diibadahi dan dimintai pertolongan kecuali hanya Allah suhanahu wata’ala semata. Sesembahan-sesembahan selain Allah itu adalah batil. Maka sembahlah Allah suhanahu wata’ala semata.

Sementara itu, disebutkan permohonan tolong kepada Allah setelah perkara ibadah, menunjukkan bahwa hamba itu sangat butuh kepada pertolongan Allah suhanahu wata’ala untuk mewujudkan ibadah-ibadah yang murni kepada-Nya.
Selain itu pula, bahwa tiada daya dan upaya melainkan dari Allah suhanahu wata’ala. Maka mohonlah pertolongan itu hanya kepada Allah suhanahu wata’ala. Tidak pantas bertawakkal dan bersandar kepada selain Allah suhanahu wata’ala, karena segala perkara berada di tangan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah suhanahu wata’ala (artinya):
“Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya”. (Hud: 123)

اهْدِنَا الصَّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Tunjukkanlah kami ke jalanmu yang lurus.”
Yaitu jalan yang terang yang mengantarkan kepada-Mu dan jannah (surga)-Mu berupa pengetahuan (ilmu) tentang jalan kebenaran dan kemudahan untuk beramal dengannya.

Al Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari shahabat An Nawas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memberikan permisalan ash shirathul mustaqim (jembatan yang lurus), diantara dua sisinya terdapat dua tembok. Masing-masing memiliki pintu-pintu yang terbuka, dan di atas pintu-pintu tersebut terdapat tirai-tirai tipis dan di atas pintu shirath terdapat seorang penyeru yang berkata: “Wahai sekalian manusia masuklah kalian seluruhnya ke dalam as shirath dan janganlah kalian menyimpang. Dan ada seorang penyeru yang menyeru dari dalam ash shirath, bila ada seseorang ingin membuka salah satu dari pintu-pintu tersebut maka penyeru itu berkata: “Celaka engkau, jangan engkau membukanya, karena jika engkau membukanya, engkau akan terjungkal kedalamnya. Maka ash shirath adalah Al Islam, dua tembok adalah aturan-aturan Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan Allah. Penyeru yang berada di atas ash shirath adalah Kitabullah (Al Qur’an), dan penyeru yang berada didalam ash shirath adalah peringatan Allah bagi hati-hati kaum muslimin”.

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Yaitu jalannya orang-orang yang engkau beri kenikmatan.”
Siapakah mereka itu? Meraka adalah sebagaimana yang dalam firman Allah suhanahu wata’ala: “Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui”. (An Nisaa’: 69-70

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ

“Dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”
Orang-orang yang dimurkai Allah suhanahu wata’ala adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi enggan mengamalkannya. Mereka itu adalah kaum Yahudi. Allah suhanahu wata’ala berfirman berkenaan dengan keadaan mereka (artinya):
“Katakanlah Wahai Muhammad: Maukah Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai oleh Allah”. (Al Ma’idah: 60)

Adapun jalan orang-orang yang sesat adalah bersemangat untuk beramal dan beribadah, tapi bukan dengan ilmu. Akhirnya mereka sesat disebabkan kebodohan mereka. Seperti halnya kaum Nashara. Allah suhanahu wata’ala memberitakan tentang keadaan mereka:
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Ma’idah: 77)

At Ta’min
Pembaca yang dirahmati Allah suhanahu wata’ala, At Ta’min adalah kalimat “Amin” yang diucapkan setelah selesai membaca Al Fatihah dalam shalat dan bukan merupakan bagian dari surat tersebut, yang mempunyai arti “Ya Allah kabulkanlah do’a kami”.
Diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika membaca:

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ

maka Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan Amin sampai orang-orang yang di belakangnya dari shaf pertama mendengar suaranya. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Barang siapa yang ta’minnya bersamaan dengan ta’min malaikat, maka Allah suhanahu wata’ala menjanjikan ampunan bagi dia. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika imam mengucapkan amin maka ikutilah, karena barang siapa yang ta’minnya bersamaan dengan ta’min malaikat, niscaya ia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun alaih)

Kandungan surat Al Fatihah
Pembaca yang dirahmati Allah suhanahu wata’ala, surat ini memiliki kandungan faidah yang banyak dan agung, berikut ini beberapa di antaranya yang dapat kami sebutkan:

1. Surat ini terkandung di dalamnya tiga macam tauhid:
• Tauhid Rububiyyah, yaitu beriman bahwa hanya Allah suhanahu wata’ala yang menciptakan, mengatur dan memberi rizqi, sebagaimana yang terkandung di dalam penggalan ayat: “Rabbul ‘alamin “.
• Tauhid Asma’ wa Shifat, yaitu beriman bahwa Allah suhanahu wata’ala mempunyai nama-nama serta sifat-sifat yang mulia dan sesuai dengan keagungan-Nya. Diantaranya Ar Rahman dan Ar Rahim.
• Tauhid Uluhiyyah, yaitu beriman bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah suhanahu wata’ala semata. Adapun sesembahan selain Allah suhanahu wata’ala adalah batil. Diambil dari penggalan ayat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan memohon pertolongan”.

2. Penetapan adanya hari kiamat dan hari pembalasan, sebagaimana potongan ayat: “Penguasa hari pembalasan”.

3. Perintah untuk menempuh jalan orang-orang yang shalih.

4. Peringatan dan ancaman dari enggan untuk mengamalkan ilmu yang telah diketahui. Karena hal ini mendatangkan murka Allah suhanahu wata’ala. Demikian pula, hendaklah kita berilmu sebelum berkata dan beramal. karena kebodohan akan mengantarkan pada jalan kesesatan.

Penutup
Demikianlah ringkasan dari tafsir surat Al Fatihah. Semoga dapat mengantarkan kita kepada pemahaman yang benar di dalam menempuh agama yang diridhai oleh Allah suhanahu wata’ala ini. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin. Sumber: Salafy.org

About these ads

26 Tanggapan to “Tafsir Surat Al Fatihah”

  1. balqis said

    tolong lebih di simpulkan dan beri texs surah al fatihah beserta artinya………. !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?

    Afwan Sahabat Yang Budiman karna keterbatasan waktu kami, Untuk Lebih Lengkap antum bisa membaca Kitab :Tafsir al-Qur`an al-Azhim karya Ibnu Katsir, Taysirul Karimir Rohman fi Tafsir Kalamil Mannan karya Syaikh ‘Abdurrohman bin Sa’di,
    Allohu yubarik lak.

  2. Hidayat said

    Assalamualaikum,ada seorang imam ketika mebaca ayat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.KA_nya mesti dipanjangkan atau ditambah satu harkat,menjadi iyyakaa_ na’budu wa iyyakaa_ nasta’in.karena Kana katanya nama syetan.Apakah betul itu ?mohon jawaban.!

    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh,
    Bismillah, Sahabat Yang Budiman,
    Apa yang dikatakan Seorang Imam yang antum ceritakan ana belum mendapatkan dasar dari ucapanya.

    A)Dalam Tata Bahasa Arab untuk membentuk huruf vokal panjang, fathah, kasrah dan dhammah pada dasarnya ada 3 yaitu ditambahkan dengan huruf sebagai berikut:
    1. Fathah (a), dengan menambahkan alif ا pada huruf yang berharakat fathah. Contoh:
    (تاtaa ) ( جاjaa) (باbaa)
    2. Kasrah (i), dengan menambahkan ya ي pada huruf yang berharakat kasrah. Contoh:
    (تيtii) (جيjii) (بيbii)
    3. Dhammah (u), dengan menambahkan wawو pada huruf berharakat Dhammah.
    Contoh:
    (تو tuu) (جوjuu) (بوbuu)

    B)Tafadzol antum perhatikan Text Ayat Surat Alfatihah Berikut :
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    Dalam melafadzkan dari ayat diatas yang benar Yaitu :
    Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.
    Sedangkan Lafadz (ك ka) maksudnya adalah kata ganti milik (Engkau=Alloh)
    Jika dia imam yang antum ceritakan mengatakan untuk melafadzkan panjang (kaa) seharusnya Texnya yang benar adalah:كا contoh lafadz وَيُؤْ تُوا الزَّ كَا ةَ
    padahal didalam ayat tersebut tidak dijumpai (kaa)
    ( Dan Justru ini akan bermakna lain dari apa yang dimaksudkan Ayat ini jika dipanjangkan)

    C)Semua bacaan apabila tidak sesuai dengan kaidah-kaidah dalam membacanya, maka akan salah dalam melafadzkanya dan tentu kesalahan lafadz ini akan menghasilkan kesalahan makna dari yang dimaksudkan (Dan bisa berubah menjadi makna kata lainya). Contoh ” iyyaaka nasta’iin >benar, kemudian ada yang melafadzkan iyyaa kannas ta’in >salah, kesalahan pada men-tasydid-kan menjadi >kannas dan memisahkan kata nasta’in menjadi >ta’in, Ada yang mengatakan KANNAS atau KANNAK merupakan nama iblis,tapi ana belum menemukan keterangan dari ulama’ salaf apakah KANNAS atau KANNAK merupakan nama-nama iblis, Alllohu musta’an)

    D)Yang Terpenting Mari Pelajari Cara membacanya dengan memperdalam bahasa Arab: Download Bahasa Arab atau mendownload Aplikasi Tajwid berikut buka pada Bab Macam-Macam Madd :Download Pelajaran Tajwid Dan Bisa Mencocokan dengan Bacaan Imam Masjidil Haram Disini:Download MP3 Bacaan Alqur’an
    Allohua’lam Bishowab

  3. Assalamualaikum.
    Mau tanya nihh…
    saya lagi mencari alquran dalam bentuk file mp3 yang ada suara orang ngajinya beserta artinya dalam bahsa indonesia…

    tolong yaa???

    makasih

    Walaikumussalam Warahmatulloh,
    Tafadzol Download Semua Disini Alquran Digital dari Darussunnah.or.id Download Juga File bermanfaat Lainya

  4. Hafiz said

    Subhanallah,smoga jd ilmu yg brmanfaat

    Amin Yarobal Alamin.

  5. Anonymous said

    semoga orang orang yang tidakbaik berubah menjadi baik

    “Amin Ya Robal Alamin”أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ :Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”Qs. Alhadid 16

  6. Arief Rahman said

    saya m`dpat ilmu baru di sini thx

    Insyalloh Wahai Saudaraku.

  7. [...] Tafsir Surat Al Fatihah [...]

  8. dimas p.s said

    trimakasih banyak sudah mepermudah jalan ke surga…..
    semoga sangat bermanfaat bagi kita semua…

    Walhamdulillah,waiyyakum.

  9. dimas p.s said

    oh ya, apakah sya boleh mengkopy tulisan ke blog saya…?

    Silahkan ahki,semoga bermanfaat.

  10. riska said

    TRIMAKASIH YA…
    ini untuk ujian saya…

    smg bisa saya amalkan dan bermanfaat….
    skali lg trimakasih….

    Waiyyak, Wallohul musta’an

  11. tlong dong lebih rinci lagi makna nya,,,,,,,,,,

    Antum bisa membaca kitabnya ibnul qoyim tentang tafsir alfatihah ini, atau coba antum perhatikan kitabnya ibnu katsir,Atau kalau kurng jelas tafadzol ditanyakan ustadz terdekat, Wallohua’lam.

  12. suranto.BP.mumtaz said

    jika Allah sudah akan membuka hati hambanya, maka tak ada seorangpun yang mampu untuk menghalanginya.

    شكرا اخي انال منكم ما احتاج اليه

    Wa antum kadzalik Ahkiy.

  13. Anonymous said

    godbless for you, i like it

    Insyalloh.Waantum kadzalik

  14. Anonymous said

    assalamualaikum mau nanya isi surah al fatihah apa ya?

    Antum bisa membaca Tafsir Ibnul Qoyim atau Tafsir As Sa’diy disana dijelaskan lengkap kandungan Alfatihah.WallohuA’lam

  15. Abdul Khanan said

    Subhannallah…
    Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Semoga Allah senantiasa memberikan ampunan Nya kepad Kita semua. Amin…
    * Ya Robb tuntunlah hamba besera org2 mu’min untuk tetap berada dijalan Mu. Ingatkan kami ketika kami melupakan Mu ya Robb*….
    Amin ya robbal aalamiin….

    Walhamdulillahi Robil Alamin

  16. Wiwi said

    Koq surat al_fatihahnya di mulai dari alhamdulillaahi rabbil’aalamiin????
    Setau sya surat al-fatihah di mulai dari bismillaah..?????

    Bismillah, Pembaca yang budiman Pada Artikel Diatas Tafsir Dari Bismillah disendirikan , Ini bukan berarti bismillah bukan bagian dari Alfatihah.

    Dan surat Al Fatihah yang wajib dibaca setiap shalat terdiri dari tujuh ayat. Sebagaimana perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

    مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي (وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

    “Tidaklah Allah عزوجل menurunkan di dalam Taurat dan juga di dalam Injil yang seperti ummul Qur’an (surat Al Fatihah). Dan dia adalah Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan Al Qur’an yang agung”

    Maka dari ini kita ketahui bahwa bismillah termasuk bagian dari tujuh ayat surat Al Fatihah yang wajib juga dibaca ketika shalat dan tidak akan sah shalat seseorang yang tidak membacanya.

    Akan tetapi yang menjadi permasalahan, apakah membacanya dengan jahr (mengeraskannya) atau dengan sirr- (memelankannya)?

    Sebagaimana perkara yang sudah kita ketahui, bahwasanya wajib di dalam shalat kita untuk mencontoh praktek shalat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dan kita tidak akan mengetahui bagaimana cara shalat beliau kecuali melalui pengkhabaran orang-orang yang pernah melihat langsung shalat beliau, yakni para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih yang diriwayatkan dari mereka. Termasuk juga dalam permasalahan ini (yakni mensirr-kan atau menjahrkan bismillah).

    Dan hadits-hadits yang menceritakan tentang yang demikian cukup banyak diriwayatkan di dalam shahihain (Bukhari, Muslim) dan selainnya.

    Diantaranya hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari (2/188) ,di dalam “SIFAT SHALAT” , bab “APA YANG DIUCAPKAN SETELAH TAKBIR” :

    عَنْ أَنَسِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    “Dari Anas bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم ,dan Abu Bakar, dan Umar mereka membuka bacaan shalat mereka dengan الحمدلله الرب العالمين “

    Dan dalam riwayat Imam Tirmizi (no:246) :

    عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    “Dari Anas dia mengatakan adalah Rasulullah dan Abu Bakar dan Umar dan Utsman mereka membuka bacaan shalat mereka dengan الحمدلله الرب العالمين “.
    Dan Imam Muslim mengeluarkan dalam “KITAB SHALAT”, bab “DALIL ORANG YANG TIDAK MENJAHRKAN BISMILLAH” :

    عَنْ أَنَسٍ أيضا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

    “Dari Anas juga dia mengatakan : “Aku pernah shalat bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم , Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka aku tidak pernah mendengar seorang dari mereka membaca بسم الله الرحمن الرحيم “.

    Dan dalam riwayat yang lain:

    صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا

    “Aku shalat di belakang nabi صلى الله عليه وسلم , Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضى الله عنهم , maka mereka membuka bacaan shalat dengan الحمدلله الرب العالمين , tanpa menyebutkan بسم الله الرحمن الرحيم baik di awal bacaan atau di akhirnya”

    Dan meriwayatkan Imam An Nasa’i :

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا

    “Dari Anas bin Malik dia mengatakan: “Shalat bersama kami Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka beliau tidak memperdengarkan kepada kami bacaan بسم الله الرحمن الرحيم , dan shalat bersama kami Abu Bakar dan Umar maka kami tidak mendengarnya dari keduanya”.

    Dan dalam lafaz Thabrani dalam “MU’JAM” nya dan Abu Nu’aim dalam “AL HILYAH”, dan Ibnu Khuzaimah dalam “SHAHIH” nya dan At Thahawi dalam “SYARAH MA’ANI ATSAR” :

    … وكانوا يسرون ببسم الله الرحمن الرحيم

    “… Dan mereka mensirr-kan بسم الله الرحمن الرحيم ”.

    Berkata syaikh Albani رحمه الله di dalam “TAMAMUL MINNAH” (hal: 169) : “Dan yang benar bahwasanya tidak ada tentang menjahrkan bismillah hadits yang tegas menyatakan demikian yang shahih, bahkan yang shahih dari beliau صلى الله عليه وسلم mensirr-kannya dari hadits Anas, dan aku telah mendapatkan baginya sepuluh jalan yang aku sebutkan di dalam takhrij “SIFAT SHALAT NABI صلى الله عليه وسلم ” yang kebanyakannya shahih sanadnya, dan pada sebahagian lafaznya menegaskan bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم tidak pernah menjahrkannya, dan sanadnya shahih berdasarkan syarat Muslim, dan ini merupakan mazhab jumhur fuqaha’ dan kebanyakan ulama hadits dan dialah yang benar yang tidak ada keraguan padanya”.

    Wallohu A’lam,Maroji’ Kutubu Shitah, “TAMAMUL MINNAH” (hal: 169), Sifat Sholat Nabi Syeikh Albaniy.

  17. Alfia Nur Hidayah said

    assalamu’alaikum wr.wb apa sih jawaban allah ketika kita membaca surat al-fatihah??
    tlg y jwbn nya mkasih
    wassalamu’alaikum wr,wb

    Abu Amin Cepu:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh :
    Pembaca yang budiman, Didalam kitab shahih bukariy dijelaskan sebagai berikut :
    38 – (395) عن أبيه، عن أبي هريرة،
    عن النبي صلى الله عليه وسلم” من صلى صلاة لم يقرأ فيها بأم القرآن فهي خداج” ثلاثا، غير تمام. فقيل لأبي هريرة : إنا نكون وراء الأمام. فقال: اقرأ بها في نفسك، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: قال الله تعالى: قسمت الصلاة بين وبين عبدي نصفين. ولعبدي ما سأل. فإذا قال العبد: الحمد لله رب العالمين، قال الله تعالى: حمدني عبدي. وإذا قال؛ الرحمن الرحيم. قال الله تعالى؛ أثنى علي عبدي. وإذا قال مالك يوم الدين. قال: مجدني عبدي (وقال مرة: فوض إلى عبدي) فإذا قال: إياك نعبد وإياك نستعين. قال: هذا بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل. فإذا قال: اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين. قال: هذا لعبدي ولعبدي ما سأل.
    قال سفيان حدثني به العلاء بن عبدالرحمن بن يعقوب.دخلت عليه وهو مريض في بيته.

    Dari Abu Hurairah ia berkata “Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda “barangsiapa mengerjakan suatu salat dan tidak membaca al-fatihah, maka salat itu cacat” beliau bersabda demikian tiga kali. Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, “tetapi kami berada dibelakang imam?’ Ia menjawab “bacalah itu di dalam hatimu karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda :
    “Allah ta’ala telah berfirman “aku membagi al-fatihah menjadi dua bagian, maka untuk hambaKu yang dimintanya.
    jika hamba itu mambaca Alhamdulillahi rabbil alamin, maka Allah berfirman ‘hambaKu memujiKu,
    jika hamba itu membaca arrahmanirrahim Allah brefirman ‘hambKu ini telah memujaKu’
    dan jika hambaKu ini membaca Maliki yaumiddin Allah berfirman ‘HambaKu telaj memuliakanku dengan kata lain hambaKu telah berserah diri kepadaKu’
    dan jika hambaKu ini mengucapkan iyyakana’buduwa iyyaka nastain, Allah berfirman ‘ini antaraKu dan hambaKu dan bagi Hambaku apa yang dimintanya’.
    Dan jika hamba ini mengucapkan ihdinas shiratal mustaqim shiratal ladzina an’amta alaihim waladldlalin, Allah berfirman ‘ini untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa yang dimintanya’”

    Wallohu A’lam Bishowab.

  18. Anonymous said

    terima kasih,ini membantu saya

    Waiyyakum

  19. Anonymous said

    assalamu’alaikum, saya minta tafsiran alfatihah yang lengkap, terimakasih

    Waalaikumussalam Warohmatulloh, Karena keterbatasan waktu kami , Antum bisa membeli tafsir ibnu katsir ahki atau tafsir Assa’diy. Waiyyakum.

  20. Amaad topa said

    As…subhanallah,alhamdulillah,allah huakbar.aku suka klw allah menyukai nya.

    Walhamdulillah,Semoga antum termasuk hamba yang merasakan manisnya iman.

  21. Anonymous said

    pak nur saya punya kemampuan iqiu rendah” saya pingin cerdas’ tp krn iqiu saya rendah selalu bodoh allah memberi saya iqiu rendah saya takut masuk neraka krn tdk bs cerdas

    Dijawab : Abu Amina Aljawiy
    Bismillah,
    Kecerdasan itu ada dua macam :
    1.Karena bakat dan anugerah semenjak lahir, walhamdulillah yang dianugerahi seperti ini, tinggal mengarahkan kepada kebenaran.
    2.Kecerdasan yang denganya terbentuk karena diasah dan dilatih, Walhamdulillah Setiap apa-apa dari kebenaran yang biasa dibisikan hati akan menjadi amalan hati, dan amalan hati akan menjadi kebiasaan amalan lisan dan perbuatan Wahai Saudaraku Perhatikan Rosul Sholollohualaihi Wassalam Bersabda :
    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف وفي كل خير احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا ولكن قل قدر الله وما شاء فعل فإن لو تفتح عمل الشيطان رواه مسلم
    “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan “seandainya” bisa membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

  22. Risdian said

    Ustadz, bagaimana cara membaca niat sholat… Niat sholat sudah saya lakukan dalam hati, lalu apa bacaan niat dalam hati tersebut, demikian pula niat wudhu, puasa dan lain2…? terima kasih ustadz..


    Dijawab Pengasuh Ma’had Cepu :
    Bismillah,
    Berkata Syeikul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam Majmu’atur Rasaaili Kubra I/243 : Tempatnya niat itu di hati tanpa (pengucapan) lisan berdasar kesepakatan para imam Muslimin dalam semua ibadah : bersuci (thaharah), shalat, zakat, puasa, haji membebaskan budak (tawanan) serta berjihad dan yang lainnya. Meskipun lisannya mengucapkan berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka teranggap dengan apa yang ia niatkan dalam hati bukan apa yang ia lafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, dan niat itu belum sampai ke dalam hatinya, hal ini belum mencukupi menurut kesepakatan para imam Muslimin. Maka sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang tetap.

    Berkata Imam An Nawawi Rahimahulloh (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i): “Beberapa sahabat kami berkata: “Orang yang mengatakan hal itu telah keliru( Yang Mengatakan Niat itu dilafadzkan). Bukan itu yang dikehendaki oleh As Syafi’i dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat, melainkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir(Bukan Melafadzkan niat). [al Majmuu' II/43]

    Ahlu Sunnah Sepakat Niat Itu Tempatnya Dihati dan penekananya didalam hati tidak dijelaskan bagaimana pengerja’anya, Sebagaimana antum menuju tempat wudhu dengan niat wudhu tanpa harus diselingi berhenti melafadzkan niat, sebagaimana antum menuju tempat sholat dengan niat sholat dan menghadap kiblat kemudian takbir tanpa berhenti melafadzkan niat, kemantapan niat ini tergantung kedalaman ilmu dan keyakinan serta kekhusyukanya dalam mentauladani Gerakan-Gerakan Rosul Sholollohualaihi Wassalam dalam Ibadah yang antum sebutkan.

    Bersungguh-Sungguh, Mengkusyukan dan Meneguhkan hati di saat akan melakukan ibadah (Kalau Dalam Sholat Bersamaan Dengan Takbir) mungkin ini yang antum maksudkan Dan ini tidak perlu dilafadzkan tapi cukup meneguhkan bisikan hati, Karena diantara amalan hati adalah Semangat,Khusyuk,Cinta,Takut,Harap dan yang semisal dengan itu.

    Allohu A’lam Bishawab

  23. AMANDA DEA LESTARI said

    Assalamualaikum Ustadz, tolong jelaskan secara runtut makna surat al-fatihah ayat 3. terimakasih

  24. Idris Al-Marbawy said

    saya kira masih agak terlalu rancu materinya sulit dimengerti, mohon lebih diperjelas lg versi ibnu katsir nya?? syukron

    Naam , Insyalloh.
    Coba dengarkan ceramahnya saja bisa dicari di kolom download ceramah

  25. Abu nadzif said

    syukron jazakumullahu khairan..

    Walhamdulillah, Semoga Alloh Ta’ala Berikan tambahan ilmu dan amal shalih kepada kita semua.
    Abu Amina Aljawiy

  26. Mohon dijelaskan pada kami, umumnya Imam besar masjdil haram, membaca fatihah dalam sholat tidak dimulai dengan bismilah;
    apakah bacaan bismilahnya dalam hati atau tidak membaca, padahal Alquran di indonesia pada bab fatihah bacaaan bismilah termasuk dalam surat al-fatihah (7 ayat).

    Walhamdulillah, Insyalloh mereka para imam tersebut membacanya akan tetapi di pelankan, Semoga Alloh Ta’ala Berikan tambahan ilmu dan amal shalih kepada kita semua.
    Abu Amina Aljawiy

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 184 pengikut lainnya.