Arsip untuk ‘Akidah,Manhaj,Tauhid’ Kategori
Ciri-Ciri Ahlu Sunnah Waljama’ah
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Juli 6, 2009
7. الفرقة الناجية : هم أهل الحديث الذين قال رسول الله صلى الله عليه و سلم فيهم : “لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق ، لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله ” (رواه مسلم)
8. الفرقة الناجية : تحترم الأئمة المجتهدين ، ولا تتعصب لواحد منهم
9. الفرقة الناجية تأمر بالمعروف، و تنهى عن المنكر، فهي تنكر الطُرق المبتدعة و الأحزاب الهدامة التي فرقت الأمة ، و ابتدعت في الدين و ابتعدت عن سنة الرسول صلى الله عليه و سلم و أصحابه .
12. الفرقة الناجية : تدعو المسلمين جميعا. إلى الجهاد في سبيل الله و هو واجب على كل مسلم . حسب طاقته و استطاعته، و يكون الجهاد بما يلي :
“لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي
2.الجهاد بالمال : و يكون بالإنفاق على نشر الإسلام ، و طبع الكتب الداعية إليه على الوجه الصحيح ، و يكون بتوزيع المال على المؤلفة قلوبهم من ضعفاء المسلمين لتثبيتهم ، و يكون بتصنيع و شراء الأسلحة ، و المعدات للمجاهدين ، و ما يلزمهم من طعام و كساء و غير ذلك .
و حكم الجهاد في سبيل الله على أنواع :
2. فرض كفاية : إذا قام به بعض المسلمين سقط عن الباقين ، و يكون في تبليغ و نقل الدعوة الإسلامية إلى سائر البلاد حتى يحكمها في الإسلام . و من وقف في طريقها قوتل حتى تسير الدعوة في طريقها.
Allohu A’lam Bishowab.
Dikutip Dari Kitab Alfirqotun An Najiyah Karya As Syeikh Muhamad bin Zamil Zaenu
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Leave a Comment »
Ahlussunnah Wal Jama’ah, Siapakah Mereka?
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Juli 3, 2009
Oleh
Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan jalan yang lurus dalam menyembah Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan tuntunan syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alai wassallam empat belas abad yang lalu.
Pengenalan akan siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah ditekankan sejak jauh-jauh hari oleh Rasulullah r kepada para sahabatnya ketika beliau berkata kepada mereka :
افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah”. Hadits shohih dishohihkan oleh oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain -rahimahumullahu-.
Demikianlah umat ini akan terpecah, dan kebenaran sabda beliau telah kita saksikan pada zaman ini yang mana hal tersebut merupakan suatu ketentuan yang telah ditakdirkan oleh Allah I Yang Maha Kuasa dan merupakan kehendak-Nya yang harus terlaksana dan Allah I Maha Mempunyai Hikmah dibelakang hal tersebut.
Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan -hafidzahullahu- menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. Darus Salaf hal.23-24 beliau berkata : “(Perpecahan dan perselisihan-ed.) merupakan hikmah dari Allah I guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme.
Allah berfirman :
ألم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُون وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِين َ(العنكبوت 1-3)
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia Maha Mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-‘Ankabut : 29 / 1-3).
Dan Allah berfirman :
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (هود : 118-119)
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan : “Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. (QS. Hud : 10 / 118-119)
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ (اللأنعام : 35)
“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’am : 6 / 35).”
Dan Allah ’Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Merahmati hambaNya. Jalan kebenaran telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sebagaimana dalam sabda Rasululullah r :
قَدْْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ
“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas petunjuk yang sangat terang malamnya seperti waktu siangnya tidaklah menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa”. Hadits Shohih dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalul Jannah.
Dan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- :
خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيْلُ اللهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلاَ ] وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ [
“Pada suatu hari Rasulullah r menggaris di depan kami satu garisan lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”.
Dikutip Dari:http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Manhaj&article=63
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | 6 Komentar »
Apa Itu Salafi Dan Siapakah Tokohnya?
Ditulis oleh abuamincepu di/pada April 22, 2009
Oleh : Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi
Salafiy adalah nisbah kepada salaf.
Salaf sendiri artinya adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut mereka (tabi’in) dengan baik dari penghuni tiga kurun yang dimuliakan dan yang setelah mereka, inilah yang disebut dengan salafiy. Bernisbah kepadanya artinya bernisbah kepada apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kepada jalan ahlul hadits.
Dan ahlil hadits adalah para pengikut manhaj salafiy yang berjalan di atasnya.
Maka salafiy adalah sebuah aqidah dalam masalah nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Juga sebuah aqidah dalam masalah qadr, aqidah dalam masalah sahabat, dan seterusnya. Maka para salaf beriman kepada Allah dan dengan nama-narna-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang Allah sendiri sifatkan diri-Nya dengannya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka (para salaf) beriman kepadaNya menurut bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah tanpa melakukan tahrif (merubah kata hingga merubah makna), tamsil (memisalkan Allah dengan makhluk), tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), ta’thil (meniadakan sifat bagi Allah atau menyatakan Allah tidak memiliki sifat apapun) dan ta’wil (mengartikan dengan salah, seperti misal; tangan Allah diartikan kekuasaan Allah. Ini salah. TanganAllah diartikan juga dengan tangan Allah. Tapi tidak boleh menyerupakannya dengan tangan makhluk-red).
Mereka para salaf juga beriman kepada qadr baiknya dan buruknya. Dan tidak sempurna iman seseorang hingga dia beriman dengan qadr yang Allah taqdirkan atas para hamba-Nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadrnya” (Al Qamar: 49)
Adapun dalam masalah sahabat, maknanya adalah beriman bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam wajib kita ridho kepada mereka dan meyakini bahwa mereka adalah orang yang adil. Mereka adalah sebaik-baik ummat dan sebaik-baik kurun. Dan meyakini bahwa mereka semua baik. ini berbeda dengan keyakinan syi’ah dan khawarij yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menghormati mereka.
Adapun dalam salafiy tidak ada tokoh selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin kelompok ini dan panutan mereka. Dan juga para sahabat adalah panutan mereka. Dasar hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
و قال صلى الله عليه و سلم : “ألا و إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين و سبعين ملة ، و إن هذه الملة ستفترق على ثلاثِ و سبعين : ثنتان و سبعون في النار ، وواحدة في الجنة، و هي الجماعة” (رواه أحمد و غيره و حسنه الحافظ)
“Telah terpecah orang-orang yahudi menjadi tujuhpuluh satu golongan dan terpecah orang nashara menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka, wahai Rasulullah? Beliau berkata: Mereka adalah orang yang berdiri diatas apa yang aku dan para sahabatku berdiri diatasnya.” (HR Abu Daud and dishahihkan syaikh Al Albani dalam shohih Sunan Abu Daud 3/115)
Dan juga beliau besabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang menerangkan tentang khuthbah beliau yang padanya beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah,
maka beliau berkata:
و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)
Aku wasiatkan kaitan untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dar-i Habsyi.” Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba’ kepada sunnahnya dan sunnah para khatifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: “Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap kebid’han adalah sesat.” (HR Turmudzi dan dishohihkan syaikh Al Albani datam shohih sunan Turmudzi no.2830).
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | 2 Komentar »
BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI DAN MASYARAKAT
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Mei 2, 2008
Oleh :
Asyeikh Muhamad Jamil Zainu
Diterjemahkan oleh
DR Abddul Muhith Abdul Fattah
Ali Musthofa Ya’qub
Aman Nadzir Sholeh
Murojaah
Muh.Mu’inudinillah basri
Munir Fuadi Ridhwan
Daftar isi …………………………………………………………………..
Kata Pengantar ……………………………………………………………
Pendahuluan ………………………………………………………………
Ciri-ciri yang dominan dalam Islam ………………………………….
Islam adalah peraturan hidup yang sempurna …………………..
Rukun Islam dan Iman …………………………………………………
Do’a adalah ibadah ………………………………………………………
Dimana Allah ………………………………….………………………….
Allah di atas Arsy ………………………………………………………..
Hal-hal yang membatalkan Islam Jangan percaya
Kepada peramal ………………………………………………………….
Jangan bersumpah dengan selain Allah ……………………………
Jangan beralasan dengan takdir ……………………………………..
Keutamaan shalat dan peringatan agar tidak
meninggalkannya …………………………………………………………
Belajarlah wudhu dan shalat ………………………………………….
Daftar bilangan rakaat shalat ………………………………………….
Hadits-hadits tentang shalat …………………………………………..
Wajibnya shalat juma’at dan berjamaah ……………………………
Keutamaan shalat Jum’at dan berjamaah …………………………
Adab dan tata cara shalat Jum’at ……………………………………
Tata cara shalat mayit …………………………………………………
Nasihat tentang kematian ……………………………………………..
Shalat Ied di mushalla ………………………………………………….
Berkurban pada waktu idul adha ……………………………………
Shalat Istisqa’ (meminta hujan) ……………………………………
Shalat gerhana Matahari dan Bulan ……………………………..
Awas jangan lewat di depan orang sedang shalat …………….
Puasa dan beberapa faedahnya …………………………………..
Kewajiban anda pada bulan Ramadhan ………………………..
Keutamaan Haji dan Umrah ………………………………………
Pekerjaan dalam umrah ……………………………………………
Pekerjaan dalam haji ………………………………………………..
Tatakrama haji dan Umrah …………………………………………
Sopan santun di masjid Nabawi ……………………………………
Di antara Akhlak Rasululloh r ……………………………………
Sopan santun dan kerendahan hati Rasululloh r …………
Da’wah dan Jihad Rasululloh r ……………………………….
Cinta dan mengikuti Rasululloh r ……………………………
Di antara wasiat Rasululloh r ………………………………….
Bagaimana mendidik anak-anak kita? ……………………….
Mengerjakan shalat …………………………………………………
Memperingatkan untuk menjauhi larangan …………………
Tutup aurat dan hijab ……………………………………………
Akhlak dan sopan santun ………………………………………..
Jihad dan keberanian …………………………………………….
Berbakti kepada orang tua ………………………………………
Jauhilah dosa-dosa besar ……………………………………….
Macam-macam dosa besar ………………………………………..
Syarat diterimanya taubat ………………………………………….
Ikutilah sunnah Rasul dan jangan melakukan bid’ah ……….
Macam-macam bid’ah ………………………………………………..
Ucapan“Shadaqallaahul ‘adhim” …………………………………..
Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran ……………
Macam-macam ajakan kepada kebaikan ………………………..
Syarat-syarat penyeru kebaikan …………………………………..
Bebarapa macam kemungkaran ………………………………….
Jihad di jalan Allah ……………………………………………………
Di antara sebab-sebab kemenangan ………………………………
Wasiat setiap muslim menurut agama …………………………….
Hal-hal yang dilarang menurut agama ……………………………..
Memelihara jenggot adalah wajib …………………………………..
Hukum nyanyian dan musik dalam Islam ……………………….
Bahaya nyanyian dan musik ………………………………………..
Hakekat menusuk diri dengan besi ………………………………..
Nyanyian pada masa kini ………………………………………………
Fitnah terhadap wanita karena suara yang bagus ……………
Hindarilah bersiul dan bertepuk tangan ……………………….
Nyanyian menimbulkan kemunafikan ………………………..
Obat untuk mnghindari nyanyian dan musik …………………
Nyanyian yang diperbolehkan ………………………………………
Hukum gambar dan patung dalam Islam ………………………..
Bahaya gambar dan patung ………………………………………..
Apakah hukumnya gambar seperti patung …………………….
Gambar dan patung yang diperbolehkan ………………………..
Apakah menghisap rokok itu haram? ………………………
Para mujtahid berpegang pada hadits ……………………..
Beberapa pendapat Imam Mazhab tentang hadits ………..
Camkanlah hadits-hadits berikut ini …………………………
Kerjakan apa yang diajarkan Rasululloh r Kepadamu…..
Jadilah kamu sekalian hamba Allah yang bersaudara …..
Hadits-hadits Nabi r tentang orang Islam …………………..
Islam mengangkat derajat wanita ………………………………
Sebagian pendapat para orientalis tentang Islam ………….
Kisah masuk Islamnya seorang Amerika …………………….
Gadis Amerika memeluk agama Islam ………………………..
Pernyataan seorang mantan penyanyi internasional setelah masuk Islam ………………………………………………………..
Do’a-do’a ……………………………………………………………..
-do’a masuk pasar …………………………………………………….
-do’a istikharah ………………………………………………………
-Do’a untuk menyembuhkan penyakit ………………………….
-Do’a bepergian dan naik kendaraan ……………………………
-Do’a Mustajab ……………………………………………………….
-Do’a orang yang kehilangan ……………………………………….
-Do’a dari Al-Qur’anul Karim ………………………………………
-Ilahi hanya Engkaulah Yang Maha Penolong ………………….
بسم الله الرحمن الرحيم
KATA PENGANTAR
- Tulisan ini dipersembahkan bertujuan untuk memperbaiki pribadi setiap muslim sehingga bisa melaksanakan Islam dengan sebaik-baiknya dan ia akan menjadi muslim yang bertaqwa kepada Allah I.
- Perbaikan yang dimaksud adalah sesuai dengan apa yang diterangkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunah sebagaimana yang difahami oleh para salaf (orang-orang terdahulu) yang sholihin.
- Para sahabat telah menjalankan Islam dengan sebaik-baiknya, maka mereka menjadi pemimpin dan orang-orang terhormat di muka bumi ini. Sebab itu banyak orang yang keluar dari kekufuran menuju Islam dan beralih dari penyembahan hamba (manusia) kepada penyembahan Tuhannya hamba, Allah I.
- Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka. (Qur’an, Ar-Ra’ad : 11)
- Buku “BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRRIBADI DAN MASYARAKAT” ini telah diterjemahkan dan dicetak ulang berkali-kali dalam berbagai bahasa dan disebarluaskan di berbagai negara : Saudi Arabia, Kuwait, Al-Jazair, Yordania, Mesir, libanon, India dan Pakistan, dan lain-lain.
- Bacalah buku ini, bila anda sudah selesai membacanya pinjamkanlah kepada teman anda agar bermanfaat untuk semua.
- Buku terjemahan terbitan kami ini telah mengalami penambahan dan penyempurnaan, sesuai dengan buku aslinya cetakan terbaru.
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah, kepadan-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. KepadaNya kita memohon perlindungan agar dijaga dari keburukan jiwa dan perbuatan. Orang yang memperoleh hidayah Allah tidak akan tersesat dan orang yang disesatkan Allah tidak ada orang yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. Dan saya besaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman :
] يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون [
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali-Imran : 102).
]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ (1) سورة النساء
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang (dengan namaNya) kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasimu.” (An-Nisaa” : 1).
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ سورة الأحزاب
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki perbuatanmu serta mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya maka ia beruntung dangan keuntungan yang agung.” (Ahzab : 70-71).
Selanjutnya, bahwa perkataan yang paling benar adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad r seburuk-buruk masalah adalah masalah yang diada adakan . semua yang diada-adakan adalah bid’ah, semua yang bid’ah sesat dan semua yang sesat akan membawa ke neraka([1]).
Maka uraian dalam kitab ini adalah pembahasan penting, ringkas dan menyangkut berbagai hal yang harus diketahui oleh setiap muslim. Tujuan tulisan ini adalah untuk memperbaiki tingkah polah manusia baik secara pribadi maupun masyarakat, insyaallah.
Muhammad bin jamil Zainu
CIRI-CIRI YANG DOMINAN DALAM ISLAM
1.Islam adalah agama Tauhid, maka iman kepada pencipta alam merupakan kenyataan yang bisa diterima oleh setiap akal sehat. Pencipta itu ialah Allah yang hanya Dia saja yang berhak disembah. Oleh karena itu kalau memotong hewan atau nadzar harus ditujukan kepadaNya saja, terutama berdo’a. Rasululloh r bersabda :
الدعاء هو العبادة. حديث حسن صحيح رواه الترمذي.
“Do’a itu adalah ibadah.” (Hadits hasan shahih riwayat Turmudzi)
oleh karena itu tidak boleh ibadah itu ditujukan kepada selain Allah.
2.Islam agama pemersatu dan bukan pemecah belah.
Islam mengajarkan agar beriman kepada semua utusan Allah yang diutusNya untuk memberikan petunjuk kepada semua manusia dan untuk mengatur kehidupannya dan beriman bahwa Rasululloh Muhammad r adalah penghabisan semua Rasul Allah, syari’atnya menggantikan semua syari’at yang sebelumnya. Beliau diutus kepada seantero manusia untuk menyelamatkan mereka dari kelaliman dan agama-agama palsu. Ditegaskan pula bahwa agama Islam selalu terpelihara kebenarannya.
3.Islam adalah agama yang mudah, jelas dan bisa dimengerti. Islam tidak mengakui takhayul dan kepercayaan yang merusak serta falsafah yang sulit, ia dapat diterapkan di segala tempat dan waktu.
4.Islam tidak memisahkan antara moril dan meteril.
Ia memandang kehidupan ini sebagai kesatuan yang meliputi keduanya. Ia tidak mengambil salah satunya dan meninggalkan yang lain.
5.Islam mengajarkan persamaan, persaudaraan sesama muslim. Ia anti terhadap semua yang bersifat perbedaan daerah dan tingkat sosial. Allah berfirman :
] إن أكرمكم عند الله أتقاكم [
“Sesungguhnya orang yang paling mulia pada sisi Allah di antaramu adalah yang paling takwa di antaramu.” (Al-Hujurat : 13).
6.Islam tidak mengajarkan kekuasaan pendeta yang memonopoli agama. Islam juga tidak mengenal pikiran yang sulit dibuktikan kebenarannya. Juga tidak mengenal apa yang disebut pembesar-pembesar agama yang dipuja. Setiap manusia bisa mempelajari Al-Qur’an dan hadits Rasululloh r menurut faham orang-orang shaleh dahulu, kemudian mewarnai kehidupan masyarakat sesuai dengan Qur’an dan Hadits.
ISLAM ADALAH PERATURAN HIDUP
YANG SEMPURNA
1.Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, sosial dan lain-lain. Juga menggariskan metode yang benar dan tepat untuk memecahkan kesulitan dalam bidang-bidang tersebut.
2.Islam berusaha mengatur kehidupan manusia. Unsur pokok dalam hal ini adalah mengatur waktu. Islam merupakan satu-satunya ajaran yang paling kuat untuk dapat membahagiakan manusia di dunia dan akhirat.
3.Islam sebelum menjadi syari’at (peraturan Allah) adalah sebagai kepercayaan atau keyakinan (bahwa Allah adalah sembahan yang hak). Karena Rasul Allah memusatkan upayanya di Makkah terhadap hal tauhid, baru setelah hijrah ke Madinah, mendirikan negara dan menerapkan/mempraktekkan syari’at Islam.
4.Islam menganjurkan untuk mencari ilmu pengetahuan dan kemajuan ilmu yang bermanfaat. Pada abad pertengahan muncul tokoh-tokoh ilmu modern dan ilmu agama dari kalangan Islam seperti Al-Haitami, Al-Bairuni dan lain-lain.
5.Islam menghalkan harta yang diperoleh dengan cara yang halal yaitu yang tidak ada penindasan, penipuan serta mengutamakan harta yang halal itu hendaknya dimiliki oleh orang-orang shaleh, yang mau memberikan hartanya kepada orang kafir dan untuk perjuangan agar terealisir keadilan sosial di kalangan umat Islam.
Rasululloh r bersabda :
نعم المال الصالح للمرء الصالح . صحيح رواه أحمد.
“sebaik-baik harta ialah harta yang halal ntuk orang yang shaleh.” (riwayat Ahmad).
Ada orang yang mengatakan bahwa tidak mungkin harta itu dicari dengan cara yang halal saja. Pendapat ini tidak benar dan tidak mempunyai dasar sama sekali.
6.Islam agama perjuangan dan mencari ketenangan hidup. Karenanya ia mewajibkan seorang muslim untuk mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkannya. Ia menghendaki agar manusia hidup tenang dalam naungan Islam dan lebih mementingkan urusan akhirat daripada dunia.
7.menghidupkan fikiran Islam yang bebas dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan norma-norma Islam seperti menghilangkan kebekuan berfikir dan membuang sisipan fikiran yang menodai fikiran Islam yang murni dan menghalangi kemajuan umat Islam seperti masalah-masalah bid’ah, takhayul dan hadits palsu.
RUKUN ISLAM
Rasululloh r bersabda : “Islam itu didirikan di atas lima sendi yaitu :
1.Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
2.Mendirikan shalat (mengerjakannya dengan memenuhi rukun dan kewajibannya serta dengan tenang dan khusyu’).
3.Membayar zakat : (wajib membayar zakat bila seorang muslim memiliki 85 gram emas atau uang yang senilai dengannya, yaitu membayar 2,5 % bila sudah sampai satu tahun. Adapun harta kekayaan selain uang, masing-masing mempunyai ketentuan sendiri).
4.Melakukan haji ke Baitullah (bagi yang mampu pergi ke sana).
5.Puasa pada bulan Romadhan (mencegah makan, minum dan bercampur suami isteri mulai fajar sampai terbenam matahari, dengan niat).
RUKUN IMAN
1.Beriman kepada Allah. Yaitu dengan mempercayai bahwa Allah itu ada dan Maha Esa baik dalam kekuasaaNya maupun dalam hal ibadah kepadaNya, dalam sifat dan hukumNya.
2.Beriman kepada para Malaikat sebagai makhluk yang diciptakan dari nur (cahaya) untuk malaksanakan perintah Allah.
3.Beriman kepada kitab-kitab Allah. Yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Dan yang paling utama adalah Al-Qur’an.
4.Beriman kepada para Rasul Allah. Yang pertama Nuh u sampai yang terahir Muhammad r.
5.Beriman kepada hari akhir, yaitu hari kiamat sebagai hari pemeriksaan terhadap amal-amal manusia.
6.Beriman kepada takdir Allah. Takdir yang baik maupun yang buruk dengan keharusan melakukan uasaha dan ridha terhadap hasil yang diperolehnya.
DO’A ADALAH IBADAH
Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Turmudzi menunjukkan bahwa do’a merupakan jenis ibadah yang paling penting. Karena shalat tidak boleh ditujukan kepada Rasul atau wali. Demikian pula do’a.
1.Orang yang mengatakan “ya Rasululloh” atau “Hai orang yang ghaib, berilah aku pertolongan dan anugrah”, berarti berdo’a kepada selain Allah, meskipun niatrnya bahwa yang memberi pertolongan itu Allah.
Demikian pula orang yang berkata,”saya shalat untuk Rasul atau wali” meskipun dalam hatinya untuk Allah, shalat seperti itu tidak akan diterima, karena ucapannya berlawanan dengan hatinya. Ucapan harus sesuai dengan niat dan keyakinan. Bila tidak demikian maka perbuatannya termasuk syirik yang tidak diampuni selain dengan taubat.
2.Apabila ia mengatakan yang diniatkan adalah Nabi atau wali itu sebagai perantara kepada Allah, seperti menghadap raja, perlu seorang perantara maka yang demikian itu merupakan menyamakan (tasybih) Allah dengan makhluk yang dhalim. Tasybih seperti itu akan menyeretnya kepada kekufuran. Padahal Allah telah berfirman yang menyatakan kesuciannya daripada penyamaan dengan makhlukNya baik dalam dzat, sifat maupun titahNya.
Firmannya :
] ليس كمثله شيء وهو السميع البصير [
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (As-Syura : 11).
3.Orang-orang musyrik pada zaman Nabi r meyakini bahwa Allah pencipta dan pemberi rizki, tetapi mereka berdo’a kepada wali-wali (pelindung) mereka yang berwujud patung.
Mereka beranggapan bahwa patung-patung itu menjadi perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Ternyata Allah tidak mentolerir perbuatan mereka itu bahkan mengkafirkan mereka dengan firmanNya :
] وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ[ (3) سورة الزمر
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: kami tidak menyembah mereka kecuali hanya agar mereka dapat mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepda orang-orang yang dusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar ; 3).
Allah itu dekat dan mendengar, tidak perlu perantara. Firmannya :
] وإذا سألك عبادي فإني قريب [
“Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu, maka sesungguhnyaAku dekat.” (Al-Baqarah : 186).
4.ang-orang musyrik apabila berada dalam bahaya berdo’a hanya kepada Allah saja, tetapi setelah selamat dari bahaya mereka berdo’a kepada pelindung-pelindungnya berupa patung-patung, sehingga Allah menyebut mereka sebagai orang kafir.
Firmannya :
] وَجَاءهُمُ الْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّواْ أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُاْ اللّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنِّ مِنَ الشَّاكِرِينَ[ (22) سورة يونس
“Dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya dan mereka yakin bahwa mereka dalam kepungan bahaya, mereka berdo’a kepada Allah dengan ikhlas semata-mata kepadanya. Mereka berkata :sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”(Yunus : 22).
Maka kenapa sejumlah orang Islam berdo’a kepada para rasul dan orang-orang shaleh (selain Allah). Mereka meminta pertolongan daripadanya, baik di waktu susah maupun gembira. Apakah mereka tidak membaca firman Allah :
]وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ} (5)وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ[ سورة الأحقاف
“Siapa gerangan yang lebih sesat daripada orang yang berdo’a kepada selain Allah, yaitu kepada orang yang tidak dapat memberikan pertolongan sampai hari kiamat, sedangkan mereka sendiri lalai akan do’a mereka. Dan apabila mereka dikumpulkan pada hari kiamat, niscaya sesembahan mereka akan menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf : 5-6).
5.Banyak orang yang menyangka bahwa kaum musyrikin yang disebut dalam Al-Qur’an itu adalah orang yang menyembah patung yang terbuat dari batu. Anggapan itu keliru, sebab patung-patung itu dahulunya adalah nama-nama orang shaleh. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas t mengenai firman Allah dalam surat Nuh :
] وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا[ (23) سورة نوح
“Dan mereka berkata : jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu dan jangan pula meninggalkan WADD, SUWA, YAGHUTS, YA’UQ dan NASR. (Nuh : 23).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama-nama orang-orang shaleh umat nabi Nuh u. Setelah mereka mati, setan membisikkan kepada para pengikutnya agar di tempat duduk mereka, didirikan monumen-monumen yang diberi nama dengan nama mereka. Mereka melaksanakannya namun patung-patung itu belum sampai disembah. Setelah pembuat patung-patung itu mati dan generasi berikutnya tidak lagi mengetahui asal-usulnya, patung-patung itu ahirnya disembah.
6.Allah membantah orang-orang yang berdo’a kepada para Nabi dan wali:
]قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا[سورة الإسراء
“Katakanlah, panggillah mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah. Mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk menolak bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu sendiri justru mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat dengan Allah dan juga mengahrapkan rahmatNya serta takut akan Adzabnya. Sungguh adzab Tuhanmu itu sesuatu yang patut ditakuti.” (Al-isra’ : 56-57).
Imam ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat ini turun mengenai sekelompok manusia yang menyembah jin dan berdo’a kepadanya. Jin tersebut kemudian masuk Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang yang berdo’a kepada Isa Al-Masih dan malaikat. Dari keterangan-keterangan di atas telah jelas bahwa ayat ini membantah dan mengingkari orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah, meskipun kepada Nabi atau wali.
7.Ada orang yang menyangka bahwa minta tolong (istighatsah) kepada selain Allah itu boleh dengan alasan bahwa yang memberi pertolongan sebanarnya adalah Allah, seperti istighatsah kepada Rasul dan wali-wali. Ini dikatakan boleh, seperti ada orang yang berkata : saya disembuhkan oleh obat dan dokter. Pendapat ini salah dan dibantah oleh firman Allah yang mengisahkan do’a Nabi Ibrahim u :
] الذين خلقني فهو يهدين. والذين هو يطعمني ويسقين. وإذا مرضت فهو يشفين [
“ Allah lah yang menciptakan aku maka Dialah yang memberikan petunjuk kepadaku. Dialah yang memberi makan dan minum aku, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku.” (Asy-syuaraa’ : 78-80).
Ayat ini menerangkan bahwa pemberi petunjuk, rezki dan kesembuhan adalah Allah saja bukan yang lain, sedangkan obat hanyalah sebagai sebab saja dan tidak menyembuhkan.
8.Banyak orang yang tidak dapat membedakan antara istighatsah kepada orang hidup dan istighatsah kepada orang mati. Firman Allah :
] وما يستوي الأحياء ولا الأموات [
“Tidaklah sama orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Fathir : 22).
] فاستغاثه الذي من شيعته على الذين من عدوه [
“Nabi Musa dimintaitolong oleh seorang dari golongannya untuk mengalahkan musuh orang itu.” (Al-Qashah : 15).
Ayat ini menceritakan tentang seorang yang minta tolong kepada Musa agar melindunginya dari musuhnya dan Musa pun menolongnya:
] فوكزه موسى فقضى عليه [
“Dan Musa meninjunya sehingga matilah musuh itu.” (Al-Qashash : 15)
Adapun orang mati tidak boleh kita meminta tolong kepadanya karena ia tidak dapat mendengar do’a kita. Andaikata mendengar pun ia tidak akan dapat memenuhi permintaan kita karena ia tidak dapat melakukannya. Firman Allah :
]إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِير[ٍ (14) سورة فاطر
“Apabila kamu berdo’a kepada mereka, mereka tidak dapat mendengar do’a kamu dan seandainya mereka dapat mendengar, mereka tidak dapat memenuhi permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.” (Fathir : 14).
] والذين يدعون من دون الله لا يخلقون شيئا وهم يخلقون. أموات غير أحياء وما يشعرون أيان يبعثون [
“dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah itu tidak dapat membuat sesuatu apapun sedang mereka sendiri dibuat orang. Mereka itu benda mati, tidak hidup dan mereka itu tidak dapat mengetahui kapan akan dibangkitkan.” (An-Nahl : 20-21).
8.Dalam hadits-hadits shahih terdapat keterangan bahwa menusia pada hari kiamat nanti mendatangi para Nabi untuk minta syafaat, sampai mereka mendatangi Nabi Muhammad r untuk meminta syafaat agar segera dibebaskan. Nabi Muhammad menjawab : ya, memang saya dapat memberi syafaat, kemudian beliau sujud di bawah Arsy dan memohon kepada Allah agar mereka segera dibebaskan dan dipercepat proses penghisabannya. Syafaat ini adalah permintaan Nabi Muhammad r dan waktu itu beliau dalam keadaan hidup dimana beliau dapat berbicara dengan mereka lalu beliau memohonkan syafaat. Itulah yang diperbuat Rasululloh r.
9.Argumen yang paling tepat untuk membedakan antara memohon kepada orang mati dan orang hidup adalah apa yang dikatakan Umar bin Khatthab pada waktu terjadi kekeringan dimana beliau meminta kepada Al-Abbas paman Rasululloh r untuk mendo’akan mereka, dan Umar tidak pernah minta tolong kepada Nabi r setelah beliau wafat.
10.Ada sejumlah ulama yang menyangka bahwa tawassul itu sama dengan istighatsah, padahal perbedaan antara keduanya besar sekali. Tawassul adalah berdo’a kepada Allah melalui perantara seperti, wahai Allah, dengan perantaraan cintaku kepadamu dan cintaku kepada Rasulmu bebaskanlah kami. Do’a dengan cara tawassul seperti ini boleh. Istighatsah adalah berdo’a kepada selain Allah seperti, wahai Rasululloh, bebaskanlah kami. Ini tidak boleh, bahkan termasuk syirik besar berdasarkan firman Allah :
] ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين [
“Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang zalim (musyrik).” (Yunus : 106).
DIMANA ALLAH?
Allah yang menciptakan kita, mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehinga kita dapat menghadap kepadaNya dengan hati, do’a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana tuhannya akan tersesat, tidak tahu kemana ia menghadap kepada sembahannya, dan tidak dapat melaksanakan ibadah (penghambaan) kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Sifat Mahatinggi yang dimiliki Allah atas makhluknya tidak berbeda dengan sifat-sifat Allah yang lain sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadits shahih, seperti : mendengar, melihat, berbicara, turun dan lain-lainnya.
Aqidah para ulama salaf yang shaleh dan golongan yang selamat “Ahlussunnah wal Jamaah” telah mengimani apa yang diberitakan Allah dalam Al-qur’an dan apa yang diberitakan Rasulnya dalam hadits, tanpa ta’wil (menggeser makna yang asli ke makna yang lain). Ta’thil (meniadakan maknanya sama sekali) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluknya). Hal ini berdasarkan firman Allah :
] ليس كمثله شيء وهو السميع البصير [
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura : 11).
Sifat-sifat Allah ini, antara lain Mahatinggi dan bahwa Dia berada di atas makhluk, adalah sesuai dengan keagungan Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut wajib, sebagaimana juga iman kepada dzat Allah, Imam Malik ketika ditanya tentang firman Allah :
] الرحمن على العرش استوى [
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy.” (Taha : 5).
Beliau menjawab : Istiwa itu sudah dimaklumi artinya (Yaitu : bersemayam atau berada di atas). Tetapi bagaiamana hal itu tidak dapat diketahui. Kita hanya wajib mengimaninya dan mempertanyakannya adalah bid’ah.”
Perhatikanah jawaban Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada “istiwa” itu wajib diketahui oleh setiap muslim, yang berarti : bersemayam atau berada di atas.tetapi bagaimana hal itu, hanya Allah saja yang mengetahi. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits –antara lain sifat Mahatinggi Allah mutlak dan Allah di atas langit- maka orang itu berarti telah mengingkari ayat Al-Qur’an dan hadits yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan., keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapapun.
Usaha orang-orang yang datang belakangan untuk mentakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan sifat-sifat Alah, karena terpengaruh oleh filsafat yang merusak aqidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari dzatNya. Mereka menyimpang dari metode ulama salaf yang lebih selamat, lebih ilmiah dan lebih kuat argumentasinya. Alangkah indahnya pendapat yang mengatakan :
Segala kebaikan itu terdapat
Dalam mengikuti jejak ulama salaf
Dan segala keburukan itu terdapat
Dalam bid’ah yang datang kemudian.
KESIMPULAN :
Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang telah diterangkan Al-Qur’an dan hadits adalah wajib. Tidak boleh membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga hanya mau beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa Allah itu Maha tinggi di atas langit sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat MahatinggiNya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabnya dan sabda Rasululloh r Fitrah dan cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.
ALLAH DI ATAS ARASY
Al-Qur’an, hadits shaheh, naluri dan cara berfikir yang sehat telah mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.
1. Firman Allah :
] الرحمن على العرش استوى [
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arasy.” (Thaha : 5)
Pengertian ini sebagaimana diriwayatikan bukhari dari beberapa tabi’in.
2. Firman Allah :
]أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ [ (16) سورة الملك
“Apakah kamu merasa aman trehadap Yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu…? (Al-Mulk : 16).
3. Firman Allah :
] يخافون ربهم من فوقهم [
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka…” (An-Nahal : 50).
4. Firman Allah tentang Nabi Isa u :
] بل رفعه الله [
“Tetapi Allah mengangkatnya …” (An-Nisa’ : 158)
Maksudnya Allah menaikkan Nabi Isa ke langit.”
5. Firman Allah :
] وهو الله في السموات [
“Dan Dialah Allah (Yang disembah) di langit …” (Al-An’am : 3)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut : para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha suci Allah dari ucapan mereka.”
Adapun firman Allah :
] وهو معكم أينما كنتم [
“Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada …” (Al-Hadid : 4).
Maksudnya bahwa dia bersama kita : mengetahui, mendengar dan melihat kita di manapun kita berada. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut, seperti keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir.
6. Rasululloh r mi’raj ke langit ketujuh dan difirmankan kepadanya oleh Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (riwayat Bukhari dan Muslim).
7. sabda Rasululloh r :
“Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku dipercaya oleh Allah yang berada di langit.? (riwayat Turmudzi).
8. Sabda Rasululloh r :
“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu.” (Riwayat Turmudzi).
9. Rasululloh r pernah menanyai seorang budak wanita :
“Di mana Allah?” jawabnya : “Di langit”,” Rasululloh bertanya lagi : “siapa saya?” dijawab lagi : “Kamu Rasul Allah.” Lalu Rasululloh bersabda :
“Merdekakanlah dia karena dia seorang mu’minah.” (Riwayat Muslim).
10. Sabda Rasululloh r :
“Arsy itu berada di atas air, dan Allah berada di atas Arsy, Allah mengetahui keadaan kamu.” (Hadits hasan riwayat Abu Daud).
11. Abu Bakar shiddiq berkata : “Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah berada di langit, Ia Maha hidup dan tidak mati.” (Riwayat Imam Darimi dalam al radd alal jahmiyah).
12. Abdullah bin Mubarak pernah ditanya : “Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?” Maka beliau menjawab : “Tuhan kita berada di atas langit, di atas Arsy, berbeda dengan makhluknya. “Maksudnya : dzat Allah berada di atas Arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluknya, dan keadaanya di atas Arsy tersebut tidak sama dengan mahkluk.
13. Para imam empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal) telah sepakat bahwa Allah berada di atas Arsy, tidak ada seorangpun dari makhluk yang serupa denganNya.
14. Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan : “Subhana Rabbial A’laa (Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdo’a, ia juga mengangkat tangannya dan menadahkan ke langit.
15. Anak kecil ketika anda tanya di mana Allah, dia akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit.
16. Cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah di langit. Seandainya Allah ada di semua tempat, niscaya Rasululloh pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di segala tempat, berarti Allah juga berada di tempat-tempat najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan yang demikian itu.
17. Pendapat yang mengatakah bahwa Allah berada di segala tempat, berarti bahwa Dzat Allah itu banyak, karena banyaknya tempat. Akan tetapi karena Dzat Allah itu satu, dan mustahil banyak, maka pendapat yang mengatakan bahwa Allah berada di segala tempat adalah batil. Maka tentulah Allah itu di langit, di atas Arsy-Nya, dan dia bersama kita : mengetahui, mendengar dan melihat kita di manapun kita berada.
HAL-HAL YANG
MEMBATALKAN ISLAM
Di dalam agama Islam ada hal-hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang apabila ia mengerjakannya. Hal-hal tersebut adalah :
1.Berdo’a dan meminta kepada selain Allah, seperti kepada para Nabi dan wali-wali yang sudah wafat, atau kepada makhluk hidup yang ghaib. Firman Allah :
] ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين [
“Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang zalim (musyrik).” (Yunus : 106).
Dan sabda Nabi r :
من مات وهو يدعو لله ندا دخل النار. رواه البخاري.
“Baragsiapa mati dalam keadaan menyembah sekutu, selain Allah, niscaya masuk neraka.” (riwayati Bukhari).
2.Merasa kesal hatinya dengan tauhid kepada Allah dan enggan berdo’a. serta meminta pertolongan kepada para rasul atau wali-wali yang sudah wafat, atau kepada makhluk hidup yang ghaib. Firman Allah :
]وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ[ (45) سورة الزمر
“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (Az-Zumar : 45).
Ayat ini juga berlaku terhadap mereka yang memusuhi orang yang hanya meminta tolong kepada Allah saja, yang mereka sebut “WAHABI”, jika mereka tahu bahwa WAHABI itu mengajak kepada tauhid.
3.Menyembelih binatang untuk/karena seorang Rasul atau wali. Berdasarkan firman Allah :
] فصل لربك وانحر [
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah (binatang).” (Al-Kautsar : 2).
4.Bernadzar untuk makhluk sebagai pendekatan dan penghambaan kepadanya. Padahal semestinya hanya untuk Allah saja. Firman Allah :
] رب إني نذرت لك ما في بطني محررا فتقبل مني إنك أنت السميع العليم [
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat. Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Imran : 35).
5.Melakukan thawaf di sekeliling kuburan dengan niat ibadah. Karena thawaf hanya dilakukan di sekeliling Ka’bah, berdasarkan firman Allah :
]وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ[(29) سورة الحـج
“…dan hendaklah mereka berthawaf di sekeliling Baitul ‘atiq (Ka’bah).” (Al-Hajj : 29).
6.Tawakkal dan berserah diri kepada selain Allah, firmanNya :
] فعليه توكلوا إن كنتم مسلمين [
“… maka bertawakkallah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (Yunus : 84).
7.Ruku’ atau sujud dengan niat mengagungkan raja atau para pemimpin, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, kecuali yang melakukan hal itu bodoh (tidak tahu). Karena ruku’ dan sujud adalah ibadah untuk Allah saja.
8.Mengingkari salah satu rukun Islam, seperti : shalat, zakat, puasa dan haji. Atau mengingkari salah satu rukun iman, yaitu : iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul, hari Ahir dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Atau mengingkari hal-hal yang sudah jelas dalam agama.
9.Membenci Islam atau sebagian dari ajaran Islam yang sudah merupakan ijma’ para ulama, baik yang menyangkut masalah ibadah, mu’amalah, ekonomi atau akhlak. Firman Alah :
] ذلك بأنهم كرهوا ما أنـزل الله فأحبط أعمالهم [
“Yang demikian itu sebenarnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an), lalu Allah menghapuskan pahala amal mereka.” (Muhamad : 9).
10.Berolok-olok dengan ayat Al-Qur’an, hadits shahih atau salah satu hukum Islam yang telah disepakati. Firman Allah :
] قل أبالله وءاياته ورسوله كنتم تستهزؤون. لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم [
“Katakanlah : apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya? Kamu selalu berolok-olok. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman …” (At-Taubah : 65-66).
11.Mengingkari Al-Qur’an, meskipun sedikit saja, atau hadits shahih. Ini dapat menyebabkan riddah (keluar) dari Islam apabila dilakukan dengan sadar dan sengaja.
12.Mencela Allah, mengutuki Islam, menghina Nabi r atau memperolok keadaan beliau, atau mengkritik ajaran yang dibawanya. Itu semuanya menyebabkan kafir.
13.Mengingkari salah satu asma’, sifat atau af’al (perbuatan) Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, apabila dilakukan bukan karena tidak tahu atau karena takwil.
14.Tidak mengimani seluruh rasul yang di utus oleh Allah untuk menyampaikan petunjuk kepada manusia, atau mengurangi jumlah mereka. Firman Allah :
] لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ[ (285) سورة البقرةَ
“…Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-RasulNya…” (Al-Baqarah : 285).
15.Memutuskan perkara dengan selain hukum Allah, dengan meyakini bahwa hukum Islam tidak sesuai untuk diterapkan, atau membolehkan berhukum dengan selain hukum Islam. Firman Allah :
] ومن لم يحكم بما أنـزل الله فأولئك هم الكافرون [
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah ; 44).
16.Menjadikan selain Islam sebagai hakim (pemutus perkara), tidak rela atau menolak hukum Islam, atau merasa keberatan dengan hukum Islam. Firman Allah :
] فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدون في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما [
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuh hati.” (An-Nisaa’ : 65).
17.Memberikan hak membuat undang-undang dan hukum kepada selain Allah, seperti sistim kedikatatoran atau sistim yang lain dimana mereka membolehkan untuk menentukan hukum yang bertentangan dengan hukum Allah. Firman Allah :
] أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله [
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan agama yang tidak diizinkah Allah untuk mereka…” (As-Syu’ara : 21).
18.Mengharamkah sesuatu yang dihalalkan Allah atau menghalalkan sesuatu yang diharamkanNya. Seperti menghalalkan zina atau riba bukan karena ta’wil. Firman Allah :
] وأحل الله البيع وحرم الربا [
“…Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (Al-Baqarah : 275).
19.Percaya terhadap ajaran-ajaran yang merusak Islam, seperti komunisme, atheisme, freemasonry yahudi, sosialisme, marxisme, sekularisme, nasionalisme yang lebih mengutamakan orang arab non Muslim daripada orang non arab yang muslim. Firman Allah :
] ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين [
“Barangsiapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima sama sekali agamanya itu dan dia di akhirat termasuk orang yang rugi.” (Ali-Imran : 85).
20.Merubah agama dan pindah dari Islam ke agama lain. Firman Allah :
] ومن يرتدد منكم عن دينه فيمت وهو كافر فأولئك حبطت أعمالهم في الدينا والآخرة [
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan akhirat…” (Al-Baqarah : 217).
Sabda Nabi r :
“Barangsiapa yang merubah agamanya maka ia harus dibunuh.” (Riwayat Bukhari).
21.Membantu orang yahudi, nasrani atau komunis serta bahu-membahu dengan mereka dalam melawan orang Islam. Firman Allah:
] يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم [
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang yahudi dan nasrani menjadi walimu. Mereka itu satu sama lain saling menjadi wali. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi walinya, maka sesungguhnya orang ittu termasuk golongan mereka.” (Al-Maidah : 51).
22.Tidak mau mengkafirkan orang komunis yang tidak percaya kepada Tuhan, atau orang yahudi dan nasrani yang tidak percaya kepada Nabi Muhammad r. Padahal Allah sendiri telah mengkafirkan mereka. FirmanNya :
] إن الذين كفروا من أهل الكتاب والمشركين في نار جهنم خالدين فيها أولئك هم شر البرية [
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang musyrik akan masuk neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Meraka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah : 6).
23.Pendapat sekelompok orang sufi tentang wihdatul-wujud (union mistik), yaitu bahwa apa yang ada di bumi ini adalah Allah. Sampai ada pemimpin mereka yang mengatakan:
Anjing dan babi itu tiada lain
Kecuali tuhan kita
Dan Allah itu tiada lain
Kecuali pendeta dalam gereja.
Dan pemimpin mereka, (Al-Hallaj, mengatakan : “Aku adalah Allah dan Allah adalah aku”. Maka para ulama memutuskan hukuman mati terhadap dirinya.
24.Berpendapat bahwa agama terpisah dari negara dan bahwa Islam tidak mempunyai teori politik, sebab pendapat ini adalah pendustaan terhadap Al-Qur’an, hadits dan sirah (sejarah kehidupan) Nabi.
25.Berpendapat, sebagaimana yang dianut oleh sekelompok orang sufi, bahwa Allah menyerahkan kunci-kunci semua urusan kepada tokoh-tokoh wali. Ini merupakan syirik dalam af’al (perbuatan) Allah, bertentangan dengan firmannya :
] له مقاليد السماوات والأرض [
“Allah yang memiliki kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi …” (Az-Zumar : 63).
Hal-hal yang membatalkan ke-Islaman ini serupa dengan hal-hal yang membatalkan wudhu’. Apabila seorang muslim melakukan salah satu hal tersebut, maka hendaklah ia memperbaharui keislamannya, meninggalkan hal yang membatalkannya dan bertaubat kepada Allah sebelum mati. Bila tidak demikian, maka akan sia-sia dan terhapuslah amalnya serta akan kekal di dalam neraka jahannam.
Firman Allah “
] لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين [
“Jika kamu mempersekutukan (Allah); niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65).
Rasululloh r pun telah mengajarkan kepada kita agar brdo’a :
اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلمه. رواه الإمام أحمد.
“Ya Allah, kami memohon kepadaMu perlindungan dari perbuatan syirik apapun yang kami ketahui. Dan kami memohon kepada-Mu ampunan atas perbuatan (dosa) yang tidak kami ketaui.” (Riwayat Imam Ahmad, dengan sanad hasan).
JANGAN PERCAYA KEPADA PERAMAL
Rasululloh r bersabda :
“Barangsiapa bertanya kepada peramal atau ahli nujum, kemudian ia percaya apa yang dikatakannya, berarti ia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Hadits shahih riwayat Ahmad).
Haram hukumnya mempercayai ahli nujum, dukun, peramal, tukang sihir, orang yang mengaku mengetahui jiwa orang atau peristiwa-peristiwa yang lalu yang tidak diketahui orang atau mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebab hal-hal tersebut adalah khusus ilmu Allah saja. Allah berfirman :
] وهو عليم بذات الصدور [
“Dan Dia Maha Menetahui apa yang tersimpan dalam hati.” (Al-Hadid : 6).
Dan firman-Nya pula :
] قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله [
“Katakanlah: tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml : 65).
Rasululloh r bersabda :
“Barangsiapa mendatangi seorang peramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima baginya shalat selama empat puluh hari.” (riwayat Muslim).
Apa yang dikatakan oleh para peramal itu sebenarnya hanyalah dugaan dan kebetulan saja. Umumnya tidak lebih dari dusta Karena bisikan setan dan tidak ada orang yang terbujuk kecuali orang yang kurang akalnya saja. Andaikata mereka mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya mereka akan mengambil harta yang tersimpan dalam perut bumi ini sehingga mereka tidak lagi menjadi orang fakir yang kerjanya mengelabui orang lain hanya mencari sesuap nasi dengan caa yang batil. Kalau mereka benar-benar mengetahui hal-hal yang ghaib, maka beritahulah kami apa rahasia-rahasia yahudi sehingga dapat ditumbangkan.
JANGAN BERSUMPAH DENGAN SELAIN ALLAH
1.sabda Rasululloh r :
“Janganlah kamu bersumpah dengan nama bapakmu. Barangsiapa bersumpah dengan nama Allah maka supaya berkata benar, barangsiapa diberi sumpah dengan nama Allah maka supaya menerima, dan barangsiapa yang tidak menerima maka terlepas dari Allah.” (Shahih, riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih al-Jami’ No. 7124).
2.Sabda Rasululloh r :
“Janganlah kamu bersumpah dengan nama bapakmu, atau ibumu, atau sekutu-sekutu. Janganlah kamu bersumpah kecuali dengan nama Allah. Dan janganlah kamu bersumpah kecuali dengan berkata benar.” (Shahih, riwayat Abu Daud. Lihat Shahih al-Jami’ No. 7126)
3.Sabda Rasululloh r :
“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka ia telah berbuat syirik.” (Hadits shahih, riwayat Imam Ahmad dan periwayat lainnya)
4.Sabda Rasululah r :
“Barangsiapa melakukan sumpah yang diharuskan kepadanya (oleh penguasa) untuk mengambil harta kekayaan seorang Muslim, tetapi dia dusta, maka ketika berjumpa Allah (pada hari kiamat) Dia akan murka kepadanya.” (Muttafaq Alaih)
5.Sabda Rasululah r :
“Barangsiapa bersumpah, lalu memandang lebih baik membatalkan sumpahnya, maka hendaklah ia mengambil yang lebih baik dan melaksanakan kaffarat atas sumpahnya itu.” (Riwayat Muslim).
6.Sabda Rasululloh r :
“Barangsiapa bersumpah, tetapi mengatakan : “insyaallah”, maka jika dia mau, boleh melaksanakan sumpahnya; dan jika tidak, boleh tidak melaksanakan tanpa harus membayar kaffarat.” (Hadits Shahih, riwayat An-Nasa’i. Lihat Shahih al-Jami’ No. 6082).
7.Abdullah ibnu Mas’ud berkata :
“Bersumpah dengan nama Allah tapi dusta, lebih baik bagiku daripada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun benar.”
8.Sabda Rasululloh r :
“Barangsiapa di antara kamu bersumpah dengan menyebut nama Al-Laata dan Al-Uzza, maka hendaklah ia mengatakan : Laa Ilaaha Illallah.” Dan barangsiapa berkata kepada sahabatnya : “Mari kita berjudi”, maka hendaklah ia mensedekahkan sesuatu.” (Muttafaq Alaih)
9.Sabda Rasululloh r :
“Barangsiapa bersumpah dengan (menyebut) agama selain Islam, sekalipun dusta, maka ia adalah sebagaimana yang dikatakannya.” (Muttafak Alaih).
Maksudnya : apabila seorang muslim mengatakan bahwa jika ia berbuat demikian maka ia adalah orang yahudi, atau nasrani. Dalam masalah ini, apabila maksudnya mengagungkan hal itu adalah kafir. Tetapi apabila yang dimaksud hanyalah pengandaian, maka perlu diteliti; jika ia ingin menjadi seperti itu adalah kafir, tetapi jika ia ingin menjauhi hal yang demikian maka tidak kafir. (lihat Fathul Bari, jiz 11, hal. 536)
KESIMPULAN
1.Hukumya haram bersumpah dengan makhluk, seperti Nabi, Ka’bah, amanat, tanggung jawab, anak, orang tua, kehormatan, seorang wali dan lain sebagainya. Hal ini adalah termasuk syirik Ashghar, karena mempersekutukan Allah dengan mengagungkan selainNya ketika bersumpah dengan namanya. Dan termasuk dosa besar yang wajib dilarang, ditinggalkan dan bertaubat darinya. Tetapi sumpah dengan selain Allah bisa menjadi syirik akbar, jika orang yang bersumpah dengan wali, umpamanya, mempunyai kepercayaan bahwa wali tersebut akan melakukan balas dendam kepadanya bila ia dusta dalam sumpahnya, karena dia telah mempersekutukan Allah dengan si wali dalam melakukan balas dendam dan mendatangkan madharat.
2.Sumpah dengan selain Allah bukan sumpah yang dibenarkan agama. Orang yang bersumpah demikian tidak harus melaksanakannya dan tidak wajib baginya kaffarat.
3.Barangsiapa bersumpah dangan memutuskan silaturrahim, atau berbuat maksiat, maka tidak boleh ia melaksanakan sumpahnya dan hendaklah membayar kaffarat. Kaffarat sumpah diterangkan dalam firman Allah :
]لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ[ (89) سورة المائدة
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melaggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa yang tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukumNya agar kamu bersyukur (kepadanya).” (Al-Maidah : 89)
JANGAN BERALASAN DENGAN TAKDIR
Setiap muslim harus berkeyakinan bahwa segala kebaikan dan keburukan terjadi menurut takdir Allah dan kehendakNya. Serta diketahui dengan ilmunya. Namun menjalankan perbuatan baik atau buruk itu timbul atas pilihan hambanya sendiri, sedang memperhatikan perintah dan laranganNya adalah wajib bagi seorang hamba. Oleh karena itu ia tidak boleh berbuat maksiat dengan dalih bahwa yang demikian itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Allah telah mengutus Rasul-rasulNya serta menurunkan kitab-kitab agar rasul-rasul itu menjelaskan jalan yang menuju kebahagiaan dan yang menuju kesengsaraaan.
Demikian pula Allah telah memuliakan manusia dengan akal fikiran dan menerangkan kepadanya jalan yang sesat dan benar.
Firman Allah :
] إنا هديناه السبيل إما شاكرا وإما كفورا [
“Sesunggunya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan : 3)
Oleh karena itu apabila meninggalkan shalat atau minum arak ia berhak dihukum karena melanggar perintah/larangan Allah dan waktu itulah ia perlu sekali bertaubat dan menyesali perbuatan maksiatnya.
KEUTAMAAN SHALAT DAN PERINGATAN
AGAR TIDAK MENINGGALKANNYA
1.Allah berfirman :
] وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ(10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ[ سورة المؤمنون
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minun : 9-11)
2.Allah berfirman :
] وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر [
“Dan kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut : 45).
3.Alllah berfirman :
] فويل للمصلين. الذين هم عن صلاتهم ساهون [
“Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya (menunda-nunda sehingga keluar dari waktunya).” (Al-Ma’un : 4-5)
4.Allah berfirman :
] قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون [
“Sungguh bahagialah orang-orang mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun : 1-2)
5.Allah berfirman :
]فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا[ (59) سورة مريم
“Lalu datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam ; 59)
6.Rasululloh r bersabda :
“Tahukah kamu, apabila di dekat pintu rumahmu terdapat sebuah sungai dan kamu mandi lima kali sehari? Apakah badanmu masih kotor? Para sahabat menjawab : Tidak! Nabi bersabda lagi : begitulah halnya shalat yang lima kali sehari, Allah menghapuskan dosa-dosa manusia dengan shalat itu.” (Hadits Muttafaq Alaih).
7.Nabi r bersabda :
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka ia telah kafir.” (Hadits shahih riwayat Ahmad).
8.Nabi r bersabda :
“Tonggak pemisah antara seseorang muslim dengan kafir adalah shalat.” (Riwayat Muslim).
BELAJARLAH WUDHU DAN SHALAT
Wudhu
Singsingkan kedua lengan bajumu sampai di atas siku. Lalu bacalah “Bismilahirramanirrahim” kemudian :
1.Basuh kedua telapak tanganmu dan berkumur, lalu buanglah kotoran hidung dengan memasukkah air kemudian mengeluarkannya kembali tiga kali.
2.Basuhlah wajahmu dan kedua lenganmu sampai siku, yang kanan dan kiri tiga kali.
3.Usaplah kepalamu seluruhnya beserta kedua telinga.
4.Basuhlah kedua kakimu sampai kedua mata kaki kanan dan kiri, tiga kali.
Shalat.
Shalat shubuh dua rakaat, niat lebih dahulu dalam hati.
1.Menghadap ke kiblat, angkat kedua tangan sampai telinga seraya bertakbir “Allahu Akbar”
2.Letakkan tangan kananmu pada tangan kiri di dada dan bacalah :
سبحان اللهم وبحمدك وتبارك اسمك وتعالى جدك ولا إله غيرك.
“Maha suci Engkau Ya Allah bersama pujianMu, penuh kebaikan namaMu, Maha tinggi keluhuranMu dan tidak ada Tuhan yang hak selain Engkau.”
Boleh juga membaca do’a lain yang tersebut dalam sunnah.
Rakaat yang pertama :
Bacalah pelan-pelan “A’uzubillahi minassyaithanirrajim” dan “Bismillahirrahmanirrahim”, kemudian membaca Alfatihah dengan suara keras :
الحمد لله رب العالين الرحمن الرحيم مالك يوم الدين إياك نعبد وإياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين.
“Segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam. Yang Maha Pengasih (kepada seluruh makhluk di dunia). Yang Maha Penyayang (kepada mu’min saja di akhirat) Yang menjadi penguasa pada hari pembalasan. Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami minta tolong. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri ni’mat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang sesat.”
Kemudian membaca surat berikut atau surat lainnya.
بسم الله الرحمن الرحيم قل هو الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكم له كفوا أحد.
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung padanya. Ia tidak melahirkan anak dan tidak dilahirkan sebagai anak. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.”
3.Angkatlah kedua tangan dan bacalah takbir, kemudian ruku sambil meletakkah kedua tangan di atas kedua lutut seraya membaca :
سبحان ربي العظيم
“Maha suci Tuhanku yang maha Agung.” Sebanyak tiga kali.
4.Angkat kepala dan kedua tangan sambil membaca :
سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد
“Allah mendengar orang yang memujiNya, wahai Tuhan kami, puji-pujian hanya untukMu.”
5.Bacalah takbir dan sujud, letakkan kedua tapak tangan, dahi, hidung dan jari-jari kaki di tanah menghadap kiblat, lalu membaca :
سبحان ربي الأعلى
“Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.” Tiga kali.
6.Angkatlah kepala dari sujud seraya membaca takbir, kemudian duduk dan taruhlah kedua tangan di atas kedua lutut lalu membaca :
رب اغفرلي وارحمني واهدني وعافني وارزقني
“Wahai Robbku limpahkan ampunan, kasih sayang, petunjuk, kesejahteraan dan rizki kepadaku.”
7.Sujudlah di atas lantai yang kedua kalinya seraya membaca takbir, lalu bacalah :
سبحان ربي الأعلى
“Maha suci Tuhanku Yang Maha Luhur.” (tiga kali).
8.Duduklah di atas kaki kirimu dan tegakkan jari-jari kaki kananmu. Duduk ini disebut duduk istirahat.
Raka’at kedua.
1.Bangkitlah dari raka’at pertama lalau bacalah ta’awuzd dan basmalah. Kemudian bacalah surat Al-Fatihah dan surat yang pendek, atau surat lainnya yang bisa dibaca.
2.Ruku’lah kemudian sujudlah seperti yang lalu, kemudian duduklah dan genggam tangan kananmu, angkat dan gerak-gerakkan telunjukmu sambil membaca :
التحيات لله والصلوات والطيبات، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، وبارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن فتنة المسيح الدجال.
“Segala pengagungan adalah bagi Allah, begitu pula segala do’a dan puja serta kebaikan. Kedamaian semoga selalu dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu pula rahmat dan berkat Allah. Semoga kedamaian dilimpahkah kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Kau limpahkan rahmatMu kepada Ibrahim dan keluarganya. Ya Allah, limpahkanlah berkahMu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau limpahkan berkahMu kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Dzat yang senantiasa dipuji dan diagungkan.
Ya Allah, aku mohon perlindungan kepadaMu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, fitnah hidup dan mati dan daripada fitnah dajjal.
3.Kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri sambil membaca masing-masing :
السلام عليكم ورحمة الله
“Semoga kedamaian dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu.”
DAFTAR BILANGAN RAKAAT SHALAT
Nama shalat |
Sunnah qabliyah |
Fardhu |
Sunnah Ba’diyah |
Shubuh |
2 |
2 |
- |
Dhuhur |
2 + 2 |
4 |
2 |
Ashar |
2 + 2 |
4 |
- |
Maghrib |
2 |
3 |
2 |
Isya |
2 |
4 |
2 + 3 witir |
Jum’at |
2tahiyatul masjid |
2 |
2 di rumah atau 2 + 2 di masjid |
HUKUM-HUKUM SHALAT
1. Sunnah qabliyah dikerjakan sebelum shalat fardhu dan sunnah ba’diyah dikerjakan sesudahnya.
2. Pelan-pelanlah dan arahkan pandangan ke tempat sujud dan jangan menoleh.
3. Diamlah apabila mendengar bacaan imam dan bacalah surah-surah apabila tidak mendengar bacaan imam.
4. Shalat fardhu Jum’at dua rakaat dan tidak boleh dikerjakan kecuali di masjid setelah mendengar khutbah.
5. Shalat fardhu maghrib tiga rakaat. Caranya, shalatlah dua rakaat dulu seperti shalat subuh. Setelah selesai membaca tahiyat semuanya jangan bersalam, tetapi berdiri untuk melakukan rakaat ketiga sambil mengangkat kedua tangan sampai batas pundak. Kemudian bacalah Al-Fatihah saja kemudian selesaikanlah shalat seperti pada shalat subuh tersebut diatas.
6. Shalat dhuhur dan ashar masing-masing empat rakaat, lakukanlah seperti pada shalat maghrib dan berdirilah untuk rakaat ketiga dan keempat. Bacalah surat Al-Fatihah kemudian selesaikan shalat seperti yang anda sudah ketahui.
7. Shalat witir tiga rakaat, lakukanlah dua rakaat dulu kemudian salam. Setelah itu shalat lagi satu rakaat kemudian salam.
8. Apabila anda menjadi makmum, berdirilah dan bacalah takbir meskipun imam sudah ruku’. Dalam hal ini anda tetap memperoleh satu rakaat, tetapi kalau imam sudah bangkit dari ruku’, anda tidak mendapat satu rakaat.
9. Apabila anda ketinggalan satu rakaat atau lebih dari imam maka ikutilah shalat imam. Setelah imam salam anda tidak ikut salam tetapi berdiri lagi untuk menambah rakaat yang ketinggalan.
10. Jangan shalat dengan tergesa-gesa karena hal itu dapat membatalkan shalat. Rasululloh r pernah melihat seorang mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa, maka beliau bersabda kepadanya, “ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lalu, ketiga kalinya, berkatalah orang itu : “ajarilah aku ya Rasululloh!” beliau bersabda :
“Ruku’lah sehingga kamu dalam keadaan tenang, kemudian bangkit berdirilah sehingga kamu dalam keadaan tegak lurus, lalu sujudlah sehingga kamu dalam keadaan tenang. Kemudian bangkit duduk sehingga dalam keadaan tenang … dan sebagainya.” (Hadits Muttafaq alaih).
11. Apabila anda terlupa salah satu kewajiban shalat, seperti lupa tidak duduk atau tahiyat awal atau ragu tentang jumlah rakaat yang telah dikerjakan, maka ambillah jumlah yang sedikit lalu sujudlah dua kali pada akhir shalat, kemudian salam. Sujud ini disebut “sujud sahwi.”
12. Jangan banyak bergerak dalam shalat, karena hal ini menghilangkan kekhusyu’an, bahkan bisa membatalkan shalat apabila dilakukan berulang kali (banyak) dan bukan karena terpaksa.
HADITS-HADITS TENTANG SHALAT
1. Shalatlah kamu seperti kamu lihat aku shalat (riwayat Bukhari).
2. Apabila kamu masuk masjid maka shalatlah dua rakaat sebelum duduk (riwayat Bukhari).
3. Jangan engkau duduk di kuburan dan janganlah shalat menghadap kepadanya (riwayat Muslim).
4. Apabila sudah iqamat tidak boleh mengerjakan shalat lain kecuali shalat fardhu (Riwayat Muslim).
5. Saya diperintahkan untuk tidak menyingsingkan lengan baju dalam shalat (Riwayat Muslim).
6. Luruskan shaf dan himpitkan barisan dalam shalat. Dalam satu riwayat ada yang mengatakan : “diantara kami ada yang menempelkan bahu dan telapak kaki kanannya ke bahu dan telapak kaki sahabatnya(Riwayat Bukhari).
7. Apabila sudah iqamat maka datanglah dengan berjalan tenang tidak berlari. Apa yang kamu peroleh dari sholat bersama imam kerjakanlah, dan apa yang ketinggalan dari rakaat lengkapilah (Muttafaq Alaih).
8. Ruku’lah sampai tuma’ninah (tenang sesudah bergerak) lalu angkat kepalamu sampai tegak berdiri sesudah itu sujudlah sampai thuma’ninah (riwayat Bukhari).
9. Apabila kamu sujud letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah sikumu (riwayat Muslim).
10. Sesungguhnya saya adalah imammu, janganlah kamu mendahului aku dalam ruku’ dan sujud (riwayat Muslim).
11. Pada hari kiamat nanti pertama kali akan dihisab adalah mengenai shalatnya. Apabila shalatnya baik maka baiklah seluruh amalnya dan apabila jelek maka jeleklah seluruh amalnya (Hadits shahih riwayat Thabrani).
WAJIBNYA SHALAT JUM’AT DAN BERJAMAAH
Shalat Jum’at dan shalat berjamaah hukumnya wajib bagi laki-laki, dalilnya sebagai berikut :
1. Allah berfirman :
] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [ (9) سورة الجمعة
“Hai orang-orang yang beriman, apabila sudah dipanggil untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah : 9).
2. Rasululloh r bersabda :
“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali karena sengaja meremehkan, maka Allah mencap hati orang itu sebagai orang munafik.” (Riwayat Ahmad).
3. Rasululloh r bersabda :
“Sungguh aku bermaksud memerintahkan anak-anak muda mengumpulkan kayu bakar kemudian saya mendatangi orang-orang yang shalat dirumahnya (tidak berjamaah di masjid) tanpa ada alasan (yang menghalangi mereka) lalu saya bakar rumah-rumah mereka.’ (riwayat Muslim).
4. Rasululloh r bersabda :
“Barangsiapa mendengar adzan tetapi tidak mau datang ke masjid maka shalatnya tidak sempurna kecuali ia sedang udzur.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah).
5. Ada seorang buta menghadap Rasululloh r dan bertanya :
“Ya Rasululloh saya tidak punya orang yang membimbing saya untuk datang ke masjid. Apakah saya boleh tidak datang ke masjid? Maka Rasululloh r membolehkannya. Tetapi setelah orang buta itu mau pulang Rasululloh bertanya : Apakah kamu mendengar adzan? Ya. “jawabnya. “Kalau begitu datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah.” (riwayat Muslim).
6. Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Apabila besok ingin bertemu Rasululloh dalam keadaan muslim, maka kerjakanlah selalu shalat lima waktu apabila mendengar adzan. Karena Allah mensyari’atkan tradisi yang berasal dari hidayah (sunana alhuda) dan shalat lima waktu itu merupakan tradisi tersebut. Seandainya kamu shalat lima waktu di rumahmu seperti orang yang tertinggal di rumah, maka itu berarti kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu. Dan kalau kamu meninggalkan sunnah Nabimu maka kamu akan sesat. Dan saya telah melihat tidak ada orang yang mengerjakan shalat di rumah kecuali orang-orang yang jelas munafik. Padahal ada seorang yang dipapah oleh dua orang untuk shalat berjamaah di masjid agar bisa bersama-sama shalat di shaff.” (riwayat Muslim).
KEUTAMAAN SHALAT JUM’AT DAN BERJAMAAH
1. Sabda Rasulullah r
“Barangsiapa mandi, setelah itu pergi untuk shalat Jum’at, kemudian ia shalat sunnah semampunya, lalu diam mendengarkan imam berkhutbah sampai selesai, dilanjutkan shalat Jum’at bersamanya, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dengan Jum’at yang lain, ditambah lagi dengan tiga hari lainnya. Dan barangsiapa memegang-megang batu kerikil maka telah sia-sia (shalat Jum’atnya).” (riwayat Muslim).
2. Sabda Rasululloh r
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub, lalu pergi (untuk shalat Jum’at), maka seakan-akan berkurban dengan seekor unta, barangsiapa pergi (untuk shalat Jum’at) pada saat kedua, maka seakan-akan berkurban dengan seekor sapi, barangsiapa pergi (umtuk shalat Jum’at) pada saat ketiga, maka seakan-akan berkurban dengan seekor biri-biri bertanduk. Barangsiapa pergi (untuk shalat Jum’at) pada saat keempat, maka seakan-akan berkurban dengan seekor ayam. Dan barangsiapa pergi (untuk shalat Jum’at) pada saat kelima, maka seakan-akan berkurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam telah keluar, datanglah para Malaikat mendengarkan khutbah.” (riwayat Muslim).
3. Sabda Rasululloh r
“Barangsiapa shalat Isya’ berjamaah maka bagaikan shalat tahajjud setengah malam, dan barangsiapa shalat subuh berjamaah maka bagaikan shalat tahajjud semalam suntuk.” (riwayat Muslim).
4. Sabda Rasululloh r
“Shalat seorang dengan berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat di rumahnya, dan shalat di pasarnya. Hal itu karena bila seorang berwudhu dengan sempurna, kemudian datang ke masjid, tidak ada yang mendorongnya kecuali shalat dan tidak menghendaki selain shalat, maka tidak ada satu langkah yang diayunkannya melainkan telah diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan, sampai dia masuk ke dalam masjid. Apabila telah masuk ke dalam masjid, maka dia berada dalam keadaan shalat selama shalat itulah yang menahannya, dan para malaikat mendo’akan untuknya selama dia berada dalam masjid tempat shalatnya, seraya mengatakan : “Ya Allah limpahkan rahmatmu kepadanya, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya.” Mereka mendo’akan untuknya, selama dia tidak menyakiti (orang lain) dan tidak berhadats ketika berada di dalam masjid itu.” (riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
ADAB DAN TATA CARA SHALAT JUM’AT
1. Mandi pada hari Jum’at, memotong kuku, memakai wangi-wangian dan memakai pakaian yang bersih sesudah wudhu.
2. Tidak makan bawang merah yang mentah, bawang putih dan tidak merokok. Bersihkanlah mulut dengan siwak atau odol.
3. Shalat dua rakaat ketika masuk masjid meskipun khatib sedang berkhutbah di mimbar.
4. Duduklah untuk mendengar khutbah dan jangan berbicara.
5. Shalat Jum’at dua rakaat sebagai ma’mum dengan niat dalam hati.
6. Shalatlah empat rakaat ba’diyah Jum’at di masjid atau dua rakaat di rumah.
7. Memperbanyak membaca shalawat untuk Nabi r pada hari Jum’at.
8. Berdo’a dengan sungguh-sungguh pada hari Jum’at. Berdasarkan sabda Nabi :
“Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat saat bilamana seorang muslim menjumpainya dan memohon kebaikan kepada Allah ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya.” (Hadits mutafaq Alaih).
TATA CARA SHALAT MAYIT
Niat shalat mayit dalam hati dan takbir empat kali.
1. Sesudah takbir pertama membaca ta’awwuz dan basmalah, kemudian membaca surah Al-Fatihah.
2. sesudah takbir kedua membaca shalawat Ibrahimiyah :
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم
3. setelah takbir ketiga membaca do’a yang berasal dari Rasululloh r yaitu :
اللهم اغفر لحينا وميتنا وشاههدنا وغائبنا وصغيرنا وكبيرنا وذكرنا وأنثانا، اللهم من أحييته منا فأحيه على الإسلام ومن توفيته فتوفه على الإيمان، اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده.
“Ya Allah ampunilah kami baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, yang hadir di sini maupun yang tidak hadir, kecil atau pun besar, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah, orang-orang yang Engkau hidupkan, hidupkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami untuk memperoleh pahalanya dan janganlah Engkau memberi cobaan pada kami sesudah matinya orang ini.”
4. Sesudah takbir ke empat berdo’alah sesuka hatimu, kemudian mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan.
NASIHAT TENTANG MATI
] كل نفس ذائقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور [
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah pahala-pahalamu disempurnakan barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali-Imran : 185).
Ada serangkai sya’ir berkilah :
Siapkan pundi-pundi bekalmu
Untuk masa yang pasti menantimu
Bila kematian datang menjemputmu
Sampailah sudah batas hayatmu
Tibalah saatnya kau bertaubat
Dari segala perilaku jahat
Hendaklah waspada wahai umat
Sebelum ajalmu dijemput malaikat
Di hari kiamat kau akan menyesal
Karena kau pergi tanpa bekal
Di tempat yang selalu dirundung sial
Peristiwa yang menanti di balik ajal
Tidakkah anda merasa kecewa
Sahabatmu yang senyum ceria
Karena bekal yang cukup tersedia
sedang dirimu haus dahaga
SHALAT IED DI MUSHALLA
1. Apabila Rasululloh r keluar pada hari raya fitri dan Adha ke Mushalla (lapangan tempat shalat), maka pertama kali yang beliau mulai adalah shalat. (Riwayat Al-Bukhari).
2. Rasululloh r bersabda :
“Takbir dalam shalat Ied : tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat terakhir, kemudian membaca (Al-Fatihah dan surah) setelah takbir pada setiap rakaat.” (Hadits hasan riwayat Abu Dawud).
3. Rasululloh r memerintahkan kepada kita “agar membawa keluar kaum wanita pada saat idul fitri dan idul Adha : para gadis remaja, wanita haid dan wanita pingitan. Adapun wanita haid, maka tidak mengerjakan shalat, tapi menyaksikan kebaikan dan do’a kaum muslimin.” Ditanyakan kepada beliau : “Ya Raasulullah, bagaimana bila seorang wanita tidak mempunyai jilbab? Jawabnya : “Supaya saudaranya memberikan jilbab kepadanya untuk dipakainya.” (Hadits Muttafaq Alaih)
KESIMPULAN DARI HADITS-HADITS TERSEBUT :
1. Shalat ied adalah dua rakaat, pada permulaan rakaat pertama bertakbir tujuh kali dan pada permulaan rakaat kedua bertakbir lima kali. Kemudian imam membaca Al-Fatihah dan surat. Dan shalat ied dilakukan dengan berjamaah.
2. Shalat ied di laksanakan di mushalla (lapangan untuk shalat), yaitu tempat dekat kota madinah dimana Rasululloh r keluar ke sana untuk shalat iedul fitri dah iedul Adha. Dan keluar bersama beliau anak-anak kecil, gadis-gadis remaja sampai para wanita yang berhalangan karena haid. Kata Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari “hadits ini menunjukkan supaya keluar ke mushalla, dan bukan di masjid, kacuali karena darurat.”
BERKURBAN PADA WAKTU IEDUL ADHA
1. Sabda Rasululloh r :
“Pertama kali yang kita mulai pada hari kita ini ialah shalat, kemudian pulang dan menyembelih (kurban). Barangsiapa yuang melakukan yang demikian itu, maka telah mendapatkan sunnah kami. Tetapi barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat, maka hal itu adalah daging yang dia berikan kepada keluarganya dan sama sekali tidak termasuk ibadah kurban.” (Muttafaq Alaih).
2. Sabda Rasululloh r :
“Hai orang-orang, sesungguhnya setiap rumah (keluarga) harus berkurban.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan empat periwayat. Dikuatkan oleh Al-Hafidh dalam fathul Bari).
3. Sabda Rasululloh r :
“Barangsiapa mempunyai kelongaran (rizki) tetapi tidak berkurban, maka jangan dekat-dekat dengan mushalla kita.” (Riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Jami’).
SHALAT ISTISQA’
(MEMINTA HUJAN)
1. Rasululloh Keluar r ke mushalla (lapangan) untuk shalat istisqa’. Maka beliau berdo’a dan meminta hujan, kemudian menghadap kiblat dan shalat dua rakaat, beliau memutar (membalik) selendangnya dan menjadikan yang di sebelah kanan berada di sebelah kiri. (Riwayat Al-Bukhari).
2. Dari anas bin Malik RA bahwa Umar bin Khattab apabila mendapat orang-orang tertimpa kemarau panjang, memohon turun hujan melalui (do’a) Abbas. Kata Umar :
Ya Allah, bahwa kami dahulu bertawassul dengan (do’a) NabiMu kapadaMu, maka sekarang kami bertawasul dengan (do’a) paman Nabi-Mu maka curahkanlah hujan untuk kami.” Mereka pun mendapat curahan hujan. (Riwayat Al-Bukhari).
Hadits ini menunjukkan bahwa kaum muslimin pada saat hidupnya Rasululloh r bertawassul dengan beliau, memohon kepada beliau agar berdo’a meminta curahan hujan. Setelah beliau wafat, mereka tidak lagi memohon do’a kepada beliau, tetapi memohon kepada Abbas paman Nabi r yang masih hidup. Maka berdirilah Abbas seraya berdo’a kepada Allah untuk kaum muslimin.
SHALAT GERHANA MATAHARI
1. Dari Aisyah RA, ia berkata :
“Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasululloh r maka beliau mengutus seorang penyeru untuk mnyerukan “As-shalatu jaami’ah.” Lalu berdirilah Rasululloh r melaksanakan shalat dengan empat ruku’ dalam dua rakaat dan empat sujud.” (Riwayat Al-Bukhari).
2. Dari Aisyah RA, ia brkata :
“Terjadilah gerhana matahari pada zaman Nabi r, maka berdirilah beliau dan shalat mengimami orang-orang, beliau panjangkan bacaan, kemudian ruku’ dengan memanjangkannya, lalu mangangkat kepala. Beliau panjangkan lagi bacaan tetapi lebih pendek dari bacaan pertama, kemudian ruku’ dengan memanjangkanya- tetapi lebih pendek daripada ruku’ pertama. Lalu mengangkat kepala. Kemudian melakukan sujud dua kali. Setelah itu, beliau berdiri dan melakukan pada rakaat kedua seperti yang beliau lakukan pada rakaat pertama. Kemudian salam. Dan ketika itu matahari sudah kelihatan terang. Lalu beliau berkhutbah, sabdanya : “sesungguhnya, tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena matinya seorang atau lahirnya seseorang. Akan tetapi keduanya merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang Dia perlihatkan kepada para hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat kejadian tersebut, segeralah bershalat …” dalam riwayat lain : “Apabila kalian melihat kejadian tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, bershalatlah dan bersedaklah.” Sabda beliau selanjutnya “Hai umat Muhammd, tiada seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah bila berzina seorang hamba-Nya yang laki-laki, atau berzina hamba-Nya yang perempuan, Hai umat Muhamad, Demi Allah andaikata kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Ketahuilah, bukanlah telah kusamapikan?” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim, secara ringkas dari kitab Jami’ Al-Ushul 6/156-158).
AWAS JANGAN LEWAT DI DEPAN
ORANG YANG SEDANG SHALAT
Rasululloh r bersabda :
“Andaikata orang yang berjalan di depan orang yang sedang shalat mengetahui apa dosanya, tentu ia berhenti empat puluh dan itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang tersebut.” Abu Nadhar berkata : saya tidak tahu apakah Rasululloh bersabda empat puluh hari, atau bulan atau tahun. (riwayat Bukhari).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa lewat di depan (di tempat bersujud) orang yang sedang shalat akan mendapatkan dosa dan ancaman, sehingga jika orang yang lewat tersebut mengetahui dosa yang akan di tanggung tentu ia akan berhenti ampat puluh hari, bulan atau tahun. Sedang jika ia lewat agak jauh dari tempat sujud orang tersebut maka tidak apa-apa, hal ini sesuai dengan pemahaman hadits di atas yang menyebutkan tempat kedua tangan waktu sujud.
Bagi yang melaksanakan shalat hendaknya meletakkan tanda batas di depannya, sehingga orang yang lewat tahu dan tidak lewat di depannya, sebagaimana sabda Rasululloh r :
“Jika salah seorang di antara kamu shalat menghadap ke suatu yang membatasinya dari orang, kemudian ada yang lewat di depannya hendaknya ia mencegah orang tersebut, sedang jika orang tersebut menolak, maka perangilah dia karena sebenarnya orang tersebut adalah setan.” (Mutafaq Alaih).
Hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari dan yang memperingatkan lewat di depan orang yang shalat ini termasuk perbuatan serupa di Masjidil Haram dan Masjid Rasul karena keumuman hadits tersebut, dan karena Rasululloh mengucapkan hadits tersebut di Makkah dan Madinah. Dalilnya :
1. Bukhari menyebutkan dalam bukunya : “Ibnu Umar pernah mencegah orang yang lewat di depannya ketika ia sedang melakukan tasyahud di Ka’bah, kemudian berkata : Jika ia tetap menolak kecuali jika engkau bunuh, maka bunuhlah. Alhafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam “Fathul Bari berkata : penyebutan “Ka’bah” secara khusus agar tidak terbayang bahwa melewati orang shalat di Ka’bah diampuni karena ramai.
2. Sedang hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud bukanlah hadits shahih karena ada perawi yang tidak diketahui. Hadits tersebut adalah sebagai berikut : Ahmad bin Hambal meriwayatkan kepada kami, Sufyan bin Uyainah meriwayatkan kepada saya dari sebagian keluarga dari kakeknya bahwa ia melihat Nabi r shalat di depan pintu Bani Sahm (di Masjid Haram) dan orang-orang lewat di depannya sedang antara keduanya tidak ada tanda batas. Sufyan berkata : antara beliau dengan Ka’bah tidak ada tanda batas. Sufyan berkata : ibnu Juraej pernah menceritakan kepada kami dari ayahnya. Kemudian saya tanyakan kepadanya, maka ia berkata : saya tidak pernah mendengarnya dari ayahku, tetapi dari sebagian dari keluargaku dari kakek saya. Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany mengatakan dalam bukunya “Fathul Bari” bahwa hadits tersebut “Ma’lul”.
3. Dalam kitab Bukhari disebutkan : dari Abu Juhaifah berkata bahwa Rasululloh r bepergian kemudian shalat dhuhur dan asar dua rakaat di Batha’ (Makkah) dan mendirikan tongkat berkepala besi di depannya.
KESIMPULAN :
Melewati tempat sujud orang yang sedang shalat adalah haram dan mendapatkan dosa serta ancaman, jika orang yang shalat tersebut meletakkan tongkat/tabir di depannya, baik di tanah Haram maupun di tempat yang lain sebagaimana disebutkan dalm hadits-hadits shahih di atas. Tapi bisa juga bagi orang yang terpaksa ketika dalam keadaan amat sesak dan penuh sama sekali.
PUASA DAN BEBERAPA FAEDAHNYA
Allah I berfirman :
] يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون [
“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibakan atas kamu puasa sebagaimana diwajibakan atas orang-orang sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah : 183)
Rasululloh r bersabda :
قال رسول الله r : الصيام جنة. متفق عليه
“Puasa itu tameng (untuk menghindari api neraka).” (Muttafaq Alaih).
Ketahuilah wahai saudaraku seagama, bahwa puasa itu adalah ibadah yang berfaedah banyak, di antaranya :
1. Puasa mengistirahatkan pencernaan dan perut dari kelelahan kerja yang terus menerus, mengeluarkan sisa makanan dalam tubuh, memperkuat badan dan bermanfaat pula bagi penyembuhan beberapa penyakit. Disamping mengistirahatkan kaum perokok dari kecanduan rokok dan dapat membantu dalam upaya meninggalkannya.
2. Puasa merupakan latihan dan pembiasaan jiwa untuk berbuat kebaikan dan disiplin, ketaatan dan kesabaran.
3. Orang yang berpuasa merasakan adanya persamaan dengan saudaranya yang berpuasa, ia berpuasa bersama, berbuka bersama, merasakan adanya kesatuan Islam yang menyeluruh, dan merasakan lapar sehingga dapat ikut prihatin terhadap saudara-saudaranya yang mengalami kelaparan dan mempunyai kebutuhan.
4. Rasululloh r bersabda :
a. Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mencari ridha Allah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq alaih).
b. Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari pada bulan syawal, maka puasanya seperti puasa setahun. (Riwayat Muslim).
c. Barangsiapa yang bangun pada bulan Ramadhan (untuk shalat tarawih). dengan penuh keimanan dan mencari ridha Allah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq Alaih).
KEWAJIBAN ANDA PADA BULAN RAMADHAN
Ketahuilah wahai saudaraku seagama, bahwa Allah mewajibkan kepada kita berpuasa untuk beribadah kepada-Nya.
Agar puasamu diterima oleh Allah dan bermanfaat, maka kerjakankah hal-hal berikut ini :
1. Jaga shalatmu, karena banyak orang yang berpuasa meremehkan shalat, padahal shalat adalah tiang agama.
2. Berakhlaklah yang baik, jauhilah kekufuran, mencela agama dan bersikap tidak baik dengan sesama manusia, karena puasa melatih jiwa dan memperbaiki moral, sedang kekufuran menyebabkan kemurtadan.
3. Janganlah berbicara yang tidak baik meskipun bergurau karena dapat menghapuskan puasa anda, dan dengarlah sabda Rasululah r :
“Jika seseorang di antara kamu suatu hari berpuasa hendaknya jangan berbuat keji atau berteriak-teriak pada waktu itu. Jika dicaci atau diajak berantem, maka hendaknya ia berkata “saya sedang berpuasa.” (Muttafaq Alaih).
4. Ambillah manfaat dari puasa untuk meninggalkan rokok yang menyebabkan kangker dan penyakit paru-paru, dan usahakan agar anda mempunyai kemauan kuat untuk meninggalkannya pada waktu berbuka sebagaimana anda tinggalkan pada waktu siang, sehinga anda dapat menghemat kesehatan dan harta benda.
5. Jangan berlebih-lebihan dalam makanan ketika berbuka sehingga hilang faedah puasa, dan merusak kesehatan anda.
6. Janganlah pergi ke bioskop atau menonton TV/Video agar anda terhindar dari hal-hal yang merusak akhlak dan bertentangan dengan puasa.
7. Janganlah banyak bergadang sehingga anda tidak sahur dan shalat fajar, dan hendaklah anda bekerja pada pagi-pagi hari, sebagaimana sabda Rasululloh :
اللهم بارك لأمتي في بكورها. صحيح رواه أحمد
“Ya Allah, berikanlah kepada umatku keberkahan di pagi hari mereka.” (riwayat Ahmad).
8. Perbanyaklah sedekah pada sanak kerabat dan orang yang membutuhkan, kunjungilah sanak kerabat, dan selesaikanlah pertikaian di antara mereka.
9. Perbanyaklah zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan mendengarkannya, menghayati maknanya, dan laksanakan perintah-perintahnya, pergilah ke masjid untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran yang bermanfaat dan beriktikaf di masjid pada bulan Ramadhan merupakan perbuatan sunnah.
10. Bacalah tulisan-tulisan tentang puasa dan hal-hal lain untuk mengetahui hukum-hukumnya, sehingga anda tahu bahwa makan dan minum karena lupa tidak membatalkan puasa, bahwa janabat pada waktu malam tidak menghalangi puasa meskipun tetap wajib mandi besar untuk bersuci dan shalat.
11. Jagalah puasa Ramadhan, biasakan anak-anak anda berpuasa ketika mereka mampu, dan hindarilah berbuka tanpa uzur, maka barangsiapa yang membatalkan puasa dengan sengaja, ia harus menggantinya di hari lain dan bertaubat. Dan barangsiapa menggauli isterinya di saat puasa, maka harus membayar kaffarat([2]).
12.Waspadalah wahai saudaraku seagama, dalam berbuka pada bulan Ramadhan, jangan berbuka terang-terangan di depan orang karena terang-terangan berbuka merupakan keberanian di depan Allah, mempermudah Islam dan tidak mempunyai malu kepada orang lain. Ketahuilah bahwa orang yang tidak berpuasa, maka ia tidak berhari raya. Karena hari raya merupakan kegembiraan yang besar dengan sempurnanya puasa dan diterimanya ibadah.
KEUTAMAAN HAJI DAN UMRAH
1. Allah I berfirman :
] ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العلمين [
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) dari semesta alam.” (Ali-Imran : 97)
2. Rasululloh r bersabda :
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga.” (Muttafaq alaih).
3. Rasululloh bersabda :
“Baragsiapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).
4. Rasululloh r bersabda :
“Ikutilah saya dalam ibadah haji kalian.” (Riwayat Muslim).
5. Segeralah melaksanakan ibadah haji jika anda sudah cukup mempunyai bekal pulang pergi tanpa perlu memikirkan pembiayaan selain haji seperti membeli hadiah, permen dan lain sebagainya karena Allah tidak menerimanya. Segeralah pergi haji sebelum jatuh sakit, miskin atau mati dalam keadaan ingkar kepada Allah, karena haji merupakan salah satu rukun Islam.
6. Harta yang dipakai untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah harus halal sehingga ibadah haji dan umrah tersebut dapat diterima oleh Allah.
7. Haram bagi wanita pergi haji tanpa disertai muhrimnya, karena Rasululloh r bersabda :
“Dan janganlah wanita pergi kecuali daengan muhrimnya.” (Muttafaq alaih).
8. Damailah dengan lawanmu, bayar hutangmu, nasehati keluargamu agar tidak berlebih-lebihan dalam berhias, kendaraan, makanan manisan, pemotongan kurban dan lain sebagainya, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an :
] كلوا واشربوا ولا تسرفوا[
“Makanlah, minumlah dan jangan kamu berlebih-lebihan.” (Ah-A’raf : 30).
9. Haji merupakan konferensi besar bagi umat Islam untuk saling berkenalan, berkasih-kasihan dan saling membantu untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka dan agar mereka menyaksikan manfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia.
10.Yang penting sekali, agar kamu dapat menyelesaikan kesulitan kamu dengan minta pertolongan dan berdo’a hanya kepada Allah semata. Allah berfirman :
]قل إنما أدعو ربي ولا أشرك به أحدا[
“Katakanlah : sesunguhnya aku hanya berdo’a kepada Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya.” (Al-Jin : 20).
11.Umrah bisa dilaksanakan seetiap waaktu, tapi jika dilaksanakan pada bulan Ramadhan lebih utama, sebagaimana sabda Rasululloh r :
قال رسول الله r عمرة رمضان تعدل حجة. متفق عليه.
“Umrah pada bulan Ramadhan seimbang nilainya dengan haji.” (Muttafaq alaih).
12.Shalat di masjid Ka’bah lebih baik dari seratus ribu shalat di tempat lain, sebagaimana sabda Rasululloh r :
صلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد إلا مسجد الكعبة. رواه مسلم.
“Shalat di masjidku lebih utama dari seribu shalat di masjid lain kecuali masjid Ka’bah.” (Riwayat Muslim).
Sabda beliau juga :
وصلاة في المسجد الحرام أفضل من صلاة في مسجدي هذا بمائة صلاة. صحيح رواه أحمد
“Shalat di masjid haram lebih utama seeratus kali daripada shalat di masjidku.” (Riwayat Ahmad)
jadi 1000 x 100 shalat = 100.000 shalat.
13.Hendaklah anda mengerjakan haji tamattu’, yaitu umrah, lalu tahallul, kemudian haji. Berdasarkan sabda Nabi r :
“Wahai pengikut Muhammad, barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan haji maka supaya memulai dengan umrah dalam hajinya itu.” (riwayat ibnu Hibban dan dinyatakan shahih oleh Al-Albabani)
PEKERJAAN DALAM UMRAH
1. Ihram : pakailah pakaian ihram di miqat([3]) sambil mengucapkan :
لبيك اللهم عمرة
“Dan keraskan suaramu dengan membaca talbiyah”
لبيك اللهم لبيك
2. Tawaf ; jika anda sudah sampai di Makkah, pergilah ke masjid Haram dan lakukan tawaf keliling Ka’bah tujuh kali dimulai dari Hajar Aswad sambil mengucapkan :
بسم الله والله أكبر
Ciumlah Hajar Aswad jika dapat, kalau tidak dapat maka tunjuklah dengan jari-jari kananmu.. usaplah rukun Yamani dengan tangan kananmu setiap kali kalau dapat, tanpa mencium atau menunjuk dengan jari-jari tangan. Ucapkanlah antaran dua rukun (Yamani dan Hajar Aswad) do’a berikut ini :
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
“kemudian shalatlah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dengan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat ke dua.
3. Sa’i : naiklah ke shafa. Menghadaplah ke kiblat sambil mengangkat tangan ke langit dan mengucapkan :
إن الصفا والمروة من شعائر الله. أبدأ بما بدأ الله به.
“dan bertakbiralah tiga kali, tanpa menunjuk dengan jari-jari tangan, kemudian ucapkan tiga kali kalimat berikut :
لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير لا إله إلا الله وحده أنجز وعده وصدق وعده وهزم الأحزاب وحده.
Ucapkan hal ini di shafa dan marwa berkali-kali dengan do’a. berjalan cepat antara shafa dan marwa antara dua garis hijau. Sa’i dilakukan tujuh kali, berangkat dihitung sekali dan pulang dihitung sekali.
4. Cukurlah semua rambutmu atau potonglah pendek. Bagi wanita cukup dipotong sedikit saja. Hal ini disebut tahallul.
PEKERJAAN DALAM HAJI([4])
Ihram, bermalam di Mina, Wukuf di Arafah, bermalam di muzdalifah, melempar jumrah, menyembelih kurban, memotong rambut, Tawaf dan Sa’i.
1. Berpakaianlah pakaian ihram di Makkah pada hari ke tujuh pada bulan Zul Hijjah sambil mengucapkan :
لبيك اللهم حجة.
Pergi ke mina dan bermalam di sana, kemudian shalat lima waktu dengan di qashar sehingga shalat zuhur, Asar dan Isya’ kamu kerjakan masing-masing dua rakaat, pada waktunya.
2. Pergi ke Arafah pada hari ke sembilan setelah terbit matahari, shalat dzuhur dan Asar di jama’ taqdim dengan sekali azan dua iqomat tanpa shalat sunnat. Perhatikan bahwa kamu benar-benar berada di Arafah, sedang dalam keadaan tidak berpuasa, mengucapkan talbiyah dan hanya memanggil Allah semata, karena wuquf di Arafah merupakan rukun yang paling pokok.
3. Tinggalkan Arafah setelah tenggelam matahari dengan tenang menuju muzdalifah. Shalat maghrib dan isya’ dengan jama’ ta’khir. Bermalam di muzdalifah untuk dapat shalat subuh dan dzikir kepada Allah di Masy’aril haram. Bagi kaum lemah diperbolehkan untuk tidak bermalam([5]).
4. Tinggalkan Muzdalifah sebelum terbit matahari dengan berangkat menuju ke Mina pada hari raya dan lemparlah jumrah kubra dengan tujuh batu kerikil sambil bertakbir, waktunya setelah terbit matahari sampai malam.
5. Potonglah kurban di Mina atau di Makkah pada hari raya dan tasyriq, makanlah daging kurban tersebut dan berikan kepada kaum fuqara. Jika tidak bisa membeli kurban, maka berpuasalah tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari jika kamu telah pulang ke keluargamu. Seorang perempuan mempunyai kewajiban menyembelih kurban atau berpuasa sama dengan kewajiban lelaki. Dan ini untuk tamattu’.
6. Cukurlah rambutmu atau potong pendek dan mencukur semua rambut lebih utama. Kemudian berpakaianlah dengan pakaian biasa, dan dihalalkan bagimu segala sesuatu kacuali bergaul dengan perempuan.
7. Kembalilah ke Makkah, melakukan tawaf tujuh kali, dan sa’i antara shafa dan Marwa tujuh kali (pergi dihitung sekali dan pulang dihitung sekali). Setelah itu kamu boleh lagi bergaul dengan isterimu. Boleh juga mengakhirkan thawaf sampai hari tasyriq yang terakhir.
8. Kembalilah ke Mina pada hari raya dan wajib bermalam di sana. Kemudian lemparlah ketiga jumrah dimulai dari jumrah kecil setiap hari setelah zuhur sampai malam dengan tujuh kerikil pada setiap jumrah. Setiap melemparkan satu kerikil mengucapkan takbir dan tahu bahwa lemparannya jatuh pada sasaran, jika tidak sampai agar diulangi. Disunatkan untuk wuquf setelah melempar jumrah sughra dan wustha untuk berdo’a dengan mengangkat kedua belah tangan. Diperbolehkan bagi kaum wanita, orang-orang sakit, anak-anak kecil dan orang-orang yang lemah untuk mewakilkan kepada orang lain dalam melempar jumrah tersebut. Sebagaimana diperbolehkan mengakhirkan waktu melempar jumraah sampai hari kedua atau ketiga dalam keadaan terpaksa.
9. Tawaf wada’ adalah wajib, dan bepergian dilakukan langsung setelah tawaf wada’ (bagi yang meninggalkannya wajib membayar dam begitu juga bagi yang tidak melempar jumrah atau tidak bermalam. Pent.).
ADAB-ADAB DALAM HAJI DAN UMRAH
1. Ikhlaskan hajimu hanya untuk Allah semata sambil mengucapkan :
اللهم هذه حجة لا رياء فيها ولا سمعة
2. Kawanilah para ahli kebaikan dan berbaktilah kepada mereka serta sabarlah terhadap gangguan tetanggamu.
3. Waspadalah dalam mengisap dan membeli rokok. Hal itu adalah haram, membahayakan badan, tetangga, harta dan merupakan maksiat kepada Allah.
4. Pergunakanlah siwak ketika shalat dan ambillah siwak, air zam-zam dan korma sebagai hadiah, karena banyak hadits-hadits shahih yang menyebutkan keutamaannya.
5. Waspadalah dalam menyentuh kaum wanita dan melihat kepada mereka. Tutupilah isterimu dari kaum lalaki.
6. Janganlah melangkahi kepala orang yang shalat sehingga menyakiti mereka, dan duduklah sedekat mungkin.
7. Hati-hati lewat di depan orang yang sedang shalat meskipun di tanah Haram, karena itu merupakan parbuatan setan.
8. Perlahan-lahanlah dalam shalatmu, dan shalatlah menghadap ke pembatas (seperti tembok, punggung orang atau tas) dan pembatas makmum cukup dengan imam mereka.
9. Berlemah lembutlah dengan orang-orang di sekitarmu ketika tawaf, sa’i, melempar jumrah dan mencium hajar aswad, karena hal itu diperintahkan.
10.Janganlah berdo’a kepada selain Allah seperti kepada orang-orang yang sudah mati karena hal itu perbuatan syirik yang dapat membatalkan haji dan amal baik. Allah berfirman :
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) سورة الزمر.
“Jika kamu mempersekutkan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65).
SOPAN SANTUN DI MASJID NABAWY
1. Jika kamu memasuki masjid dahulukan kaki kanan dan ucapkanlah :
اللهم صل على محمد اللهم افتح لي أبواب رحمتك
“Ya Tuhanku, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad. Ya Alloh bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMu.”
2. Lakukanlah shalat tahiyatul masjid dau rakaat dan sampaikanlah salam kepada Rasul sambil mengucapkan :
السلام عليك يا رسول الله السلام عليك يا أبا بكر السلام عليك يا عمر.
Kemudian menghadaplah kiblat ketika berdo’a.
Dan ingatlah sabda beliau :
“Jika kamu meminta sesuatu mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon petolongan mohonlah kepada Allah.” (hadits hasan shahih, riwayat Turmudzi)
3. Menziarahi masjid Rasulullah r dan menyampaikan salam kepadanya adalah mustahab, tidak menentukan sahnya haji dan tidak mempunyai waktu tertentu.
4. Janganlah menyentuh atau mencium jendela atau dinding atau yang lain karena hal itu diharamkan.
5. Berjalan mundur ketika meninggalkan masjid Nabawi adalah bid’ah, tidak ada dalil yang mendasarinya.
6. Perbanyaklah mengucapkan shalawat atas Rasululloh r karena sabdanya :
قال رسول الله r من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا. رواه مسلم
7. Dianjurkan ziarah ke kuburan bagi’ dan para syuhada uhud, bukan ke masjid sab’ah (tujuh Masjid).
8. Bepergian ke Madinah hendaknya dengan niat ziarah masjid Nabawy dan mengucapkan salam kepada Nabi ketika masuk, karena shalat di masjid Nabi r lebih utama seribu shalat daaripada shalat di masjid yang lain, dan sabda Nabi r:
“Tidak boleh bepergian dengan persiapan safar kecuali ke tiga masjid, yaitu : Masjid Al-Haram, Masji Al-Aqsha, dan masjidku ini.” (hadits Muttafaq alaih).
DI ANTARA AKHLAK RASULULLOH r
Akhlak Rasululloh r adalah Al-Qur’an, membenci apa yang dibenci Al-Qur’an dan merasa senang dengan apa yang disenanginya. Tidak dendam dan marah kepada seorang kecuali jika melakukan hal-hal yang diharamkan Allah sehingga kemarahannya karena Allah.
Rasululloh r merupakan orang yang paling jujur ucapannya, paling memenuhi tanggung-jawabnya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, lebih pemalu dari perawan dalam pingitan, rendah hati dan selalu berpikir, tidak keji dan pengutuk, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi membalasnya dengan memberi maaf dan jabat tangan, tidak pernah menolak siapa yang meminta sesuatu kebutuhan kecuali dipenuhi kebutuhannya atau dengan kata-kata yang halus dan tidak dengan hati kasar dan sikap keras, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali jika bertentangan dengan kebenaran sehingga memotong pembicaraannya dengan larangan atau berdiri, tidak menganggap bohong kepada seseorang, tidak dengki kepadanya dan tidak memintanya untuk bersumpah.
Rasululloh menjaga tetangganya dan menghormati tamunya, waktunya tidak pernah berlalu tanpa beramal untuk Allah atau mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan, cinta kepada optimis dan benci kepada pesimis, jika ada dua pilihan beliau memilih yang teringan di antara keduanya selama tidak merupakan dosa, senang menolong orang yang membutuhkan dan membantu orang yang teraniaya.
Rasululloh r juga senang kepada sahabat-sahabatnya, bermusyarwarah dengan mereka dan memeriksa keadaan mereka, barangsiapa sakit dikunjunginya, barangsiapa tidak hadir diundangnya, barangsiapa meninggal dunia dido’akannya seerta menerima alasan orang yang uzur kepadanya. Baginya, orang yang kuat dan orang yang lemah mempunyai hak yang sama. Beliau ketika berbicara, jika orang menghitung pembicaraanya tentu akan dapat menghitungnya karena kefasihan dan pelannya. disamping itu, beliau juga bergurau dan tidak mengucapkan sesuatu kecuali kebenaran.
SOPAN SANTUN DAN KERENDAHAN HATI RASULULLOH r
Rasululloh r adalah orang yang paling sayang dan hormat kepada para sahabatnya, memberi tempat lapang kepada mereka jika kesempitan, memulai salam kepada orang yang dijumpai, dan jika berjabat tangan dengan seseorang tidak pernah melepaskan sebelum orang tersebut melepaskan diri.
Rasululloh r adalah orang yang paling rendah hati, jika berada bersama suatu kaum dalam majlis selalu duduk bersama mereka dan tidak berdiri sebelum majlis selesai, setiap yang duduk bersama beliau diberi haknya masing-masing sehingga tidak seorangpun yang merasa bahwa orang lain lebih mulia daripada dirinya bagi Rasululloh r, jika seseorang duduk di dekatnya beliau tidak berdiri sebelum orang tersebut berdiri kecuali jika ada urusan yang memdadak maka beliau meminta izin kepadanya.
Rasululloh r benci kepada orang yang berdiri menghormatinya([6]). Dari Anas bin Malik t berkata :
Tak seorangpun yang mereka cintai lebih dari cinta kepada Rasululloh r tapi jika mereka melihat Rasululloh r tidak berdiri menghormati beliau karena mereka tahu bahwa beliau benci kepada hal yang yang serupa.” (riwayat Ahmad dan Turmudzi).
Rasululloh tidak menghadapi seseorang dengan sesuatu yang tidak disenanginya, mengunjungi orang sakit dan mencintai orang-orang miskin, bersahabat dan menyaksikan jenazah mereka, tidak menghina orang fakir karena kefakirannya, tidak takut kepada raja karena kedudukannya, dan membesarkan ni’mat meskipun sedikit; maka beliau tidak pernah sekalipun mencela makanan, jika beliau merasa senang dengan makanan tersebut beliau makan, tapi jika tidak, maka beliau tinggalkan, makan dan minum dengan tangan kanannya setelah membaca basmalah pada permulaannya dan mengucapkan hamdalah pada akhirnya.
Beliau menyenangi hal-hal yang baik dan tidak suka pada hal-hal yang tidak baik seperti bawang putih dan bawang merah atau serupa dengannya, beliau berhaji sambil mengatakan :
قال رسول الله r اللهم هذه حجة لا رياء فيها ولا سمعة. صحيح رواه المقدسي
“Ya Alah, ini adalah benar-benar haji yang tidak ada riya dan tidak mencari popularitas di dalamnya.” (riwayat Maqdisy).
Beliau juga tidak berbeda dengan para sahabatnya dalam pakaian dan tempat duduk, sehingga pernah seorang Arab badui masuk sambil mengatakan : “Mana di antara kamu yang bernama Muhammad?”
Pakaian yang paling disenangi Rasululloh r adalah qamis (baju panjang sampai setengah betisnya), tidak berlebih-lebihan dalam makanan atau pakaian, memakai peci, serban dan cincin perak pada jari kelingking kanannya serta mempunyai jenggot besar.
DA’WAH DAN JIHAD RASULULLOH r
Allah mengutus Rasulnya, Muhammad r, sebagai rahmat bagi seluruh alam, Beliau mengajak orang-orang arab dan seluruh manusia kepada hal-hal yang menjadi kebaikan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
Yang pertama kali didakwahkan adalah melakukan ibadah hanya kepada Allah semata, termasuk berdo’a hanya kepadanya saja, sebagaimana firman Allah :
] قل إنما أدعو ربي ولا أشرك به أحدا [
“Katakanlah : Sesungguhnya aku hanya berdo’a kepada Robbku dan aku tidak memprsekutukan sesuatu pun denganNya.” (Al-Jin : 20).
Orang-orang musyrik telah menentang dakwah ini, karena bertentangan dengan akidah polytheisme mereka dan karena taklid buta kepada orang tua mereka. Mereka menuduh Rasululloh r sebagai tukang sihir dan gila, setelah mereka menyebutnya sebagai orang jujur dan dipercaya.
Rasululloh r benar-benar sabar menghadapi siksaan kaumnya, hal itu sebagai pengamalan perintah Allah I :
] فاصبر لحكم ربك ولا تطع منهم آثما أو كفورا [
“Maka sabarlah kamu untuk melaksnakan ketetapan Robbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang-orang yang kafir di antara mereka.” (Al-Insan : 24).
Selama 13 tahun Rasululloh di Makkah mengajak manusia kepada Tauhid dan menanggung siksaan kaumnya bersama sahabatnya, kemudian hijrah bersama sahabatnya ke Madinah untuk mendirikan masyarakat Islam yang baru berdasarkan keadilan, kecintaan dan persamaan. Dan Allah telah memperkuat Rasulullah dengan beberapa mukjizat, yang terpenting adalah Al-Qur’an Al-Karim yang mengajak kepada tauhid, ilmu, jihad, kemajuan dan akhlak yang mulia.
Rasululloh pernah mengirim surat kepada beberapa raja di dunia mengajak mereka untuk masuk Islam sambil berkata kepada Kaisar : Masuklah kepada Islam, engkau akan selamat dan Allah akan memberimu pahala dua kali … wahai para ahli kitab, marilah kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah.
Rasululloh r memerangi orang-orang musyrik serta yahudi dan mendapat kemenangan, Rasululloh sendiri telah melakukan perang lansung sekitar dua puluh kali, dan telah mengirim tentaranya dari kalangan sahabat-sahabatnya berpuluh kali untuk berjihad dan berdakwah kepada Islam dan membebaskan beberapa bangsa dari penganiyayaan dan perbudakan. Rasululah r mengajarkan para sahabatnya untuk memulai dengan tauhid.
CINTA DAN MENGIKUTI RASULULLOH r
Allah I berfirman :
] قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم [
“Katakanlah : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu! Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran : 31)
Rasululloh r bersabda :
قال رسول الله r لا يؤمن أحدكم حتي أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين.رواه البخاري ومسلم.
“Seseorang belum beriman sehingga aku lebih dicintai daripada kedua orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam diri Rasululloh r terdapat akhlak yang mulia, keberanian dan kemuliaan. Barangsiapa yang melihatnya secara tiba-tiba akan takut kepadanya, dan berangsiapa yang bergaul kepadanya karena pengetahuan akan mencintainya. Rasululloh r telah menyampaikan risalahnya, memberi nasehat kepada umat, mempersatukan kalimah, membuka hati manusia dengan para sahabatnya dengan mempersatukan mereka dan membuka banyak negeri dengan perjuangan mereka untuk membebaskan manusia dari penyembahan sesama manusia menuju ke penyembahan terhadap Tuhan manusia.
Rasulullohr dan para sahabat telah menyampaikan kepada kita agama Islam secara sempurna tanpa tercampur dengan bid’ah dan khurafat dan tidak perlu di tambah atau dikurangi.
Allah I berfirman :
] اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا [
“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” (Al-maidah : 3).
Rasululloh r bersbda :
قال رسول الله r : إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق. رواه أحمد.
“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (riwayat Ahmad).
Itulah beberapa akhlak Nabimu, maka berpeganglah pada akhlak Rasululloh agar kamu menjadi orang-orang yang benar. Allah I berfirman :
] لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة [
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab : 21).
Ketahuilah, bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya yang benar mempunyai konsekuensi melaksanakan kitab Allah dan hadits-hadits Rasululloh r yang shahih, melaksanakan hukum dengan berpegang kepada keduanya dan tidak boleh mendahulukan pendapat orang atas keduanya.
Alllah berfirman :
] يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم [
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat : 1).
Ya Allah, karuniailah kami untuk dapat mencintai dan mengikuti Rasululloh, berakhlak dengan akhlaknya dan memperoleh syafaatnya.
DI ANTARA WASIAT RASULULLOH r
1. Saya sungguh telah meninggalkan sesuatu kepadamu yang apabila hal itu kamu pegang teguh, tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasulnya. (riwayat Al-Hakim).
2. Berpenganglah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. (riwayat Ahmad).
3. Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah harta kepadaku apa saja yang kau kehendaki, karena diriku tidak bisa menyelamatkan kamu sedikitpun di sisi Allah. (riwayat Bukhari).
4. Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia durhaka kepada Allah. (riwayat Bukhari).
5. Janganlah kamu mengagungkanku seperti yang diperbuat oleh orang-orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku ini tidak lebih dari hamba Alah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan RasulNya. (riwayat Bukhari).
6. Allah melaknat orang-orang Yahudi karena mereka menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid dengan memakamkan mereka di dalam masjid. (riwayat Bukhari).
7. Barangsiapa membuat kedustaan atas saya (mengatakan sesuatu hal dari saya padahal saya tidak mengatakannya) maka bersiap-siaplah ia masuk neraka. (riwayat Ahmad).
8. Sungguh saya tidak berjabatan tangan dengan wanita (selain mahram). (riwayat Turmudzi).
9. Siapa yang tidak menyukai sunnahku ia tidak termasuk golonganku. (Muttafaq alaih).
10. Ya Allah, aku mohon perlindunganmu agar aku dijauhkan dari ilmu yang tidak berguna (riwayat Muslim).
11. Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa ada dasar perintah dari kami, maka amalnuya itu tidak diterima. ( riwayat Muslim).
BAGAIMANA MENDIDIK
ANAK-ANAK KITA?
Allah I berfirman :
] يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا [
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim : 6).
Ibu, Bapak dan Guru bertanggungjawab di depan Allah terhadap pendidikan generasi muda. Jika pendidikan mereka baik, maka berbahagialah generasi tersebut di dunia dan akhirat. Tapi jika mereka mengabaikan pendidikannya maka sengsaralah generasi tersebut, dan beban dosanya berada pada leher mereka. Untuk itu disebutkan dalam suatu hadits Rasululloh r :
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته. متفق عليه.
“Setiap orang di antara kamu adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (muttafaq alaih).
Maka adalah merupakan kabar gembira bagi seorang guru, sabda Rasululloh r berikut ini :
فو الله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم. رواه البخاري ومسلم.
“Demi Allah, bahwa petunjuk yang diberikan Allah kepada seseorang melalui kamu lebih baik bagimu dari pada unta merah (kekayaan yang banyak).” (riwayat Bukhari dan Muslim).
Dan juga merupakan kabar gembira bagi kedua orang tua, sabda Rasululloh r berikut ini :
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له.
“Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; sedekah jariyah, atau ilmu yang berrrmanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (riwayat Muslim).
Maka seorang pendidik hendaknya melakukan perbaikan dirinya terlebih dahulu, karena perbuatan baik bagi anak-anak adalah yang dikerjakan oleh pendidik dan perbuatan jelek bagi anak-anak adalah yang ditinggalkan oleh pendidik. Sesungguhnya tingkah laku guru dan kedua orang tua yang baik di depan anak-anak merupakan pendidikan yang paling utama bagi mereka.
1. Melatih anak-anak untuk mengucapkan kalimat syahadat.
لا إله إلا الله محمد رسول الله dan menjelaskan maknanya ketika mereka sudah besar.
2. Menanamkan rasa cinta dan iman kepada Allah dalam hati mereka, karena Allah adalah pencipta, pemberi rizki dan penolong satu-satuya tanpa ada sektu bagiNya.
3. Memberi kabar gembira kepada mereka dengan janji surga, bahwa surga akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan shalat, puasa, mentaati kedua orang tua dan berbuat amalan yang diridhai oleh Allah, serta menakuti mereka dengan neraka, bahwa neraka diperuntukkan bagi orang yang meninggalkan shalat, menyakiti orang tua, membenci Allah, melakukan hukum selain hukum Allah dan memakan harta orang dengan menipu, membohongi , riba dan lain sebagainya.
4. Mengajarkan anak-anak untuk meminta dan memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, sebagaimana sabda Rasululloh r kepada anak pamannya :
“Jika kamu meminta sesuatu mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan mohonlah kepada Allah.” (riwayat Turmudzi)
MENGAJARKAN SHALAT
1. Pengajaran shalat kepada anak laki-laki maupun perempuan pada masa kecil adalah wajib, agar mereka terbiasa jika sudah besar. Rasululah r berabda :
علموا أولادكم الصلاة إذا بلغوا سبعا واضربوهم عليها إذا بلغوا عشرا وفرقوا بينهم في المضاجع. رواه أحمد بإسناد صحيح.
“Ajarkanlah shalat kepada anak-anakmu jika sudah sampai umur tujuh tahun, pukullah jika sudah sampai umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.” (riwayat Ahmad).
Pengajaran shalat tersebut dilakukan dengan wudhu’ dan shalat di depan mereka, membawa mereka pergi bersama ke masjid, memberikan kepada mereka buku tentang cara-cara shalat sehingga seluruh keluarga mempelajari peraturan shalat. Hal ini merupakan kewajiban seorang guru dan kedua orang tua. Setiap pengurangan tenggung jawab tersebut akan ditanya oleh Allah.
2. Mengajarkan Al-Qur’an Al-Karim kepada anak-anak, di mulai dari surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek serta menghafal do’a Tahiyyah untuk shalat. Menyediakan guru untuk mengajar tajwid, mengahafal Qur’an dan hadits.
3. Mendorong anak-anak untuk shalat Jum’at dan jama’ah di masjid di belakang kaum lelaki, berlemah lembut dalam memberi nasehat jika mereka bersalah, tidak dengan suara keras dan mengagetkan mereka, agar mereka tidak meninggalkan shalat dan kemudian kita berdosa. Jika ingat masa-masa kanak-kanak dan permainan kita, kita akan memaklumi hal itu.
MEMPERINGATKAN UNTUK MENJAUHI LARANGAN
1. Memperingatkan anak untuk tidak kafir, mencerca dan melaknat orang serta berbicara yang jelek. Menyadarkan anak dengan lemah lembut bahwa kekufuran itu haram yang menyebabkan kerugian masuk neraka.
Hendaknya kita menjaga omongan kita di depan mereka agar menjadi suri tauladan yag baik bagi mereka.
2. Memperingatkan anak untuk tidak main judi dengan segala macamnya, seperti yanasib, rolet dan lainnya meskipun hanya untuk hiburan karena hal itu mendorong kepada perjudian dan pertikaian serta merugikan diri, harta dan waktu mereka sendiri serta menghilangkan shalat mereka.
3. Melarang anak-anak membaca majalah dan gambar porno serta cerita-cerita komik persilatan dan seksualitas. Melarang penyiaran film-film serupa di bioskop maupun TV karena berbahaya bagi akhlak dan masa depan anak-anak.
4. Melarang anak merokok dan memberi pengertian kepada mereka, bahwa para dokter berpendapat sama bahwa merokok berbahaya bagi badan, menyebabkan kanker, merusak gigi, baunya tidak enak, merusak paru-paru dan tidak ada faedahnya sehingga menjual dan menghisap adalah haram. Menasihati mereka untuk makan buah-buahan dan asinan sebagai ganti rokok.
5. Membiasakan anak-anak jujur dalam perkataan dan perbuatan. Hendaknya kita tidak berbohong kepada mereka meskipun hanya bergurau. Jika kita menjanjikan sesuatu kepada mereka handaknya kita penuhi. Dalam hadits sahih disebutkan :
من قال لصبي تعال هاك (خذ) ثم لم يعطه فهي كذبة. صحيح رواه أحمد.
“Barangsiapa berkata kepada anak kecil ‘ambillah’ kemudian tidak memberinya maka hal itu adalah kebohongan.” (riwayat Ahmad).
6. Tidak memberi makan kepada anak-anak dengan uang haram seperti uang sogok, riba, hasil pencurian, dan penipuan, karena hal itu menyebabkan kesengsaraan, kedurhakaan dan kemaksiatan mereka.
7. Tidak mendo’akan kebinasaan dan kemarahan terhadap anak, karena do’a baik maupun buruk kadang-kadang dikabulkan, dan mungkin menambah kesesatan mereka. Lebih baik jika kita mengatakan kepada anak; semoga Allah memperbaiki kamu.
8. Memperingatkan anak-anak untuk tidak melakukan perbuatan syirik kepada Allah, seperti : berdo’a kepada orang-orang yang sudah mati, meminta pertolongan dari mereka. Padahal mereka adalah hamba-hamba Allah yang tidak bisa mendatangkan bahaya maupun manfaat.
Allah berfirman :
] ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك فإن فعلت فإنك من الظالمين [
“Dan janganlah kamu menyembah kepada selain Allah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, sebab jika kamu berbuat yang demikian itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang dzalim (musyrik).” (Yunus : 106).
TUTUP AURAT DAN HIJAB
1. Memberikan kepada anak perempuan tutup aurat pada masa kecilnya agar terbiasa pada waktu dewasa. Tidak memberikan pakaian pendek kepada mereka, tidak memberikan celana dan baju saja karena hal itu menyerupai kaum lelaki dan orang-orang kafir dan menyebabkan fitnah. Menyuruh kepadanya untuk menggunakan sapu tangan di atas kepala sejak umur tujuh tahun, menutup wajah ketika sudah dewasa dan memakai pakaian hitam panjang yang menutupi seluruh aurat yang dapat menjaga kehormatannya. Dan Al-Qur’an mengajak kepada seluruh perempuan kaum mukmin untuk berhijab, sebagaimana desebutkan :
] يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما [
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab : 59).
AL-Qur’an juga melarang kaum wanita terlalu bertingkah dan berhias di luar rumah. Allah berfirman :
] ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى [
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab : 33).
2. Mewasiatkan kepada anak untuk memakai pakaian sesuai jenisnya sehingga pakaian wanita tidak sama dengan pakaian lelaki, juga mewasiatkan kepada mereka untuk menjauhi pakaian asing seperti celana sempit, memanjangkan kuku dan rambut serta memendekkan jenggot. Dalam hadits shahih disebutkan :
لعن النبي r المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال ولعن المخنثين من الرجال والمترجلات من النساء. رواه البخاري.
“Nabi Muhammad r melaknat kaum lelaki yang memakai pakaian seperti kaum wanita dan kaum wanita yang memakai pakaian seperti kaum lelaki, serta kaum waria baik laki-laki maupun perempuan.” (riwayat Bukhari).
ومن تشبه بقوم فهو منهم. رواه أبو داود.
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia telah termasuk di dalam kaum tersebut.” (riwayat Abu Daud).
AKHLAK DAN SOPAN SANTUN
1. Kita biasakan anak untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan, minum, menulis dan menerima tamu, dan mengajarkannya untuk selalu memulai setiap pekerjaan dengan basmalah terutama untuk makan dan minum dan harus dilakukan dengan duduk serta di akhiri dengan membaca hamdalah.
2. Membiasakan anak untuk selalu menjaga kebersihan , memotong kukunya, mencuci kedua tangannya sebelum dan sesudah makan, dan mengajarinya untuk bersuci ketika buang air kecil maupun air besar sehinga tidak membuat najis pakaiannya dan shalatnya menjadi sah.
3. Berlemah lembut dalam memberi nasehat kepada mereka dengan secara diam-diam, tidak membuka kesalahan mereka di depan umum, jika mereka tetap membandel maka kita diamkan selama tiga hari dan tidak lebih dari itu.
4. Menyuruh anak-anak untuk diam ketika azan berkumandang dan menjawab bacaan-bacaan muazin kemudian bershalawat atas Nabi dan berdo’a :
اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته. رواه البخاري
5. Memberi kasur pada setiap anak jika memungkinkan, jika tidak maka setiap anak diberikan selimut sendiri-sendiri. Akan lebih utama jika anak perempuan mempunyai kamar sendiri dan anak laki-laki mempunyai kamar sendiri, guna menjaga akhlak dan kesehatan mereka.
6. Membiasakan mereka untuk tidak membuang sampah dan kotoran di tengah jalan dan menghilangkan hal yang menyebabkan mereka sakit.
7. Waspada terhadap persahabatan mereka dengan kawan-kawan yang nakal, mengawasi mereka, dan melarang mereka untuk duduk-duduk di pinggir jalan.
8. Memberi salam kepada anak-anak di rumah, di jalan dan di kelas dengan lafadz :
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
9. Berpesan kepada anak untuk berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakiti mereka.
10. Membiaskan anak untuk bersikap hormat dan memuliakan tamu serta menghidangkan suguhan baginya.
JIHAD DAN KEBERANIAN
1. Harus di adakan pertemuan khusus bagi keluarga dan palajar untuk dibacakan riwayat hidup Rasululloh r dan para sahabatnya agar mereka tahu bahwa Rasululloh r adalah pemimpin yang berani dan para sahabatnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Mu’awiyah telah membuka negeri kita, merupakan faktor penyebab ke-Islaman kita dan telah mendapat kemenangan dengan iman, jihad, amal dan akhlak yang tinggi.
2. Mendidik anak-anak berani menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng yang manakutkan.
3. Menanamkan pada anak kecintaan balas dendam kepada orang-orang yahudi dan kaum zalim. Pemuda-pemuda kita akan membebaskan Palestina dan Masjid Aqsa ketika mereka kembali kepada Islam dan jihad di jalan Allah serta mendapat kemenangan dengan izin Allah.
4. Memberikan cerita-cerita yang mendidik, bermanfaat dan Islami, seperti serial cerita-cerita dalam Al-Qur’an, sejarah Nabi, pahlawan dan kaum pemberani dari para sahabat dan orang-orang Islam lainnya, seperti kitab :
a. Asy-syamaail Al-Muhamadiyah Wal akhlaaq An-Nabawiyah Wal Adaab Al-Islamiyah.
b. Al-Aqidah Al-Islamiyah Min Al-Kitab Was-Sunnah Ash-Shahihah.
BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
Jika kamu ingin berhasil di dunia dan akhirat, maka kerjakanlah beberapa pesan sebagai berikut :
1. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan sopan santun, jangan mengucakan “ah” kepada mereka, jangan hardik mereka dan berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang baik.
2. Taati selalu kedua orang tuamu selama tidak dalam maksiat, karena tidak ada ketaatan pada makhluk yang bermaksiat kepada Allah.
3. Berlemah lembutlah kepada kedua orang tuamu, jangan bermuka masam di depannya, dan janganlah memelototi mereka dengan marah.
4. Jaga nama baik, kehormatan dan harta benda kedua orang tua. Dan janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin keduanya.
5. Lakukanlah hal-hal yang meringankan keduanya meski tanpa perintah seperti berkhidmat, membelikan beberapa keperluan dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.
6. Musyawarahkan segala pekerjaanmu dengan orang tua dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa kamu berselisih pendapat.
7. Segera penuhi panggilan mereka dengan wajah yang tersenyum sambil berkata : ada apa, bu! Atau ada apa, pak!
8. Hormati kawan dan sanak kerabat mereka ketika mereka masih hidup dan sesudah mati.
9. Jangan bantah mereka dan jangan persalahkan mereka, tapi usahakan dengan sopan kamu dapat menjelaskan yang benar.
10. Jangan kau bantah perintah mereka, jangan kamu keraskan suaramu atas mereka, dengarkanlah pembicaraanya, bersopan santunlah terhadap mereka, dan jangan ganggu saudaramu untuk menghormati kedua orang tuamu.
11. Bangunlah jika kedua orang tuamu masuk ke tempatmu dan ciumlah kepala mereka.
12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu di dalam pekerjaannya.
13. Jangan pergi jika mereka belum memberi izin meski untuk urusan penting, jika terpaksa harus pergi maka mintalah maaf kepada keduanya dan jangan sampai memutuskan surat menyurat dengannya.
14. jangan masuk ke tempat mereka kecuali setelah memdapat izin terutama pada waktu tidur dan istirahat mereka.
15. Jangan makan sebelum mereka dan hormatilah mereka dalam makanan dan minuman.
16. Jangan berbohong dengan mereka dan jangan cela mereka jika mereka berbuat yang tidak menarik anda.
17. Jangan utamakan isterimu atau anakmu atas mereka. Mintalah restu dan ridho dari mereka sebelum melakukan segala sesuatu, karena ridho Allah terletak pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.
18. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka dan jangan menselonjorkan kedua kakimu dengan congkak di depan mereka.
19. Jangan congkak terhadap nasib ayahmu meski engkau seorang pegawai besar, dan usahakan tidak pernah mengingkari kebaikan mereka atau menyakiti mereka meski hanya dengan satu kata.
20. Jangan kikir untuk menginfakkan harta kepada mereka sampai mereka mengadu padamu dan itu merupakan kehinaan bagimu dan itu akan kamu dapatkan balasannya dari anak-anakmu. Apa yang kamu perbuat akan mendapat balasan.
21. Perbanyak melakukan kunjungan kepada kedua orang tua dan memberi hadiah, sampaikan terima kasih atas pendidikan dan jerih payah keduanya, dan ambillah pelajaran dari anak-anakmu yaitu merasakan beratnya mendidik mereka.
22. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwa surga ada di bawah talapak kaki ibu.
23. Usahakan untuk tidak menyakit kedua orang tua dan menjadikan mereka marah sehingga kamu merana di dunia dan akhirat, dan anak-anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan kedua orang tuamu.
24. Jika meminta sesuatu dari kedua orang tuamu maka berlemah-lembutlah, berterima kasihlah atas pemberian mereka dan maafkan jika menolak permintaanmu serta jangan trelalu banyak meminta agar tidak mengganggu mereka.
25. Jika kamu sudah mempu mencari rizki maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tuamu.
26. Kedua orang tuamu mempunyai hak atas kamu, dan isterimu mempunyai hak atas kamu, maka berilah hak mereka. Jika keduanya berselisih usahakan kamu pertemukan dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.
27. Jika kedua orang tuamu bertengkar dengan isterimu, maka bertindaklah bijaksana, dan beri pengertian kepada isterimu bahwa kamu berpihak padanya jika ia benar, hanya kamu terpaksa harus merupakan penolong yang paling baik.
28. Jika kamu berselisih dengan kedua orang tua tentang perkawinan dan talak maka kembalikan pada hukum Islam karena hal itu merupakan penolong yang paling baik.
29. Do’a orang tua untuk kebaikan dan kejelekan diterima Allah, maka hati-hatilah terhadap do’a dari kejelekan mereka .
30. Bersopan santunlah dengan orang, karena barangsiapa mencela orang tua seseorang maka orang tadi akan mencaci orang tuanya. Rasululloh r bresabda :
من الكبائر شتم الرجل والديه يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه.
“Diantara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya; mencaci ayah orang maka ia mencaci ayahnya sendiri, mencaci lbu orang maka ia mencaci ibunya sendiri.”
31. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika masih hidup dan sesudah matinya, bersedekahlah atas nama mereka dan perbanyaklah do’a untuknya sambil berkata :
رب اغفر لي ولوالدي رب ارحمهما كما ربياني صغيرا.
JAUHIALH DOSA-DOSA BESAR
1. Allah berfirman :
] إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلا كريما [
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami akan hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat mulia (surga).” (An-Nisa’ : 31).
2. Rasululloh r bersabda :
اتق المحارم تكن أعبد الناس. رواه أحمد بإسناد صحيح
“Jauhilah perbuatan yang dilarang Allah tentu engkau akan menjadi orang yang paling banyak ibadahnya.” (riwayat Ahmad)
3. Dosa besar adalah : setiap maksiat yang mempunyai hukuman had di dunia atau ancaman di akhirat.
4. Jumlah dosa-dosa besar : disebutkan oleh Ibnu Abbas, bahwa jumlahnya sampai tujuh ratus macam, lebih dekat daripada tujuh macam. Hanya tidak ada yang dinamakan dosa besar jika diikuti dengan istighfar dan tidak ada yang dinamakan dosa kecil jika dilakukan terus-menerus.
MACAM-MACAM DOSA BESAR
1. Dosa besar dalam akidah : syirik kepada Allah, yaitu beribadah atau berdo’a kepada selalin Allah . Rasululloh r brsabda :
الدعاء هو العبادة.
“Do’a adalah ibadah.” (riwayat Tirmidzi).
Mengerjakan syareat untuk dunia saja, menyembunyikan ilmu, khianat, mempercayai dukun atau peramal, menyembelih kurban dan bernadzar kepada selain Allah, menggambar orang atau hewan, mambuat atau menggantungkan patung, memanjangkan baju atau celana ke bawah tumit untuk kesombongan, bersumpah selain kepada Allah, tidak mengkafirkan orang kafir, medustakan Allah dan Rasulnya, aman terhadap azab Allah , menampar muka dan meratap pada waktu kematian, tidak mengakui adanya Qadar dan menggantungkan jimat seperti kalung, tulang atau telapak tangan yang digantungkan pada anak-anak, mobil atau rumah.
2. Dosa besar dalam jiwa dan akal; membunuh orang dengan tanpa alasan yang benar, membakar orang dan hewan dengan api dan mengulur-ulur waktu pemberian hak orang lemah, istri, murid, pembantu dan binatang melata, belajar sihir, melakukan ghibah dan menyebar fitnah, minum minuman yang memabukkan dengan segala bentuknya (seperti khamar, perasan anggur, wisky, bir dan lain sebagainya), minum racun, makan daging babi dan bangkai tanpa sebab yang mendesak, minum minuman yang berbahaya (seperti rokok, ganja dan lain sebagainya), bunuh diri meski dengan palan-pelan seperti merokok, berkelahi mempertahankan yang batil, menganiaya dan melawan orang, menolak kebenaran dan marah karenanya, sombong, berperasangka buruk kepada orang Islam, mengkafirkannya tanpa alasan atau memcercanya atau mencerca salah seeorang di antara sahabat Rasululloh, sombong dan bangga, selalu mencari rahasia orang, menjatuhkan nama baik hakim untuk menyakitinya, dan berbohong pada hampir seluruh ucapannya.
3. Dosa besar dalam harta; makan harta anak yatim, main judi dan buntut, mencuri, malakukan penodongan, perampasan, sogok, pengurangan timbangan, sumpah palsu, penipuan dalam jual beli, tidak memenuhi janji, memberi kesaksian palsu, monopoli, wasiat palsu, menyembuyikan kesaksian, tidak rela dengan pembagian Allah dan pemakaian perhiasan emas bagi kaum lelaki.
4. Dosa besar dalam ibadah; meninggalkan shalat atau melaksanakan di luar waktunya tanpa uzur, tidak mengeluarkan zakat, berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa uzur, tidak haji padahal mampu malaksanakannya, lari dari jihad di jalan Allah, meninggalkan jihad dengan jiwa, harta atau lidah bagi yang diwajibkan, meninggalkan shalat jum’at atau jama’ah tanpa uzur, meninggalkan menyeru berbuat baik dan mencegah kemungkaran bagi yang mampu, tidak membersihkan kencingnya dan tidak mengamalkan ilmunya.
5. Dosa besar dalam keluarga dan keturunan; zina, homoseksual, menjatuhkan kehormatan orang-orang mukminat yang terjaga baik dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar, berhias yang berlebihan bagi wanita, menampakkan rambutnya, wanita menyerupai lelaki dan laki-laki menyerupai wanita, menyakiti kedua orang tua, menjauhih keluarga tanpa alasan syara’, wanita menolak ajakan suaminya tanpa alasan seperti haid atau nifas, perbuatan orang yang mengawini wanita setelah talak tiga, wanita bepergian sendirian, menggunakan nasab selain ayahnya padahal tahu nasab ayahnya, rela terhadap keluarganya yang melakukan zina, menyakiti tetangga, mencabut rambut di wajah atau alis.
6. Taubat dari perbuatan dosa besar : wahai saudaraku seagama, jika anda berbuat dosa besar maka tinggalkanlah segera, bertaubat dan minta ampunlah kepada Allah serta jangan diulangi lagi, sebagaimana firman Allah :
] إنما التوبة على الله للذين يعملون السوء بجهالة ثم يتوبون من قريب فأولئك يتوب الله عليهم وكان الله عليما حكيما [
“Sesunggunhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (An-Nisa’ : 17).
Berkata Mujahid dan yang lainnya : “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah baik tidak sengaja maupun sengaja maka ia adalah bodoh (jahil)” Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 464, penerbit)
SYARAT DITERIMANYA TAUBAT
Adapun syarat diterimanya taubat yaitu :
1. Ikhlas : artinya taubat pelaku dosa harus ikhlas, semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.
2. Menyesal : atas dosa yang telah diperbuatnya.
3. Meninggalkan sama-sekali maksiat yang telah dilakukannya.
4. Tidak mengulangi : artinya seorang mslim harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
5. Istighfar : memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hakNya.
6. Memenuhi hak bagi orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
7. Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi r :
“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seseorang hambanya selama belum tercabut nyawanya.” (hadits hasan riwayat Turmudzi).
IKUTILAH SUNNAH RASUL DAN
JANGAN MELAKUKAN BID’AH
Bid’ah ada dua macam : duniawi dan keagamaan :
1. Bid’ah duniawi ada dua macam : bid’ah yang negatif, seperti bioskop, TV, Vedeo dan sejenisnya yang dapat merusak akhlak dan membahayakan masyarakat. Bahaya tersebut terjadi akibat film-film yang ditampilkannya. Tapi ada bid’ah yang positif seperti kapal terbang, mobil, telepon dan lain-lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempermudah urusannya.
2. Bid’ah keagamaan; yaitu yang tidak pernah ada pada zaman Rasululloh dan para sahabat sesudahnya. Bid’ah ini dilakukan dalam ibadah dan agama. Bentuk bid’ah ini merupakan bentuk bid’ah yang ditolak oleh Islam dan dihukum dengan sesat.
a. Allah berfirman :
]أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله[.
“Apalah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.” (syura : 21).
b. Rasululloh r bersabda : barangsiapa yang melakukan pekerjaan yang tidak ada pada sunnahku, maka pekerjaan tersebut tidak diterima. (riwaayat Muslim).
c. Rasululloh r bersabda : hati-hatilah terhadapa hal-hal yang baru, karena setiap hal yang baru itu bid’ah dan setiap bida’ah itu kesesatan. (riwayat Ahmad).
d. Rasululloh r bersabda : sesungguhnya Allah menutup taubat setiap orang yang melakukan bid’ah sampai ia meninggalkannya. (riwayat Tabranai dan yang lainnya).
e. Ibnu Umar berkata : setiap bid’ah itu kesesatan meski dianggap orang sebagai hal baik.
f. Imam Malik berkata : barangsiapa yang mengadakan dalam Islam suatu bid’ah yang dianggapnya baik, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah melakukan penghianatan terhadap risalah, karena sesungguhnya Allah berfirman :
] اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا [
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah : 3).
g. Imam Syafi’i berkata : barangsiapa yang melakukan istihsan berarti telah membuat syariat, jika istihsan diperbolehkan dalam agama, tentu hal itu diperbolehkan juga bagi kaum intelektual yang tak beriman, dan diperbolehkan pula dilakukan dalam setiap masalah agama serta setiap orang dapat membuat syariat baru bagi dirinya.
h. Ghadlif berkata : suatu bid’ah tidak akan muncul kecuali ditinggalkanya sunnah.
i. Hasan Basri mengatakan : janganlah kamu bersahabat dengan ahli bid’ah sehingga hatimu sakit.
j. Huzaifah berkata : setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasululloh r jangan kamu lakkukan.
MACAM-MACAM BID’AH
Bida’h adalah setiap hal yang tidak mempunyai dasar dalam agama, seperti :
1. Upacara maulid Nabi, Isra’ mi’raj dan malam nisfu sya’ban.
2. Berdzikir dengan tarian, tepuk tangan dan pukulan terbang, begitu juga meninggikan suara dan mengganti nama-nama Allah seperti dengan ah, ih, aah, hua, hia.
3. Mengadakan acara selamatan dan mengundang para kyai untuk membaca Al-Qur’an setelah wafatnya seseorang dan lain sebagainya.
UCAPAN SHADAQALLAHUL AZHIEM
1. Para Qurra’ biasa mengucapkannya setelah membaca Al-Qur’an padahal ini tidak berasal dari Rasululloh r.
2. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah, maka tidak boleh ditambahi. Sabda Nabi r :
“Barangsiapa mengada-adakan dalam agama kita (suatu amalan) yang bukan berasal darinya, maka ditolak (amalannya itu). (Muttafaq alaih)
3. Apa yang mereka lakukan itu tidak ada dalilnya, baik dari Al-Qur’an, sunnah Rasul maupun amalan para sahabat. Akan tetapi termasuk bid’ah orang-orang yang datang kemudian.
4. Rasululloh r mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Ibnu Mas’ud, tatkala sampai ke firman Allah :
}فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاء شَهِيدًا{(41) سورة النساء
Beliau bersabda : “cukuplah”. (riwayat Al-Bukhari).
Jadi beliau tidak mengucapkan ‘Sahadaqallahul Azhiem’, dan juga tidak memerintahkannya.
5. Orang yang tidak mengerti dan anak-anak kecil mengira bahwa bacaan tersebut adalah salah satu ayat Al-Qur’an, maka mereka membacanya di dalam dan di luar shalat. Ini tidak boleh, karena bacaan tadi bukanlah ayat Al-Qur’an. Apalagi, kadang-kadang, ditulis di akhir surat dengan kaligrafi Mushaf.
6. Syekh Abdul Aziz bin Baz, ketika ditanya tenatang bacaan tersebut, beliau menegaskan bahwa hal itu adalah bid’ah.
7. Adapun firman Allah Ta’ala :
“Katakanlah : ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus …” (Ali Imran : 95).
Maka ayat ini merupakan bantahan terhdap orang-orang Yahudi yang berdusta,berdasarkan ayat sebelumnya :
“Maka barangsiapa mengadadakan dusta terhadap Allah … (Ali-Imran : 94).
Rasululloh r pun telah mengetahui ayat ini, meski demikian beliau tidak mengucapkan hal tersebut setelah membaca Al-qur’an. Begitu pula para sahabat dan salaf shaleh.
8. Bid’ah ini sesugguhnya mematikan sunnah, yaitu do’a setelah membaca Al-Qur’an, berdasarkan sabda Nabi r :
“Barangsiapa membaca Al-qur’an, hendaklah ia meminta kepada Allah dengan (bacaannya) itu.” (hadits hasan riwayat Turmudzi).
9. bagi Qari’ hendaklah dia berdo’a kepada Allah sesuka hatinya, setelah membaca Al-Qur’an, dan bertawassul kepada Allah dengan yang dibacanya itu. Karena hal ini termasuk amal shaleh yang menjadi sebab dikabulkannya do’a. dan yang tepat adalah membaca do’a berikut ini :
اللهم إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن ربيع قلبي ونور بصري وجلاء حزني وذهاب همي وغمي.
“Ya Allah, sungguh aku adalah hambaMu, anak hambaMu yang laki-laki dan anak hambaMu yang perempuan. Ubun-ubunku berada di tanganMu. Pasti terjadi keputusanMu pada diriku dan adillah ketentuanMu pada diriku. Aku memohon kepadamu dengan segala asma milikMu, yang Engkau sebutkan untuk diriMu, atau Engkau turunkan dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhlukMu, atau masih dalam perkara ghaib yang hanya Engkau sendiri yang mengetahui. Jadikanlah Al-Qur’an penyejuk hatiku, cahaya penglihatanku, pembebas kesedihanku dan pengusir kegelisahanku.”
Tiada lain, Allah pasti akan menghilangkan kesulitan dan kesedihannya, dan menggantikannya, dengan kemudahan.” (hadits shahih riwayat imam Ahmad).
MENGAJAK KEBAIKAN DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN
Keduanya merupakan tiang pokok yang menjadi tumpuan tegaknya kepentingan masyarakat yang baik, dan merupakan ciri dari masyarakat Islam. Allah berfirman :
] كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله [
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali-Imran : 110).
Jika kita meninggalkan tugas “mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran” maka rusaklah masyarakat, hancurlah akhlak dan jeleklah pergaulan…
Upaya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran tidak merupakan kewajiban individu tertentu saja, tetapi merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim laki-laki atau perempuan, alim atau awam sesuai dengan kemampuan dan ilmunya. Rasullah r bersabda :
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان. رواه مسلم.
“Barangsiapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin maka dengan lisan, jika tidak mungkin maka dengan hati, dan itulah selemah-lemah iman.” (riwayat Muslim).
MACAM-MACAM AJAKAN
KEPADA KEBAIKAN
1. Khutbah pada hari Jum’at dan dua hari raya, di mana khatib menjelaskan macam-macam kemungkaran.
2. Ceramah dan artikel di majalah atau surat kabar yang menjelaskan panyakit-penyakit masyarakat dan memberikan obat yang tepat untuk penyembuhan.
3. Buku dimana penulis hendak memaparkan hal-hal yang hendak dijelaskan kepada masyarakat tentang ide-ide untuk memperbaiki masyarakat.
4. Peringatan pada majlis taklim dimana salah seorang yang hadir umpamanya berbicara tentang bahaya rokok terhadap akal fikiran maupun keuangan.
5. Nasihat dilakukan antara seorang saudara dengan saudara seagama yang lain secara diam-diam, seeperti nasihat untuk menanggalkan cincin emas pada tangan seseorang laiki-laki atau memperingatkan untuk tidak meninggalkan shalat.
6. Surat, merupakan sarana yang paling berfaedah, karena setiap orang dengan surat dapat membaca beberapa halaman tentang shalat, jihad, zakat, dan dosa-dosa besar umpamanya.
SYARAT-SYARAT PENYERU KEBAIKAN
1. Perintah dan larangannya diberikan secara halus dan lemah lembut sehingga bisa diterima oleh jiwa. Allah I berfirman kepada Musa dan Harun :
] اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى[سورة طـه
“Pergilah kamu berdua kepada fir’aun karena sesungguhnya ia sangat zhalim, maka berkatalah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut.” (Taha : 43-44)
Jika anda melihat orang yang mencaci maki atau kafir maka nasehatilah dengan lemah lembut dan mintalah ia memohon perlindungan Allah dari godaan syetan yang menjadi penyebab caci maki tersebut, dan sesungguhnya kita dengan ni’mat yang banyak perlu disyukuri dan karena kekafiran itu tidak memberi manfaat bahkan menjadi penyebab kesengsaraan di dunia dan azab akhirat kemudian kamu memintanya untuk bertaubat dan beristighfar.
2. Agar mengetahui yang halal dan yang haram sehingga seruannya dapat bermanfaat dan tidak memberi akibat negatif dengan kebodohannya.
3. Penyeru wajib melaksanakan apa yang diperintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya sehingga faedahnya lebih sempurna dan bermanfaat. Allah berfirman kepada yang menyeru kebaikan tapi tidak melaksanakannya :
] أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون [
“Apakah engkau menyeru manusia untuk berbuat baik dan kamu melupakan dirimu sendiri, sedangkan kamu membaca Al-Kitab (Al-Qur’an) apakah kamu tidak berfikir.” (Al-Baqarah : 44)
Dan orang yang berdosa hendaknya waspada terhadap dosa yang pernah dilakukannya sambil mengakui kesalahannya.
4. Agar kita ikhlas dalam bekerja, berdo’a agar orang-orang yang berselisih dengan kita diberi petunjuk, dan kita dimaafkan oleh Allah. Allah berfirman :
]وَإِذَ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ[ (164) سورة الأعراف
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata : “mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? Mereka menjawab : Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa …” (Al -A’raf : 164).
5. Penyeru hendaknya berani, tidak takut pada celaan dan hinaan orang tapi hanya takut kepada Allah dan sabar terhadap segala cobaan yang menimpanya.
BEBERAPA MACAM KEMUNGKARAN
1. Kemungkaran di masjid : ukir-ukiran dan hiasan, banyak menara, pemasangan papan yang bertuliskan di depan orang shalat karena hal itu dapat mengganggu kekhusyu’an shalatnya terutama tulisan syair-syair yang mengandung makna meminta tolong kepada selalin Allah, lewat di depan orang yang sedang shalat, melangkahi kepala dua orang yang duduk dalam shalat, membaca wirid Al-Qur’an dan berbicara dengan suara keras sehingga mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Rasululloh r bersabda :
لا يجهر بعضكم على بعض في القرآن. رواه أحمد
“Janganlah kamu saling mengeraskan suara dalam membaca Al-Qur’an.” (riwayat Ahmad).
Termasuk pula kemungkaran di masjid : meludah, batuk dengan suara keras, menyebutkan beberapa hadits dhaif (lemah) dalam khutbah dan ceramah tanpa menyebutkan derajat kebenaran hadits tersebut padahal masih banyak hadits-hadits shahih, meminta pertolongan kepada selain Allah ketika memperdengarkan azan dan menyanyikan lagu-lagu pada acara peringatan, bau rokok dari sebagian orang yang shalat, shalat dengan pakaian kotor dan berbau tidak enak, bersuara keras, menari dan bertepuk ketika zikir, mengumumkan barang yang hilang, tidak merapatkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki dalam shalat berjamaah.
2. Kemungkaran di jalan : Para wnita keluar tanpa penutup kepala atau dengan pakaian tidak menutup aurat, atau berbicara dengan tertawa keras, orang laki-laki bergadengan tangan dengan orang perempuan dan ngobrol berdua tanpa malu, menjual kertas undian, menjual khamer di warung-warung, gambar laki-laki atau perempuan porno yang merusak akhlak, mambuang sampah di jalan, anak muda nongkrong untuk mengganggu wanita, dan campur baurnya wanita dengan laki-laki di jalanan, pasar dan mobil.
3. Kemungkaran di pasar : bersumpah dengan selain Allah seperti kahormatan, tanggung jawab dan sebagainya, penipuan, bohong dalam masalah keuntungan dan barang dagangan, meletakkan sesuatu di jalanan, kekufuran dan cercaan, mengurangi takaran dan timbangan, serta memanggil seseorang dengan suara keras.
4. Kemungkaran umum : mendengar musik dan lagu-lagu porno, campur aduk antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim meskipun dari keluarga dekat seperti anak paman, bibi, saudara suami atau isteri yang lain, menggantungkan gambar atau patung makhluk hidup di atas tembok atau meletakkannnya di atas meja meskipun untuk dirinya atau bapaknya, berlebih-lebihan dalam makanan, minuman, pakaian dan perabotan rumah tangga dan membuang sisanya atau yang tidak terpakai di tempat sampah, padahal semestinya dibagikan kepada para fakir-miskin agar di manfaaatkan, menghidangkan rokok, main dadu, menyakiti orang tua, membeli majalah-majalah porno, menggantungkan jimat-jimat pada anak atau pintu rumah, atau di mobol-moil dan keyakinan bahwa hal itu bisa menolak penyakit dan marabahaya, menghina salah seorang sahabat, dan merupakan kekufuran, mengejek ketaatan seseorang kepada Allah seperti shalat, hijab, jenggot dan lain-lainnya yang diajarkan agama Islam.
JIHAD DI JALAN ALLAH
Jihad merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik dengan harta benda (infaq), dengan jiwa (perang) atau dengan lisan dan tulisan yaitu mengajak jihad dan mempertahankanya. Jihad ada beberapa macam :
1. Fardhu ain; yaitu berjuang melawan musuh yang menyerbu ke sebagian negara kaum muslim seperti jihad melawan kaum yahudi yang menduduki negara Palestina. Semua orang muslim yang mampu berdosa sampai mereka dapat mengeluarkan orang-orang yahudi dari negeri tersebut.
2. Fardhu kifayah; yaitu jika sebagian telah memperjuangkannya, maka yang lain sudah tidak berkewjiban untuk melakukan perjuangan tersebut, yaitu berjuang menyebarkan dakwah Islam ke seluruh negara sehingga malaksanakan hukum Islam, dan barangsiapa yang masuk Islam serta berjalan di jalan Islam kemudian terbunuh sehingga tegak kalimat Allah, maka jihad ini berjalan terus sampai hari kiamat.
Jika orang-orang Islam meningalkan jihad dan tertarik oleh kehidupan dunia, pertanian dan perdagangan maka ia akan tertimpa kehinaan, sebagimana sabda Rasululloh r :
“jika anda jual beli ‘inah (seseorang menjual sesuatu dengan tempo dan menyerahkannya kepada pembeli. Kemudian ia membelinya kembali dari si pembeli tersebut sebelum lunas pembayarannya dengan harga yang lebih murah dan dibayar langsung) kamu berjalan di belakang ekor-ekor sapi (membajak di sawah) dan kamu puas dengan pertanian kemudian kamu tinggalkan jihad di jalan Allah,maka Allah menimpakan kepada kamu sekalian kehinaan dan tidak akan melepaskannya darimu sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (riwayat Ahmad).
3. Jihad terhadap pemimpin lslam, yaitu dengan memberikan nasihat kepada mereka dan pembantu mereka, sebagaimana sabda Rasululloh r :
“Agama adalah nasihat, kami bertanya, untuk, siapa wahai Rasululloh? Beliau menjawab : untuk Allah, kitabNya, Rasulnya, pemimpin-pemimpin Islam dan orang-orang muslim awam.” (riwayat Muslim).
Dan juga sabda beliau :
“Jihad yang paling mulia adalah menyampaikan kebenaran pada pemimpin yang zhalim.” (riwayat Abu Daud dan Turmudzi).
Adapun cara untuk menghindarkan diri dari penganiayaan pemimpin kita sendiri yaitu agar orang-orang Islam bertaubat kepada Tuhan, meluruskan akidah mereka, mendidik diri dan keluarga mereka atas dasar ajaran-ajaran Islam yang benar, sebagai pelaksanaan dari firman Allah :
] إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم [
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.” (Ar-Ra’d : 12).
Untuk itu salah seeorang da’i masa kini pernah mengatakan : “dirikanlah negara Islam dalam hatimu, mesti akan berdiri di atas bumimu.”
Dan juga harus memperbaiki fondasi bengunan yang didirikan, yaitu masyarakat. Allah berfirman :
]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ[ (55) سورة النــور
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhainya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur : 55)
4. Berjihad melawan orang-orang kafir, komunis dan penyerang dari kaum ahli kitab, baik dengan harta benda, jiwa dan lisan sebagaimana sabda Rasululloh r :
قال رسول الله r جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم. رواه أحمد
“Dan berjihadlah menghadapi orang-orang musyrik dengan harta bendamu, jiwamu dan lisanmu.” (riwayat Ahmad)
5. Berjihad melawan orang-orang fasik dan pelaku maksiat dengan tangan, lisan dan hati, sebagaimana sabda Rasululloh r :
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان. رواه مسلم.
“Barangsiapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin maka dengan lisan, jika tidak mungkin maka dengan hati, dan itulah selemah-lemah iman.” (riwayat Muslim).
6. Berjihad malawan setan; dengan selalu menentang segala kamauannya dan tidak mengikuti godaannya. Allah berfirman :
]إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ[ (6) سورة فاطر
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah sebagai musuh (mu), karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir : 6).
7. Berjihad melawan hawa nafsu; dengan mengendalikan hawa nafsu, membawanya kepada ketaatan kepada Allah dengan menghindari kemaksiatan-kemaksiatannya, Allah berfirman melalui Zulaihah yang mengaku telah membujuk Yusuf untuk berbuat dosa :
] وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء إلا ما رحم ربي إن ربي غفور رحيم [
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (yusuf : 53).
Ada sebuah syair menuturkan :
وخالف النفس والشيطان واعصهما وإن هما محضاك النصح فاتهم
“Musuh besarmu nafsu dan setan, bujuk-rayunya jangan kau hiraukan, tutur nasihatnya penuh kesesatan, I’tikad baiknya mesti kau ragukan.”
Ya Allah berilah kami taufiq untuk menjadi orang-orang yang berjihad dan beramal mengkuti Rasululloh r .
DI ANTARA SEBAB-SEBAB KEMENANGAN
Pada waktu Umar bin Khattab mengirimkan utusan di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waaqash untuk menaklukkan Parsi, beliau menulis pesan yang isinya sebagai berikut :
1. Takwa kepada Allah.
Aku perintahkan kepadamu dan semua tentara yang ikut bersamamu untuk bertakwa kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun juga, sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan musuh serta siasat perang yang paling hebat.
2. Meninggalkan segala bentuk perbuatan maksiat.
Aku perintahkan pula kepadamu dan orang-orang yang ikut bersamamu, agar menjaga diri dari perbuatan maksiat lebih cermat daripada menjaga serangan musuh, karena dosa-dosa tentara itu lebih menakutkan mereka sendiri daripada musuhnya. Andaikata mereka tidak berbuat maksiat pasti orang-orang Islam tidak mempunyai kekuatan sebab jumlahnya, kekuataan serta perbekalan tidak sebanyak dan sekuat musuh mereka. Andaikata mereka sama-sama berbuat maksiat pasti musuh Islam lebih kuat. Seandainya kita tidak diberi kekuatan dengan takwa dan meninggalkan maksiat, pasti kita tidak dapat mengalahkan mereka.
Ketahuilah bahwasanya sewaktu kamu berangkat ke Parsi setiap dirimu diawasi oleh malaikat yang mengetahui segala perbutanmu. Hendaknya kamu malu kepada mereka. Dan janganlah berbuat maksiat di tengah-tengah kaum berjuang menegakkan agama Allah, begitu pula jangan beranggapan bahwa musuh kita lebih jelek daripada kita sehingga tidak mungkin mereka menguasai kita walaupun kita berbuat jelek. Karena banyak manusia yang dipimpin oleh orang yang lebih jelek daripada mereka, seperti bani Israil, karena perbuatan maksiat akhirnya mereka dipimpin oleh orang kafir majusi.
3. Mohon pertolongan kepada Allah.
Memohonlah kamu kepada Allah untuk kemenangan serta selamat daripada godaan maksiat sebagaimana kamu memohon kemenangan terhadap musuhmu dan mohonlah kepada Allah baik untuk kita maupun untuk kamu sendiri. (ibnu Katsir, Al-Bidayah Wan Nihayah).
WASIAT SETIAP MUSLIM MENURUT AGAMA
Sabda Rasululloh r :
ما حق امرئ مسلم يبيت وله شيء يريد أن يوصى فيه إلا ووصيته مكتوب عند رأسه. قال ابن عمر : ما مرت علي ليلة منذ سمعت رسول الله قال ذالك إلا وعندي وصيتي. رواه الشيخان.
“Tidak layak bagi seorang muslim melewati masa dua malam sedang ia mempunyai sesuatu yang mau diwasiatkan kecuali wasiatnya ditulis di dekat kepalanya. Ibnu Umar berkata : saya tidak melewati satu malam sejak Rasululloh bersabda demikian, kecuali wasiatku di dekatku.” (riwayat Bukhari Muslim).
Wasiat itu seperti :
1. Saya berwasiat sebesar … untuk membiayai anak saudara, kerabat, tetangga dan lain-lain yang miskin (yang diwasiatkan tidak lebih dari 1/3 dari seluruh harta dan tidak untuk salah seorang ahli waris).
2. Ketika saya sakit, hendaklah ada orang-orang shaleh mendatangiku agar aku senantiasa bersangka baik terhadap Allah I.
3. Sebelum mati, bukan sesudahnya, saya dituntun untuk membaca kalimat tauhid : LAA ILAAHA ILLALLAH. Ini berdasarkan sabda Nabi :
لقنوا موتاكم لا إله إلا الله. رواه مسلم.
“Tuntunlah saudaramu yang akan mati dengan kalimah LAA ILAAHA ILLALLAH.” (riwayat Muslim)
sabda Rasululloh juga :
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة. رواه الحاكم
“siapa yang akhir ucapanya LAA ILAAHA ILLALLAH masuk surga.” (riwayat Hakim)
4. Setelah mati, orang-orang yang hadir mendo’akan bagiku demikian :
اللهم اغفر له وارفع درجته وارحمه
“Ya Allah, ampunilah dia dan naikkanlah pangkatnya dan berilah ia rahmat.”
5. Mencarikan orang untuk menyampaikan berita kematian kepada sanak famili dan orang lain walaupun hanya lewat telepon. Bagi imam masjid hendaknya memberitahukan hal itu kepada para jamaah, agar memintakan ampunan bagi mayit.
6. Segera melunasi hutang. SabdaRasululloh r :
نفس المؤمن معلق بدينه حتى يقضى عنه. رواه أحمد.
“Jiwa seorang muslim itu bergantung dengan hutangnya sehingga hutang itu dilunasi.” (riwayat Amad).
Bagi muslim yang sadar, ia akan melunasi hutangnya selagi masih hidup Karena khawatir urusannya itu menjadi terlantar.
7. Diam ketika jenazah diiringkan dan memperbanyak orang yang menyalatkannya dengan ikhlas serta mendo’akanya.
8. Setelah dikebumikan hendaknya dido’akan kembali sambil berdiri, karena Rasululah r melakukan demikian sambil bersabda :
استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فإنه الآن يسأل. رواه الحاكم
“Mohonkanlah ampunan dan ketabahan untuk sedaramu, karena sekarang ia sedang ditanya.” (riwayat Al-Hakim)
9. Berta’ziyah (menghibur) keluarga yang tertimpa musibah, sesuai dengan sabda Rasululloh r :
إن لله ما أخذ وله ما أعطى كل شيء عنده بأجل مسمى فلتصبر ولتحتسب. رواه البخاري.
“Apa yang diambil Allah dan apa yang diberikanNya itu adalah milikNya. Segala sesuatu telah ditentukan batas waktunya. Hendaklah anda bersabar dan rela terhadap apa yang telah menjadi ketentuanNya.” (riwayat Bukhari)
Ta’ziyah tidak terbatas oleh ruang dan waktu, kapan dan di mana saja dapat dlakukan. Orang yang mendapat kunjungan ta’ziyah hendaknya mengucapkan :
إنا لله وإنا إليه راجعون (اللهم أجرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها)
“Kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepadaNya. Ya Allah, berilah aku pahala ( sebagai balasan kesabaranku) dalam musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.”
10. Bagi keluarga dekat, tetangga dan handai taulan dari yang tertimpa musibah hendaknya membuatkan makanan untuk keluarga duka tersebut. Sabda Rasululloh r :
اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد أتاهم ما يشغلهم.
“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang kedatangan sesuatu yang menyibukkan.” (riwayat Abu Daud)
HAL-HAL YANG DILARANG MENURUT AGAMA
1. menghususkah sebagian harta untuk salah seorang ahli waris, sabda Rasululloh r :
لا وصية لوارث. رواه الدارقطني
“Tidak sah wasiat untuk ahli waris.” (riwayat Daruqutni)
2. Menangisi orang mati dengan keras, meratapinya, menampar pipi, menyobek pakaian dan berpakaian hitam, karena Rasululloh r bersabda :
الميت يعذب في قبره بما نيح عليه (إذا أوصاهم) رواه البخاري ومسلم.
“Orang mati itu disiksa di kuburnya karena diratapi (jika ia berwsiat).” (riwayat Bukhari dan Muslim)
3. Mengumumkan berita kematian di tempat adzan, di surat kabar, memberikan karangan bunga, Karena semuanya itu termasuk bid’ah dan menyia-nyiakan harta dan menyerupai tingkah laku orang-orang musyrik dan non muslim. Sabda Nabi r :
من تشبه بقوم فهو منهم
“Baragsiapa menyerupai suatu golongan maka ia termasuk golongan itu.” (riwayat Abu Daud).
4. Datangnya para kiai di rumah orang yang meninggal untuk membaca Al-Qur’an. Rasululloh r bersabda :
اقرءوا القرآن ولا تأكلوا به ولا تستكثروا به (من متاع الدنيا).
“Bacalah Al-Qur’an dan amalkanlah, janganlah Al-Qur’an itu kamu jadikan mata pencaharian dan jangan memperbanyak harta dunia dengannya.” (riwayat Ahmad).
Haram hukumnya memberi atau menerima sejumlah uang sebagai bayaran atas bacaan Alqur’an.
Apabila kita meberikan uang itu kepada orang fakir maka pahalanya sampai kepada orang yang sudah meninggal dan bermanfaat baginya.
5. Tidak boleh membuat makanan atau berkumpul untuk ta’ziyah baik di rumah, di masjid atau tempat lainnya. Jarir t berkata :
كنا نرى الإجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه لغيرهم من النياحة (المحرمة). رواه أحمد.
“Kita berpendapat bahwa mengadakan kumpulan bersama-sama pergi ke keluarga orang mati dan membuat makanan untuk disajikan kepada para tamu hukumnya termasuk meratapi mayat.” (riwayat Ahmad)
Hukum tidak bolehnya berkumpul mengadakan ta’ziyah tersebut ditegaskan oleh imam syafi’i dan imam Nawawi dalam kitabnya “AL-ADZKAR” bab ta’ziyah. Sebagaimana ibnu Abidin yang bermazhab Hanafi, telah menegaskan bahwa tidak boleh bagi keluarga orang yang mati untuk menghidangkan jamuan. Karena menurut agama, jamuan itu diadakan dalam situasi gembira, bukan dalam keadaan duka. Dalam kitab “AL-BAZAZIYAH” –pengikut hanafi- disebutkan bahwa membuat makanan pada hari pertama dan ketiga dan setelah satu minggu hukumnya tidak boleh. Begitu pula membawa makanan ke kuburan pada hari besar, juga membuat undangan untuk membaca Al-Qur’an, demikian pula mengumpulkan orang-orang shaleh dan ahli baca Al-Qur’an untuk mengadakan khataman Qur’an semuanya hukumnya tidak boleh.
6. Tidak boleh membaca Al-Qur’an , membaca Maulid Nabi dan zikir di atas kuburan karena Rasululloh r dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya.
7. Membuat gundukan tanah, membentangkan batu dan lain-lain di atas kuburan, mencat dan membuat tulisan di atasnya, semuanya hukumnya haram. Dalilnya :
نهى النبي r أن يجصص القبر وأن يبنى عليه وأن يكتب عليه. رواه مسلم
“Rasululloh r melarang kuburan dikapur, dibangun atau ditulisi.” (riwayat Muslim)
Cukup dengan meletakkan batu setinggi sejengkal, agar kuburan itu dapat dikenali orang, sebagaimana dilakukan oleh Rasululloh r ketika meletakkan batu di atas kuburan Utsman bin Mazh’un, dan beliau bersabda :
“Aku memberi tanda atas kuburan saudaraku.” (riwayat Abu Daud dengan sanad hasan)
dalam wasiat, hendaknya ditulis :
Yang memberi wasiat –yang meletakkan wasiat- saksi pertama- saksi kedua.
MEMELIHARA JENGGOT ADALAH WAJIB
1. Firman Allah I tentang ucapan syaitan ;
] ولآمرنهم فليغيرن خلق الله [
“… dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Alah), lalu benar-benar mereka merubahnya.” (An-Nisa’ : 119)
Dan mencukur jenggot adalah merubah ciptaan Allah dan taat kepada setan.
2. Firman Allah I :
] وما آتكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا [
“…Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah …” (Al-Hasyr : 7)
Rasululloh r telah memerintahakan untuk memelihara jenggot dan melarang mencukurnya.
3. Sabda Rasululloh r :
“Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot, berbedalah dengan orang-orang majusi.” (riwayat Muslim)
4. Sabda Rasululloh r :
“Sepuluh perkara termasuk fitrah, yaitu : mencukur kumis, memelihara jenggot, mamakai siwak, mamasukkan air ke dalam hidung (ketika berwudhu), memotong kuku, …” (riwayat Muslim)
Memelihara jenggot adalah termasuk fitrah, tidak boleh mencukurnya.
5. Rasululloh r melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita. (Riwayat Al-Bukhari). Mencukur jenggot adalah tindakan menyerupai wanita, terancam laknat dari Allah I.
6. Sabda Rasululloh r :
“Akan tetapi Tuhanku memerintahkan kepadaku agar memelihara jenggotku dan mencukur kumisku.” (hadits hasan riwayat Ibnu Jarir).
Memelihara jenggot adalah perintah dari Allah dan RasulNya, dan hukumnya adalah wajib karena Rasululloh r dan para sahabat senantiasa melakukan demikian, di samping itu tersebut dalam hadits larangan untuk mencukurnya.
7. Tidak boleh mencukur atau mencabut rambut yang berada di pipi, karena itu termasuk jenggot, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Qamus.
8. Secara medis, terbukti bahwa jenggot merupakan pelindung amandel dari stroke metahari, sedang mencukurnya bisa membahayakan kulit.
9. Jenggot adalah hiasan bagi kaum laki-laki yang diciptakan Allah baginya, agar berbeda dengan kaum wanita. Karenanya, tatkala seorang laki-laki yang telah mencukur jenggotnya masuk menemui isterinya pada malam pengantin, berpalinglah si isteri dan tidak tertarik dengan penampilan yang tidak seperti ketika dilihatnya sebelum itu.
Ada ibu-ibu yang bertanya kepada seorang waita : mengapa anda memilih seorang suami yang berjenggot? Jawabnya : karena aku kawin dengan seorang pria dan bukan dengan seorang wanita.
10. Mencukur Jenggot termasuk perbuatan mungkar dan harus dilarang, berdasar sabda Nabi r :
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan inilah selemah-lemahnya iman.” (riwayaat Muslim).
11. Penulis bertanya kepada seorang laki-laki yang mencukur jenggotnya : “Apakah anda mencintai Rasululloh r? Jawabnya : Ya, amat mencintainya. Maka kata penulis kepadanya : “Rasululloh telah bersabda :”peliharalah jenggot…” dan orang yang mencintai Rasululloh apakah akan mematuhinya atau menyalahinya?” jawab : “mematuhinya.” Dia pun berjanji akan memelihara jenggotnya.
12. Apabila ditentang oleh isteri anda dalam memelihara jenggot, maka katakanlah kepadanya : “aku adalah seorang muslim, takut kalau mendurhakai Allah.” Dan berikan kepadanya suatu hadiah serta sebutkan kepadanya sabda Nabi r :
“Tidak boleh taat kepada seorang makhluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada Al-Khaliq.” (hadits shohih riwayat Imam Ahmad).
HUKUM NYANYIAN DAN MUSIK DALAM ISLAM
1. Allah I berfirman :
] ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل ا لله بغير علم ويتخذها هزوا [
“Dan diantara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.” (lukman : 6)
Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan LAHWAL HADITS ialah nyanyian. Hasan Al-Basri berkata bahwa ayat tersebut turun dalam menjelaskan soal nyanyian dan seruling.
2. Allah berfirman :
] واستفزز من استطعت منهم بصوتك [
“Hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” (Al-Isra : 64)
Yang dimaksud dengan “shaut” ialah nyanyian dan seruling.
3. Rasululloh r bersabda :
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف. رواه البخاري
“Nanti pasti ada beberapa kelompok dari umatku yang menganggap bahwa zina, sutra, arak dan musik hukumnya halal, (padahal itu semua hukumnya haram).” (hadits shahih diriwayatkan Al-Bukhari dan Abu Daud).
Al-ma’azif adalah sesuatu yang besuara merdu seperti kecapi, seruling, genderang, terbang dan lain-lain. Lonceng pun termasuk ma’azif. Sabda Rasululloh r :
الجرس مزامير الشيطان. رواه مسلم
“Lonceng adalah seruling setan.” (riwayat Muslim).
Hadits ini menyatakan kemakruhannya disebabkan suaranya. Karena itu mereka menggantungkannya pada leher binatang dan juga karena suaranya serupa dengan lonceng (kelontong yang dipakai orang nasrani, sedangkan suara bel juga dapat mengantikan suara kelontong tersebut).
Diriwayatikan dari Imam syafi’i dalam kitab Al-Qadha’ bahwa nyanyian adalah sia-sia yang hukumnya dibenci (tidak diperbolehkan) karena menyerupai barang bathil, siapa yang memperbanyaknya adalah jahil tidak di terima persaksiannya.
BAHAYA NYANYIAN DAN MUSIK
Islam tidak melarang sesuatu kecuali jika ada bahayanya. Dalam nyanyian dan musik terdapat bahaya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah sebagai berikut :
1. Musik bagi jiwa seperti arak, bahkan bisa menimbulkan bahaya yang lebih hebat daripada arak itu sendiri. Apabila seseorang mabuk akibat suara maka ia ditimpa panyakit syirik, karena sudah condong kepada hal-hal yang keji dan penganiayaan. Kemudian menjadi musyriklah dia lalu membunuh orang yang diharamkan Allah dan berbuat zina. Ketiga perbuatan itu sering terjadi pada para pendengar musik, nyanyian dan sejenisnya.
2. Adapun syirik sering terjadi, misalnya karena cinta kepada penyanyinya melebihi cinta kepada Allah.
3. Adapun hal-hal yang keji terjadi karena nyanyian bisa menjadi penyebab perbuatan zina, bahkan merupakan penyebab terbesar untuk menjerumuskan orang ke jurang kekejian. Orang laki-laki maupun perempuan, para remaja yang semula sangat patuh kepada agama, setelah mereka mendengar nyanyian dan musik, rusaklah jiwa mereka serta mudah melakukan perbuatan keji.
4. peristiwa pembunuhan juga sering terjadi karena pertunjukan musik. ini disebabkan Karena ada kekuatan yang mendorong berbuat begitu, sebab mereka datang ke tempat itu bersama setan. Setanlah yang lebih kuat yang akhirnya bisa membunuh orang.
5. Mendengarkan nyanyian dan musik tidak ada manfaatnya untuk jiwa dan tidak mendatangkan kemaslahatan. Bahkan kerusakannya lebih besar daripada manfaatnya. Nyanyian dan musik terhadap jiwa seperti arak terhadap badan yang dapat membuat orang mabuk. Bahkan mabuk yang ditimbulkan oleh musik dan nyanyian lebih besar daripada mabuk yang ditimbulkan oleh arak.
6. Setan-setan merasuki mereka dan membawa mereka masuk ke dalam api. Ada seseorang di antara mereka membawa besi panas lalu diletakkan di atas badan atau lidahnya. Hal ini hanya terjadi di arena musik dan tidak akan terjadi di jamaah shalat atau pembaca Al-Qur’an, karena perbuatan shalat dan membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad r yang dapat mengusir setan, kebalikan dari perbuatan syirik yang mengundang setan.
HAKEKAT MENUSUK DIRI DENGAN BATANG BESI
Menusuk diri dengan batang besi adalah perbuatan yang belum pernah dilakukan oleh Rasululloh dan para sahabatnya. Kalaupun perbuatan ini membawa kebaikan niscaya mereka telah lebih dahulu melakukannya. Tetapi itu perbuatan para ahli tasawwuf dan ahli bid’ah. Sungguh saya telah menyaksikan ketika para ahli tasawwuf berkumpul di masjid, mereka memukul terbang sambil menyanyikan lagu ini :
هات كاس الراح واسقنا الأقداح
“Bawah ke sini gelas arak isilah gelas ini untuk saya.”
Mereka tidak merasa malu menyebut arak dan gelas yang diharamkan itu di baitullah (masjid), kemudian mereka memukul terbang (rebana) dengan keras seraya meminta pertolongan kepada selain Allah dengan teriakan :
يا جداه “Hai kakek”
Demikianlah terus-menerus mereka perbuat sehingga datang syaitan-syaitan kepada mereka. Kemudian salah satu dari mereka melepas bajunya, mengambil sebatang besi yang tajam lalu menusukkannya ke dalam perutnya. Setelah itu salah satu dari mereka berdiri mengambil kaca lalu dipecahkannya lantas dikunyah-kunyahnya dengan giginya.
Saya berkata dalam hati Kalau memang benar apa yang mereka perbuat, mengapa mereka tidak berperang melawan orang yahudi yang telah menjajah negara kita dan membunuh anak-anak kita. Pekerjaan semacam ini sebenarnya dibantu oleh setan-setan yang berada di sekeliling mereka dan memang mereka sudah berpaling dari dzikir kepada Allah, bahkan mereka berbuat syirik kepada Allah ketika mereka memohon bantuan kepada selain Allah yaitu yang disebut sebagai kakek mereka, sesuai firrman Allah I :
] ومن يعش عن ذكر الرحمن نقيض له شيطانا فهو له قرين وإنهم ليصدون عن السبيل ويحسبون أنهم مهتدون [
“Baragsiapa berpaling dari peringatan Dzat Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an) Kami ikatkan dengannya syaitan, maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan kebenaran dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zumar : 36-37).
Tidak aneh kalau syaitan-syaitan itu membantu mereka karena Nabi Sulaiman sendiri pernah ditawari jin bantuan untuk membawa singgasana Ratu Balqis, seperti dalam firman Allah :
] قال عفرت من الجن أن آتيك به قبل أن تقوم من مقامك وإني عليه قوي أمين [
“Maka berkata ifrit dari golongan jin : Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya dan dapat dipercaya.” (An-Naml : 39).
Masalah menusuk diri dengan batang besi bukan hanya dilakukan oleh ahli tasawwuf, tetapi juga dilakukan oleh orang kafir. Orang yang pernah berkelana ke India, seperti Ibnu Batutah, pernah menyaksikan sendiri bahwa orang Majusi juga malakukan perbuatan itu padahal mereka orang kafir. Jadi masalahnya bukan kekeramatan atau kewalian, tetapi hal perbuatan syaitan yang berkumpul di arena musik dan nyanyi, sebab pada umumnya orang yang berbuat demikian, adalah orang yang berbuat maksiat, bahkan terang-terangan melakukan perbuatan syirik seperti meminta kepada kakek mereka yang sudah meninggal. Bagaimana orang seperti ini dapat digolongkan sebagai wali dan orang yang mempunyai karomah? Allah berfirman :
] ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون الذين آمنوا وكانوا يتقون [
“Ingatlah sesunguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kehawatiran bagi mereka dan tidak pula bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yuus : 62-63).
Jelaslah bahwa wali itu ialah orang yang mu’min yang hanya memohon pertolongan kepada Allah saja dan selalu bertaqwa, jauh dari perbuatan maksiat dan syirik, yang kadang-kadang diberikan karomah oleh Allah tanpa diminta dan diperlihatkan kepada manusia.
NYANYIAN PADA MASA KINI
Kebanyakan nyanyian yang disajikan pada waktu pesta perkawinan, dan pesta-pesta lainnya mambicarakan perkara cinta, pacaran, ciuman, mempertunjukkan pipi, liuk badan yang membangkitkan birahi, mendorong perbuatan zina dan merusak akhlak.
Apabila demikian maka nyanyian yang keluar dari mulut penyanyi yang diiringi dengan musik bersatu menggaet harta manusia dengan mangatas namakan seni atau hiburan. Para penyanyi pergi ke Eropa membawa harta yang banyak, bersenang-senang membeli rumah, mobil dan merusak akhlak umat dengan nyanyian dan film-film sex mereka, sehingga banyak remaja yang kena fitnah dan mencintai mereka sampai lupa kepada Allah. Karena itu pula seorang penyiar radio di Cairo pada waktu perang dengan yahudi tahun 1967, untuk memberikan semangat kepada prajurit berseru :
“MAJU TERUS KAMU SEKALIAN BERSAMA PENYANYI POLAN DAN POLANAH AYO MAJU TERUS SAMPAI ORANG YAHUDI KEPARAT ITU HANCUR LEBUR”.
Semestinya ia berkata : “Maju terus, Allah senantiasa bersamamu”.
Ada lagi yang lucu, seorang biduan wanita mengumumkan bahwa bila kita menang katanya ia akan mengadakan perayaan bulanan yang biasanya diadakan di Cairo akan diadakan di Tel aviv, sebelum perang dengan yahudi tahun 1967. sedangkan orang yahudi setelah perang berdiri di atas “mabka” di Al-Quds mengadakan syukuran kepada Allah atas kemenangannya. (Mabka = dinding haikal sulaiman yang Yahudi suka menangis di sisinya).
Demikian inilah nyanyian saat sekarang, bahkan sampai nyanyian yang agamis pun tidak lepas dari kata-kata yang mungkar, seperti contoh di bawah ini :
وقيل كل نبي عند رتبته ويا محمد هذا العرش فاستلم
“Dikatakan bahwa setiap nabi ada pada kedudukannya, Hai Muhammad, inilah singgasana maka terimalah.”
Kata yang terakhir ini tidak benar, membuat dusta terhadap Allah dan Rasulnya.
FITNAH TERHADAP WANITA
KARENA SUARA YANG BAGUS
Barra’ Ibnu Malik t adalah seorang laki-laki yang bersuara bagus. Ia pernah melagukan syair dengan irama rajaz untuk Rasululloh r di salah satu perjalanan beliau. Di tengah-tengah ia berlagu dan berada dekat dengan kaum wanita, maka bersabdalah Rasululloh r kepadanya : “Berhati-hatilah terhadap kaum wanita!” maka berhentilah Barra’ (dari berlagu). Al-Hakim berkata : bahwa Rasululloh r tidak senang apabila kaum wanita mendengarkan suaranya. (Hadits shahih riwayat Al-Hakim, disetujui oleh Az-Zhabi).
Apabila Rasululloh menghawatirkan kaum wanita terkena fitnah karena mendengarkan lagu dengan suara bagus, maka bagaimana kira-kira sikap Rasululloh r bila mendengar suara para wanita jalang yang sudah rusak moralnya lewat radio yang disiarkan sekarang ini? Dan bagaimana pula bila mendengar panyanyi lawak dan cabul serta lagu-lagu cinta? Syair-syair yang menggambarkan pipi, ukuran dan bentuk badan, dan lain sebagainya yang menggugah nafsu birahi, dan menanggalkan rasa malu? Apalagi bila nyanyian tersebut diiringi dengan musik, yang bisa mengundang bahaya seperti bahaya arak?
HINDARILAH BERSIUL DAN BERTEPUK TANGAN
Firman Allah Ta’ala :
] وما كان صلاتهم عند البيت إلا مكاء وتصدية [
“Dan sholat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepuk tangan …” (A-Anfal : 35)
Hindarilah siulan dan tepuk tangan, karena hal itu menyerupai perbuatan kaum wanita, orang-orang fasik dan kaum musyrikin. Apabila anda merasa kagum terhadap seseuatu maka katakanlah : “Allahu Akbar Walillahil hamd” (Allah Maha Besar dan hanya miliknya segala puja dan puji).
NYANYIAN MENIMBULKAN KEMUNAFIKAN
1. Ibnu Mas’ud berkata : “Nyanyian menimbulkan kemunafikan dalam hati seperti air menumbuhkan sayuran, sedang zikir menumbuhkan iman dalam hati seperti air menumbuhkan tanaman.
2. Ibnul qayyim berkata : “ tidak seorang pun yang bisa mendengarkan nyanyian kecuali hatinya munafik yang ia sendiri tidak merasa. Andaikata ia mengerti hakekat kemunafikan pasti ia melihat kemunafikan itu di dalam hatinya, sebab tidak mungkin berkumpul di dalam hati seseorang antara dua cinta, yaitu cinta nyanyian dan cinta Al-Qur’an, kecuali yang satu mengusir yang lain. Sungguh kami telah membuktikan betapa beratnya Al-Qur’an di hati seorang penyanyi atau pendengarnya dan betapa jemunya mereka terhadap Al-Qur’an. Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang dibaca oleh pembaca Al-Qur’an, hatinya tertutup dan tidak bergerak sama sekali oleh bacaan tadi. Tetapi apabila mendengar nyanyian mereka segar dan cinta dalam hatinya. Mereka tampaknya lebih mengutamakan suara nyanyian daripada Al-Qur’an. Mereka yang telah terkena ekses nyanyian ternyata adalah orang-orang yang malas mengerjakan shalat, termasuk shalat berjamaah di masjid.
3. Ibnu Aqil, tokoh Ulama yang bermazhab Hambali berkata : “Apabila yang menyanyi adalah perempuan yang halal dikawini maka semua ulama yang semazhab dengannya sepakat bahwa mendengarkan suaranya adalah haram”.
4. Ibn Hazm menyatakan bahwa bagi orang Islam haram mendengarkan nyanyian perempuan yang halal dikawini, seperti penyanyi shobah, Umi kalsum dan lain-lain.
OBAT UNTUK MENGHINDARI NYANYIAN DAN MUSIK
1. Menjauhkan diri dari mendengarkan nyanyian dan musik lewat radio, telivisi dan lain-lainnya terutama yang cabul-cabul.
2. Obat yang paling manjur adalah membaca Al-Qur’an, terutama surat Al-Baqarah.
Sabda Rasululloh r :
إن الشيطان ينفر من البيت التي يقرأ فيه سورة البقرة. رواه مسلم
“Sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.: (riwayat Muslim).
Allah I berfirman :
] يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين [
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu palajaran dari Tuhanmu dan penyembuh dari penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang beriman.” (Yunus : 57).
3. Mempelajari riwayat hidup Rasululloh sebagai seorang yang berakhlak mulia dan sejarah para sahabatnya.
NYANYIAN YANG DIPERBOLEHKAN
1. Nyanyian hari raya. Aisyah meriwayatkan sebagai berikut :
دخل رسول الله r عليها وعندها جاريتان تضربان بدفين وفي رواية، وعندي جاريتان تغنيان فانتهرهما أبو بكر فقال رسول الله r دعهن فإن لكل قوم عيدا وإن عيدنا هذا اليوم. رواه البخاري.
“Rasululloh r masuk menemui Aisyah. Di dekatnya ada dua orang gadis yang sedang memukul terbang. Dalam riwayat lain dikatakan : di dekat saya ada dua orang gadis yang sedang menyanyi. Lalu Abu Bakar membentak mereka, maka Rasululloh r bersabda : biarkan mereka karena setiap kaum mempunyai Hari Raya dan Hari Raya kita adalah hari ini.” (riwayat Bukhari).
2. Nyanyian yang di iringi terbang pada waktu perkawinan dengan maksud memeriahkan atau mengumumkan akad nikah dan mendorong orang untuk nikah.
Sabda Nabi r :
فصل ما بين الحلام والحرام ضرب الدف والصوت في النكاح. رواه أحمد
“Yang membedakan antara halal (nikah) dan haram (zina) adalah memukul terbang dan lagu-lagu waktu akad nikah.” (riwayat Ahmad)
Nyanyian dan terbang dalam perkawinan adalah untuk kaum wanita.
3. Nasyid yang Islami pada waktu kerja yang mendorong untuk giat dan rajin bekerja terutama bila mengandung do’a.
Rasululloh r pernah menirukan ucapan Ibnu Rawahah dan memberi semangat kepada para sahabat dalam menggali “khandaq” (parit)
اللهم لا عيش إلا عيش الآخرة فاغفر الأنصار والمهاجرة
“Ya Allah, tidak ada hidup ini kecuali hidup di akhirat kelak, maka ampunilah ya Allah, sahabat Anshar dan Muhajirin.”
Sahabat Anshar dan Muhajirin lalu menjawab :
نحن الذين بايعوا محمدا على الجهاد ما بقينا أبداً
“Kita adalah orang yang telah membaiat Muhammad untuk berjihad terus selama hayat di kandung badan.”
Kemudian Rasululloh r bersama para sahabat ketika menggali khandaq menirukan ucapan Ibnu Rawahah :
والله لو لا الله ما اهتدينـا ولا صمنا ولا صلينا
فـأنزلن سكينـة علينـا وثبت الأقدام إن لاقينا
والمشركون قد بغوا علينا إذا أرادوا فتنة أبينا
“Demi Allah seandainya tidak karena Engkau ya Allah, kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak puasa dan tidak shalat.
Maka benar-benar turunkanlah kepada kami ketenangan dan teguhkanlah tapak kaki kami apabila kami berhadapan dengan musuh.
Orang musyrik sungguh telah menganiaya kita, apabila mereka berbuat fitnah kamipun menolaknya.”
4. Syair yang berisi tauhid atau cinta kepada Rasululloh dan yang menyebut akhlaknya atau berisi ajakan jihad, memperbaiki budi pekerti, mengajak persatuan, tolong-menolong sesama umat, menyebut dasar-dasar Islam, berisi hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan lain sebagainya.
5. Terbang dan alat musik kecapi hanya dibolehkan pada waktu hari raya dan perkawinan untuk kaum wanita dan tidak bolah dipakai pada waktu berzikir, karena Rasululloh dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya.
Para ahli shufi membolehkan terbang utuk diri mereka pada waktu berzikir dan menjadikannya sunnah, padahal sebenarnya adalah bid’ah.
Rasululloh r bersabda :
إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة.
“Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (riwayat Turmudzi, katanya : hasan shahih).
HUKUM GAMBAR DAN PATUNG
DALAM ISLAM
Islam bangkit untuk seluruh umat manusia agar beribadah kepada Allah saja, dan menghindarkannya dari penyembahan kepada selain Allah seperti para wali dan orang sholeh yang dilukiskan dalam patung dan arca-arca. Ajakan seperti ini sudah lama terjadi sejak Allah mengutus Rasul-rasulnya untuk memberikan petunjuk kepada manusia.
Firmannya :
] ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت [
“Sesunguhnya kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (yang berseru) sembahlah Allah dan tinggalkan thaghut itu.” (An Nahl : 36).
Thaghut : ialah segala sesuatu selain Allah yang disembah dengan rela hatinya.
Patung-patung itu telah disebut dalam surah Nuh. Dalil yang paling jelas mengenai patung sebagai gambar orang shalih adalah hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah :
] وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا(23) وقد أضلوا كثيرا [
Dan mereka berkata : “Dan jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula meninggalkan “wadd, suwa, yaghuts, ya’uq dan nasr, dan sungguh mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia.” (Nh : 23-24).
Kata Ibnu Abbas : “itu semua adalah nama-nama orang shaleh dari kaum Nabi Nuh u, ketika mereka mati setan membisiki mereka agar membuat patung-patung mereka di tempat-tempat duduk mereka dan memberi nama patung-patung itu dengan nama-nama mereka. Kaum itu melaksanakannya. Pada waktu itu belum disembah, setelah mereka mati dan ilmu sudah dilupakan, barulah patung-patung itu disembah orang.”
Kisah ini memberikan pengertian bahwa sebab penyembahan selain Allah, adalah patung-patung pemimpin suatu kaum. Banyak orang yang beranggapan bahwa patung, gambar-gambar itu halal karena pada saat ini tidak ada lagi yang menyembah patung. Pendapat itu dapat dibantah sebagai berikut :
1. Penyembahan patung masih ada pada saat ini, yaitu gambar Isa dan bunda Maryam di gereja-gereja sehiggga orang Kristen menundukkan kepala kepada salib. Banyak juga gambar Isa itu dijual dengan harga tinggi untuk diagungkan, digantungkan di rumah-rumah dan sebagainya.
2. Patung para pemimpin negara maju dalam materi tetapi mundur di bidang rohani, bila lewat di depan patung membuka topinya sambil membungkukkan punggungnya seperti George Washington di Amerika, patung Napoleon di prancis, patung Lenin dan Stalin di rusia dan lain-lain.
Ide membuat patung ini menjalar ke negara-negara Arab. Mereka membuat patung di pinggir-pinggir jalan meniru orang kafir dan patung-patung itu masih dipasang di negeri arab maupun di negeri Islam lainnya. Alangkah baiknya jika dana untuk membuat patung itu dipergunakan untuk membangun masjid, sekolah, rumah sakit santunan sosial yang lebih bermanfaat.
3. patung-patung semacam itu lama-kalamaan akan disembah orang seperti yang terjadi di Eropa dan Turki. Mereka sebenarnya telah ketularan warisan kaum Nabi Nuh yang mempelopori pembuatan patung pamimpin-pemimpin mereka yang pada mulanya hanya sekedar kenang-kenangan penghormatan kepada pemimpinnya yang akhirnya berubah mejadi sesembahan.
4. Rasululloh r sungguh telah memerintahkan Ali bin Abi Tholib dengan sabdanya :
لا تدع تمثالا إلا طمسته ولا قبرا مشرفا إلا سويته. رواه مسلم.
“Jangan kau biarkan patung-patung itu sebelum kau hancurkan dan jangan pula kau tinggalkan kuburan yang menggunduk tinggi sebelum kau ratakan.” (riwayat Muslim).
BAHAYA GAMBAR DAN PATUNG
Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali ada bahaya yang mengancam agama, akhlak dan harta manusia. Orang Islam yang sejati adalah yang tanpa reserve menerima perintah Allah dan Rasulnya meskipun belum mengerti sebab atau alasan perintah Allah tersebut. Agama melarang patung dan gambar karena banyak mendatangkan bahaya seperti :
1. Dalam agama dan aqidah : patung dan gambar merusak aqidah orang banyak seperti orang Kristen menyembah patung Isa dan bunda Maryam serta salib. Orang Eropa dan Rusia menyembah patung pemimpin mereka, menghormati dan mengagungkannya. Orang-orang Islam telah meniru orang eropa membuat patung pemimpin mereka baik di negeri Islam Arab maupun bukan Arab. Para Ahli tariqat dan tasawwuf kemudian membuat pula gambar guru-guru mereka yang diletakkan di muka mereka pada waktu shalat dengan maksud menerima bantuan kepada patung atau gambar untuk mengkhusyu’kan shalatnya.
Demikian pula yang diperbuat oleh para pencinta nyanyian. Mereka menggantungkan gambar para penyanyi untuk diagungkan. Begitu pula para penyiar radio pada waktu perang dengan yahudi tahun 1967 berteriak :
“maju terus ke depan, penari polan dan polanah bersamamu,” seharusnya ia berseru :
“Maju terus, Allah bersamamu.”
Karena itu maka tentara Arab kalah total, sebab Allah tidak membantu mereka. Demikian juga penari-penyanyi yang mereka sebut-sebut pun tidak kunjung memberikan bantuan apapun.
Harapanku semoga bangsa Arab mengambil pelajaran dari kakalahan ini dan segera bertaubat agar Allah menolong mereka.
2. Adapun bahaya gambar dalam merusak akhlak generasi muda sangat nyata. Di jalan-jalan utama terpampang gambar-gambar penari telanjang yang memang sangat digandrungi oleh mereka, sehingga dengan sembunyi atau terang-terangan mereka berbuat keji yang merusak akhlak mereka. Mereka sudah tidak lagi mau memikirkan agama dan negara, jiwa kesucian, kehormatan dan jihad sudah luntur dari jiwa mereka.
Demikianlah gambar-gambar itu menghias poster-poster, majalah dan surat kabar, buku iklan bahkan di pakaian pun gambar porno itu sudah dipasang orang, belum lagi apa yang disebut blue film.
Ada lagi model karikatur yang memperjelek gambar makhluk Allah dengan hidung panjang, kuping lebar dan sebagainya, padahal Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling bagus.
3. Adapun secara material bahaya gambar sudah jelas dan tidak perlu dalil lagi. Patung-patung itu dibuat dengan biaya mahal sampai jutaan rupiah, dan banyak orang membelinya untuk digantung di dinding rumah, demikian pula lukisan-lukidan orang tua yang telah meninggal dibuat dengan biaya yang tidak sedikit, yang apabila disedekahkan dengan niat agar pahalanya sampai kepada almarhum akan lebih bermanfaat baginya.
Yang lebih jelek lagi adalah gambar seorang laki-laki bersama isterinya waktu malam perkawinan dipasang di rumah agar orang melihatnya. Ini seakan-akan isterinya itu bukan miliknya sendiri tetapi milik setiap orang yang melihat.
APAKAH HUKUMNYA GAMBAR SEPERTI PATUNG
Sebagian orang menyangka bahwa hukum haram itu untuk patung saja seperti yang terdapat pada zaman jahiliyah, tidak mencakup hukum gambar. Pendapat ini asing sekali karena seolah-olah ia belum pernah membaca nash-nash yang mengharamkan gambar seperti di bawah ini :
1-
عن عائشة رضي الله عنها أنها اشترت نمرقة فيها تصاوير فلما رآها رسول الله r قام على الباب لم يدخل فعرفت في وجهه الكراهية فقالت : يا رسول الله أتوب إلى الله وإلى رسوله فبماذا أذنبت فقال رسول الله r : ما بال هذه النمرقة فقالت : اشتريتها لتقعد عليها وتوسدها فقال رسول الله r : إن أصحاب هذه التصاوير يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم ثم قال : إن البيت الذي فيه الصور لا تدخله الملائكة . متفق عليه
“Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ia membeli bantal kecil buat sandaran yang ada gambarnya-gambarnya. Ketika Rasululloh r melihatnya beliau berdiri di pintu tidak mau masuk maka ia mengetahui ada tanda kebencian di muka Rasululloh dari Aisyah pun berkata : aku bertaubat kepada Allah dan Rasulnya, apakah gerangan dosa yang telah kuperbuat? Rasulullah menjawab : bagaimana halnya bantal itu? Aisyah menjawab, Saya membelinya agar engkau duduk dan bersandar . kata Rasululloh sesungguhnya orang yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat seraya dikatakan kepada mereka : hidupkanah gambar-gambar yang kamu buat itu. Sungguh rumah yang ada gambar ini di dalamnya tidak dimasuki Malaikat.” (riwayat Bukhari Muslim)
2.Sabda Rasululloh pula :
أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهئون بخلق الله (الرسام والمصورن يشابهون خلق الله). متفق عليه.
“Manusia yang paling pedih siksaannya di hari kiamat ialah yang meniru Allah menciptakan makhluk (pelukis, penggambar adalah peniru Alah dalam menciptakan makhluknya).” (Riwayat Bukhari Muslim)
3.
أن النبي r لما رأى الصور في البيت لم يدخل حتى محيت. رواه البخاري
“Nabi r ketika melihat gambar di rumah tidak mau masuk sebelum gambar itu dihapus” (riwayat Bukhari).
4.
نهى الرسول r عن الصور في البيت ونهى الرجل أن يصنع ذلك. رواه الترمذي
“Rasululloh melarang gambar-gambar di rumah dan melarang orang berbuat demikian.” (riwayat Turmudzi).
GAMBAR DAN PATUNG YANG DIPERBOLEHKAN
1. Gambar dan lukisan pohon, binatang matahari, bulan, gunung, batu, laut, sungai, tempat-tempat suci seperti masjid, Ka’bah yang tidak memuat gambar orang dan binatang, pemandangan yang indah. Dalilnya adalah kata Ibnu Abbas t :
إن كنت لا بد فاعلا فاصنع الشجر وما لا نفس له. رواه البخاري
“Apabila anda harus membuat gambar, gambarlah pohon atau sesuatu yang tidak ada nyawanya.” (riwayat Bukari).
2. Foto yang dipasang di kartu pengenal seperti paspor, SIM, dan lain-lain yang mengharuskan adanya foto. Semuanya itu dibolehkan karena darurat (keperluan yang tidak bisa ditinggalkan).
3. Foto pembunuh, pencuri, penjahat agar mereka dapat ditangkap untuk dihukum.
4. Barang mainan anak perempuan yang dibuat dari kain sebangsa boneka berupa anak kecil yang dipakaikan baju dan sebagainya dengan maksud untuk mendidik anak perempuan rasa kasih sayang terhadap anak kecil. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :
كنت ألعب بالبنات عند النبي r. رواه البخاري
“Saya bermain-main dengan boneka berbentuk anak perempuan di depan Nabi r.” (riwayat Bukhari).
Tidak boleh membeli mainan negara asing untuk anak-anak, terutama mainan yang membuka aurat sebab anak-anak akan menirunya yang berakibat merusak akhlak serta pemborosan dengan membelanjakan kekayaan untuk negara asing dan negara yahudi.
5. Diperbolehkan gambar yang dipotong kepalanya sehingga tidak menggambarkan makhluk bernyawa lagi seperti benda mati.
Malaikat Jibril berkata kepada Rasululloh mengenai gambar : “Perintahkanlah orang untuk memotong kepala gambar itu, dan perintahkanlah untuk memotong kain penutup (yang ada gambarnya) supaya dijadikan dua bantal yang dapat diduduki.” (shahih, riwayat Abu Daud).
APAKAH MENGISAP ROKOK ITU HARAM?
Rokok memang tidak ada pada zaman Nabi r tetapi Islam datang membawa kaidah-kaidah umum yang melarang segala sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi badan atau menyakiti tetangga atau menyia-nyiakan harta. Firman Allah I :
1.
] ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث [
“Dan Rasul menghalalkan yang baik bagi mereka serta mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-A’raf : 157).
Rokok termasuk yang buruk dan membahayakan, tak sedap baunya.
2.
] ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة [
“Dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah : 195).
Rokok mengakibatkan penyakit yang membinasakan seperti kanker, paru-paru dan lain sebagainya.
3.
] ولا تقتلوا أنفسكم [
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (An-Nisa: 29)
Rokok membunuh secara perlahan-lahan.
4.
] وإثمهما أكبر من نفعهما [
“Dosa keduanya (arak dan judi) lebih besar dari manfaatnya.” (Al-Baqarah : 219).
Rokok bahayanya lebih besar daripada manfaatnya.
5.
]وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا(26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِي[نِ (27) سورة الإسراء
“Janganlah menghambur-hamburkan (hartamu) dengan boros sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan.” (Al-Isra’ : 26).
6. Rasululloh r bersabda :
لا ضرر ولا ضرار
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain.”
Rokok membahayakan si perokok, mengganggu tetangga dan membuang-buang harta.
7. Sabda Rasululloh r :
وكره (الله) لكم إضاعة المال. متفق عليه
“Allah membenci untukmu perbuatan menyia-nyiakan harta.” (riwayat Bukhari Muslim).
Merokok adalah menyia-nyiakan harta, dibenci oleh Allah.
8. Sabda Rasululloh r :
إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير. متفق عليه
“Perumpamaan kawan duduk yang baik dengan kawan duduk yang jelek ialah seperti pembawa minyak wangi dengan peniup api tukang besi.” (riwayat Bukhari Muslim).
Perokok adalah kawan duduk yang jelek yang meniup api.
9.
من تحسى سما فقتل نفسه فسمه في يده يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا. رواه مسلم
“Barangsiapa menghirup racun hingga mati maka racun itu akan berada di tangannya dihirupnya di neraka jahannam selama-lamanya.” (riwayat Muslim).
Rokok mengandung racun (nikotin) yang membunuh peminumnya perlahan-lahan dan menyiksanya.
10. sabda Rasululloh r :
من أكل ثوما أو بصلا فليعتزلنا وليعتزل مسجدنا وليقعد بيته. متفق عليه
“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah hendaknya menyingkir dari kita dan menyingkir dari masjid dan duduklah di rumahnya.” (riwayat Bukhari Muslim)
Rokok lebih busuk baunya daripada bawang putih atau bawang merah.
11. Sebagian besar ahli fiqih mengharamkan rokok. Sedang yang tidak mengaharamkan belum melihat bahayanya yang nyata ialah penyakit kanker.
12. Apabila orang membakar uang satu lira, kita pasti mengatakannya orang gila. Bagaimana orang membakar rokok yang harganya ratusan lira yang berakibat membahayakan dirinya serta para tetangganya?
Dari semua hadits maupun ayat Al-Qur’an tersebut di atas jelas bahwa rokok termasuk di antara semua yang negativ dan membahayakan pengisapnya juga tetangganya.
Apakah anda masih termasuk orang yang beragama dan berperasaan?
Apabila rokokmu membuat orang terganggu dan mengotori udara maka mengotori udara hukumnya haram seperti halnya mengotori air yang dapat membahayakan orang.
Andaikata kita bertanya kepada orang yang mengisap rokok, apakah rokokmu itu akan dimasukkan dalam amal baik ataukah amal buruk? Ia pasti menjawab bahwa itu termasuk dalam amal buruk.
13. Memohonlah kamu kepada Alah agar bisa meninggalkan rokok, karena barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Dia akan memberikan pertolongan dan bersabarlah kamu karena Allah beserta orang yang sabar.
PARA MUJTAHID BERPEGANG PADA HADITS
Setiap imam empat y melakukan ijtihad sesuai dengan hadits yang telah sampai kepadanya, maka terjadinya perbedaan pendapat antara mereka bisa jadi dikarenakan ada imam yang sudah mendengar hadits tertentu sementara imam yang lain belum mendengar hadits tersebut. Hal itu disebabkan hadits-hadits waktu itu belum ditulis dan para penghafal hadits telah berpencar-pencar, ada yang di Hijaz, Syam, Irak, Mesir dan di negeri-negeri Islam lainnya mereka hidup di suatu zaman di mana transportasi sangat sulit. Untuk itu kita lihat imam Syafi’i telah meninggalkan pendapatnya yang lama ketika pindah ke Mesir dari Irak dan memperhatikan hadits-hadits yang baru didengar.
Ketika kita melihat imam syafi’i berpendapat bahwa wudhu bisa batal karena menyentuh wanita sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu’ maka kita harus kembali kepada hadits Rasululah sesuai dengan firman Allah I :
] فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيل[اً (59) سورة النساء
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’ : 59).
Karena kebenaran tidak mungkin lebih dari satu, sehingga tidak mungkin hukum menyentuh wanita itu membatalkan wudhu’ dan tidak membatalkannya. Padahal Rasululloh r -dan beliau adalah sebaik-baik penafsir Al-Qur’an- pernah menepiskan Aisyah dengan tangannya dan memegang kaki Aisyah padahal beliau sedang sakit. (riwayat Bukhari). Jika imam Syafi’i mendengar hadits ini atau jika hadits tersebut dianggap sahih, maka ia tidak akan mengatakan bahwa wudhu’ batal karena menyentuh lain jenis, sebagaimana ia telah mengatakan : “Jika suatu hadits itu shahih maka itulah mazhab saya.”
Dan kita juga tidak diperintah kecuali mengikuti Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah dan keterangan-keterangan Rasululah dengan hadits-hadits sahihnya, sebagaimana firman Allah :
] اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ[ (3) سورة الأعراف
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran dari padanya.” (Al-A’raf : 3).
Maka seorang muslim yang mendengarkan hadits shahih tidak boleh menolaknya karena itu bertentangan dengan mazhab imam Syafi’i. Para imam mazhab telah melakukan Ijma’ untuk mengambil hadits sahih dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengan hadits sahih tersebut.
Akibat dari fanatisme mazhab tentang batalnya wudhu’ karena menyentuh wanita telah menyebabkan orang saling mengambil gambaran yang jelek tentang Islam. Salah seorang ahli Makkah menceritakan kepada saya bahwa ia pernah melihat suatu majalah di Jerman yang menulis suatu judul dengan tulisan yang menyolok : “Islam menganggap wanita sebagai suatu hal yang najis seperti halnya anjing.” Mereka mengatakan demikian setelah mendengar bahwa orang-orang Islam mencuci tangannya jika menyentuh wanita, sehingga mereka memahami bahwa wanita adalah najis. Padahal jika mereka tahu bahwa Rasululloh r pernah mencium seorang isterinya kemudian langsung shalat tanpa wudhu’ tentu tidak akan mengatakan perkataan pedas tersebut yang justru bukan dari Islam. Fanatisme mazhab yang serupa telah membuat tabir antara orang kafir dan Islam yang tidak dapat mereka masuki dan menganggap bahwa Islam melihat wanita sebagai suatu hal yang najis seperti najisnya anjing.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- menyebutkan dalam bukunya “Raf’ul Malaam ‘An Aimmatil A’lam” hal-hal yang baik tentang para imam tersebut dan barangsiapa yang salah di antara mereka akan mendapat satu pahala dan jika benar memdapatkan dua pahala, dan itu dilakukan setelah berijtihad. Semoga Allah mengasihi para imam dan memberinya pahala.
BEBERAPA PENDAPAT IMAM MAZHAB TENTANG HADITS
Berikut ini disebutkan beberapa pendapat imam mazhab yang dapat menjelaskan kebenaran kepada para pengikut mereka :
Imam Abu Hanifah, yang ajaran-ajaran fiqihnya menjadi pijakan orang, berkata :
1. Tidak boleh seseorang mengambil pendapat kami sebelum tahu dari mana kami mengambilnya.
2. Haram bagi yang tidak mengetahui dalil saya kemudian memberi fatwa dengan kata-kata saya, karena saya adalah manusia biasa, yang sekarang bicara sesuatu dan besok tidak bicara itu lagi.
3. Jika saya mengucapkan pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an serta hadits Nabi r maka tinggalkanlah perkataan saya.
4. Ibnu Abidin berkata dalam bukunya : “Jika hadits itu shahih dan bertentangan dengan mazhab, maka haditslah yang dipakai dan itulah mazhabnya dan dengan mengikuti hadits itu tidak berarti penganutnya telah keluar dari pengikut hanafi. Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau pernah berkata : “Jjika hadits itu benar maka itulah mazhab saya.”
Imam Malik, imam orang-orang Madinah, berkata :
1. Sesungguhnya saya adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikan secara kritis pendapatku, yang sesuai dengan kitab dan sunnah ambillah, dan setiap pendapat yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah tinggalkanlah.
2. Setiap orang sesudah Nabi bisa diambil ucapannya dan bisa ditinggalkan, kecuali Nabi.
Imam Syafi’i dari keluarga Ali Bait, berkata :
1. Setiap orang ada yang pendapatnya sesuai dengan sunah Rasululloh dan ada yang tidak sesuai, meskipun saya berkata dengan suatu pendapat atau berdasarkan sesuatu pandapat dari Rasululloh r tapi kenyataanya bertentangan dengan ucapan Rasululloh, maka pendapat yang benar adalah ucapan Rasululloh dan itulah pendapat saya.
2. Orang-orang Islam telah melakukan Ijma’ bahwa barangsiapa yang jelas baginya dalil berupa sunah Rasululah, maka tidak dihalalkam bagi seorangpun untuk meninggalkannya karena ucapan orang lain.
3. Jika kamu mendapatkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah dalam buku saya maka ikutilah ucapan Rasululloh dan itulah pendapat saya juga.
4. Beliau berkata pada Imam Ahmad bin Hambal :”Anda lebih pandai dari saya tentang hadits dan keadaan para perawi hadits, jika anda tahu bahwa sesuatu hadits itu sahih maka beritahukan kepada saya sehingga saya akan berpendapat dengan hadits itu.”
5. Setiap masalah, yang mempunyai dasar hadits sahih menurut para ahli hadits, dan bertentangan dengan pendapat saya maka saya akan kembali pada hadits tersebut selama hidup saya atau sesudah mati.
Imam Ahmad bin Hambal, imam para pengikut ahli sunnah, berkata :
1. Jangan engkau bertaklid kepadaku atau Imam Malik, atau Imam syafi’i atau Imam Auza’i atau Imam Ats-Tsauri tapi ambillah dari mana asal mereka ambil.
2. Barangsiapa menolak hadits Rasululloh, maka ia berada di tepi kehancuran.
CAMKANLAH HADITS-HADITS BERIKUT INI :
1. Tidak akan datang hari kiamat sehingga orang-orang Islam memerangi dan membunuh orang-orang yahudi. (riwayat Muslim).
2. Barangsiapa berperang dengan tujuan agar agama Allah berjaya di dunia, maka ia berperang di jalan Allah. (riwayat Bukhari).
3. Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan perbuatan yang dimurkai Allah, maka Allah akan membiarkan dan menyerahkan orang itu kepada mereka. (riwayat Turmudzi).
4. Barangsiapa meninggal dalam keadaan musyrik maka ia akan masuk neraka. (riwayat Bukhari).
5. Barangsiapa menyembunyikan ilmunya maka Allah akan memasang sumbu api pada dirinya. (riwayat Ahmad).
6. Barangsiapa bermain gundu (sejenis judi) maka seakan-akan ia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi. (riwayat Muslim).
7. Bermula Islam itu asing dan kelak akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing, yaitu orang yang melestarikan sunnahku yang sudah dirusak oleh manusia. (riwayat Muslim dan Turmudzi).
8. Maka berbahagialah orang-orang yang asing, yaitu orang-orag yang shaleh yang hidup di tengah orang banyak yang busuk perangainya, di mana orang yang menyalahi mereka lebih banyak daripada orang yang menuruti mereka. (riwayat Ahmad).
9. Tidak boleh taat kepada pemimpin dalam hal ma’siat kepada Allah karena kewajiban taat hanya dalam urusan yang baik. (riwayat Bukhari).
10. Tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu, apabila berbicara ia bohong, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat ia khianat. (riwayat Buhari Muslim).
KERJAKANLAH APA YANG DIAJARKAN
RASULULLOH r KEPADAMU
1. Allah melaknat wanita yang mencabut rambut alis mata dan wanita yang meminta dicabuti rambut aslinya yang mengubah ciptaan Allah. (hadits muttafaq alaih).
2. Wanita yang berpakaian tapi sebenarnya telanjang untuk mencari perhatian laki-laki, yang melenggok-lenggokkan tubuhnya, yang kepalanya seperti punuk unta, mereka itu tidak akan masuk surga. (riwayat Hakim).
3. Bertakwalah kepada Allah dan ambillah yang baik dalam mencari rezki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram). (riwayat Muslim).
4. Pelankanlah suaramu dalam berzikir dan berdo’a, karena kamu tidak memohon kepada Tuhan yang tuli dan tidak ada. (riwayat Muslim).
5. Orang yang paling pedih musibahnya di dunia ini ialah para Nabi kemudian orang-orang shaleh. (riwayat Ibnu Majah).
6. Sambunglah kembali persaudaraanmu terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk terhadapmu dan katakanlah yang hak itu sekalipun akan merugikan dirimu sendiri. (riwayat Ibnu An-Najjar).
7. Celakalah orang yang memperbudak dirinya kepada uang dan harta. Apabila ia diberi harta ia puas dan apabila tidak diberi ia mengeluh. (riwayat Bukhari).
8. Maukah kamu saya beri tahu tentang sesuatu yang apabila kamu kerjakan kamu akan saling menyayangi? Budayakanlah ucapan salam di antaramu. (riwayat Muslim).
9. Hiduplah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang mengadakan perjalanan. (riwayat Muslim).
10. Barangsiapa mencari keredhaan Allah dengan resiko ia akan dibenci oleh manusia, Allah akan memberi kecukupan kepadanya dari segala kebutuhannya kepada manusia.
11. Janganlah seseorang menyuruh berdiri orang lain kemudian ia duduk di tempat orang itu, tetapi perluaslah tempat duduk itu (dibuatkan lowongan) sehingga ia dapat duduk tanpa memindahkan orang lain. (riwayat Muslim).
12. Apa yang memabukkah jika banyak, maka sedikitnya pun adalah haram hukumnya. (shahih, riwayat Abu Daud dan periwayat lainnya).
JADILAH KAMU SEKALIAN HAMBA ALLAH YANG BERSAUDARA
Rasululloh r bersabda :
لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تحسسوا ولا تنافسوا ولا تجسسوا ولا تناجشوا ولا تهاجروا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا كما أمركم، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره، التقوى ههنا x3 ويشير إلى صدره، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم حرام دمه وعرضه وماله، إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث، إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم.
“Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarakannya dan tidak boleh menghinanya.
Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh r sambil menunjuk dadanya.
Cukup merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta.
Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari).
HADITS-HADITS NABI r TENTANG ORANG ISLAM
1.
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده. متفق عليه
“Orang muslim yang sejati adalah orang, yang mana orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan dan perbuatannya.” (riwayat Bukhari dan Muslim).
2.
سباب المسلم فسوق وقتاله كفر. رواه البخاري
“Mencaci orang Islam adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran.” (riwayat Bukhari).
3.
غط فخذك فإن فخذ الرجل من عورته.
“Tutuplah pahamu, karena sesungguhnya paha seorang laki-laki termasuk auratnya.” (hadits shahih riwayat Ahmad).
4.
ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذيء. رواه مسلم
“Bukan orang mukmin yang sempurna, yang suka mencemarkan kehormatan, mengutuk, buruk akhlak dan yang berbicara kotor.” (riwayat Muslim).
5.
من حمل علينا السلاح فليس منا. رواه مسلم
“Barangsiapa mengangkat senjata untuk menyerang kita, maka ia bukan golongan kita.” (riwayat Muslim).
ومن غش فليس منا. رواه الترمذي
“Barangsiapa menipu maka ia bukan golongan kita.” (riwayat Turmudzi).
6.
من يحرم الرفق يحرم الخير. رواه مسلم
“Barangsiapa terhalangi dari kelemah-lembutan maka ia tertutup dari segala kebaikan.” (riwayat Muslim).
7.
من أحب أن يتمثل له الناس قياما فليتبوأ مقعده من النار. رواه أحمد
“Barangsiapa senang manusia berdiri untuk menghormatinya, maka hendaklah ia memesan tempat di neraka.” (riwayat Ahmad).
8.
لعن رسول الله r الراشي والمرتشي. رواه الترمذي
“Rasululloh r mengutuk orang yang memberi dan menerima suap.” (riwayat Turmudzi).
9.
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار. رواه البخاري
“Kain yang lebih rendah (melebihi) mata kaki, maka masuk neraka.” (riwayat Bukhari).
10.
إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء بهما أحدهما. رواه البخاري
“Apabila seorang berkata kepada saudaranya : “ya kafir” maka kata-kata itu teralisasi pada salah satu di antara keduanya .” (riwayat Bukhari).
11.
لا تقول للمنافق سيدنا فإنه إن يك سيدكم فقد أسخطتم ربكم عز وجل. رواه أحمد
“Janganlah kamu berkata kepada orang munafik “sayiduna” (Tuan kami” karena apabila ia ternyata menjadi tuan bagimu, maka kamu berarti telah membuat murka Robb kalian Yang Maha Perkasa dan Agung.” (riwayat Ahmad).
12.
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله. رواه مسلم.
“Masih ada sekelompok dari umatku yang selalu tegak dalam kebenaran. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang tidak memperhatikan mereka sehingga datang perintah Allah (hari kiamat).” (riwayat Muslim).
ISLAM MENGANGKAT DERAJAT WANITA
Islam memuliakan derajat wanita dengan jalan menjadikan mereka sebagai pendidik generasi mendatang dan menggantungkan baik atau buruknya umat kepadanya. Islam mewajibkan wanita menutup aurat untuk menyelamatkan mereka dari tangan-tangan jahil dan menghindarkan masyarakat dari ekses-ekses negatif. Perlu ditambahkan bahwa yang demikian itu menciptakan rasa kasih sayang antara suami isteri. Sebab laki-laki yang melihat perempuan yang lebih cantik daripada isterinya dapat menimbulkan gangguan yang bisa berakibat perceraian.
Allah I berfirman :
] يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين [
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin agar mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mrreka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Al-Azab :59).
1. Anne Bizan, tokoh wanita internsional berkata : “Seringkali datang menghinggappi fikiran saya bahwa wanita dalam naungan Islam lebih merdeka (bebas) daripada di agama-agama lain. Sebab Islam banyak menjaga hak-hak wanita jika dibandingkan dengan agama lain yang melarang poligami. Demikian pula ajaran Islam lebih adil bagi wanita dan lebih menjamin kebebasannya. Sedang wanita di Inggris tidak memperoleh hak milik kecuali sejak 20 tahun yang lalu saja padahal Islam telah menentukan hak milik bagi wanita sejak datangnya agama Islam yang pertama sekali. Adalah omong kosong kalau dikatakan bahwa Islam mengangap wanita sebagai orang yang tidak bernyawa.”
2. Ia juga berkata : “Bila kita timbang secara adil maka poligami secara Islam, yang menjaga, melindungi, memberi makan, pakaian dan perhatian kepada wanita adalah lebih baik daripada prostitusi ala barat yang membolehkan laki-laki melampiaskan syahwatnya pada wanita kemudian wanita itu dibuang di jalanan.
3. Franzoa Sagan, seorang orientalis berkata : hai wanita timur, ketahuilah bahwa orang yang memanggil namamu dan mengajakmu beremansipasi dengan laki-laki sebenarnya adalah orang-orang yang mentertawakan kami sebelum kamu.
4. Fon harmer brekata : Menutup aurat bagi wanita adalah alat untuk menjaga kehormatannya serta martabat yang didambakannya.
SEBAGIAN PENDAPAT PARA ORIENTALIS TENTANG ISLAM
Filosof Bernard Show berkata : sesungguhnya aku menyimpan segala penghargaan terhadap agama Muhammad karena kevitalannya yang menakjubkan. Ia adalah satu-satunya agama yang mempunyai kekuatan hebat kerena seseuai dengan jalan hidup yang senantiasa berubah-ubah, dan dapat diterapkan di semua masa. Aku sungguh telah mempelajari kehidupan lelaki yang sangat mengagumkan itu. Seharusnya ia diberi gelar “PENYELAMAT MANUSIA” , yang sama sekali tidak bertentangan dengan Isa Almasih. Saya yakin kalau orang seperti ia diberi taufik dalam memecahkan semua kesulitan, yang dapat membawa dunia ini kepada kebahagiaan, tentram dan damai yang sangat didambakan umat manusia dewasa ini. Sungguh saya mempunyai ramalan bahwa di masa datang orang Eropa akan menerima ajaran Muhammad ini dan sekarang hal itu sudah mulai terjadi.
KISAH MASUK ISLAMNYA SEORANG AMERIKA
Di Amerika Serikat banyak orang yang sedang membahas tentang jalan hidup baru. Ada yang cenderung kepada jalan hidup yang di ajarkan Islam, ada yang memilih cara hidup yang digariskan oleh agama Kristen, Budha atau Hindu. Kesimpulan mereka adalah perlu adanya jalan yang dibimbing oleh Tuhan. Tetapi di sana sedikit sekali orang yang dapat menjelaskan bahwa Islam merupakan jalan yang dipilihkan Allah untuk kita.
1. Semula perhatianku kucurahkan untuk mempelajari agama budha saya ingin menjadi pendeta budha. Setelah saya memperbandingkan agama itu di suatu perguruan tinggi, perhatian saya tertuju kepada Islam. Setelah selesai di perguruan tinggi saya belajar di negeri Belanda bersama dua orang teman. Satu dari teman itu adalah mahasiswa dari Yordan dan yang satu lagi Jerman. Yang kedua ini sudah agak tua dan mempunyai kedudukan terhormat. Ia sudah 30 tahun mencurahkan hidupnya di negeri Belanda untuk Allah. Akibat pengaruh dua teman inilah saya masuk Islam tanpa memperhatikan kebaikannya atau efeknya, bahkan saya merasa puas dan mengakui bahwa Muhammad r sebenarnya adalah utusan Allah dan apabila saya berpaling dari perintah Allah dan utusannya maka Allah juga akan berpaling dari saya.
2. Lima tahun dari umurku yang terahir ini saya habiskan di Amerika dan sebagiannya di dunia Arab, sehingga sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa saya cinta dan menghargai agama Islam. Saya mengambil pelajaran daripadanya mengenai bagaimana agama Islam ini menggambarkan kehidupan manusia dan menjadikannya suatu kehidupan yang suci yang penuh berkah.
Sungguh suatu tragedi yang sangat menyedihkan jika saya melihat banyak di antara umat Islam yang sudah hilang kepercayaannya terhadap Islam, di mana rakyat dan pemerintahnya membebek Amerika dan negara-negara barat. Sementara orang-orang Amerika dan orang-ornag barat sendiri telah putus asa dan kecewa terhadap tradisi, peraturan dan kepercayaan mereka. Berjuta-juta orang di dunia Arab ingin meniru dan mengambil pelajaran dari sana, padahal berjuta-juta orang Amerika mengakui bahwa negara dan rakyat mereka makin hari makin buruk dan semakin hancur, bahkan mereka mengharap agar negaranya cepat hancur.
3. Sebagian orang Islam Amerika memang ada yang kuat imannya, terutama mereka yang pindah dari agama lain. Namun demikian kita masih sangat memerlukan tambahan pengetahuan tentang Islam. Kita sering mengerjakan amal yang kurang terpat, bahkan kadang-kadang perbuatan yang berbahaya yang semuanya memakai merek Islam atau atas nama Islam.
Disamping itu memang sedikit sekali rakyat Amerika yang mengenal dan mengerti bagaimana memberikan petunjuk kepada saudara-saudara mereka. Begitu pula karena sedikitnya orang Islam yang mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat, kemudian pergi ke Amerika untuk berdakwah menyebarkan Islam dan mau meluruskan dan membangunnya atas dasar yang benar. Karena terus terang bahwa masyarakat Islam yang ada di dunia sekarang ini sebenarnya belum mengerjakan agama Islam sebagaimana mestinya. Masih bahyak da’i-da’i muslim yang datang ke Amerika bukan untuk berdakwah dan memperkokoh agama.
4. Akhirnya saya mengharap mudah-mudahan kira-kira sepuluh tahun mendatang mahasiswa-mahasiswa sudah mempunyai pandangan yang luas tentang pusat-pusat kebudayaan Islam yang asli. Begitu juga saya mengharapkan semoga mereka di sana mendapat dukungan yang kuat sehingga dapat melakukan perbuatan yang menuruti perintah Allah.
Segala puji bagi Tuhan semesta Alam.
GADIS AMERIKA MEMELUK AGAMA ISLAM
Hajar adalah nama baru bagi YAMILA, seorang gadis Amerika umur 28 tahun, mahasiswi MISSOURI UNIVERSITY, Columbia, jurusan ilmu sosial. Dua tahun yang lalu ia mulai mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh dan mendalami mengenai “apa hakikat Islam itu.” Masalah ini adalah masalah yang sulit yang belum pernah dijumpai di Amerika yang matrealistis itu. Setelah dua tahun mendalami Islam ia memproklamirkan dirinya memeluk agama Islam dan mengubah namanya YAMILA menjadi HAJAR. Ia mencintai nama itu karena ada hubungannya dengan Islam.
Hajar menceritakan pengalamannya demikian :
“Sudah lama timbul pertanyaan dalam hati saya tentang alam ini, existensi dan kehidupan dalam alam ini. Untuk mendapatkan jawaban ini secara filosofis telah membuat saya menjadi kurus,” katanya. “karena saya sewaktu mempelajari kebudayaan Amerika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai hal itu.”
Saya sebenarnya sudah pernah mendengar tentang agama Islam tetapi gambarannya belum jelas dalam hatiku, bahkan gambaran yang saya dapati malah jelek. Saya menduga bahwa Islam adalah agama pemisah antara laki-laki dan perempuan dan berdiri di atas kebengisan dan kekerasan. Demikianlah saya belum juga mengerti tentang hakikat Islam. Setelah saya menekuninya barulah saya tahu tentang kesucian Islam dan mengerti bahwa ia adalah agama yang menentang kekuatan materialis. Dari sejak itulah saya lebih giat lagi memperlajarinya walaupun terasa sangat berat karena di sana tidak ada buku-buku berbahasa inggris yang menjelaskan Islam secara benar. Hal ini bukan penghalang bagi saya sebab saya memang sudah cinta kepada Islam dan saya yakin benar bahwa Islam adalah agama yang adil dan obyektif, yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk mempertanggung jawabkan perbuatan sendiri. Demikian terus-menerus saya fahami dan bertambah sadar yang akhirnya atas petunjuk Allah I saya memeluk agama Islam.”
HAJAR berda’wah kepada Islam :
Setelah hajar memeluk Islam ia bekerja sungguh-sungguh untuk menyebarkan Islam karena ia sadar bahwa tugasnya sekarang adalah berjuang membela dan menegakkan Islam serta menyampaikan da’wah Islamiyah kepada orang-orang Amerika. Mereka menjadi bodoh tentang Islam karena ulah musuh-musuh Islam yang dengki yang memberikan gambaran jelek tentang Islam.
Islam sungguh telah mengubah keadaan Hajar secara total. Kalau dulu sebelum Islam ia hidup seperti gadis-gadis Amerika lain, bermain-main dan menghibur diri, kini ia menjadi orang yang patuh kepada ajaran dan norma-norma Islam. Hal ini terbukti dalam ucapannya yaitu :
“Sesungguhnya tujuanku yang pokok ialah saya berjuang membela Islam dan memerangi kapitalis, kalaliman, kejahatan serta segala keburukan. Saya yakin bahwa Islam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari bahaya perang, kelaparan dan nyanyian.”
Ketika ia ditanya mengapa hanya Islam yang menjadi penyelamat manusia ia menjawab : “karena hanya Islam yang mampu menjajikan pemecahan problem dunia sekarang ini, baik dari sudut sosial maupun politik. Karena ia adalah peraturan hidup yang komplex yang mempunyai keseimbangan antara tuntutan rohani dan jasmani tanpa ada kekurangan.
Sungguh aku telah mendapatkan jawaban secara falsafi di dalam Islam yang dulu pertanyaan-pertanyaan itu membuatku gelisah sampai tidak bisa tidur nyenyak.
Dan Hajar pada waktu berbicara tentang Islam yakin benar atas kebenaran apa yang diucapkannya. Bahkan kadang-kadang ia menguraikan ibarat yang Islami dengan bahasa Arab. Pada pokoknya ia benar-benar mengerti bahwa Islam adalah peraturan hidup yang multi komplex bukan hanya untuk ibadah saja.
Ajaran jihad dalam Islam menurut Hajar merupakan yang paling penting dan yang paling diperlukan oleh umat Islam pada saat sekarang ini. Sejak memeluk Islam ia mengubah cara hidupnya. Ia memakai busana muslimah dan melaksanakan shalat lima waktu. Ia mencurahkan tenaga untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an agar mampu melaksanakan shalat secara lebih sempurna.
Suatu hal yang wajar kalau ia menghadapi hambatan dari keluarga dan rekan-rekannya. Namun hal itu dianggapnya sebagai hal yang ringan saja. Ia mengatakan : “dalam rangka menjalankan kepercayaanku, segala rintangan kuanggap ringan dan itu adalah wajar bagi seorang muslim. Sebelumnya juga memang sudah banyak terjadi orang muslim disiksa, akan tetapi mereka tetap dalam Islam. Demikian pula saya, tidak ada yang saya perdulikan kecuali bahwa saya adalah muslim.”
Kegiatan Hajar tidak terbatas dalam segi sosial dan agama saja. Ia juga aktif dalam bidang politik dan beranggapan bahwa ada hak yang adil bagi bangsa Palestina Muslim. Karena itu ia selalu memberikan ceramah tentang penindasan dan penganiayaan terhadap bangsa Palestina.
Hajar memang gadis tunggal yang tiada duanya. Ia seorang gadis berkulit putih yang merubah profesinya manjadi da’iyah Islamiyah yang membela urusan bangsa Palestina, padahal ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak mau mendengarkan omongannya, namun ia tidak goyah dan tidak bosan. Tugas dakwahnya secara umum ditujukan kepada segenap umat Islam dan secara khusus ditujukan kepada bangsa Arab.
Hai bangsa Arab, kalau kamu menyinari jalan semua umat manusia janganlah kamu lemah menghadapi israil dan antek-anteknya yang telah merampas bumimu yang suci itu.
PERNYATAAN SEORANG MANTAN PENYANYI INTERNASIONAL SETETELAH MASUK ISLAM
Surat kabar AL-MADINAH AL-MUNAWWARAH yang terbit tanggal 5 Ramadhan 1400 H melaporkan tentang CAT STEVENS seorang penyanyi kaliber internasional yang setelah masuk Islam ia memberi nama dirinya dengan “YUSUF ISLAM”. Dalam laporan itu terdapat pernyataan-pernyataan penting, di antaranya sebagai berikut :
1. Terpuruknya orang barat setelah saya berhenti menyanyi sejak saya masuk Islam. Mereka bertanya-tanya bagaimana saya bisa berubah. Semua alat komunikasi dan mass media membisu dan pura-pura tidak mengerti keadaan saya dan tidak merengek di belakang saya untuk meminta saya agar kembali seperti semula, karena para karyawan penerangan di barat semuanya adalah yahudi dan merekalah yang memegang semua kuncinya.
2. Sebabnya aku masuk Islam ialah setelah temanku ziarah ke Masjid Aqsha ia lalu memberikan hadiah kepadaku dua exemplar Al-Qur’an. Yang satu berbahasa Arab dan yang satu lagi diterjemahkan dalam bahasa inggris. Ia memberikan hadiah kepadaku karena aku menaruh prehatian besar kepada agama samawi. Kemudian saya pelajari sendiri Al-Qur’an itu sampai selesai. Setelah itu saya mempelajari riwayat hidup Muhammad r yang akhirnya saya benar-benar terpengaruh dengan kepribadian Rasululloh. Sesudah satu setengah tahun saya pelajari Islam secara ilmiyah saya puas terhadap kebesarannya dan saya berkesimpulan bahwa Islam adalah agama yang benar dan alhamdulillah saya dapat memeluk agama Islam.
3. Saya pergi ke Al-Quds sehingga orang Islam di sana merasa gembira atas kedatangan saya. Saya shalat dan menangis di Masjid Aqsha ini. Perlu diketahui bahwa Al-Quds merupakan jantung hati dunia Islam. Apabila ia sakit maka seluruh dunia Islam ikut sakit dan apabila ia sehat maka seluruhnya juga akan sehat. Karena itu kita harus membebaskanya dari penjajahan musuh Israil.
4. Bangsa Paletina harus selalu taat kepada agama dan menjaga shalat, sehingga kalau demikian saya yakin bahwa Allah akan menolongnya.
5. Orang-orang Islam di Masjid Aqsha berkata kepada saya bahwa merokok hukunya haram. Karena itu saya tidak mau lagi merokok, meminum-minuman keras, bergaul bebas dengan wanita dan berhenti pula dari menyanyi dan musik.
6. Saya memilih wanita yang muslimah dan menutup auratnya karena karena kecantikan bukanlah hal yang prinsip, yang lebih penting adalah iman dan akhlak.
7. Saya sekarang belajar bahasa Arab agar dapat membaca dan memahami Al-Qur’an sehinnga menikmati ayat-ayatnya serta maknanya. Saya akan mengarang buku tentang keagungan/kebesaran Islam dengan menggunakan popularitas nama saya agar bermanfaat dalam da’wah Islamiyah.
8. Saya berkeyakinan bahwa shalat pada waktunya adalah rukun Islam yang paling penting dan menjaganya adalah benteng terkuat bagi manusia dan Islamnya, dan setiap selesai shalat saya merasa tenang dan tenteram yang luar biasa.
Terahir saya (penulis) mendengar bahwa “Yusuf Islam” menetap di Inggris, berda’wah untuk Islam dan mempunyai masjid sendiri. Kaum muslimin berkumpul di sekitarnya dan mendukungnya. Sungguh dia telah mengalahkan kaum muslimin dalam berpegang teguh dan mencintai Islam. Semoga Allah melimpahkan taufik dan ketetapan baginya, memberkahinya dan memberkahi kaum muslimin yang beramal sepertinya.
DO’A MASUK PASAR
Rasululloh r bersabda : “Barangsiapa masuk pasar, lalu membaca do’a :
لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير، هو على كل شيء قدير.
“Tiada sembahan yang hak selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya milikNya segala kerajaan dan puji. Yang Menghidupkan dan Mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak mati. Di tanganNya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa segala segala sesutau.”
Niscaya ditulis baginya sejuta kebaikan, dihapus darinya sejuta keburukan, diangkat baginya sejuta derajat, dan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (riwayat Imam Ahmad dan periwayat lainnya, dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam kitab shahih al-jami’, no. 6107)
DO’A ISTIKHARAH
Jabir t berkata : Bahwa Rasululah r mengajarkan kepada kita istikharah dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan surah-surah Al-Qur’an. Sabda beliau :
إذا هم أحدكم بالأمر فليركع ركعتين من غير الفريضة ثم ليقل : اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال في عاجل أمري أو آجله) فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه. وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال في عاجل أمري وآجله) فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيث كان ثم رضني به (قال ويسمي حاجته). رواه البخاري
“Apabila salah seorang kamu menghendaki sesuatu maka hendaklah shalat dua raka’at kemudian berdo’a : “Ya Allah, dengan ilmuMu sungguh aku mohon kepadaMu pilihan yang baik, dengan kekuasaanMu aku memohon agar diberikan kemampuan. Aku memohon kepadamu sebagian anugrahMu yang agung, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Kuasa, aku tidak. Engkaulah yang mengetahui, aku tidak. Engkaulah Dzat Yang Maha Tahu segala yang ghoib. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa hal itu baik untukku dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku (baik untuk saya dalam urusan yang sekarang maupun yang akan datang), maka takdirkanlah untuku dan mudahkanlah bagiku, kemudian berkahilah hal itu bagiku.dan apabila Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hal itu buruk bagiku dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku, maka hindarkanlah hal itu dariku dan hindarkanlah aku dari hal itu, dan takdirkan bagiku apapun yang baik, kemudian jadikanlah aku orang yang rela padanya.” (hendaklah pada waktu menyebut hal itu disebutkan keperluannya).
Perlu diketahui bahwa shalat dua rakaat tersebut harus dilakukan oleh orang yang bersangkutan sendiri, seperti obat diminum sendiri oleh orang yang sakit, dengan keyakinan bahwa Allah pastikan memberi petunjuk kepada kebaikan. Sebagai tanda bahwa hal itu baik ialah mudah mendapatkan sebab-sebab pelaksanaannya.
Hindarilah cara bid’ah dalam istikharah, yaitu yang bersandar kepada mimpi-mimpi dan perhitungan nama kedua calon memepelai, atau lalin-lainnya yang tidak dasarnya dari agama.
DO’A UNTUK MENYEMBUHKAN PENYAKIT
1. Letakkan tanganmu pada anggota badan yang sakit dan bacalah bismillah tiga kali, kemudian membaca do’a di bawah ini tujuh kali.
أعوذ بالله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر
“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan segala sesuatu yang aku temui dan aku takuti.” (riwayat Muslim)
2.
اللهم رب الناس أذهب الباس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما. متفق عليه
“Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah kesusahan dan sembuhkanlah. Engkaulah Dzat yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.” (riwayat Bukhari Muslim).
3.
أعوذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة. رواه البخاري
“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan dan dari binatang yang berbisa dan dari segala mata yang jahat.” (riwayat Bukhari).
4.
من عاد مريضا لم يحضر أجله فقال عنده سبع مرات، أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك إلا عافاه الله. صححه الحاكم ووافقه الذهبي
Barangsiapa mengunjungi orang sakit belum datang ajalnya kemudian membaca do’a ini :
“Aku mohon kesembuhan kepada Allah yang Maha Agung Tuhan Arsy yang Agung, maka Allah menyembuhkannya.” (hadits shahih menurut Hakim yang disetujui oleh Az-Zhahabi).
5.
من رأى مبتلى فقال : الحمد لله عافاني مما ابتلاك به وفضلني على كثير ممن خلق تفضيلا لم يصبه ذلك البلاء. حديث حسن رواه الترمذي
Barangsiapa melihat orang tertimpa kesusahan kemudian membaca :
“Segala puji bagi Allah yang membebaskan aku dari kesusahan yang manimpamu dan menjadikanku lebih utama dari kebanyakan yang Dia ciptkan, maka orang tersebut terhindar dari kesusahan/penyakit tersebut.” (riwayat Turmudzi).
6. Datanglah Malaikat Jibril kepada Nabi r dan bertanya : “Hai Muhammad, apakah anda sakit?” Rasululloh r menjawab : “Ya”, lalu Jibril membaca do’a :
بسم الله أرقيك من كل شيء يؤذيك، ومن شر كل نفس وعين، بسم الله أرقيك، والله يشفيك.
“Dengan nama Allah aku mengobatimu dari segala penyakit yang menimpamu, dari kejahatan segala jiwa dan mata. Dengan nama Allah aku mengobatimu. Dan Allah lah yang menyembuhkanmu.” (riwayat Muslim).
7. Bacalah surah Al-Fatihah dan surah Al-Mu’awwizatain kemudian mohonkan kesembuhan kepada Allah saja. Laksanakanlah do’a dan berobat dengan keduanya, bersedekahlah kepada segala orang fakir agar anda sembuh dengan izin Allah.
8. Seorang muslim hendaklah menggunakan madu, habbah sauda’ (jintan hitam) dan meminum air zamzam. Itu semua adalah obat yang mujarab, dapat mengobati dari segala penyakit.
DO’A BEPERGIAN DAN NAIK KENDARAAN
1. Rasululloh r bersabda : “Barangsiapa yang akan bepergian hendaklah berkata kepada yang ditinggalkan :
أستودعكم الله الذي لا تضيع ودائعه. حسن رواه أحمد
“Kutitipkan engkau kepada Alloh yang tidak sia-sia apa yang dititipkan.” (Hadits riwayat Ahmad).
2. Orang yang akan bepergian dido’akan :
زودك الله التقوى، وغفر ذنبك، ويسرك الخير حيثما كنت.
“Semoga Allah membekalimu dengan taqwa, mengampuni dosamu, dan memudahkan segala kebaikan bagimu di manapun berada.” (Hadits hasan riwayat Turmudzi).
3. Apabila anda naik mobil atau pesawat terbang yang lain bacalah :
بسم الله الحمد لله سبحان الذي سخرلنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون. الحمد لله – الحمد لله – الحمد لله – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر -. سبحانك إني ظلمة نفسي فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت. حديث صحيح رواه الترمذي
“ aku pergi dengan nama Allah dan segala puji bagiNya. Maha suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami dan tidak ada daya bagi kami untuk menundukkannya dan hanya kepada Allah kami kembali, kemudian membaca Alhamdulillah tiga kali, Allahu akbar tiga kali. Maha Suci Engkau ya Allah, sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri, berilah aku ampunan. Sungguh tidak ada yang mengamupuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (hadits hasan shahih riwayt Turmudzi).
4.
اللهم إنا نسألك في سفرنا هذا البر والتقوى ومن العمل ما ترضى. اللهم هون علينا سفرنا هذا واطو عنا بعده. اللهمّ أنت الصاحب في السفر والخليفة في الأهل. اللهم إني أعوذ بك من وعثاء السفر وكآبة المنظر وسوء المنقلب في المال والأهل. رواه مسلم
“Ya Allah, kami mohon kepadamu dalam perjalanan ini kebajikan katakwaan dan amal yang Engkau ridhoi Ya Allah, ringankanlah atas kami perjalanan ini, dekatkanlah jaraknya perjalanan ini, Ya Alloh Engkaulah temanku dalam perjalanan ini dan Engkaulah sebagai pengganti yang melindungi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari pada kesusahan perjalanan ini, dari pemandangan yang menyakitkan dan dari nasib yang sial dalam harta dan keluarga.” (riwayat Muslim).
5. Ketika pulang hendaknya membaca do’a tersebut di atas ditambah do’a di bawah ini :
آيبون تائبون إلى ربنا حامدون.
“Semoga kami kembali dalam keadaan selamat dan bertaubat kepada Robb kami memuji.”
DO’A MUSTAJAB
(YANG DITERIMA ALLAH)
1. Apabila anda ingin sukses dalam ujian atau pekerjaan bacalah do’a di bawah ini : “Rasululloh r mendengar seorang laki-laki berdo’a
اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد .
Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu dengan bersaksi bahwa Engkau Allah, tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, yang segala sesuatu bergantung kepadaMu, yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan dan tidak ada sesuatupun yang sama denganNya.”
Rasululloh kemudian bersabda :
والذي نفسي بيده لقد سأل الله باسمه الأعظم الذي إذا دعي به أجاب وإذا سئل أعطى. رواه أحمد وحسنه الترمذي
“Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh orang itu telah berdo’a dengan namaNya yang Maha Agung. Yang apabila Dia diseru dengan nama tersebut pasti Dia mengabulkannya, dan apabila diminta pasti ia memberi.” (riwayat Ahmad yang dinilai hasan oleh Turmudzi).
2. Do’a Nabi Yunus (dzunnun) pada waktu beliau di dalam perut ikan seperti di bawah ini.
لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين.
“Tidak ada ilaah yang hak disembah kecuali Engkau, maha suci Engkau , sunguh aku telah termasuk golongan yang dzalim.”
Tidak seorang muslimpun yang memohon dengan do’a tersebut kecuali Allah mengabulkannya (hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
3. Harus melaksanakan hal-hal yang menyebabkan sukses yaitu berusaha dengan sungguh-sunguh, dan berdo’a.
DO’A ORANG YANG KEHILANGAN
Ibnu Umar t ditanya tentang do’a untuk menemukan sesuatu yang hilang, ia menjawab : hendaknya orang itu mengambil air wudhu lalu shalat dua rakaat, kemudian membaca kalimah syahadat lalu berdo’a denga do’a ini :
اللهم راد الضالة هادي الضلالة تهدي من الضلال ردّ علي ضالتي بقدرتك وسلطانك فإنما من فضلك وعطائك.
“Ya Allah, Dzat yang mengembalikan barang hilang, yang menunjukkan kesesatan, kembalikanlah kepadaku Ya Allah dengan kekuasaan dan kekuatanmu barangku yang hilang, karena sesungguhnya itu adalah anugrah dan pemberianmu,” (Al-Baihaqi menyebut hadits ini mauquf yang juga disebutkan hasan).
DO’A DARI AL-QUR’ANUL AL-KARIM
] رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا[ (10) سورة الكهف
“Ya Robb kami, berilah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sediakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi : 10).
] رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ[ (201) سورة البقرة
“Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa neraka.” (Al-Baqarah : 201).
] ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أتن الوهاب [
“Ya Tuhan kami, jangan kau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engaku memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Ali-Imran :; 8).
]رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ[ (10) سورة الحشر
“Ya Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah iman lebih dahulu dari kami dan jangan Engkau jadikan kedengakian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman. Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr : 10).
] ربنا عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير [
“Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan kepada Engkaulah kami kembali.” (Al-Mumtahinah : 4).
] رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ[(286) سورة البقرة
“Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Robb kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankah kepada orang-orang sebelum kami. Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami sesuatu yang kami tidak sanggup memikulnya, maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al-Baqarah : 286).
] رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِين[ (89) سورة الأعراف
Ya Robb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan adil dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baikya.” (Al-A’raf : 89).
] ربنا لا تجعلنا فتنة للقوم الظالمين ونجنا برحمتك من القوم الكافرين [
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah terhadap kaum zhalim dan selamatkan kami dengan rahmatmu dari tipu daya orang-orang kafir.” (Yunus : 85-86).
] ربنا أفرغ علينا صبرا وتوفنا مسلمين [
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam.” (Al-A’raf : 126).
ILAHI, HANYA ENGKAULAH YANG MAHA PENOLONG
يا من يرى ما في الضمير ويسمع أنت المعد لكل ما يتوقع
“Wahai Dzat yang melihat dan mendengar apa yang ada dalam hati, Engkau adalah tempat persediaan sesuatu yang diperkirakan terjadi.”
يا من يرجى للشدائد كلها يا من إليه المشتكى والمفزع
“Wahai Dzat yang diharapkan untuk menghilangkan segala kesusahan, wahai Dzat yang menjadi tempat mengadu dan berlindung.”
يا من خزائن رزقه في قول كن أمنن فإن الخير عندك أجمع
“Wahai Dzat yang gudang rezekinya berada pada firmanNya “KUN”, berilah anugrah karena sesungguhnya segala kebaikan terhimpun pada sisiMu.”
ما لي سوى فقري إليك وسيلة فبالافتقار إليك فقري أدفع
“Tidak ada bagiku perantara kecuali kefakiranku kepadaMu. Ya Allah, dengan kefakiranku kepadamu itu aku dapat memenuhi keperluanku.”
ما لي سوى قرعي لبابك حيلة فلئن رددت فأي باب أقرع
“Tidak ada bagiku alasan kecuali aku mengetuk pintuMu. Sekiranya aku ditolak, pintu yang mana lagi yang harus kuketuk.”
ومن الذي أدعو وأهتف باسمه أن كان فضلك عن فقرك يمنع
“Dan kepada siapakah aku memohon dan memanggil dengan namanya apabila karunaiMu terhalang dari keperluanku kepadaMu.
حاشا لجودك أن تقنط عاصيا الفضل أجزل والمواهب أوسع
“Mustahil Ya Allah jika karena kemurahanMu Engkau memutuskan harapan orang yang berbuat maksiat, sebab anugrahMu lebih besar dan pemberianMu lebih banyak.”
“Mudah-mudahan shalawat kepada Nabi Muhammad r dan keluarganya, yaitu orang-orang yang membawa Al-Qur’an sebagai cahaya yang bersinar.”
[1] )Pembukaan khutbah ini selalu diucapkan oleh Nabi r dan para sahabatnya.
)1) Kaffaratnya yaitu memerdekakan seorang hamba sahaya, bila tidak mendapatkan maka berpuasa dua bulan berturut turut, dan bila tidak mampu maka memberi makan kepda enam puluh orang miskin.
)1 Miqat bagi orang Syam : Juhfah (Rabigh), bagi orang Nejed : Qarnul manazil, bagi orang yaman : Yalamlam, bagi orang Mmadinah : Dzul Hulaifah (Abyar Ali), bagi orang Iraq : Dzat ‘Irq. Dan miqat ini berlaku bagi siapa saja yang melewatinya.
[4] )Haji tamattu’ ialah yaitu berihram dengan niat umrah pada bulan haji, lalu tahallul. Kemudian pada tanggal 8 Dzulhijjah berihram untuk haji. Ini yang lebih mudah dan paling utama, dan inilah yang deperintahkan oleh Rasulullah r kepada para sahabat dengan sabdanya : “Barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa binatang kurban maka supaya bertahallul dan menjadikannya sebagai umrah.” (riwayat Mulslim).
[5] )dengan meninggalkan Muzdalifah setelah pertengahan malam
[6]) Diperbolehkan bagi tuan rumah untuk berdiri dalam menyambut tamu karena Rasulullah r pernah melakukan hal itu, dan boleh juga ikut menyongsong orang yang baru datang untuk merangkulnya.
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
WAJIB MEMBERIKAN PERHATIAN KEPADA TAUHID TERLEBIH DAHULU SEBAGAIMANA METODE PARA NABI DAN RASUL
Ditulis oleh abuamincepu di/pada April 8, 2008
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlbaniPertanyaan
Syaikh yang mulia, tidak ragu lagi bahwa Anda mengetahui tentang kenyataan pahit yang dialami umat Islam sekarang ini berupa kebodohan dalam masalah aqidah dan masalah-masalah keyakinan lainnya, serta perpecahan dalam metodologi pemahaman dan pengamalan Islam. Apalagi sekarang ini penyebaran da’wah Islam di berbagai belahan bumi tidak lagi sesuai dengan aqidah dan manhaj generasi pertama yang telah mampu melahirkan generasi terbaik.
Tidak ragu lagi bahwa kenyataan yang menyakitkan ini telah membangkitkan ghirah (semangat) orang-orang yang ikhlas dan berkeinginan untuk mengubahnya serta untuk memperbaiki kerusakan. Hanya saja mereka berbeda-beda cara dalam memperbaiki fenomena tersebut, disebabkan karena perbedaan pemahaman aqidah dan manhaj mereka -sebagaimana yang Anda ketahui- dengan munculnya berbagai gerakan dan jama’ah-jama’ah Islam Hizbiyyah yang mengaku telah memperbaiki umat Islam selama berpuluh-puluh tahun, tetapi bersamaan itu mereka belum berhasil, bahkan gerakan-gerakan tersebut menyebabkan umat terjerumus ke dalam fitnah-fitnah dan ditimpa musibah yang besar, karena manhaj-manhaj mereka dan aqidah-qaidah mereka menyelisihi perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa-apa yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana hal ini meninggalkan dampak yang besar berupa kebingungan kaum muslimin dan khususnya para pemudanya dalam solusi mengatasi kenyataan pahit ini.
Seorang da’i muslim yang berpegang teguh dengan manhaj nubuwwah dan mengikuti jalan orang-orang yang beriman serta mencontoh pemahaman para sahabat dan tabi’in dengan baik dari kalangan ulama Islam merasa bahwa dia sedang memikul amanat yang sangat besar dalam menghadapi kenyataan ini dan dalam memperbaikinya atau ikut berperan serta dalam menyelesaikannya.
Maka apa nasehat Anda bagi para pengikut gerakan-gerakan dan jama’ah-jama’ah tersebut .?
Dan apa solusi yang bermanfaat dan mengena dalam menyelesaikan kenyataan ini .?
Serta bagaimana seorang muslim dapat terbebas dari tanggung jawab ini di hadapan Allah Azza wa Jalla nanti pada hari Kiamat .?
Jawaban.
Berkaitan dengan apa yang disebutkan dalam pertanyaan diatas, yaitu berupa buruknya kondisi umat Islam, maka kami katakan : Sesungguhnya kenyataan yang menyakitkan ini tidaklah lebih buruk daripada kondisi orang Arab pada zaman jahiliyah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka, disebabkan adanya risalah Islam di antara kita dan kesempurnaannya, serta adanya kelompok yang eksis di atas Al-Haq (kebenaran), memberi petunjuk dan mengajak manusia kepada Islam yang benar dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan manhaj. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan orang Arab pada masa jahiliyah menyerupai kenyataan kebanyakan kelompok-kelompok kaum muslimin sekarang ini !.
Berdasarkan hal itu, kami mengatakan bahwa : Jalan keluarnya adalah jalan keluar yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan obatnya adalah seperti obat yang pernah digunakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Rasulullah telah mengobati jahiliyah yang pertama, maka para juru da’wah Islam sekarang ini harus meluruskan kesalahan pahaman umat akan makna Laa Ilaha Illallah, dan harus mencari jalan keluar dari kenyataan pahit yang menimpa mereka dengan pengobatan dan jalan keluar yang di tempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan makna yang demikian ini jelas sekali apabila kita memperhatikan firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [Al-Ahzab : 21]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri teladan yang baik dalam memberikan jalan keluar bagi semua problem umat Islam di dunia modern sekarang ini pada setiap waktu dan kondisi. Hal ini yang mengharuskan kita untuk memulai dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pertama-tama memperbaiki apa-apa yang telah rusak dari aqidah kaum muslimin. Dan yang kedua adalah ibadah mereka. Serta yang ketiga adalah akhlak mereka. Bukannya yang saya maksud dari urutan ini adanya pemisahan perkara antara satu dengan yang lainnya, artinya mendahulukan yang paling penting kemudian sebelum yang penting, dan selanjutnya !. Tetapi yang saya kehendaki adalah agar kaum muslimin memperhatikan dengan perhatian yang sangat besar dan serius terhadap perkara-perkara di atas.
Dan yang saya maksud dengan kaum muslimin adalah para juru da’wah, atau yang lebih tepatnya adalah para ulama di kalangan mereka, karena sangat disayangkan sekali sekarang ini setiap muslim mudah sekali mendapat predikat sebagai da’i meskipun mereka sangat kurang dalam hal ilmu. Bahkan mereka sendiri menobatkan diri sebagai da’i Islam. Apabila kita ingat kepada suatu kaidah yang terkenal -saya tidak berkata kaidah itu terkenal di kalangan ulama saja, bahkan terkenal pula dikalangan semua orang yang berakal- kaidah itu adalah :
“Artinya : Orang yang tidak memiliki, tidak dapat memberi”.
Maka kita akan mengetahui sekarang ini bahwa disana ada sekelompok kaum muslimin yang besar sekali, bisa mencapai jutaan jumlahnya, apabila disebut kata : para da’i maka manusia akan mengarahkan pandangan kepada mereka. Yang saya maksudkan adalah jama’ah da’wah atau jama’ah tabligh. Bersamaan dengan itu, kebanyakan mereka adalah sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” [Al-A'raaf : 187].
Sebagaimana diketahui dari metode da’wah mereka bahwa mereka itu telah benar-benar berpaling dari memperhatikan pokok pertama atau perkara yang paling penting diantara perkara-perkara yang disebutkan tadi, yaitu aqidah, ibadah dan akhlak. Dan mereka menolak untuk memperbaiki aqidah dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengannya, bahkan semua nabi memulai dengan aqidah ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.
“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut”. [An-Nahl : 36].
Mereka tidak mempunyai perhatian terhadap pokok ini dan terhadap rukun pertama dari rukun-rukun Islam ini -sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin semuanya-. Rasul yang pertama di antara para rasul yang mulia Nuh ‘Alaihis sallam telah mengajak kepada masalah aqidah hampir seribu tahun. Dan semua mengetahui bahwa pada syariat-syariat terdahulu tidak terdapat perincian hukum-hukum ibadah dan muamalah sebagaimana yang telah dikenal dalam agama kita ini, karena agama kita ini adalah agama terakhir bagi syariat-syariat agama-agama lain. Bersamaan dengan itu, Nabi Nuh ‘Alaihis sallam tetap mengajak kaumnya selama 950 tahun dan beliau menghabiskan waktunya bahkan seluruh perhatiannya untuk berda’wah kepada tauhid. Meskipun demikian, kaumnya menolak da’wah beliau sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
“Artinya : Dan mereka berkata :’Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”. [Nuh : 23].
Ini menunjukkan dengan tegas bahwa sesuatu yang paling penting untuk di prioritaskan oleh para da’i Islam adalah da’wah kepada tauhid. Dan ini adalah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesunguhnya tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkan Allah”. [Muhammad : 19]
Demikian sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara amalan maupun pengajaran. Adapun amalan beliau, maka tidak perlu dibahas, karena pada periode Makkah perbuatan dan da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kebanyakan terbatas dalam hal menda’wahi kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sedangkan dalam hal pengajaran, disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan di dalam Ash-Shahihain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda.
“Artinya : Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah pesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ….. dan seterusnya sampai akhir hadits. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1395) dan ditempat lainnya, dan Muslim (19), Abu Daud (1584), At-Tirmidzi (625), semuanya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu]
Hadits ini telah diketahui dan masyhur, Insya Allah.
Kalau begitu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para shahabatnya untuk memulai dengan apa yang dimulai oleh beliau sendiri yaitu da’wah kepada tauhid.
Tidak diragukan lagi bahwa terdapat perbedaan yang besar sekali antara orang-orang Arab musyrikin dimana mereka itu memahami apa-apa yang dikatakan kepada mereka dengan bahasa mereka, dengan mayoritas orang-orang Arab Muslim sekarang ini. Orang-orang Arab Muslim sekarang ini tidak perlu diseru untuk mengucapkan : Laa Ilaha Illallah, karena mereka adalah orang-orang yang telah mengucapkan syahadat Laa Ilaha Illallah, meskipun aliran dan keyakinan mereka berbeda-beda. Mereka semuanya mengucapkan Laa Ilaha Illallah, tetapi pada kenyataannya mereka sangat perlu untuk memahami lebih banyak lagi tentang makna kalimat thayyibah ini. Dan perbedaan ini adalah perbedaan yang sangat mendasar dengan orang-orang Arab dahulu dimana mereka itu menyombongkan diri apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru mereka untuk mengucapkan Laa Ilaha Illallah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’anul Azhim [1]. Mengapa mereka menyombongkan diri ?. Karena mereka memahami bahwa makna Laa Ilaha Illallah adalah bahwa mereka tidak boleh menjadikan tandingan-tandingan bersama Allah, dan agar mereka tidak beribadah kecuali kepada Allah, padahal dahulu mereka menyembah selian Allah pula, mereka menyeru selain Allah, beristighatsah (meminta tolong) kepada selain Allah, lebih-lebih lagi dalam masalah nadzar untuk selain Allah, bertawasul kepada selain Allah, menyembelih kurban untuk selain Allah dan berhukum kepada selain Allah dan seterusnya.
Ini adalah sarana-sarana kesyirikan paganisme yang dikenal dan dipraktekkan oleh mereka, padahal mereka mengetahui bahwa diantara konsekwensi kalimat thayyibah Laa Ilaha Illallah dari sisi bahasa Arab adalah bahwa mereka harus berlepas diri dari semua perkara-perkara ini, karena bertentangan dengan makna Laa Ilaha Illallah.
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 5-15, ]
——————————–
Foote Note
[1] Beliau mengisyaratkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ash-Shaffat : “Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka : Laa Ilaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata : ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena kami seorang penyair yang gila ?” [Ash-Shaffat : 35-36]
Berkaitan dengan apa yang disebutkan dalam pertanyaan diatas, yaitu berupa buruknya kondisi umat Islam, maka kami katakan : Sesungguhnya kenyataan yang menyakitkan ini tidaklah lebih buruk daripada kondisi orang Arab pada zaman jahiliyah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka, disebabkan adanya risalah Islam di antara kita dan kesempurnaannya, serta adanya kelompok yang eksis di atas Al-Haq (kebenaran), memberi petunjuk dan mengajak manusia kepada Islam yang benar dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan manhaj. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan orang Arab pada masa jahiliyah menyerupai kenyataan kebanyakan kelompok-kelompok kaum muslimin sekarang ini !.
Foote Note
[1] Beliau mengisyaratkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ash-Shaffat : “Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka : Laa Ilaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata : ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena kami seorang penyair yang gila ?” [Ash-Shaffat : 35-36]
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
TAUHID, PRIORITAS PERTAMA DAN UTAMA
Ditulis oleh abuamincepu di/pada April 8, 2008
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya.Meniti jalan Salafush Shalih merupakan keharusan bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah.“Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)†[Al-An’am : 153]
Dalam tatanan realitas kehidupan, banyak ditemukan kejanggalan beragama di kalangan umat Islam. Mereka semakin jauh dari nilai ajaran Islam sehingga mereka hidup dalam kebingungan dan kebimbangan. Lebih bingung lagi pada waktu mereka mencoba mencari solusi problem agama dan kehidupan secara salah dengan mencoba menerapkan pemikiran dan ajaran jahiliyah. Maka akibatnya muncul berbagai macam sekte dan aliran sesar dengan menisbatkan ajaran mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan orang musyrik seperti yang dituturkan dalam firman Allah.
“Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka†[Ar-Ruum : 31-32]
Dalam tataran kehidupan ideal jarang kita dapatkan seorang muslim merujukkan permasalahan yang dia hadapi kepada pemahaman Salafush Shalih, maka banyak kejanggalan prilaku dan pola berfikir dalam pribadi mereka dan bahkan terkadang berseberangan dengan aqidah Salafush Shalih.
Padahal tidak mungkin perkara umat menjadi baik tanpa merujuk kepada generasi terbaik, terlebih dalam masalah aqidah dan agama.
Kita semua menyaksikan bahwa umat Islam hidup dalam keadaan mundur dan terpuruk dalam seluruh sisi kehidupan dan bahkan sampai pada titik nadir. Tetapi kondisi buruk itu tidak mungkin pulih dan umat kembali jaya kecuali dengan membenahi aqidah dan memurnikan tauhid, sebagiamana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Jika kalian sibuk dengan perdagangan ‘inah dan beternak hewan sapi serta bercocok tanam lalu meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan dan tidak akan bisa terlepas dari (kehinaan) hingga kamu kembali kepada agama kalian†[Hadits Riwayat Abu Dawud]
Sehingga tidak ada solusi terbaik kecuali mengkaji ajaran Islam secara komprehensif dengan memprioritaskan tauhid tanpa harus menafikan cabang ilmu lain. Jika kita memperhatikan umat secara seksama, ternyata pengetahuan mereka tentang tauhid sangat rendah bahkan kebanyakan mereka belum memahami dengan baik makna dan konsekuensi kalimah syahadah La Ilaaha Illallah. Banyak diantara mereka melakukan pelanggaran dan pembatalan sayahadah tanpa ada beban, baik syirik, bid’ah maupun khurafat, barang yang paling mudah kita temukan apalagi transaksi kesyirikan dan kebid’ahan sangat marak di kalangan kaum muslimin
Bagi setiap kaum muslimin khususnya para da’i sebaiknya menyimak buku kecil ini agar bisa menentukan skala prioritas dalam berdakwah dan menyebarkan Islam sehingga setiap kaum muslimin akan menjadikan tauhid suatu yang paling urgen dan fundamental. Hanya dengan merealisasikan makna tauhid, umat Islam bisa bersatu dan kembali mengalami kejayaan.
Bagaimana umat Islam bisa bersatu jika mereka masih berselisih dalam masalah ideologi dan pemahaman aqidah. Maka menyatukan aqidah umat jauh lebih penting daripada menyatukan corak umat, meluruskan tauhid lebih urgen daripada meluruskan barisan dan merealisasikan aqidah yang kokoh dan bersih dari syirik, bida’ah dan khurafat lebih utama di atas segala bentuk kekuatan.
Semoga buku kecil ini mampu menumbuhkan kesadaran kita untuk kembali kepada manhaj dan aqidah yang benar dan sebagai koreksi total terhadap kesalahan masa lalu kita semua.
Penerjemah
Fariq Gasim Anuz
MUKADDIMAH
Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah, dan ampunanNya, serta kami berlindung kepad Allah dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal-amal kami.
Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkan. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam†[Ali Imran : 102]
“Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu, yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu†[An-Nisa : 1]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar†[Al-Ahzab : 70-71]
Wa ba’du.
Ini adalah risalah [1] yang sangat besar manfaat dan faidahnya baik bagi orang awam maupun kaum intelektual, karena didalamnya memuat jawaban dari seorang ‘alim ulama masa kini yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani –semoga Allah merahmatinya dan memberi (kita) manfaat dengan ilmunya-. Dalam risalah ini beliau menjawab suatu pertanyaan yang berkembang di kalangan orang-orang yang memiliki ghirah (semangat) terhadap agama Islam, mereka resah siang dan malam memikirkan pertanyaan ini dan hati mereka pun dibuat sibuk dengannya, inti pertanyaannya adalah :
“Apa jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kebangkitan kaum muslimin ? Dan jalan apa yang harus ditempuh oleh mereka sehingga Allah memberikan kekuasaan kepada mereka serta menempatkan mereka pada suatu kedudukan yang layak dianatara umat-umat yang lain ?
Maka Al-Allamah Al-Albani –semoga Allah memberi (kita) manfaat dengan ilmunya- menjawab pertanyaan ini dengan tuntas dan jelas karena dirasakan bahwa umat sangat membutuhkan jawaban ini, maka kami memandang perlu untuk menyebarluaskannya.
Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga risalah ini bermanfaat dan semoga Allah memberi hidayah kepada kaum muslimin menuju apa-apa yang dicintai dan diridhaiNya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Maha Mulia.
Darul Hadyi An-Nabawi
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal V-4,]
Foote Note,
[1] Risalah ini aslinya berasal dari kaset yang direkam, kemudian ditulis, dan diterbitkan oleh Majalah As-Salafiyah No. 4 Th 1419H
Fariq Gasim Anuz
[1] Risalah ini aslinya berasal dari kaset yang direkam, kemudian ditulis, dan diterbitkan oleh Majalah As-Salafiyah No. 4 Th 1419H
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH
Ditulis oleh abuamincepu di/pada April 8, 2008
Firman Allah Ta’ala:”Artinya : Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isra': 57]“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” [Az-Zukhruf: 26-27]“Artinya : Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” [At-Taubah: 31]
“Artinya : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”[Al-Baqarah: 165]
Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kandungan dalam tulisan ini:
[1]. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.
[2]. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka.
Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.
[3]. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…”
Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran). (Az-Zukhruf: 28)
[4]. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.”
Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka kedalam Islam. Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurniaan kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.
Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?
[5]. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.
Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.
["Kitab Tauhid" karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK
Ditulis oleh abuamincepu di/pada April 8, 2008
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Mayoritas kaum muslimin sekarang ini yang telah bersaksi Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) tidak memahami makna Laa Ilaaha Illallah dengan baik, bahkan barangkali mereka memahami maknanya dengan pemahaman yang terbalik sama sekali. Saya akan memberikan suatu contoh untuk hal itu : Sebagian di antara mereka (Dia adalah Syaikh Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang tokoh sufi dari thariqah Asy-Syadziliyyah di Suriah kira-kira 50 tahun yang lalu) menulis suatu risalah tentang makna Laa Ilaaha Illallah, dan menafsirkan dengan “Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali Allah” !! Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti itu, tetapi keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?’ Tentu mereka akan menjawab : ‘Allah’. ” [Luqman : 25].
Orang-orang musyrik itu beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan bersama Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah kepada-Nya. Mereka beriman bahwa Rabb (pengatur dan pencipta) adalah satu (esa), tetapi mereka meyakini bahwa sesembahan itu banyak. Oleh karena itu, Allah membantah keyakinan ini yang disebut dengan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah melalui firman-Nya :
“Artinya
an orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata) : ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’”. [Az-Zumar : 3].
Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan : “Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali Allah”. Padahal apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah disamping beribadah kepada Allah, maka dia dan orang-orang musyrik adalah sama secara aqidah, meskipun secara lahiriah adalah Islam, karena dia mengucapkan lafazh Laa Ilaaha Illallah, sehingga dengan ungkapan ini dia adalah seorang muslim secara lafazh dan secara lahir.
Dan ini termasuk kewajiban kita semua sebagai da’i Islam untuk menda’wahkan tauhid dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang tidak mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa yang menyalahi Laa Ilaaha Illallah. Berbeda dengan orang-orang musyrik, karena dia enggan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, sehingga dia bukanlah seorang muslim secara lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, mereka orang-orang muslim, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan dan harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka atas Allah Subhanahu wa Ta’ala”. ]Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25) dan pada tempat lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya, dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhum]
Oleh karena itu, saya mengatakan suatu ucapan yang jarang terlontar dariku, yaitu : Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang ini adalah lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa jahiliyah yang pertama, dari sisi kesalahpahaman terhadap makna kalimat tahyyibah ini, karena orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna Laa Ilaaha Illallah, tetapi mereka tidak mengimaninya. Sedangkan mayoritas kaum muslimin sekarang ini mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini, mereka mengucapkan : ‘Laa Ilaaha Illallah’ tetapi mereka tidak mengimani -dengan sebenarnya- maknanya. (Mereka menyembah kubur, menyembelih kurban untuk selain Allah, berdo’a kepada orang-orang yang telah mati, ini adalah kenyataan dan hakikat dari apa-apa yang diyakini oleh orang-orang syi’ah rafidhah, shufiyah, dan para pengikut thariqah lainnya, berhaji ke tempat pekuburan dan tempat kesyirikan dan thawaf di sekitarnya serta beristighatsah (meminta tolong) kepada orang-orang shalih dan bersumpah dengan (nama) orang-orang shalih adalah merupakan keyakinan-keyakinan yang mereka pegang dengan kuat).
Oleh karena itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama atas da’i kaum muslimin yang sebenarnya adalah agar mereka menyeru seputar kalimat tauhid ini dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan merinci konsekuensi-kosekuensi kalimat thayyibah ini dengan mengikhlaskan ibadah dan semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah Azza wa Jalla menceritakan perkataan kaum musyrikin, yaitu :
“Artinya : Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar : 3]
Allah menjadikan setiap ibadah yang ditujukan bagi selain Allah sebagai kekufuran terhadap kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah.
Oleh karena itu, pada hari ini saya berkata bahwa tidak ada faedahnya sama sekali upaya mengumpulkan dan menyatukan kaum muslimin dalam satu wadah, kemudian membiarkan mereka dalam kesesatan mereka tanpa memahami kalimat thayyibah ini, yang demikian ini tidak bermanfaat bagi mereka di dunia apalagi di akhirat !.
Kami mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah mengharamkan badannya dari Neraka” dalam riwayat lain : “Maka dia akan masuk Surga”. [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4) dalam Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355)].
Maka mungkin saja orang yang mengucapkan kalimat thayyibah dengan ikhlas dijamin masuk Surga. meskipun setelah mengucapkannya menerima adzab terlebih dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang benar terhadap kalimat thayyibah ini, maka mungkin saja dia diadzab berdasarkan perbuatan maksiat dan dosa yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya tempat kembalinya adalah Surga.
Dan sebaliknya barangsiapa mengucapkan kalimat tauhid ini dengan lisannya, sehingga iman belum masuk kedalam hatinya, maka hal itu tidak memberinya manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang memberinya manfaat di dunia berupa kesalamatan dari diperangi dan dibunuh, apabila dia hidup di bawah naungan orang-orang muslim yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Adapun di akhirat, maka tidaklah memberinya manfaat sedikitpun kecuali apabila :
[1] Dia mengucapkan dan memahami maknanya.
[2] Dia meyakini makna tersebut, karena pemahaman semata tidaklah cukup kecuali harus dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya.
Saya menduga bahwa kebanyakan manusia lalai dari masalah ini ! Yaitu mereka menduga bahwa pemahaman tidak harus diiringi dengan keimanan. Padahal sebenarnya masing-masing dari dua hal tersebut (yaitu pemahaman dan keimanan) harus beriringan satu sama lainnya sehingga dia menjadi seorang mukmin. Hal itu karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rasul yang benar dalam pengakuannya sebagai seorang rasul dan nabi, tetapi pengetahuan mereka tersebut yang Allah Azza wa Jalla telah mepersaksikannya dalam firman-Nya.
“Artinya : Mereka (ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri ….” [Al-Baqarah : 146 & Al-An'am : 20]
Walaupun begitu, pengetahuan itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun ! Mengapa ? Karena mereka tidak membenarkan apa-apa yang diakui oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian) dan risalah (kerasulan). Oleh karena itu keimanan harus didahului dengan ma’rifah (pengetahuan). Dan tidaklah cukup pengetahuan semata-mata, tanpa diiringi dengan keimanan dan ketundukan, karena Al-Maula Jalla Wa’ ala berfirman dalam Al-Qur’an :
“Artinya : Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosa mu …….” [Muhammad : 19].
Berdasarkan hal itu, apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan lisannya, maka dia harus menyertakannya dengan pengetahuan terhadap kalimat thayyibah tersebut secara ringkas kemudian secara rinci. Sehingga apabila dia mengetahui, membenarkan dan beriman, maka dia layak untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan sebagaimana yang dimaksud dalam hadits-hadits yang telah saya sebutkan tadi, diantaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai isyarat secara rinci :
“Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka bermanfaat baginya meskipun satu hari dari masanya”. [Hadits Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]
Yaitu : Kalimat thayyibah ini -setelah mengetahui maknanya- akan menjadi penyelamat baginya dari kekekalan di Neraka. Hal ini saya ulang-ulang agar tertancap kokoh di benak kita.
Bisa jadi, dari tidak melakukan konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah ini berupa penyempurnaan dangan amal shalih dan meninggalkan segala maksiat, akan tetapi dia selamat dari syirik besar dan dia telah menunaikan apa-apa yang dituntut dan diharuskan oleh syarat-syarat iman berupa amal-amal hati -dan amal-amal zhahir/lahir, menurut ijtihad sebagian ahli ilmu, dalam hal ini terdapat perincian yang bukan disini tempat untuk membahasnya- (Ini adalah aqidah Salafus Shalih, dan ini merupakan batas pemisah kita dengan khawarij dan murji’ah). Da dia berada dibawah kehendak Allah, bisa jadi dia masuk ke Neraka terlebih dahulu sebagai balasan dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dia lakukan atau kewajiban-kewajiban yang ia lalaikan, kemudian kalimat thayyibah ini menyelamtkan dia atau Allah memaafkannya dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu :
Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ucapannya ini akan memberi manfaat baginya meskipun satu hari dari masanya”. [Hadits Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]
Adapun orang yang mengucapkan dengan lisannya tetapi tidak memahami maknanya, atau memahami maknanya tetapi tidak mengimani makna tersebut, maka ucapan Laa Ilaaha Illaallah-nya tidak memberinya manfaat di akhirat, meskipun di dunia ucapan tersebut masih bermanfaat apabila ia hidup di bawah naungan hukum Islam.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk memfokuskan da’wah tauhid kepada semua lapisan masyarakat atau kelompok Islam yang sedang berusaha secara hakiki dan bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diserukan oleh seluruh atau kebanyakan kelompok-kelompok Islam, yaitu merealisasikan masyarakat yang Islami dan mendirikan negara Islam yang menegakkan hukum Islam di seluruh pelosok bumi manapun yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan.
Kelompok-kelompok tersebut tidak mungkin merealisasikan tujuan yang telah mereka sepakati dan mereka usahakan dengan sungguh-sungguh, kecuali memulainya dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar tujuan tersebut bisa menjadi kenyataan.
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani,]
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
DIFINISI KUFUR DAN JENISNYA
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Februari 21, 2008
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
[A]. Definisi Kufur
kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.
[B]. Jenis Kufur
Kufur ada dua jenis : Kufur Besar dan Kufur Kecil
Kufur Besar
Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam
[1]. Kufur Karena Mendustakan
Dalilnya adalah firman Allah.
‘Artinya : Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang hak itu datang kepadanya ? Bukankah dalam Neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir ?” [Al-Ankabut : 68]
[2]. Kufur Karena Enggan dan Sombong, Padahal Membenarkan.
Dalilnya firman Allah.
“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, ‘Tunduklah kamu kepada Adam’. Lalu mereka tunduk kecuali iblis, ia enggan dan congkak dan adalah ia termasuk orang-orang kafir” [Al-Baqarah : 34]
[3]. Kufur Karena Ragu
Dalilnya adalah firman Allah.
“Artinya : Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri ; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang baik” Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki ? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun” [Al-Kahfi : 35-38]
[4]. Kufur Karena Berpaling
Dalilnya adalah firman Allah.
“Artinya : Dan orang-orang itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka” [Al-Ahqaf : 3]
[5]. Kufur Karena Nifaq
Dalilnya adalah firman Allah
“Artinya : Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara) lahirnya lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti” [Al-Munafiqun : 3]
Kufur Kecil
Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur amali. Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya.
“Artinya : Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkari dan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir” [An-Nahl : 83]
Termasuk juga membunuh orang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggel leher sebagian yang lain” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik” [At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh Al-Hakim]
Yang demikian itu karena Allah tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin. Allah berfirman.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenan dengan orang-orang yang dibunuh” [Al-Baqarah : 178]
Allah tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melakukan) qishash[1].
Allah berfirman
“Artinya : Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudarnya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yangmemberi maaf dengan cara yang baik (pula)” Al-Baqarah : 178]
Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas –tanpa diargukan lagi- adalah saudara seagama, berdasarkan firman Allah.
“Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” [Al-Hujurat : 9-10] [2]
Kesimpulan Perbedaan Antara Kufur Besar Dan Kufur Kecil
[1]. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.
[2]. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal dalam neraka, sedankan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah memberikan ampunan kepada pelakunya, sehingga ia tiada masuk neraka sama sekali.
[3]. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.
[4]. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimananny, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kemaksiatannya.
Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dan syirik kecil
[Disalin dari kitab At-Tauhid Lis Shaffitss Tsalis Al-Ali Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan]
__________
Foote Note
[1]. Qishash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishash itu tidak dilakukan bila yang membunuh mendapat pemaafan dari ahlis waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaknya membayar dengan baik, umpanya dengan tidak menangguh-nagguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Allah menjelaskan hukum-hukum ini membunuh yang bukan si pembunuh atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat maka terhadapnya di dunia di ambil qishah dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih,-pent
[2]. Lihat Syarhhuts Thahawiyah hal.361, cet. Al-Maktab Al-Islami.
Kufur ada dua jenis : Kufur Besar dan Kufur Kecil
Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam
Dalilnya adalah firman Allah.
Dalilnya firman Allah.
Dalilnya adalah firman Allah.
Dalilnya adalah firman Allah.
Dalilnya adalah firman Allah
Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur amali. Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya.
Foote Note
[1]. Qishash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishash itu tidak dilakukan bila yang membunuh mendapat pemaafan dari ahlis waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaknya membayar dengan baik, umpanya dengan tidak menangguh-nagguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Allah menjelaskan hukum-hukum ini membunuh yang bukan si pembunuh atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat maka terhadapnya di dunia di ambil qishah dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih,-pent
[2]. Lihat Syarhhuts Thahawiyah hal.361, cet. Al-Maktab Al-Islami.
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Leave a Comment »
DEFINISI AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Februari 19, 2008
Oleh :Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari
Pengertian as-Sunnah Secara Bahasa (Etimologi)
As-Sunnah secara bahasa berasal dari kata: “sanna yasinnu”, dan “yasunnu sannan”, dan “masnuun” yaitu yang disunnahkan. Sedang “sanna amr” artinya menerangkan (menjelaskan) perkara.
As-Sunnah juga mempunyai arti “at-Thariqah” (jalan/metode/pandangan hidup) dan “as-Sirah” (perilaku) yang terpuji dan tercela. Seperti sabda Rasulullah SAW,
“Sungguh kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no 3456, 7320 dan Muslim no. 2669 dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri).
Lafazh “sanana” maknanya adalah (pandangan hidup mereka dalam urusan agama dan dunia).
“Barangsiapa memberi contoh suatu sunnah (perilaku) yang baik dalam Islam, maka baginya pahala kebaikan tersebut dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi sesuatu apapun dari pahala mereka. Dan barang siapa memberi contoh sunnah (perilaku) yang jelak dalam Islam ….” (HR. Muslim). ((HR. Muslim no. 1017, at-Tirmidzi no. 2675, Ibnu Majah no. 203, ad-Darimi no. 514, Ahmad (IV/357), an-Nasa-i no. 2553, dan yang lainnya dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah. Hadist selengkapknya adalah sebagai berikut, “Dari al-Mundzir bin jarir, dari bapaknya, dia berkata, “Kami pernah berada bersama Rasulullah SAW pada permulaan terik siang. Dia berkata, ‘Lalu datanglah kepada Rasulullah SAW suatu kaum dalam keadaan tidak beralas kaki dan telanjang, hanya memakai kain selimut (yang nampak dari yang memakainya hanya bagian kepala saja) atua mantel dari karung sambil menyandang pedang, kebanyakan mereka dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya dari Mudhar. Melihat kondisi demikian raut wajah Rasulullah SAW menjadi berubah (karena merasa iba) karena melihat kefakiran yang menimpa mereka. Lalu beliau masuk kemudian keluar, kemudian menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah. Rasulullah SAW lalu mengerjakan shalat kemudian dikuti dengan berkhutbah, sambil bersabda : ‘Hai sekalain manusia bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, …. sampai akhir ayat ‘Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu,’ (An-Nisaa’: 1) juga membaca ayat dalam surat Al-Hasyr, ‘Hari orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memeprhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah….’ (Al-Hasyr: 18). (Karena mendengar khutbah Nabi tersebut) Kemudian ada seseorang bershadaqah dari dinarnya, diharmnya, pakaiannya, dari satu sha’ (kira-kira 3 kg) gandumnya, satu sha’ kurma, sampai-sampai beliau mengatakan walaupun hanya dengan setengah butir kurma kering.’ Dia berkata: “Kemudian seorang laki-laki dari Kaum Anshar membawa membawa sekantung penuh kurma, hampir-hampir telapak tangannya tidak kuat untuk membawahnya, bahkan benar-benar lemah, maka hal itu diikuti silih berganti oleh banyak orang. Sampai-sampai aku melihat dua tumpukan makanan dan pakaian yang sangat banyak. Akupun melihat raut wajah Rasulullah SAW bergembira seakan-akan bersinar cerah sekali, kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala sunnah tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa mencontoh suatu sunnah yang jelek/buruk dalam Islam, maka dosanya akan ditanggungnya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.’)
“Barangsiapa memberi contoh suatu sunnah (perilaku) yang baik dalam Islam, maka baginya pahala kebaikan tersebut dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi sesuatu apapaun dari pahalam mereka. Dan barangsiapa memberi contoh sunnah (perilaku) yang jelak dalam Islam ….”
Lafazh “sunnah” maknanya adalah “sirah” (perilaku). (Lihat kamus bahasa, Lisaanul ‘Arab, Mukhtaarush Shihaah dan al-Qaamuusul Muhith: (bab: Sannana).
Pengertian as-Sunnah Secara Istilah (Terminologi)
Yaitu petunjuk yang telah ditempuh oleh rasulullah SAW dan para Sahabatnya baik berkenaan dengan ilmu, ‘aqidah, perkataan, perbuatan maupun ketetapan.
As-Sunnah juga digunakan untuk menyebut sunnah-sunnah (yang berhubungan dengan) ibadah dan ‘aqidah. Lawan kata “sunnah” adalah “bid’ah”.
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya barang siapa yang hidup diantara kalian setelahkau, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa-ur Rasyidin dimana mereka itu telah mendapat hidayah.” (Shahih Sunan Abi Dawud oleh Syaikh al-Albani). (HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676, dan al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat keternagan hadits selengkapnya di dalam Irwaa-ul Ghaliil no. 2455 oleh Syaikh al-Albani.
Pengertian Jama’ah Secara Bahasa (Etimologi)
Jama’ah diambil dari kata “jama’a” artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan sebagian dengan sebagian lain. Seperti kalimat “jama’tuhu” (saya telah mengumpulkannya); “fajtama’a” (maka berkumpul).
Dan kata tersebut berasal dari kata “ijtima’” (perkumpulan), ia lawan kata dari “tafarruq” (perceraian) dan juga lawan kata dari “furqah” (perpecahan).
Jama’ah adalah sekelompok orang banyak; dan dikatakan juga sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan.
Dan jama’ah juga berarti kaum yang bersepakat dalam suatu masalah. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, Mukhtaraarush Shihaah dan al-Qaamuusul Muhiith: (bab: Jama’a).
Pengertian Jama’ah Secara Istilah (Terminologi):
Yaitu kelompok kaum muslimin ini, dan mereka adalah pendahulu ummat ini dari kalangan para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak kebaikan mereka sampai hari kiamat; dimana mereka berkumpul berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah dan mereka berjalan sesuai dengan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW baik secara lahir maupun bathin.
Allah Ta’ala telah memeringahkan kaum Mukminin dan menganjurkan mereka agar berkumpul, bersatu dan tolong-menolong. Dan Allah melarang mereka dari perpecahan, perselisihan dan permusuhan. Allah SAW berfirman: “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imran: 103).
Dia berfirman pula, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (Ali Imran: 105).
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (golongan), tujuh puluh dua tempatnya di dalam Neraka dan satu tempatnya di dalam Surga, yaitu ‘al-Jama’ah.” (Shahih Sunan Abi Dawud oleh Imam al-Albani). (HR. Abu Dawud no. 4597, Ahmat (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimi (II/241). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dishahihkan pula oleh Syaikh al-Albani. Lihat Silsilatul Ahadadiitsish Shahiihah no. 203.204).
Beliau juga bersabda, “Hendaknya kalian bersatu, dan janganlah bercerai-berai. Karena sesungguhnya syaitan itu bersama seorang, dan dia dari dua orang lebih jauh. Barangsiapa menginginkan di tengah-tengah Surga, maka hendaknya ia berjama’ah (bersatu)!” (HR Ahmad, dalam Musnadnya, dan dishahihkan oleh Imam al-Albani dalam kitab Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim). (HR. At-Tirmidzi no. 2165, Ahmad (I/18), lafazh ini milik at-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim dan bersamanya kitab Zhilaalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah no. 88).
Seorang Sahabat yang mulia bernama ‘Abullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.” (Diriwayatkan oleh al-Lalika-i dalam kitabnya, Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah). (Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Lalika-i no. 160 dan al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman).
Jadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah mereka yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka, baik dalam hal ‘aqidah, perkataan maupun perbuatan, juga mereka yang istiqamah (konsisten) dalam ber-ittiba’ (mengikuti Sunnah Nabi SAW) dan menjauhi perbuatan bid’ah. Mereka itulah golongan yang tetap menang dan senantiasa ditolong oleh Allah sampai hari Kiamat. Oleh karena itu mengikuti mereka (Salafush Shalih) berarti mendapatkan petunjuk, sedang berselisih terhadapnya berarti kesesatan.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempunyai karakteristik dan keistimewaan, diantaranya :
1. Mereka mempunyai sikap wasathiyah (pertengahan) di antara ifraath (melampaui batas) dan tafriith (menyia-nyiakan); dan di antara berlebihan dan sewenang-wenang, baik dalam masalah ‘aqidah, hukum atau akhlak. Maka mereka berada di pertengahan antara golongan-golongan lain, sebagaimana juga ummat ini berada dipertengahan antara agama-agama yang ada.
2. Sumber pengambilan pedoman bagi mereka hanyalah al-Qur-an dan as-Sunnah, Mereka pun memperhatikan keduanya dan bersikap taslim (menyerah) terhadap nash-nashnya dan memahaminya sesuai dengan manhaj Salaf.
3. Mereka tidak mempunyai iman yang diagungkan, yang semua perkataannya diambil dari meninggalkan apa yang bertentangan dengan kecuali perkataan Rasulullah SAW. Dan Ahli Sunnah itulah yang paling mengerti dengan keadaan Rasulullah SAW perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, merekalah yang paling mencintai sunnah, yang paling peduli untuk mengikuti dan paling lolal terhadap para pengikutnya.
4. Mereka meninggalkan persengketaan dan pertengkaran dalam agama sekaligus menjauhi orang-orang yang terlibat di dalamnnya, meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam permasalahan tentang halal dan haram. Mereka masuk ke dalam dien (Islam) secara total.
5. Mereka mengagungkan para Salafush Shalih dan berkeyakinan bahwa metode Salaf itulah yang lebih selamat, paling dalam pengetahuannya dan sangat bijaksana.
6. Mereka menolak ta’wil (penyelewengan suatu nash dari makna yang sebenarnya) dan menyerahkan diri kepada syari’at, dengan mendahulukan nash yang shahih daripada akl (logika) belaka dan menundukkan akal di bawah nash.
7. Mereka memadukan antara nash-nash dalam suatu permasalahan dan mengembalikan (ayat-ayat) yang mutasyabihat (ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian/tidak jelas) kepada yang muhkam (ayat-ayat yang jelas dan tegas maksudnya).
8. Mereka merupakan figur teladan orang-orang yang shalih, memberikan petunjuk ke arah jalan yang benar dan lurus, dengan kegigihan mereka di atas kebenaran, tidak membolak-balikkan urusan ‘aqidah kemudian bersepakat atas penyimpangannya. Mereka memadukan antara ilmu dan ibadah, antara tawakkal kepada Allah dan ikhtiar (berusaha), antara berlebih-lebihan dan wara’ dalam urusan dunia, antara cemas dan harap, cinta dan benci, antara sikap kasih sayang dan lemah lembut kepada kaum mukminin dengan sikap keras dan kasar kepada orang kafir, serta tidak ada perselisihan diantara mereka walaupun di tempat dan zaman yang berbeda.
9. Mereka tidak menggunakan sebutan selain Islam, Sunnah dan Jama’ah.
10. Mereka peduli untuk menyebarkan ‘aqidah yang benar, agama yang lurus, mengajarkannya kepada manusia, memberkan bimbingan dan nasehat kepadanya serta memperhatikan urusan mereka.
11. Mereka adalah orang-orang yang paling sabar atas perkataan, ‘aqidah dan dakwahnya.
12. Mereka sangat peduli terhadap persatuan dan jama’ah, menyeru dan menghimbau manusia kepadanya serta menjauhkan perselisihan, perpecahan dan memberikan peringatan kepada manusia dari hal tersebut.
13. Allah Ta’ala menjaga mereka dari sikap saling mengkafirkan sesama mereka, kemudian mereka menghukumi orang selain mereka berdasarkan ilmu dan keadilan.
14. Mereka saling mencintai dan mengasihi sesama mereka, saling tolong menolong diantara mereka, saling menutupi kekurangan sebagian lainnya. Mereka tidak loyal dan memusuhi kecuali atas dasar agama.
Secara garis besarnya, ahlus sunnah wal jama’ah adalah manusia yang paling baik akhlaknya, sangat peduli terhadap kesucian jiwa mereka dengan berbuat ketaatan kepada Allah Ta’ala, paling luas wawasannya, paling jauh pandangan, paling lapang dadanya dengan khilaf (perbedaan pendapat) dan paling mengetahui tentang adab-adab dan prinsip-prinsip khilaf.
Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Secara Ringkas
Bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah suatu golongan yang telah Rasulullah SAW janjikan akan selamat di antara golongan-golongan yang ada. Landasan mereka bertumpu pada ittiba’us sunnah (mengikuti as-Sunnah) dan menuruti apa yang dibawa oleh nabi baik dalam masalah ‘aqidah, ibadah, petunjuk, tingkah laku, akhlak dan selalu menyertai jama’ah kaum Muslimin.
Dengan demikian, maka definisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak keluar dari definisi Salaf. Dan sebagaimana telah dikemukakan bahwa salaf ialah mereka yang mengenalkan Al-Qur-an dan berpegang teguh dengan As-Sunnah. Jadi Salaf adalah Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Nabi SAW. Dan ahlus sunnah adalah Salafush Shalih dan orang yang mengikuti jejak mereka.
Inilah pengertian yang lebih khusus dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka tidak termasuk dalam makna ini semua golongan ahli bid’ah dan orang-orang yang mendikuti keinginan nafsunya, seperti Khawarij, Jahmiyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Murji’ah, Rafidhah (Syiah) dan lain-lainnya dari ahli bid’ah yang meniru jalan mereka.
Maka sunnah adalah lawan kata bid’ah, sedangkan jama’ah lawan kata firqah (gologan). Itulah yang dimaksudkan dalam hadits-hadits tentang kewajiban berjama’ah dan larangan bercerai-berai.
Inilah yang dimaksudkan oleh “Turjumanul Qur-an (juru bicara al-Qur-an)” yaitu ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a. dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Pada hari yang diwaktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula maka yang hitam muram”. (Ali Imran: 106).
Beliau berkata, “Muka yang putih berseri adalah muka Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan muka yang hitam muram adalah muka ahlil bid’ah dan furqah (perselisihan).” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Juz I hal. 390 (QS. Ali Imran: 106).
Maraji’: Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah).
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | 1 Komentar »
DEFINISI SALAF
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Februari 19, 2008
Oleh :Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari
Pengertian Salaf Secara Bahasa (Etimologi):
Yaitu, apa yang telah berlalu dan mendahului, seperti ungkapan: “Salafa asy-syai-u”, “Salafan” artinnya “madha” (telah berlalu). Dan “Salaf” artinya sekelompok pendahulu atau suatu kaum yang mendahului dalam perjalanan.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.” (Az-Zukhruuf: 55-56).
Maksudnya adalah Kami (Allah) menjadikan orang-orang terdahulu itu sebagai contoh bagi orang yang hendak berbuat seperti perbuatan mereka, agar generasi setelah mereka mengambil pelajaran dan teladan darinya.
Jadi makna Salaf adalah orang yang telah mendahului anda baik itu nenek moyang maupun kerabat keluarga anda, dimana mereka di atas anda baik dari segi umur ataupun kebaikannya. Oleh karena itu, generasi pertama dari kalangan Tabi’in dinamakan “as-Salafush Shalih. (Lihat kamus bahasa Arab: Taajul ‘Aruus, Lisaanul ‘Arab dan al-Qaamuusul Muhuth: (bab:Salafa).
Pengertian Salaf Secara Istilah (Terminologi):
Kata “Salaf” menurut kalangan ulama aqidah, teriminologinya sekitar ‘Sahabat’, atau ‘Sahabat dan Tabi’in atau ‘Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in’ yang hidup di masa (tiga abad pertama) yang dimuliakan dari kalangan para imam yang telah diakui keimanannya, kebaikannya, kepahamannya terhadap as-Sunah dan keteguhannya dalam menjadikan as-Sunnah sebagai pedoman hidupnya, menjauhi bid’ah, dan dari orang-orang yang telah disepakati oleh ummat tentang keimanan mereka serta keagungan kedudukan mereka dalam agama. Oleh karena itu, generasi permulaan Islam dinamakan “as-Salafush Shalih”.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukakan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nissa’: 115).
Firman-Nya pula, ““Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara
orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (yaitu generasi Sahabat), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 (212), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.).
Pemimpin Salafush Shalih Adalah Rasulullah SAW
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil.” (Al-Fat-h: 29).
Allah Ta’ala telah memadukan antara ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul-Nya SAW, dengan berfirman-Nya, “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (An-Nisaa’: 69).
Allah menjadikan ketaatan kepada Rasul SAW merupakan konsekuensi dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Firman-Nya, “Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”( An-Nissa’: 80).
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa ketidaktaatan kepada Rasul dapat menggugurkan dan membatalkan amal perbuatan seseorang. Firman-Nya, ““Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 33).
Dan Dia melarang kita melanggar perintah Rasul SAW. Firman-Nya, “Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul_nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisaa’: 14)
Allah Ta’ala menyuruh kita agar menerima apa yang diperintahkan oleh Rasul SAW dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah Ta’ala befirman: “…..Apa yang diberkan Rasul kepadamu maka terimalah dia! Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah! Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7).
Allah Ta’ala memerintahkan kita agar mengangkat beliau SAW sebagai hakim (penengah) dalam segala aspek kehidupan kita dan mengembalikan semua hukum kepada hukum dan peraturan beliau. Allah SWT berfirman :
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perakara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65).
Allah Ta’ala sudah menyampaikan kepada kita bahwa Nabi-Nya SAW adalah sosok suri teladan dan contoh terbaik; dimana konsekuensinya adalah beliau harus diikuti dan diteladani. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiaman dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzaab: 21)
Allah menyertakan keridhaan-Nya bersamaan dengan keridhaan Rasul-Nya SAW, sebagaimana firman-Nya:
“….Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya, jika mereka adalah orang-orang yang mukmin.” (At-taubah: 62).
Allah pun menjadikan tindakan mengikuti Rasul-Nya SAW sebagai tanda kecintaan kepada-Nya. Firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31).
Oleh karena itu, rujukan Salafush Shalih ketika terjadi perselisihan adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya SAW, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala :“…..Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’ : 59).
Sebaik-baik Salaf setelah Rasulullah SAW adalah para Sahabat, yaitu mereka yang telah mengambil agamanya dari beliau SAW secara benar dan penuh keikhlasan, seabagaimana Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat mereka dalam Kitab-Nya yang mulia, dengan firman-Nya, “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Al-Ahzaab: 23).
Kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, dari tiga generasi pertama yang dimuliakan, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW tentang mereka, “Sebaik-baik manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (yaitu generasi para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 (212), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud r.a).
Oleh karena itu, para Sahabat dan Tabi’in itulah yang lebih berhak untuk diikuti daripada lainnya, dikarenakan kejujuran mereka dalam keimanan, dan keikhlasan mereka dalam beribadah merekalah penjaga (kemurnian) ‘aqidah, penlindung syari’at dan pelaksanaannya baik secara perkataan maupun perbuatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memilih mereka untuk menyebarkan agama-Nya dan menyampaikan Sunnah Rasul-Nya SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Nabi SAW bersabda, “…. Ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di dalam Neraka kecuali satu golongan.” Lalu para Sahabat bertaanya: ‘Wahai Rasulullah, siapa dia? Beliau menjawab: ‘Yaitu mereka berada apa yang telah ditempuh olehku dan Sahabatku.’” (Shahih Sunan at Tirmidzi oleh Imam al-Albani). (HR. At-Tirmidzi no. 2641 dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ no. 5343).
Bagi siapapun yang mendikuti jejak Salafush Shalih dan berjalan di atas manhaj mereka di semua zaman dinamakan: “Salafi,” dinisbahkan kepada mereka, dan sebagai pembeda antara dia dengan orang-orang yang menyelisihi manhaj Salaf dan mengikuti selain jalan mereka.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan kami masukkan ia ke adalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisaa’: 115).
Oleh karena itu, seorang Muslim sudah seharusnya untuk merasa bangga dengan penisbatan dirinya kepada mereka (Salafush Shalih).
Lafazh “Salafiyyah” menjadi sebutan pada penerapan metode Salafush Shalih dalam mengambil (ajaran) Islam, memahami dan Mengamalkannya. Dengan demikian, maka pengertian “Salafiyyah” itu ditunjukkan kepada orang-orang yang berpegang teguh sepenuhnya terhadap al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman Salaf.
Maraji’ : Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah)
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Leave a Comment »
DEFINISI AKIDAH
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Februari 19, 2008
Oleh : Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari
Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi) :
Kata “‘aqidah” diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan).
“Al-‘Aqdu” (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: ” ‘Aqadahu” “Ya’qiduhu” (mengikatnya), ” ‘Aqdan” (ikatan sumpah), dan ” ‘Uqdatun Nikah” (ikatan menikah). Allah Ta’ala berfirman, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja …” (Al-Maa-idah : 89).
Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu’jamul Wasiith: (bab: ‘Aqada).
Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.
Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi)
Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.
Aqidah Islamiyyah:
Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta’ala, Uluhiyyah-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Ta’ala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani Rasulullah SAW.
Aqidah Islamiyyah:
Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Nama lain Aqidah Islamiyyah:
Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sinonimnya aqidah Islamiyyah mempunyai nama lain, di antaranya, at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul Akbar, Asy-Syari’iah dan al-Iman.
Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu ‘aqidah.
Maraji’: Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah).
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | 2 Komentar »
HIJRAH DI JALAN ALLAH
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Januari 9, 2008
Oleh
Syaikh Dr Fadhl Ilahi
Allah Azza wa Jalla menjadikan hijrah di jalan Allah sebagai kunci di antara kunci-kunci rizki. Saya akan membicarakan masalah ini –dengan memohon taufik Allah- melalui dua point berikut ini.
Pertama, Makna Hijrah Di Jalan Allah Ta’ala.
Kedua, Dalil Syar’i Bahwa Hijrah Di Jalan Allah Termasuk Kunci Rizki.
Pertama, Makna Hijrah Di Jalan Allah Ta’ala
‘Al-Muhajarah’ (Hijrah) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani [1] adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Dan hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Sayid Muhammad Rasyid Ridha [Lihat Tafsirul Manar 5/359] harus dengan sebenar-benarnya. Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negerinya itu adalah untuk mendapatkan ridha Allah dengan menegakkan agamaNya yang ia merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah, juga untuk menolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.
Kedua, Dalil Syar’i Bahwa Hijrah Di Jalan Allah Termasuk Kunci Rizki.
Diantara dalil yang menunjukkan bahwa berhijrah di jalan Allah termasuk kunci rizki adalah firman Allah.
“Artinya : Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” [An-Nisaa : 100]
Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal : Pertama ‘muraagama katsiiran”, Kedua ’sa’atan’
Yang dimaksud ‘muragamaa’ sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Razi adalah, barangsiapa berhijrah di jalan Allah ke negeri lain, niscaya akan mendapat di negerinya yang baru itu kabaikan dan kenikmatan yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuhnya yang berada di negeri asalnya. Sebab orang yang memisahkan diri dan pergi ke negeri asing, sehingga mendapatkan ketentraman di sana, lalu berita itu sampai kepada negeri asalnya, niscya penduduk asli negeri itu akan malu atas buruknya mu’amalah (perlakuan) yang mereka berikan, sehinga dengan demikian mereka merasa hina. [2]
Sedangkan yang dimaksud, ’sa’atan’ (keluasan), yaitu keluasan rizki. Inilah yang dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu dalam menafsirkan ayat ini. Juga dikatakan oleh Ar-Rabi’, Adh-Dhahhak [3], Atha [4] dan mayoritas ulama [5]
Qatadah berkata : “Maknanya, keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [Tafsir Al-Qurthubi, 5/348. Lihat pula, Tafsir Ibni Katsir 1/597]
Imam Malik berkata : “Keluasan yang dimaksud adalah keluasan negeri” [Tafsir Al-Qurthubi, 5/348. Lihat pula, Ruhul Ma'ani 5/127]
Mengomentari ketiga pendapat diatas, Imam Al-Qurthubi mengatakan : “Pendapat Imam Malik lebih dekat pada kefasihan ungkapan bahasa Arab. Sebab keluasan negeri dan banyaknya bangunan menunjukkan keluasan rizki. Juga menunjukkan kelapangan dada yang siap menanggung kesedihan dan pikiran serta hal-hal lain yang menunjukkan kemudahan” [Tafsir Al-Qurthubi 5/348]
Pendapat mana saja yang kita ambil dari ketiga pendapat di atas, yang jelas semuanya menunjukkan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapatkan janji dari Allah merupakan keluasan rizki, baik dengan ungkapan langsung maupun secara tidak langsung.
Dan sungguh janji Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Menentukan adalah suatu janji yang haq serta tidak pernah luput. Dan siapakah yang lebih menetapi janjinya daripada Allah ?
Sungguh dunia telah dan sampai sekarang masih menyaksikan kebenaran janji ini. Dan saya kira, orang yang mengetahui sedikit tentang sejarah Islam pun sudah tahu akan peristiwa hijrahnya para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.
Ketika para sahabat meninggalkan rumah-rumah, harta benda dan kekayaan mereka untuk hijrah di jalan Allah Ta’ala, Allah serta merta mengganti semuanya, Allah memberikan kepada mereka kunci-kunci negeri Syam, Persia dan Yaman. Allah berikan kepada mereka kekuasaan atas istana-istana negeri Syam yang merah, juga istana Mada’in yang putih. Kepada mereka juga dibukakan pintu-pintu Shan’a, serta ditundukkan untuk mereka berbagai simpanan kekayaan Kaisar dan Kisra.
Imam Ar-Razi menjelaskan kesimpulan tafsir ayat yang mulia ini berkata : “Walhasil, seakan-akan dikatakan, ‘Wahai manusia ! Jika kamu membenci hiijrah dan tanah airmu hanya karena takut mendapatkan kesusahan dan ujian dalam perjalananmu, maka sekali-kali jangan takut ! Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberimu berbagai nikmat yang agung dan pahala yang besar dalam hijrahmu. Hal yang kemudian menyebabkan kehinaan musuh-musuhmu dan menjadi sebab bagi kelapangan hidupmu” [At-Tafsirul Kabir 11/15]
[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah,
_________
Foote Note
[1] Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata hajaro, hal. 537. Lihat pula, Tahriru Alfadhit Tanbih, hal. 313 dan Kitab At-Ta’rifat, hal. 277
[2] At-tafsirul Kabir, 11/15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5/407, Tafsir At-Tahrir wa Tanwir 5/180 di mana di dalamnya disebutkan, “Ia akan mendapatkan tempat yang dengannya akan merasa hina orang yang menghinakannya. Dengan kata lain, ia bisa menang atas kaummnya karena bebas merdeka dari mereka, sebagaimana ia bebas dari pemaksaan mereka untuk menjadi orang kafir”
[3] Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz 4/228, Zadul Masir 2/179, Tafsir Al-Qurthubi 5/348
[4] Lihat Fathul Qadir 1/764
[5] Lihat Zadul Masir 2/179 Ruhul Ma’ani 5/127, Tafsir Al-Manar 5/359, Aisarut Tafasir 1/445]
Kedua, Dalil Syar’i Bahwa Hijrah Di Jalan Allah Termasuk Kunci Rizki.
_________
Foote Note
[1] Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata hajaro, hal. 537. Lihat pula, Tahriru Alfadhit Tanbih, hal. 313 dan Kitab At-Ta’rifat, hal. 277
[2] At-tafsirul Kabir, 11/15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5/407, Tafsir At-Tahrir wa Tanwir 5/180 di mana di dalamnya disebutkan, “Ia akan mendapatkan tempat yang dengannya akan merasa hina orang yang menghinakannya. Dengan kata lain, ia bisa menang atas kaummnya karena bebas merdeka dari mereka, sebagaimana ia bebas dari pemaksaan mereka untuk menjadi orang kafir”
[3] Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz 4/228, Zadul Masir 2/179, Tafsir Al-Qurthubi 5/348
[4] Lihat Fathul Qadir 1/764
[5] Lihat Zadul Masir 2/179 Ruhul Ma’ani 5/127, Tafsir Al-Manar 5/359, Aisarut Tafasir 1/445]
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
SIKAP PEMUDA DAN PENUNTUT ILMU UNTUK BERLEPAS DIRI DARI JAMAAH-JAMAAH YANG ADA SEKARANG INI
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Oktober 27, 2007
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-FauzanSyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Bagaimana sikap para pemuda yang masih pemula (dalam mempelajarai Islam,-pent) terhadap jama’ah-jama’ah yang ada sekarang ini, mengingat jama’ah-jama’ah tersebut menghendaki mereka, untuk bergabung kepadanya.
Syaihk Fauzan Menjawab:Sungguh Allah dan RasulNya telah memberi kabar tentang akan munculnya firqah-firqah (golongan-golongan) yang menyelisihi jamaah ahlus sunnah, dan menjelaskan tentang bagaimana kita bermuamalah (bersikap) dengan firqah-firqah ini. Allah Ta’ala telah berfirman.
“Artinya : Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” [Al-An'aam: 153]
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan hal tersebut dengan penjelasan yang gambalang, di mana beliau pernah menggaris satu garis lurus, lalu membuat garis-garis bengkok dari sebelah kanan dan kirinya, kemudian beliau bersabda mengenai garis yang lurus tersebut, “Ini adalah jalan Allah”, dan bersabda mengenai garis-baris bengkok, “Dan ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak manusia kepadanya.” [1]
Dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tentang suatu kaum yang datang di akhir zaman.
“Artinya : (Akan ada) para penyeru (dai) yang berada di atas pintu-pintu Jahannam, siapa yang mentaatinya, maka mereka akan melemparkannya dia ke dalamnya.”[2]
Maka wajib bagi para pemuda dan yang lainnya untuk lepas dari semua jamaah-jamaah dan firqah-firqah yang menyelisihi jamaah ahlus sunnah, lalu istiqamah (di atas manhaj ahlus sunnah), dan agar berhati-hati terhadap dai-dai yang menyeru/mengajak kepada jamaah-jamaah tersebut, sebagaimana Rasulullah telah memperingatkan untuk berhati-hati dari mereka, dan agar (senantiasa) komitmen terhadap jamaah ahlus sunnah, yaitu jamaah tunggal yang berada di atas apa yang Rasulullah dan para shahabat berada di atasnya, sesuai sabdanya.
“Artinya : Maka sesungguhnya, siapa yang hidup di antara kalian, maka akan melihat perpecahan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnahnya para khalifah yang terbimbing.” [Hadits shahih dari beberapa jalan, dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/126, Imam At-Tirmidzi: 2676, Imam al-Hakim I/96, dan Al-Baghawi di dalam Syarhus Sunnah I/105 no. 102]
Rasulullah memerintahkan untuk (selalu) berpegang teguh dengan sunnahnya dan sunnah para khalifah yang terbimbing serta (memerintahkan) untuk selalu komitmen terhadap jamaah kaum muslimin dan imamnya, ketika terjadi perselisihan dan perpecahan (umat).
[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]
_________
Foote Note
[1]. Beliau hafizhahullah mengisyaratkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang tsabit (termaktub) di dalam Ash-Shahih bahwa ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garis dengan tangannya kemudian dia bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.”
Ibnu Mas’ud berkata: Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat garis dari kanan dan kiri garis tersebut, kemudian beliaubersabda.
“Ini adalah jalan-jalan, yang tidak satu jalan pun darinya kecualiada setan yang menyerunya.
Kemudian beliau membaca.
“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah iadan jangan mengikuti jalan-jalan.” [HR. Imam Ahmad I/465]
Dan lafazh yang mendekati adalah hadits yang diriwyatkan oleh Al-Hakim II/318, yang lafadznya: Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat untuk kami suatu garis kemudian beliau membuat garis-garis dari kanan dan kirinya, kemudian bersabda.
“Ini adalah jalan Allah, sedangkan ini adalah jalan-jalan yang pada setiap jalan ini ada setan yang menyeru kepadanya….” [Al-Hadits]
Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih, Bukhari dan Muslimi tidak mengeluarkannya”, dan adz-Dzahabi menyetujuinya.
[2]. Ini adalah potongan hadits Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu di mana ia berkata, “Pada waktu itu manusia bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir hal itu akan menimpaku, maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dulu pernah hidup pada masa jahiliyyah dan kejahatan. Kemudian Allah memberikan pada kita kebaikan (Islam), apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan’. Maka Rasulullah menjawab.
‘Benar, (hal itu akan terjadi, pent)’. Aku bertanya lagi: ‘Apakah setelah adanya kejelekan itu akan ada kebaikan?’, ‘Benar, di dalamnya ada kerusakan’. Lalu aku (Hudzaifan) bertanya lagi, ‘Dan apa setelahkebaikan ada kejelekan lagi?’
Beliau menjawab.
‘Ada suatu kaum yang menunjuki tanpa dengan petunjukku, engkau mengenal di antara mereka dan engkau mengingkarinya.’
Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan ada kejelekan lagi?’
Beliau menjawab.
“Ya, (yaiut) para dai (yang menyeru) ke pintu Jahannam, siapa yang menjawab (seruan) mereka, ia akan mereka lemparkan ke dalamnya.’
Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat merekakepada kami’.
Beliau menjawab.
‘Mereka ini berasal dari kulit kita sendiri dan berbicara denganbahasa kita pula.’
Saya bertanya, ‘Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami jika kami menjumpai hal itu?’
Beliau menjawab.
“Tetapi (jangan tingkalkan) jamaah kaum muslimin!”
Aku berkata, “Jika mereka (muslimin) tidak memiliki jamaah dan Imam?”
Maka beliau menjawab.
“Berlepaslah kamu dari semua firqah-firqah (golongan-golongan),walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai engkau meninggal dunia sedang engkau dalam keadaan demikian. ” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari no. 3411, dan ini lafazh bagi dia,dikeluarkan pula oleh Muslim, Al-Hakim dan yang lain]
_________
Foote Note
[1]. Beliau hafizhahullah mengisyaratkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang tsabit (termaktub) di dalam Ash-Shahih bahwa ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garis dengan tangannya kemudian dia bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.”
Ibnu Mas’ud berkata: Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat garis dari kanan dan kiri garis tersebut, kemudian beliaubersabda.
“Ini adalah jalan-jalan, yang tidak satu jalan pun darinya kecualiada setan yang menyerunya.
Kemudian beliau membaca.
“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah iadan jangan mengikuti jalan-jalan.” [HR. Imam Ahmad I/465]
Dan lafazh yang mendekati adalah hadits yang diriwyatkan oleh Al-Hakim II/318, yang lafadznya: Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat untuk kami suatu garis kemudian beliau membuat garis-garis dari kanan dan kirinya, kemudian bersabda.
“Ini adalah jalan Allah, sedangkan ini adalah jalan-jalan yang pada setiap jalan ini ada setan yang menyeru kepadanya….” [Al-Hadits]
Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih, Bukhari dan Muslimi tidak mengeluarkannya”, dan adz-Dzahabi menyetujuinya.
‘Benar, (hal itu akan terjadi, pent)’. Aku bertanya lagi: ‘Apakah setelah adanya kejelekan itu akan ada kebaikan?’, ‘Benar, di dalamnya ada kerusakan’. Lalu aku (Hudzaifan) bertanya lagi, ‘Dan apa setelahkebaikan ada kejelekan lagi?’
Beliau menjawab.
‘Ada suatu kaum yang menunjuki tanpa dengan petunjukku, engkau mengenal di antara mereka dan engkau mengingkarinya.’
Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan ada kejelekan lagi?’
Beliau menjawab.
“Ya, (yaiut) para dai (yang menyeru) ke pintu Jahannam, siapa yang menjawab (seruan) mereka, ia akan mereka lemparkan ke dalamnya.’
Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat merekakepada kami’.
Beliau menjawab.
‘Mereka ini berasal dari kulit kita sendiri dan berbicara denganbahasa kita pula.’
Saya bertanya, ‘Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami jika kami menjumpai hal itu?’
Beliau menjawab.
“Tetapi (jangan tingkalkan) jamaah kaum muslimin!”
Aku berkata, “Jika mereka (muslimin) tidak memiliki jamaah dan Imam?”
Maka beliau menjawab.
“Berlepaslah kamu dari semua firqah-firqah (golongan-golongan),walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai engkau meninggal dunia sedang engkau dalam keadaan demikian. ” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari no. 3411, dan ini lafazh bagi dia,dikeluarkan pula oleh Muslim, Al-Hakim dan yang lain]
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan
FIRQAH YANG SELAMAT ADALAH AHLUS SUNNAH WAL-JAMA’AH
Ditulis oleh abuamincepu di/pada Oktober 27, 2007
Oleh
Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Pada masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku (Allah) adalah Rab kalian, maka beribadahlah kepada-Ku”. [Al-Anbiyaa : 92].
Maka kemudian sudah beberapa kali kaum Yahudi dan munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka belum pernah berhasil. Telah berkata kaum munafiq.
“Artinya : Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar”.
Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah (pada lanjutan ayat yang sama) :
“Padahal milik Allah-lah perbandaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami”. [Al-Munafiqun : 7].
Demikian pula, kaum Yahudi-pun berusaha memecah belah dan memurtadkan mereka dari Ad-Din mereka.
“Artinya : Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya) : (pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (para sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran”. [Ali Imran : 72].
Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil karena Allah menelanjangi dan menghinakan (usaha) mereka.
Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengibas-ngibas kaum Anshar tentang permusuhan diantara mereka sebelum datangnya Islam dan perang sya’ir diantara mereka. Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al-Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman”.[Ali Imran : 100].
Sampai pada firman Allah.
“Artinya : Pada hari yang diwaktu itu ada wajah-wajah berseri-seri dan muram …..” [Ali-Imran : 106]
Maka kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kaum Anshar : menasehati dan mengingatkan mereka ni’mat Islam dan bersatunya merekapun melalui Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berpelukan kembali setelah hampir terjadi perpecahan. [1]. Dengan demikian gagallah pula makar Yahudi dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan. Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al-Haq dan melarang perselisihan dan perpecahan sebagaimana firman-Nya.
“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah belah dan beselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas ……”.[Ali-Imran : 105].
Dan firman-Nya pula.
“Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah ….”.[Ali-Imran : 103].
Dan sesungguhnya Allah telah mensyariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah : seperti shalat, dalam shiyam, dalam menunaikan haji dan dalam mencari ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau telah memberitahukan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya ; sabdanya.
“Artinya : Sesunguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-Ku dan sunnah Khulafaa’rasiddin yang mendapat petunjuk setelah Aku”.[2].
Dan sabdanya pula.
“Artinya : Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan ; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah ..? ; beliau menjawab : yaitu barang-siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini”. [3].
Sesungguhnya telah nyata apa-apa yang telah diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat semasa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya.
“Artinya : Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya”.[4]
Perawi hadits ini berkata : “saya tidak tahu apakah Rasulullah menyebut setelah generasinya dua atau tiga kali”.
Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabi’in dan pengikut para tabi’in serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-dualah Islamiyah pada abad-abad tersebut, sehingga firqah-firqah menyimpang yang mulai ada pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari segi hujjah maupun kekuatannya.
Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan. Diterjemahkannya kitab ilmu ajaran-ajaran kuffar dan para raja Islam-pun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan bercampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitupun madzhab-madzhab yang batilpun ikut bergabung dalam rangka merusak persatuan umat. Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Walaupun demikian kita tetap bersyukur kepada Allah karena Al-Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah masih tetap berada dalam keadaan berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar berjalan diatasnya, dan menyeru kepadanya ; bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgenggnya Din ini dan tegaknya hujjah atas para penentangnya.
Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini berada di atas apa-apa yang pernah ada semasa sahabat Radhiyallahu ‘anhum bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam perkataan perbuatan maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau.
“Artinya : Mereka yaitu barangsiapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini” [5]
Sesungguhnya mereka itu adalah sisa-sisa yang baik dari orang-orang yang tentang mereka Allah telah berfirman.
“Artinya : Maka mengapakah tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (shalih) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil diantara orang-orang yang telah kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang dzolim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka ; dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”. [Huud : 116].
[Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah oelh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh Saudi Arabia]
_________
Foote Note
[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/397 dan Asbabun Nuzul Al-Wahidy hal. 149-150
[2] Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43
[3] Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 5/2641 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya I/128-129, dan Imam Al-Ajury di dalam Asy-Syari’ah hal.16 dan Imam Ibnu Nashr Al-Mawarzy di dalam As-Sunnah hal 22-23 cetakan Yayasan Kutubus Tsaqofiyyah 1408, dan Imam Al-Lalikaai dalam Syar Ushul I’tiqaad Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah I nomor 145-147
[4] Dikeluarkan oleh Bukhari 3/3650, 3651 dan Muslim 6/juz 16 hal 86-87 Syarah An-Nawawy
[5] Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43
Foote Note
[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/397 dan Asbabun Nuzul Al-Wahidy hal. 149-150
[2] Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43
[3] Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 5/2641 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya I/128-129, dan Imam Al-Ajury di dalam Asy-Syari’ah hal.16 dan Imam Ibnu Nashr Al-Mawarzy di dalam As-Sunnah hal 22-23 cetakan Yayasan Kutubus Tsaqofiyyah 1408, dan Imam Al-Lalikaai dalam Syar Ushul I’tiqaad Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah I nomor 145-147
[4] Dikeluarkan oleh Bukhari 3/3650, 3651 dan Muslim 6/juz 16 hal 86-87 Syarah An-Nawawy
[5] Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43
Ditulis dalam Akidah,Manhaj,Tauhid | Komentar Dimatikan

