وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

  • Radio Online

  • Larangan Fanatik Buta

    Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

  • Mutiara Alquran

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

  • Mutiara Sunnah

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau akan dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jika seandainya dunia ini di sisi Allah dianggap ada nilainya dengan selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi

  • Mutiara Ulama Salaf’

    أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ "Wahai Saudaraku Kalian Tidak Bisa Mendapatkan Ilmu Kecuali Dengan 6 Syarat Yang Akan Saya Beritahukan" 1.Dengan Kecerdasan, 2.Dengan Semangat , 3.Dengan Bersungguh-sungguh , 4.Dengan Memiliki bekal (biaya), 5.Dengan Bersama guru dan , 6.Dengan Waktu yang lama, (Imam Syafi'i Rahimahulloh)
  • Admin Setting

  • Maaf Komentar Yang Dicurigai Bervirus Diblokir

KOLOM TANYA JAWAB

Bismillah 

 إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Para Pembaca Yang Budiman,

Dikarenakan banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang masuk dan memerlukan perhatian khusus , maka kami dari Pengasuh Ma’had Salafiyah Annashihah Cepu membuat kolom khusus pertanyaan  dan akan berusaha memberikan jawaban yang kami ambil dari Alqur’an dan Sunnah serta penjelasan para ulama, Adapun jika ada pertanyaan yang belum bisa ditanggapi , mungkin dikarenakan kesibukan kami atau terbatasnya referensi kami, untuk itu sekiranya penanya harap memakluminya dan menempati sikap sabar untuk menunggu jawabanya.Semoga Alloh ta’aala memberikan sikap amanah kepada kita semua dan antum sekalian didalam meneruskan risalah Nabi Sholollohualaihi Wassalam.Amin Yarobal Alamin 

Kami adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan sekiranya ada saran kritik dari pembaca semua akan menjadikan keberkahan kita bersama dan didalam meniti manhaj yang shohih ini.Semoga Alloh Mengampuni kesalahan kami sebelum ataupun setelah mati kami.

Telah berkata para salafu shalih rahimakumulloh yaitu salafiy pendahulu kita  yang sholeh

Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi’i) mengatakan:
كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
“Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
“Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
“Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
“Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

 Pertanyaan Antum Jika Memungkinkan Akan Dijawab Oleh:

1.Al Ustadz  Rifa’i Hafidzahulloh (Mudir Ma’had Tarbiyatun Nisa Ngawi)

2.Al Ustadz Nur Huda Hafidzahulloh (Darul Hadits,  Fuyusy Aden Yaman)

3. Al Ustadz Syafi’i Bin Shalih Al Idrus Hafidzahulloh (Mudir Mahad Assunnah Geneng Ngawi)

4.Al Ustadz Abu Malik Jundi Hafidzahulloh (Darul Hadits,  Fuyusy Aden Yaman)

5.Al Ustadz Abu Abdillah Marjan (Mahad Albayinah Gresik)

http://annashihahcepu.wordpress.com/

(Telah Hadir Group Whats App Penghafal Alqur’an ,  Jika Tertarik Daftar Di no :081315878504, Disana antum bisa tanya jawab  dan akan mendapatkan banyak faedah dari para Assatidzah dan Masyayikh, Syaratnya Berahklak Mulia dan Profile tidak bergambar mahkluk bernyawa )

92 Tanggapan to “KOLOM TANYA JAWAB”

  1. syahrulazmie berkata

    assalamualaikum..
    ustad ana pernah membaca artikel bahwa Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah.dan penghinaan terhadap syaikh al-albani rahimahullah,atau lebuh jelasnya klik salafytobat.wordpress.com . bagaimana menurut ustad tntang blog ini dan isi -isi yang ada di dalamnya.
    Mohon nasehatnya ustad.
    barakallahufik..

    Abu Amin Cepu:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Bismillah,Ana telah membaca beberapa tulisan yang dimuat dalam situs http//salafytobat.wordpress.com

    Ana menasehatkan untuk antum supaya menjauh dari situs tersebut,dan lebih menyibukan untuk belajar ilmu ushul(dasar), Menghafal Alqur’an dan Menghafal Hadist, Membaguskan Ibadah dan Memperindah adab dan ahklak dengan ilmu yang telah antum pelajari.karena sudah cukup bantahan bagi situs ini dan mereka yang mau jujur dengan dirinya maka akan difahami situs tersebut berisi Kejelekan-kejelekan seperti dibawah ini :

    1.Condong memiliki pemahaman agama syiah
    2.Membodohi orang awam dengan foto-foto dokumentasi seolah sebagai bukti kebenaran padahal hanya rekayasa
    3.Membodohi orang awam dengan scan kitab asli padahal menterjemahkanya tidak sesuai dengan yang diinginkan pengarang kitab-Nya (Misal kitab kitab ulama’ ahlu sunnah)
    4.Penulisnya tidak punya ahklak dan adab yang baik
    5.Tidak ilmiah dalam membuat tulisan dan dalam membuat bantahan
    6.Tujuan penulisan hanya membuat tuduhan dan hujatan, bukan untuk dakwah kepada Alloh ta’ala
    7.Penulisnya tidak dikenal dari kalangan manusia dan tidak bisa dipercaya
    8.Terlihat anti kepada salafi (Ulama salafu sholeh), bagaimana mungkin dia keluar dari salafy padahal rosul adalah salafy sejati.
    9.Penulisnya Tukang bersilat lidah
    10.Kelihatan punya motif dendam bukan berdakwah ihklas kepada Alloh t’ala
    11.Pendukung situs tersebut kebanyakan orang awam yang fanatik buta terhadap kelompoknya
    12.Terlalu terburu-buru dalam memfonis tidak pernah iqomatul hujah, tidak mempertimbangkan waqi’
    13.Merasa dirinya berilmu melebihi ulama ulama yang dunia mengakuinya, sedang dia hanya seorang tukang fitnah
    14.Tidak punya adab dengan sahabat nabi, ulama salafiyah
    15.Mencampur-adukan perbedaan prinsip aqidah dengan perbedaan cabang figh

    Antum tidak usah risau dengan ulahnya, “Sungguh darah ulama’ itu beracun” Maka saksikanlah kesudahan orang ini, sungguh besarnya balasan sebagai mana besarnya perbuatannya.

    Link dibawah ini kami telah membuat bantahanya coba antum search kelanjutanya dan mohon disebarkan bagi mereka yang membutuhkanya:
    http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1480

    Wallohu a’lam bishowab,

  2. ihsan_amry berkata

    Dikirim pada tanggal 2011/09/06 pukul 8.18
    Bismillah..
    ustad, ana mau tanya..
    bagaimana caranya kita menanggapi fitnah. kalau ada org yang berkata..
    hidup kita ini sudah di tentukkan akan bakalan jadi apa di dunia dan nantinya akan berakhir dimana kita (surga atau neraka..)
    ana tunggu balasannya ustad..

    Abu Amin Cepu :
    Bismillah ahkhuna Yusuf Wa Barokallohufiek Fieilmikum wa amalikum,

    Didalam menanggapi perkataan orang orang yang awam dan belum mengerti hakikat suatu permasalahan, hendaknya ditanggapi dengan sikap hikmah (lemah lembut) Alloh Ta’ala Berfirman :
    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
    “Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [At-Taubah : 128]

    Rosul Juga bersabda :
    وعن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله متفق عليه
    “Dari Aisyah Ummul Mukminin ” Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”

    وعنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه رواه مسلم
    “Artinya : Sungguh, segala sesuatu yang ada padanya kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa adanya kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”

    وعن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من يحرم الرفق يحرم الخير كله رواه مسلم
    “Artinya : Barangsiapa yang meniadakan sifat lembut, maka akan tertahan kebaikan semuanya.

    Dari ayat dan hadits diatas dapat difahami bahwa kebaikan itu terletak pada sikap lembut kita didalam berdakwah dan kejelekan itu terletak kepada sikap kaku didalam berdakwah dan pada urusan lainya,

    Kita harus memahami semua bahwa ridhlo seluruh manusia itu tidak mungkin bisa dicapai artinya ada yang menolak penjelasan kita dan ada yang menerimanya yang terpenting kita sudah berusaha sekuat tenaga berdakwah dengan bimbingan rosul sholollohualaihi wassalam,

    Mengenai permasalahan antum hendaknya dijelaskan dengan hikmah dari pengertian qodho’ dan qodar,

    PERTAMA : QADAR
    Qadar, menurut bahasa yaitu: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, dan adakalanya huruf daal-nya disukunkan (qa-dran).

    Ibnu Faris berkata, “Qadara: qaaf, daal dan raa’ adalah ash-sha-hiih yang menunjukkan akhir/puncak segala sesuatu. Maka qadar adalah: akhir/puncak segala sesuatu. Dinyatakan: Qadruhu kadza, yaitu akhirnya. Demikian pula al-qadar, dan qadartusy syai’ aqdi-ruhu, dan aqduruhu dari at-taqdiir.”

    Qadar ialah: kepastian dan hukum, yaitu apa-apa yang telah ditentukan Allah Azza wa Jalla dari qadha’ (kepastian) dan hukum-hukum dalam berbagai perkara
    .
    Takdir adalah: Merenungkan dan memikirkan untuk menyamakan sesuatu.

    Qadar, menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya.

    Atau: Sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. Dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat ter-tentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya.

    Atau: Ilmu Allah, catatan (takdir)-Nya terhadap segala sesuatu, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut.

    KEDUA : QADHA’
    Qadha’, menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.
    Asal (makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menen-tukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyele-saikannya. Maknanya adalah mencipta.

    Qadha’ dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha’. Barangsiapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut.

    Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Mereka, yakni para ulama mengatakan, ‘Qadha’ adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut.’”

    KEMUDIAN DIJELASKAN DALAM KITAB KITAB SEJARAH BAHWA DIJAMAN AWALUL MUSLIMIN SUDAH MUNCUL BEBERAPA KELOMPOK, Diantaranya adalah :

    1.JABARIYAH ialah orang yang berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam perbuatannya, tidak mempunyai kehendak dan keinginan. (ini sedikit mirip dengan pemahaman teman antum, wallohu a’lam mudah mudahan karena ketidak tauanya)

    Diceritakan bahwa Umar Ibnu Khotob pernah menghukum orang JABARIYAH dan Orang JABARIYAH itu berkata ” Wahai Amirul mukminin bukankah saya mencuri semua itu sebagaimana kehendak Alloh, lalu kenapa kamu menghukumku?” Kemudian Umar Ibnu Qothob menjawab” Iya maka saya memotong tanganmu juga karena kehendak Alloh Ta’ala”

    Dari jawaban umar dapat di simpulkan bahwa manusia itu mempunyai kehendak dan usaha akan tetapi semua ahkir usaha adalah sesuai dengan kehendak Alloh.Dan kehendak Alloh ini sebagian tertuang lewat Kalamnya Alqur’an dan yang dijelaskan Rosul Sholollohualaihi Wassalam.

    Maka diantara firman Alloh ta’ala menyebutkan:
    وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

    artinya “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,(Almaidah ayat 48)

    2.QODARIYAH ialah orang yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya dan mengingkari adanya takdir. (ini orang orang yang hanya mengandalkan usahanya saja)

    Adapun ahlu sunnah adalah umat pertengahan yaitu yang mengimani ketentuan Alloh dan yang berusaha dengan anugerah yang diberikan Alloh serta bertawakal atas ketentuan ahkir dari-Nya.

    Ada sebuah hadits yang dapat mencerahkan kita tentangpermasalahan ini dalam hadits Jabir dalam Shahiih Muslim, ketika Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan

    “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang agama kami, seolah-olah kami baru diciptakan pada hari ini, yaitu mengenai amal perbuatan hari ini, apakah berdasarkan pada apa yang telah tertulis oleh tinta pena (takdir) yang sudah mengering dan takdir-takdir yang telah ditentukan, atau berdasarkan dengan apa yang akan kita hadapi?”

    Beliau menjawab: “Tidak, bahkan berdasarkan pada tinta pena yang telah kering dan takdir-takdir yang telah ada.”

    Ia bertanya, “Lalu, untuk apa kita beramal?” Beliau menjawab:“Beramallah! Sebab semuanya telah dimudahkan.”Dalam sebuah riwayat disebutkan:“Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk perbuatan-nya.”
    Maka jawaban untuk teman antum bahwa manusia jika dikehendaki akan masuk syurga maka cirinya dia dimudahkan dalam beramal dengan amalan syurga hinggga ahkir hayatnya dan demikian sebaliknya jika seseorang dikendaki masuk neraka maka akan mudah mengamalkan amalan amalan yang menghantarkan kepada neraka, sedangkan tuntunan amalan mana yang menghantarkan ke syurga dan neraka telah dijelaskan semuanya dalam Alquran dan Hadits Rosul Dengan pemahaman para sahabat Ridhollohu anhum ajma’in .
    Demikian Semoga bermanfaat, Wallohu a’lam bishowab.

    Dibawah ini ana lampirkan fatwa fatwa Syeikh utsaimin dalam Kitab Al-Qadha’ wal Qadar

    APAKAH MANUSIA DIBERI KEBEBASAN MEMILIH?

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Apakah manusia dibebaskan memilih atau dijalankan?”.

    Jawaban.

    Penanya seharusnya bertanya pada diri sendiri ; Apakah dia merasa dipaksa oleh seseorang untuk menanyakan pertanyaan ini, apakah dia memilih jenis mobil yang dia inginkan ? dan berbagai pertanyaan semisalnya. Maka akan tampak jelas baginya jawaban tentang apakah dia dijalankan atau dibebaskan memilih.

    Kemudian hendaknya dia bertanya kepada diri sendiri ; Apakah dia tertimpa musibah atas dasar pilihannya sendiri ? Apakah dia tertimpa penyakit atas dasar pilihannya ? Apakah dia mati atas dasar pilihannya sendiri ? dan berbagai pertanyaan semisalnya. Maka akan jelas baginya jawaban tentang apakah dia dijalankan atau dibebaskan memilih.

    Jawabnya.

    Sesungguhnya segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memiliki akal sehat jelas dia lakukan atas dasar pilihannya. Simaklah firman Allah.

    “Artinya : Maka barangsiapa menghendaki, maka dia mengambil jalan menuju Rabb-Nya” [An-Naba : 39]
    Dan firman Allah.

    “Artinya : Sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki dunia dan sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki akhirat” [Ali-Imran : 152]
    Dan firman Allah.

    “Artinya : Barangsiapa menghendaki akhirat dan menempuh jalan kepadanya dan dia beriman, maka semua perbuatannya disyukuri (diterima)”. [Al-Isra' : 19]
    Dan firman-Nya.

    “Artinya : Maka dia diwajibkan membayar fidyah, berupa puasa atau sedekah atau hajji” [Al-Baqarah : 196]
    Di mana dalam ayat fidyah di atas, pembayar fidyah diberi kebebasan memilih apa yang akan dibayarkan.

    Akan tetapi, apabila seseorang menghendaki sesuatu dan telah melaksanakannya, maka kita tahu bahwa Allah telah menghendaki hal itu, sebagaimana firman-Nya.

    “Artinya : Sungguh barangsiapa dari kamu menghendaki beristiqomah, maka kamu tidak akan berkehendak kecuali Allah Rabb sekalian alam menghendakinya” [At-Takwir : 29]
    Maka sebagai kesempurnaan rububiyah-Nya, tidak ada sesuatupun terjadi di langit dan di bumi melainkan karena kehendak Allah Ta’ala.

    Adapun segala sesuatu yang menimpa seseorang atau datang darinya dengan tanpa pilihannya, seperti sakit, mati dan berbagai bencana, maka semua itu murni karena Qadar Allah dan manusia tidak punya kebebasan memilih dan berkehendak.

    Semoga Allah memberi Taufiq.

    HUKUM RIDHA’ TERHADAP QADAR

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Bagaimana hukum ridha (rela) kepada Qadar? dan apakah do’a itu bisa menolak Qadha?

    Jawaban.

    Ridha pada Qadar hukumnya wajib, karena ha itu termasuk kesempurnaan ridha akan rububiyah Allah. Maka setiap mu’min harus ridha pada Qadha’ Allah. Akan tetapi Muqadha (sesuatu yang diqadha’) masih perlu dirinci, karena sesuatu yang diqadha berbeda dengan Qadha itu sendiri. Qadha adalah perbuatan Allah, sedangkan sesuatu yang diqadha’ adalah sesuatu yang dikenai Qadha’. Maka Qadha’ yang merupakan perbuatan Allah harus kita relakan dan dalam kondisi apapun kita tidak boleh membencinya selamanya.

    Adapun sesuatu yang diqadha’ terbagi menjadi tiga macam.

    Wajib direlakan
    Haram direlakan.
    Disunnahkan untuk direlakan
    Sebagai contoh, perbuatan ma’siyat adalah sesuatu yang diqadha oleh Allah dan ridha pada kemasyiatan hukumnya haram, sekalipun dia terjadi atas Qadha Allah. Maka barangsiapa melihat pada kema’siyatan, maka dia harus rela dari sisi Qadha’ yang telah lakukan Allah dan harus mengatakan bahwa Allah Maha Bijaksana dan kalau kebijakan-Nya tidak menentukan ini, maka dia tidak akan pernah terjadi. Adapun dari sisi sesuatu yang diqadha’, maka perbuatan tersebut wajib tidak direlakan dan wajib menghilangkan kema’siyatan tersebut dari dirimu sendiri dan orang lain.

    Sebagian dari sesuatu yang diqadha’ harus direlakan, seperti kewajiban syar’iyah, karena Allah telah menentukannya secara riil dalam syar’iyah. Maka kita harus merelakannya, baik dari sisi Qadha’nya maupun sesuatu yang diqadha’.

    Bagian ketiga disunnahkan untuk merelakannya dan diwajbkan bersabar karenanya, yaitu berbagai musibah yang terjadi, Maka semua musibah yang terjadi, menurut para ulama, disunnahkan untuk merelakan dan tidak diwajibkan. Akan tetapi wajib bersabar karenanya. Perbedaan antara sabar dan rela adalah bahwa dalam sabar seseorang tidak menginginkan apa yang terjadi, akan tetapi dia tidak mencoba sesuatu yang menyalahi syara’ dan menghilangkan kesabaran, sedangkan rela adalah seseorang tidak membenci apa yang terjadi, sehingga terjadinya atau tidak terjadinya baginya sama saja. Inilah perbedaan antara rela dengan sabar. Oleh karena itu, para ulama Jumhur mengatakan : “Sesungguhnya sabar itu wajib, sedangkan rela itu disunnahkan”.

    Adapun pertanyaan : “Apakah do’a itu dapat menolak Qadha”, maka jawabnya demikian :

    Sebenarnya do’a merupakan sebab teraihnya sesuatu yang dicari dan dalam kenyataannya, do’a dapat menolak Qadha dan tidak dapat menolaknya sekaligus. Artinya terdapat dua sisi pandang dalam do’a. Sebagai contoh orang sakit terkadang berdo’a kepada Allah (untuk disembuhkan), kemudian sembuh. Maka dalam hal ini, seandainya ia tidak berdo’a, maka dia akan tetap sakit, akan tetapi dengan do’a tersebut dia menjadi sembuh. Hanya saja kita dapat mengatakan bahwa Allah telah menetapkan, sembuhnya penyakit tersebut dengan lantaran do’a dan ini telah tertulis/tersurat. Maka do’a tersebut secara lahir dapat menolak Qadar, di mana manusia meyakini bahwa kalau tidak ada do’a tersebut, maka penyakit tersebut akan tetap diderita. Akan tetapi, hakikatnya, do’a tersebut tidak menolak Qadha’, karena pada dasarnya do’a tersebut juga telah tertulis (ditakdirkan) dan kesembuhan tersebut akan terjadi dengannya. Inilah Qadar yang sebenarnya telah tertulis di zaman azali. Demikianlah, sehingga segala sesuatu pasti melalui sebab dan sebab tersebut telah dijadikan Allah sebagai sebab teraihnya dan sesuatu itu semua telah tertulis sejak zaman azali sebelum terjadi.

    APAKAH DO’A BISA MENGUBAH KETENTUAN?

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Apakah do’a berpengaruh merubah apa yang telah tertulis untuk manusia sebelum kejadian?”

    Jawaban.

    Tidak diragukan lagi bahwa do’a berpengaruh dalam merubah apa yang telah tertulis. Akan tetapi perubahan itupun sudah digariskan melalui do’a. Janganlah anda menyangka bila anda berdo’a, berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do’a anda telah tertulis dan apa yang terjadi karenanya juga tertulis. Oleh karena itu, kita menemukan seseorang yang mendo’akan orang sakit, kemudian sembuh, juga kisah kelompok sahabat yang diutus nabi singgah bertamu kepada suatu kaum. Akan tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah mentakdirkan seekor ular menggigit tuan mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca do’a kepadanya (supaya sembuh). Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk hal tersebut. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing. Maka berangkatlah seorang dari sahabat untuk membacakan Al-Fatihah untuknya. Maka hilanglah racun tersebut seperti onta terlepas dari teralinya. Maka bacaan do’a tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.

    Dengan demikian, do’a mempunyai pengaruh, namun tidak merubah Qadar. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran do’a yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena Qadar Allah, begitu juga segala sebab mempunyai pengaruh terhadap musabab-nya dengan izin Allah. Maka semua sebab telah tertulis dan semua musabab juga telah tertulis.

    BAGAIMANA ALLAH MENYIKSA MANUSIA SEDANG ITU SUDAH DITENTUKAN ALLAH

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Ada polemik yang dirasakan sebagian manusia, yaitu bagaimana Allah akan menyiksa karena ma’siyat, padahal telah Dia takdirkan hal itu atas manusia ?”

    Jawaban.

    Sebenarnya hal ini bukanlah polemik. Langkah manusia untuk berbuat jahat kemudian dia disiksa karenanya bukanlah persoalan yang sulit. Karena langkah manusia pada berbuat jahat adalah langkah yang sesuai dengan pilihannya sendiri dan tidak ada seorangpun yang mengacungkan pedang di depannya dan mengatakan : “Lakukanlah perbuatan munkar itu”, akan tetapi dia melakukannya atas pilihannya sendiri. Allah telah berfirman.

    “Artinya : Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan (yang benar), maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur” [Al-Insan : 3]
    Maka baik kepada mereka yang bersyukur maupun yang kufur, Allah telah menunjukkan dan menjelaskan tentang jalan (yang benar). Akan tetapi sebagian manusia ada yang memilih jalan tersebut dan sebagian lagi ada yang tidak memilihnya. Penjelasan (Allah) tersebut pertama dengan Ilzam (keharusan/kepastia logis) dan kedua dengan Bayan (penjelasan).

    Dalam hal Ilzam, maka kita dapat mengatakan kepada seseorang : Amal duniawi dan amal ukhrawimu sebenarnya sama dan seharusnya anda memperlakukan keduanya secara sama. Sebagai hal yang maklum adalah apabila ditawarkan kepadamu dua pekerjaan duaniawi yang telah direncanakan. Yang pertama kamu yakini mengandung kabaikan untuk dirimu dan yang kedua merugikan dirimu. Maka pastilah anda akan memilih pekerjaan pertama yang merupakan pekerjaan terbaik dari dua rencana di atas dan tidak mungkin anda memilih pekerjaan kedua, yang merupakan pilihan terburuk lalu anda mengatakan : “Qadar (Allah) telah menetapkan saya padanya (piliha kedua). Dengan demikian, apa yang telah anda tetapkan dalam menempuh jalan dunia semestinya anda lakukan dalam menempuh jalan ukhrawi. Kita dapat mengatakan : Allah telah menawarkan di hadapanmu dua amal akhirat, yaitu amal buruk yang berupa amal-amal yang menyalahi syara’ dan amal shalih yang berupa amal-amal yang sesuai dengan syara’. Maka apabila dalam berbagai pekerjaan duniawi anda memilih perbuatan yang baik, mengapa anda tidak memilih amal baik dalam amal akhirat. Karena itu, seharusnya anda memilih amal baik di dalam mencari akhirat sebagaimana anda harus memilih pekerjaan baik dalam mencari dunia. Inilah cara Ilzam.

    Adapun cara Bayan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita semua tidak tahu apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Allah berfirman.

    “Artinya : Setiap diri tidak mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok” [Luqman : 34]
    Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama’ mengatakan : “Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup”. Dan kita semua tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan tersebut telah terjadi. Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu perbuatan, maka bukan berarti kita melakukannya atas dasar bahwa perbuatan tersebut telah ditetapkan bagi kita. Akan tetapi kita melakukannya berdasarkan pilihan kita sendiri dan ketika telah terjadi maka kita baru tahu bahwa Allah telah mentakdirkannya untuk kita.

    Oleh karena itu, manusia tidak bisa beralasan dengan takdir kecuali setelah terjadinya perbuatan tersebut. Disebutkan dari Amirul Mu’minin, Umar bin Kahtthab, sebuah kisah (mungkin benar dari beliau mungkin tidak) bahwa seorang pencuri yang telah memenuhi syarat potong tangan dilaporkan kepada beliau. Ketika Umar menyuruh untuk memotong tangannya, dia mengatakan : “Tunggu dulu hai Amirul Mu’minin, demi Allah aku tidak mencuri itu kecuali karena Qadar Allah”. Umar mengatakan : “Aku tidak akan memotong tanganmu kecuali karena Qadar Allah”. Maka Umar berargumentasi dengan argumentasi yang digunakan pencuri tersebut tentang kasus pencurian terhadap harta orang-orang Islam. Padahal Umar bisa berargumentasi dengan Qadar dan Syari’at, karena beliau diperintahkan untuk memotong tangannya. Adapun dalam kasus tersebut, beliau berargumentasi dengan Qadar karena argumentasi tersebut lebih tepat mengenai sasaran.

    Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi dengan Qadar untuk berbuat ma’siyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman.

    “Artinya : (Aku telah mengutus) para rasul yang membawa berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah setelah adanya para rasul” [An-Nisa : 165]

    Sementara semua amal manusia, setelah datangnya para rasul, tetap terjadi atas Qadar Allah. Walaupun Qadar bisa dijadikan argumentasi akan tetapi selalu bersama-sama dengan terutusnya para rasul selamanya. Dengan demikian jelas bahwa tidak layak berbuat ma’siyat dengan alasan Qadha’ dan Qadar Allah, karena dia tidak dipaksa untuk melakukannya.

    Semoga Allah memberi Taufiq.

    APAKAH REZKI DAN JODOH TELAH DI TULIS DI LAUH MAHFUDZ

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Apakah rezqi dan jodoh juga telah tertulis di Lauh Mahfudz ?”.

    Jawaban.

    Segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari Qiyamat telah tertulis di Lauh Mahfudz, karena sejak permulaan menciptakan Qalam Allah telah berfirman kepadanya : “Tulislah”, Dia (Qalam) bertanya : “Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman : “Tulislah segala sesuatu yang terjadi”. Kemudian dia (Qalam) menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat. Juga diriwayatkan dari Nabi :

    “Artinya : Sesungguhnya janin yang ada dalam kandungan ibunya ketika telah melewati umur empat bulan, maka Allah mengutus Malaikat kepadanya yang meniupkan roh dan menulis rizqi, ajal, amal dan apakah dia celaka atau bahagia”.
    Rezqi juga telah tertulis dan ditakdirkan beserta sebab-sebabnya, tidak bertambah dan tidak berkurang. Sebagian dari sebab-sebab (rezqi) adalah pekerjaan manusia untuk mencari rezqi, sebagaimana firman Allah :

    “Artinya : Dia (Allah) adalah Tuhan yang telah menjadikan bumi tunduk (kepadamu), maka berjalanlah dia atas pundaknya dan makanlah sebagian rezqi-Nya dan kepada-nyalah tempat kembali” [Al-Maidah : 15]
    Sebagian dari sebab-sebab rezqi lagi adalah menyambung persaudaraan (sillaturrahim), termasuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan menyambung hubungan keluarga, karena Nabi telah bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa ingin dilapangkan rezqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung persaudaraan (sillaturrahim).
    Sebagian sebab-sebab rezqi lagi adalah bertaqwa kepada Allah, sebagaimana firman Allah.

    “Artinya : Barangsiapa bertaqwa, maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezqi dengan tanpa disangka-sangka” [Ath-Thalaq : 2-3]
    Janganlah anda mengatakan : “rezqi telah tertulis dan terbatasi dan aku tidak akan melakukan sebab-sebab untuk mencapainya”. Karena pernyataan tersebut adalah suatu kelemahan. Sedangkan yang disebut kepandaian adalah kamu tetap berupaya mencari rezqi dan sesuatu yang bermanfaat bagimu, baik untuk agamamu maupun untuk duniamu. Nabi bersabda.

    “Artinya : Seorang yang pandai adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang hanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan”

    Sebagaiamana rezqi telah tertulis dan ditaqdirkan bersama sebab-sebabnya, maka jodoh juga telah tertulis (beserta sebab-sebabnya). Masing-masing dari suami istri telah tertulis untuk menjadi jodoh bagi yang lain. Bagi Allah tidak rahasia lagi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun di langit.

    JIKA PERBUATAN ORANG KAFIR TELAH DITULIS MENGAPA DIA DISIKSA ?

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Apakah perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di Lauh Mahfudz ? Apabila benar, maka bagaimana Allah menyiksa mereka ..?”

    Jawaban.

    Benar, perbuatan orang-orang kafir telah tertulis sejak zaman azali, bahkan perbuatan semua manusia telah tertulis sejak dia berada di perut ibunya, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ia berkata ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang benar lagi dibenarkan) bercerita kepada kami.

    “Artinya : Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari pula. Lalu diutuslah kepadanya seorang malaikat, dan diperintahkan dengan empat kalimat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka atau bahagia”.
    Maka perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di sisi Allah Azza wa Jalla, telah diketahui oleh Allah ‘Azza wa Jalla sejak zaman azali dan orang yang berbahagia telah diketahui pula oleh Allah sejak zaman azali. Akan tetapi barangkali ada yang bertanya-tanya bagaimana mereka akan diadzab padahal Allah telah menetapkan atas mereka akan hal itu sejak zaman azali.?

    Jawaban kami.

    Mereka disiksa karena hujjah telah sampai kepada mereka, jalan kebenaran telah dijelaskan, lalu para rasul telah diutus kepada mereka, kitab-kitabnyapun telah diuturunkan. Juga telah dijelaskan petunjuk dan kesesatan dan mereka diberi motivasi untuk menempuh jalan petunjuk, sekaligus menjauhi jalan yang sesat. Mereka memiliki akal dan kehendak ; mereka memiliki kemampuan untuk berikhtiar. Oleh karena itu kita mendapati orang-orang kafir ini dan juga selain mereka, berusaha meraih kemaslahatan dunia dengan kehendak dan ikhtiarnya. Kita tidak mendapati seorangpun dari mereka berupaya meraih sesuatu yang membahayakan di dunia atau meremehkan dan bermalas-malasan dalam perkara yang bermanfaat baginya, lalu ia mengatakan : ini telah tertulis sebagai jatahku. Maka selalunya setiap orang akan berusaha meraih manfaat bagi dirinya. Dengan demikian, seharusnya mereka berusaha meraih manfaat dalam urusan-urusan agama mereka sebagaimana mereka berusaha keras meraih manfaat dari urusan dunianya. Tidak ada perbedaan di antara keduanya, bahkan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan dalam urusan agama di dalam kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul lebih banyak dan lebih besar daripada penjelasan tentang urusan-urusan dunia. Maka kewajiban mereka adalah menempuh jalan yang menghatarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan, bukan menempuh jalan yang menyerempet mereka pada kebinasaan dan kesengsaraan.

    Kemudian kami katakan, ketika si kafir memilih kekafiran sama sekali tidak merasa ada orang yang memaksanya. Bahkan perasaannya mengatakan bahwa bahwa ia melakukan hal itu dengan kehendak dan ikhtiarnya. Maka apakah ketika memilih kekufuran ia tahu apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya .? Jawabannya, tentu tidak. Karena kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditetapkan terjadi pada kita kecuali sesudah terjadi. Adapun sebelum terjadi, kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita karena hal ini termasuk perkara ghaib.

    Selanjutnya, sekarang kami katakan kepada orang itu : sebelum terjerumus kepada kekafiran, di depan anda ada dua perkara ; hidayah dan kesesatan. Lalu mengapa anda tidak menempuh jalan hidayah dengan anggapan bahwa Allah telah menetapkannya untukmu ? Mengapa anda menempuh jalan sesat lalu setelah menempuhnya anda beralasan bahwa Allah telah menetapkannya ? Kami tegaskan kepada anda sebelum memasuki jalan ini ; apakah anda mempunyai pengetahuan bahwa hal ini telah ditetapkan kepadamu ? ia pasti menjawab : “Tidak”. Dan mustahil jawabannya : “Ya”. Jadi apabila ia mengatakan : “Tidak”. Kami tegaskan lagi ; kalau begitu mengapa anda tidak menempuh jalan hidayah seraya menganggap bahwa Allah telah menetapkan hal itu kepadamu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka” [Ash-Shaf : 5]
    Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

    “Artinya : Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah). Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar” [Al-Lail :5-10]
    Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu para sahabat bahwa tidak ada seorangpun kecuali telah dicatat tempat duduknya di jannah dan tempat duduknya di neraka, para sahabat bertanya ; wahai Rasulullah, apakah kami boleh meninggalkan amalan dan bersandar pada apa yang telah ditetapkan ? Beliau bersabda.

    “Artinya : Tidak, beramallah kelian, karena tiap-tiap orang dimudahkan kepada sesuatu yang diciptakan baginya”
    Sesudah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah.

    “Artinya : Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar”.
    Inilah jawaban kami atas pertanyaan yang disampaikan oleh penanya tadi, dan betapa banyaknya orang yang beralasan seperti tadi dari kalangan orang-orang yang sesat. Alangkah anehnya mereka karena mereka sama sekali tidak pernah beralasan dengan yang semisal ini dalam masalah-masalah dunia. Bahkan anda mendapati mereka menempuh sesuatu yang lebih bermanfaat bagi mereka dalam persoalan-persoalan duniawi. Manakala dikatakan kepada seseorang ; jalan yang ada dihadapanmu ini adalah jalan yang sulit lagi rumit, di sana ada para pencuri dan banyak binatang buas, sedangkan ini jalan kedua, jalan yang mudah, ringan dan aman, tidak mungkin seseorang menempuh jalan yang pertama dan meninggalkan jalan yang kedua. Demikian pula dengan dua jalan ; jalan neraka dan jalan jannah. Para rasul menjelaskan jalan ke jannah lalu mereka mengatakan : inilah jalan ke jannah. Mereka juga mejelaskan jalan ke neraka lalu menegaskan : inilah jalan menuju neraka. Mereka memperingatkan dari jalan yang kedua dan menganjurkan untuk menempuh jalan pertama. Sementara para pendurhaka beralasan dengan qadha Allah dan Qadar-Nya -padahal mereka tidak mengetahuinya- atas kemaksiatan dan kejahatan yang mereka lakukan dengan ikhtiarnya dan dalam hal ini mereka tidak memiliki hujjah di sisi Allah Ta’ala.

    SESUNGGUHNYA MANUSIA BERAMAL DENGAN AMALAN JANNAH

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : ” Tentang sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya seseorang selalu beramal dengan amalan ahli jannah sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan jannah kecuali hanya sehasta. Namun ketetapan telah mendahuluinya sehingga ia melakukan amalan ahli neraka, lalu iapun memasukinya. Dan seorang yang senantiasa beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali hanya sehasta. Namun ketetapan telah mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalan ahli jannah dan iapun memasukinya”.

    Apakah hadits ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang membaguskan amalannya” [Al-Kahfi : 30]
    Jawaban.

    -Semoga Allah merahmatinya- dengan ucapannya : Ini adalah hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Di dalamnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa ada seseorang yang beramal dengan amalan ahli jannah sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan jannah kecuali hanya sehasta, karena dekatnya ajal dan kematian dirinya. Namun ketetapan telah mendahuluinya yang menegaskan bahwa ia termasuk penghuni neraka, hingga iapun melakukan amalan ahli neraka, lalu masuk kedalamnya- kita berlindung kepada Allah daripadanya. Ini adalah fenomena yang nampak pada manusia seperti yang dijelaskan oleh sebuah hadits shahih.

    “Artinya : Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan ahli jannah dalam pandangan manusia, padahal ia termasuk ahli neraka”
    Demikian pula persoalan kedua, manusia yang beramal dengan amalan ahli neraka, lalu Allah memberi karunia kepadanya dengan taubat dan kembali kepada jalan Allah menjelang ajalnya, hingga iapun beramal dengan amalan ahli jannah lalu ia masuk kedalamnya.

    Ayat yang disebutkan oleh penanya tidak bertentangan dengan hadits di atas, karena Allah Ta’ala berfirman : “Pahala orang yang membaguskan amalannya” Maksudnya, barangsiapa yang membaguskan amalannya di dalam hati maupun dhahirnya, maka Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan pahalanya. Tetapi yang dimaksud oleh kasus pertama yang beramal dengan amalan ahli jannah lalu ketetapan telah mendahuluinya, adalah orang yang beramal dengan amalan ahli jannah dalam pandangan manusia saja. Atas dasar ini, amalannya tidak termasuk kebaikan. Dengan demikian hadits tadi tidak bertentangan sama sekali dengan ayat Al-Qur’an.

    Wallahul Muwafiq

    CARA MENGKOMPROMIKAN FIRMAN ALLAH DALAM SURAT AL-AN’AM : 125

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : ” Tentang bagaimana mengkompromikan antara firman Allah Ta’ala : “Maka barangsiapa dikehendaki Allah untuk menunjukkannya, Dia akan melapangkan dadanya kepada Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk menyesatkannya, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seolah-olah ia sedang naik ke langit” [Al-An'am : 125]

    Dengan firman-Nya : “Maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir” [Al-Kahfi : 29]
    Jawaban.

    Mengkompromikan di antara kedua ayat itu adalah sebagai berikut ; Allah Ta’ala memberitahukan dalam sebagian ayat-Nya bahwa semua urusan ada dalam kekuasaan-Nya. Dan dalam sebagian ayat lainnya memberitahukan bahwa semua perkara itu kembali kepada mukallaf. Mengkompromikannya begini : setiap mukallaf memiliki kehendak, ikhtiar dan kemampuan. Sementara yang menciptakan kehendak, ikhtiar dan kemampuan tersebut adalah Allah Azza wa Jalla. Maka tidak mungkin seorang makhluk memiliki kehendak kecuali dengan kehendak Allah.

    Allah Ta’ala berfirman tentang penjelasan kompromi ini.

    “Artinya : Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam” [At-Takwir : 28-29]
    Akan tetapi kapan Allah berkehendak untuk menunjuki manusia atau menyesatkannya ? Inilah yang dimaksud oleh firmannya.

    “Artinya : Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah). Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar” [Al-Lail : 5-10]
    Dan baca firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Maka tatkala mereka berpaling, Allah palingkan hati mereka dan Allah tidak menunjuki kaum yang fasik” [Ash-Shaf : 5]
    Anda mendapati bahwa sebab sesatnya seorang hamba adalah karena dirinya sendiri. Dan Allah Ta’ala ketika itu menciptakan kehendak pada dirinya untuk berbuat buruk karena ia menghendaki keburukan. Adapun orang yang menghendaki kebaikan lalu berusaha dan berkeinginan kuat memperolehnya, maka Allah akan memudahkannya kepada kebaikan. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepada sahabat-sahabatnya bahwa tidak ada seorangpun kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka, para sahabat bertanya : Apakah tidak sebaiknya kami menyerah kapada ketetapan itu dan kami tidak beramal ? Nabi menjawab : Jangan. Beramallah kalian, karena tiap-tiap orang dimudahkan sesuai penciptaannya. Nabipun lalu membaca ayat ini : “Dan adapun orang yang memberi dan bertakwa ..dst”.

    Ketahuilah wahai saudaraku, tidak mungkin terdapat pertentangan dalam kalamullah atau dalam hadits shahih selamanya. Maka apabila anda mendapati dua nash yang dhahirnya tampak bertentangan, perhatikanlah kembali. Niscaya perkaranya mejadi jelas bagi anda. Jika anda tidak mengetahuinya, anda wajib bertawaquf dan menyerahkan perkara itu kepada ahlinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

  3. masrobi berkata

    Dikirim pada tanggal 2011/09/05 pukul 8.18
    asalamuallaikum.
    afwan tadz.sya mau nanya.gmna caranya mendoakan org tua yg sudah meninggal padahal amalan yang palingbaik kan doa ank yg soleh.trus apa yg harus di lakukan ank yg soleh buat bhakti ma org tua ?

    Abu Amin Cepu:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Bismillah Didalam Kitab Maususatu Aladabul Islamiyah dijelaskan apa hak-hak orang tua setelah meninggal Dunia Diantara adalah:

    1. Menshalati Keduanya

    Maksud menshalati disini adalah mendoakan keduanya. Yakni, setelah mereka meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya lebih sering mendoakan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendoakan keduanya, niscaya mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dirinya.

    2. Beristighfar Untuk Mereka Berdua

    Orang tua adalah yang paling utama bagi seorang Muslim untuk didoakan agar Allah mengampuni mereka karena kebaikan mereka yang besar.

    Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam al Qur’an :
    رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
    (yang artinya): “Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” [QS.Ibrahim: 41]

    3. Menunaikan Janji Kedua Orang Tua

    Hendaknya seseorang menunaikan wasiat orang tua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.

    4. Memuliakan Teman Kedua Orang Tua

    Memuliakan teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana yang telah disebutkan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berpapasan dengan seorang Arab badui di jalan menuju Mekkah. Kemudian Ibnu ‘Umar mengucapkan salam kepadanya dan mempersilahkan naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab badui dan mereka sudah terbiasa berjalan.” Ibnu ‘Umar berkata: “Sungguh, dulu ayahnya teman ‘Umar bin al Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.”

    5. Menyambung Tali Silaturrahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah

    Hendaknya seseorang menyambung tali silaturrahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak mereka semua. Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silturrahim kedua orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa ingin menyambung tali silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.

    Catatan : yang hendaknya dilakukan anak ketika orang tuanya meninggal adalah dengan melakukan AMALAN SHOLEH yaitu beramal dengan mengikuti Rosul Sholollohualaihi wassalam dan mengikhlaskanya untuk Alloh semata, Karena amal yang sholeh ini akan memberikan manfaat kepada orang tua yang telah meninggal (dalam keadaan beriman), Dan mengerjakan nasehat nasehat dari orang tua yang sesuai dengan sunnah sehingga dengan demikian amalan Anak sholeh tersebut akan dberikan pahalanya kepada orang tua yang dialam kubur.

    Rosul Bersabda:
    ((قال : (( من دل علي خير فله مثل أجر فاعله )) وأنه قال : (( من دعا إلي هدي كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً

    “Barang siapa yang menunjukan kepada jalan petunjuk (kemudian diikuti oleh orang yang diseru) maka baginya pahala serupa dengan orang yang mengerjakannya(petunjuk itu)”Muqodimah Riyadushalihin Imam Nawawy Dan Shohih. Wallohu A’lam Bishowab.

    Dibawah Ana lampirkan Kumupalan Hadits Berkaitan dengan Berbakti Kepada Orang Tua :

    1. Dari Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    ٢٤/٣٢ ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ المسَّافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا.
    “Ada tiga doa yang tidak diragukan kemustajabannya, yaitu, doa orang yang dizhalimi (dianiaya), doa orang musafir, dan doa kedua orang tua kepada anaknya.”

    Hasan, di dalam kitab Ash-Shahihah (598), (Abu Daud: 8-Kitab Ash-Shalat, 29- Bab Ad-Doa’u Bizhahril Ghaibi, At-Tirmidzi, 25- Kitab Al Birru wash-Shilah, 7- Bab Ma Ja^afi Da’watil Walidaini. Ibnu Majah: 34- Kitab Doa\ 11- Bab Da’watul-Walid Da’watul Mazhlum, hadits 3862).

    25/33. Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    ٢٥/٣٣ مَا تَكَلَّمَ مَوْلُوْدٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَهْدِ اِلاَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ، قِيْلَ: يَا نّبِيَّ اللهُ! وَمَا صَاحِبُ جُرَيْجٍ؟ قَالَ: فَإِنَّ جُرَيْجًا كَانَ رَجُلاً رَاهِبًا فِي صُوْمِعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِى بَقَرٍ يَأْوِي إِلَى أَسْفَلَ صَوْمعَتِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةَ تَخْتَلِفُ إِلَى الرَّاعِى فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ وَهُوَ يُصَلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ، وَهُوَ يُصَلَّى: أُمِّى وَصَلاَتِى؟ فَرَأَى أَنْ يُؤَثِّرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةُ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ: أُمِّى وَصَلاَتِى؟ فَرَأَى أَنْ يُؤَثَّرَ صَلاَتَهُ ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّالِثَةُ فَقَالَ: أُمِّى وَصَلاَتِى؟ فَرَأَى أَنْ يُؤَثِّرُ صَلاَتَهُ فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ: لاً أمًاتًكً اللهٌ يًا جٌرًيْجُ حَتَّى تَنْظُرَ فِي وَجْهِ الْمَوْمِسَاتِ ثُمَّ انْصَرَفَتْ .

    فَأُتِىَ الْمَلِكُ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ وَلَدَتْ فَقَالَ: مِمَّنْ؟ قَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَصَاحِبُ الصُّومِعَةِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: اهْدُمُوْا صُوْمَعَتَهُ وَأُتُوْنِي بِهِ، فَضَرَبُوْا صُوْمَعَتَهُ بِالْفُئُوْسِ حَتَّى وَقَعَتْ. فَجَعَلُوْا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَبْلٍﻧ ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى الْمُوْمِسَاتَ فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَنْظُرْنَ إِلَيْهِ فِي النَّاسِ، فَقَالَ الْمَلِكُ: مَا تَزْعُمُ هَذِهِ؟ قَالَ: مَا تَزْعُمُ؟ قَالَ: تَزْعُمُ أَنْ وَلَدُهَا مِنْكَ، قَالَ: أَنْتَ تَزْعُمَيْنَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: أَيْنَ هَذَا الصَّغِيْرُ؟ قَالُوْا هُوَ ذَا فِي حَجْرِهَا، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ فَقَالَ: مَنْ أَبُْوكَ؟ قَالَ: رَاعِي الْبَقَرِ، قَالَ الْمَلِكُ: أَنَجْعَلُ صُوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبَ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: مِنْ فِضَّةٍ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَا نَجْعَلُهَا؟ قَالَ: رُدُّوْهَا كَمَا كَانَتْ، قَالَ: فَمَا الَّذِي تَبَسَّمْتَ؟ قَالَ: أَمْرًا عَرَفْتُهُ، أَدْرَكَتْنِى دَعْوَةُ أُمِّى ثُمَّ أُخْبِرُهُمْ .

    ‘Tidak ada seorang bayi yang dapat bicara di dalam ayunan (buaian) (ibunya) kecuali Isa ibnu Maryam ‘alaihissalam dan bayi (dalam cerita) Juraij.’ Ditanyakan, ‘Wahai Nabi Allah, bagaimana (cerita tentang) Juraij?’ Nabi menjawab, ‘Sesungguhnya Juraij adalah seorang yang selalu beribadah di dalam tempat ibadah miliknya. Ada seorang penggembala sapi yang tinggal di bawah tempat ibadahnya dan ada seorang perempuan dari penduduk desa berzina dengan penggembala sapi tersebut. Suatu hari ibu Juraij mendatangi Juraij yang sedang beribadah, lalu memanggilnya, ‘Wahai Jurai!’, sementara dia sedang beribadah, maka terdetik dalam hatinya, ‘Ibuku atau shalatku?’ Dia lebih mengutamakan shalatnya. Kemudian ibunya memanggilnya untuk kedua kalinya, lalu dia berkata dalam hatinya, ‘Ibuku atau shalatku?’ Dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggilnya untuk yang ketiga kalinya. Juraij berkata dalam hatinya, ‘Ibuku atau shalatku?,’ Dia mengutamakan shalatnya. Tatkala Juraij tidak menjawabnya, (sambil marah) ibunya berdoa, ‘Mudah-mudahan Allah tidak mematikanmu, wahai Juraij! Kecuali engkau melihat wajah perempuan-perempuan pelacur’ kemudian ibunya pergi. Tiba-tiba seorang wanita yang melahirkan seorang bayi (hasil perzinahan) di hadapkan kepada seorang raja. Lalu raja tersebut bertanya, ‘Siapa yang menghamilimu?,’ Wanita tersebut menjawab, ‘Dari Juraij.’ Raja bertanya, ‘Pemilik tempat ibadah itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Ya.’ Lalu raja memberikan perintah, ‘Rubuhkan (tempat ibadahnya) dan datangkan Juraij kepadaku.’ Lalu mereka (masyarakat) menghancurkan tempat ibadah tersebut dengan martil (kapak) yang beraneka ragam sampai roboh. Kemudian mereka mengikat tangan Juraij sampai lehernya dan diseret (menghadap raja) melewati para wanita pelacur dan dia tersenyum, para pelacur tersebut diperlihatkan kepadanya ditengah orang ramai. Lalu sang raja berkata, ‘Apa yang mereka tuduhkan (kepadamu)?,’ dia menjawab, ‘Apa yang dituduhkan oleh mereka (terhadapku)?,’ sang raja berkata, ‘Dia menuduhmu bahwa anaknya ini dari mu!,’ Juraij berkata, ‘Kamu menuduh demikian?,’ wanita itu menjawab, ‘Ya.’ Juraij berkata, ‘Di mana bayi itu?,’ mereka menjawab, ‘Itu, yang ada dipangkuannya!,’ lalu Juraij menghampiri bayi itu, seraya bertanya, ‘Siapa bapakmu?/ Bayi itu menjawab, ‘Penggembala sapi.’ Maka kemudian sang raja berkata, ‘Apakah kami membangun (kembali) tempat ibadahmu dari emas?,’ Juraij menjawab, “Tidak,” sang raja berkata, “Dari perak?,” Juraij menjawab, “Tidak,” sang raja berkata, “Lalu apa yang bisa kami jadikan untuk mengganti tempat ibadahmu itu?,” Juraij menjawab, “Kembalikan tempat ibadah itu seperti semula.” Sang raja bertanya, “Apa yang membuat engkau tersenyum?,” Juraij menjawab, “Tentang satu hal yang sudah aku ketahui bahwa aku terkena akibat dari doa ibu saya, lalu saya menceritakannya kepada mereka’.”
    Shahih, (Bukhari, 60-Kitab Al Anbiya^u, 48- bab (Wadzkur fi Kitabi Maryama) (Qs. Maryam (19): 16), Muslim 45- Kitab Al Birru ivash-Shilatu wal Adab, hadits 7,8).

    2. Dari Abu Bakrah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

    ٢٣/٢۹ مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ .
    “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk dipercepat siksanya atas pelakunya dan siksanya yang ditunda daripada berlaku aniaya dan memutuskan hubungan kerabat.”
    Shahih, di dalam Ash-Shahihah (915, 916), (Abu Daud, 40-Kitabul Adab, 43- Bab An-Nahyu Anil Baghyi, At-Tirmidzi, 351- Kitab Al Qiyamah, 57 Bab Haddatsana Ali ibnu Hajar ibnu Majah, 37 Kitab Az-Zuhd, 23- Bab Al Baghyu, hadits 4211).

    3.Dari Abdullah ibnu Amru berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    ٢۱/٢٧ مِنَ الْكَبَائِرِ أَنْ يَشْتُمَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ. فَقَالُوْا: كَيْفَ يَشْتُمُ؟ قَالَ: يَشْتُمُ الرَّجُلُ فَيَشْتُمُ أَبَاهُ وَأُمَّهُ
    ‘Termasuk dosa besar, seseorang mencaci maki kedua orang tuanya.’ Para sahabat bertanya, ‘Bagaimana dia mencaci maki?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia mencaci seseorang, lalu orang itu mencaci maki bapak dan ibunya.’
    Shahih, di dalam kitab At-Ta’liqur-Raghib (3/221). (Muslim), 1-Kitabul Iman, hadits 146, Bukhari, 78, Kitabul Adab, 4- Bab La Yasubbur-Rajulu Walidaihi).

    4. Dari Abu Hurairah,
    ۱٦/٢۱ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللهِ! مَنْ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَهُ الْكِبَرِ، أَوْ أَحَدُهُمَا فَدَخَلَ النَّارَ .

    Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka seseorang, celaka seseorang, celaka seseorang.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapa (yang celaka)?” Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya (dalam keadaan tua) lalu dia (tidak berbakti), maka dia masuk neraka.”
    Shahih, di dalam kitab At-Ta’liqur-Raghib (3/215). (Muslim, 45-Kitab Al Birru Wash-Shilah wal Adab, hadits 9,10).

    5. Dari Abu Darda’ dia berkata,

    ۱٤/۱٨ أَوْصَانىِ خَلِيْلِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ بِتِسْعِ: لاَ تُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطًعْتَ أَوْ حُرُقْتَ، وَلاَ تَتْرُكَنَّ الصَّلاَةَ ْمَكْتُوْبَةً مُتَعَمَّدُا فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ، وَلاَ تَشْرَبِ الْخَمْرَ، َإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ وَإِنْ أَمَرَاَكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دُنْيَاكَ فَاخْرُجْ لَهُمَا وَلاَ تٌناَزِعَنَّ وُلاَةَ اْلأَمْرِ وَإِنْ رَأَْيتَ أَنَّكَ أَنْتَ، وَلاَ تَفِرَّر مِنَ الزَّحْفِ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابِكَ وَأَنْفِقْ مِنْ طُوْلِكَ عَلَى أَهْلِكَ وَلاَ تَرْفَعْ عَصَاكَ عَلىَ أَهْلِكَ وَأَخِفْهُمْ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

    “Rasulullah salallahu alaihi wasallam berwasiat kepadaku dengan 9 hal: jangan meneykutukan Allah dengan sesuatu apapun sekalipun engkau dipotong (tubuhmu) atau dibakar, jangan meninggalkan shalat dengan sengaja, maka bebaslah tanggung jawab atasnya, janganlah minum khamar, karena khamar pangkal segala kejahatan, taatilah kedua orang tuamu, sekiranya keduanya memerintahkan kepadamu agar kamu ke luar dari duniamu, maka keluarlah demi keduanya, janganlah menentang penguasa, sekalipun engkau beranggapan bahwa engkau yang benar, janganlah lari dari peperangan, sekalipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu meninggalkanmu, bersedekahlah kepada keluargamu sesuai dengan kemampuanmu, dan janganlah berlaku kasar kepada keluargamu dan ringankanlah beban mereka karena Allah Azza wa Jalla.
    Hasan, di dalam kitab Al Irwa (2026( (Ibnu Majah, 36 Kitabul Fitan, Bab As-Shahru Alal Bala’i hadits 4034)

    6. Dari Abu Hurairah, dia berkata.
    ٥/٥ قِيْلَ: يَا رَسُوْلُ اللهِ مَن أَبَرُّ؟ قَالَ: أَمَّكَ، قاَلَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ،[ثُمَّ عَادَ الرَّابِعَةَ فَ] قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أَبَاكَ.
    Ditanyakan (kepada Rasulullah), “Wahai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam! Siapa yang harus aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Lalu dia bertanya, “Lalu siapa?” Pertanyaan ini diulanginya hingga empat kali, dan Rasulullah menjawab, “Ayahmu”.
    Shahih, dalam kitab Al Irwa (837), Adh-Dha’ifah (4992), (Bukhari, 78 Kitabul Adab, 2. Bab Man Ahaqqun-Nasi Bihusnish-Shahabah, Muslim, 45- Kitab Al Birru wash-Shilah wal Adab, hadits 1, 2, dan 3).

    7. Dari Bahaz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, aku berkata,

    ۳/۳ يَا رسول الله مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ : أُمَّكَ، قُلْتُ:ثُمَّ مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قُلْتُ:ثُمَّ مَنْ أَبّرُّ؟ قَالَ : أّمَّكَ، قُلْتُ:ثُمَّ مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أَبَاكَ، ثُمَّ اْلأَقْرَبَ فَاْلأَقْرَبَ

    “Wahai Rasulullah! Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya lagi, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Lalu saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?.” Rasulullah menjawab, “Bapakmu, kemudian kerabat yang terdekat, lalu kerabat yang terdekat.”
    Hasan, di dalam kitab Al Inva (2232, 829), dan di dalam (Sunan Tirmidzi, 25- Kitab Al Birru wa Ash-Shilat, 1- Bab Ma Ja’a fi Birril-Walidain).

    8. Dari Aim Amr Asy-Syaibani, dia berkata, “Pemilik rumah ini meriwayatkan kepadaku -sambil memberikan isyarat dengan tangannya ke rumah Abdullah- dia berkata,
    ۱/۱ سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ، قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى
    ‘Saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi xoasallam, “Apakah perbuatan yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?.” Nabi menjawab, “Shalat pada waktunya”. Kemudian saya bertanya lagi, “Lalu apa?.” Rasulullah menjawab, ‘Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tad’. Lalu saya kembali bertanya, “Lalu apa?” Rasulullah menjawab, “Kemudian jihad dijalan Allah’.” Abdullah berkata, ‘Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Sekiranya aku meminta tambahan kepadanya, maka niscaya beliau akan menambahnya untukku.’”Shahih, disebutkan di dalam kitab Al Inua* (1197), (Bukhari, 9. Kitab Mawaqitush-Shalat, 5- Bab Fadhlus-Shalati li Waqtiha. Muslim, 1-Kitab Al Iman, hadits 137,138,139 dan 140)

    8. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata,
    ٢/٢ رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
    “Ridha Tulian terletak pada ridlta kedua orang tun dan kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan kedua orang tua”.
    Hasan mauquf dan shahih marfu’ didalam kitab Ash-Shahihah (515).

    Wallohu A’lam

  4. Nova Victor G. berkata

    Assalamualaikum..
    Saya sudah membaca tulisan2 saudara di atas.Dan menurut saya,saudara sudah mengerti betul akan dunia Islam.Saya ingin mencoba rekomendasikan diri dengan menanyakan hal ini.

    Saudara ikut aliran Islam yang mana?
    jelas saja ahlussunah,tapi lebih spesifiknya apa…
    Muhammadiyah,NU atau yang lain…
    trs terang sya msh blm mngerti yang mana itu ahlussunah..
    Terima kasih.

    Abu Amin Cepu :
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Bismillah.Saudara Victor Semoga Alloh ta’ala anugerahkan Ilmu dan amal bermanfaat untuk anda.

    Jawaban atas pertanyaan anda:
    1.Pada prinsipnya dalam Islam dilarang adanya kelompok kelompok yang terjatuh kedalam pembanggaan golongan serta fanatisme kelompok sehingga lupa kepada Tujuanya dalam beragama yaitu mentauhidkan Alloh dengan mencotah Rosul
    sebagaimana firmanya :
    و لا تكونوا من المشركين ، من الذين فرقوا دينهم و كانوا شيعا ، كل حزب بما لديهم فرحون” (سورة الروم)
    “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada
    pada golongan mereka.”(Ar-Ruum: 31-32)

    Sehingga saya tidak mempunya Aliran tertentu. Jadi saya “SEORANG MUSLIM DENGAN MENITI MANHAJ SALAFU SHOLEH” yang bebas kekangan aliran tertentu dan Dengan berusaha menyambut dan menempuh seruan Firman Alloh Ta’ala :

    وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan ORANG ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” Qs.Ataubah 100

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (الحجرات: ).
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS.Alhujarot Ayat 1)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. QS.Anisa Ayat 59

    2.Semua manusia terlahir dalam keadaan jahil/tidak mengerti maka Alloh memerintahkan untuk kita menuntut ilmu dan beramal dengan ilmu, anda bisa belajar pada para ustadz yang kami rekomendasikan di page ini dan boleh ke ustadz lainnya dari manapun asalnya dan tempatnya yang penting aqidahnya lurus atau bisa perdalam ilmu disini :

    http://www.asysyariah.com/

    Semoga Alloh memberi keihlasan dan kefahaman kepada anda serta menjadikannya sebagai modal untuk menpelajari agama ini dari hamba-hamba yang lurus aqidahnya.Wallohu A’lam.

  5. Wakhid Gts berkata

    Wakhid Gts
    facebook.com/profile.php?id=100001075815274 x
    wakhidgts@ymail.com
    Dikirim pada tanggal 2011/08/29 pukul 8.18
    sing genah yo NU liyane ra njamin…organisasi terbesar di indonesia…….yg bukan AHLUL SUNNAH ciri” Ra gelem gelem hormat gendero,ala aARAB”an,liyane di angep kafir,kafire dewe gak di gatek’e,opo neh sing TAKBIR karo mentunggi wong liyo.POKAL BOSOK…

    Abu Amin Cepu :
    Bismillah,Tidak ada jaminan dalam AlQur’an dan Sunnah Suatu Organisasi tertentu itu Ahlu Sunnah, Penyair Yang Bijak Berkata :

    أهل الحديث همُ أهل النبيِّ و إن
    لم يصحبوا نفسه أنفاسه صَحِبوا
    “Ahli Sunnah (hadits) itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka
    tidak bergaul dengan Nabi, tetapi diri (Aqidah,Ibadah,Muamalah) mereka bergaul dengannya (Mencocoki sunnahnya)”

    Sehingga Yang Menjamin Adalah Komitment mereka dalam melaksanakan sunnah dan Komitment mereka dalam menjauhi Kebi’dahan, Agama ini memang berasal dari Arab dan Rosul adalah Arab jadi apa yang dibawa Rosul hendaknya diterima dan apa yang dilarang hendaknya dijauhi, Adapun Tradisi indonesia yang sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah maka boleh dilestarikan dan Yang Menyalahi sepatutnya ditinggalkan.

    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (Qs.Alhasr Ayat 7)
    Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.Wallohu A’lam

  6. Anonymous berkata

    Anonymous
    Dikirim pada tanggal 2011/08/29 pukul 8.18
    SING GENAH AHLUL SUNAH YO SING TAKBIR…ALLAH..HU…AKBAR mentunggi wong mendem…!!!!wkwkwkwkw

    Abu Amin Cepu :
    Bismillah, Ahlu Sunnah Berdakwah Dengan Hikmah dan Nasehat Yang Baik dan Berdiskusi Dengan Cara Yang Bijaksana.Dan Mereka Berjalan berdasarkan ilmu dan Keyakinan bukan hawa nafsu, Mereka berkerja Mengihlaskan Menyeru Kepada Keagungan Kalimatulloh dan berdasarkan kemaslahatan dan manfaat untuk Manusia. Alloh Ta’ala Berfirman :
    ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
    Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Qs.Annahl ayat 125)

    قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”(QS,Yusuf 108)

    Allohu A’lam

  7. Aldo Suejatmiko berkata

    Aldo Suejatmiko
    ngaworae@LIVE.COM
    Assalamu’alaikuuuuuuum Wr. Wb…???
    sebelumnya saya minta maaf kalu lancang bicaranya, semoga tidak menjadikan amal buruk pada saya termasuk dan orang2 islam lainnya. disini saya mau bertanya dan ingin sekali bersilaturrahmi kepada kawan-kawan se iman se perjuangan Aswaja…. dan semoga kita selalu dapat bimbingan serta inayahNya fiddini wadunya hattal akhiroh… amin..
    pertama saya mau menanyakan tentang perbedaan WAJIB FARDLU sama RUKUN, tolong jelaskan?

    kedua: Ada janda yang ditinggal mati suaminya lalu dinikahi sama orang lain, apakah pernikahan itu sah? lalu di di akhirat sana janda tersebut menjadi miliknya siapa? si suami pertama atau suami kedua.

    mohon kalu ada hadist atau kitab yang menyangkut hal ini di beritahukan nama kitab dan halamannya.
    trima kasih wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Abu Amin Cepu:
    Waalaikumusslam Warohmatulloh, Bismillah
    1. Pengertian Wajib ( الواجب ) secara bahasa : ( الساقط واللازم ) “yang jatuh dan harus”.
    Dan secara istilah :”Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at dengan bentuk
    keharusan”, seperti sholat lima waktu dan Kewajiban Lainya .

    Sedangkan Rukun menurut bahasa adalah sebagaimana yang disebutkan Ibnu Manzhur dalam kamus Lisan al-Arab. Ibnu Manzhur mengatakan,

    وَرُكْنُ الشَّيْءِ جَانِبُهُ الأَقوَى، والرُّكْنُ النَّاحِيَةُ الْقَوِيَّةُ وَمَا تَقَوَّى بِهِ مِنْ مَلِكٍ وجُنْدٍ وَغَيْرِهِ.
    “Rukun sesuatu artinya sisinya yang paling kuat. Rukun adalah bagian yang kokoh dan elemen-elemen yang memperkuat sesuatu (negara) berupa raja, pasukan dan lainnya.”Lisan al-Arab.

    Adapun rukun menurut istilah (Fuqaha dan Ushuliyyin) didefinisikan sebagai berikut.

    اَلرُّكْنُ: مَا لاَ بُدَّ لِلشَّيْءِ مِنْهُ فِيْ وُجُوْدِ صُوْرَتِهِ عَقْلاً، إِمَّا لِدُخُوْلِهِ فِيْ حَقِيْقَتِهِ، أَوْ لاِخْتِصَاصِهِ بِهِ.
    “Rukun adalah sesuatu yang menjadi keharusan sesuatu yang lain untuk bentuk wujudnya secara lahir. Adakalanya ia menjadi bagian dari hakikatnya atau ia menjadi kekhususannya.”al-Buhuts al-Islamiyah, 22/146

    Misal : Rukun “Laa ilaaha illallah” Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:
    Pertama :An-Nafyu atau peniadaan: “Laa ilaha” membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.
    Kedua :Al-Itsbat (penetapan): “illallah” menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.
    Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
    “Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat …” [Al-Baqarah: 256]

    2.Jika pernikahanya memenuhi syarat sahnya nikah maka sah dan janda tersebut bersama suami teahkirnya.Rasulullah Shallallahu alaihi wa aalihi wasallam Bersabda :

    «المَرْأَةُ لآخِرِ أَزْوَاجِهَا»

    “seorang wanita bersama suami terakhirnya.”

    (Dikeluarkan Ath-Thabarani dalam “al-mu’jam al-ausath” (3/275),Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam silsilah Ash-shahihah (3/275). Wallohu A’lam Bishowab

  8. Rozi Alamsyah berkata

    Rozi Alamsyah
    triaannisa31@yahoo.com

    Assalammualaikum…..
    Saya Mau Tanya Kan Hanya 1 Golongan Yang Masuk SuRga Yaitu Ahlussunah WalJama’ah…
    Truzz Islam Yg Lain Apakah Masuk Neraka..???

    Abu Amin Cepu :
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Benar satu golongan yang masuk syurga tanpa mampir ke neraka mereka adalah Ajjamaah , sebagaimana sabda rosul :
    افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

    “Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah”. Hadits shohih dishohihkan oleh oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain -rahimahumullahu-.

    Adapun Aljamaah ini sebagaimana disebutkan Rosul Sholollohualaihi wassalam dalam riwayat yang lain :
    و في رواية : “كلهم في النار إلا مله واحدة : ما أنا عليه و أصحابي” رواه الترمذي و حسنه الألباني في صحيح الجامع 5219
    “Semua dineraka kecuali satu, yaitu apa-apa yang saya dan sahabat saya berada diatasnya (dari cara beragama)”Shoheh Jami’ 5219

    Adapun yang dineraka dari kaum muslimin yang menyimpang maka akan diangkat darinya walaupun hanya memiliki sebesar atom keimanan.
    akan tetapi yang patut diingat bahwa ” Siksa neraka yang paling ringan ialah apabila seseorang dipakaikan sendal dari neraka maka otaknya mendidih”Wal iyadzu billah minha Allohua’lam Bishowab

  9. Gue berkata

    islam itu damai …so stop perdebatan…
    kalau demi umat kahn bisa sama sama berjalan beriringan ok bozzz..

    Abu Amin Cepu:
    Insyalloh Berdiskusi dengan cara baik dan menasehati dengan bijak adalah bagian dari Islam, Sedangkan yang menyelisihi Islam adalah yang berdiskusi memperturutkan hawa nafsu dan tanpa ilmu, mengucapkan apa yang hanya dia dengar tanpa penegakan hujjah, serta sikap yang tidak patut adalah fanatik kelompok dan pembanggaan kelompok dan tidak mau kembali kepada Alloh dan RosulNya :

    Alloh Ta’ala Berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.Annisa ayat 59)

    فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
    Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
    Allohu A’lam

  10. saep berkata

    Ustadz, saya pernah mendengar bahwa mengapa dzikir-dzikir setelah shalat tersebut diucapkan 33 kali? Ini karna setiap dibaca 33 kali ada fadilahnya masing-masing. Karena saya dulu kurang begitu memperhatikan dan sekarang saya ingin mengetahui fadilah tersebut, saya mohon Ustadz bisa memberitahu saya tentang fadilah-fadilah bacaan dzikir setelah shalat apabila dibaca 33x 33x!
    Atas kesediaan ustadz, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya!

    Abu Amin Cepu:

    Bimillah,Bapak Saifudin Semoga Alloh Menjadikan antum hamba yang istiqomah diatas agamaNya ini,

    Keutamaan Dzikir Subhanalloh 33x dst, masuk keutamaan secara umum sebagai berikut :

    عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ.
    Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».
    Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” (HR. Muslim no. 2695).

    عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ – أَوْ كَمَا قَالَتْ – فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ « سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ – قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ – تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ ».
    Dari Ummi Hani’ binti Abu Thalib dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk.” Beliau bersabda: “Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma’il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali.” Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: “Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu.” (HR. Ahmad 6/344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shilsilah Ash Shohihah no. 1316)

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ »
    Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, )

    عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّى السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ »
    Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462. )

    « إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنَ الْكَلاَمِ أَرْبَعاً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلاَثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلاَثُونَ سَيِّئَةً
    Dari Abu Sa’id Al Khudri dan Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memilih empat perkataan: subhanallah (Maha suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan laa ilaaha illa allah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan Allahu akbar (Allah maha besar). Barangsiapa mengucapkan subhaanallah, maka Allah akan menulis dua puluh kebaikan baginya dan menggugurkan dua puluh dosa darinya, dan barangsiapa mengucapkan Allahu Akbar, maka Allah akan menulis seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan laa Ilaaha illallah, maka akan seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin dari relung hatinya maka Allah akan menulis tiga puluh kebaikan untuknya dan digugurkan tiga puluh dosa darinya.” (HR. Ahmad 2/302)

    Wallohua’lam Bishowab,
    Antum Bisa membuka kitab Hisnul Muslim/Kitab Al Adzkar /Kitab Riyadhus Shalihin Imam Nawawy/Shahih Bukariy/Muslim Pada Kitab Dzikir , Dengan Tarjih Syeikh Albany Rahimahulloh

  11. rio berkata

    ajrio@ymail.com

    Assalamualaykum……..
    ada yg mau ane tanyain, di kantor ada bekas minyak yang udah tidak dipakai,menurut yang berwenang akan dibuang tapi tidak ada tempatnya jadi kl karyawan yang mau ambil boleh2 saja tapi tidak semua karyawan tahu. waktu mau pulang lewat security,karena security tidak tahu, kadang tidak bisa dibawa. jadi bagaimana ya hukumnya barang itu ustadz….
    Sukron…. Wassalamu’alaikum… wr wb..

    Abuamincepu:

    Waalaykumussalam Warohmatulloh, Saudara Rio yang budiman,
    Bismillah,
    Memanfaatkan barang milik perusahaan untuk kepentingan pribadi adalah satu hal yang terlarang karena benda-benda tersebut adalah milik perusahaan.
    Dalilnya adalah bahwa Nabi melarang ghulul. Ghulul adalah tindakan seorang yang memanfaatkan, untuk keperluan pribadinya, sebagian harta rampasan perang yang masih menjadi milik umum, seluruh tentara yang ikut perang.
    Jika Prusahaan meng izinkan dengan secara tertulis dan disetujui oleh pemilik perusaan maka boleh, akan tetapi jika yang mengizinkan hanya direktur/kepala kantor perusahaan yang tidak disahkan adanya keputusan pemiliknya maka tetap terlarang,karena kepala kantor tidak memiliki kewenangan terkait pemanfaatan barang perusahaan untuk pribadi. Wallohu A’lam, Maroji’ Liqa` Al-Bab Al-Maftuh,Syeikh Utsaimin dengan beberapa penyesuaian.

  12. assalamu’alaikum…..
    saya pernah membaca sedikit tentang al-hadist yang menjelaskan seperti ini,Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “islam hingga akhir kiamat akan terpecah belah,barang siapa diantara kalian menyalahkan (golongan islam) yang lain,maka sebagian dari kalian BENAR dan sebagian dari kalian SALAH”…mohon dijelaskan sedikit…karena selama saya melihat pembahasan di website ,,,,,agak sedikit meninggikan dan sedikit merndahkan (golongan) lain……..
    wassalamualaikum….

    Abu Amin Cepu:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,Bismillah
    Ahki yang budiman, Kami tidak mengetahui asal sanad dan rujukan kitab dimana hadits tersebut dinukil, yang kami temukan sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam artikel ini yaitu :

    فْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

    “Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah”. Hadits shohih dishohihkan oleh oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain -rahimahumullahu-.

    Adapun Aljamaah ini sebagaimana disebutkan Rosul Sholollohualaihi wassalam dalam riwayat yang lain :
    و في رواية : “كلهم في النار إلا مله واحدة : ما أنا عليه و أصحابي” رواه الترمذي و حسنه الألباني في صحيح الجامع 5219
    “Semua dineraka kecuali satu, yaitu apa-apa yang saya dan sahabat saya berada diatasnya (dari cara beragama)”Shoheh Jami’ 5219

    Adapun menjelaskan keadaan suatu kelompok jika itu dalam rangka sebagaimana yang disebutkan imam nawawy assy syafi’i dalam kitab dalam Al-Adzkar dan juga para ulama dalam syarah riyadhus shalihin seperti dibawah ini maka tak mengapa:

    Hal-hal yang membolehkan ghibah itu ada enam , sebagaimana tergabung dalam suatu syair :
    الـذَّمُّ لَيْـسَ بِغِيْبَةٍٍ فِيْ سِتـَّةٍ مُتَظَلِّمٍ وَ مـُعَرِّفٍ وَ مُـحَذَِّرٍ

    وَ لِمُظْهِرٍ فِسـْقًا وَ مُسْتَفْـتٍ وَمَنْ طَلَبَ الإِعَانَةِ فِيْ إِزَالَةِ مُنْكَرٍ
    “Celaan bukanlah ghibah pada enam kelompok Pengadu, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan Dan terhadap orang yang menampakkan kefasikan, dan peminta fatwa Dan orang yang mencari bantuan untuk menghilangkan kemungkaran”

    Pertama : Pengaduan

    Maka dibolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada sultan (penguasa) atau hakim dan yang lainnya, yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya. Maka dia (boleh) berkata: “Si fulan telah menganiaya saya demikian dan demikian”. Dalilnya firman Allah:
    لاَ يُحِبُّ اللهُ الْجهْرَ بِالسُّوْءِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ
    “Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiyaya”. [An-Nisa’ : 148].

    Pengecualian yang terdapat dalam ayat ini menunjukkan bolehnya orang yang didzholimi mengghibahi orang yang mendzoliminya, dengan hal-hal yang menjelaskan kepada manusia tentang kedzoliman yang telah dialaminya dari orang yang mendzoliminya, dan dia mengeraskan suaranya dengan hal itu dan menampakkannya di tempat-tempat berkumpulnya manusia. Sama saja apakah dia nampakkan kepada orang-orang yang diharapkan bantuan mereka kepadanya, atau dia nampakkan kepada orang-orang yang dia tidak mengharapkan bantuan mereka.
    Kedua : Minta Bantuan Untuk Mengubah Kemungkaran Dan Mengembalikan Pelaku Kemaksiatan Kepada Kebenaran.

    Maka seseorang (boleh) berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa menghilangkan kemungkaran: “Si fulan telah berbuat demikian, maka hentikanlah dia dari perbuatannya itu” dan yang selainnya. Dan hendaknya tujuannya adalah sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram.
    Ketiga : Meminta Fatwa.

    Misalnya seseorang berkata kepada seorang mufti: “Bapakku telah berbuat dzolim padaku”, atau “Saudaraku, atau suamiku, atau si fulan telah mendzolimiku, apakah hukuman yang dia dapatkan?, dan bagaimanakah jalan keluar dari hal ini, agar hakku bisa aku peroleh dan terhindar dari kedzoliman?”, dan yang semisalnya. Tetapi yang yang lebih hati-hati dan lebih baik adalah hendaknya dia berkata (kepada si mufti): “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang atau seorang suami yang telah melakukan demikian ..?”. Maka dengan cara ini tujuan bisa diperoleh tanpa harus menyebutkan orang tertentu, namun menyebutkan orang tertentupun boleh sebagaimana dalam hadits Hindun.
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَتْ هِنْدٌ امْرَأَةُ أَبِيْ سُفْيَانَ لِلنَّبِيِّ : إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِيْ مَا يَكْفِيْنِيْ وَوَلَدِِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ, قَالَ : خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدِكِ بِالْمَعْرُوْفِ

    “Dari ‘Aisyah berkata: Hindun, istri Abu Sofyan, berkata kepada Nabi Shallallahu

    ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir dan tidak memberi belanja yang cukup untukku dan untuk anak-anakku, kecuali jika saya ambil tanpa pengetahuannya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Ambillah apa yang cukup untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang baik” (jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit)” Rowahu Bukariy muslim
    Keempat : Memperingatkan Kaum Muslimin Dari Kejelekan.

    Hal ini diantaranya: Jarh wa ta’dil (celaan dan pujian terhadap seseorang) yang telah dilakukan oleh para Ahlul Hadits. Mereka berdalil dengan ijma’ tentang bolehnya, bahkan wajibnya hal ini. Karena para salaf umat ini senantiasa menjarh (mencela) orang-orang yang berhak mendapatkannya, dalam rangka untuk menjaga keutuhan syari’at. Seperti perkataan ahlul hadits: “Si fulan pendusta”, “Si fulan lemah hafalannya”, “Si fulan munkarul hadits”, dan lain-lainnya. (Al-Fatawa 26/131,232)

    Contoh yang lain yaitu mengghibahi seseorang ketika musyawarah untuk mencari nasehat. Dan tidak mengapa dengan menta’yin (menyebutkan dengan jelas) orang yang dighibahi tersebut. Dalilnya sebagaimana hadits Fatimah.
    عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ فَقُلْتُ : إِنَّ أَبَا الْجَهْمِ وَ مُعَاوِيَةَ خَطَبَانِ, فَقَالَ رَسُوْلُ الله : أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ. وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَلاَ يَضَعُ الْعَصَا عَنْ عَاتِقِهِ.(وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَضَرَّابُ لِلنِّسَاءِ).
    “Fatimah binti Qois berkata: “Saya datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah meminang saya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Adapun Mu’awiyah maka ia seorang miskin adapun Abul Jahm maka ia tidak pernah melepaskan tongkatnya dari bahunya”. (Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat yang lain di Muslim (no 1480) :”Adapun Abul Jahm maka ia tukang pukul para wanita (istri-istrinya)”.
    Kelima : Ghibah Dibolehkan Kepada Seseorang Yang Terang-Terangan Menampakkan Kefasikannya Atau Kebid’ahannya.
    Seperti orang yang terang-terangan meminum khamer, mengambil harta manusia dengan dzolim, dan lain sebagainya. Maka boleh menyebutkan kejelekan-kejelekannya. Dalilnya :
    عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ فَقَالَ ائْذَنُوْا لَهُ, بِئْسَ أَخُوْا الْعَشِيْرَةِ

    “‘Aisyah berkata: “Seseorang datang minta idzin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Izinkankanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang yang ditengah kaumnya”. Riwayat Bukhori dan Muslim no 2591)

    Namun diharomkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan, kecuali ada sebab lain yang membolehkannya.

    Keenam : Untuk Pengenalan.

    Jika seseorang terkenal dengan suatu laqob (gelar) seperti Al-A’masy (si rabun) atau Al-A’roj (si pincang) atau Al-A’ma (si buta) dan yang selainnya, maka boleh untuk disebutkan. Dan diharomkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan cacat mereka) maka cara tersebut lebih baik.

    Wallohu A’lam Bishowab

  13. muslimah berkata

    ass ustaz, sya seorg pelajar mau bertanya kpd ustadz,
    tp sblumny sya mau crita trlebih dahulu..

    di suatu daerah perdalaman ad seorang yg hendak masuk islam, dgn ctatan yg mengislamkan ny adlh “fulan”, krna fulan adlh tokoh masyarakat yg terknal d daerah trsbut. jarak antara rmh fulan dan daerah pedalaman trsbut dangat jauh, dan utk pergi kesana si fulan memerlukan biaya, sedangkan si fulan mempunyai anag yg mana di daerah itu hnya anakny yg berskolah mslh agama islam, dan ankny pun memerlukan biaya jga utk pergi sekolah.
    si fulan bingung, mana yg harus di utamakan? di satu sisi ankny memerlukan biaya utk menuntut ilmu agama, di sisi lain ia ingin mengislamkan org,yg dimna org itu tdk ingin di islamkan melainkan dgn si fulan .

    maaf sblmny jika ceritanya trllu panjang. pertanyaanny :

    1 – apkah hukum ank yg menuntut ilmu trsbut ?
    2 – ap sikap ank trsbt apbila ia memberikan uangnya utk ongkos prgi menuntut ilmu ?
    3 – apkh boleh jika ayahny yg mengalah ?
    4 – bagaimna nasib org yg ingin masuk islam itu ?
    ya, skian pertanyaan dri sya ,sya akn sgt bertrimakasih jika ustadz bsa menjawabkanny :)

    Dijawab Oleh Al Ustdaz Nur Huda hafidzahullahu dan Abu Amin Cepu :

    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarkatuh.
    1)Hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi anak tersebut sebagai mana firmanya :
    {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} [سورة محمد، الآية: 19]
    Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.QS.Muhammad Ayat 19

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.QS.Alisro ayat 36

    فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
    Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahuinya.

    Dan Juga Perintah Rosul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
    Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah]

    2).Tidak mengapa dengan mengutamakan memberi harta kepada anak tersebut untuk menuntut ilmu
    4.)Nasib orang yang ingin masuk Islam tetap sah keislamanya tanpa harus dipersaksikan kepada tokoh tersebut, karena persaksian ISLAM ini tidak ada kewajiban mempersaksikanya pada tokoh tertentu, yang terpenting dia bersyahadat dengan rukun-rukunya yaitu :
    1Menyakini didalam hati kebenaran Islam , 2Kemudian Mengikrarkanya dengan lisan dua kalimat syahadat (tidak harus dihadapan seorang tokoh tertentu boleh dihadapan bapak anak tersebut,insyalloh sah) akan tetapi jika ingin bersyahadat dihadapan tokoh itu hendaknya dilakukan tanpa ada pelanggaran terhadap Alqur’an dan sunnah (misal Pelanggaran adanya Baiat kepada tokoh tersebut),akan tetapi jika pelanggaran-pelanggaran itu tidak ada maka akan menambah faedah keislamanya bersaksi dihadapan tokoh tersebut dengan manfaat kaum muslimin mengetahuinya, sehingga dia akan diperlakukan sebagaimana haknya menjadi seorang muslim dikemudian hari,
    Kemudian ke3 sebagai seorang muslim mengamalkan dari apa yang telah dia persaksikan dan tiga hal ini adalah konsequensi dari keimanan seorang muslim sebagaimana Rosul Mengajarkanya. Dan ini Berdasarkan keumuman hadits Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
    أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
    “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    .Wallohua’lam Bi Showab

  14. asep abdul haQ berkata

    assalamu’alaikum,,ustadz aku mau tanya tetntang hukumnya taklid terhdp salh satu imam yg 4?


    Abu Amin Cepu :
    Waalaikumussalam Warohamatulloh Wabarokatuh, Saudara Asep Yang Budiman

    Alloh Aza Wajalla Melarang Taklid Buta Sebagaimana Firman-Nya :
    ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۗ قَلِيلًۭا مَّا تَذَكَّرُونَ
    Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).QS.Al A’raaf ayat 3

    Kemudian dalam firman-Nya Lain :

    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۭا مُّبِينًۭا
    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.QS.Alahzab ayat 36

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Adapun mengikuti para imam mujtahidin dalam perkara-perkara yang sesuai dengan Alqur’an dan sunnah maka ini adalah prinsip ahlu sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh keterangan meraka sendiri, sebagai misal pernyataan Imam Syafi’i :

    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal ( Madzab Hambali mengatakan pula):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”, Wallohu A’lam Bishowab

  15. Anonymous berkata

    ustadz sy mau tanya :
    1. seseorg menawarkan modal usaha, org tsb pegawai bank konvensional, menurut pengakuannya, modal tsb bukan milik bank tapi mlilk pribadinya, bolehkah sy menerima tawaran tsb ???

    2. seseorg juga pegawai bank konvensional menawarkan sy bekerja diperusahaan transport miliknya, bolehkah sy bekerja diperusahannya ??? tlng balas juga via email anak saya. abugria@yahoo.com mailto:abugria@yahoo.com TQ usatadz.

    Bismillah,
    Abu Amin Cepu (Ralat) :Bismillah,
    1 dan 2, Hukum asalnya adalah boleh, ada kaidah yang berbunyi: “Al-Itsmu ‘alal mubasyir” yang artinya: Dosa ditanggung oleh orang yang melakukannya secara langsung. Jadi dosa dari riba ditanggung oleh pelakunya tersebut dan tidak ditanggung oleh orang yang makan dari harta riba tersebut selain dirinya. Dalil dari kaidah ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    أَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
    “(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 38-39)
    Dan telah masyhur bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mengadakan transaksi jual-beli dengan orang-orang Yahudi yang mereka ini terkenal berjual-beli dengan cara riba, dan terkadang beliau diundang makan oleh sebagian orang Yahudi lalu beliau memenuhi undangannya, bahkan beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat dalam keadaan baju besi beliau masih tergadaikan pada seorang Yahudi.
    , Wallohua’lam.

    Catatan : Kalau Modal dan perusahaan transport tersebut didirikan dengan uang riba hasil gajinya dibank itu atau pinjaman dari bank riba , akan lebih baik mencari nafkah dengan cara yang syar’i lainya jika dimungkinkan sebagai bentuk nasehat buat pemilik modal ini , insyalloh Alloh akan bukakan pintu rizki bagi mereka yang senantiasa bertakwa dari arah yang tidak disangka. Wallohua’lam.

  16. Muslimah berkata

    ass,, ustadz sy mau tanya :
    1 ,. apakah sah ma’mum berjamaah di musholla tp tanpa ada penghubung antara imam dan ma’mum??

    2 ,. apa-apa saja syarat sah sholat ?

    sblmny, sya ucapkan terimakasih:)


    Dijawab Oleh Akhuna Al Fadl Abu Abdillah Marjan dan Abu Amin Cepu :
    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh, Bismillah
    1.)Ana kurang memahami pertanyaan pertama kalau yang dimaksud tidak bisa melihat imam akan tetapi bisa melihat gerakan makmun lainya dan kalau yang dimaksud adalah shaf perempuan maka tak mengapa.Wallohu a’lam
    2.)Syarat-Syarat Sah Shalat ada sembilan: 1. Islam, 2. Berakal, 3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 4. Menghilangkan hadats, 5. Menghilangkan najis, 6. Menutup aurat, 7. Masuknya waktu, 8. Menghadap kiblat, 9. Niat.
    1. Islam
    Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal.” (At-Taubah:17)
    Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan:23)
    Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Aali ‘Imraan:85)
    2. Berakal
    Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah,

    رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه)
    “Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
    3. Tamyiz
    Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَاْلإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ)
    “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.” (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
    4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)
    Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim dan selainnya)
    Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (Muttafaqun ‘alaih)
    5. Menghilangkan Najis
    Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan pakaianmu, maka sucikanlah.” (Al-Muddatstsir:4)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    تَنَزَّهُوْا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ.
    “Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya.”
    6. Menutup Aurat
    Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah).” (HR. Abu Dawud)
    Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.
    Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu, “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.”
    Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat.
    7. Masuk Waktu
    Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: “Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.”
    Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`:103)
    Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Israa`:78)
    8. Menghadap Kiblat
    Dalilnya firman Allah, “Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-Baqarah:144)
    9. Niat
    Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab)

    Sedangkan Rukun-Rukun Shalat
    Rukun-rukun shalat ada empat belas: 1. Berdiri bagi yang mampu, 2. Takbiiratul-Ihraam, 3. Membaca Al-Fatihah, 4. Ruku’, 5. I’tidal setelah ruku’, 6. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh, 7. Bangkit darinya, 8. Duduk di antara dua sujud, 9. Thuma’ninah (Tenang) dalam semua amalan, 10. Tertib rukun-rukunnya, 11. Tasyahhud Akhir, 12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir, 13. Shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 14. Salam dua kali.

    Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat
    1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampu
    Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat ‘Ashar), serta berdirilah untuk Allah ‘azza wa jalla dengan khusyu’.” (Al-Baqarah:238)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. Al-Bukhary)
    2. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: ‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain
    Dalilnya hadits, “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
    Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya, “Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah.” (Idem)
    3. Membaca Al-Fatihah
    Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka’at, sebagaimana dalam hadits,

    لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
    “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaih)
    4. Ruku’
    5. I’tidal (Berdiri tegak) setelah ruku’
    6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
    7. Bangkit darinya
    8. Duduk di antara dua sujud
    Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj:77)
    Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Muttafaqun ‘alaih)
    9. Thuma’ninah dalam semua amalan
    10. Tertib antara tiap rukun
    Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii` (orang yang salah shalatnya),
    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu!t Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: ‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
    11. Tasyahhud Akhir
    Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih, assalaamu ‘alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril ‘alaihis salam dan Mikail ‘alaihis salam)’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Jangan kalian mengatakan, ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya)’, sebab sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, ‘Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan’, …” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.
    12. Duduk Tasyahhud Akhir
    Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Muttafaqun ‘alaih)
    13. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.”
    Pada lafazh yang lain, “Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
    14. Dua Kali Salam
    Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… dan penutupnya (shalat) ialah salam.”

    Wallhu A’lam Bishowab.
    Maroji’ Kitab Sifat Sholat Nabi Syeikh Nashirudin Albaniy
    Kitab Shohih Figh Sunnah Syaeikh Abu Malik Kamal, Kitab Alwajis Figh Sunnah.

  17. ibnu ashar berkata

    Bismillah. Assalaamu’alaykum Ustadz.
    Ana pernah mendengar hadist yang bunyinya seperti ini : “Kejarlah duniamu seakan2 engkau akan hidup 100 tahun lagi. Dan kejarlah akhiratmu seakan2 engkau akan mati besok”. Pertanyaan ana :
    1. Bagaimana sanad hadist tersebut?
    2. Bagaimana menurut Ustadz mengenai orang yang menggunakan hadist tersebut sebagai dalih dalam mengejar dunia?

    Jazakumullahu khairan wa barakallahu fikum.

    Abu Amin Cepu:

    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh:
    1)Bismillah,Ahki Ibnu Ashar Yang semoga Alloh menganugerahkan keberkahan hidup untuk antum.
    Lafadz hadits yang ana temukan sebagaimana dibawah ini:

    سلسلة الأحاديث الضعيفة :
    8( لا أصل له )
    اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا .
    “Beramal lah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramal lah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok” Didalam Kitab Silsilah hadits Dho’if No 8, Disebutkan Hadits Ini tidak ada asalnya.

    Atau dengan lafadz yang lainya :
    سلسلة الأحاديث الضعيفة :
    874 – ( ضعيف جدا )
    أصلحوا دنياكم واعملوا لآخرتكم كأنكم تموتون غدا
    “Perbaikilah urusan duniamu dan Berbuatlah untuk urusan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok hari” Kitab Silsilah Hadits Dhoif No 874 , Dan Hadits ini “Dihukumi Dhoif Jidan/Dhoif Sekali ”

    2.)Adapun mengamalkan hadits dhoi’f maka sebagaimana fatwa ulama berikut ini :
    Pertama, tidak didapati satu dalil pun yang membolehkan kita mengamalkan hadits dhaif (lemah) walaupun derajat kelemahannya ringan.

    Kedua, pendapat tentang bolehnya mengamalkan hadits dhaif mengakibatkan munculnya suatu bid’ah. Maka setiap amalan atau doa yang tidak berdasarkan hadits yang shahih menurut ulama hadits, amalan tersebut adalah bid’ah. Setiap ketetapan hukum tidak boleh berdasarkan hadits dhaif, tetapi harus berdasarkan hadits shahih. Hadits dhaif hanya bisa dipakai untuk satu hal, yaitu fadha’ilul a’mal (keutamaan-keutamaan amal).

    Pendapat yang mengatakan bahwa hadits dhaif dapat diamalkan dalam fadha’ilul a’mal ini pun merupakan suatu pendapat yang bertolak belakang antara awal dan akhirnya. Mari kita lihat, ketika kita mengamalkan hadits-hadits dhaif dalam fadha’ilul a’mal, apakah amalan kita itu berdasarkan hadits-hadits dhaif tersebut? Atau berdasarkan hadits lain?
    Kalau jawabannya berdasarkan hadits dhaif, berarti kita menetapkan suatu hukum berdsarkan hadits dhaif. Padahal menetapkan suatu hukum berdasarkan hadits-hadits dhaif ditentang oleh orang yang membolehkan mengamalkan hadits dhaif dalam fadha’ilul a’mal. Sedangkan jika jawabannya “berdasarkan hadits yang shahih” maka buat apa kita membawa hadits-hadits yang dhaif tadi? Sebab ada atau tidaknya hadits-hadits yang dhaif adalah sama saja, sama sekali tidak ada pengaruhnya. Amal itu hanya akan berdasarkan kepada hadits yang shahih.Oleh karena itu, kalimat “hadits dhaif diamalkan dalam fadha’ilul a’mal” tidak memberi faidah sedikit pun, karena kritik ilmiah dalam hadits menerangkan bahwa kalimat ini secara mutlak tidak mungkin untuk dapat dianut selamanya.(Fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani)

    Kemudian adapun bekerja sungguh-sungguh didunia untuk menggapai kehidupan ahkirat adalah suatu kewajiban,sebagaimana FirmanNya :

    وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.QS. Alqoshosh ayat 77.

    atau sebagimana sabdanya :

    َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ مِنْ اَلْمُؤْمِنِ اَلضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ اَلشَّيْطَانِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
    Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah dan masing-masing mempunyai kebaikan. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini maka akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Sebab kata-kata seandainya membuka pekerjaan setan.” Riwayat Muslim.

    Wallohu A’lam Bishowab.

  18. Jatnika Ramdan berkata

    Dikirim pada tanggal 2011/09/27 pukul 8.18
    ustadz saya masih bingung dengan beberapa hal di bawah ini

    1. Saya pernah mendengar sebuah hadist yg menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mencium Aisyah sebelum beliau melakukan shalat
    2. Qunut dalam shalat subuh
    3.mengusap muka setelah selesai sholat apakah termasuk rukun shalat
    mohon penjelasannya ustadz…..sukran

    Abu Amin Cepu :
    1).Mengenai Hadits yang antum maksud terbagi beberapa pendapat sebagaimana dijelaskan dalam kitab shahih figh sunnah Syeikh Abu Malik Kamal :

    -Pendapat pertama, wudhu itu batal baik sentuhan tersebut diiringi dengan syahwat ataukah tidak. Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat yang mengatakan wajibnya berwudhu karena sekedar menyentuh perempuan adalah pendapat imam Syafii dan para ulama mazhab Syafii, Malik dan pendapat yang terkenal dari Ahmad bin Hanbal” (Tafsir al Qur’an al Azhim 1/669, terbitan Dar Salam).Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Hazm. Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga berpendapat dengan pendapat ini.

    -Pendapat kedua, bersentuhan dengan perempuan tidaklah membatalkan wudhu sama sekali. Inilah pendapat Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan asy Syaibani dan sebelumnya merupakan pendapat Ibnu Abbas, Thawus, al Hasan al Bashri dan Atha’. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

    -Pendapat ketiga mengatakan bahwa menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu jika diiringi syahwat dan tidak membatalkan wudhu jika tanpa syahwat.

    Kesimpulan Pendapat yang paling kuat adalah pendapat kedua mengingat dalil-dalil dibawah ini :

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ « اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ ».

    Dari Abu Hurairah, dari Aisyah, aku kehilangan Rasulullah pada suatu malam dari tempat tidurku lalu kucari-cari. Akhirnya tanganku memegang bagian dalam telapak kaki Nabi. Ketika itu Nabi di masjid dan kedua telapak kakinya dalam posisi tegak. Saat itu Nabi sedang mengucapkan doa, ‘Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari murkaMu dan dengan maafMu dari hukumanMu. Aku berlindung dengan diriMu dari siksaMu. Aku tidak mampu memujimu sebagaimana pujianMu untuk diriMu sendiri’ (HR Muslim no 222).

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَرِجْلاَىَ فِى قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِى فَقَبَضْتُ رِجْلَىَّ وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا – قَالَتْ – وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ.

    Dari Aisyah, Aku tidur melintang di hadapan Rasulullah yang sedang shalat. Kedua kakiku terletak di arah kiblat. Jika beliau hendak bersujud beliau sentuh kakiku sehingga kutarik kedua kakiku. Jika beliau bangkit berdiri kembali kuluruskan kakiku. Aisyah bercerita bahwa pada waktu itu tidak ada lampu di rumah (HR Bukhari no 375 dan Muslim no 272).

    Kedua hadits di atas menunjukan bahwa sentuhan antara laki-laki dan perempuan tidaklah membatalkan wudhu. Seandainya wudhu batal tentu shalat yang Nabi lakukan juga batal.

    عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ

    Dari Aisyah, sesungguhnya Nabi itu sering mencium salah seorang istri kemudian beliau langsung shalat tanpa mengulang wudhu (HR Nasai no 170 dan dinilai shahih oleh al Albani).

    Perbedaaan pendapat masalah figh seperti ini adalah suatu hal yang sudah di maklumi dikalangan ulama’ ahlu sunnah, dan hendaknya mencari yang lebih dekat dengan apa yang dilakukan Rosul Sholollohualaihi wassalam.Tanpa merendahkan martabat yang berbeda dengan kita.

    2).Adapaun Qunut Shubuh , Coba antum tela’ah penjelasan Saudara Kami Al Ustadz Dzulqarnaen Muhammad Sanusi dibawah ini :

    Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

    -Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.

    -Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.

    -Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.

    -Dalil Pendapat Pertama

    Dalil para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

    مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

    “Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.

    Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

    Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari Anas bin Malik.

    Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.”

    Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”.

    Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).

    Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.

    Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :

    Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

    “Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.

    Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ

    “Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.

    Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.

    emudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :

    Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :

    قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ

    “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga mereka”.

    Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :

    Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).

    Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.

    Catatan :

    Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :

    صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ

    “Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.

    Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.

    Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :

    صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ

    “Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut”.

    Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’ in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.

    Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia”, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah “beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”, dan ini adalah perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)”.

    Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :

    مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ

    “Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”.

    Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.

    Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin ‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady : “Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata Ibnu Hibba n : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.

    -Kesimpulan pendapat kalangan pertama:

    Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.

    Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.

    1) Doa 2) Khusyu’3) Ibadah4) Taat 5) Menjalankan ketaatan.6) Penetapan ibadah kepada Allah 7) Diam ,8 Shalat 9) Berdiri 10) Lamanya berdiri 11) Terus menerus dalam ketaatan Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.

    Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.

    -Dalil Pendapat Kedua

    Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

    “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakw an dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim)

    Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :

    Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.

    Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :

    وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.

    Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”.

    Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .

    -Dalil Pendapat Ketiga

    Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i

    قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.

    “Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.

    Dua : Hadits Ibnu ‘Umar

    عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ”.

    ” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya tsiqoh”.

    Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.

    Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.

    Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :

    -Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.
    - Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

    Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.

    Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma’ad.

    Kesimpulan

    Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.
    Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’ : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.

    3).Tidak ditemukan dalil mengusap muka setelah sholat, adapaun kenapa dilakukan karena ada kebutuhan disana yaitu dizaman rosul masjid masih berlantai pasir dan tanah,sehingga besar kemungkinan tertempel dimuka kemudian mengusapnya.
    akan tetapi serasa aneh jika lantai masjid sekarang bersih-bersih masih mengusap muka.
    Adapun Mengusap muka setelah berdoa haditsnya di dho’ifkan oleh para ulama seperti dibawah ini:
    Hadits Umar, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma’in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho’iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho’ifkan pula oleh Ad Daruquthni.
    Wallohu A’lam Bishowab

  19. angka setiawan berkata

    asslamu’alaykum,
    ustdz sblumnya mksih ustadz untuk wktunya,
    ana sdkit bercrita nih ustadz, alhamdulillah ana sdah knal salaf, dan trasa skali dmpaknya mengamalkan yg haq, smkin hari ana smkin yakin akan manhaj ini, tpi smkin hari ana jga smkin mrasa bodoh tntang ilmu kbenaran, biasanya si ana mngambil ilmu dri buku yg ana pnjam dri tman ana mklum ustadz ana ada kndala dana, dan sya kira ini krang maksimal, kdang klo ana blum slesai bca udah dminta sma pmiliknya.
    Ustadz bisa ksih saran tntang mslah ini, ato ustadz bisa ga tunjukin ana tmpat tmpat kajian yg bermanhaj salaf?
    Syukron ya ustadz, jaazakallahu khoiron.

    Abu Amin Cepu :

    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Walhamdulillah ya ahki yang baik hati, Rosul memberikan suri tauladan terbaik tentang berbagai peristiwa yang kita alami diantaranya adalah apa yang antum alami ini, Rosul Bersabda dalam Rowahu Muslim :

    احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت لكان كذا وكذا، ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن ” لو ” تفتح عمل الشيطان

    “Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’”, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.”

    Jangan antum berlaku lemah, akan tetapi bersemangatlah karena niat dan semangat dalam kebenaran adalah awal terciptanya kebaikan dan kebenaran dalam diri, para ulama menyebutkan niat dan bersemangat denganya merupakan sepertiga bagain atasnya, perhatikanlah bagaimana Alloh memberikan hiburan kepada mereka yang dalam kekurangan dengan firmaNya:

    وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
    Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.(Qs.Ali imron 139)

    Insyalloh datangilah kajian kajian salaf disana, banyak ikhwah yang berkenan dengan kesulitan antum ini, karena muslim yang benar imanya adalah saling menguatkan satu dengan yang lainya,insyalloh. terlampir alamat kajian dikota kota mungkin antum butuhkan Wallohua’lam.

  20. ibnu ashar berkata

    Jazakallahu khairan atas jawaban pertanyaan sebelumnya, Ustadz,

    Ana mau bertanya lagi mengenai nama kunyah, ustadz. Abi seorang mu’alaf yang bernama Sihar (dalam bahasa batak berarti sinar/cahaya), dan memiliki nama islam “Ashar” (yang tidak pernah digunakan). Yang mau ana tanyakan :
    1. Apakah dibenarkan pemberian nama islam dalam syariat ketika seseorang masuk islam?
    2. Bolehkah ana memakai nama kunyah ibnu ashar? karena ana pernah cek di internet, kata ashar berasal dari bahasa hebrew (ibrani) yang berarti “diberkati Tuhan”

    Barakallahu fikum

    Wafikum Barokallohu,Bismillah
    1).Ahki yang baik hati, ketika seseorang mengaku muslim maka hendaklah diamenerima apa yang datang dari Rosulnya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
    وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُواٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
    Dan Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.(QS Alhasyr 7)

    Kemudian diantara yang diperintahkan Rosul Sholollohualaihi wassalam adalah berkunyah dengan kunyah yang memiliki arti yang baik, seperti Abu Abdurahman/Ummu Abdillah Dan sejenisnya,
    Hal ini sebagaimana sabda Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam perintahkan kepada istri beliau ummul mukminin:

    ( اكتني [ بابنك عبد الله، يعني ابن الزبير] أنت أم عبد الله ).

    Artinya : “Berkunyahlah kamu dengan anakmu `Abdullah, maksudnya Ibnuz Zubeiir, kamu adalah Ummu `Abdillah.”
    “Silsilatul Ahaadist As Shohiihah” (205-207, no. 132) ].

    Kunyah biasanya dinisbahkan kepada anak pertama laki-laki, dan boleh orang yang tidak punya anakpun berkunyah.Anak Kecil juga boleh berkunyah sebagaimana sabda nabi dibawah ini :
    sebagaimana sabda Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam di bawah ini:

    Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:

    عن أنس بن مالك، قال : كان رسول الله يدخل علينا ولي أخ صغير يكنى أبا عمير، وكان له نغر يلعب به، فمات، فدخل عليه النبي صلىالله عليه وسلم ذات يوم فرآه حزينا، فقال : “ماشأنه”؟ قالوا :مات نغره، فقال : “يا أبا عمير، ما فعل النغير؟”

    Artinya :
    Dari Anas bin Maalik, berkata dia : Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam pernah masuk ke rumah kami dan saya mempunyai yang kecil yang berkunyah Aba `Umeiir. Dia memiliki seekor burung kecil dan dia bermain dengannya. Pada suatu hari datang lagi An Nabiy Shollallahu `alaihi wa Sallam ke rumahnya dan beliau melihatnya dalam keadaan sedih, maka berkatalah Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :
    “Kenapa dia?”Mereka menjawab: “Telah mati burungnya yang kecil itu.”Lantas Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Ya Aba `Umeiir, apa yang terjadi dengan an nugeiir?”

    Kemudian Larangan berkunyah dengan nama-nama yang dilarang yaitu nama nama kufar dan nama nama yang di khususkan untuk Alloh Saja Misal Abu A’la atau Abu Hakam,Wallohu A’lam

    2.)Ana kurang memahami bahasa ibrani,Rosul memerintahkan berkunyah dengan lisan Arob, Ashar kalau yang dimaksud adalah عَصْر (ASHAR) maka artinya ada beberapa kemungkinan :sore, waktu, masa, era, jangka waktu, umur, periode, dan insyalloh tak mengapa memakai nama itu karena nisbahnya ke bapak bukan ke artinya,akan tetapi mengganti dengan kunyah yang lebih jelas maknaya leboh baik semisal ” Abu Abdillah Ibnu Ashar” Wallohu A’lam.

  21. slamet berkata

    assalamualaikum wr wb
    barokallahu fiik….

    ana mo tanya ustadz
    bagaimana hukumnya apabila ketika sholat berjamaah, dibelakang kita ada shaf perempuan tanpa ada jarak shof pertama dan kedua laki laki dan ketiganya perempuan tanpa ada hijab atau tanpa sutroh bagi perempuan pertanyaanya rusak tidak sholatnya?

    jazakallahu khoiron…

    Pengasuh Ma’had Annashihah Cepu :
    Bismillah,
    Waalikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh,
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

    “Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

    Berkata Syeikh Sholeh Fauzan : Jika kaum wanita itu shalat dengan adanya tabir pembatas antara mereka dengan kaum pria maka shaf yang terbaik adalah shaf yang terdepan karena hilangnya hal yang dikhawatirkan terjadi antara pria dan wanita. Dengan demikian sebaik-baik shaf wanita adalah shaf pertama sebagaimana shaf-shaf pada kaum pria, karena keberadaan tabir pembatas itu dapat menghilangkan kekhawatiran terjadinya fitnah. Hal ini berlaku jika ada tabir pembatas antara pria dan wanita. Dan bagi kaum wanita pun harus meluruskan, menertibkan dan mengisi shaf depan yang kosong, kemudian shaf berikutnya, sebagaimana ketetapan ini berlaku pada shaf kaum pria. Jadi, ketetapan-ketetapan ini berlaku bila ada tabir pemabatas. Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/56-57

    Maka jika tidak adanya tabir bagi shaf pria dan wanita maka yang terbaik shaf wanita adalah shaf terakhir dan yang paling jauh dari kaum pria. Sholat yang antum ceritakan insyalloh sah akan tetapi hendaknya takmir masjid mempunyai siasat untuk merubahnya sehingga perempuan bisa dibuatkan tabir pada ruangan tersendiri, sehinggan terhindar adanya ikhtilat dan bahaya kemaksiatan didalam masjid serta rusaknya pahala bagi jamaah perempuan dan pria, Wallohu A’lam.

  22. Alfia Nur Hidayah berkata

    assalamu’alaikum wr.wb apa sih jawaban allah ketika kita membaca surat al-fatihah??
    tlg y jwbn nya mkasih
    wassalamu’alaikum wr,wb

    Abu Amin Cepu:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh :
    Pembaca yang budiman, Didalam kitab shahih bukariy dijelaskan sebagai berikut :
    38 – (395) عن أبيه، عن أبي هريرة،
    عن النبي صلى الله عليه وسلم” من صلى صلاة لم يقرأ فيها بأم القرآن فهي خداج” ثلاثا، غير تمام. فقيل لأبي هريرة : إنا نكون وراء الأمام. فقال: اقرأ بها في نفسك، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: قال الله تعالى: قسمت الصلاة بين وبين عبدي نصفين. ولعبدي ما سأل. فإذا قال العبد: الحمد لله رب العالمين، قال الله تعالى: حمدني عبدي. وإذا قال؛ الرحمن الرحيم. قال الله تعالى؛ أثنى علي عبدي. وإذا قال مالك يوم الدين. قال: مجدني عبدي (وقال مرة: فوض إلى عبدي) فإذا قال: إياك نعبد وإياك نستعين. قال: هذا بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل. فإذا قال: اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين. قال: هذا لعبدي ولعبدي ما سأل.
    قال سفيان حدثني به العلاء بن عبدالرحمن بن يعقوب.دخلت عليه وهو مريض في بيته.

    Dari Abu Hurairah ia berkata “Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda “barangsiapa mengerjakan suatu salat dan tidak membaca al-fatihah, maka salat itu cacat” beliau bersabda demikian tiga kali. Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, “tetapi kami berada dibelakang imam?’ Ia menjawab “bacalah itu di dalam hatimu karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda :
    “Allah ta’ala telah berfirman “aku membagi al-fatihah menjadi dua bagian, maka untuk hambaKu yang dimintanya.
    jika hamba itu mambaca Alhamdulillahi rabbil alamin, maka Allah berfirman ‘hambaKu memujiKu,
    jika hamba itu membaca arrahmanirrahim Allah brefirman ‘hambKu ini telah memujaKu’
    dan jika hambaKu ini membaca Maliki yaumiddin Allah berfirman ‘HambaKu telaj memuliakanku dengan kata lain hambaKu telah berserah diri kepadaKu’
    dan jika hambaKu ini mengucapkan iyyakana’buduwa iyyaka nastain, Allah berfirman ‘ini antaraKu dan hambaKu dan bagi Hambaku apa yang dimintanya’.
    Dan jika hamba ini mengucapkan ihdinas shiratal mustaqim shiratal ladzina an’amta alaihim waladldlalin, Allah berfirman ‘ini untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa yang dimintanya’

    Wallohu A’lam Bishowab.

  23. Bayu K berkata

    Assalamu’alaikum.
    Saya mau bertanya, jika orang tua dan keluarga sulit menerima golongan ini (ahlussunnah) karena sudah terbiasa dengan tradisi dari orang2 terdahulu yang ikut saja dengan pemerintah (Misal NU), sedangkan mencela saya dengan menganggap saya masuk ke golongan sesat/ bukan yang umum (karena saya baru mendalami ahlussunnah jadi sulit untuk saya menjelaskan kepada mereka). Bagaimana solusinya untuk itu?
    Terima kasih, semoga penulis dapat terus berjuang di jalan Allah dan meluruskan saudara2 kita yang menyimpang dari jalan yang lurus…. Amien…

    Dijawab Oleh Pengasuh Ma’had Annashihah Cepu http://annashihahcepu.wordpress.com :
    Waaalaikumussalaam Warohmatulloh Wabarokatuh,
    Ahki Bayu Yang budiman, Semoga Alloh Ta’ala kokohkan keimanan antum dan kita semua ,
    Diantara Ciri Ahlu Sunnah Adalah Sebagaimana Hadits Dibawah ini :
    “لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق ، لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله ” (رواه مسلم)
    Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
    Ahlu Sunnah itu memiliki sikap teguh dan tidak terombang ambing sebagaimana buih dilautan, dia tidak mempan dengan celaan orang yang mencela selama dia kokoh diatas kebenaran.

    Alloh Juga menerangkan bagaimana sikap orang yang benar imanya yang kuat dari gangguan dan rintangan , Alloh Ta’ala Berfirman :
    فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍۢ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍۢ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
    maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui, QS.Almaidah 54

    Maka Hendaknya antum mempersiapkan hal hal sebagai berikut :
    1.BERILMU
    Seorang da’i haruslah memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan di atas ilmu yang shahih yang berangkat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Karena setiap ilmu yang diambil dari selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, wajib diteliti terlebih dahulu. Setelah menelitinya, maka dapat menjadi jelas apakah ilmu tersebut selaras ataukah menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Apabila selaras maka diterima dan apabila menyelisihi maka wajib menolaknya tidak peduli siapapun yang mengucapkannya.
    2.SABAR
    Seorang da’i haruslah bersabar di atas dakwahnya, sabar atas apa yang ia dakwahkan, sabar terhadap orang yang menentang dakwahnya dan sabar atas segala aral rintangan yang menghadangnya.
    Seorang da’i haruslah bersabar dan berupaya menetapi kesabaran di dalam berdakwah, jangan sampai ia berhenti atau jenuh, namun ia harus tetap terus berdakwah ke jalan Alloh dengan segenap kemampuannya. Terlebih di dalam kondisi dimana berdakwah akan lebih bermanfaat, lebih utama dan lebih tepat, maka ia haruslah benar-benar bersabar di dalam berdakwah dan tidak boleh jenuh, karena seorang manusia apabila dihinggapi kejenuhan maka ia akan letih dan meninggalkan dakwah. Akan tetapi, apabila ia menetapi kesabaran di atas dakwahnya, maka ia akan meraih pahala sebagai orang-orang yang sabar di satu sisi, dan di sisi lain ia akan mendapatkan kesudahan yang baik.

    Dengarkanlah firman Alloh Azza wa Jalla yang menyeru Nabi-Nya :

    تِلْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَآ أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَـقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

    “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang hal yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Huud : 49)

    bacalah firman Alloh Azza wa Jalla :

    كَذَلِكَ مَآ أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ قَالُواْ سَـحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

    “Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (QS adz-Dzaariyaat : 51)
    Lihatlah kepada rasul pertama Nuh ‘alaihish Sholatu was Salam, suatu ketika kaumnya melewati beliau dan beliau pada saat itu sedang membangun sebuah kapal lalu mereka mencela beliau, lantas beliau berkata kepada mereka :

    إِن تَسْخَرُواْ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ * فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

    “(Berkatalah Nuh) Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS Huud : 38-39)

    Mereka tidak hanya mengejek beliau, namun mulai mengancam untuk membunuh beliau :

    قَالُواْ لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ ينُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُرْجُومِينَ

    “Mereka berkata: Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS asy-Syu’araa` : 116)

    Artinya adalah, beliau termasuk orang-orang yang akan dibunuh dengan cara dilempari batu. Di sini ada ancaman mati dengan implikasi bahwa “kami telah melempari orang selain dirimu” untuk menampakkan keperkasaan mereka (kaum nabi Nuh) sedangkan mereka telah merajam orang lain “dan engkau (Nuh) adalah termasuk mereka.” Namun, hal ini tidaklah memalingkan Nuh ’alaihish Sholatu was Salam dari dakwah beliau, bahkan beliau tetap terus melangsungkan dakwahnya sampai Alloh membukakan untuknya dan untuk kaumnya kemenangan.

    Dan lihatlah Ibrahim ‘alaihish Sholatu was Salam, kaumnya menghadapinya dengan penentangan, bahkan mereka mengolok-olok beliau di hadapan manusia :

    قَالُواْ فَأْتُواْ بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

    “Mereka berkata: (Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (QS al-Anbiyaa` : 61)

    Kemudian mereka mengancam akan membakar beliau :

    قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَانصُرُواْ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَـعِلِينَ

    ”Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS al-Anbiyaa` : 68).

    Lalu mereka mengobarkan api yang sangat besar dan mereka melempari beliau dengan manjanik (ketapel raksasa) disebabkan jarak mereka yang jauh dikarenakan panasnya api. Akan tetapi, Rabb pemilik keperkasaan dan kemuliaan ber-firman:

    قُلْنَا ينَارُ كُونِى بَرْداً وَسَلَـمَا عَلَى إِبْرَهِيمَ

    ”Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS al-Anbiyaa` : 69).

    Maka menjadilah api itu dingin dan keselamatan baginya, dan kesudahan yang baik adalah bagi Ibrahim :

    وَأَرَادُواْ بِهِ كَيْداً فَجَعَلْنَـهُمُ الاَْخْسَرِينَ

    ”Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS al-Anbiyaa` : 70)

    Lihatlah Musa ‘alaihish Sholatu was Salam dan bagaimana Fir’aun mengancam untuk membunuh beliau :

    ذَرُونِى أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّى أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُـمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِى الاَْرْضِ الْفَسَادَ

    ”Dan Berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): Biarkanlah Aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, Karena Sesungguhnya Aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS Ghaafir : 26)

    Ia mengancam untuk membunuh beliau akan tetapi perkara berbicara lain dan kesudahan yang baik adalah bagi Musa ‘alaihish Sholatu was Salam

    وَحَاقَ بِـَالِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

    ”Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS Ghaafir : 45)

    Lihatlah Isa ‘alaihish Sholatu was Salam yang mendapatkan gangguan sampai-sampai kaum Yahudi menuduh beliau sebagai anak pezina. Mereka membunuh beliau dengan asumsi mereka dan menyalibnya, akan tetapi Alloh Ta’ala berfirman :

    وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

    ”Mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah Telah mengangkat Isa kepada-Nya]. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa` : 157-158).

    Maka Allohpun menyelamatkan beliau.

    Dan lihatlah penutup dan imam para nabi, penghulu anak cucu Adam, Muhammad Shallallahu ’alaihi was Salam. Alloh berfirman tentang beliau :

    يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَـكِرِينَ

    ”Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS al-Anfaal : 30)

    وَيَقُولُونَ أَءِنَّا لَتَارِكُو ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ

    ”Dan mereka berkata: Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?.” (QS ash-Shaaffaat : 36).

    Beliaupun menghadapi gangguan-gangguan berupa perkataan maupun perbuatan, yang mana hal ini telah diketahui oleh para ulama di dalam buku-buku Tarikh (Sejarah) dan kesudahan yang baik adalah bagi beliau.

    Jadi, setiap da’i pastilah akan menemui gangguan, namun ia haruslah dapat bersabar menghadapinya. Oleh karena itulah, Alloh Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi was Salam :

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ تَنزِيلاً

    ”Sesungguhnya kami Telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS al-Insaan : 23)

    Mungkin dikira Alloh akan berfirman (setelah ayat di atas) : ”maka bersyukurlah kamu atas nikmat Alloh yang menurunkan al-Qur`an ini secara berangsur-angsur”, padahal Alloh berfirman pada beliau :

    فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمْ ءَاثِماً أَوْ كَفُوراً

    ”Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (QS al-Insaan : 24)

    3.HIKMAH

    Seorang da’i haruslah menyeru kepada Alloh dengan hikmah. Dan alangkah pahitnya orang yang tidak memiliki hikmah. Dakwah ke jalan Alloh itu haruslah dengan : (1) hikmah, (2) mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik), (3) berdebat dengan cara yang lebih baik kepada orang yang tidak zhalim, kemudian (4) berdebat dengan cara yang tidak lebih baik kepada orang yang zhalim. Jadi, tingkatan ini ada empat. Alloh Ta’ala berfirman :

    ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـادِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

    ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl : 125)

    Dan firman-Nya :

    وَلاَ تُجَـادِلُواْ أَهْلَ الْكِتَـبِ إِلاَّ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ وَقُولُواْ ءَامَنَّا بِالَّذِى أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـهُنَا وَإِلَـهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

    ”Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS al-Ankabuut : 49)

    Sesungguhnya hikmah itu adalah : menetapkan suatu perkara secara mantap dan tepat, dengan cara menempatkan suatu perkara pada tempatnya dan mendudukkan suatu perkara pada kedudukannya. Bukanlah termasuk hikmah apabila anda tergesa-gesa dan menginginkan manusia akan berubah keadaannya dari keadaan mereka sebelumnya menjadi seperti keadaan para sahabat hanya dalam sehari semalam.

    4. BERAKHLAK YANG MULIA
    Seorang da’i haruslah berperangai dengan akhlak yang mulia, dimana ilmunya tampak terefleksikan di dalam aqidah, ibadah, perilaku dan semua jalan hidupnya, sehingga ia dapat menjalankan peran sebagai seorang da’i di jalan Alloh. Adapun apabila ia dalam keadaan sebaliknya, maka sesungguhnya dakwahnya akan gagal, sekiranya sukses maka kesuksesannya sedikit.

    Wajib bagi da’i mengamalkan apa yang ia dakwahkan, baik berupa ibadah, mu’amalah, akhlak dan suluk (sifat/karakter), sehingga dakwahnya diterima dan ia tidak termasuk orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka.

    5. MENGHILANGKAN PENGHALANG ANTARA DIRINYA DENGAN ORANG ORANG YANG DIBERI DAKWAH

    Seorang da’i haruslah menghancurkan penghalang antara dirinya dengan manusia. Hal ini disebabkan karena banyak saudara-saudara kita para du’at, apabila melihat suatu kaum melakukan kemungkaran, mereka terlalu ghirah (cemburu/semangat) dan benci terhadap kemungkaran tersebut sehingga mereka tidak mau pergi menemui kaum tersebut dan menasehati mereka. Hal ini adalah suatu kesalahan dan bukanlah termasuk hikmah sama sekali. Bahkan yang termasuk hikmah apabila anda pergi mendakwahi mereka, menyampaikan motivasi dan peringatan, dan janganlah anda sekali-kali mengatakan bahwa mereka adalah orang fasik dan tidak mungkin aku akan berjalan dengan mereka.

    6.LAPANG DADA JIKA ADA PERSELISIHAN

    Seorang da’i haruslah berlapang dada terhadap orang yang menyelisihinya, apalagi jika diketahui bahwa orang yang menyelisihinya itu memiliki niat yang baik dan ia tidaklah menyelisihinya melainkan dikarenakan ia belum pernah mendapatkan dirinya ditegakkan hujjah kepadanya. Selayaknya seseorang bersikap fleksibel di dalam masalah ini, dan janganlah ia menjadikan perselisihan semisal ini berdampak pada permusuhan dan kebencian. Allohumma, kecuali seorang yang menyelisihi karena menentang, padahal telah diterangkan padanya kebenaran dan ia tetap bersikeras di atas kebatilannya. Apabila demikian keadaannya, maka wajib mensikapinya dengan sesuatu yang layak baginya berupa menjauhkan dan memperingatkan ummat dari dirinya. Karena permusuhannya telah jelas dan telah diterangkan padanya kebenaran namun ia tidak mau mengapresiasikannya.

    Ada permasalahan furu’iyyah yang diperselisihkan manusia, dan hal ini pada hakikatnya termasuk sesuatu yang Alloh memberikan kelapangan kepada hamba-hamba-Nya adanya perselisihan di dalamnya. Yang saya maksud adalah permasalahan yang bukan termasuk ushul (pokok) yang dapat mengantarkan kepada pengkafiran bagi yang menyelisihinya. Maka masalah ini termasuk perkara yang Alloh memberikan keluasan di dalamnya bagi hamba-hamba-Nya dan adanya kesalahan di dalamnya dimaafkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

    إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران وإن أخطأ فله أجر واحد

    “Apabila seorang hakim berijtihad lalu ia benar maka ia mendapatkan dua pahala, namun apabila ia tersalah maka mendapatkan satu pahala.”

    Seorang mujtahid, ia tidak akan keluar dari cakupan pahala selamanya, bisa jadi ia mendapatkan dua pahala apabila ia benar dan bisa jadi satu pahala apabila ia tersalah.

    Apabila anda tidak menginginkan ada orang selain anda yang menyelisihi anda, demikian pula dengan orang lain, ia juga tidak menginginkan ada orang lainnya yang menyelisihinya. Sebagaimana pula anda menghendaki supaya manusia mau menerima pendapat anda maka orang yang menyelisihi anda pun juga ingin supaya pendapat mereka diterima.

    Maka, tempat kembali ketika terjadi perbedaan pendapat, telah Alloh Azza wa Jalla terangkan di dalam firman-Nya :

    وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَىْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّى عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

    “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. kepada-Nya lah Aku bertawakkal dan kepada-Nyalah Aku kembali.” (QS asy-Syuuro : 10)

    Dan firman-Nya Azza wa Jalla :

    يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ اللَّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِى الاَْمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاَْخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

    ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS an-Nisaa` : 59)

    Wallohu A’lam Bishowab, Maroji’ Kitab Alfirqotun Najiyah Syeikh Jamil Zaenu Rahimahulloh , Kitab Zad’ud Dai’iyah Syeikh Utsaimin Rahimahulloh

  24. Yudi berkata

    Assalamu’alaykum Ustadz…dari penjelasan Hadist diatas Tentang Lemahnya Qunut Subuh bagaimana sikap kita jika imam melakuakan Qunut subuh tsb secara terus menerus apakah sebagai makmum kita mengangkat tangan atau tidak?

    Terimakasih,

    Pengasuh Ma’had Cepu
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,Ahkiy Yudi semoga keberkahan beserta ilmu dan amal antum,

    Apa yang antum tanyakan terbagi menjadi dua pendapat yang masyur Yaitu :
    Pendapat pertama, yaitu mengikuti imam membaca doa qunut, mengingat perintah untuk mengikuti imam. Sebagaimana pendapat Abu Yusuf Al Hanafi yang disebutkan dalam Fathul Qadiir (367/2):
    وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُتَابِعُهُ ) لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِإِمَامِهِ ، وَالْقُنُوتُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ
    “Abu Yusuf rahimahullah berpendapat ikut membaca qunut. Karena hal tersebut termasuk kewajiban mengikuti imam. Sedangkan membaca qunut adalah ijtihad imam”
    Dalam Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’ (45/4) kitab fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:
    وانظروا إلى الأئمة الذين يعرفون مقدار الاتفاق، فقد كان الإمام أحمدُ يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض
    “Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan. Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin”

    Pendapat kedua, diam dan tidak mengikuti imam ketika membaca doa qunut, karena tidak harus mengikuti imam dalam kebid’ahan. Dalam Fathul Qadiir (367/2), kitab Fiqih Mazhab Hanafi, dijelaskan:
    فَإِنْ قَنَتَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَسْكُتُ مَنْ خَلْفَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ رَحِمَهُمَا اللَّهُ .
    “Jika imam membaca doa qunut dalam shalat shubuh, sikap makmum adalah diam. Ini menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad rahimahumallah“
    Dalam Al Mubdi’ (238/2), kitab fiqih mazhab Hambali dikatakan:
    وذكر أبو الحسين رواية فيمن صلى خلف من يقنت في الفجر أنه يسكت ولا يتابعه
    “Abul Husain (Ishaq bin Rahawaih) membawakan riwayat tentang sahabat yang shalat dibelakang imam yang membaca qunut pada shalat shubuh dan ia diam“

    Dan dalam hal ini kami lebih memilih pendapat yang kedua karena itu yang sesuai sunnah.Dalam permasalahan ini jangan sampai membuat perpecahan dalam berjamaah dengan kaum muslimin dan hendaklah kita ruku’ bersama orang orang yang ruku’ / menegakkan sholat jama’ah walaupun imamnya tetap melakukan qunut witir diwaktu subuh, Wallohu A’lam. Maroji’ Fatwa Lajnah Da’iamah

  25. rio berkata

    assalamualaikum

    ustad saya mau tanya
    1. insyaAlloh beberapa minggu kedepan lahir anak kami yang pertama, mohon penjelasannya, sunnah-sunnah yang harus dilakukan ketika bayi lahir.
    2. mohon penjelasannya tentang aqiqah, kapan waktunya, hukumnya, dan bagaimana tata caranya, insyaAlloh dari hasil usg anak kami laki-laki.
    3. nama anak kami insyaAlloh abbad zahwan nabhan..penulisannya dan artinya ada yang keliru tidak ustad

    mohon nasehatnya dan balasan secepatnya ustad
    barakallahufik..

    Waalaikumussalam warohmatulloh,
    Semoga menjadi zuriyah yang sholeh,

    1.Melakukan Tahnik yaitu mengunyah sesuatu dan meletakkanya di mulut bayi.

    Dalil tentang tahnik ini disebutkan dalam beberapa hadits di antaranya:

    Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lahir seorang anakku maka aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau memberinya nama Ibrahim. Beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akan barakah untuknya. Kemudian beliau menyerahkan bayi itu kepadaku.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621, 8622)]

    2.Melakukan Aqiqah afdholnya pada hari ketujuh dan jika belum mampu bisa sampai baliqh, dan aqiqah ini hukumnya sunnah, setelah lahir boleh lansung diberi nama atau pada hari ketujuh,kemudian mencukur rambut.

    “Siapa yang ingin mengadakan nasikah untuk anaknya maka hendaklah ia lakukan, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor”.

    3.Insyalloh sudah bebar penulisanya, Wallohu A’lam.

  26. ardi berkata

    mas ,,, mba,, aku cariin materi tentang ibadah ghoeru mahdlah tapi bersangkuttan dengan (islam dan keluarga.islam dan kesehatan)
    klw bisa secepatnya yah wat penelitian

    Antum bisa download di kolom ” Download Kitab Terjemah”

  27. tata suherlan berkata

    assalamualaikum
    ustad saya mau tanya dan mohon solusi dan pencerahannya
    saya sekarang ini sedang belajar kitab kitab salafusholeh kepada keponakan yang memang usianya jauh lebih muda dari saya, yang jadi ganjalan bagai manakah sikap saya kepada keponakan saya itu dimana teman teman saya yang seusia saya sudah melaksanakan kitab ta’lim mutaalim dalam adab kepada gurunya dengan menciumi tangannya sedangkan saya merasa terhalamg/canggung karena ada tali persaudaraan

    Pengasuh Ma’had Cepu :
    Bismillah,

    Mengenai mencium tangan Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Shahihah 1/159:

    “Tentang cium tangan dalam hal ini terdapat banyak hadits dan riwayat dari salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa hadits tersebut shahih dari Nabi. Oleh karena itu, kami berpandangan bolehnya mencium tangan seorang ulama (ustadz atau kyai) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini:

    1. Cium tangan tersebut tidaklah dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga Ustadz terbiasa menjulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Begitu pula murid terbiasa ngalap berkah dengan mencium tangan gurunya. Hal ini dikarenakan Nabi sendiri jarang-jarang tangan beliau dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus menerus sebagaimana kita ketahui dalam pembahasan kaedah-kaedah fiqh.

    2. Cium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan lebih baik dari pada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat sebagai realita yang ada pada sebagai kyai.

    3. Cium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui semisal jabat tangan. Jabat tangan adalah suatu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Jabat tangan adalah sebab rontoknya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits. Oleh karena itu, tidaklah diperbolehkan menghilangkan sunnah jabat tangan karena mengejar suatu amalan yang status maksimalnya adalah amalan yang dibolehkan.

    Ahksan jika masih saudara dan umurnya dibawah anda, hendaknya menegakan sunnah jabat tangan saja. Sebagaimana perintah Rosul Sholollohualihi Wassalam :
    نْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

    Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai hasan oleh al Albani).

    Wallohu A’lam.

  28. Ummu Fathan berkata

    Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji dan syukur adalah hak Allah ta’ala dan shalawat terpanjatkan atas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam beserta keluarga beliau.
    Ustadz, ana terlahir Islam dengan didikan madzhab Imam Syafi’i rahimahullah, begitupun lingkungan keluarga suami ana. Baru beberapa bulan ke belakang ana mempertegaskan diri mengikuti manhaj ahlusunnah karena – atas kehendak dan ridla Allah – ana diperlihatkan salah satu situs salafiyyah, alhamdulillah. Ana sudah mulai merasa asing. Kerabat dan teman yang dulunya sering berhubungan dengan ana melalui telp atau SMS, kini tak seorang pun. Semoga ana istiqomah memegang manhaj ini.

    Yang menjadi kebimbangan ana, harus bagaimanakah ana bersikap ketika ada anggota keluarga atau teman yang berulang tahun? Untuk saat ini ana sudah berhenti mengucapkan “selamat ulang tahun, semoga panjang umur” dan semisal. Keyakinan ana tidak melihat apa yang akan selamat ketika umur kita berkurang, bukan bertambah, kalau tidak menambah keshalihan dan keimanan kita dalam beribadah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tidak menganjurkannya. Benarkan jika ana salah, ustadz.

    Satu hal lagi ustadz, hingga saat ini suami ana tiap hari pulang larut malam dari bekerja. Paling cepat adalah jam 12 malam. Ana sudah menganjurkan untuk membuat malam menjadi istirahatnya, namun beliau tak menggubrisnya. Ini membuat jam istirahat ana ikut berubah karena ana harus tetap terjaga untuk membukakan pintu. Jika pembantu yang membuka pintu, beliau mempertanyakan hal ini. Otomatis, ana harus tetap terjaga hingga shubuh karena takut tertinggal shalat (ana pernah coba tidur dan tertinggal shubuh, astaghfirullah). Ana harus bagaimana ustadz?
    Maafkan jika ana banyak bicara dan bertanya karena kebodohan ana ini.
    Jazakumullahu khairan katsira wa barakallaahu fiikum wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Dijawab : Pengasuh Ma’ha Cepu :
    Bismillah, Saudari Ummu Fathan Semoga Keberkahan dianugerahkan untuk anti dan suami serta keluarga, Alhamdulillah keluarga anti sudah mengenal manhaj Ahlu sunnah wal jamaah, semoga tetap istiqomah dan senanatiasa bersabar didalam menitinya Alloh Ta’ala Berfirman :

    يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا

    Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak, QS.Albaqoroh ayat 269,

    Saudari yang budiman, mengenal manhaj salaf tidak senanatiasa harus putusnya hubungan dengan orang lain, kecuali karena adanya larangan syar’i yang melarang untuk menyambungnya seperti selain mukhrim dan kaum wanita lain yang dikawatirkan bisa mempengarui jeleknya ahklak saudari.Dan tetaplah berdakwah dan berinteraksi dengan kaum muslimah dengan hikmah, saling menasehati dan berwasiat dengan mereka dengan kebaikan dan bersabar diatasnya.

    Mengenai Perayaan Ulang Tahun, Tidak pernah ditemukan dalam ajaran Rosul Sholollohualaihi Wassalam , Para Sahabatnya dan tidap pula para imam mujtahidin.
    Syaikh Muhammad Salih Al ‘ Utsaimin Ditanya : Bagaimana hukum yang berkaitan dengan perayaan hari ulang tahun perkawinan dan hari lahir anak-anak ?
    Jawaban : Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa – atau sering disebut hari ‘ Ied Arafah – untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.
    Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam).

    Sehingga hendaknya menjelaskan kepada mereka dengan cara hikmah bahwa yang demikian itu tidak disyariatkan dan merupakan bentuk tasyabuh (penyerupaan/ikut-ikutan Orang Kafir) orang orang diluar islam yaitu nasrani dan yahudi yang mengerjakan hal hal seperti ini.

    Didalam rumah tangga memang banyak kebahagian dan demikian pula permasalahannya, yang kita semua harus sabar diatas ketaqwaan, jikalau memang suami memang memiliki jadwal kerja yang denganya harus pulng selalu jam 12 malam dan jika pekerjaanya syar’i maka bersabar denganya lebih utama, dan sekalian anti bisa sholat malam bersama dia, akan tetapi jika suami memaksakan diri harus selalu pulang jam 12 padahal seharusnya bisa pulang lebih awal maka masalah seperti ini bisa dimusyawarahkan dengan kepala dingin dan saling memiliki hati lapang untuk mengetahui udzur kemampuan masing masing.Semoga keberkahan beserta keluarga saudari, Amin Ya robal alamin.Wallohu A’lam Bishowab

  29. obed berkata

    assalamualaiku,
    ustadz.., hukumnya bagamana sich jika setelah azan melakukan pujian soalnya ketika aku melakukan pujian di solo aku dibilang bid’ah padahal ditempatku jepara hampir semua kota jepara setelah azan melakukan pujian,
    terimakasih..
    wasalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Pengasuh Ma’had Cepu
    Waaalikumussalam Warohmatullohi wabarokatuh,
    Pada asalnya melakukan dzikir,berupa pujian,sholawat atau doa di syariatkan sebagaimana keumuman sabda rosul :

    عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ فَادْعُوْا. رواه ابو يعلى حديث صحيح.
    Artinya : “Doa diantara adzan dan iqamah itu dikabulkan, maka berdoalah kalian”. HR. Abu Ya’la

    yang menjadi permasalahan adalah tata cara dalam berdoa atau pujian, kebanyakan kaum muslimin jawa melakukannya dengan memakai speaker dan bersama-sama dan ini adalah menyelisihi dari apa yang dikerjakan Rosul Sholollohualaihi wassalam yang beliau mengajarkan untuk berdoa mengangkat tangan dengan suara yang di rendahkan(سِرِّيّ), Wallohu A’lam Bishowab

  30. ian berkata

    assalamualiakum wr.wb ustadz
    smoga berada dalam lindungan allah swt.amin

    ustadz saya mau bertanya tentang ktika shalat pada bacaan takhyat itu dgn menggoyang-goyang kan telunjuk itu apa benar itu cara rasulullah shalat.maaf ustadz & yg shalat sperti ini saya pernah bertanya klu dia orang salafi.saya blum juga menemukan hadits nya yg shahih ustadz.apakah hal sperti itu tidak mengganggu ke khusyukan orang di sebelah kita wktu shalt jama’ah.
    krn jujur ustadz ketika saya di sebelah nya shalat itu sangat mengganggu pandangan mata saya pada wktu itu.

    1.trus apakah orang salafi itu shalat nya sperti itu smua ustadz ?
    2.kenapa mereka mengharam kan membaca yasin pada malam jum’at apa alasan nya bukan kah itu kalamullah,knapa mereka brani mengkurafat kan kita.?
    3.mereka jg mengharam kita berziarah adzan di dalam kubur ketika ada orang yg mati?
    4.mereka jg mengharam kan berzikir & ketika habis shalat mereka tidak mau berdo’a bersama sperti yg lain mereka langsung pulang.

    maafkan saya ustadz jika ustad seorang yg salafiah saya dengan sangat rendah hati ingin utk mengetahui jawabaan yg sebenar nya.maaf kan jg ustadz jika kata -kata saya ini ada yg salah.

    subhanakallahuma wabihabdih..

    Dijawab Abu Amin :
    Waaalaikumussalam Warohmatulloh,
    Bismillah Ahki andrian yang budiman,

    Penyair bijak berkata “Pandangan cinta terkadang menutup segala cela dan pandangan benci terkadang menutup segala simpati, Tapi ini tak berlaku bagi mukmin sejati” mudah mudahan antum termasuk mukmin Sejati yang mempunyai sikap adil tersebut.

    Ana melihat antum belum jujur mengenal salaf dan siapa salafi, semoga antum menjadi hamba yang jujur dalam menilai apa dan siapa itu salafi atau salafiyah atau salafu sholeh.
    Kalau antum sudah jujur ketika sholat seharusnya , antum faham makna jujur itu apa? ana berdoa semoga antum menjadi hamba yang benar-benar jujur yaitu cocok antara dalil dan waqi’(kenyataan), Hamba yang jujur ketika sholatnya hendaknya dia memandang tempat sujudnya.

    Walaupun kami berpendapat tidak menggerak-gerakkan jari ketika tasyahud kami menghormati perbedaan seperti.

    Menanggapi 4 buah pertanyaan antum :
    1.trus apakah orang salafi itu shalat nya sperti itu smua ustadz ? Jawabanya> Kalau maksud antum menggerakan jari semua, renungkan penjelasan kami dibawah.
    2.kenapa mereka mengharam kan membaca yasin pada malam jum’at apa alasan nya bukan kah itu kalamullah,knapa mereka brani mengkurafat kan kita.?Jawabanya Yang berkata seperti itu kan anda ,dan mungkin karena ketidak tauhan anda saja, semoga Alloh menambah ilmu dan pembuktian kepada anda.Penjelasan keutamaan hadits yasin telah kami jelaskan pada pertanyaan2 sebelumnya, yang intinya kami melemahkan hadits tersebut dan boleh membacanya kapan saja asal tidak ditetapkan atau dengan membuat berita bohong akan keutamaan-keutamanya yang tidak dijelaskan secara khusus dari Alquran dan sunnah serta penjelassan ulama’ salafu sholeh.
    3.mereka jg mengharam kita berziarah adzan di dalam kubur ketika ada orang yg mati?Jawabanya> Yang mengharomkan anda siapa, kami berpendapat itu tidak ada dalilnya dan sesuatu yang baru.Sekarang kalau Imam Al Hanafi mengatakan qunut shubuh itu bi’dah apakah beliau Seacara otomatis membid’ahkan imam syafi’i? coba antum lebih bersabar lagi dan adil dalam hal seperti ini.
    4.mereka jg mengharam kan berzikir & ketika habis shalat mereka tidak mau berdo’a bersama sperti yg lain mereka langsung pulang.Jawabanya>Antum semakin banyak pertanyaan kok semakin menjauh dari kebenaran, mana mungkin seorang salafi kok habis sholat jamaah langsung kabur, Mereka salafiyin itu setiap diantara adzan dan iqomah itu berdoa mengangkat tangan kemudian, mereka berdoa dikala sujudnya, dan diahkir salamnya, setelah itu dzikir sendiri-sendiri sebagaimana rosul berdzikir, adapun mengenai berdoa berjamaah setelah sholat dengan terus menerus ini tidak ada tuntunanya (coba carikan dalilnya doa berjamaah terus menerus kalau antum berkenan) , Wallohu A’lam . ana saranka antum banyak menyambung silaturahmi berdiskusi dengan baik orang orang yang antum berprasangka jelek atasnya mudah mudahan Alloh menjadikan antum hamba yang jujur dan senantiasa bersama orang -orang yang jujur lainya sebagaimana firmanya :

    قال الله تعالى ” يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين ” التوبة

    Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. Attaubah 119.

    Permasalahan perincian menggerak-gerakkan jari ketika tasyahud Sebagaimana berikut :
    Fenomena semacam ini yang berkembang luas di tengah masyarakat merupakan satu hal yang perlu dibahas secara ilmiah. Mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka berada dalam perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah agama sering disertai dengan debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya sehingga kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan perkara yang sangat tragis bila semua itu hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu’ belaka, padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu‘ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy, kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu Quda mah, kitab Al-Ausath karya Ibnul Mundzir, Ikhtilaful Ulama karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan menemukan bahwa para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ibadah, muamalah dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidaklah menimbulkan perpecahan maupun permusuhan diantara mereka. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah mengambil segala perkara dengan dalilnya. Wallahul Musta’an.

    Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerak-gerakkannya, rincian masalahnya adalah sebagai berikut :

    Permasalahan menggerak-gerakan jari Telunjuk Ini adalah permasalahan furu’ jadi hendaknya jangan terlalu dipermasalahkan perbedaanya dan hendaknya kaum muslimin menjauhi berbantah-bantahan tanpa ilmu sehingga terkadang ada awam yang saling menjatuhkan dan menimbulkan permusuhan dalam satu masjid masyarakan muslim, Hendaknya kaum muslimin berlapang dada dalam masalah yang dibolehkan berbeda.Dan Kewajiban Muslim mencari dalil yang paling kuat dari permasalahan furu’ tersebut.

    Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat :

    -Pertama : Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.

    -Kedua : Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.

    -Ketiga : Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni’ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan.

    Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis :

    -Pertama : Yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali.

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ إِذَا دَعَا وَلاَ يُحَرِّكُهَا

    “Sesungguhnya Nabi Sholollohualaihi Wassalam beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”.Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no. 989, An-Nasai dalam Al-Mujtaba 3/37 no. 127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du’a no. 638, Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no. 676.

    عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَيُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ وَلاَ يُحَرِّكُهَا وَيَقُوْلُ إِنَّهَا مُذِبَّةُ الشَّيْطَانِ وَيَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عََلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

    “Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah sholollohualaihi wasassalam mengerjakannya”.Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu Hibban.

    -Kedua : Yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan.

    (ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهِِ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا

    “Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran, kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent. ), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”.
    Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dan Lainya

    -Ketiga : Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan/menunjuk dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.

    عن ابن عمر رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم اِذَاَ قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اليُسْرَى عَلىَ رُكْبَتِهِ وَاليُمْنَى عَلىَ اليُمْنىَ, وَعَقَدَ ثَلاَثاً وَخَمْسِيْنَ وَأَشَارَ بِإِصْبِعِهِ السَّباَبَةِ –رواه مسلم

    Dari Ibnu Umar Rodhiallohu anhuma bahwa Rasulullah Sholollohualaihi wassalam jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (HR Muslim).

    Kami lebih memilih pendapat yang ketiga karena landasan hadist yang ketiga adalah hadits-hadits yang tercatat dalam riwayat Imam Al-Bukhory, Imam Muslim dan lain-lainnya Yang tidak diragukan keshahihanya, Yaitu bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah TIDAK DIGERAK-GERAKAN, Wallohu A’lam

  31. Abu Yusuf berkata

    Bismillah..

    Ustadz, barokallahu fiykum,, abi adalah seorang mu’allaf. Orang tuanya meninggal dalam keadaan kafir dan meninggalkan sebuah rumah yang akan diwariskan apabila telah laku terjual.

    Yang saya ingin tanyakan :

    1. Bolehkah abi menerima warisan dari menjual rumah tersebut? Karena ana pernah membaca hadist ini : Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
    لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
    “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 6267 dan Muslim no. 1614)

    2. Apabila tidak boleh, bolehkah menerimanya kemudian disedekahkan seluruhnya untuk kepentingan ummat? Sebab jumlahnya lumayan besar, dan rasanya sayang kalau uang tersebut jatuh ke tangan saudara-saudari abi yang masih kafir.

    3. Bagaimana cara menjelaskan hal ini kepada orang tua ana yang awam? Ana sudah pernah menyampaikan sekali kepada ummi tetapi ditanggapi dengan sikap agak meremehkan dan berpendapat bahwa yang tidak boleh adalah mewarisi ke anak yang kafir (murtad) serta menganggap harta warisan sama dengan harta orang tua yang diberikan kepada anaknya ketika masih hidup dan boleh diterima anaknya yang muslim. Bagaimana hal ini menurut Ustadz?

    ‘afwan apabila pertanyaan ana panjang. Ana hanya takut keluarga ana menerima uang yang tidak halal. Jazakumullahu khayran atas perhatiannya.

    Oleh Pengasuh Ma’had Salafiyah Annashihah Cepu:
    Bismillah,
    Ahki Abu Yusuf Semoga Alloh Aza wa jalla menjaga antum untuk senantasa istiqomah dijalan salafu sholeh,
    Menanggapi tiga buah pertanyaan antum :
    1.Tidak boleh bapak antum menerima warisan dari kakek antum yang meninggal dalam keadaan kafir , Sebagaimana Keumuman Larangan Hadits yang antum sebutkan
    لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
    “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 6267 dan Muslim no. 1614)
    Dan sebagaimana jumhur imam mujtahidin bersepakat atasnya.
    2.Tidak Boleh menerimanya, kecuali ketika masih hidup kakek antum menghibahkan harta kepada bapak antum, atau sebelum meninggalnya mewasiatkan untuk bapak antum tentang jatah pembagian harta kakek antum setelah meninggalnya.
    3.Memang beberapa ulama’ bersandar dengan pendapat Muad Ibnu Jabal Radhiallohuanhu yang berpendapat bolehnya seorang anak muslim mewarisi harta orang tua yang kafir, akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah, dan hendaknya kita kembalikan kepada petunjuk nabi sholollohualaihi wassalam sebagaimana penjelasan diatas.

    Dijelaskan kepada orang tua antum bahwa larangan ini merupakan kesepakatan jumhur ulama ahlu sunnah dan merupakan pendapat dari keempat madzab yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
    Dan yang senantiasa kita ingat tugas antum adalah menyampaikan dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bukan terkesan mengurui kepada orang tua antum.

    وعنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه رواه مسلم
    “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menjadi perhiasan dan tidaklah kelembutan itu terangkat dari sesuatu melainkan akan menjadi jelek” atau sebagaimana yang disabdakan rosul dalam shohih Muslim.
    Maka jelaskanlah dengan kelembutan semoga Alloh melunakan hati-hati hamba yang mau jujur menerima kebenaran. Wallohu A’lam,

    Wafikum barokallohu wallohul muwafiq.

  32. Abu Surya Rachmad berkata

    Assalamu’alaykum warohmatulloh
    alhamdulillah kami sangat tertarik dengan web antum ini, mohon kiranya kami dikirimi up date dari setiap materi up-load yang ada, syukron jazakumullohu khoiron.

    Waalaikumusalam Warohmatulloh Wabarokatuh, Antum juga bisa berpartisipasi disini ahki untuk membesarkan dakwah, Insyalloh antum bisa hubungi kontak person Ma’had kami.

  33. Assalamu’alaykum warohmatulloh
    alhamdulillah kami sangat tertarik dengan web antum ini, mohon kiranya kami dikirimi up date dari setiap materi up-load yang ada, syukron jazakumullohu khoiron.

    Waalaikumussalam Warohmatulloh wabarokatuh,
    Alhamdulillah, semoga keberkahan hidup dan keistiqomahan dalam kebenaran beserta keluarga antum, Insyalloh Waiyyakum.

  34. andi berkata

    Assalamualaikum., akhi, ana mau tanya ,, bgmn menrut antum ormas2 yg melakukan demonstrasi dngn dalil menegakkan amal ma’ruf nahi munkar tp caranya agak berlebihan ,sprti FPI cntohnya., dan mreka jg mngaku Ahlussunnah,.

    Dijawab Abu Amin Cepu
    Waalaikumussalam Warohmatulloh
    Bismillah,
    Nabi-Shollallahu alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُمَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

    “Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan keawjiban atas dirinya ”.(HR.Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah 1096)

    Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah dengan cara rahasia, bukan dengan cara terang-terangan, dan bukan pula membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar, pesta-pesta, masjid-masjid, koran-koran, majalah dan lainnya sebagai suatu nasihat, maka ormas – ormas seperti ini melanggar sunnah dan hendaknya mereka kembali kepaada sunnah yaitu menasehati pemerintah dengan cara hikmah dan nasehat yang baik.

    Adapun pengakuan itu tidak mencerminkan hakikat,sebagaimana syair:

    كُلٌّ يَدَّعِي وَصَلاً بِلَيْلَى … وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

    Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…
    Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…

    Wallohu A’lam Bishowab

  35. muslim,lampung.. berkata

    assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
    apa hukum nya aqiqah bayi yang baru lahir?
    apa hukum nya dishalat tasahud awal/akhir menggerak-gerakkan telunjuk ?
    Mohon penjelasan nya dengan dalli-dalil nya,agar antum bisa menjelaskan kepada umat yang awam

    Dijawab Oleh Abu Amina Al Jawiy
    Waalaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh
    Bismillah,

    1.Penyembelihan hewan aqiqah disyariatkan dalam hadits diantaranya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :

    كُلُّ غُلاَمٍ مُرْاَهِنُ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ

    “Semua anak yang lahir tergadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh”. [HR Ibnu Majah, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, 2563]

    العَقِيْقَةُ تُذْبَحُ لِسَبْعٍ أَوْ لأَرْبَعَ عَشَرَةَ أَوْ لإِحْدَ وَ عِشْرِيْنَ

    “Aqiqah disembelih pada hari ketujuh atau empat belas atau dua puluh satu”. [HR Al Baihaqi, dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, 4132].

    مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسَكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَنْسَكْ عَنْهُ، عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ
    “Siapa yang ingin mengadakan nasikah(Nama yang lebih disukai dapi pada penamaan Aqiqah) untuk anaknya maka hendaklah ia lakukan, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor”. Riwayat An-Nasa`i (2/188)

    Ada dua pendapat yang masyur di kalangan para ulama Tentang Nasikah/Aqiqah ini, ada yang mewajibkan dan ada yang menyatakan sunnah. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan hukumnya sunnah.Jadi Aqiqah Hukumnya Sunnah.

    2. Permasalahan menggerak-gerakan jari Telunjuk Ini adalah permasalahan furu’ jadi hendaknya jangan terlalu dipermasalahkan perbedaanya dan hendaknya kaum muslimin menjauhi berbantah-bantahan tanpa ilmu sehingga terkadang ada awam yang saling menjatuhkan dan menimbulkan permusuhan dalam satu masjid masyarakan muslim, Hendaknya kaum muslimin berlapang dada dalam masalah yang dibolehkan berbeda.Dan Kewajiban Muslim mencari dalil yang paling kuat dari permasalahan furu’ tersebut.

    Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat :

    -Pertama : Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.

    -Kedua : Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.

    -Ketiga : Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni’ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan.

    Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis :

    -Pertama : Yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali.

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ إِذَا دَعَا وَلاَ يُحَرِّكُهَا

    “Sesungguhnya Nabi Sholollohualaihi Wassalam beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”.Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no. 989, An-Nasai dalam Al-Mujtaba 3/37 no. 127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du’a no. 638, Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no. 676.

    عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَيُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ وَلاَ يُحَرِّكُهَا وَيَقُوْلُ إِنَّهَا مُذِبَّةُ الشَّيْطَانِ وَيَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عََلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

    “Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah sholollohualaihi wasassalam mengerjakannya”.Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu Hibban.

    -Kedua : Yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan.

    (ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهِِ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا

    “Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran, kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent. ), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”.
    Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dan Lainya

    -Ketiga : Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan/menunjuk dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.

    عن ابن عمر رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم اِذَاَ قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اليُسْرَى عَلىَ رُكْبَتِهِ وَاليُمْنَى عَلىَ اليُمْنىَ, وَعَقَدَ ثَلاَثاً وَخَمْسِيْنَ وَأَشَارَ بِإِصْبِعِهِ السَّباَبَةِ –رواه مسلم

    Dari Ibnu Umar Rodhiallohu anhuma bahwa Rasulullah Sholollohualaihi wassalam jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (HR Muslim).

    Kami lebih memilih pendapat yang ketiga karena landasan hadist yang ketiga adalah hadits-hadits yang tercatat dalam riwayat Imam Al-Bukhory, Imam Muslim dan lain-lainnya Yang tidak diragukan keshahihanya, Wallohu A’lam

  36. jannu berkata

    assalamualaikum..
    ustad, ana pngen berkonsultasi. tp ana malu. karena terlalu privat menurut ana. apa semua pertanyaan yg ustad jawb akan di tampikan lg?? atau mungkin sesuai kesepakatan dgn penanya ?? maaf sebelumnya.
    waalaikumussalam…

    Waalikumussalam Warohmatulloh, Antum bisa kirim email saja ahki.

  37. Abdullah Fisabilillah berkata

    Lantas bagaimana umat islam yang ada di indonesia sekarang ini,bagaimana cara kita mengetahui antara muslimin yang benar-benar menegakkan sunnah dan yang menjauhi bid’ah..

    Dijawab Pengasuh Ma’had Annashihah Cepu
    Bismillah,
    Caranya jujur didalam mencari ilmu tidak fanatik buta dan bersikap adil serta menimba ilmu dari ahlinya,
    Berkata Al-Fudhail Bin ‘Iyadh Rahimahullah :
    وقال الفضيل بن عياض إذا رأيت رجلا من أهل السنة فكأنما رأيت رجلا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وإذا رأيت رجلا من أهل البدع فكأنما رأيت رجلا من المنافقين
    “Bila engkau melihat seorang ahlus sunnah, seakan-akan engkau melihat salah seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bila engkau melihat seorang ahli bid’ah, seakan-akan engkau melihat salah seorang kaum munafik.”

    Dibawah ini beberapa karateristik mereka yang hendaknya dipegang kaum muslimin supaya mengetahui siapa ahlu sunnah sebenarnya:
    1. الفرقة الناجية : هي التي تلتزم منهاج رسول الله صلى الله عليه و سلم في حياته، و منهاج أصحابه من بعده ،

    Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya

    و هو القرآن الكريم الذي أنزله الله على رسوله، و بينه لصحابته في أحاديثه الصحيحة ،

    Yaitu Al-Qur’anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan

    kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih

    و أمر المسلمين بالتمسك بهما

    Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepa-da keduanya:

    فقال : “تركتُ فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي، و لن يتفرقا حتى يردا عليّ الحوض ” (صححه الألباني في الجامع)

    “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat

    apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga).”

    (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

    2. الفرقة الناجية تعود إلى كلام الله و رسوله حين التنازع و الاختلاف عملا بقوله تعالى :

    Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk)kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadiperselisihan dan pertentangan di antara mereka, sebagai realisasi dari firman Allah:

    “فإنْ تنازعتُم في شيء فرُدُّوه إلى الله و الرسول إنْ كنتم تؤمنون بالله و اليوم الآخر ، ذلك خير و أحسن تأويلا” (سورة النساء)

    “Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    “(An-Nisaa’: 59)

    و قال تعالى:” فلا و ربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ، ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت و يثسلّموا تسليما” (سورة النساء)

    “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan

    mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)

    3. الفرقة الناجية لا تُقدم كلام أحد على كلام الله و رسوله،عملا بقواه تعالى :

    Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan se-seorang atas Kalamullah dan RasulNya,realisasi dari firman Allah:

    ”يا أيها الذين آمنوا لا تُقدِّموا بين يدَيِ الله و رسولِه ، و اتقوا الله إن الله سميعٌ عليم ” (سورة الحجرات)

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hu-jurat:1)

    و قال ابن عباس : أراهم سيهلكون ! أقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم ، و يقولون : قال أبو بكر و عمر(رواه أحمد و غيره، و صححه أحمد شاكر)

    “Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Ibnu ‘Abdil Barr)

    4. الفرقة الناجية تعتبر التوحيد ،

    Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid

    و هو إفراد الله بالعبادة كالدعاء و الاستعانة و الاستغاثة وقت الشدة و الرخاء ، و الذبح و النذر ، و التوطل و الحكم بما أنزل الله ، و غير ذلك من أنواع العبادة هو الأساس الذي تبنى عليه الدولة الإسلامية الصحيحة

    Mengesakan Allah dengan beribadah, berdo’a dan memohon per-tolongan –baik dalam masa sulit maupun lapang,menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain

    yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar

    ، و لا بد من إبعاد الشرك و مظاهره الموجودة في أكثر البلاد الاسلامية، لأنه من مقتضيات التوحيد ،

    Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak ditemui dinegara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid

    و لا يمكن النصر لأي جماعة تُهمل التوحيد ، و لا تكافح الشرك بأنواعه، أسوة بالرسل جميعا و برسولنا الكريم صلوات الله و سلامه عليهم أجمعين.

    Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya.

    5. الفرقة الناجية : يحيون سُنن الرسول صلى الله علسه و سلم في عبادتهم و سلوكهم و حياتهم فأصبحوا غرباءبين قومهم ،

    Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya

    كما أخبر عنهم رسول الله صلى الله عليه و سلم بقوله :

    Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shollollohualaihi Wassalam:

    “إن الاسلام بدأ غريبا و سيعود غريبا كما بدأ ، فطوبى للغرباء” (رواه مسلم)

    “Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

    Tambahan : Dalam riwayat lain disebutkan: “Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahih”)

    6. الفرقة الناجية : لا تتعصب إلا لكلام الله و كلام رسوله المعصوم الذي لا ينطق عن الهوى،

    Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang ber-bicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu.

    أما غيره من البشر مهما عَلتْ رتبته ، فقد يخطئ لقوله صلى الله عليه و سلم :

    Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi :

    ” كلّ بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون”

    “Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits hasan riwayat

    Imam Ahmad)

    7. الفرقة الناجية : هم أهل الحديث الذين قال رسول الله صلى الله عليه و سلم فيهم : “لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق ، لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله ” (رواه مسلم)
    Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits.
    Tentang mereka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
    “Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
    Sebagaimana Firman Allhu Jalla Wa’la :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة: 54).
    Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
    و قال الشاعر : أهل الحديث همُ أهل النبيِّ و إنلم يصحبوا نفسه. أنفاسه صَحِبوا
    Seorang penyair berkata, “Ahli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa/Nafas mereka bergaul dengannya.

    8. الفرقة الناجية : تحترم الأئمة المجتهدين ، ولا تتعصب لواحد منهم
    Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.
    ، بل تأخذ الفقه من القرآن و الأحاديث الصحيحة ، و من أقوالهم جميعا إذا وافق الحديث الصحيح ،
    Tapi Golongan Yang Selamat mengambil fiqh (pemahaman hukum-hukum Islam) dari
    Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih serta Mengambil pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih.
    و هذا موافق لكلامهم ، حيث أوصوا أتباعهم أن يأخذوا بالحديث الصحيح ، و يتركوا كل قول يخالفه.
    Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya.

    9. الفرقة الناجية تأمر بالمعروف، و تنهى عن المنكر، فهي تنكر الطُرق المبتدعة و الأحزاب الهدامة التي فرقت الأمة ، و ابتدعت في الدين و ابتعدت عن سنة الرسول صلى الله عليه و سلم و أصحابه .
    Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
    Mereka melarang segala jalan bid’ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah belah umat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam menjauhkan dari sunnah Rasul dan para sahabatnya
    10. الفرقة الناجية تدعو المسلمين أن يكونوا من المتمسكين بسنة الرسول صلى الله عليه و سلم و أصحابه
    Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya.
    حتى يكتب لهم النصر ، و حتى يدخلوا الجنة بفضل الله و شفاعة رسوله صلى الله عليه و سلم (بإذنه عز و جل).
    Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah dengan izin Allah.
    11. الفرقة الناجية : تنكر القوانين الوضعية التي هي من وَضع البشر ، لمخالفتها حكم الإسلام
    Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, Kenapa? karena undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.
    ، و تدعو إلى تحكيم كتاب الله الذي أنزله الله لسعادة البشر في الدنيا و الآخرة
    Golongan Yang Selamat mengajak
    manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.
    ، و هو أعلم سبحانهو تعالى بما يصلح لهم ، و هو ثابت لا تتبدل أحكامه على مدى الأيام ، و لا يتطور حسب الزمان
    Dan Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik/manfaat bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.
    ، و إن سبب شقاء العالم عامة و العالم الإسلامي خاصة و ما يلاقيه من متاعب و ذل و هوان – هو تركه الحكم لكتاب الله و سنة رسوله صلى الله عليه و سلم ،)
    Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, dan mundurnya khususnya dunia Islam dan yang menimpa mereka dari perkara yang mencapekkan seperti kemrosotan umat, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah.
    و لا عِزّ للمسلمين إلا بالرجوع إلى تعاليم الإسلام أفرادا و جماعات، و حكومات، عملا بقوله تعالى:
    “إن الله لا يُغيّرُ ما بقوم حتى يُغيّروا ما بأنفسهم” (سورة الرعد
    Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya:”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’ad: 11)

    12. الفرقة الناجية : تدعو المسلمين جميعا. إلى الجهاد في سبيل الله و هو واجب على كل مسلم . حسب طاقته و استطاعته، و يكون الجهاد بما يلي :
    Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.
    Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan:
    1. الجهاد باللسان و القلم : بدعوة المسلمين و غيرهم إلى التمسك بالإسلام الصحيح
    Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan: Mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih,
    ، و التوحيد الخالي من الشرك الذي انتشر في كثير من البلاد الإسلامية ، و الذي أخبر عنه الرسول صلى الله عليه و سلم بأنه سيقع بين المسلمين فقال :
    Dan Bertauhid yang murni(Kosong) dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Beliau bersabda:

    “لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي
    بالمشركين ، و حتى تعبد قبائل من أمتي الأوثان” (صحيح رواه أبو داود وورد معناه في مسلم)
    “Hari Kiamat belum akan tiba, sehingga Qobilah – Qobilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala.” (Ha-dits shahih , riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)

    2.الجهاد بالمال : و يكون بالإنفاق على نشر الإسلام ، و طبع الكتب الداعية إليه على الوجه الصحيح ، و يكون بتوزيع المال على المؤلفة قلوبهم من ضعفاء المسلمين لتثبيتهم ، و يكون بتصنيع و شراء الأسلحة ، و المعدات للمجاهدين ، و ما يلزمهم من طعام و كساء و غير ذلك .
    Kedua, jihad dengan harta: Menginfakkan harta buat penyebaran dan peluasan ajaran Islam, mencetak Kitab Kitab dakwah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa ma-kanan, pakaian atau keperluan lain selain dari itu.
    3. الجهاد بالنفس : و يكون بالقتال و الاشتراك في الكعارك لنصرة الاسلام ، و لتكون كلمة الله هي العليا ، و كلمة الذين كفروا هي السفلى
    Ketiga , jihad dengan jiwa:Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah ( Laa ilaaha illallah) tetap jaya(tinggi) sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina/rendah.
    و قد أشار الرسول الكريم إلى هذه الأنواع فقال : “جاهدوا المشركين بأموالكم و أنفسكم و ألسنتكم ” (صحيح رواه أبو داود)
    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Yang Mulia mengisyaratkan dalam sabdanya:
    “Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR. Abu Daud, hadits shahih)
    Dalam Masalah Jihad ini ada perincianya silahkan merujuk kesini untuk permasalahan jihad > http://dzulqarnain.net/.

    Dibawah ini kami lampirkan para ustadz yang pengunjung bisa mengambil ilmu pada mereka,sesuai dengan wilayah mukim mereka:

    SUMATERA
    * Al-Ustadz Abal Mundzir Dzul Akmal, Lc
    Alamat : Ma’had Ta’dzhim As-Sunnah, Jalan Raya Pekanbaru Bangkinang Km. 19,5 Rimbo Panjang Kec. Tambang Kampar – Riau.

    * Al-Ustadz Abu Abdirrahman Muhammad Wildan, Lc.
    (Mukim di Batam, Kepri)Alamat : Yayasan Anshorussunnah, d/a Perum. Cendana Blok A-1 Batam Centre Batam (Samping Kelurahan Belian), Batam – Kep. Riau – 29461. Telp. 0778-475376

    * Al-Ustadz Zainul Arifin
    (Mukim di Batam, Kepri)Alamat : Yayasan Anshorussunnah, d/a Perum. Cendana Blok A-1 Batam Centre Batam (Samping Kelurahan Belian), Batam – Kep. Riau

    * Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali Ishmah Al Medani
    (mukim di Medan, Sumut)Alamat : Yayasan Sunniy Salafiy, Jl. Mesjid Raya Al Jihad no. 24 P. Brayan kota Medan 20116 HP 0812 64 02 403

    * Al-Ustadz Adi Abdullah
    (mukim di Lampung)Alamat : Purwosari Link VII Rt 20/8 Purwosari, Metro Utara, Lampung HP: 08154016031

    * Al-Ustadz Bukhori

    (mukim di Palembang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : d/a Zaid Abu Yahya 085273630333
    * Al-Ustadz Zuhair Syarif
    (mukim di Bengkulu)Alamat : d/a Padang Jaya RT3/4 Bengkulu Utara 38657 Telp. (0737)522412

    * Al-Ustadz Abu Ibrohim Muhsin
    Ma’had As-Salafy (Yayasan Al-Mujahadah, Ponpes As-Salafiyah)
    Jl. Panglima Denai, Gang Wakaf depan Jermal V, Medan, Sumut.

    * Al-Ustadz Abdurrahman
    (Alumni Darul Hadits Dammaj)
    Ma’had As-Salafy (Yayasan Al-Mujahadah, Ponpes As-Salafiyah)
    Jl. Panglima Denai, Gang Wakaf depan Jermal V, Medan, Sumut.

    * Al-Ustadz Ali Akbar
    (Alumni Darul Hadits Dammaj)
    Ma’had As-Salafy (Yayasan Al-Mujahadah, Ponpes As-Salafiyah)
    Jl. Panglima Denai, Gang Wakaf depan Jermal V, Medan, Sumut.

    * Al-Ustadz Fadhil Muhammad
    Masjid Massawa, Jl. Tumenggung, Medan, Sumut.

    * Al-Ustadz Abu Hudzaifah
    Kec. Stabat, Kab. Langkat, Sumut.

    * Al-Ustadz Alimuddin Hajar Sittah
    Kec. Stabat, Kab. Langkat, Sumut.

    * Al-Ustadz Abdul Hadi bin Abdurrahman
    Kec. Bahorok, Kab. Langkat, Sumut.

    * Al-Ustadz Adi Abdullah
    Ma’had Ittibaus Salaf
    Jl. Sriti V RT 03/RW. 08 Lk. IV Purwosari,
    Metro Utara, Kota Metro, Lampung

    * Al-Ustadz Muhammad Hidayat
    Ma’had Ittibaus Salaf
    Jl. Sriti V RT 03/RW. 08 Lk. IV Purwosari,
    Metro Utara, Kota Metro, Lampung

    * Al-Ustadz Abdul Aziz
    Ma’had Ittibaus Salaf
    Jl. Sriti V RT 03/RW. 08 Lk. IV Purwosari,
    Metro Utara, Kota Metro, Lampung

    * Al-Ustadz Harits
    Ma’had Ibnu Abbas
    Jl. Lapangan, Kalibening, Talang Padang,
    Tanggamus, Lampung.

    * Al-Ustadz Azzam
    Ma’had Ibnu Abbas
    Jl. Lapangan, Kalibening, Talang Padang,
    Tanggamus, Lampung.

    * Al-Ustadz Yahya
    Perum Way Halim, Bandar Lampung

    JAWA, BALI DAN NUSA TENGGARA
    * Al-Ustadz Luqman Ba’abduh
    (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Jl. MH Tamrin Gg. Kepodang No. 5 Jember (0331) 337440

    * Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed
    (mukim di Cirebon, Jawa Barat) Murid Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, Saudi ArabiaAlamat : Ponpes Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar RT 6, Rt 06/03 Kel. Kecapi, Kec.Harjamukti, Cirebon, Jawa Barat (0231) 222185/200721

    * Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
    Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj,
    Mukim di Tasikmalaya, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Muhammad Abud Bajrie
    (mukim di Purwakarta)Alamat : d/a An Najah Agency, Jln kapten Halim no 40 Pasarebo, Purwakarta, Jawa Barat HP 08129764361

    * Al-Ustadz Abdul Hadi Lahji
    (Posisi terakhir Pengajar Ponpes Ta’dhimus Sunnah, mukim di Ngawi)
    Alamat : PP Ta’dhimus Sunnah, Dusun Grudo RT 01/02 Grudo, Ngawi, Jawa Timur (0351) 748913.

    * Al-Ustadz Abdul Haq
    asal Potorono (Posisi Terakhir Pengajar Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja-Magelang Km. 13 Batikan, Pabelan, Mungkid (0293)782005 HP 0818269293

    * Al-Ustadz Abdul Jabbar
    (Posisi terakhir Staff Pengajar Ponpes Difa’ anis Sunnah Bantul, mukim di Dlingo, Bantul) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : PP. Difa’ anis Sunnah, Bantul Telpon (0274) 7494930

    * Al-Ustadz Abdul Mu’thi al Maidani
    (mukim di Sleman, DI Jogjakarta) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : PP. AL Anshar, Dusun Wonosalam, kel Sukoharjo, Ngemplak, Sleman. Telp. (0274) 897519

    * Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc
    (mukim di Petanahan, Kebumen) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia Pengajar Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Kebumen, Jawa TengahAlamat : d/a Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah Telp (0287) 386154

    * Al-Ustadz Abdurrazaq
    (mukim di Banyumas)Alamat : d/a Abu Husain, Sokaraja Kulon Rt 8/5 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah (0281) 692428

    * Al-Ustadz Abdurahman Mubarak
    (Penerbit Al Atsari, Mubarak Press, sekarang mukim di Dammaj, Yaman)Alamat : Depan pasar Cileungsi, No. 10 Rt 2 RW 10, Kp. Cikalagan, Cileungsi, Bogor 16820

    * Al-Ustadz Abdurrahman asal Wonosari
    Ma’had Al-Manshuroh Kroya Cilacap

    * Al-Ustadz Abu Bakar
    (Posisi Terakhir Pengajar Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, sekarang mukim di Dammaj, Yaman)Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja-Magelang Km. 13 Batikan, Pabelan, Mungkid (0293)782005 HP 0818269293

    * Al-Ustadz Abdus Shomad
    (mukim di Pemalang, Jateng) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : d/a Emy Jamedi, Jl. Dorang 1/83 Perumnas Sugih Waras Pemalang, Jawa Tengah (0284)322771

    * Al-Ustadz Abu Najiyah Muhaimin Nurwahid
    (Penerjemah buku, mukim di Semarang, Jawa Tengah) Islamic Center Al-Barokah Jl. Tegalsari Barat 1/12 Semarang, Telp. 024 – 70252246 – 08569931065

    * Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah
    (Posisi Terakhir Pengajar PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember)Alamat : Jl. MH Tamrin Gg. Kepodang No. 5 Jember (0331) 337440

    * Al-Ustadz Adib
    (mukim di Wonosobo)Alamat : d/a Yusuf, Jl. Bismo 151 Sumberan Utara Rt1/22 Wonosobo, Jawa Tengah

    * Al-Ustadz Ahmad Khodim
    (Penerjemah buku terbitan Cahaya Tauhid Press, mukim di Malang)Alamat : Jl. Lesanpuro No. 31A Malang, Jawa Timur Telp. 0341-710755, HP.0818274197 (0341) 710755, HP 0818274197.

    * Al-Ustadz Ali Basuki, Lc
    (Mukim di Jakarta) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

    * Al-Ustadz Agus Su’aidi
    (Mudir Ma’had Al Bayyinah, mukim di Gresik, Jawa Timur)Alamat : Ma’had Al Bayyinah, Jl. R. Mas Sa’id no 6, Sedagaran, Sedayu, Gresik 61153 Telpon (031) 3940350

    * Al-Ustadz Ahmad Kebumen
    (mukim di Kebumen)Alamat : d/a Abdullah (Kunto Wibisono), Rumah Bp. Rulin, Rt 02/XI Desa Kewarisan, Panjer (dekat pintu KA/belakang cuci mobil), Kebumen. (0287) 382255

    * Al-Ustadz Abu Najm Khotib Muwwahid
    (mukim di Ciamis, Jawa Barat)Alamat : Ponpes An-Nur Al Atsari, Kedung Kendal, Banjarsari Ciamis, Jawa Barat, HP 0815393247.

    * Al-Ustadz Assasudin
    asal Lumajang Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj,

    * Al-Ustadz Budiman
    (mukim di Cilacap)Alamat : d/a Ahmad Budiono, Jl. Urip Sumoharjo No. 202 Cilacap Jawa Tengah (0282) 543624

    * Al-Ustadz Fauzan
    (mukim di Sukoharjo) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Yayasan Darus Salaf, Jl. Raya Solo – Purwodadi, Sukoharjo, Jawa Tengah HP 08156745519kontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357

    * Al-Ustadz Hamzah Badjerei
    (Pengajar Ma’had Darul Atsar) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Jl. Kapten Halim No.144 Gg. Banteng 1, Pasar Rebo Purwakarta, Jawa Barat. Telpon +62.264200584

    * Al-Ustadz Hannan Hoesin Bahannan
    (Owner Penerbit buku-buku Islami Pustaka Ar Rayyan). Pengajar Ma’had Darussalaf, Yayasan Darus Salaf, Sukoharjo, Jawa TengahAlamat : Jl Parang Kusuma 24 A, Sidodadi, Pajang, Solo HP +622715800518, +628155044372

    * Al-Ustadz Hariyadi, Lc
    (Mukim di Surabaya) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia Alamat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl. Jojoran 1 Blok K no. 18 Telp. (031) 5921921

    * Al-Ustadz Idral Harits Abu Muhammad
    (mukim di Sukoharjo) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Yayasan Darus Salaf, Sukoharjo, Jawa Tengahkontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357

    * Al-Ustadz Isnadi
    (mukim di Kendal, Jawa Tengah)No. HP 081325493095

    * Al-Ustadz Ja’far Sholih
    (mukim di Depok) Alamat : d/a Masjid Fatahillah Jl. Fatahillah II Kampung Curug, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kotamadya Depok, Jawa Barat. Ma’had : +62.21 7757586

    * Al-Ustadz Jauhari, Lc
    (mukim di Boyolali) Alamat : d/a Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali.

    * Al-Ustadz Kholid
    (mukim di Petanahan, Kebumen) Pengajar Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Kebumen, Jawa TengahAlamat : d/a Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah Telp (0287) 386154

    * Al-Ustadz Mahmud Barjeb
    (Pengajar Ma’had Darul Atsar) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Jl. Kapten Halim No.144 Gg. Banteng 1, Pasar Rebo Purwakarta. Telpon : +62.264200584

    * Al-Ustadz Mahmud
    (Pengajar Majlis Ta’lim dan Dakwah Assunnah, mukim di Malang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Majlis ta’lim dan dakwah As Sunnah, Jl. S. Supriyadi 5F, Malang, Telpon (0341) 348833, Utsman (081803808567)

    * Al-Ustadz Marwan Irfanuddin
    (mukim di Sukoharjo)Alamat : Yayasan Ittiba’us Sunnah Sukoharjo, Tawang Rt 02 Rw 01 Weru Sukoharjo, Hp. 08179475816/ 081329035280 Jawa Tengahkontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357

    * Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawi
    asal Sedayu, Gresik (Pengajar Ma’had Al Bayyinah, mukim di Gresik, Jawa Timur)Alamat : Ma’had Al Bayyinah, Jl. R. Mas Sa’id no 6, Sedagaran, Sedayu, Gresik 61153 Telpon (031) 3940350

    * Al-Ustadz Muhammad Barmim
    (Owner Penerbit buku-buku Islami Pustaka Ar Rayyan). Pengajar Ma’had Darussalaf, Yayasan Darus Salaf, Sukoharjo, Jawa TengahAlamat : Jl Parang Kusuma 24 A, Sidodadi, Pajang, Solo HP +622715800518, +628155092522Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.kontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357

    * Al-Ustadz Muhammad Ikhsan
    (Pimpinan Ponpes Difa’ anis Sunnah Bantul, sekarang mukim di Yaman)Alamat : PP. Difa’ anis Sunnah, Bantul

    * Al-Ustadz Muhammad Irfan
    (mukim di Surabaya)Alamat : Jl. Pulo Tegalsari 8 no 40 A, Wonokromo telpon (031) 8288817 /HP 08155046204

    * Al-Ustadz Muhammad Sarbini
    (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja Magelang Km. 13 Batikan Mungkid (0293)782005

    * Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari
    Ma’had Imam Asy-Syafi’i, Indramayu, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Nurdin
    asal Magetan – rahimahullah – (Beliau telah wafat dalam sebuah kecelakaan – semoga Allah merahmatinya)

    * Al-Ustadz Nurwahid Abu Isa
    (saudara Ustadz Abu Najiyah Muhaimin) (Mukim di Semarang, Jateng)Alamat : Yayasan Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, Bagian koordinasi ta’lim, Jl Rambutan V/11-A Semarang Telpon : (024) 8440770 Atau Abu Syafiq, Yayasan Islam Al Lu’lu’ wal Marjan Jl. Lamper Tengah Gg. V no. 22A, Telp (024) 70142785; Hp 081575280591

    * Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Lc
    (Posisi Terakhir Editor majalah Asy Syariah, Pengajar PP. Al Atsariyah, mukim di Temanggung) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi ArabiaAlamat : d/a Farhan, Yayasan Atsariyah Kauman Gg. I No. 20, RT1/RW1, Kedu, Temanggung

    * Al-Ustadz Ridwanul Bari
    (mukim di Purbalingga, Jawa Tengah)Alamat : d/a Karang Gedang 6/III, Bukateja, Purbalingga. HP 081542952337

    * Al-Ustadz Rifa’i
    (Pengajar PP Ta’dhimus Sunnah, mukim di Solo)Alamat : PP Ta’dhimus Sunnah, Dusun Grudo RT 01/02 Grudo, Ngawi, Jawa Timur (0351) 748913, HP 0816562158.

    * Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc
    (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

    * Al-Ustadz Suyuthi Abdullah
    Desa Pupus, Kec. Lambeyan, Magetan

    * Al-Ustadz Syaiful Bahri
    Ma’had Al-Manshuroh Kroya Cilacap

    * Al-Ustadz Tsanin Hasanudin
    Ma’had Al-Manshuroh Kroya Cilacap

    * Al-Ustadz Usamah bin Faishal Mahri, Lc
    (Pengajar Majlis Ta’lim dan Dakwah Assunnah, mukim di Malang) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi ArabiaAlamat : Majlis ta’lim dan dakwah As Sunnah, Jl. S. Supriyadi 5F, Malang, Telpon (0341) 348833, Utsman (081803808567)

    * Al-Ustadz Abu Ubaidah Ubaid
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar dan Darul Hadits Dammaj, Yemen)
    Kab. Ponorogo, Jawa Timur.

    * Al-Ustadz Abu Maryam
    Kab. Ponorogo, Jawa Timur.

    * Al-Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Mundzir
    (Mudir Ma’had Adhwaussalaf / Alumni Darul Hadits, Dammaj)
    Bandung, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abu Yasir
    (Alumni Darul Hadits, Dammaj)
    Ma’had Adhwaussalaf, Bandung, Jawa Barat.

    * Al-Ustadz Abu Syakir Syuhada
    (Murid Asy-Syaikh Sulaiman Al-Ghusn)
    Ma’had Adhwaussalaf, Bandung, Jawa Barat.

    * Al-Ustadz Hammad Abu Mua’wiyah
    (Admin http://www.al-atsariyyah.com)
    Ma’had Al-Atsariyyah Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abu Zakariya Rizky
    (Admin http://www.al-atsariyyah.com)
    Ma’had Al-Atsariyyah Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Ali Masa’id
    Ma’had Al-Atsariyyah Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Said bin Ruslan
    Kab. Brebes, Jawa Tengah.

    * Al-Ustadz Musthofa Al-Buthony
    Pengajar di Masjid Ali bin Abu Tholib, Tegal, Jawa Tengah.

    * Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray
    Ma’had An-Nuur Al-Atsary
    Kedung Kendal, Ciamis, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Khotib Muwahhid
    Ma’had An-Nuur Al-Atsary
    Kedung Kendal, Ciamis, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Fauzan bin Abdul Karim
    Ma’had Darussalaf Al-Islamy
    Jl. Permadi RT 09/3 Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jateng 57272

    * Al-Ustadz Abu ‘Amr Yunus
    Ma’had Darussalaf Al-Islamy
    Jl. Permadi RT 09/3 Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jateng 57272

    * Al-Ustadz Muadz
    Ma’had Darussalaf Al-Islamy
    Jl. Permadi RT 09/3 Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jateng 57272

    * Al-Ustadz Abdurrohim
    Ma’had Darussalaf Al-Islamy
    Jl. Permadi RT 09/3 Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jateng 57272

    * Al-Ustadz Ukasyah
    Ma’had Darussalaf Al-Islamy
    Jl. Permadi RT 09/3 Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jateng 57272

    * Al-Ustadz Muhammad Bashiron
    Ma’had Darussalaf Al-Islamy
    Jl. Permadi RT 09/3 Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jateng 57272

    * Al-Ustadz Jauhari, Lc
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Muhammad Na’im, Lc
    … Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Muhammad Bashiron
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Abu Ahmad Rochmad
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Abu Fanny, S.Pd
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Samsuri, S.Pd
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Abu Khansa, SS
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Suwita, SS
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Budi Danar, S.Pd
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali

    * Al-Ustadz Taufan, SH
    Kompleks Pondok Pesantren Al-Madinah
    Jl. Mangu – Nogosari Km 4, Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali
    * Al-Ustadz Sholehuddin
    (Alumni Dammaj) Karawang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Fachruddin
    (Alumni Dammaj) Karawang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abu Rayyan
    (Alumni Muntilan ) Karawang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abu Farhan
    (Alumni Cirebon) Karawang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abdurrohim
    (Alumni Almadinah Grenjeng) Karawang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abul Hasan
    (Alumni Yaman ) Cikarang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abdurrahman
    ( Sekarang Masih Di Yaman) Cikarang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abul Abbas
    ( Sekarang Masih Di Yaman) Cikarang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Ayip Saefuddin, Lc
    (Alumni Al-Azhar Mesir, dan pernah belajar pada
    Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah di Yaman)
    Ma’had Al-Ihsan Sindangkasih, Ciamis, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Saefudin Zuhri, Lc
    Pengisi rubrik Khutbah Jum’at As Syariah

    * Al-Ustadz Afandi
    (di Dammaj terkenal dengan nama Ahmad Thowil)
    Pengajar Rumah Belajar Ibnu Abbas Firdaus Esteat

    * Al-Ustadz Ibnu Sirin (alumni Yaman)
    pengajar Rumah Belajar Ibnu Abbas Firdaus Esteat

    * Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc
    Pengajar Ma’had Ibnu Taimiyah Sumpyuh Banyumas

    * Al-Ustadz Yuswaji, Lc
    Penerjemah buku dan pengajar Pengajar Ma’had Ibnu Taimiyah Sumpyuh Banyumas

    * Al-Ustadz Said Hasan
    Pengajar Ma’had Ibnu Taimiyah Sumpyuh Banyumas

    * Al-Ustadz Muhammad Ridwan, Lc
    Pengajar ma’had Al Manshuroh Purbalingga

    * Al-Ustadz Budiman
    sekarang tinggal di Sampang Cilacap sebagai Mudir Pondok Al Manshuroh Maos Cilacap

    * Al-Ustadz Salman
    (mukim di Denpasar, Bali)Alamat : d/a Miftahul Ulum, Jln Gunung Agung, Lingkungan Padang Udayana no 21 Denpasar (0361) 413969

    * Al-Ustadz Abdurrahman Lombok
    (Murid Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i) Ma’had Al-Imam Asy-Syafi’i
    Lombok, Nusa Tenggara Barat

    * Al-Ustadz ‘Amr bin Suroif Al-Indunisy
    Tangerang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
    Sebelumnya berdomisili di Sorong,Irian Jaya sekarang beliau di Yogyakarta

    * Al-Ustadz Ihsan
    (Alumni Darul Hadits, Dammaj, Yaman)
    Ma’had Difa’ Anissunnah, Bantul, DIY.

    * Al-Ustadz Abdul Jabbar
    (Alumni Darul Hadits, Dammaj, Yaman)
    Berdomisili di Bantul, DIY.

    * Al-Ustadz Abu Muhammad Fadhil
    (Alumni yaman) berdomisili di Cirebon, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Abdullah Kunto
    (Tim Kerohanian Rumah Sakit Siaga Medika Banyumas, Jawa Tengah dan pengisi kajian rutin di Rumah Sakit tersebut ba’da sholat 5 waktu)

    * Al-Ustadz Abu Marwan
    Ma’had Adhwaussalaf, Bandung, Jawa Barat.

    * Al-Ustadz Ahmad Nija’
    Kab. Soreang, Jawa Barat

    * Al-Ustadz Ridwan Abu Qotadah.
    Desa Sampang, Kec. Sempor, Kebumen, Jawa Tengah

    * Al-Ustadz Ridwan, ST
    Lulusan Sihr,Yaman (Murid Syarkh Abdullah Al Mar’i) staff kerohanian Rumah Sakit Siaga Medika,Banyumas,Jawa Tengah.

    * Al-Ustadz Abdul Barr
    Mukim di Jakarta

    * Al-Ustadz Abu Ja’far Khalil Gibran
    Perumahan Kintamani RT 13/RW08 Blok E1 No. 36. Kel. Jejalen Jaya, Kec. Tambun Utara Kota Bekasi 17510

    KALIMANTAN
    * Al-Ustadz Abu Karimah Asykari
    (Posisi Terakhir : Pengajar PP. Ibnul Qayyim, mukim di Balikpapan, Kalimantan Timur) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712

    * Al-Ustadz Abdul Azis As Salafy
    Ma’had Ta’zhimus Sunnah, Jl. Gunung Lingai, Rt. 2, Samarinda., Kaltim

    * Al-Ustadz Abdul Halim
    (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan, Kaltim) Alumni Ponpes Minhajus Sunnah Muntilan, MagelangAlamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712

    * Al-Ustadz Abu Abdillah Al Barobisy
    (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan, Kaltim) Alumni Ponpes Minhajus Sunnah Muntilan, MagelangAlamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712

    * Al-Ustadz Aslam
    (Posisi Terakhir Pengajar Majlis Ta’lim Al ‘Atiq, Banjar Baru)
    Alamat : Komplek Griya Ulin Permai Jl. Nuri no. 12 Landasan Ulin Banjar Baru Banjarmasin, Kalimantan Selatan

    * Al-Ustadz Harits Abdus Salam
    (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan, Kaltim, mukim di Balikpapan)Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712

    * Al-Ustadz Kamaluddin
    (Posisi Terakhir Pengajar Majlis Ta’lim Al ‘Atiq, Banjar Baru, Kalsel)Alamat : Komplek Griya Ulin Permai Jl. Nuri no. 12 Landasan Ulin Banjar Baru Banjarmasin, Kalimantan Selatan

    * Al-Ustadz Muallim Shobari
    (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan Kaltim, mukim di Balikpapan)Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712

    * Al-Ustadz Muhammad Rifa’i
    asal Magetan (Posisi Terakhir Pengajar Majlis Ta’lim Bontang, Kaltim)Alamat : HOP 4 no 89, Komplek PT Badang LNG, Bontang, Kalimantan Timur. (0548) 557150

    * Al-Ustadz Fathul Mubarok
    (Majelis Ta’lim Khairu Ummah)
    Komplek Darul Falah Center.
    Jl. Mangkuraja No. 1A RT. 23 Tenggarong Indonesia 75513

    * Al-Ustadz Yunus Hayya
    (Alumni Darul Hadits, Dammaj)
    Bontang, Kaltim.

    * Al-Ustadz Abu Dzar
    (Murid Al-Ustadz Qomar Suaidi, Temanggung)
    Ma’had Taqribus Sunnah , Pontianak, Kalbar

    * Al-Ustadz Jabir
    (Alumni Darul Hadits Dammaj, Yaman)
    Ma’had Manarus Sunnah Pontianak, Kalbar

    * Al-Ustadz Abu Juhaifa Al-Maidani
    Sangatta dan Bengalon, Kutai Timur, Kaltim

    * Al-Ustadz Ali Abu Ahmad
    Samarinda, Kaltim

    * Al-Ustadz Abu Yasir Ridwan
    L 2 Teluk Dalam, Tenggarong Sebrang, Kaltim

    * Al-Ustadz Yahya al-Barowy
    (Alumni Ma’had As-Sunnah,Makassar)
    Mengajar dan muqim di Berau, Kal-Tim.

    * Al-Ustadz Isma’il
    (Alumni Ma’had Ibnul Qoyyim Balikpapan)
    Mengajar dan muqim di Tarakan. Kaltim bagian utara.

    SULAWESI
    * Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
    (mukim di Makassar, Sulsel)Alamat : Mahad As-Sunnah, Jl. Baji Rupa no. 06, Makassar, Sulawesi Selatan 90224. Telpon : +6281524642464, +624115015211.

    * Al-Ustadz Khidir bin Muhammad Sunusi
    (Mudir Ma’had Tahfidzul Qur’an, Parapa, Kab. Takalar)
    Kompleks Ma’had As-Sunnah, Makassar.

    * Al-Ustadz Abdurrahim
    (mukim di Pangkep)Alamat : Jl. Wirakarya No.1-5 Minasate’ne, Pangkep, Sulsel (0410) 323855

    * Al-Ustadz Azhari Asri
    (mukim di Pangkep, Sulsel) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Jl. Wirakarya No.1-5 Minasate’ne, Pangkep, Sulsel (0410) 323855

    * Al-Ustadz Muhammad
    (Mukim di Pangkep)Alamat : Jl. Wirakarya No.1-5 Minasate’ne, Pangkep, Sulsel (0410) 323855

    * Al-Ustadz Chalil
    (Mukim Buton, Sultra)Alamat : Jl. MH. Thamrin no. 72 Kel. Batara Guru Kec. Wolio, Buton, Telp. (0402)22452d/a Abdul Jalil, Yayasan Minhaj Al Firqotun Najiyah , Jl. Betoambari lrg. Pendidikan No. 155c, Bau-Bau, Sultra (0402) 24106 HP. 081 643163668

    * Al-Ustadz Adnan
    (Mukim di Manado, Sulut)Alamat : Menado, Sulawesi Utara. HP 08152309777

    * Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc
    (Alumni Jami’ah Islamiyah, Madinah, Mudir Ma’had Tanwirussunnah)
    Panciro, Kab. Gowa, Sulsel

    * Al-Ustadz Mustamin bin Musaruddin
    (Pengajar di Ma’had As-Sunnah)Alamat : Mahad As-Sunnah, Jl. Baji Rupa no. 06, Makassar, Sulawesi Selatan 90224.

    * Al-Ustadz Shobaruddin
    Perum Ikhwah Salafy, Ma’had Putri As-Sunnah. Panciro, Gowa.

    * Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc
    Kompleks Ma’had Tanwirussunnah
    Panciro, Kab. Gowa, Sulsel

    * Al-Ustadz Sanusi Daris
    Perum Ikhwah Salafy, Ma’had Putri As-Sunnah. Panciro, Gowa.

    * Al-Ustadz Nashr bin Abdul Karim. Lc
    Perum Ikhwah Salafy, Ma’had Putri As-Sunnah. Panciro, Gowa.

    * Al-Ustadz Ali Kendari
    Perum Ikhwah Salafy, Ma’had Putri As-Sunnah. Panciro, Gowa.

    * Al-Ustadz Aliyaddin
    Perum Ikhwah Salafy, Ma’had Putri As-Sunnah. Panciro, Gowa.

    * Al-Ustadz Amrulloh
    Perum Ikhwah Salafy, Ma’had Putri As-Sunnah. Panciro, Gowa.

    * Al-Ustadz Ibnu Yunus
    (Mudir Ma’had Al-Ihsan)
    Kab. Gowa, Sulsel.

    * Al-Ustadz Nashrul Haq
    Ma’had Al-Ihsan
    Kab. Gowa, Sulsel.

    * Al-Ustadz Hasan Rosyid, Lc
    (Mudir Ma’had Minhajussunnah)
    Kendari, Sultra.

    * Al-Ustadz Arif bin Abdurrazzaq
    (Alumni Darul Hadits Syihr, Yaman)
    Berdomisili di Sidrap dan Makassar

    * Al-Ustadz Abu Muhammad Fauzan Al-Kutawy
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar) Kompleks Ma’had Tahfidzul Qur’an “As-Sunnah” Jl. A. Pannyiwi Dusun II Labempa Desa Kanie Kec. Maritengngae, Kab. Sidrap, Sulsel 91600

    * Al-Ustadz Rahmat Hidayat
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar dan Murid Asy-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad) Kompleks Ma’had Tahfidzul Qur’an “As-Sunnah” Jl. A. Pannyiwi Dusun II Labempa Desa Kanie Kec. Maritengngae, Kab. Sidrap, Sulsel 91600

    * Al-Ustadz Hudzaifah Abu Khodijah
    (asal palembang) Domisili terakhir di Kab. Sidrap, Sulsel.

    * Al-Ustadz Ahmad bin Abdul Hafid Al-Bugisy
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar) Jl. Gabus (Seb. Barat Masjid Al-Mujahidin)
    Pinrang, Kab. Pinrang, Sulsel.

    * Al-Ustadz Sanusi Al-Bugisy
    Kab. Pinrang, Sulsel.

    * Al-Ustadz Musaddad Al-Kutawy
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar) Kab. Polman, Sulbar.

    * Al-Ustadz Abdul Malik Al-Buthony
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar) Kab. Bone, Sulsel.

    * Al-Ustadz Thoriq
    (Alumni Ma’had Ibnul Qoyyim, Balikpapan) Kota Sengkang, Kab. Wajo. Sulsel

    * Al-Ustadz Rismal
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar) Sorowako, Kab. Luwu Timur, Sulsel

    * Al-Ustadz Abu Fuad Saiful
    (Alumni Ma’had As-Salafy Jember)
    Gorontalo

    * Al-Ustadz Abu Umar
    (Alumni Darul Hadits Yaman)
    Poso, Sulawesi Tengah

    * Al-Ustadz Hariadi
    (asal Madura) Kotaraya, Kab. Parigi Moutong, Sulteng

    * Al-Ustadz Rahmat
    Mudir Ma’had Ibnu Abbas)
    Komp. Ma’had Ibnu Abbas Desa Salassae, Kab. Bulukumba

    * Al-Ustadz Romli
    Alumni Darul Feyush Yaman)
    Komp. Ma’had Ibnu Abbas Ds. Salassae, Kab. Bulukumba.

    * Al-Ustadz Abul Alyah Salman Mahmud
    (Alumni ma’had as-sunnah makassar & alumni darul hadits dammaj yaman)
    Kab. Mamuju, Sul-bar.

    * Al-Ustadz Abu Rumaisho’
    (Mukim di Kendari)Alamat : d/a Abdul Alim, Jl.Pembangunan No.12, Kel. Sanwa, Kendari (0401)32856825.

    * Al-Ustadz Lutfi Abbas
    (Alumni Darul Hadits Dammaj, Yaman)
    d.a. Kompleks Masjid Imam Muslim
    (Tahfidzhul Qur’an Hikmatussunnah) Palu, Sulteng

    * Al-Ustadz Abu Muhammad Asrul Sani
    d.a. Kompleks Masjid Imam Muslim
    (Tahfidzhul Qur’an Hikmatussunnah) Palu, Sulteng

    * Al-Ustadz Abdulloh
    (Alumni Darul Hadits Dammaj, Yaman)
    Kota Palu, Sulteng

    * Al-Ustadz Luqman Ali
    (Alumni Ma’had As-Sunnah,Makassar)
    Ma’had Tahfidz al-Qur’an As-Sunnah Parappa’, Takalar.

    * Al-Ustadz Yusuf
    (Alumni Ma’had As-Sunnah,Makassar)
    Ma’had Tahfidz al-Qur’an As-Sunnah Parappa’, Takalar.

    * Al-Ustadz Fakhruddin
    (Alumni Ma’had Umar bin Khattab, Lamongan)
    Ma’had Tahfidz al-Qur’an As-Sunnah Parappa’, Takalar.

    MALUKU DAN PAPUA
    * Al-Ustadz Abdussalam
    (mukim di Ambon, Maluku)Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780

    * Al-Ustadz Banani
    (mukim di Jambi)Alamat : d/a Suprayogi, BTN Karya Indah Blok I No. 2 Rt 42/15 Simpang 4, Sipin, Telenai Pura, Jambi (0741) 65956Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780

    * Al-Ustadz Saifullah
    (mukim di Ambon, Maluku)Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780

    * Al-Ustadz Shodiqun
    (mukim di Ambon, Maluku)Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780

    * Al-Ustadz Yasiruddin
    (mukim di Ambon, Maluku) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman.Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780

    * Al-Ustadz Ismail
    (Alumni Darul Hadits Yaman)
    Ambon, Maluku.

    * Al-Ustadz Tasyrif Al-Buthony
    Ambon, Maluku

    * Al-Ustadz Abdurrahman Riau
    (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar)
    Kota Jayapura, Papua.

    * Al-Ustadz Abdulloh al-Barowy
    (Alumni Ma’had As-Sunnah dan Tanwirus Sunnah Gowa)
    Mengajar dan muqim di Timika.

    * Al-Ustadz Thamrin Al-Bugisy
    (AlumniMa’had As-Sunnah,Makassar)
    Merauke,Papua.

  38. abdullahsatar berkata

    asalamualaikum wrwb,
    bisa jadi ana dulu seorang kahin, tetapi ana berdoa untuk mendapatkan keluasan ilmu, lalu ana dipertemukan Allah swt dg org2 yg lurus, dan entah dr mana, ana menemukan kitab tauhid syeh muhamad bin abdul wahab dikamar umi yg putri seorang kyai nu. semua dalil antum seakan2 ana sd mengenali dan insyaallah ana tegakkan, bahkan sebelum ana meneliti artikel antum. sekarang dg ilmu dr antum, ana semakin mantap memerangi syirik, khurofat dan bid’ah. barokalloh buat antum dan seluruh shohibi. jazakumulloh khoir

    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Walhamdulillah, Alloh Anugerahkan hidayah untuk antum, orang dahulunya menyimpang kemudian kembali kepada jalan yang lurus biasanya lebih semangat dari orang yang biasa biasa saja, Mudah mudahan antum termasuk yang semangat diatas ilmu dan amal.

    إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

    Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.Alhajj 38

  39. Abu Sali berkata

    assalamualaikum,apa saja persyaratan masuk MAHAD?,soalnya anak ana sekarang masih duduk di kelas 3 SDN .Dengan
    keterbatasan terpaksa anak ana sekolah di lingkungan yang kurang
    mendukung.anak ana sudah punya hapalan 1juz.apa betul dìsini gratis.sukron

    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Coba Abu Sali hubungi pengurus ma’had annashihah cepu dikolom kontak person ada no hpnya, na’am insyalloh gratis.

  40. dr.Deden berkata

    Assalamu alaikum Wr.Wb.

    Ustadz, sy mau menanyakan bgmn hukum mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain? Apakah diharamkan? Apakah ada larangannya (Qur’an ato hadits)?

    Jawab : Pengasuh Ma’had Annashihah Cepu :
    Bismillah,
    Bapak Deden Yang Budiman, mengucapkan hari raya kepada mereka kaum non muslim berarti mengakui apa yang telah mereka rayakan, semisal perayaan natal, padahal telah kita ketahui nabi ISA alaisalam tidak dilahirkan pada hari tersebut dan Nabi ISA alaisalam adalah Rosul Bukan Yesus sebagaimana mereka yakini, Allah ta’ala berfirman :

    وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
    “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” [Al-Ma`idah : 2]

    Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.

    Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia Telah Berfatwa Sebagaimana yang antum tanyakan :

    سماحة الإمام الوالد عبد العزيز بن عبد الله بن باز : لا يجوز للمسلم ولا للمسلمة مشاركة النصارى ، أو اليهود ، أو غيرهم من الكفرة في أعيادهم ، بل يجب ترك ذلك ؛ لأن من تشبه بقوم فهو منهم ، والرسول – صلى الله عليه وسلم – حذرنا من مشابهتهم والتخلق بأخلاقهم ، فعلى المؤمن وعلى المؤمنة الحذر من ذلك ، وأن لا يساعد في إقامة هذه الأعياد بأي شيء ؛ لأنها أعياد مخالفة لشرع الله ، ويقيمها أعداء الله ؛ فلا يجوز الاشتراك فيها ، ولا التعاون مع أهلها ، ولا مساعدتهم بأي شيء ، لا بالشاي ، ولا بالقهوة ، ولا بأي شيء من الأمور كالأواني ، ونحوها . وأيضًا يقول الله سبحانه : ﴿ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ﴾ . [ المائدة : 2 ] .

    فالمشاركة مع الكفرة في أعيادهم نوع من التعاون على الإثم والعدوان ، فالواجب على كل مسلم وعلى كل مسلمة ترك ذلك .

    ولا ينبغي للعاقل أن يغتر بالناس في أفعالهم ، الواجب أن ينظر في الشرع إلى الإسلام وما جاء به ، وأن يمتثل أمر الله ورسوله ن وأن لا ينظر إلى أمور الناس فإن أكثر الخلق لا يبالي بما شرع الله ، كما قال الله – عز وجل في كتابه العظيم – : ﴿ وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللهِ ﴾ . [ الأنعام : 116 ] . وقال سبحانه : ﴿ وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴾ . [ يوسف : 103 ] .

    فالعوائد المخالفة للشرع لا يجوز الأخذ بها وإن فعلها الناس ، والمؤمن يزن أفعاله وأقواله ، ويزن أفعال الناس وأقوال الناس بالكتاب والسنة . بكتاب الله وسنة رسوله – عليه الصلاة والسلام – فما وافقهما أو أحدهما فهو المقبول ، وإن تركه الناس ، وما خالفهما أو أحدهما فهو المردود وإن فعله الناس .

    Samahatul Imam Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

    Tidak boleh bagi muslim dan muslimah untuk ikut serta dengan kaum Nashara, Yahudi, atau kaum kafir lainnya dalam acara perayaan-perayaan mereka. Bahkan wajib meninggalkannya. Karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari sikap menyerupai mereka atau berakhlaq dengan akhlaq mereka. Maka wajib atas setiap mukmin dan mukminah untuk waspada dari hal tersebut, dan tidak boleh membantu untuk merayakan perayaan-perayaan orang-orang kafir tersebut dengan sesuatu apapun, karena itu merupakan perayaan yang menyelisihi syari’at Allah dan dirayakan oleh para musuh Allah. Maka tidak boleh turut serta dalam acara perayaan tersebut, tidak boleh bekerja sama dengan orang-orang yang merayakannya, dan tidak boleh membantunya dengan sesuatu apapun, baik teh, kopi, atau perkara lainnya seperti alat-alat atau yang semisalnya.

    Allah juga berfirman :

    وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
    “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” [Al-Ma`idah : 2]

    Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.

    Tidak selayaknya bagi seorang yang berakal jernih untuk tertipu dengan perbuatan-perbuatan orang lain. Yang wajib atasnya adalah melihat kepada syari’at dan aturan yang dibawa oleh Islam, merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sebaliknya tidak menimbangnya dengan aturan manusia, karena kebanyakan manusia tidak mempedulikan syari’at Allah. Sebagaimana firman Allah :

    وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللهِ

    “Kalau engkau mentaati mayoritas orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” [Al-An’am : 116]

    Allah juga berfirman :

    ﴿ وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴾

    “Kebanyakan manusia tidaklah beriman walaupun engkau sangat bersemangat (untuk menyampaikan penjelasan).” [Yusuf : 103]

    Maka segala perayaan yang bertentangan dengan syari’at Allah tidak boleh dirayakan meskipun banyak manusia yang merayakannya. Seorang mukmin menimbang segala ucapan dan perbuatannya, juga menimbang segala perbuatan dan ucapan manusia, dengan timbangan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Segala yang sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah atau salah satu dari keduanya, maka diterima meskipun ditinggakan manusia. Sebaliknya, segala yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah atau salah satunya, maka ditolak meskipun dilakukan oleh manusia.

    [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah rahimahullahI/405]

    Wallohu A’lam Bishowab

  41. Tri pangripto berkata

    Barokallahufikum
    ana abu yaasir ,alhamdulilah
    jazakallahkhair utk semua pengurus mahad annasihah cepu al ustad abu abdillah marjan
    alhamdulilah anak ana sekarang sudah jadi santri di mahad tsb, yaasir dan yusuf belajar yang sungguh sungguh ,ikhlas karna A
    llah subhanauwataala ,

    Dijawab Abu Amina Aljawiy :
    Wafikum Barokallohu Ya Aba Yasir Di Riau, Alhamdulillah Adik Yasir telah menyelesaikan pelajaran hafalan 3 Juz dengan Tajwid pada usia belia dan murojaah beberapa juz dengan suara yang baik, Semoga Menjadi Sebab Amalan Lestari bagi antum dan Semoga Alloh Mudahkan Banyak orang tua yang lainya termotivasi untuk menjadikan anak-anaknya penghafal Alquran dan memiliki suara yang bagus Serta memiliki aqidah yang lurus Rosul Bersabda :

    لاَحَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآناء النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ
    ‘Tidak boleh Hasad kecuali dalam dua hal: pertama, orang yang diberikan Allah Ta’ala al-Qur`an, maka dia melaksanakannya (membaca,Menghafal dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan seorang yang diberi oleh Allah ta’ala kekayaan harta, maka ia infaqkan sepanjang hari dan malam.(Muttafaqun alaih)

    .Insyalloh Biaunihi Semoga Kita termasuk dari kedua kelompok yang demikian itu.

  42. hapiz berkata

    Assalamualikum wr wb ustadz ana mau bertanya sebenarnya bid’ah itu ada yg hasanah apa dolalah saja?

    Dijawab Abu Amina Aljawiy:
    Bismillah,
    Waalaikumusalam Warohmatullloh,

    1.Kalau yang dimaksudkan Bid’ah hasanah itu adalah membuat Tata cara dan menetapkan peribadatan yang baru maka semua ini adalah bid’ah yang Dholalah (Menyimpang) Sebagaimana Sabdanya:

    و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)

    Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. (Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, Sedang setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).”HR. Nasa’i dan At-Tirmi-dzi, ia berkata hadits hasan shahih).

    2.Kalau yang dimaksudkan Bid’ah hasanah itu adalah melakukan perbuatan yang baru dijalankan di masa kini dan sudah dicontohkan Rosul Sholollohualaihi Wassslaam maka ini adalah bid’ah Hasanah (Secara Bahasa) artinya amalan tersebut sudah dicontohkan Rosul Sholollohualaihi Wassalam DAHULU tapi pada masa SEKARANG belum dikerjakan, SEMAKIN GAMBLANG sebagaimana perkataan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallohuanhu ,“Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” PADAHAL TARAWIH BERJAMAAH SUDAH DISUNNAHKAN/DIKERJAKAN ROSUL DAHULU: Perhatikan kisah dibawah ini:

    عَنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْهم لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ. فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ. قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنِ الَّتِي يَقُومُونَ. يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ.
    Dari ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Qari, dia berkata: Pada satu malam di bulan Ramadan aku keluar bersama dengan ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anh ke masjid. Di dapati orang ramai sholat terpisah, . Ada yang sholat sendirian, ada pula yang sholat dan sekumpulan (datang) mengikutinya. ‘Umar berkata: “Jika aku kumpulkan mereka pada seorang imam adalah lebih baik.” Kemudian beliau melaksanakannya maka dikumpulkanlah mereka dengan (diimami oleh) Ubai bin Ka‘ab. Kemudian aku keluar pada malam yang lain, orang ramai mengerjakan sholat dengan imam mereka (Ubai bin Ka‘ab). Berkata ‘Umar: “Sebaik-baik bid‘ah adalah perkara ini, sedangkan yang mereka tidur (solat pada akhir malam) lebih dari apa yang mereka bangun (awal malam) (lihat Shahih al-Bukhari – hadith no: 2010 (Kitab Solat Tarawih, Bab keutamaan orang yang beribadah pada malam Ramadhan) dan al-Muwattha’ (الموطأ) al-Imam Malik – hadith no: 231 (Kitab seruan kepada sholat, Bab apa yang berkenaan solat pada malam Ramadhan)) .

    Maka dari sini bisa kita simpulkan TIDAK ADA BID’AH HASANAH, Karena Rosul Sholollohualaihi Wassalam Bersabda :

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلاَةٌ
    “Semua bid’ah itu adalah sesat.”
    dan Rosul Sholollohualahi Wassalam tidak mungkin menyelisihi sabdaNya sendiri sebagaimana diatas. Walaupun Sahabat Umar Mengatakan Bi’dah Hasanah Maka Kita kaum muslimin mempunyai satu pedoman; kita tidak boleh mempertentangkan sabda Rasulullah dengan pendapat siapa pun juga (selain beliau). Tidak dibenarkan kita membenturkan sabda beliau dengan ucapan Abu Bakr, meskipun dia adalah orang terbaik di umat ini sesudah Nabi Muhammad Sholollohualaihi Wassalam, atau dengan perkataan ‘Umar bin al-Khaththab , ataupun yang lainnya. Karena Alloh Berfirman Allah :
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ
    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1) Perhatikan Asbabul Nuzul Ayat ini dalam tafsir ibnu katsir asyafi’i yaitu kisah Abu Bakar dan Umar Rodhiallohu anhuma yang mendahului Rosululloh ketika pemilihan ketua kabilah bani tamim..

    Wallohu A’lam Bishowab.

  43. Anonymous berkata

    assalamualaikum warahmatullah

    uztadz…saya mau bertanya…apakah benar wanita keturunan (arab)…dilarang menikah dgn laki.laki yg bukan kturunan yg sama?

    Waalaikumussalam Warohmatulloh, Ahkuna Fillah.
    Sepengetahuan kami tidak ada larangan dalam agama Islam, bahkan ada sebagian saudara saudara kami menikah dengan keturunan arob, ketika mereka belajar di arob atau diyaman yang sebagian juga keturunan arob.Wallohu A’lam

  44. Mouda berkata

    Menurut saya NU merupakan Ormas yang mengusung ajaran ahlussunnah wa al Jama’ah…. jika ente pernah Menimba Ilmu di Lembaga NU, saya rasa ente paham, NU bukan hanya organisasi keagamaan,tapi juga organisasi sosial (kemasyarakatan).
    Dari aspek NU sebagai organisasi keagamaan,Ahlussunnah wa al jama’ah Merupakan Faham yang dijadikan Ideologi keagamaan. Lalu yang ente sebut tentang tahlilan, atau bancakan 3 Hari, 7hari, Atau 100 hari atau Mitoni yang sedang hamil 7 bulanan atau membawa biji bijian yang dikalungkan Atau Hari Ulang Tahun Nabi atau mungkin membuat partai dan kelompok; itu erat kaitannya dengan NU sebagai organisasi sosial (kemasyarakatan). NU merupakan Organisasi yang sangat dekat dengan rakyat Indonesia,dalam berdakwah NU sangat toleran terhadap budaya – budaya setempat. Ngga semua warga NU menjalankan ritual2 yang ente maksud tadi, lain tempat, lain pula budaya nya. Dan NU tidak mewajibkan kepada warganya apa yang ente sebutkan di atas. Bahkan NU juga tidak mewajibkan warganya untuk mengikuti budaya tersbut.

    Dijawab Abu Amina Aljawiy
    Bismillah,
    Pada pendirian awalnya NU memang mengusung ajaran ahlu sunnah waljamaah dan pada ahkir sekarang ini antum bisa menilai sendiri bagaimanakah NU, dan mau dikemanakan NU oleh KETUANYA Yang PRO-SYIAH itu apakah NU mau dicampur adukan dengan ajaran SYIAH? antum bisa bertanya kepada KETUA NU tersebut, Dahulu ana berlepas diri dari NU karena diantaranya adanya pertanggungan jawab yang berat jika menyetujui perbuatan orang-orang semacam yang berfaham SYIAH dan yang meremehkan agama dengan bermudah mudah membuat ritual-ritual baru ditubuh NU, ana meyakini ada sebagaian orang yang masih berpegang dengan ajaran ahlu sunnah waljamaah ditubuh NU secara (tidak langsung), akan tetapi sebagian besar mereka melakukan ritual-ritual tersebut diatas yang bukan merupakan ajaran ahlu sunnah, Dan ini kenyataan yang harus antum hadapai dan perbaiki, ini membuktikan kalau ahlu sunnah jika di ikat dengan ormas kemasyarakatan maka ahlu sunnah akan menjadi sempit cakupanya, Serta menjadi kabur makna ahlu sunnah tersebut, sehingga tak jarang dalam pandangan orang awam dan ormas ormas tersebut hanya mereka saja yang ahlu sunnah,sehingga menimbulkan sikap fanatik buta dan tidak ilmiah dalam beramal.

    Maka jika antum tidak merasa melakukan ritual-ritual Agama Hindu tersebut dan tidak menyelisihi Ulama salafu shalih maka semoga antum termasuk Ahlu Sunnah Biaunihi ta’ala sebagaimana perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud Siapa Ahlu Sunnah:

    الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك

    “Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.

    Tapi jika antum masih menyetujui apa yang dikatakan Ketua NU selalu benar (Taqlid Buta Pada Pak Kyai) dan menyetujui semua sepak terjangnya tanpa menimbang dengan ilmiah, maka ana mendoakan semoga antum mendapatkan hidayah kebenaran.

    Catatan : Sepengetahuan kami dahulu Ketua NU Sekarang ini 2012 adalah murid para ulama Ahlu Sunnah, Tapi Kami tidak mengetahui madu dari syi’ah apa yang diterimanya sehingga lisanya jahat mencerca Ulama-ulama Ahlu Sunnah Madinah dan Makah dan condong akrab dengan Negara Syi’ah. Padahal pendiri Pertama NU dan Muhammadiyah adalah murid-murid Ulama Saudi, Wahai saudaraku semua berfikirlah ilmiah dan jangan taklid buta.

    Sebagai tambahan buat antum semua dengarkan bantahan saudara kami Al Ustadz Sofyan Chalid dalam menaggapi ucapan KETUA NU tersebut :

    Download rekaman Bedah Buku Salafy Antara Tuduhan dan Kenyataan bantahan terhadap buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi di Ma’had An-Nur Al-Atsary, Ciamis.
    Pemateri: Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray: Penulis Buku: SALAFI, ANTARA TUDUHAN & KENYATAAN (Bantahan terhadap buku: “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”: Karya “Syaikh Idahram” )
    Beliau Juga (Al-Ustadz Sofyan hafizhahullaah) adalah: Murid dari Asy Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad: Ahli Hadits Kota Madinah – Saudi Arabia.
    Rekaman ini merupakan bedah buku yang pertama sebelum bedah buku yang dilaksanakan di Masjid Tijanul Anwar, Jalan Suryakencana 31 Kota Sukabumi pada hari Ahad tanggal 4 Maret 2012 yang lalu.

    Pada Link Dibawah ini:

    http://abuamincepu.wordpress.com/2012/04/01/download-rekaman-mp3-beadh-buku-salafy-antara-tuduhan-dan-kenyataan-kajian-ini-bermanfaat-bagi-saudaraku-yang-mau-bersikap-ilmiah-bukan-sekedar-menjadi-muslim-yang-hanya-ikut-ikutan/

    Allohu A’lam Bishowab

  45. Ana Adam berkata

    Ass wr wb. Mohon pencerahannya Ustadz. Bahasan di blog ini sangat bermanfaat. Hanya saja ada yg ingin saya tanyakan. Selama ini yg saya lihat2 di TV (media yg kebanyakan orang bisa akses), rata2 ustadz dan ustadzah koq lebih banyak yg sefaham dengan ajaran NU. Belum pernah saya melihat ada Ustadz dari faham Ahlus sunnah wal jamaah. Kalau memang ini suatu kebenaran kenapa Ustadz2 ahlus sunnah wal jamaah tidak syiar islam lewat TV. Agar banyak orang yg seperti saya ini bisa memperoleh ilmu yang benar. Kalau memang sdh ada, mohon ditunjukkan siapa saja Ustadz yg di TV yg alirannya ahlus sunnah wal jamaah.

    syukron.

    Dijawab Abu Amina Aljawiy :
    Bismillah
    Waalaikumussalam Warohmatulloh, Kenapa para asatidz Salafy ahlu sunnah tidak mendakwahkan islam lewat TV komersial yang ada di indonesia ada beberapa alasan diantaranya :

    1.Karena Kezuhudan dan Kewara’anya sehingga menjauh dari ketenaran, sebagaimana para salafu shalih melakukanya perhatikan kisah ini : Dari Al-Hasan, salah seorang murid Ibnul Mubarak, katanya: “Pada suatu hari aku bepergian bersama Ibnul Mubarak. Lalu kami mendatangi tempat air minum di mana manusia berkerumun untuk mengambil airnya. Ibnul Mubarak mendekat untuk minum. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya sehingga mereka mendesak dan menyingkirkannya. Ketika telah keluar, berkatalah ia kepadaku, ‘Inilah kehidupan, yaitu kita tidak dikenal dan tidak dihormati. ’ Ketika di Kufah, kitab manasik dibacakan kepadanya, hingga sampai pada hadits dan terdapat ucapan Abdullah bin Al-Mubarak (Ibnul Mubarak, red) dan kami mengambilnya. Ia berkata, ‘Siapa yang menulis ucapanku ini?’ Aku katakan, ‘Penulis.’ Maka ia mengerik tulisan itu dengan jari tangannya hingga terhapus, kemudian berkata, ’Siapakah aku hingga ditulis ucapannya?’.” (Shifatush Shafwah, 5/135)

    2.Menghindari dakwah campur aduk antara yang haq dan batil, karena Rob kita berfirman:
    وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
    Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui, QS.Albaqoroh ayat 42

    Antum bisa memperhatikan banyaknya: campur aduk laki laki perempuan, bahkan ada aurot perempuan terbuka atau berjabat tangan dengan perempuan, dan sejenisnya, maka antum bisa memeprhatikan mana mungkin para penganut manhaj salafy melakukan ini, melainkan hanya orang-orang yang menginginkan dunia saja,dan memang TV itu dibangun diatas bisnis maka secara umum didalamnya semua bisnis dunia.

    3.Berkenaan hukum gambar baik video, sebagian ulama berpendapat harom dan sebagian membolehkan jika diatas kemaslahan, sebagaimana sabdanya :

    Dari ‘Aisyah رضي الله عنها:
    دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ قِرَامٌ فِيهِ صُوَرٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ وَقَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ
    “Rasulullah صلى الله عليه وسلمmasuk kepadaku dan dalam rumah terdapat sebuah kain tipis, padanya gambar (makhluk bernyawa).Maka berubahlah rona wajah Rasulullah صلى الله عليه وسلم (ketika melihat gambar tersebut) kemudian beliau meraih kain itu dan merobeknya. ‘Aisyah berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya diantara orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat gambar seperti ini.” (HR. Bukhari)

    Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَأَى الصُّوَرَ فِي الْبَيْتِ لَمْ يَدْخُلْ حَتَّى أَمَرَ بِهَا فَمُحِيَتْ وَرَأَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَام بِأَيْدِيهِمَا الْأَزْلَامُ فَقَالَ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ وَاللَّهِ إِنْ اسْتَقْسَمَا بِالْأَزْلَامِ قَطُّ
    “Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلمketika melihat beberapa gambar dalam sebuah rumah beliau enggan masuk, sampai beliau memerintahkan gambar tersebut dihapus. Dan Beliau صلى الله عليه وسلم berkata tatkala melihat gambar Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلامmemegang Azlam (alat untuk mengundi nasib): “Semoga Allah membinasakan mereka (yang membuat gambar kedua nabi ini). Demi Allah tidaklah Ibrahim dan Ismail pernah sekalipun menggunakan alat ini.” (HR. Bukhari)

    4.Kemungkinan terbesar karena TV komersil bertujuan mendapatkan perhatian para pemirsa sebanyak-banyak nya maka, yang ditampilkan ustadz ustadz yang plin plan kalau kata pepatah ” yang penting bapak senang” atau “asal kebanyakan pemirsa senang” dan kita memahami agama ini bukan hanya untuk menyenangkan manusia saja tapi apakah kesenangan tadi berada diatas alhaq apa tidak?, PLIN PLAN INI ADALAH PILIHAN PAHIT BAGI SANG USTDAZ YANG CERAMAH DI TV yaitu kalau dia jujur besok pasti tidak dipakai lagi dan kantongpun kempis ahkirnya mereka seperti bunglon yang berubah ubah warna.Semoga Alloh Ta’ala memeberi hidayah kebenaran kepada mereka.

    Demikian beberapa alasan dan ada banyak faktor lainya, Wallohu A’lam Bishowab

  46. Edgar Davis berkata

    Artikel nya sangat bermanfaat ustad ..
    saya juga mau bertanya , apakah orang orang yang membuat agama terpecah pecah itu akan berdosa besar ? dan mengapa allah tidak memusnahkan orang orang (yang memecah agama ) itu ?
    terimakash ustad, mohon jawabnnya.. assalamualaikum

    Dijawab Abu Amina Aljawiy
    Bismillah Assalamualaikum Warohmatulloh,

    1.Orang-orang yang memecah belah agama menjadi berkelompok-kelompok yang hizbiyah, maka itu berdosa besar bahkan para ulama memasukanya dalam kelompok Syirik Kecil dan Syirik Kecil adalah dosa besar melebihi dosa-dosa besar lainya, yaitu Kesyirikan dalam amal dakwah, yaitu mereka jika berbangga bangga dengan kelompok atau golonganya dalam berdakwah (bukan berdakwa kepada Alloh Ta’ala) sebagaimana firmaNya:

    وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًۭا ۖ كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
    dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka, QS.Arum ayat 31-32

    2.Kenapa Orang yang memecah belah agama tidak dibinasakan Oleh Alloh Aza Wajalla, maka sebagaimana Alloh Ta’ala menerangkan hendak menguji antara mereka manusia satu dengan yang lainya siapa yang mau kembali kepada apa yang Alloh Turunkan dan yang berlomba dalam kebaikan sebagaimana firmanya :

    وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّۢ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةًۭ وَمِنْهَاجًۭا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
    Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,QS.Almaidah ayat 48.

    Maka dapat diketahuai disini bahwasanya Alloh mengingkan dalam Ketetapan Syar’i nya supaya manusia kembali kepada jalan yang terang yang dibawa Nabi Muhammad Sholollohualihi Wassalam,
    ini sesuai pula dengan FirmaNya:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.QS.Anisa ayat 59.

    Allohu Ta’ala A’lam Bishowab Wallohul Muwafiq.

  47. Rusdian berkata

    Ustadz, bagaimana cara membaca niat sholat… Niat sholat sudah saya lakukan dalam hati, lalu apa bacaan niat dalam hati tersebut, demikian pula niat wudhu, puasa dan lain2…? terima kasih ustadz..


    Dijawab Pengasuh Ma’had Cepu :
    Bismillah,
    Berkata Syeikul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam Majmu’atur Rasaaili Kubra I/243 : Tempatnya niat itu di hati tanpa (pengucapan) lisan berdasar kesepakatan para imam Muslimin dalam semua ibadah : bersuci (thaharah), shalat, zakat, puasa, haji membebaskan budak (tawanan) serta berjihad dan yang lainnya. Meskipun lisannya mengucapkan berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka teranggap dengan apa yang ia niatkan dalam hati bukan apa yang ia lafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, dan niat itu belum sampai ke dalam hatinya, hal ini belum mencukupi menurut kesepakatan para imam Muslimin. Maka sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang tetap.

    Berkata Imam An Nawawi Rahimahulloh (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i): “Beberapa sahabat kami berkata: “Orang yang mengatakan hal itu telah keliru( Yang Mengatakan Niat itu dilafadzkan). Bukan itu yang dikehendaki oleh As Syafi’i dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat, melainkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir(Bukan Melafadzkan niat). [al Majmuu' II/43]

    Ahlu Sunnah Sepakat Niat Itu Tempatnya Dihati dan penekananya didalam hati tidak dijelaskan bagaimana pengerja’anya, Sebagaimana antum menuju tempat wudhu dengan niat wudhu tanpa harus diselingi berhenti melafadzkan niat, sebagaimana antum menuju tempat sholat dengan niat sholat dan menghadap kiblat kemudian takbir tanpa berhenti melafadzkan niat, kemantapan niat ini tergantung kedalaman ilmu dan keyakinan serta kekhusyukanya dalam mentauladani Gerakan-Gerakan Rosul Sholollohualaihi Wassalam dalam Ibadah yang antum sebutkan.

    Bersungguh-Sungguh, Mengkusyukan dan Meneguhkan hati di saat akan melakukan ibadah (Kalau Dalam Sholat Bersamaan Dengan Takbir) mungkin ini yang antum maksudkan Dan ini tidak perlu dilafadzkan tapi cukup meneguhkan bisikan hati, Karena diantara amalan hati adalah Semangat,Khusyuk,Cinta,Takut,Harap dan yang semisal dengan itu.

    Allohu A’lam Bishawab

  48. Adinda berkata

    Bagus

    Walhamdulillah.

  49. Andi berkata

    Assalamualaikum., akhi, ana mau tanya ,, bgmn menrut antum ormas2 yg melakukan demonstrasi dngn dalil menegakkan amal ma’ruf nahi munkar tp caranya agak berlebihan ,sprti FPI cntohnya., dan mreka jg mngaku Ahlussunnah,.

    Dijawab Abu Amin Cepu
    Bismillah,
    Nabi-Shollallahu alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُمَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

    “Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan keawjiban atas dirinya ”.(HR.Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah 1096)

    Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah dengan cara rahasia, bukan dengan cara terang-terangan, dan bukan pula membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar, pesta-pesta, masjid-masjid, koran-koran, majalah dan lainnya sebagai suatu nasihat, maka ormas – ormas seperti ini melanggar sunnah dan hendaknya mereka kembali kepaada sunnah yaitu menasehati pemerintah dengan cara hikmah dan nasehat yang baik.

    Adapun pengakuan itu tidak mencerminkan hakikat,sebagaimana syair:

    كُلٌّ يَدَّعِي وَصَلاً بِلَيْلَى … وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

    Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…
    Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…

    Wallohu A’lam Bishowab

  50. Abdulllah berkata

    asalamualaikum wrwb,
    bisa jadi ana dulu seorang kahin, tetapi ana berdoa untuk mendapatkan keluasan ilmu, lalu ana dipertemukan Allah swt dg org2 yg lurus, dan entah dr mana, ana menemukan kitab tauhid syeh muhamad bin abdul wahab dikamar umi yg putri seorang kyai nu. semua dalil antum seakan2 ana sd mengenali dan insyaallah ana tegakkan, bahkan sebelum ana meneliti artikel antum. sekarang dg ilmu dr antum, ana semakin mantap memerangi syirik, khurofat dan bid’ah. barokalloh buat antum dan seluruh shohibi. jazakumulloh khoir

    Dijawab Abu Amina Aljawiy
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Walhamdulillah, Alloh Anugerahkan hidayah untuk antum, orang dahulunya menyimpang kemudian kembali kepada jalan yang lurus biasanya lebih semangat dari orang yang biasa biasa saja, Mudah mudahan antum termasuk yang semangat diatas ilmu dan amal.

    إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

    Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.Alhajj 38

  51. Hamba Alloh berkata

    Mau tanya Kenapa di NU ada tahlilan ? Dan Apa Dalil Mereka, Mohon dijelaskan


    Dijawab Abu Amina Aljawiy:

    Bismillah,

    1.Kenapa di NU ada tahlilan Jawabanya karena mereka beramal tanpa ilmu karena kalau mereka melihat kitab dari kalangan mereka dengan benar sebagaimana kutipan dari kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin dibawah ini, suatu kitab yang terkenal dalam kalangan NU untuk belajar fikih syafi’i :
    ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه،

    ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل

    لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة،

    ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.

    وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام وجواب منهم لذلك

    “Makruh hukumnya keluarga dari yang meninggal dunia duduk untuk menerima orang yang hendak menyampaikan belasungkawa. Demikian pula makruh hukumnya keluarga mayit membuat makanan lalu manusia berkumpul untuk menikmatinya. Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jarir bin Abdillah al Bajali “Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.
    Dianjurkan bagi para tetangga-meski bukan mahram dengan jenazah,kawan dari keluarga mayit-meski bukan berstatus sebagai tetangga-dan kerabat jauh dari mayit-meski mereka berdomisili di lain daerah-untuk membuatkan makanan yang mencukupi bagi keluarga mayit selama sehari semalam semenjak meninggalnya mayit. Hendaknya keluarga mayit agak dipaksa untuk mau menikmati makanan yang telah dibuatkan untuk mereka.Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan, Aku- yaitu penulis kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin- telah membaca sebuah pertanyaan yang diajukan kepada para mufti di Mekkah mengenai makanan yang dibuat oleh keluarga mayit dan jawaban mereka untuk pertanyaan tersebut(Seperti Diatas).

    2.Dari sini sudah jelas di NU tidak ada tahlilan seharusnya, Maka kebanyakan orang NU beramal tanpa ilmu dan hanya katanya-katanya saja,atau warisan nenek moyang atau mungkin kalau mentok memakai dalil-dalil yang umum yang jauh dari pemahaman salaf, mereka sering mengatakan yang PENTINGKAN NIATNYA BAIK DAN INI ADA DALIL UMUMNYA, Perkataan ini kalau kami balikkan kepada mereka maka mereka akan malu karena ketidaktauan mereka, Kita ambil contoh:

    -JIKA MEREKA BERKATA “YANG PENTINGKAN NIATNYA BAIK DAN TIDAK HARUS ADA DALIL KHUSUS” BANTAHANYA : COBA SAJA MEREKA SURUH KUMANDANGKAN ADZAN DIKALA SHOLAT IDUL FITRI ATAU IDUL ADZHA TENTU MEREKA AKAN DI TERTAWAKAN PARA ULAMA SALAF SEBELUMNYA.

    -JIKA MEREKA BERKATA “YANG PENTINGKAN NIATNYA DAN ALLOH MENYURUH BERDZIKIR SEBANYAK BANYAKNYA ” BANTAHANYA : COBA SAJA MEREKA SURUH MENAMBAH SHOLAT FARDHU UNTUK DIKERJAKAN SESUKA MEREKA DENGAN MENAMBAH RAKAAT, BACAAN DZIKIR ATAU JUMLAH WAKTU, BUKANKAH ALLOH MENYEBUT SHOLAT SEBAGAI SEBESAR BESAR DZIKIR? COBA KALAU ADA YG BERANI MENGERJAKAN SEPERTI ITU PASTI AKAN DITERTAWAKAN PARA ORANG AWAM.

    Wallohu a’lam bishowab

  52. Abu Fadhil berkata

    Bismillah, afwan mau tanya :
    Benarkah sholat yg udah lama ditinggalkan/ dengan sengaja WAJIB diqodho, misal saat sudah baligh tidak pernah solat smpe dewasa kemudian sekarang ada niat unutk sholat.
    Penjelasan teman saya : mengenai pendapat yg wajib qhodo sholat yg tertinggal terlalu lama ni berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari Muslim;yg Artinya: Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.Ibu Qudamah dalam kitab Al-Mughni mengatakan; Wajib mengqodho shalat yang ditinggal secara sengaja dalam waktu lama, berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sampai lupa hitungan persisnya. Adapun caranya adalah dengan mengqadha berturut-turut tanpa diselingi shalat sunnah seperti yang pernah dilakukan Nabi saat ketinggalan 4 waktu shalat pada perang Khandaq. memang benar apa yg di katakan LINDA,orang yg tidak wajib qhodo menganjurkan kepada mereka yang mampu untuk tidak pernah meninggalkan shalat ada’, sehingga tidak akan pernah muncul perkara qadha shalat. Hukum qadha shalat dimunculkan oleh para Imam mazhab diperuntukkan bagi mereka yang pernah meninggalkan shalat ada’. Oleh karena itu, wajib d qhodo diperuntukkan bagi mereka yang pernah meninggalkan shalat ada’ dan mau berhukum kepada fiqh Imam mazhab tersebut.
    Apakah harus WAJIB diqodho padahal selama bertahun2 tidak sholat. trimakasih

  53. ummu habibah berkata

    bismillaah. ustadz, afwan ana ingin menanyakan tentang blog http://tukpencarialhaq.wordpress.com, apakah boleh membacanya?
    di tempat ana ta`lim, sebagian ustadz mentahdzir seorang ustadz karena akhlaqnya, namun di sisi lain para thullab masih bermulazamah kepada belliau (allohu a`lam, kemungkinan dengan pengetahuan ustadz2 yang lain). bolehkah kami mengambil ilmu dari ustadz yang ditahdzir tersebut?
    barokallohu fiikum

    Bismillah,
    Ana berpendapat setelah membaca beberapa isi blog yang disebutkan diatas :
    1.Bagi awam yang baru mengenal manhaj salaf, maka ana tidak menyarankan membacanya,
    2.Hendaknya masalah-masalah perselisihan seperti itu akan lebih utama dibahas pada tempat-tempat khusus dan dikeluarkan oleh orang-orang khusus yang mempunyai hak untuk menegakkan hujahnya, Walaupun ana memeperhatikan ada orang berilmu yang berada dibalik ( blog tersebut), tapi sebagai nasehat buat kita bersama terkadang terlihat beberapa perkataan yang kurang berkenan dicerna bagi pembaca awam, yang dipaparkan dari tulisan disana. Kalau saudara pengelola blog ini lebih melunakkan bahasa insyalloh akan lebih nampah keiilmiahanya bagi awam dan lebih diterima pembaca awam dari kakikat suatu kebenaran (mudah mudahan kedepan menjadi demikian).Karena banyak nasehat yang berisi kebenaran bisa ditolak oleh pembaca disebabkan berlebihan dalam menyampaikanya, Untuk itu Syeikh Utsaimin Rahimahulloh menasehati kita bersama untuk lebih memahami dan mendalami objek dakwah dan Lebih teliti lagi dalam masalah dakwah hikmah: Beliau Menasehatkan :

    فيدعو إلى الله بالحكمة، وما أمرَّ الحكمة على غير ذي الحكمة‏.‏ والدعوة إلى الله تعالى تكون بالحكمة، ثم بالموعظة الحسنة، ثم الجدال بالتي هي أحسن لغير الظالم، ثم الجدال بما ليس أحسن للظالم، فالمراتب إذن أربع‏.‏

    “Dakwah ke jalan Alloh itu haruslah dengan hikmah pertama, pelajaran yang baik yang kedua,berdebat dengan cara yang lebih baik kepada orang yang tidak zhalim ketiga, kemudian berdebat dengan cara yang tidak lebih baik kepada orang yang zhalim keempat. Maka tingkatan dakwah itu ada empat , Sebagaimana faedah dari FirmaNya:

    ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

    Serulah (manusia) kepada jalan Robmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk(An Anahl 125)”

    3.Pada prinsipnya ustadz yang ditahdzir ada beberapa sebab, ana tidak memahami ustadz yang dimaksud tersebut, jadi ana tidak bisa menggambarkan keadaanya dan memberikan jawaban tenteng ustadz yang ditanyakan.

    Wal Ilmu Indalloh.
    Abu Amina Aljawiy

  54. Bismillah
    assalamualaikum
    kaifahaluka ya ustad abu amin
    masyaallah ana tanya sama yusuf yusuf ini suara siapa sebentar dia diam mendengar kan surah annaba ustad Abu amin teriak ketawa sambil lari putar putar ustad abu amin dah cerita lah yusuf yakin pak ahmad masnaim maswahyu pakdeyoto masmulyo yaumine dengar aja sama adiknya, abu amin bagaimana kabar yaasir ? Di tempat ana dakwah salafy lagi di uji dg sedikit masalah tapi dampak nya sungguh besar ustad rifai mungkin tau wallahualam ana pun sekarang kurang semangat utk talim lagi apa nasehat antum untuk ana ustad soale ana sekarang kurang dlm menghadiri talim paling cuma dengar download dr ilmoe mp3
    afwan ustad kalau adayg kurang berkenan?

    Dijawab Oleh Abu Amina Aljawiy

    Bismillah, Waalikumussalam Warohmatulloh,

    Nasehat ana kepada antum :Jangan menyibukan dengan Fitnah dan Perselisihan, Sibukan Untuk Menghafal Hadist, Alquran ,Memperbagus adab kita kepada Alloh dan Makhluk Dan Semangat Untuk itu, Sebagaimana Sabda Rosul Dibawah ini :

    احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت لكان كذا وكذا، ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن ” لو ” تفتح عمل الشيطان

    “Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’”, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.”

    Ingat Nasehat Syaeikh Abdurahman Assa’diy Dibawah ini, Barokallohufikum :

    وأعظم الأسباب لذلك وأصلها وأسهاه الإيمان والعمل الصالح *

    1. Beriman dan beramal Saleh (ini adalah sebab kebahagian terbesar dan mendasar,pent )

    الإحسان إلى الخلق بالقول والفعل، وأنواع المعروف*

    2. Berbuat baik kepada makhluk dengan perkataan dan perbuatan dan macam-macam kebaikan lainya (ini termasuk sebab yang dapat menghilangkan keresahan dan kegundahan hati Dan Perbuatan baik ini disesuaikan dengan hak hak mahkluk,pent)

    الاشتغال بعمل من الأعمال أو علم من العلوم النافعة*

    3. Sibuk beramal dari amal-amal atau ilmu yang bermanfaat(Ini termasuk hal yang dapat menghilangkan kegundahan hati yang timbul dari kegalauan jiwa karena disibukkan oleh urusan-urusan yang memberatkanya)

    اجتماع الفكر كله على الاهتمام بعمل اليوم الحاضر، وقطعه عن الاهتمام في الوقت المستقبل، وعن الحزن على الوقت الماضي*

    4. Mengkonsentrasikan semua pikiran untuk mengerjakan sebuah pekerjaan pada hari ini dan menghentikan dari pemikiran-pemikiran yang akan datang serta menghentikan dari kesedihan pada waktu-waktu yang lampau.

    الإكثار من ذكر الله, فإن لذلك تأثيرا عجيبا في انشراح الصدر وطمأنينته، وزوال همه وغمه*

    5. Memperbanyak zikir kepada Allah ta’ala (Berzikir pengaruhnya sangat menakjubkan dalam mendatangkan kelapangan dada dan ketenangan hati, serta menghilangkan rasa resah gelisah

    التحدث بنعم الله الظاهرة والباطنة *
    6. Menyebut-nyebut nikmat-nikmat Allah, baik yang lahir maupun yang batin.

    استعمال ما أرشد إليه النبي في الحديث الصحيح حيث قال: انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فإنه أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم *

    7. Melihat orang-orang yang berada di bawahnya dan tidak melihat orang-orang yang ada di atasnya,sebagaimana petunjuk hadits Rosul :“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang-orang yang berada di atas, karena sesungguhya itu lebih memungkinkan untuk tidak meremehkan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (Rowahu Bukhari dan Muslim).

    استعمال هذا الدعاء الذي كان النبي يدعو به: اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي إليها معادي، واجعل الحياة زيادة لي في كل خير، والموت راحة لي من كل شر

    8. Berdoa dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah Seperti :Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikanku, dan kematian sebagai tempat istirahat dari segala keburukan”. (HR. Muslim).

    قوة القلب وعدم انزعاجه وانفعاله للأوهام والخيالات التي تجلبها الأفكار السيئة*

    9. Memantapkan hati dan tidak tenggelam pada kepanikan atau bayangan dan pikiran-pikiran buruk,ini sangat besar pengaruhnya untuk menghindari tekanan penyakit-penyakit jiwa maupun penyakit-penyakit fisik

    ومتى اعتمد القلب على الله، وتوكل عليه، ولم يستسلم للأوهام ولا ملكته الخيالات السيئة، ووثق بالله وطمع في فضله- اندفعت عنه بذلك الهموم والغموم، وزالت عنه كثير من الأسقام البدنية والقلبيةه

    10.Jika hati selalu bergantung kepada Allah , bertawakkal kepada-Nya, tidak larut dalam bayang-bayang ketakutan serta pikiran-pikiran buruk diiringi bersandar kepada Allah seraya benar-benar mengharap karunia-Nya, maka yang demikian itu akan mengusir perasaan gundah dan sedih, dan menghilangkan berbagai penyakit badan dan hati

    وينبغي أيضا إذا أصابه مكروه أو خاف منه أن يقارن بين بقية النعم الحاصلة له دينية أو دنيوية، وبين ما أصابه من مكروه فعند المقارنة يتضح كثرة ما هو فيه من النعم، واضمحلال ما أصابه من المكاره

    11.Membandingkan kenikmatan yang diterima dengan kesulitan yang diderita, Setiap diri selayaknya jika ditimpa kesulitan atau khawatir terhadapnya agar membandingkannya antara kenikmatan yang telah dia perolehnya baik dalam nikmat agama dan dunia dan membandingkanya dengan kesulitan yang dia alami, maka akan dia dapatkan betapa jauh lebih banyak kenikmatanya dalam dirinya daripada kesulitan dan musibah yang dia rasakan.

    Dikutip dari Kitab الوسائل المفيدة للحياة السعيدة Syeikh Abdurahman Assa’diy Rahimahulloh

  55. Moh.Dofi berkata

    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
    orang yang shalat i’adah sunnah,semisal sudah shalat ashar.kemudian ada orang yang belum shalat ashar dan tidak ada imamnya.boleh shalat lagi dan mendapatkan fadilahnya berjama’ah.

    Pertanyaanya?
    shalat yang pertama gugur atau tidak?
    mohon jawabanya +

  56. mukhlis berkata

    ustad ana mau nanya tentang doa dan dzikir sholat fardhu,,
    tolong beri penjelasannya… trimakasih

    Walikumussalam Warohmatulloh :

    Urutan Dzikir-dzikir Setelah Salam dari Shalat Wajib Yaitu :

    1. Membaca:

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

    “Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik.” (HR. Muslim 1/414)

    2. Membaca:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

    “Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak dapat menghalangi dari siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)

    3. Membaca:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

    “Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.” (HR. Muslim 1/415)

    4. Membaca:

    سُبْحَانَ اللهُ

    “Maha Suci Allah.” (tiga puluh tiga kali)

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ

    “Segala puji bagi Allah.” (tiga puluh tiga kali)

    اَللهُ أَكْبَرُ

    “Allah Maha Besar.” (tiga puluh tiga kali)

    Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    “Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

    “Barangsiapa mengucapkan dzikir ini setelah selesai dari setiap shalat wajib, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada dua sifat (amalan) yang tidaklah seorang muslim menjaga keduanya (yaitu senantiasa mengamalkannya, pent) kecuali dia akan masuk jannah, dua amalan itu (sebenarnya) mudah, akan tetapi yang mengamalkannya sedikit, (dua amalan tersebut adalah): mensucikan Allah Ta’ala setelah selesai dari setiap shalat wajib sebanyak sepuluh kali (maksudnya membaca Subhaanallaah), memujinya (membaca Alhamdulillaah) sepuluh kali, dan bertakbir (membaca Allaahu Akbar) sepuluh kali, maka itulah jumlahnya 150 kali (dalam lima kali shalat sehari semalam, pent) diucapkan oleh lisan, akan tetapi menjadi 1500 dalam timbangan (di akhirat). Dan amalan yang kedua, bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid 33 kali dan bertasbih 33 kali (atau boleh tasbih dulu, tahmid baru takbir, pent), maka itulah 100 kali diucapkan oleh lisan dan 1000 kali dalam timbangan.”

    Ibnu ‘Umar berkata, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah menekuk tangan (yaitu jarinya) ketika mengucapkan dzikir-dzikir tersebut.”

    Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dikatakan bahwa kedua amalan tersebut ringan/mudah akan tetapi sedikit yang mengamalkannya?“

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika hendak tidur, lalu menjadikannya tertidur sebelum mengucapkan dzikir-dzikir tersebut, dan syaithan pun mendatanginya di dalam shalatnya (maksudnya setelah shalat), lalu mengingatkannya tentang kebutuhannya (lalu dia pun pergi) sebelum mengucapkannya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no.5065, At-Tirmidziy no.3471, An-Nasa`iy 3/74-75, Ibnu Majah no.926 dan Ahmad 2/161,205, lihat Shahiih Kitaab Al-Adzkaar, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy 1/204)

    Kita boleh berdzikir dengan tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali dengan ditambah tahlil satu kali atau masing-masing 10 kali, yang penting konsisten, jika memilih yang 10 kali maka dalam satu hari kita memakai dzikir yang 10 kali tersebut.

    Hadits ini selayaknya diperhatikan oleh kita semua, jangan sampai amalan yang sebenarnya mudah, tidak bisa kita amalkan.

    Tentunya amalan/ibadah semudah apapun tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Setiap beramal apapun seharusnya kita meminta pertolongan kepada Allah, dalam rangka merealisasikan firman Allah,

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

    “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Faatihah:4)

    5. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas satu kali setelah shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`. Adapun setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga Fathul Baari 9/62)

    6. Membaca ayat kursi yaitu surat Al-Baqarah:255

    Barangsiapa membaca ayat ini setiap selesai shalat tidak ada yang dapat mencegahnya masuk jannah kecuali maut. (HR. An-Nasa`iy dalam ‘Amalul yaum wal lailah no.100, Ibnus Sunniy no.121 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ 5/339 dan Silsilatul Ahaadiits Ash-Shahiihah 2/697 no.972)

    7. Membaca:

    اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    Sebagaimana diterangkan dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tangannya dan berkata, “Ya Mu’adz, Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu Ya Mu’adz, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan di setiap selesai shalat, ucapan…” (lihat di atas):

    “Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud 2/86 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiih Sunan Abi Dawud 1/284)

    Do’a ini bisa dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam atau setelah salam. (‘Aunul Ma’buud 4/269)

    8. Membaca:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    “Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

    Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. (HR. At-Tirmidziy 5/515 dan Ahmad 4/227, lihat takhrijnya dalam Zaadul Ma’aad 1/300)

    9. Membaca:

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” Setelah salam dari shalat shubuh. (HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma’uz Zawaa`id 10/111)

    Catatan untuk antum :
    1.Kesemuanya jangan dibolak-balik, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagaian kaum muslimin
    2.Tidak dikeraskan ketika membacanya
    3.Jangan hanya sekedar sebagai ritual tapi hendaknya diresapi dan diamalkan
    4.Makruh Hukumnya mensela urutan ini dengan bersala-salaman antar jamaah.Dan boleh bersalaman ketika memang baru bertemu dari saudaranya muslim dan bagus diahkirkan setelah lepas dari urutan dzikir dzikir diatas.
    5.Jika diajak bersalaman ketika selesai sholat boleh menyambut tanganya , yang terpenting tidak memulainya, sembari diwaktu yang lain memberikan nasehat yang hikmah kepadanya tentang hukum bersalaman ini.

    Wallohu A’lam Bishowab

    Maraaji’: Hishnul Muslim, Syarah Riyadhus Shallihin dan Penjelasan Asatidz Lainya

  57. Assalamualaikum Ustadz, tolong jelaskan secara runtut makna surat al-fatihah ayat 3. terimakasih

  58. Anonymous berkata

    Assalamualaikum,
    Ustadz bisa bantu’ baru mencari ebook terjemahan kitab ini atau mp3 kajian nya
    Jazaakallahu khairan
    Mulakhos Qowa’idul Lughoh Al ‘Arobiyah,Fuad Ni’mah

    Waalaikumussaalam, Warohamtulloh, Insyalloh Ahkiy

  59. Anonymous berkata

    Terjemahan kitab-kitab yang menjelaskan biografi para rawi seperti tahdzibu-tahdzib, tidak ada ya?

    Insyalloh ada antum download pada kumpulan ulumul hadits pada kolom, download kita arab.

    Abu Amina Aljawiy

  60. shafura berkata

    saya mau bertanya
    apakah daging kurban yg sudah lama d dalam kulkas dapat di gunakan lagi pada 1 bulan ke depan

    Bismillah, Insyalloh tak mengapa jika memang masih layak untuk dikonsumsi untuk keluarga antum.

    Abu Amina Aljawiy
    Ma’had Cepu

  61. faris berkata

    Assalamualaikum. uztad, mohon pencerahan. saya sudah wajib utk nikah. tapi ditentang oleh orangtua sy. dengan alasan calon istri sy seorang janda branak 1. dlm pemikiran sy, sy melakukan ini smua InsyaAllah Lillahi ta’ala. yg menjadi dilema dlm diri sy adlah yg sy lakukan ini tidak brtentangan dgn syriah, tp knpa ditentang dgn alasan buruknya masa lalu. apa yg hrus sy lakukan ustad?? mohon dibalas ya… sbagai pertimbangan sy dlm mngambil keputusan.. wassalam.


    Walaikumussalam Warohmatulloh,

    Ahki Faris yang semoga Alloh Ta’ala memudahkan pada urusan bermanfaat antum, Pada dasarnya wanita dinikahi berdasarkan perintah Rosul Sholollohualaihi Wassalam

    عنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ – قَالَ: تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ: لمِالِهَا، وَلِحَسَبِهَا،
    وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ

    “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena nasabnya , karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, jika tidak kamu menjadi miskin/Merugi”Rowahu Bukhariy

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    عَلَيْكُمْ بِالْأبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ

    “Nikahilah- gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih manis tutur katanya, lebih banyak keturunannya, dan lebih menerima dengan sedikit” Silsilah hadits Shahihah Syeikh Albaniy

    Berkata Syaikh Utsaimin, “Tapi terkadang seseorang memilih untuk menikahi seorang janda karena ada sebab-sebab tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahuma yang memilih untuk menikahi seorang janda karena meninggalkan anak-anak wanita yang membutuhkan seorang wanita yang merawat mereka.

    Maka hendakya antum sebelum memilih perempuan hendaknya memperhatikan seruan Rosul diatas,Dan seruan rosul adalah sebaik-baik petunjuk.

    Dan tentunya orang tua mengnginkan yang terbaik untuk anaknya, dimana kebanyakan para orang tua tidak mau menjadi bahan pembicaraan orang lain ketika walimah dengan melihat anaknya menikah dengan janda, walaupun menikah dengan janda yang beriman dan baik agamanya adalah bukan tercela dibandingkan menikahi wanita perawan tapi jelek agamanya.

    Saran Kami :
    Maka hendaknya antum melakukan shalat istiqoroh untuk menetukan pilihan ini dan bermusyawarah dengan orang tua antum:

    1.Jika ada perawan yang baik agamanya,penyayang,subur maka ini lebih utama dan lebih utama karena mendapatkan keridhoan orang tua antum dan sebagaimana sabdanya :

    عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat”Al Irwa Syeikh Albaniy

    2.Jika seorang janda itu muslimah salafiyah dan baik agamanya serta baik masa lalunya di masyarakat misal menjanda karena ditinggal mati suaminya yang sholeh maka menkahiya tak mengapa tentu dengan bermusyawarah dan ridho orang tua antum(dan jika dia jodoh antum tidak mungkin kemana setelah berusaha).Tapi kalau dia seorang yang terkenal kejelekan dan kemaksiatanya di masyarakat kaum muslimin serta agamanya kurang walaupun dia menarik hati antum maka tinggalkanlah sebagaimana firmaNya :

    وَلَا تَنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌۭ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌۭ مِّن مُّشْرِكَةٍۢ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا۟ ۚ وَلَعَبْدٌۭ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌۭ مِّن مُّشْرِكٍۢ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ يَدْعُونَ إِلَى ٱلنَّارِ ۖ وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱلْجَنَّةِ وَٱلْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِۦ ۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
    Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.Albaqoroh 221

    Maka perhatikanlah perkara perkara diatas pada wanita tersebut dan berdoalah semoga Alloh ta’la mudahkan jodoh terbaik untuk antum.Wallohu A’lam

    Abu Amina Aljawiy
    Mahad Cepu

  62. agung berkata

    afwan..ana dri sorong papua..ana berkeinginan besar untuk mondok..skrng ana lgi nyari pondok yg gratis.afwan krn kondisi kurang mampu..insya Allah bkn hny ana..tp tman ana jg yg sama kyk ana..gmn ntuk bs mondok dstu???barokallohu fiykum


    Bismillah,
    Subhanalloh, Antum telepon atau sms ke kontak person di http://abuamincepu.wordpress.com/info-kajian-cepu/ , insyalloh kamar bisa menampung 5 santri lagi ,

    Beberapa hari yang lalu ada Ihkwah dari bekasi juga ingin memondokkan anaknya dan dari palembang , inysaallohu masih bisa.Waiyyakum

    Abu Amina Aljawiy
    Mahad Cepu

  63. caramembuat berkata

    terima kasih banyak pelajaran dari sini kang

    Waiyyakum.

  64. Jeck Kingstone berkata

    assalamu’alaikum wr.wb
    ana mau tanya apa beda nya kalimat BASMALLAH dengan BISMILLAH…sukron

    Dijawab : Abu Amina Aljawiy:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    1.Adapun Basmallah, Adalah penamaan dari ucapan Arab ” Bismillah: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ”
    2.Adapun Bismillah :بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ adalah Lafadz Arob, Makna Huruf ba disini mempunyai fungsi sebagai isti’anah (meminta pertolongan), adapun isim para ulama berselisih mengenai asal katanya.
    Al Qurthubi berkata :Assumuw maknanya al uluww dan Ar rif’ah (tinggi), ada yang berpendapat : disebut isim karena pemiliknya menjadi tinggi dengannya . ada juga yang berkata : karena isim menjadi tinggi dengan musamma (yang diberi nama) sehingga mengangkatnya dari yang lainnya. Ada pula yang berkata : dinamai isim karena ia menjadi tinggi dengan kekuatannya diatas dua bagian al kalam yaitu harfu dan fi’il, dimana isim lebih kuat dari keduanya berdasarkan ijma’ karena ia adalah asalnya, karena ketinggiannyalah disebut isim.Dan ini yang Rojih, Wallohu A’lam

  65. De Ota berkata

    Bismillahirohmanirrikhim …..semoga ustadz dirahmati oleh ALLAH Swt.
    maaf ustadza,,,,,,ana mau tanya.ana bru belajar madhab salafu solih,dan ana mendapat pertentangan dr keluarga.bahkan istri ana sendiri melarang ana saat meninggalkan isbal.sampai” celana ana di buang entah kemana.seolah allah telah menutup hati seluruh keluarga ana.
    bagaimana ana harus menghadapi semua ini ustadz?
    terimakasih JAZAKUMULLOH

    Bismillah,
    Waiyyakum Ahki De Ota, Semoga Alloh menjadikan kesabaran sebagai perantara penolong antum.
    1.Didalam menanggapi perlakuan orang orang yang awam dan belum mengerti hakikat suatu permasalahan, hendaknya ditanggapi dengan sikap hikmah (lemah lembut/menempatkan sesuatu pada tempatnya) Alloh Ta’ala Berfirman :لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
    “Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [At-Taubah : 128]

    Rosul Juga bersabda :
    وعن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله متفق عليه
    “Dari Aisyah Ummul Mukminin ” Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”

    وعنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه رواه مسلم
    “Artinya : Sungguh, segala sesuatu yang ada padanya kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa adanya kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”

    وعن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من يحرم الرفق يحرم الخير كله رواه مسلم
    “Artinya : Barangsiapa yang meniadakan sifat lembut, maka akan tertahan kebaikan semuanya.

    Dari ayat dan hadits diatas dapat difahami bahwa kebaikan itu terletak pada sikap lembut kita didalam berdakwah dan kejelekan itu terletak kepada sikap kaku didalam berdakwah dan pada urusan lainya,

    Kami selalu menekankan ini kepada ikhwan dan ahkwat yang baru berusaha membenahi dirinya dan mereka miliki konflik sama persis dengan antum, dan telah terbukti banyak dari mereka yang dahulu menentang Dengan izin Alloh Ta’ala malah ikut serta semangat dalam manhaj yang haq ini,

    2.Permasalahan Isbal Bisa Disiasati:Intinya tetap diatas mata kaki dan tidak harus tinggi (sebagai siasah sehingga tidak terlalu mencolok) akan tetapi yang terbaik adalah sebetis jika keadaan memungkinkan, karena semua perlu proses, Syeikh Utsaimin pernah menjelaskan tentang pentingnya tenang dan tidak tergesa-gesa dalam dakwah.

    3.Perkenalkan Istri dengan ilmu Salafiyah bertahap, misal hadiahkan buku atau ceramah ceramah salafiyah yang ringan, misal ceramah Keluarga Sakinah, Ceramah Budi Pekerti dan Adab.

    Kami kumpulkan nasehat syeikh utsaimin rahimahulloh dibawah ini insyalloh mencukupi :

    Maka Hendaknya antum mempersiapkan hal hal sebagai berikut :
    1.BERILMU
    Seorang da’i haruslah memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan di atas ilmu yang shahih yang berangkat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Karena setiap ilmu yang diambil dari selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, wajib diteliti terlebih dahulu. Setelah menelitinya, maka dapat menjadi jelas apakah ilmu tersebut selaras ataukah menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Apabila selaras maka diterima dan apabila menyelisihi maka wajib menolaknya tidak peduli siapapun yang mengucapkannya.
    2.SABAR
    Seorang da’i haruslah bersabar di atas dakwahnya, sabar atas apa yang ia dakwahkan, sabar terhadap orang yang menentang dakwahnya dan sabar atas segala aral rintangan yang menghadangnya.
    Seorang da’i haruslah bersabar dan berupaya menetapi kesabaran di dalam berdakwah, jangan sampai ia berhenti atau jenuh, namun ia harus tetap terus berdakwah ke jalan Alloh dengan segenap kemampuannya. Terlebih di dalam kondisi dimana berdakwah akan lebih bermanfaat, lebih utama dan lebih tepat, maka ia haruslah benar-benar bersabar di dalam berdakwah dan tidak boleh jenuh, karena seorang manusia apabila dihinggapi kejenuhan maka ia akan letih dan meninggalkan dakwah. Akan tetapi, apabila ia menetapi kesabaran di atas dakwahnya, maka ia akan meraih pahala sebagai orang-orang yang sabar di satu sisi, dan di sisi lain ia akan mendapatkan kesudahan yang baik.

    Dengarkanlah firman Alloh Azza wa Jalla yang menyeru Nabi-Nya :

    تِلْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَآ أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَـقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

    “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang hal yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Huud : 49)

    bacalah firman Alloh Azza wa Jalla :

    كَذَلِكَ مَآ أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ قَالُواْ سَـحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

    “Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (QS adz-Dzaariyaat : 51)
    Lihatlah kepada rasul pertama Nuh ‘alaihish Sholatu was Salam, suatu ketika kaumnya melewati beliau dan beliau pada saat itu sedang membangun sebuah kapal lalu mereka mencela beliau, lantas beliau berkata kepada mereka :

    إِن تَسْخَرُواْ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ * فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

    “(Berkatalah Nuh) Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS Huud : 38-39)

    Mereka tidak hanya mengejek beliau, namun mulai mengancam untuk membunuh beliau :

    قَالُواْ لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ ينُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُرْجُومِينَ

    “Mereka berkata: Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS asy-Syu’araa` : 116)

    Artinya adalah, beliau termasuk orang-orang yang akan dibunuh dengan cara dilempari batu. Di sini ada ancaman mati dengan implikasi bahwa “kami telah melempari orang selain dirimu” untuk menampakkan keperkasaan mereka (kaum nabi Nuh) sedangkan mereka telah merajam orang lain “dan engkau (Nuh) adalah termasuk mereka.” Namun, hal ini tidaklah memalingkan Nuh ’alaihish Sholatu was Salam dari dakwah beliau, bahkan beliau tetap terus melangsungkan dakwahnya sampai Alloh membukakan untuknya dan untuk kaumnya kemenangan.

    Dan lihatlah Ibrahim ‘alaihish Sholatu was Salam, kaumnya menghadapinya dengan penentangan, bahkan mereka mengolok-olok beliau di hadapan manusia :

    قَالُواْ فَأْتُواْ بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

    “Mereka berkata: (Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (QS al-Anbiyaa` : 61)

    Kemudian mereka mengancam akan membakar beliau :

    قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَانصُرُواْ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَـعِلِينَ

    ”Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS al-Anbiyaa` : 68).

    Lalu mereka mengobarkan api yang sangat besar dan mereka melempari beliau dengan manjanik (ketapel raksasa) disebabkan jarak mereka yang jauh dikarenakan panasnya api. Akan tetapi, Rabb pemilik keperkasaan dan kemuliaan ber-firman:

    قُلْنَا ينَارُ كُونِى بَرْداً وَسَلَـمَا عَلَى إِبْرَهِيمَ

    ”Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS al-Anbiyaa` : 69).

    Maka menjadilah api itu dingin dan keselamatan baginya, dan kesudahan yang baik adalah bagi Ibrahim :

    وَأَرَادُواْ بِهِ كَيْداً فَجَعَلْنَـهُمُ الاَْخْسَرِينَ

    ”Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS al-Anbiyaa` : 70)

    Lihatlah Musa ‘alaihish Sholatu was Salam dan bagaimana Fir’aun mengancam untuk membunuh beliau :

    ذَرُونِى أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّى أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُـمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِى الاَْرْضِ الْفَسَادَ

    ”Dan Berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): Biarkanlah Aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, Karena Sesungguhnya Aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS Ghaafir : 26)

    Ia mengancam untuk membunuh beliau akan tetapi perkara berbicara lain dan kesudahan yang baik adalah bagi Musa ‘alaihish Sholatu was Salam

    وَحَاقَ بِـَالِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

    ”Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS Ghaafir : 45)

    Lihatlah Isa ‘alaihish Sholatu was Salam yang mendapatkan gangguan sampai-sampai kaum Yahudi menuduh beliau sebagai anak pezina. Mereka membunuh beliau dengan asumsi mereka dan menyalibnya, akan tetapi Alloh Ta’ala berfirman :

    وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

    ”Mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah Telah mengangkat Isa kepada-Nya]. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa` : 157-158).

    Maka Allohpun menyelamatkan beliau.

    Dan lihatlah penutup dan imam para nabi, penghulu anak cucu Adam, Muhammad Shallallahu ’alaihi was Salam. Alloh berfirman tentang beliau :

    يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَـكِرِينَ

    ”Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS al-Anfaal : 30)

    وَيَقُولُونَ أَءِنَّا لَتَارِكُو ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ

    ”Dan mereka berkata: Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?.” (QS ash-Shaaffaat : 36).

    Beliaupun menghadapi gangguan-gangguan berupa perkataan maupun perbuatan, yang mana hal ini telah diketahui oleh para ulama di dalam buku-buku Tarikh (Sejarah) dan kesudahan yang baik adalah bagi beliau.

    Jadi, setiap da’i pastilah akan menemui gangguan, namun ia haruslah dapat bersabar menghadapinya. Oleh karena itulah, Alloh Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi was Salam :

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ تَنزِيلاً

    ”Sesungguhnya kami Telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS al-Insaan : 23)

    Mungkin dikira Alloh akan berfirman (setelah ayat di atas) : ”maka bersyukurlah kamu atas nikmat Alloh yang menurunkan al-Qur`an ini secara berangsur-angsur”, padahal Alloh berfirman pada beliau :

    فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمْ ءَاثِماً أَوْ كَفُوراً

    ”Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (QS al-Insaan : 24)

    3.HIKMAH

    Seorang da’i haruslah menyeru kepada Alloh dengan hikmah. Dan alangkah pahitnya orang yang tidak memiliki hikmah. Dakwah ke jalan Alloh itu haruslah dengan : (1) hikmah, (2) mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik), (3) berdebat dengan cara yang lebih baik kepada orang yang tidak zhalim, kemudian (4) berdebat dengan cara yang tidak lebih baik kepada orang yang zhalim. Jadi, tingkatan ini ada empat. Alloh Ta’ala berfirman :

    ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـادِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

    ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl : 125)

    Dan firman-Nya :

    وَلاَ تُجَـادِلُواْ أَهْلَ الْكِتَـبِ إِلاَّ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ وَقُولُواْ ءَامَنَّا بِالَّذِى أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـهُنَا وَإِلَـهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

    ”Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS al-Ankabuut : 49)

    Sesungguhnya hikmah itu adalah : menetapkan suatu perkara secara mantap dan tepat, dengan cara menempatkan suatu perkara pada tempatnya dan mendudukkan suatu perkara pada kedudukannya. Bukanlah termasuk hikmah apabila anda tergesa-gesa dan menginginkan manusia akan berubah keadaannya dari keadaan mereka sebelumnya menjadi seperti keadaan para sahabat hanya dalam sehari semalam.

    4. BERAKHLAK YANG MULIA
    Seorang da’i haruslah berperangai dengan akhlak yang mulia, dimana ilmunya tampak terefleksikan di dalam aqidah, ibadah, perilaku dan semua jalan hidupnya, sehingga ia dapat menjalankan peran sebagai seorang da’i di jalan Alloh. Adapun apabila ia dalam keadaan sebaliknya, maka sesungguhnya dakwahnya akan gagal, sekiranya sukses maka kesuksesannya sedikit.

    Wajib bagi da’i mengamalkan apa yang ia dakwahkan, baik berupa ibadah, mu’amalah, akhlak dan suluk (sifat/karakter), sehingga dakwahnya diterima dan ia tidak termasuk orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka.

    5. MENGHILANGKAN PENGHALANG ANTARA DIRINYA DENGAN ORANG ORANG YANG DIBERI DAKWAH

    Seorang da’i haruslah menghancurkan penghalang antara dirinya dengan manusia. Hal ini disebabkan karena banyak saudara-saudara kita para du’at, apabila melihat suatu kaum melakukan kemungkaran, mereka terlalu ghirah (cemburu/semangat) dan benci terhadap kemungkaran tersebut sehingga mereka tidak mau pergi menemui kaum tersebut dan menasehati mereka. Hal ini adalah suatu kesalahan dan bukanlah termasuk hikmah sama sekali. Bahkan yang termasuk hikmah apabila anda pergi mendakwahi mereka, menyampaikan motivasi dan peringatan, dan janganlah anda sekali-kali mengatakan bahwa mereka adalah orang fasik dan tidak mungkin aku akan berjalan dengan mereka.

    6.LAPANG DADA JIKA ADA PERSELISIHAN

    Seorang da’i haruslah berlapang dada terhadap orang yang menyelisihinya, apalagi jika diketahui bahwa orang yang menyelisihinya itu memiliki niat yang baik dan ia tidaklah menyelisihinya melainkan dikarenakan ia belum pernah mendapatkan dirinya ditegakkan hujjah kepadanya. Selayaknya seseorang bersikap fleksibel di dalam masalah ini, dan janganlah ia menjadikan perselisihan semisal ini berdampak pada permusuhan dan kebencian. Allohumma, kecuali seorang yang menyelisihi karena menentang, padahal telah diterangkan padanya kebenaran dan ia tetap bersikeras di atas kebatilannya. Apabila demikian keadaannya, maka wajib mensikapinya dengan sesuatu yang layak baginya berupa menjauhkan dan memperingatkan ummat dari dirinya. Karena permusuhannya telah jelas dan telah diterangkan padanya kebenaran namun ia tidak mau mengapresiasikannya.

    Ada permasalahan furu’iyyah yang diperselisihkan manusia, dan hal ini pada hakikatnya termasuk sesuatu yang Alloh memberikan kelapangan kepada hamba-hamba-Nya adanya perselisihan di dalamnya. Yang saya maksud adalah permasalahan yang bukan termasuk ushul (pokok) yang dapat mengantarkan kepada pengkafiran bagi yang menyelisihinya. Maka masalah ini termasuk perkara yang Alloh memberikan keluasan di dalamnya bagi hamba-hamba-Nya dan adanya kesalahan di dalamnya dimaafkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

    إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران وإن أخطأ فله أجر واحد

    “Apabila seorang hakim berijtihad lalu ia benar maka ia mendapatkan dua pahala, namun apabila ia tersalah maka mendapatkan satu pahala.”

    Seorang mujtahid, ia tidak akan keluar dari cakupan pahala selamanya, bisa jadi ia mendapatkan dua pahala apabila ia benar dan bisa jadi satu pahala apabila ia tersalah.

    Apabila anda tidak menginginkan ada orang selain anda yang menyelisihi anda, demikian pula dengan orang lain, ia juga tidak menginginkan ada orang lainnya yang menyelisihinya. Sebagaimana pula anda menghendaki supaya manusia mau menerima pendapat anda maka orang yang menyelisihi anda pun juga ingin supaya pendapat mereka diterima.

    Maka, tempat kembali ketika terjadi perbedaan pendapat, telah Alloh Azza wa Jalla terangkan di dalam firman-Nya :

    وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَىْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّى عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

    “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. kepada-Nya lah Aku bertawakkal dan kepada-Nyalah Aku kembali.” (QS asy-Syuuro : 10)

    Dan firman-Nya Azza wa Jalla :

    يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ اللَّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِى الاَْمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاَْخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

    ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS an-Nisaa` : 59)

    Wallohu A’lam Bishowab, Maroji’ Kitab Zad’ud Dai’iyah Syeikh Utsaimin Rahimahulloh

    Wallohu A’lam
    Abu Amina Aljawiy

  66. Anonymous berkata

    bismillah..
    akhy..
    ana mau tanya tentang hukum bekerja di kantor pemerintahan..?

    Bismillah Para Ulama meperinci bekerja dikantor pemerintahan menjadi dua :
    1.Kalau pekerjaan tersebut tidak terkait didalamnya pada perkara-perkara haram dari suatu instansi pemerintahan, maka hukumnya boleh.
    2.Kalau pekerjaan tersebut berhubungan dan terkait dengan keharaman dan pelanggaran syar’i maka hukum haram:

    Sebagaimana FirmaNya :

    وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

    Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertaqawalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya,(QS.Al Maidah 2)

    Kalau antum sudah melihat terang ada keharoman didalamnya misal berkaitan Riba,Korupsi,Campur aduk laki perempuan/Aurot Perempuan, Maka ahksan mencari pekerjaan lain, Alloh akan mencukupkan Hamba Yang Bertakwa.

    Wallohu A’lam
    Abu Amina Aljawiy

  67. yusuf berkata

    bismillah,.
    ust..
    ana mau tanya..
    apakah link abumuslih.com
    merupakan link yang benar2 bermanhaj salaf..?

    Bismillah,

    Ana tidak mengenal beliau, Jadi tidak bisa menghukuminya , sepengetahuan ana beberapa tulisanya bermanhaj salaf, akan tetapi disayangkan teman-temanya terlihat adalah penerima bantuan At-Turots Kuwait,

    Ana hanya bisa bersyair “Man Jalis Janis”:”Orang yang duduk bersama itu sejenis” apabila tidak dilakukan pengingkaran dan nasehat.

    Walau ini harus lebih hati-hati dalam pembuktianya dan perlu perincian dalil dan waqi’, tidak yang duduk bersama dengan penerima bantuan langsung bisa dihukumi hizbiyah dan keluar dari manhaj salaf.

    Ana menyarankan antum mencukupkan mempelajari ilmu dengan talaqi kepada asatidz yang bersih dari fitnah yayasan ini, semisal link rujukan yang sangat lengkap untuk artikel di asysyariah.com dan kajian mp3 di ilmoe.com atau yang semisal dengan keduanya.

    Insyalloh mereka lebih zuhud dan lebih jujur keimananya.

    Wallohu A’lam
    Abu Amina Aljawiy

  68. yusuf berkata

    Bismillah..
    afwan ustadz,.
    ana mau minta tolong kalau bisa,..
    ana pengen belajar tulis arab biar tulisan ana lebih cepat,.
    ana minta sama teman ana disini untuk ajarin tulisian RIQ’I, dulunya dia mondok di jawa di ust Lukman, tapi katanya buku2nya di tinggal di jawa smua dan kalau mau belajar tulisan itu ( riq’i) harus belajar teknik telisan dibawahnya dulu (Niskhy)..
    tapi kayanya kita atau modul itu g ada di tempat ana (ambon), jadi kalau bisa ana mau minta tolong sama antum carikan di sana, nanti biaya2nya ana kirim dari sini..
    kalau antum bersedia tolong hubungi ana di no ana 085243709887..

  69. abu hanip berkata

    …..

  70. 'Aisyah berkata

    bismillah
    ustad,afwan ana mau tanya:
    ana pernah mengajar di suatu mahad, namun setelah memiliki putra dan terasa kepayahan, maka ana memutuskan keluar.sekarang putra ana sudah hampir 3 tahun dan zawjiy mengizinkan ana untuk kembali mengajar.ana iri ketika melihat ummahat yang lain banyak yang bergabung untuk taawun mengajar.ana iri membayangkan betapa banyak pahala yang mereka tuai.ana juga iri bahwa mereka selain dikaruniai ilmu,juga dikaruniai kemapanan dalam beragama dan berumahtangga (hal ini terbukti bahwa mereka tetap teguh mengajar meski kelelahan harus membagi waktu dengan urusan rumah tangga), serta diberi ilham untuk menyebarkan ilmu yang telah dimiliki.
    karena dasar itulah ustad,ana akhirnya memutuskan untuk bergabung lagi dan mengajar lagi, karena ana juga ingin mendapatkan pahala2 itu dan ana juga ingin agar ALLOH mengelompokkan ana ke dalam golongan yang teguh berkorban demi agama sehingga mulia di Mata ALOH.
    pertanyaannya,apakah rasa iri ana ini dosa ustad?
    apakah hal tersebut menghapuskan keikhlasan ana dalam mengajar? sungguh, ana benar2 ingin mendapat pahala seperti yang mereka daptkan dikarenakan pengorbanan mereka

    Bismillah,
    1.Maha Suci Alloh Ta’ala yang semoga menjadikan keberkahan ilmu uhkti fillah untuk bisa memberikan manfaat kepada diri, keluarga dan kaum muslimin, Insyalloh bergabung dalam urusan dakwah shahihah (salafiyah) adalah kewajiban dalam apapun bentuknya, jikalau mampu untuk mengajarkan langsung dan tidak terbengkalai urusan keluarganya maka tak mengapa dan dianjurkan.
    2.Apakah rasa iri seperti yang uhkti fillah alami merupakan bagaian dari penyebab hapusnya amalan? Insyalloh tidak.Dan merupakan iri yang diperkenankan oleh Rosul Sholollohualaihi Wassalam Sebagaimana Sabda-Nya yang masyur dalam mutafaqun alaih :

    لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

    “Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infaqkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, ia menunaikan dan mengajarkannya.”

    dan ini bagian dari wujud berlomba dalam kebaikan dan tolong menolong didalamnya.

    Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan “Para ulama membagi hasad menjadi dua macam, yaitu hasad hakiki dan hasad majazi. Hasad hakiki adalah seseorang berharap nikmat orang lain hilang. Hasad seperti ini diharamkan berdasarkan kata sepakat para ulama dan adanya dalil tegas yang menjelaskan hal ini. Adapun hasad majazi yang dimaksudkan adalah ghibthoh. Ghibthoh adalah berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang. Jika ghibthoh ini dalam hal dunia, maka itu dibolehkan. Jika ghibthoh ini dalam hal ketaatan, maka itu dianjurkan. Adapun maksud dari hadits di atas adalah tidak ada hasad yang disukai kecuali pada dua hal atau yang semakna dengan itu” Syarah shahih muslim.

    Semoga keberkahan beserta anti , suami dan anak tercinta dan sholawat serta salam dikaruniakan untuk junjungan kekasih kita Nabi Muhammad Sholollohualihi wassalam.Amin
    Wallohu A’lam Bishowab

    Abu Amina Aljawiy
    Mahad Annashihah Cepu

  71. 'Aisyah berkata

    jazakalloh khoir ustadz jawabannya.Alhamdulillah,ana bahagia sekali mengetahui jawaban ini,karena menghilangkan kekhawatiran ana tentang rasa iri yang ana kira sebuah ‘penyakit’,sekarang ana semakin mantab dan tenang untuk mengajar.

    Waiyyaki,Wallohul Muwafiq.

  72. Adi Rahmat Nur berkata

    Assalamu’alaikum ustadz.
    Saya mau bertanya.
    Apakah web Kajian.Net merupakan web yang benar2 bermanhaj salaf dan apa benar radio rodja benar radio ahlus sunnah wal jama’ah.

    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Bismillah, Pada saat douroh Masyayikh tahun kemarin kami sempat bertanya kepada Syeikh Ubaid aljabiri Hafidzahulloh, Dengan pertanyaan yang lebih detail penggambaranya dari radio yang sejenis ini, sebagaimana fatwa dibawah ini, Adapun jika tahun-tahun berikutnya jika mereka berubah dan tidak bergampang-gampangan bermuamalah dengan Hizbiyun,Turotsiyun,Bahkan Partai, dan sejenisnya. Maka akan lain keadaanya. Kami yakin nasehat para masyayikh dan asatidz lainya menginginkan kebaikan dan persatuan bukan selainya dan jangan buruk sangka kepada yang memberi nasehat, Jadi pendengar yang fanatik dengan radio semacam ini hendaknya memikirkan untuk menjalankan nasehat-nasehat ini dengan sungguh-sungguh dan jujur serta jangan fanatik buta dengan asatidz radio tersebut.

    Kalau memang meraka salah dalam pergaulan dan muamalah mereka maka dikatakan salah, Semasa ana di yogya ana menyaksikan sendiri beberapa muamalah ganjil yang mereka lakukan (dahulu memang ana sangat banyak mengenal assatidz mereka)

    Adapun kajian.net isinya sama dengan radio tersebut, dan ana kurang mengetahui pengelolanya, semoga Alloh Ta’ala tunjuki bashiroh dan kecocokan amal kepada kami dan pengelola radio tersebut supaya bekerja keras memilih orang orang yang ada didalamnya serta mengikuti nasehat para ulama dan semoga demikian juga situs yang antum maksudkan. Wallohu A’lam Bishowab. Abu Amina Aljawiy.

    Pertanyaan:

    Di dekat kami ada radio yang dia ini pengikut At-Turotsiyyin seperti Abul Hasan dan Ali Al-Halaby dan ada sebagian Salafiyyin yang menanyakan tentang hukum mendengarkan radio ini. Dan tentunya di radio ini disebarkan perkataan Al-Halaby, Ar-Ruhaily dan selain keduanya, padahal Salafiyyin memiliki radio sendiri dan memiliki CD-CD yang merekam durusnya para ulama dan para da’i (Salafiyyin) Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, Tauhid, Sunnah, Akhlaq. Maka apakah anda menasehati anak-anak anda di Indonesia untuk mendengarkan radio ini?

    Jawab:
    Yang pertama, mencukupkan diri dengan mendengarkan radio Salafiyyin dan pada yang engkau sebutkan itu sudah cukup. Maka TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH.
    Kedua, barangsiapa yang DIA INI MEMILIKI KEMAMPUAN KEAHLIAN/KAPASITAS LALU MENDENGARKAN RADIO INI DALAM RANGKA MEMBANTAHNYA MAKA TIDAK MENGAPA.
    JADI ORANG-ORANG AWAMNYA AHLUSSUNNAH TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO TERSEBUT.
    Kewajiban kita hanya menjelaskan, dan termasuk kelembutan dan rahmat Allah kepada kita (yaitu) Allah tidak membebani kita untuk memberi hidayah kepada hati-hati manusia dan Allah tidak membebani kita agar kebenaran itu diterima oleh mereka….
    (diterjemahkan secara bebas. Sumber: rekaman pertanyaan-pertanyaan Salafiyyin Indonesia pada malam Ahad, 15 Jumadil Akhir 1433H yang bertepatan dengan 5 Mei 2012)

    Link Rekamanya Di http://www.4shared.com/mp3/62Gy99wh/Larangan_Asy_Syaikh_Ubaid_deng.html

    http://www.darussalaf.or.id/hizbiyyahaliran/rekaman-dan-terjemahan-fatwa-larangan-syaikh-ubaid-untuk-mendengarkan-radio-turotsiyyah-halabiyyah-maribiyyah-semisal-rodja-dll/

  73. Jihady Sawaty berkata

    Assalamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
    Ustad… Mohon dijelaskan adab-adab bertaubat yang benar atau cara bertaubat yang benar. Bagaimana hukumnya orang yang bertaubat tapi masih juga melakukan. Dan pertanyaan terakhir (Maaf Ustad kalo kebanyakan) adalah apa yang pertama kali harus saya pelajari dalam menuntut ilmu agama.

    Waalaikumussalam Warohmatulloh.

    Pengunjung yang budiman untuk pertanyaan yang pertama Dan Kedua sudah termasuk dalam risalah ini :
    Syarat-Syarat Diterimanya Taubat:

    Syarat pertama: Ikhlas untuk Allah, yaitu orang yang bertaubat hendaknya mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla dengan taubatnya itu dan berharap supaya Allah menerima taubatnya serta mengampuni maksiat yang telah dilakukannya, dengan taubatnya itu ia tidak bermaksud riya di hadapan manusia atau demi mendapatkan kedekatan dengan mereka, dan bukan juga semata-mata demi menyelamatkan diri dari gangguan penguasa dan pemerintah kepadanya. Tapi dia bertaubat hanya demi mengharapkan wajah Allah dan pahala di negeri akhirat dan supaya Allah memaafkan dosa-dosanya.

    Syarat kedua: Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukannya, sebab perasaan menyesal dalam diri seorang manusia itulah yang membuktikan dia benar/jujur dalam bertaubat, ini artinya dia menyesali apa yang telah diperbuatnya dan merasa sangat sedih karenanya, dan dia memandang tidak ada jalan keluar darinya sampai dia benar-benar bertaubat kepada Allah dari dosanya.

    Syarat ketiga: Meninggalkan dosa yang dilakukannya itu, ini termasuk syarat terpenting untuk diterimanya taubat. Meninggalkan dosa itu maksudnya: apabila dosa yang dilakukan adalah karena meninggalkan kewajiban, maka meninggalkannya ialah dengan cara mengerjakan kewajiban yang ditinggalkannya itu, seperti contohnya: ada seseorang yang tidak membayar zakat, lalu dia ingin bertaubat kepada Allah maka dia harus mengeluarkan zakat yang dahulu belum dibayarkannya. Apabila ada seseorang yang dahulu meremehkan berbakti kepada kedua orang tua jika kemudian ingin bertaubat maka dia harus berbakti dengan baik kepada kedua orang tuanya. Apabila dia dahulu meremehkan silaturahim maka kini dia wajib menyambung silaturahim. Apabila maksiat itu terjadi dalam bentuk mengerjakan keharaman maka dia wajib bersegera meninggalkannya, dia tidak boleh meneruskannya walaupun barang sekejap. Apabila misalnya ternyata dia termasuk orang yang memakan harta riba maka wajib baginya melepaskan diri dari riba dengan cara meninggalkannya dan menjauhkan diri darinya dan dia harus menyingkirkan harta yang sudah diperolehnya dengan cara riba. Apabila maksiat itu berupa penipuan dan dusta kepada manusia dan mengkhianati amanat maka dia harus meninggalkannya, dan apabila dia telah meraup harta dengan cara haram ini maka dia wajib mengembalikan harta itu kepada pemiliknya atau meminta penghalalan kepadanya.

    Apabila maksiat itu berupa ghibah/menggunjing maka dia wajib meninggalkan gunjingan terhadap manusia dan meninggalkan pembicaraan yang menjatuhkan kehormatan-kehormatan mereka. Adapun apabila dia mengatakan “Saya sudah bertaubat kepada Allah”, akan tetapi ternyata dia masih terus meninggalkan kewajiban atau masih meneruskan perbuatan yang diharamkan, maka taubat ini tidaklah diterima. Bahkan taubat seperti ini sebenarnya seolah-olah merupakan tindak pelecehan terhadap Allah ‘azza wa jalla, bagaimana engkau bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla sementara engkau masih terus bermaksiat kepada-Nya?!

    Dalam kondisi bagaimanapun setiap insan harus meninggalkan dosa yang dia sudah bertaubat darinya, apabila dia tidak meninggalkannya maka taubatnya tertolak dan tidak akan bermanfaat baginya di sisi Allah ‘azza wa jalla. Meninggalkan dosa itu bisa berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla, maka yang demikian itu cukuplah bagimu bertaubat antara dirimu dengan Robb-mu saja, kami berpendapat tidak semestinya atau bahkan tidak boleh anda ceritakan kepada manusia perbuatan haram atau meninggalkan kewajiban yang pernah anda kerjakan. Hal itu karena dosa ini hanya terjadi antara dirimu dengan Allah. Apabila Allah sudah memberimu karunia dengan tertutupnya dosamu (dari pengetahuan manusia) dan menutupi dosamu sehingga tidak tampak di mata manusia, maka janganlah anda ceritakan kepada siapa pun apa yang sudah anda lakukan jika anda telah bertaubat kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Seluruh umatku akan dimaafkan, kecuali orang-orang yang berbuat dosa secara terang-terangan” dan termasuk terang-terangan dalam berbuat dosa ialah seperti yang diceritakan di dalam hadits, “Seseorang melakukan dosa lalu pada pagi harinya dia menceritakannya kepada manusia, dia katakan, ‘Aku telah melakukan demikian dan demikian…’.”

    Walaupun memang ada sebagian ulama yang mengatakan: Apabila seseorang telah melakukan suatu dosa yang terdapat hukum had padanya maka tidak mengapa dia pergi kepada imam/pemerintah yang berhak menegakkan hudud seperti kepada Amir/khalifah dan dia laporkan bahwa dia telah melakukan dosa anu dan ingin membersihkan diri dari dosa itu, meskipun ada yang berpendapat begitu maka sikap yang lebih utama adalah menutupi dosanya dalam dirinya sendiri.

    Artinya dia tetap diperbolehkan menemui pemerintah apabila telah melakukan suatu maksiat yang ada hukum had padanya seperti contohnya zina, lalu dia laporkan, ‘kalau dia telah berbuat demikian dan demikian’ dalam rangka meminta penegakan hukum had kepadanya sebab had itu merupakan penebus/kaffarah atas dosa tersebut.

    Adapun kemaksiatan-kemaksiatan yang lain maka tutupilah cukup di dalam dirimu, sebagaimana Allah telah menutupinya, demikian pula zina dan yang semacamnya tutuplah di dalam dirimu (kecuali jika ditujukan untuk melapor kepada pemerintah) janganlah engkau membuka kejelekan dirimu. Dengan catatan selama engkau benar-benar bertaubat kepada Allah atas dosamu maka selama itu pula Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan banyak perbuatan dosa…

    Adapun syarat keempat adalah: Bertekad kuat tidak mau mengulangi perbuatan ini di masa berikutnya. Apabila engkau tetap memiliki niat untuk masih mengulanginya ketika terbuka kesempatan bagimu untuk melakukannya, maka sesungguhnya taubat itu tidak sah. Contohnya: ada seseorang yang dahulu menggunakan harta untuk bermaksiat kepada Allah -wal ‘iyaadzu billah-: yaitu dengan membeli minuman-minuman yang memabukkan, dia melancong ke berbagai negeri demi melakukan perzinaan -wal ‘iyaadzu billah- dan untuk bermabuk-mabukan!! Lalu dia pun tertimpa kemiskinan (hartanya habis) dan mengatakan: “Ya Allah sesungguhnya aku bertaubat kepadamu” padahal sebenarnya dia itu dusta, di dalam niatnya masih tersimpan keinginan apabila urusan (harta) nya sudah pulih seperti kondisi semula maka dia akan melakukan perbuatan dosanya yang semula.

    Syarat kelima: Engkau berada di waktu taubat masih bisa diterima, apabila ada seseorang yang bertaubat di waktu taubat sudah tidak bisa diterima lagi maka saat itu taubat tidak lagi bermanfaat. Hal itu ada dua macam: Macam yang pertama dilihat dari sisi keadaan setiap manusia. Macam kedua dilihat dari sisi keumuman.

    Adapun ditinjau dari sudut pandang pertama, maka taubat itu harus sudah dilakukan sebelum datangnya ajal (yakni kematian) sehingga apabila ia terjadi setelah ajal menjemput maka ia tidak akan bermanfaat bagi orang yang bertaubat itu, ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

    وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ

    “Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’” (Qs. An Nisaa’: 18), mereka itu sudah tidak ada lagi taubat baginya.

    Dan Allah ta’ala berfirman:

    فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ فَلَمْ يَكُ يَنفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ

    “Maka tatkala mereka melihat azab kami, mereka berkata: ‘Kami beriman Hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang Telah kami persekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka Telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (Qs. Al Mu’min: 84-85)

    Maka seorang insan apabila sudah berhadapan dengan maut dan ajal sudah mendatanginya ini berarti ia sudah hampir terputus dari kehidupannya maka taubatnya itu tidak berada pada tempat yang semestinya! Sesudah dia berputus asa untuk bisa hidup lagi dan mengetahui dia tidak bisa hidup untuk seterusnya maka dia pun baru mau bertaubat! Ini adalah taubat di saat terjepit, maka tidaklah itu bermanfaat baginya, dan tidak akan diterima taubatnya, sebab seharusnya taubat itu dilakukannya sejak dahulu (ketika masih hidup normal, bukan di ambang ajal -pent).

    Macam yang kedua: yaitu dilihat dari sudut pandang keadaan umum (seluruh manusia -pent), sesungguhnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa, “Hijrah (berpindah dari negeri kafir menuju negeri muslim -pent) tidak akan pernah terputus hingga terputusnya (kesempatan) taubat, dan (kesempatan) taubat itu tidak akan terputus hingga matahari terbit dari sebelah barat.” Sehingga apabila matahari sudah terbit dari sebelah barat, maka di saat itu taubat sudah tidak bermanfaat lagi bagi siapa pun. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

    يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْساً إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْراً قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ

    “Pada hari datangnya sebagian ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula).’” (Qs. Al An’aam: 158). Sebagian ayat yang dimaksud di sini adalah terbitnya matahari dari arah barat sebagaimana hal itu telah ditafsirkan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dengan demikian maka taubat itu hanya akan diterima di saat mana taubat masih bisa diterima, jika tidak berada dalam kondisi seperti itu maka sudah tidak ada (kesempatan) taubat lagi bagi manusia.” (Maroji’ Syarah Riyadhu Shalihin Syeikh Utsaimin )

    Pertanyaan yang ketiga. Antum Hendaknya mempelajari ilmu ushulut dien ( Pokok Ajaran Agama ) Ahksan antum meliat referensi kitab pada kolom referensi kitab untuk pemula. Wallohul muwafiq.

    Jika kurang jelas ahksan antum menghubungi email kami. atau akan lebih istiqomah jika antum mendaftar ke milis annashihah group/ salafy indonesia group, yang diasuh oleh para asatidz ahlu sunnah , Allohua’am bishowab. Abu Amina Aljawiy

  74. Rio berkata

    assalamualaikum wr wb,…
    saya sangat senang dan merasa pas untuk belajar ttg agama ini sesuai pemahaman anda..
    saya tinggal di bandung, mohon di tunjukkan tempat agar saya bisa belajarnya secara langsung,kalau bisa ada orang yang bisa dihubungi..
    trimakasih infonya, mohon di balas lewat email atau sms ke 081809766057

    Waalikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh,
    Walhamdulillah,
    قَالَ :إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا صَاحِبَهُ لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاَنًا وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلاَ أُزَكِّيْ عَلَى اللهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ -إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ- كَذَا وَكَذَا

    “Apabila seseorang harus memuji saudaranya, katakanlah: ‘Aku kira Fulan .. dan Allahlah yang mengawasi perbuatannya. Dan aku tidak akan memuji seseorang dihadapan Allah’. Apabila seseorang mengetahui hendaklah berkata: ‘Aku kira begini dan begini’.”

    Semoga Keberkahan beserta kehidupan antum dan Alloh Ta’ala Tambahkan ilmu bermanfaat dan amal yang diterima kepada kita semua, ahki yang budiman antum bisa datang ke jadwal kajian dibawah ini di bandung, ahksan jika antum bisa kontak dulu ke penyelengaranya tentang waktu serta adab-adab yang lain dalam mengikuti majlis.

    Coba Hubungi Ma’had Adhwa’us Salaf
    Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung
    E-mail : info@adhwaus-salaf.or.id
    Kontak : Ma’had Adhwa’us Salaf, Telp.(022) 7026 9125
    Abu Fath, Telp.08127574608

    Barokallohufikum
    Abu Amina Aljawiy

  75. Rio berkata

    Assalamu’alaikum wr wb..
    maaf,ada yang mau di tanyain lagi..
    kalau kita bernadzar, setelah hal yang di maksudkan tercapai, tentu harus dilakukan nadzar tersebut. sy bernadzar akan membeli sesuatu. setelah tercapai yg sy harapkan, sy kebingungan mencari barang yang saya maksud, karena jarang ditemui..
    jadi sy harus bagaimana…
    kalau dengan membeli barang yang laen,bukan yg di maksud tetapi memiliki fungsi yang agak berbeda sedikit bagaimana hukumnya…

    jzkmlh khrn….

    Waalaikumussalam Warahmatulloh,
    Bismillah,
    Didalam pembahasan nazar padanya dikembalikan kepada hukum asal dari urusan nazarnya, Jika nazarnya sesuatu yang mubah maka demikian hukumnya, Jika Sunnah demikian pula hukumnya, jika wajib makan harus ditunaikan sesuai dengan syarat-syarat kewajibanya, jika nazarnya sesuatu yang harom maka harom hukumnya ditunaikan dan Wajib bagi pelaku nadzar jenis ini untuk membatalkan nadzarnya dan membayar kaffarah sumpah sebagaimana sabdanya:

    لا وفاء لنذر في معصية

    “Tidak boleh menunaikan nadzar dalam rangka bermaksiat kepada Allah.” HR. Muslim nomor 1641,

    من نذر نذرا في معصية, فكفارته كفارة يمين

    “Barangsiapa yang bernadzar dalam rangka bermaksiat kepada Allah, maka (hendaknya dirinya membayar) kaffarah sumpah.”HR. Abu Dawud nomor 3322

    Untuk pertanyaan antum dikembalikan kepada apa yang mau dibeli, kalau barang itu sesuatu sebagai penyempurna kewajiban kepada Alloh maka wajib menunaikan,
    Apabila sesuatu yang akan dibeli bersifat sunnah maka insyalloh tak mengapa diganti barang yang setara dengan fungsinya, Dan demikian seterusnya sebagaimana penjelasan diatas.

    Akan tetapi sebagaimana firman Allah ta’alaa :
    “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” Al Insaan ayat 7. ayat ini menunjukan perbuatan menunaikan nadzar merupakan sesuatu yang dipuji oleh Allah ta’laa maka jika itu suatu kebajikan maka ahksan ditunaikan semampunya.

    Dan Nazar antum termaksud nazar muqoyyad, maka bagi mereka yang sering bernadzar adalah hendaknya nadzar jangan dijadikan kebiasaannya, dikarenakan terkadang pelaku nadzar tidak mampu menunaikannya dengan sempurna dan dalam pelaksanaannya mengandung banyak kesalahan dan kekurangan, sehingga dirinya terjatuh dalam dosa, silahkan direnungkan sabda Shollohualaihi wa sallam dibawah ini,

    وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ

    “Sesungguhnya nadzar hanyalah berfungsi agar orang yang pelit beramal mau untuk beramal.”HR. Muslim nomor 3095.

    Allohu a’lam Bishowab
    Abu Amina Aljawiy

  76. Rio berkata

    assalamu’alaikum wr wb..
    ada yg mau ditanyain lg soal shalat..
    sejak pindah kerja di bandung, shalatnya tidak bisa di masjid karena lokasinya jauh dari area kantor, jadi shalatnya berjamaah di salah satu ruangan yang di jadikan mushola,hukumnya bagaimana?
    kemudian saat kita makmum masbuk,misalnya berdua atau lebih, kebiasaan di kantor stlh imam salam,makmum masbuk itu menjadikan salah 1 nya imam. pada kondisi seperti itu, yang sesuai tuntunan shalat nabi saw bagaimana..?
    saya baru ikut bbrp kali kajian di salafy,kalau ada keinginan menikah dengan akhwat salafy itu bagaimana ya soalnya sy belom kenal dengan yang lain..

    1.Ahki Yang Budiman Lembaga Fatwa Ulama Saudi Arabia ketika ditanya bagaimana hukum shalat berjama’ah di kantor?
    Jawaban: Sudah menjadi ketetapan Rosul Alaihi Sholatu Wassalam baik berupa perbuatan maupun perkataan, bahwa beliau bersama sahabat menjalankan shalat jama’ah di masjid, bahkan beliau berniat akan membakar rumah orang yang tidak berjama’ah di masjid. (Lihat Fatawa Islamiyah)

    Demikian Pula Perintah Alloh untuk sholat bersama-sama kaum muslimin Sebagaimana FirmanNya:
    .وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
    Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.Albaqoroh ayat 43.

    Untuk itu ahki hukumnya wajib bagi kaum pria muslim untuk sholat berjamaah di Masjid, Adapun Jika ada udzur syar’i yang dibolehkan maka tak mengapa tidak berjamaah dan sholat dikantor.
    Ahksan antum cari masjid yang masih terdengar adzan dekat kantor, Dan kemungkinanya kecil sekali untuk zaman sekarang ini tiada masjid yang dibangun pada pusat keramaian.
    Kalau tiada satupun masjid yang tak terdengar adzanya maka boleh antum sholat ditempat antum bekerja dan berjamaah dengan karyawan lainya serta akan lebih baik kalau perusahaan antum membuat Mushola untuk menghindari karyawan sholat secara sendiri-sendiri.Wallohu A’lam Bishowab.

    2.Tak Mengapa Sebagaimana Keumuman dalil Sholat berjamaah dan hal yang antum alami sebagaimana Sabda Nabi:
    أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصْحَابِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَصَلَّى مَعَهُ
    “Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya telah melakukan shalat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Barangsiapa ingin bersedekah kepada orang ini hendaklah dia shalat bersamanya, ” lalu berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya.” (HR. Ahmad no. 10980)

    Sebagai Catatan Jika ada yang terlambat shalat lalu mendapati seorang masbuk yang masih shalat,dan berjumlah lebih dari satu maka hendaknya mereka berjamaah sendiri dan tidak perlu mengikut kepada yang masbuk tadi.

    Wallahu a’lam Bishowab
    Abu Amina Aljawiy

  77. Angka Setiawan berkata

    asslamu’alaykum,
    ustdz sblumnya mksih ustadz untuk wktunya,
    ana sdkit bercrita nih ustadz, alhamdulillah ana sdah knal salaf, dan trasa skali dmpaknya mengamalkan yg haq, smkin hari ana smkin yakin akan manhaj ini, tpi smkin hari ana jga smkin mrasa bodoh tntang ilmu kbenaran, biasanya si ana mngambil ilmu dri buku yg ana pnjam dri tman ana mklum ustadz ana ada kndala dana, dan sya kira ini krang maksimal, kdang klo ana blum slesai bca udah dminta sma pmiliknya.
    Ustadz bisa ksih saran tntang mslah ini, ato ustadz bisa ga tunjukin ana tmpat tmpat kajian yg bermanhaj salaf?
    Syukron ya ustadz, jaazakallahu khoiron.

    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    Walhamdulillah ya ahki yang baik hati, Rosul memberikan suri tauladan terbaik tentang berbagai peristiwa yang kita alami diantaranya adalah apa yang antum alami ini, Rosul Bersabda dalam Rowahu Muslim :

    احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت لكان كذا وكذا، ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن ” لو ” تفتح عمل الشيطان

    “Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’”, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.”

    Jangan antum berlaku lemah, akan tetapi bersemangatlah karena niat dan semangan dalam kebenaran adalah awal terciptanya kebaikan dan kebenaran dalam diri, para ulama menyebutkan niat dan bersemangat denganya merupakan sepertiga bagain atasnya, perhatikanlah bagaimana Alloh memberikan hiburan kepada mereka yang dalam kekurangan dengan firmaNya:

    وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
    Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.(Qs.Ali imron 139)

    Insyalloh datangilah kajian kajian salaf disana, banyak ikhwah yang berkenan dengan kesulitan antum ini, karena muslim yang benar imanya adalah saling menguatkan satu dengan yang lainya,insyalloh. terlampir alamat kajian dikota kota mungkin antum butuhkan Wallohua’lam.

  78. zulrahmi (rahmi) berkata

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ pak ustad, ana ahkwat berusia 31 tahun, 8 bulan yg lalu ana mengalami gagal menikah, sampai saat ini ana masih berharap kalau ana bisa melanjutkan pernikahan ana dengan calon ana tersebut,
    1.apakah takdir jodoh itu bisa di rubah dengan doa pak ustad, misalnya ana di takdiklan berjodoh dengan si A, n ana berharap berjodoh dengan si B, kalau ana selalu berdoa si B jadi jodoh apakah itu bisa di kabulkan اَللّهُ SWT pak ustad.
    2. Apakah doa supaya jodoh ana cepat datang
    3. Bagaimana cara supaya ana cepat ketemu jodoh

    Syukron pak ustad, barokaAllah fikum

    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh.
    Bismillah, Ukht Fillah, Semoga kesabaran dianugerahkan Alloh ta’ala kepada anda :
    1.Mengenai pertanyaan pertaman Rosul Sholollohualaihi Wassalam Bersabda :

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ قَدِمْتُ مَكَّةَ فَلَقِيتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّ أُنَاسًا عِنْدَنَا يَقُولُونَ فِي الْقَدَرِ فَقَالَ عَطَاءٌ لَقِيتُ الْوَلِيدَ بْنَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ

    [1]Yahya bin Musa menceritakan kepada kami, Abu Daud Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami, Abdul Wahid bin Sulaim menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku datang (ke) Makkah, kemudian aku bertemu dengan Atha’ bin Abu Ribah. Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya orang-orang kami membicarakan tentang qadar.”Atha’ berkata, “Aku bertemu (dengan) Al Walid bin Ubadah bin Shamit, kemudian ia berkata, ‘Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam [pena]. Dia kemudian berfirman kepada pena tersebut, ‘Tulislah.’ Maka, apa yang ditulis oleh pena itu berlaku untuk selamanya’. ” Shahih Tirmidzi

    عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق ” إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ,
    ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

    [2]Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
    (Riwayat Bukhori dan Muslim).

    [1] Hadits Yang Pertama Diatas Disebut Takdir umum mencakup segala yang ada.
    [2] Hadits Yang Kedua Diatas Disebut Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum.

    Pelajaran yang bisa kita ambil : Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami termasuk masalah jodoh,
    Sebelum kami menjawab masalah bisa apa tidaknya “takdir jodoh dirubah” maka harus difahami dulu pengertianya.

    Takdir (qadar) pengertianya adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dituliskan oleh pena dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman

    Rosul Bersabda :

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الضُّرَيْسِ عَنْ أَبِي مَوْدُودٍ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ

    Diriwayatkan Abu Utsman An-Nahdi, dari Salman, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Tidak ada yang dapat menolak ketentuan Allah kecuali doa. Tidak ada yang dapat membuat umur bertambah kecuali amal kebaikan “. Hasan: Ash-Shahihah (154).

    Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya “Apakah doa memiliki pengaruh mengubah apa yang ditetapkan Allah kepada manusia sebelum terjadi

    Beliau menjawab, “Tidak diragukan lagi, bahwa doa memiliki pengaruh untuk mengubah apa yang telah ditetapkan Allah. Akan tetapi, perubahan karena sebab doa itu pun sebenarnya telah ditetapkan Allah sebelumnya. Janganlah engkau mengira bahwa apabila engkau telah berdoa, berarti engkau meminta sesuatu yang belum ditetapkan. Akan tetapi, doa yang engkau panjatkan itu hakikatnya telah ditetapkan dan apa yang terjadi karena doa tersebut juga telah ditetapkan.

    Oleh sebab itu, terkadang kita menjumpai seseorang yang mendoakan kesembuhan untuk orang sakit, kemudian sembuh. Dan juga kisah sekelompok sahabat yang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah bertamu di suatu kaum, tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan seekor ular menyengat pemimpin mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca doa kepadanya agar sembuh. Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk membacakan doa kesembuhan kepadanya. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing, maka berangkatlah salah seorang dari sahabat untuk membacakan al-Fatihah untuknya. Maka, hilanglah racun tersebut seperti unta terlepas dari ikatannya. Maka, bacaan doa tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.

    Dengan demikian, doa memiliki pengaruh, namun tidak mengubah ketetapan Allah. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran doa yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena ketentuan Allah, begitu juga segala sebab memiliki pengaruh terhadap musabbab (akibat)-nya dengan kehendak Allah. Semua sebab telah tertulis dan semua hal yang terjadi karena sebab itu juga telah tertulis” (Majmu Fatawa wa Rasa’il Ibnu Utsaimin).

    2.Kami tidak menemukan doa khusus untuk permasalahan jodoh dan hendaknya menjauhi doa-doa yang tidak disyariatkan seperti membaca sekian kali dan sekian kali doa ini dan itu (yang semua itu tidak diajarkan Rosul)

    Nasehat Kami Hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dengan penuh harapan dan keikhlasan dengan doa yang kita inginkan, dan mempersiapkan diri untuk siap menerima lelaki yang shalih. Apabila seseorang jujur dan sungguh-sungguh dalam do’anya, disertai dengan adab do’a dan meninggalkan semua penghalang do’a, maka do’a tersebut akan terkabulkan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “ (Al-Baqarah : 186).

    Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu” (Al-Mukmin : 60).

    Dalam ayat tersebut Allah menggantungkan terkabulnya do’a hamba-Nya setelah dia memenuhi panggilan dan perintah-Nya. Saya melihat, tidak ada sesuatu yang baik kecuali berdo’a dan memohon kepada Allah serta menunggu pertolongan dari-Nya.

    Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Ketahuilah sesungguhnya pertolongan diperoleh bersama kesabaran dam kemudahan selalu disertai kesulitan dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

    3.Silahkan Direnungi dan diamalkan hadist dibawah ini :

    الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
    “Mukmin yang kuat lebih baik & lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Akan tetapi, keduanya tetaplah memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, & jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian & demikian.’ Akan tetapi hendaklah engkau berkata: ‘Ini sudah menjadi takdir Allah. Setiap apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan (seandainya) dapat membuka pintu setan.” (HR. Muslim Kitab Al-Qadar)

    Sebagai Tambahan Silahkan Renungi tulisan kami disini : http://abuamincepu.wordpress.com/2012/05/26/renungan-santri-kisah-pemuda-akibat-pacaran-%D8%AA%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%AF%D9%91%D9%8F%D8%AF/

    Wallohu A’lam Bishowab.

  79. Hamba Alloh berkata

    bismillah,assalamu’alaykum warohmatulloh wa barokatuh.
    ust, ada beberapa hal yang ana ingin tanyakan, tapi afwan, mungkin sedikit bercerita agar permasalahannya menjadi jelas, dan sekiranya dalam pertanyaan ana ini mengandung potensi untuk tersebarnya fitnah atau mengandung kebathilan, ahsan tidak mengapa tidak dipublikasikan, hanya saja ana benar-benar menunggu jawaban dan nasehat dari Anda ustadz.

    Begini ustadz:
    ana lahir di kota yang alhamdulillah salafiyyin nya banyak sekali, bahkan ustadnya pun banyak.ana sangat senang sekali tinggal bersama zawjiy di kota ini. aliran ilmunya deras, ikhwahnya memiliki adab dan akhlaq yang sangat baik, ustadz2 kami bijaksana dan lembut terutama ustadz usamah mahri dan ustad ahmad khodim. ukhuwah disini indah sekali, hingga ana benar2 mencintai mereka melebihi cinta ana kepada saudara ana senasab.ana benar2 mampu berloyalitas kepada mereka, bahkan bila ada akhwat yang belum menikah dan meminta ana untuk ‘berbagi suami’,niscaya akan ana lakukan karena ana memang mencintai mereka semua. setelah ana perhatikan, ternyata banyak sekali ikhwah di sini yang dulu pernah tergabung dalam laskar.ketika becengkerama dengan ummahatnya, obrolan kami adalah obrolan yang berbobot karena isinya seputar ilmu, motivasi untuk fastabikul khoirot,dan hal-hal lain yang sering ana dapatkan faidahnya.

    Hingga suatu hari ana dan zawjiy harus pindah ke kota asal zawjiy karena suatu hal.ternyata keadaannya sangat bebeda sekali,salafiyyinnya masih sedikit,akhlaq mereka agak kurang.pernah ana tanyakan kepada istri seorang ikhwan yang mengisi kajian rutin disini,Beliau mengatakan bahwa memang seperti itulah kondisi di sini.ada yang masih suka menyebar fitnah,ada yang masih tidak amanah padahal taklim udah lama.ukhuwah disini sangat kurang dan seperti ada kesenjangan sosial antara ‘si faqir” dan ‘si ghoniyy’.ikhwannya hobi sekali membahas masalah fitnah dan tahdzir2an hingga zawjiy merasa tidak nyaman.obrolannya sering masalah seputar dunia dan sangat tidak ‘berbobot’.bahkan ana pernah mengalami sendiri beberapa akibat dari buruknya lisan mereka yang membuat hati panas dan terkejut karena tidak menyangka bahwa disini masih ada yang ngaku salaf dan udah taklim lama tapi…..
    ana sering merasa tidak nyaman dengan lisan mereka(meskipun tidak semuanya), sehingga kami(ana dan zawjiy) jarang duduk2 bersama dalam acara mereka seperti makan2 yang bukan acara walimah(hanya sekedar kuliner) atau rekreasi alam ketika hari libur.sehingga kami hanya bertemu saat di majelis taklim saja.apakah hal ini menunjukkan bahwa kami orang2 yang ujub dan ekstrim dalam memilih teman bergaul ustadz??

    Ana tetap berusaha mencintai mereka karena ALLOH dan berloyalitas kepada mereka karena sejatinya, hanya merekalah saudara2 ana.namun, tidak bisa dibohongi bahwa hati ana belum cinta kepada mereka.ana selalu berusaha menghilangkan kenangan2 buruk dan mencari-cari sisi baik mereka, namun tetap saja ada kejadian yang membuat telinga dan mata ana panas.ana selalu berusaha memberi udzur kepada mereka dengan berfikiran “mungkin mereka melakukan itu tidak sengaja dan yakinlah bahwa sebenarnya mereka itu orang2 yang baik karena mereka itu orang2 yang ditakdirkan ALLOH untuk memeluk manhaj salaf”. tapi tetap saja ustad, selalu ada yang mengganjal di hati ana. dan ana merasa tidak nyaman dengan perasaan ana ini. hanya dua ikhwah saja yang ana merasa nyaman dekat dengan mereka,yaitu keluarga ikhwan yang mengisi kajian rutin tadi dan seorang lagi adalah keluarga ikhwah yang pendiam serta pemalu.perlu diketahui ustadz, kajian rutin disini diisi oleh ikhwan dari daerah lain yang memang mampu dalam hal keilmuan, baru sekitar satu tahunan ada ustadz yang pulang dari yaman dan bersedia mengisi kajian di sini walhamdulillah.bagaimana caranya agar ana tidak lelah dan menyerah untuk terus berusaha mencintai mereka karena ALLOH meskipun mereka tidak melakukan hal yang sama seperti yang ana lakukan?(mungkin seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan).

    Mohon nasehatnya ustadz, ana sangat ingin bisa mencintai mereka seperti ana mencintai ikhwah di tempat ana dulu.ana tidak mau membenci mereka karena khawatir hal itu melemahkan semangat ana untuk menuntut ilmu dan membuat celah bagi syaithon untuk menjauhkan ana dari jamaah sehingga membuat ukhuwah terpecah belah.

    Jazakalloh khoir ustadz atas perhatiannya, semoga ALLOH memberi taufiq kepada Anda, ana sangat menunggu sekali nasehatnya.afwan bila ada sesuatu yang tidak berkanan.
    wassalamu’alaykum warohmatulloh wabarokatuh.

    Bismillah,
    Walalikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh,(Alhamdulillah Kami Telah Kirim Via Email)

    Ukhti Fillah, Semoga Alloh Ta’ala Membalas keluarga dan suami dengan syurga karena keistiqomahan tersebut.
    Sudah menjadi sunnatulloh hidup didunia ini adalah ujian sebagaimana Alloh Ta’ala Telah Menyebutkan dalam banyak ayat, dalam hal ini ana hanya menukil beberapa ayat yang sangat bermanfat untuk kita merenungi dan menjadikan pegangan dalam bermuamalah dengan saudara-saudara kita, Yaitu firman-Nya:

    1.ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
    Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Al Mulk ayat 2

    2.وَمَآ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِى ٱلْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍۢ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًۭا
    Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelumu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? dan adalah Robmu Maha Melihat”Alfurqon ayat 20

    Kemudian Mari Kita Ingat Kembali didalam beragama ini ada beberapa tingkatan manusia sebagaimana dibahas dalam banyak kitab oleh para ulama, Alloh Ta’ala Berfirman :

    ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

    Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Fathir ayat 35:32

    1.Golongan Pertama: ظَالِمٌ لِنَفْسِه
    Maknanya merupakan sebutan bagi orang-orang muslim yang berbuat kurang beramal dalam sebagian kewajiban, ditambah dengan tindakan beberapa pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan, termasuk dosa-dosa besar(Tafsir Ibnu Katsir) Dan Disebutkan dalam firman-Nya Yang Lain Yang Mensifati mereka sebagaimana Dlam Tafsir Adwaul Bayan Yaitu Fiman-Nya

    وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    Dan orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Surat At-Taubah ayat 102

    2.Golongan Kedua: الْمُقْتَصِدُ
    Orang-orang yang termasuk dalam istilah ini, ialah mereka yang taat kepada Allah Azza wa Jalla tanpa melakukan kemaksiatan, namun tidak menjalankan ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla . Juga diperuntukkan bagi orang yang telah mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan saja. Tidak lebih dari itu.(Tafsir Adwaul Bayan)

    3.Golongan Ketiga: سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
    Kelompok ini berciri menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Azza wa Jalla dan menjauhi yang diharamkan . Selain itu, keistimewaan yang tidak lepas dari mereka adalah kemauan untuk menjalankan amalan-amalan ketaatan yang bukan wajib untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah Azza wa Jalla.(Tafsir Adwaul Bayan)

    Kemudian Allah Azza wa Jalla menjanjikan Syurga terhadap tiga golongan itu (Dengan Tingkatanya Masing Masing) , Allah Azza wa Jalla berfirman:

    جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

    Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Fâthir ayat 35:33

    Maka kita bisa mengambil faedah betapa luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla bagi umat ini, dan mereka semua dibalasi berdasarkan amal-amal mereka.Maka hendaknya kita bersabar dengan mereka dan memberikan contoh yang baik terhadap mereka dengan adab-adab yang mulia serta Berlomba-Lomba dalam kebaikan dengan mereka.Kami memeperhatikan dalam kalangan seperti ini hendaknya para umahat untuk mengambil satu sikap yang akan menhalau makar syaiton Yaitu KEIHKLASAN dalam bermuamalah dengan BUDI PEKERTI YANG MULIA.

    Jawaban :
    1.Kalau bersama dalam keadaan yang mubah dan tidak ada pelanggaran syariat didalamnya sesekali insyalloh tak mengapa, tapi kalau dirutinkan ini sesuatu yang kurang bermanfaat, karena akan lebih baik jika digunakan untuk kepentingan dakwah atau sarana dakwah,

    Apakah hal ini menunjukkan bahwa kami orang2 yang ujub dan ekstrim dalam memilih teman bergaul ustadz? Insyalloh tidak.dan itu fitrah yang baik untuk mengalihkan dengan sesuatu yang bermanfaat.Walaupun sesekali waktu ikut tidak mengapa.

    2.Bagaimana caranya agar tidak lelah dan menyerah untuk terus berusaha mencintai mereka karena ALLOH meskipun mereka tidak melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan?

    Yakinkan dengan ayat-ayat diatas dan Kita tambah bagusnya keihklasan kita. Dan Hendaknya kita terima nasehat yang bermanfaat dari mereka yang suka memberi nasehat walaupun kita sudah menjalankanya, Insyalloh itu mencukupi.

    Wallohu A’lam Bishowab.

    Akhukum Fillah
    Alfaqir Ilalloh Abu Amina Aljawiy dan Ustadz Rifa’i Ngawi Wallohul muwafiq

  80. Ayu Muslimah berkata

    Assalamu’alaikum..
    Mengenai aurat perempuan saya ingin bertanya:
    1. Pakaian muslimah yang sesuai syari’at Islam itu bagaimana? (tolong disertakan dengan gambar?)
    2. Bagaimana dengan warna, apakah perempuan muslimah bebas memakai warna apa saja atau ada ketentuan dalam Islam?
    Mohon jawaban beserta dalilnya yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits yang shohih.
    Jazakumullah Khoiron Katsiron

    Mohon maaf atas pertanyaan saya yang merepotkan, saya bingung sekali dalam masalah ini, dikarenakan banyak pendapat yang berbeda-beda, terutama masalah warna, saya takut pakaian yang saya kenakan (khususnya warna pakaian) tidak sesuai syari’at Islam. Saya mohon info juga, kalau ustadz tau info mengenai tempat untuk belajar/mengkaji Islam (khusus perempuan) yang tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Hadits yang shohih, mohon diinfokan ke saya, lokasi saya di Pontianak, Kalimantan Barat. Terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan ustadz.

    Via Ahki Ardian Ilmoe.com

    Jawaban :
    Bismillah, Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    1)Pakaian muslimah yang sesuai syariat yang paling bagus dan utama adalah Berhiijab (Bercadar) , Walaupun ada perbedaan pendapat dikalangan ulama salaf dan perbedaan ini sebatas pada masalah boleh tidaknya menampakan wajah dan Telapak Tangan, Ulama yang membolehkan menampakan telapak tangan dan wajah mereka pun mengakui keutamaan bagi wanita untuk bercadar Dan perbedaan ini tidak menjadikan perpecahan diantara kaum muslimin, Yang terpenting harap diperhatikan kriteria dalam berjilbab maupun berhijab :
    a.Tidak membentuk lekuk-Lekuk tubuhnya
    b.Tidak Menggambarkan bentuk tubuhnya
    c.Tidak Tipis menerawang
    d.Tidak bercorak yang menggoda (misal warna-warna terang :ping, kuning, dll)
    e.Harus Longgar dan lebar dan tebal dan tidak ketat
    f.Jika takut tampak betis dan lenganya bisa menggunakan sarung tangan/kaki yang tidak berwarna terang maupun yang menyerupai kulit.

    Dalil Dalilnya:
    a. Allah Ta’ala berfirman:
    وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka”. [An Nuur 31]

    وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
    “Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)

    b. Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka. ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata:
    مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
    “(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” ( Al Ahzab An Nuur: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (Rowahu. Bukhari 4759)

    c.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam hadits yang shahih:
    صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: رِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ وَنِساَءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسَهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ لاَ يَجِدْنَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
    “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang saat ini aku belum melihat keduanya. Yang pertama, satu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi, yang dengannya mereka memukul manusia. Kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka miring dan membuat miring orang lain. Kepala-kepala mereka semisal punuk unta, mereka tidak akan mencium wanginya surga. ”
    Makna mereka mengenakan pakaian akan tetapi hakikatnya mereka telanjang karena pakaian tersebut tidak menutupi tubuh mereka. Modelnya saja berupa pakaian akan tetapi tidak dapat menutupi apa yang ada di baliknya, mungkin karena tipisnya atau karena pendeknya atau kurang panjang untuk menutupi tubuh.
    Maka wajib bagi para muslimah untuk memperhatikan hal ini. (Al-Muntaqa Min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/158-159)

    2) Bukan dijadikan sebagai perhiasan dan Kebanggan/Kesombongan Dan Berwarna Warni
    a.Tidak bercorak yang menggoda (misal warna-warna terang :ping, kuning, dll) hendaknya memiliki satu warna saja bukan berbagai warna dan motif

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة ثم ألهب فيه النار.
    “Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian ia dibakar dalam Neraka”. [HR Abu Daud dan Ibnu Majah, hadits hasan]

    b.Tidak diberi parfum atau wewangian yang menyengat .Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    أَيُّماَ امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَليَ قَوْمٍ لِيَجِدوُا رِيْحَهَافهي زَانِيَةٌ.

    “Siapapun wanita yang mengenakan wewangian lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina”. [HR Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi, hadits Hasan]
    C. Tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian wanita kafir.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

    “Barangsiapa yang menyerupai kaum maka dia termasuk bagian dari mereka”. [HR Ahmad dan Abu Daud]

    3).Untuk Kajian dan Pondok Pontianak dan Sekitarnya coba hubungi ikhwah dibawah ini :
    Kontak Person : Abu Dzarr Ahmad Busyral Karim (0852 4 59 59 520), Anton Abu Saif 0852 52040037

    Wallohu A’lam Bishowab.
    Abu Amina Aljawiy
    Mahad Annashihah Cepu

  81. Riyadi Sugiutomo berkata

    Assalamualaikum ustadz,

    Istri saya meninggal dan saya kemudian menikah lagi. Namun istri kedua ini sering berlaku tidak adil terhadap anak-anak saya dari istri pertama, yang menyebabkan anak-anak suka membantah saya dan ibu tirinya tersebut. Bahkan saya kadang tidak tega dan memberikan uang kepada anak saya tanpa sepengetahuan istri saya ini

    Apakah berdosa si anak suka membantah ibu tirinya ini?
    Dan bagaimana sikap saya yang benar terhadap istri saya ini dan kepada anak-anak saya. saya ingin bersikap adil kepada keduanya?
    Apakah boleh saya berbohong dan menutupi kepada istri bahwa saya selama ini memberikan uang secara diam2?

    Mohon nasihatnya, ustadz.

  82. iwan berkata

    Bismillah, assalamu’alaykum warohmatulloh wa barokatuh.

    Mohon nasehatnya ustadz,
    kami hidup dilingkungan yang mayoritas masyarakatnya tidak mengenal sunnah, sehingga bagi kami yang hanya berjumlah 4 kepala keluarga menjalankan sunnah selalu menjadi perbincangan masyarakat (dianggap aneh bahkan ada yang mengaggap sesat).

    hari demi hari kami lalui dengan selalu bersabar dalam menanggapi segala cerita2 yang tersebar dimasyarakat tentang kami. akhirnya seiring dengan waktu ada beberapa orang yang ikut dalam menjalankan sunnah (jumlah yang menjalankan sunnah bertambah).

    yang membuat masyarakat tidak suka karena kita tidak mau ikut kebiasaan2 ibadah masyarakat pada umumnya, seperti : wiridan, tahlilan, kenduri, dzikir & do’a secara berjamaah yang dipimpin imam setelah sholat fardhu di masjid, dll.

    tidak tau apa yang ada dalam benak masyarakat tentang keberadaan kami, akhirnya kami mendengar bahwa masyarakat tidak menyukai keberadaan kami, sehingga kampung sebelahpun telah terprofokasi dan membenci keberadaan kami, sampai-sampai diisyukan ada santri2 dari POSPES setempat yang katanya akan mengusir kami.

    singkat kata kami-pun (LK2) sekarang dilarang mengikuti sholat berjama’ah di masjid kampung. kami diijinkan untuk sholat berjama’ah kembali di masjid dengan persyaratan kami harus mengikuti dzikir & do’a berjama’ah yang mereka lakukan yang dipimpin oleh imam. jika kami tidak mau maka kami dilarang masuk ke dalam masjid, bahkan sekarang disamping pintu masjid telah terpampang tulisan “FAHAM / AJARAN BARU DILARANG MASUK KE MASJID”. jika kami sholat di kampung sebelah dikhawatirkan masyarakatnya juga akan melakukan hal yang sama karena telah terprofokasi dengan masyarakat kampung kami.

    SUBHANALLAH . . . , kami sangat terkejut hal ini .. .

    bagaimana ustadz, jika dalam keadaan seperti ini kami melakukan sholat 5 waktu secara berjamaah dengan keluarga kami masing2 dirumah kami masing2, apakah diperbolehkan? atau kami harus tetap mencari masjid kampung yang lain untuk melaksanakan sholat berjama’ah sementara jaraknya jauh (kl dengan sepeda motor akan membutuhkan waktu 20 s/d 25 menit untuk sampai ke masjid itu yang kemungkinan masyarakatnya tidak mengenal kami).

  83. Muhammad hatta berkata

    Ana tinggal di tanjung-kalsel.ana minta no hp ustadz yg bs akhwan hubungi bila trjdi sesuatu persoalan

    Bismillah, Kalu Kalsel Bapak Bisa ke http://kajianbanjar.info/, kalau no hp kami bisa sms kesini admin mahad Abu Yusuf 085225987259 atau Abu Jihad JR 081575915666 , nanti akan diberi no hp asatidz, Wallohul muwafiq.

  84. Muh.sarkasim berkata

    Bismillah..
    Assalamualaikum.wr.wb’
    ustadz, mhon tanggapannya? wktu sy pimpin imam sholat magrib, pda waktu itu d,roka’at ke 2 setelah membca surat alfatiha saya mengambil surah Ash-shams tapi pada saat itu saya lupa sambungan ayatnya dua kali sy ulangi bacaan surat itu tetapi msih saja lupa, jdi saya menggantinya dengan surah lain. bagaimana pendpat ustadz apakh tidak apa2 ??
    “syukran ustadz..

    Waalaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh,
    Insyalloh tidak mengapa Membaca surat lainya, atau boleh langsung rukuk.Wallohu A’lam.Waiyyakum Ahki.

  85. Hamba Alloh berkata

    Saya mau nanya,,,Pada zaman Rosululloh Zakat menggunakan Gandum, Apakah Anda menggunakan Gandum ? Pada Zaman Rosululloh kendaraan yang digunakan untk beribadah menggunakan Onta, Apakah anda menggunakan Onta ? Pada zaman Rosululloh tidak ada Al-Quran seperti zaman sekarang, Apakah anda menggunakan Al-Qur’an seperti saat ini ? Dan Jika anda mengganggap bahwa do’a do’a kami untuk orang tua kami hususnya dan umumnya untuk orang mu’min tertolak, bagaimana dengan hadits ini :

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) ? Pada zaman Rosululloh Tidak ada 1 orang pun yang berda’wah menggunakan internet,saat ini anda berda’wah menggunakan internet, bagaimana pendapat anda ? Ketahuilah sadaraku, selain Al-Qur’an dan Hadits kita juga harus bepegang pada Qiyas dan Ijma’,,,karena itu rosul pernah bersabda

    عن العرباض بن سارية قال: صلى بنا رسول الله ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
    “Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll)

    Semoga Allah Mengampuni Ke alfaan Kita…amiiiin

    Jawaban :
    Bismillah.Kami tidak suka berdebat tanpa ilmu, Insyalloh kami bisa menerangkan secara gamblang kepada saudara, tentang beberapa point pertanyaan/komentar saudara diatas.

    1.Adapun Pertanyaan saudara : Saya mau nanya,,,Pada zaman Rosululloh Zakat menggunakan Gandum, Apakah Anda menggunakan Gandum ?

    Jawaban: Hadits dibawah ini cukup untuk menjawab pertanyaan Saudara , ana tidak perlu menambah perkataan para ulama untuk menjelaskan ini, karena sangat gamblang dalam hadits tersebut menyebut “ZAKAT DENGAN MAKANAN POKOK” jadi apa yang anda pikirkan sudah terkalahkan ( Walaupun kami faham maksud anda adalah berkisar pada Bi’dah Fidien tapi sayangnya anda tidak memahami makna bid’ah itu sendiri), semoga membuat anda merenung dan menjadi hamba ilmiah serta berfikiran luas:

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا
    مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarhi Al ‘Amiriy bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha’ dari Makanan pokok atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari keju (mentega) atau satu sha’dari kismis (anggur kering) “Rowahu Bukhariy No:1410

    2.Adapun Pertanyaan saudara: Pada zaman Rosululloh tidak ada Al-Quran seperti zaman sekarang, Apakah anda menggunakan Al-Qur’an seperti saat ini?

    Jawaban :
    Kami tidak mengerti maksud penanya dengan mengatakan Alquran zaman Sekarang Tidak Sama Dengan Alquran Dizaman Rosul Shollollohualai wassalam, Terus yang dimaksud bagaimana?
    -Apakah kita semua umat islam memakai Alquran palsu?
    -Apakah ada alquran yang lain?
    -Dan tentu alquran dari dulu ya seperti yang kita baca sekarang ini.
    -Atau mungkin maksud penanya tentang harokat dan pengumpulan lembaran-lembarannya?Jika ini yang dimaksud sebagaimana hujahnya ahlul jahil untuk melegalkan pengamalan ajaran-ajaran baru mereka,
    Dengan mengatakan “ALQURAN DIZAMAN NABIKAN BELUM DIKUMPULKAN DAN DITULIS Kemudian Para sahabat menulis dan mengumpulkanya bukankan ini Dasar adanya Bi’dah Hasanah?”

    أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رِضْوَانُ اللَّهُ عَلَيْهِ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ جَالِسٌ عِنْدَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ عُمَرَ جَاءَنِي فَقَالَ: إِنَّ الْقَتْلَ قَدِ استحرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بقُرّاء الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَستَحِرَّ الْقَتْلُ فِي الْمَوَاطِنِ كُلِّهَا فَيَذْهَبُ مِنَ الْقُرْآنِ كَثِيرٌ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟! فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ يُرَاجِعُنِي فِي ذَلِكَ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ عُمَرَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى فَقَالَ لِي أَبُو بَكْرٍ: إِنَّكَ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نتَّهمك وَقَدْ كُنْتَ تُكْتَبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ قَالَ زَيْدٌ: فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنَ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ: فَكَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ قَالَ: فتتبَّعت الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنَ الرِّقَاعِ واللِّخاف والعُسُب وَصُدُورِ الرِّجَالِ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التَّوْبَةِ مَعَ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ لَمْ أَجِدْهَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرِهِ {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ} [التوبة: 128]ـ خَاتِمَةُ {براءة} [التوبة: 1][ص:476] قَالَ: فَكَانَتِ الصُّحُفُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ

    Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengutus seseorang kepadaku (untuk memanggilku) tatkala peristiwa peperangan Yamamah. Tiba-tiba Umar radhiallahu ‘anhu duduk di sisinya. Lalu Abu Bakar berkata, “Umar telah datang kepadaku dan berkata, “Bahwasanya peperangan sangat sengit terhadap para qoori’ al-Qur’an dari kalangan para sahabat tatkala peperangan Yamamah (yaitu peperangan melawan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab si nabi palsu, yang mengakibatkan meninggalnya sekitar 700 para sahabat atau lebih-pen). Aku khawatir jika terjadi peperangan yang sengit di seluruh peperangan maka akan hilang banyak dari ayat-ayat al-Qur’an. Menurutku hendaknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan al-Qur’an.” Lalu aku (Abu Bakar) berkata, “Bagaimana aku melakukan suatu perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka Umar berkata, “Demi Allah ini adalah perbuatan yang baik”. Dan Umar terus menasehati aku untuk melakukannya hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku terhadap perkara yang Allah telah melapangkan dada Umar terhadapnya. Dan aku lalu berpendapat sebagaimana pendapat Umar”
    Lalu Abu Bakar berkata kepadaku (Zaid bin Tsaabit), “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang kami tidak menuduh/mencurigaimu, dan engkau dulu telah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaknya engkau menelusuri al-Qur’an dan kumpulkanlah”.
    Zaid berkata, “Demi Allah kalau seandainya Abu Bakar menugaskan aku untuk memindahkan sebuah gunung dari kumpulan gunung maka hal itu tidaklah lebih berat dari tugas Abu Bakar kepadaku untuk mengumpulkan al-Qur’an”. Aku berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Abu Bakar berkata, “Demi Allah ini merupakan perkara yang baik”. Dan Abu Bakar terus mendatangiku dan menasehatiku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku terhadap perkara yang Allah lapangkan dada Abu Bakar dan Umar terhadapnya”. Maka akupun menelusuri al-Qur’an yang paling lengkap dari lembaran-lembaran (baik kertas atau kulit), dari batu-batu tulis, dari pelepah korma, dan dari dada-dada para lelaki (penghapal al-Qur’an), hingga aku mendapati akhir dari surat At-Taubah ada pada Khuzaimah bin Tsaabit Al-Anshooriy, aku tidak menemukan dari selain beliau…… Maka lembaran-lembaran Al-Qur’an tersebut berada di Abu Bakar hingga akhirnya Allah mewafatkan beliau, lalu berada di Umar hingga Allah mewatkan beliau lalu berada di Hafshoh binti Umar” (HR Al-Bukhari no 4679, At-Thirmidzi no 3103, Ibnu Hibban no 4506)

    Apakah anda tidak melihat dari hadits diatas siapa yang bersepakat ?para Khalifah yang rasyid bukan ? Kalau iya bukankan Ahlu Sunnah Sepakat : Sumber Hukum Itu Adalah Alquran, Sunnah Nabi, Dan Ijma’/Kesepakatan Sahabat Serta Qiyas Dengan Syarat-yaratnya. Lalu apakah anda tidak melihat dalam hadits diatas siapa yang bersepakat? Saya Ulangi lagi mereka adalah Khalifah yang rasyid Dan MEREKA BUKAN KYAI YANG DIKYAIKAN AHKI, MEREKA BUKAN USTADZ YANG MENJUAL AQIDAHNYA DENGAN WANITA, HARTA DAN PEMAHAMAN SYIAH, JADI JANGAN DISAMAKAN KESEPAKATAN MEREKA( PARA SAHABAT ) DENGAN KESEPAKATAN KYAI-KYAI YANG DIKYAIKAN ATAU ORAGANISASI TERTENTU (ORANG AWAMPUN PAHAM SIAPA KYAI KAMPUNG, SIAPA SAHABAT NABI DAN SIAPA KHALIFAH)

    Mereka para sahabat mulia yang rosul berwasiat sebagaimana hadits yang anda bawa diatas yaitu :
    و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)

    Aku wasiatkan kaitan untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dar-i Habsyi.” Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba’ kepada sunnahnya dan sunnah para khalifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: “Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap kebid’han adalah sesat.” (HR Tirmidzi).

    Dalil untuk TAAT mengikuti kepada mereka Khalifah yang rasyid , bukan sebagai PELEGALAN untuk mengikuti PAK KYAI YANG DIKYAIKAN YANG MEMBUAT AJARAN – AJARAN BARU YANG ADA YANG MEREKA SEBUT BID’AH HASANAH ALA MEREKA: SEMISAL TAHLILAN DLL, (SEKALI LAGI ANDA SIAPA DAN MEREKA PARA SAHABAT SIAPA? SEKALI LAGI ANDA SIAPA DAN PARA SAHABAT ITU SIAPA?KALAU UMAR IBNU KHOTOB RADHIALLOHUANHU SAJA TIDAK BERANI MEMBUAT AMALAN-AMALAN BARU DAN HANYA MENGATAKAN BID’AH HASANAH SECARA BAHASA, DEMIKIAN JUGA IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLAH YANG MEMBAGI ADANYA BID’AH HASANAH DAN TIDAK PERNAH MENCIPTAKAN AMALAN BARU, MAKA HENDAKNYA KITA SEMUA BERCERMIN DIRI SIAPA KALIAN SEHINGGA BERANI MENDAHULUI ALLOH, ROSULNYA, DAN PARA SAHABAT DALAM BERBUAT. MAKA INGATLAH Firman Alloh Ta’ala Wahai saudara :

    ”يا أيها الذين آمنوا لا تُقدِّموا بين يدَيِ الله و رسولِه ، و اتقوا الله إن الله سميعٌ عليم ” (سورة الحجرات)

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hu-jurat:1)

    DAN JIKA KAUM MUSLIMIN MAU JUJUR MAKA SANGAT GAMBLANG DAN JELAS KEMANA MERAKA HARUS KEMBALI YAITU SEBAGAIMANA Firman-Nya:

    “فإنْ تنازعتُم في شيء فرُدُّوه إلى الله و الرسول إنْ كنتم تؤمنون بالله و اليوم الآخر ، ذلك خير و أحسن تأويلا” (سورة النساء)

    “Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.“ (An-Nisaa’: 59)

    Mengenai komentar anda tentang Penambahan Harokat dan pengumpulanya , Coba anda perhatikan Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang penulisan dan pengumpulan Alquran :
    لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ
    “Janganlah kalian menulis dariku, barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an maka hapuslah” (HR Muslim no 3004).
    Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur’an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hadits ini menunjukan dengan gamblang bolehnya mencatat Alquran dan Kalau dicatat tentu dikumpulkan disuatu tempat dan lembaran,

    Kemudian Perhatikan Makna kata كتب :

    Kata “kitab” (كتاب) adalah mashdar (bentuk ketiga) dari kata : كتب – يكتب – كتابا – و كتابة – وكتباً

    Dan arti kata ini berkisar pada makna “mengumpulkan”

    Seperti ucapan تكتب بنو فلان berarti “Bani Fulaan berkumpul”

    Itu semua menunjukan dengan jelas bahwa Alquran Dijaman Rosul telah dikumpulkan dan ditulis akan tetapi tidak selengkap dalam satu tempat seperti sekarang (30 juz lengkap) , Karena ada kekhawatiran Alloh Ta’ala akan menghapus beberapa perintah dan larangan sebagaimana penjelasan para ulama.

    Perhatikan Sabda Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُسَافَرَ بِالْقُرْآنِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ
    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa al-Qur’an ke negeri musuh (HR Al-Bukhari no 2990 dan Muslim no 1869)
    Ini merupakan isyarat bahwasanya al-Qur’an akan ada terkumpulkan di umat ini dan akan mudah di bawa dalam safar. (Lihat Ahkaamul Qur’aan karya Abu Bakr Ibnul ‘Arobi)

    Kesimpulan : Bahwa menulis dan mengumpulkan Alquran bukan “Bid’ah” tapi sudah ada isyarat dari zaman nabi dan diteruskan khalifah yang rasyid, Akan tetapi para sahabat sangat hati-hati karena takut terjatuh kedalam sesuatu yang nabi belum memerintahkanya mengumpulkan menjadi satu. Kemudian Pengumpulanya dan penambahan harokat serta titik-titik pada setiap hurufnya adalah masuk dalam Mashalih Mursalah Yaitu maslahat-maslahat yang terabaikan atau tidak ada dalil khusus yang menetapkan atau menolaknya akan tetapi ia sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at ( Mukhtasar Al I’tisham Imam Asy Syathiby)
    Dan bagi awam terkadang karena ketidaktaunya mencapur adukan bahkan menyamakan, ini jelas terlihat pada diri pemberi komentar.

    TAMBAHAN: Adapun perkataan Umar Ibnu Khotob tentang “BID’AH HASANAH” yang dalam atsar beliau ucapkan, Semisal dalam Atsar SHALAT TARAWIH BERJAMAAH DIZAMAN BELIAU. Apakah anda pake juga untuk melegalkan bi’dah hasanah anda? padahal telah jelas bahwa Rosul Sholollohualaihi wassalam telah melakukan sholat tarawih berjamaah dimasa belaiu, Maka dapat disimpulkan Bid’ah hasanah yang dimaksud Umar Ibnu Khotob adalah Yang sudah lama terputus dikerjakan dan tidak kerjakan lagi kemudian dikerjakan lagi pada zamanya beliau, Ini menunjukan ungkapan secara bahasa saja, Perbuatan Umar Ibnu Khotob sangat BERBANDING TERBALIK DENGAN PERBUATAN KALIAN, KARENA KALIAN MENGANGGAP PERKATAAN UMAR RADHIALLOHUANHU TERSEBUT SEBAGAI DALIL melegalkan setiap orang boleh membuat tata cara sendiri dalam beribadah, Kami kawatir anak cucu kita tidak kebagian sunnah nabi karena banyaknya PENCIPTA AJARAN BARU.
    INSYALLOH JIKA SETIAP DIRI MAU MERENUNG JUJUR PASTI AKAN RUJUK KEPADA KEBENARAN, TAPI KALAU HANYA FANATIK BUTA SAMA KYAINYA SIAPAPUN YANG MENJELASKANYA AKAN DIACUHKAN, APALAGI DOKTRIN SANG KYAI DENGAN LABEL “SETIAP YANG BERBEDA DENGANYA DIBILANG WAHABI” DAN MELABELI SETIAP UCAPAN KYAINYA ADALAH AHLU SUNNAH ini menunjukan ketidak jujuran Sang KYAI YANG DIKYAIKAN tersebut serta sikap ujub dan merendahkan orang lain.

    Wallohu A’lam Bishowab.

    3.Untuk jawaban berikutnya karena kami ada keperluan, insyalloh dilanjut nanti…

    Note :Sebagai tambahan pengetahuan, Coba saudara pemberi komentar klik link dibawah ini saja fahami komentar-komentar kami dan saudara-saudara pemberi komentar lainya yang sudah mengaku salah dan berterima kasih kepada kami, akan ketergesaan didalam berkomentar dan semangat tanpa ilmunya dalam masalah-masalah yang anda sebutkan diatas= semisal tahlilan dll . Wallohul Musta’an

    http://abuamincepu.wordpress.com/2009/07/03/ahlussunnah-wal-jamaah-siapakah-mereka/?preview=true&preview_id=1011&preview_nonce=7e76095765

  86. Ogi'na Mannaga berkata

    assalamualaikum uztad,,,

    1.saya pribadi ingin bertaubat.. tapi saya masih tidak bisa memenuhi kewajiban untuk sholat,, apa yang harus saya lakukan uztad supaya saya rajin sholat.. karena jujur saja pekerjaan ku sangat padat. 12jam kerja dalam 1 hari..

    2.g mana caranya supaya bangun subuh tepat, kalau waktu kerja masuk jam 9pagi dan pulang jam 9 malam. itupun ketika pulang kerja tidak lasung tidur. nyantai dulu krn capek…

    3, dan terakhir,, apakah sholat saya sah ??krn saya tidak tahu baca2an sholat, hanya gerakan yang saya peraktekan..

  87. Jumran M. Lahakaim berkata

    assalamualaikum..
    Ustad ana mau tanya..Golongan yg Di Akui Alloh Yang Mana Ustad Soalnya Ana Bingung Ni.Tollong Di jeleskan Ustad

  88. angling dharma berkata

    assalamualaikum…
    ustad ana mau tanya…,kalau minta maaf sama binatang kucing kesayangan yg sudah meninggal apa bisa dosa di ampuni sama Allah Swt. karena saya punya salah sama binatang kucing kesayang saya.

    1.saya tiap malam sering mandikan kucing kesayang saya tapi kucing saya juga berontak gak mau di mandikan.
    2.kadang saya juga gemes kadang saya jewer jangutnya.

    nah yang ana tanya kan. apa Allah Swt. menerima ampunan saya,sekarang kucing saya sudah meninggal di tabrak mobil
    pas meninggal saya minta maaf sama kucing saya apa Allah Swt menerima maaf saya,
    maaf kalau pertanya’an saya ini di anggap aneh,karena tiap hari saya sering menangis dan merasa berdosa sampe sekarang saya masih teringat kucing saya.
    mohon tanggapan dari ustad.

  89. Indra Perdana berkata

    Saya seorang pekerja di sebuah perusahan swasta, saya digaji setiap bulan.

    Kemudian ada kotraktor yg bekerja di perusahaan, maka nilai kotrak kami atur sehingga saya mendapat bagian dari kotrak itu, namun harga total tetap disesuaikan tidak melebihi standar. Namun hal ini tdk diketahu pimpinan Perusahan.

    Baru-baru ini saya menyadari harta yg saya dapatkan ini merupakan Risywah.

    Maka mohon saran dan masukan cara bertobat dari harta haram ini.

    Secara umum dana yg bisa sy hitung dan ingat sebesar 2 Milyar Rupiah.

    Saat ini disaya semua dana ada 1.4 Milyar Rupiah dan ada sisa 600 jt yg sdh terpakai, saya berniah jujur kepada pimpinan dan mengembalikan 1.4 Milyar sedangkan 600 jt yg sdh saya pakai apakah harus saya ganti dengan menjual Rumah, Tanah dan Mobil.

    Bismillah.Washolatu wassalam ala rosulihi sholollohualaihi wassalam,
    Saudara Indra yang budiman, semoga Alloh ta’ala membalas kejujuran saudara dan niatan yang mulia saudara dengan yang lebih baik dan berberkah dan jangan berputus asa dari rahmat Alloh ta’ala walaupun dikala berbagai masalah kehidupan menimpa saudara, ada beberapa yang bisa kami jelaskan:

    Pertama, Orang yang mengambil sesuatu bukan haqnya diwajibkan mengembalikan uang yang telah diambilnya, sekalipun uang tersebut sudah kurang atau telah habis digunakan. Perusahaan berhak untuk menyita harta saudara yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.

    Hukum ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).

    Kedua, hukuman ta’zir.
    Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud.
    Kejahatan mengambil uang perusahaan dengan cara tidak seizin pemiliknya serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.

    Jenis hukuman ta’zir diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk, Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.Semoga Alloh ta’ala anugerahi keberkahan dalam harta antum setelah bertaubat kepada Alloh ta’ala.

    Wahai saudara coba renungkanlah Firman Alloh dan sabda nabi dibawah ini :

    : قال تعالى

    إِنَّمَا مَثَلُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ ٱلنَّاسُ وَٱلْأَنْعَٰمُ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَآ أَنَّهُمْ قَٰدِرُونَ عَلَيْهَآ أَتَىٰهَآ أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًۭا فَجَعَلْنَٰهَا حَصِيدًۭا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِٱلْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

    Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.Yunus 24.

    وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًۭا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ مُّقْتَدِرًا

    ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا

    Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.Alkahfi 45-46

    ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.Alhadid 20

    عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الدنيا حلوة خضرة وإن الله تعالى مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون فاتقوا الدنيا واتقوا النساء رواه مسلم

    Dari Abu Said Radhiyallahu ‘anhu pula bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau dan sesungguhnya Allah menyerahkan kepada kalian semua didalamnya . Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau semua perbuat ata dunia ini. Maka berhati-hatilah terhadap dunia dan hati hatilah terhadap wanita.” (Riwayat Muslim)

    وعن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم لا عيش إلا عيش الآخرة متفق عليه

    Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah. Tidak ada kehidupan yang sesungguhnya melainkan kehidupan akhirat.” (Muttafaq ‘alaih)

    وعنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يتبع الميت ثلاثة أهله وماله وعمله فيرجع اثنان ويبقى واحد يرجع أهله وماله ويبقى عمله متفق عليه

    Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu pula dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sabdanya: “Ada tiga macam mengikuti mayat itu- ketika di bawa ke kubur, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya.” (Muttafaq ‘alaih)

    وعنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤتي بأنعم أهل الدنيا من أهل النار يوم القيامة فيصبغ في النار صبغة ثم يقال يا ابن آدم هل رأيت خيرا قط هل مر بك نعيم قط فيقول لا والله يارب ويؤتى بأشد الناس بؤسا في الدنيا من أهل الجنة فيصبغ صبغة في الجنة فيقال له يا ابن آدم هل رأيت بؤسا قط هل مر بك شدة قط فيقول لا والله ما مر بي بؤس قط ولا رأيت شدة قط رواه مسلم

    Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu pula, katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan didatangkanlah orang yang paling nikmat kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu dicelupkan dalam neraka sekali celupan, lalu dikatakan: “Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan- keenakan sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu(Dunia) sekalipun sedikit?” Ia berkata: “Tidak.demi Allah, ya Robku”- yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali.

    Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga, lalu dikatakan padanya: “Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kesengsaraan, walaupun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah menghampirimu walaupun sedikit?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali,” – yakni setelah merasakan kenikmatan syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim)

    وعن المستورد بن شداد رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما الدنيا في الآخرة إلا مثل ما يجعل أحدكم أصبعه في اليم فلينظر بم يرجع رواه مسلم

    Dari al-Mustaurid bin Syaddad Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Tidaklah dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seseorang di antara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cobalah lihat dengan apa ia kembali – yakni, seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu. Jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya.” (Riwayat Muslim)

    وعن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر بالسوق والناس كتفيه فمر بجدي أسك ميت فتناوله فأخذ بأذنه ثم قال أيكم يحب أن يكون هذا له بدرهم فقالوا ما نحب أنه لنا بشيء وما نصنع به ثم قال أتحبون أنه لكم قالوا والله لو كان حيا كان عيبا إنه أسك فكيف وهو ميت فقال فو الله للدنيا أهون على الله من هذا عليكم رواه مسلم قوله كتفيه أي عن جانبيه و الأسك الصغير الأذن

    Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melalui pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor anak kambing kecil telinganya dan telah mati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: “Siapakah di antara engkau semua yang suka membeli ini dengan uang sedirham?” Orang-orang menjawab: “Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu apapun dan akan kita gunakan untuk apa itu?” Beliau bertanya lagi: “Sukakah kalain semua kalau ini diberikan saja padamu.” Orang-orang menjawab: “Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat karena ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu mati?” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua.” (Riwayat Muslim)

    وعن أبي ذر رضي الله عنه قال كنت أمشي مع النبي صلى الله عليه وسلم في حرة بالمدينة فاستقبلنا أحد فقال يا أبا ذر قلت لبيك يا رسول الله فقال ما يسرني أن عندي مثل أحد هذا ذهبا تمضي علي ثلاثة أيام وعندي منه دينار إلا شيء أرصده لدين إلا أن أقول به في عباد الله هكذا وهكذا عن يمينه وعن شماله ومن خلفه ثم سار فقال إن الأكثرين هم الأقلون يوم القيامة إلا من قال بالمال هكذا وهكذا عن يمينه وعن شماله ومن خلفه وقليل ما هم ثم قال لي مكانك لا تبرح حتى آتيك ثم انطلق في سواد الليل حتى توارى فسمعت صوتا قد ارتفع فتخوفت أن يكون أحد عرض للنبي صلى الله عليه وسلم فأردت أن آتيه فذكرت قوله لا تبرح حتى آتيك فلم أبرح حتى أتاني فقلت لقد سمعت صوتا تخوفت منه فذكرت له فقال وهل سمعته قلت نعم قال ذاك جبريل أتاني فقال من مات من أمتك لايشرك بالله شيئا دخل الجنة قلت وإن زني وإن سرق قال وإن زنى وإن سرق متفق عليه وهذا لفظ البخاري

    Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu tempat yang berbatu hitam di Madinah, lalu berhadap-hadapanlah gunung Uhud dengan kita, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai Abu Dzar.” Saya berkata: “Labbaik, ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Tidak menyenangkan padaku andaikata saya mempunyai emas sebanyak gunung Uhud ini, sampai berlalu tiga hari lamanya, di antaranya ada sedinar saja yang saya simpan untuk memenuhi hutang, kecuali saya akan mengucapkan dengan memberikan harta itu untuk para hamba Allah demikian demikian demikian.” Beliau menunjuk ke sebelah kanan, kiri dan belakangnya – maksudnya bahwa kalau beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai harta sebanyak Uhud dan berupa emas, apalagi lainnya, tentu akan disedekahkan kepada hamba-hamba Allah semuanya, kecuali sedinar saja yang akan disimpan jikalau ada hutang yang belum ditunaikannya dan harta sebanyak itu akan dihabiskan membelanjakannya dalam tiga hari saja.Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan, lalu bersabda lagi: “Sesungguhnya orang-orang yang kayaraya dengan harta dunia itulah yang tersedikit pahala akhiratnya pada hari kiamat nanti, melainkan orang yang berkata demikian, demikian dan demikian – yakni membelanjakan hartanya itu untuk kebaikan.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke kanan, kiri dan belakangnya. Sabdanya lagi: “Tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukan demikian tadi.” Seterusnya beliau bersabda padaku: “Tetaplah engkau di tempatmu ini. Jangan berpindah – yakni meninggalkan tempat itu, sampai saya datang padamu nanti.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dalam malam yang kelam itu sampai tertutup dari pandangan. Kemudian saya mendengar suara yang keras sekali, lalu saya merasa takut barangkali ada seseorang yang hendak berbuat jahat pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Saya ingin hendak mendatanginya, tetapi saya ingat akan sabdanya: “Janganlah engkau meninggalkan tempat ini sampai saya datang padamu.” Oleh karena itu saya tidak meninggalkan tempat itu sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang padaku. Kemudian saya berkata: “Saya telah mendengar suatu suara yang saya merasa ketakutan padanya,” lalu saya ingatkan bunyi suara itu pada beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Adakah engkau mendengarnya?” Saya menjawab: “Ya.” Beliau lalu bersabda: “Itu tadi adalah suara Jibril yang datang padaku, lalu ia berkata: “Barangsiapa yang meninggal dunia dari ummatmu, yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia akan masuk syurga.” Saya bertanya: “Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri?” Beliau menjawab: “Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri.” (Muttafaq ‘alaih)

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لو كان لي مثل أحد ذهبا لسرني أن لا تمر علي ثلاث ليال وعندي منه شيء إلا شيء أرصده لدين متفق عليه وعنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من فوقكم فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم متفق عليه وهذا لفظ مسلم وفي رواية البخاري إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sabdanya: “Andaikata saya memiliki emas sebanyak gunung Uhud, niscaya saya tidak senang kalau berjalan sampai lebih dari tiga hari, sedangkan disisiku masih ada emas itu sekalipun sedikit,kecuali kalau yang sedikit tadi saya sediakan untuk memenuhi hutang – yang menjadi tanggunganku. (Muttafaq ‘alaih)

    وعنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال تعس عبد الدينار والدرهم والقطيفة والخميصة إن أعطي رضي وإن لم يعط لم يرض رواه البخاري

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pula dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sabdanya: “Binasalah – yakni celakalah – orang yang menjadi hambanya dinar – emas – dan dirham – perak, Kain beludru sutera serta pakaian. Jikalau ia diberi itu relalah hatinya dan jikalau tidak diberi, maka tidaklah rela (Riwayat Bukhari)

    وعنه رضي الله عنه قال لقد رأيت سبعين من أهل الصفة ما منهم رجل عليه رداء إما إزار وإما كساء قد ربطوا في أعناقهم فمنها ما يبلغ نصف الساقين ومنها ما يبلغ الكعبين فيجمعه بيده كراهية أن ترى عورته رواه البخاري

    D ari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pula katanya: “Saya benar-benar telah melihat tujuh puluh orang dari ahlus-shuffah – orang-orang Islam yang fakir-miskin, [48] tidak seorangpun dari mereka yang mengenakan selendang, ada kalanya bersarung dan ada kalanya berbaju. Mereka mengikatkan pada lehernya masing-masing. Di antaranya ada pakaiannya itu hanya sampai pada setengah dari kedua betisnya dan di antaranya ada pula yang sampai di kedua mata kakinya, lalu dikumpulkannyalah dengan tangannya karena tidak suka terlihat auratnya.” (Riwayat Bukhari)

    وعنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر رواه مسلم

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pula, katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Dunia ini adalah penjara bagi orang mu’min (kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga pent ) dan syurga bagi orang kafir (Jika dibandingkan dengan siksa di neraka)” (Riwayat Muslim)

    وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنكبي فقال كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل وكان ابن عمر رضي الله عنهما يقول إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك رواه البخاري قالوا في شرح هذا الحديث معناه لا تركن إلى الدنيا ولا تتخذها وطنا ولا تحدث نفسك بطول البقاء فيها ولا بالاعتناء بها ولا تتعلق منها إلا بما يتعلق به الغريب في غير وطنه ولا تشتغل فيها بما لا يشتغل به الغريب الذي يريد الذهاب إلى أهله وبالله التوفيق

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma.katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk kedua belikatku, lalu bersabda:“Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang asing atau sebagai orang yang menyeberangi jalan “Ibnu Umar berkata: “Jikalau engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi dan jikalau engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore – untuk beramal baik itu, ambillah kesempatan sewaktu engkau sihat untuk masa sakitmu, sewaktu engkau masih hidup untuk masa matimu.” (Riwayat Bukhari) Para alim-ulama mengatakan dalam syarahnya Hadis ini: “Arti-nya ialah: Janganlah engkau terlampau cinta pada dunia, jangan pula dunia itu dianggap sebagai tanahair, juga janganlah engkau mengucapkan dalam hatimu sendiri bahwa engkau akan lama kekalmu di dunia itu. Selain itu janganlah pula amat besar perhatianmu padanya, jangan tergantung padanya, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan menggantungkan diri pada negeri orang yakni yang bukan tanahairnya sendiri. Juga janganlah bekerja di dunia itu, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan berbuat sesuatu di negeri orang tadi – yakni yang diperbuat hendaklah yang baik-baik saja supaya meninggalkan nama harum di negeri orang, karena pasti ingin kembali ke tempat keluarganya semula. Wa billahit taufiq.

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال ذكر عمر بن الخطاب رضي الله عنه ما أصاب الناس من الدنيا فقال لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يظل اليوم يلتوي ما يجد من الدقل ما يملأ به بطنه رواه مسلم الدقل بفتح الدال المهملة والقاف ردئ التمر

    Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Umar bin Alkhaththab Radhiyallahu ‘anhu menyebut-nyebutkan apa yang telah didapatkan oleh orang banyak dari hal dunia, lalu katanya: “Sungguh saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkerut pada hari ini, beliau tidak mendapatkan kurma yang bermutu rendahpun untuk mengisi perutnya.” (Riwayat Muslim)

    وعن عائشة رضي الله عنها قالت توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يأكله ذو كبد إلا شطر شعير في رف لي فأكلت منه حتى طال علي فكلته ففني متفق عليه شطر شعير أي شيء من شعير كذا فسره الترمذي

    ari Aisyah Radhiyallahu ‘anha , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sedang di rumahku tidak ada sesuatu apapun yang dapat dimakan oleh seseorang yang berhati – maksudnya oleh manusia yang hidup, melainkan sedikit gandum yang ada di rakku. Kemudian saya makan daripadanya sampai lama halku sedemikian itu, kemudian saya takarlah itu lalu habislah.” (Muttafaq ‘alaih)

    وعن عمر بن الحارث أخي جويرية بنت الحارث أم المؤمنين رضي الله عنهما قال ما ترك رسول الله صلى الله عليه وسلم عند موته دينارا ولا درهما ولا عبدا ولا أمة ولا شيئا إلا بغلته البيضاء التي كان يركبها وسلاحه وأرضا جعلها لابن السبيل صدقة رواه البخاري

    Dari ‘Amr bin al-Harits, yaitu saudaranya Juwairiyah binti al-Harits Ummul mu’minin radhiallahu’anhuma-jadi isterinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan dirham, tidak pula dinar, hambasahaya lelaki ataupun perempuan, atau apapun juga ketika wafatnya, melainkan hanyalah keledai putihnya yang dahulu dinaikinya, juga senjatanya, serta sebidang tanah yang dijadikan sebagai sedekah kepada ibnussabil – orang yang dalam perjalanan.” (Riwayat Bukhari)

    وعن خباب بن الأرت رضي الله عنه قال هاجرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم نلتمس وجه الله تعالى فوقع أجرنا على الله فمنا من مات ولم يأكل من أجره شيئا منهم مصعب بن عمير رضي الله عنه قتل يوم أحد وترك نمرة فكنا إذا غطينا بها رأسه بدت رجلاه وإذا غطينا بها رجليه بدا رأسه فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نغطي رأسه ونجعل على رجليه شيئا من الإذخر ومنا من أينعت له ثمرته فهو يهدبها متفق عليه النمرة كساء ملون من صوف وقوله أينعت أي نضجت وأدركت وقوله يهدبها هو بفتح الباء وضم الدال وكسرها لغتان أي يقطفها ويجتنيها وهذه استعارة لما فتح الله تعالى عليهم من الدنيا وتمكنوا فيها

    ari Khabab bin al-Aratti Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Kita semua berhijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, maka jatuhlah pahala kita itu atas Allah Ta’ala. Lalu di antara kita ada yang mati dan tidak pernah memperoleh sesuatupun dari pahalanya itu – tetaptah – yakni tidak pernah sampai memperoleh harta rampasan. Di antara mereka itu ialah Mus’ab bin Umair Radhiyallahu ‘anhu yang dibunuh pada hari perang Uhud dan meninggalkan selembar baju lurik – seperti singa. Apabila bajunya itu kita tutupkan pada kepalanya, maka tampaklah kedua kakinya, dan apabila kita tutupkan pada kedua kakinya, maka tampak kepalanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita, supaya kita tutupkan saja pada kepalanya, sedang di kedua kakinya kita letakkan saja sedikit tumbuh- tumbuhan idzkhir – semacam tumbuh-tumbuhan harum baunya. Di antara kita lagi ada yang sudah masak buahnya, maka dapatlah ia memetik hasilnya itu – maksudnya dapat menjadi baik nasibnya karena kaum Muslimin mendapatkan kejayaan di mana-mana (Muttafaq ‘alaih)

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai – nilainya – dengan selembar sayap nyamuk, niscayalah Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada orang kafir daripadanya.”

    Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تتخذوا الضيعة فترغبوا في الدنيا رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Janganlah engkau semua terlampau cinta dalam mencari sesuatu untuk kehidupan, sebab dengan terlampau mencintainya itu, maka engkau semua akan mencintai pula keduniaan.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال مر علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن نعالج خصا لنا فقال ما هذا فقلنا قد وهي فنحن نصلحه فقال ما أرى الأمر إلا أعجل من ذلك رواه أبو داود والترمذي بإسناد البخاري ومسلم وقال الترمذي حديث حسن صحيح

    ari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melalui kita dan kita saat itu sedang mengerjakan perbaikan rumah, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa ini?” Kita menjawab: “Rumah ini telah lemah – rusak, maka itu kita memperbaikinya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saya tidak mengerti akan perkara ajal, melainkan akan lebih cepat datangnya dari selesainya perbaikan ini.”Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnadnya Imam-imam Bukhari dan Muslim dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

    وعن كعب بن عياض رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن لكل أمة فتنة فتنة أمتي المال رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Ka’ab bin ‘lyadh Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setiap ummat itu ada fitnahnya dan fitnah ummatku ialah harta.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

    وعن أبي عمرو ويقال أبو عبد الله ويقال أبو ليلى عثمان بن عفان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ليس لابن آدم حق في سوى هذه الخصال بيت يسكنه وثوب يواري عورته وجلف الخبز

    والماء رواه الترمذي وقال حديث صحيح قال الترمذي سمعت أبا داود سليمان بن سالم البلخي يقول سمعت النضر بن شميل يقول الجلف الخبز ليس معه إدام وقال غيره هو غليظ الخبز وقال الراوي المراد به هنا وعاء الخبز كالجوالق والخرج والله أعلم

    Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan Abu Abdillah, ada pula yang mengatakan Abu Laila yaitu Usman bin Affan Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidak ada hak apapun bagi anak Adam – yakni manusia – selain dari perkara-perkara ini, yaitu rumah yang menjadi tempat kediamannya, pakaian yang digunakan untuk menutupi auratnya dan roti tawar – tanpa lauk – beserta air.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Imam Termidzi berkata: “Saya mendengar Abu Dawud yaitu Sulaiman bin Aslam al-Balkhi berkata: “Saya mendengar an-Nadhr bin Syumail, katanya: Aljilfu itu ialah roti tanpa lauk.” Lainnya lagi berkata: “Yaitu roti yang kasar,” sedang Alharawi berkata: “Yang dimaksudkan di sini ialah wadah roti seperti juwatik dan khurj.” Wallahu a’lam.

    وعن عبد الله بن الشخير بكسر الشين والخاء المشددة المعجمتين رضي الله عنه أنه قال أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقرأ ” ألهاكم التكاثر ” قال يقول ابن آدم مالي مالي وهل لك يا ابن آدم من مالك إلا ما أكلت فأفنيت أو لبست فأبليت أو تصدقت فأمضيت رواه مسلم

    Dari Abdullah bin as-Sikhkhir – dengan kasrahnya sin dan kha’ yang disyaddahkan serta mu’jamah keduanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwasanya ia berkata: “Saya datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membaca ayat – yang artinya: “Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan memperbanyak kekayaan.” Lalu beliau bersabda: “Anak Adam itu berkata: “Hartaku, hartaku! Padahal harta yang benar-benar menjadi milikmu itu, hai anak Adam, ialah apa-apa yang engkau makan lalu engkau habiskan, apa- apa yang engkau pakai, lalu engkau rusakkan atau apa-apa yang engkau sedekahkan lalu engkau lampaukan – dengan tetap adanya pahala.” (Riwayat Muslim)

    وعن عبد الله بن مغفل رضي الله عنه قال قال رجل للنبي ص يارسول الله والله إني لأحبك فقال انظر ماذا تقول قال والله إني لأحبك ثلاث مرات فقال إن كنت تحبني فأعد للفقر تجفافا فإن الفقر أسرع إلى من يحبني من السيل إلى منتهاه رواه الترمذي وقال حديث حسن التجفاف بكسر التاء المثناة فوق وإسكان الجيم وبالفاء المكررة وهو شيء يلبسه الفرس ليتقى به الأذى وقد يلبسه الإنسان

    Dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ya Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya saya ini niscaya cinta kepada Tuan.” Beliau lalu bersabda: “Lihatlah baik-baik apa yang engkau ucapkan itu.”Orang itu berkata lagi: “Demi Allah, sesungguhnya saya ini niscayalah cinta kepada Tuan.” Dia berkata demikian sampai tiga kali. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jikalau engkau mencintai saya, maka sediakanlah sebuah baju tijfaf untuk menempuh kefakiran, sebab sesungguhnya kefakiran itu lebih cepat mengenai orang yang mencintai saya daripada cepatnya air banjir sampai di tempat penghabisannya.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.Attijfaf dengan kasrahnya ta’ mutsannat dan sukunnya jim dan dengan fa’ yang dirangkapkan yaitu sesuatu yang dikenakan pada kuda untuk menjaga dirinya dari bahaya – senjata dan lain-lain, dan kadang-kadang pakaian sedemikian itu juga dikenakan oleh manusia.

    وعن كعب بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ماذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar yang dikirimkan ke tempat kambing itu lebih berbahaya padanya daripada tamaknya seseorang itu pada harta dan kemegahan dalam membahayakan agamanya,”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

    وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال نام رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير فقام وقد أثر في جنبه قلنا يا رسول اله لو اتخذنا لك وطاء فقال مالي وللدنيا ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar, lalu bangun sedang di lambungnya tampak bekas tikar itu. Kami berkata: “Ya Rasulullah, alangkah baiknya kalau kita ambilkan saja sebuah kasur untuk Tuan.” Beliau bersabda: “Apakah untukku ini dan apa pula untuk dunia -maksudnya: bagaimana saya akan senang pada dunia ini. Saya di dunia ini tidaklah lain kecuali seperti seorang yang mengendarai kenderaan yang bernaung di bawah pohon, kemudian tentu akan pergi dan meninggalkan pohon itu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يدخل الفقراء الجنة قبل الأغنياء بخمسمائة عام رواه الترمذي وقال حديث صحيح

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Orang-orang fakir itu akan masuk syurga sebelum orang-orang kaya dengan selisih waktu lima ratus tahun.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

    وعن ابن عباس وعمران بن الحصين رضي الله عنهم عن النبي صلى الله عليه وسلم قال آطلعت في الجنة فرأيت أكثر أهلها الفقراء واطلعت في النار فرأيت أكثر أهلها النساء متفق عليه من رواية ابن عباس ورواه البخاري أيضا من رواية عمران بن الحصين

    Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhum dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sabdanya:“Saya telah menjenguk dalam syurga, maka saya melihat bahwa sebagian banyak penghuninya adatah kaum fakir dan saya juga telah menjenguk dalam neraka, maka saya melihat bahwa sebagian banyak penghuninya adalah para wanita.”Muttafaq ‘alaih dari riwayat Ibnu Abbas. Imam Bukhari meriwayatkan pula dari riwayatnya Imran bin Hushain.

    وعن أسامة بن زيد رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال قمت على باب الجنة فكان عامة من دخلها المساكين وأصحاب الجد محبوسون غير أن أصحاب النار قد أمر بهم إلى النار متفق عليه و الجد الحظ والغنى وقد سبق بيان هذا الحديث في باب فضل الضعفة

    Dari Usamah bin Zaid, radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdanya:“Saya berdiri di pintu syurga, maka sebagian besar orang yang memasukinya itu ialah orang- orang miskin, sedang orang-orang yang kaya – berharta – semua ditahan dulu, hanya saja orang-orang yang menjadi ahli neraka telah diperintah untuk dimasukkan dalam neraka seluruhnya.” (Muttafaq ‘alaih)Aljaddu ialah bagian harta dan kekayaan, Hadis ini telah lalu keterangannya dalam bab: Keutamaan kaum lemah.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال أصدق كلمة قالها شاعر كلمة لبيد متفق عليه

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sabdanya: “Setepat-tepatnya kalimat yang diucapkan oleh seseorang syair ialah ucapan Labid – yang artinya: “Ingatlah, semua benda yang selain Allah adalah batil – atau rusak dan tidak kekal.” (Muttafaq ‘alaih)Lanjutan dari sya’ir di atas ialah: ”Dan setiap kenikmatan itu pasti akan hilang yakni tidak kekal.”

    Wallohu A’lam bishowab
    Alfaqir ila tabarok Abu Amina Aljawiy
    Mahad Yatim Non Yatim Annashihah Cepu

  90. fedi yusuf berkata

    assalamua’laikum

    afwan sebelumnya
    ana mo nanya,
    gimana caranya untuk kasih tau keorang
    bahwa amal yang dipaksa itu tidak baik,jika ada hadisnya
    ana mau tau dong bunyi hadist itu

    sukron.
    assalamua’laikum

  91. Fata berkata

    Assalamu Alaikum wr wb. Saya mempunyai Keisykalan jika boleh saya ingin bertanya “Makmum Muwafiq yg ragu dalam bacaan fatihah nya Apa sudah baca atau belum Hal tsb Apa masih d katakan dalam berjama’ah atau tidak”?. Terima kasih ya kak.

    Dijawab Abu Amina Aljawiy:
    Waalaikumussalam Warohmatulloh,
    1.Ketika menjadi makmum maka baginya hendaknya mendengarkan bacaan imam.seagaimana firman-Nya :
    وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿الأعراف:٢۰٤

    ﴾ Al A’raf:204 ﴿ Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

    2.kemudian mengenai bacaan alfatihah, yang paling rojih (kuat) hukum membaca alfatihah bagi makmum adalah wajib membacanya disela- sela diamnya imam.
    Sebagaimana sabdanya :
    1. Hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

    “Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits ini diriwayatkan pula oleh ad-Daraquthni dengan lafadz,

    لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يَقْرَأُ الرَّجُلُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

    “Tidak sah shalat yang pelakunya tidak membaca al-Fatihah padanya.” Kata ad-Daraquthni, “Ini adalah sanad yang sahih.” Al-Albani juga menyatakannya sahih.

    2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

    مَنْ صَلَّى صَ ةَالً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ-ثَ ثَالًا-غَيْرُ تَمَامٍ. فَقِيلَ بِألَِي هُرَيْرَة:َ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ ؟ فَقَالَ: اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ

    “Barang siapa melaksanakan shalat tanpa membaca ummul Qur’an, shalatnya batal—tiga kali—, tidak sempurna.”

    Lantas dikatakan kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kami biasa shalat di belakang imam (apa yang kami lakukan)?”

    Kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Bacalah ummul Qur’an pada dirimu sendiri (secara berbisik).” (HR. Muslim)

    Wallohu A’lam Bishowab

  92. vera berkata

    ass usatad saya vera.. saya ingin bertanya .. akhir2 ini saya selalu was dalam hal apapun.. saya terlalu takut akan ssuatu yang berebihan.. dsisi lain hati saya sllu brbicara yg bukan sy inginkan… saya sudah tau jika nadzar d ucapkan dalm hati itu tidak syah… bagaimana jika d tulis dan tidak bermaksud?? dan bagaimana caranya untuk menghilangkan was2 dalam hati … terimakasih

    Waalaikumussalam Warohmatulloh :

    1.Yang perlu kita yakini Rosul pernah bersabda : “Innalloha lam yunzil da’an illa anzalallohu syifa’an” Kitab Ad-Da’ Wad-Dawa’ Ibnul Qoyim Al jauziyah, was was adalah dari syaiton obat dari was-was adalah YAKIN DAN TAWAKAL kepada Alloh Tabaroka Wa Ta’ala.
    2.Memintalah ampun kepada Alloh pada waktu mustajab, Berdoalah kepada Alloh ketika timbul was-was dengan membaca doa yang diajarkan, misal membaca Ta’awud atau surat Alihklas, Alfalaq, Annas kemudian meludah dengan isyarat kekeiri dan langsung yakin dan bertawakal kepadanya.
    3.Bacalah Alquran dan dengarkan dengan rutin dan fahami arti dan tafsirnya.
    4.Senantiasalah berdzikir dengan dzikir yang diajarkan rosul disetiap keadaan.
    5.Bergaulah dengan kawan yang sholeh lainya serta hadiri kajian yang bermanfaat dari ceramah ceramah bermanhaj salaf.
    Insyalloh sembuh bi’auhihi ta’ala.

    link ceramah ada di http://anshorulloh.wordpress.com silahkan download dan didengarkan untuk menguatkan iman dan amal.Wallohu A’lam Bishowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 142 pengikut lainnya.