وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

  • Radio Online

  • Larangan Fanatik Buta

    Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

  • Mutiara Alquran

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

  • Admin Setting

  • Maaf Komentar Yang Dicurigai Bervirus Diblokir

  • Mutiara Sunnah

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau akan dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jika seandainya dunia ini di sisi Allah dianggap ada nilainya dengan selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi

  • Mutiara Ulama Salaf’

    أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ "Wahai Saudaraku Kalian Tidak Bisa Mendapatkan Ilmu Kecuali Dengan 6 Syarat Yang Akan Saya Beritahukan" 1.Dengan Kecerdasan, 2.Dengan Semangat , 3.Dengan Bersungguh-sungguh , 4.Dengan Memiliki bekal (biaya), 5.Dengan Bersama guru dan , 6.Dengan Waktu yang lama, (Imam Syafi'i Rahimahulloh)

Apa Itu Salafi Dan Siapakah Tokohnya?

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada April 22, 2009

Oleh : Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi

Salafiy adalah nisbah kepada salaf.
Salaf sendiri artinya adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut mereka (tabi’in) dengan baik dari penghuni tiga kurun yang dimuliakan dan yang setelah mereka, inilah yang disebut dengan salafiy. Bernisbah kepadanya artinya bernisbah kepada apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kepada jalan ahlul hadits.
Dan ahlil hadits adalah para pengikut manhaj salafiy yang berjalan di atasnya.

 Maka salafiy adalah sebuah aqidah dalam masalah nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Juga sebuah aqidah dalam masalah qadr, aqidah dalam masalah sahabat, dan seterusnya. Maka para salaf beriman kepada Allah dan dengan nama-narna-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang Allah sendiri sifatkan diri-Nya dengannya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka (para salaf) beriman kepadaNya menurut bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah tanpa melakukan tahrif (merubah kata hingga merubah makna), tamsil (memisalkan Allah dengan makhluk), tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), ta’thil (meniadakan sifat bagi Allah atau menyatakan Allah tidak memiliki sifat apapun) dan ta’wil (mengartikan dengan salah, seperti misal; tangan Allah diartikan kekuasaan Allah. Ini salah. TanganAllah diartikan juga dengan tangan Allah. Tapi tidak boleh menyerupakannya dengan tangan makhluk-red).

Mereka para salaf juga beriman kepada qadr baiknya dan buruknya. Dan tidak sempurna iman seseorang hingga dia beriman dengan qadr yang Allah taqdirkan atas para hamba-Nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadrnya” (Al Qamar: 49)

Adapun dalam masalah sahabat, maknanya adalah beriman bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam wajib kita ridho kepada mereka dan meyakini bahwa mereka adalah orang yang adil. Mereka adalah sebaik-baik ummat dan sebaik-baik kurun. Dan meyakini bahwa mereka semua baik. ini berbeda dengan keyakinan syi’ah dan khawarij yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menghormati mereka.

Adapun dalam salafiy tidak ada tokoh selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin kelompok ini dan panutan mereka. Dan juga para sahabat adalah panutan mereka. Dasar hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

و قال صلى الله عليه و سلم : “ألا و إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين و سبعين ملة  ، و إن هذه الملة ستفترق على ثلاثِ و سبعين : ثنتان و سبعون في النار ، وواحدة في الجنة، و هي الجماعة” (رواه أحمد و غيره و حسنه الحافظ)

“Telah terpecah orang-orang yahudi menjadi tujuhpuluh satu golongan dan terpecah orang nashara menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka, wahai Rasulullah? Beliau berkata: Mereka adalah orang yang berdiri diatas apa yang aku dan para sahabatku berdiri diatasnya.” (HR Abu Daud and dishahihkan syaikh Al Albani dalam shohih Sunan Abu Daud 3/115)
Dan juga beliau besabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang menerangkan tentang khuthbah beliau yang padanya beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah,

maka beliau berkata:

 

 و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)

 

 Aku wasiatkan kaitan untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dar-i Habsyi.” Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba’ kepada sunnahnya dan sunnah para khatifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: “Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap kebid’han adalah sesat.” (HR Turmudzi dan dishohihkan syaikh Al Albani datam shohih sunan Turmudzi no.2830).

5 Tanggapan to “Apa Itu Salafi Dan Siapakah Tokohnya?”

  1. syaikh said

    Assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh….Saudara-saudara seiman seaqidah….Secara teoritis manhaj salafi adalah manhaj yg paling dekat dgn kebenaran…Secara akhlak mereka istiqomah,….berpegang teguh kpd sunnah Rasululloh sholollohualaihi Wassalam Sunnah khulafa’u rasyidina wa mahdiyina…..Hadiest yg kedudukannya bertingkat-tingkat memerlukan pemahaman yg mendalam utk menjadi sunnah yg muhkam.
    Hasil penyaringan keilmuan yg diiringi akhlak yg zuhud serta kepribadian yg wara dalam dalam beribadah ini baik ayat-ayat suci Al-qur’an maupun hadiest-hadiest yg berbagai rupa maka bermuara kepada pengamalan sunnah yg murni,sunnah yg sesungguhnya ,sunnah yg dikehendaki oleh syara’.Kalau kita mau adil dalam menuntut ilmu dan beribadah,maka pendekatan keilmuan yg dibawa dan ajarkan salafi adalah yg terbaik.Marilah saudara-saudara seiman seaqidah kita kembali kepengamalan agama yg murni bebas dari segala sesuatu yg baru dan diada-adakan,kullu bid’ati dholaalah…Assalamualaikum Warohmatulahi wabarokatuh.

    Abu Amin Alanshariy Jawab: Waalaikumussalam Warohmatulloh, Tambahan Akhi :Kaum Muslimin Yang Menisbatkan kepada generasi salaf sudah seharusnya berkomitmen dengan apa-apa semua yang dibawa oleh awalul muslimin, penisbatan kepada salaf juga tidak harus berada dalam satu kelompok tertentu dan tidak juga harus dalam satu daerah tertentu atau bendera tertentu, atau pula atribut tertentu, Penisbatan kepada salaf bukan dibatasi siapa mereka “AKAN TETAPI YANG MENYATUKAN MEREKA ADALAH KOMITMEN DIA UNTUK BERPEGANG TEGUH DENGAN APA APA YANG DIBAWA PARA SALAF WALAUPUN DIA SENDIRIAN, JADI HENDAKNYA SETIAP MUSLIM YANG YAKIN AKAN HARI PERTEMUAN HARUS MERENUNGKAN JALAN INI, MENIMBANGNYA DENGAN ARIF DAN JUJUR SERTA MELEPAS BELENGGU KELOMPOK DAN YANG SEJENISNYA, KEMUDIAN UNTUK RUJU’ MENEMPUH JEJAK YANG TERANG SEBAGAIMANA PEMAHAMAN ROSUL SHOLOLLOHUALAIHI WASSALAM DENGAN KETERANGAN PARA SAHABAT,TABI’IN WA TABIU’T TABI’IN SERTA ULAMA YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK”
    DAN KEBALIKANYA! SIAPA SAJA YANG BERTENTANGAN DENGAN PARA AWALUL MUSLIMIN WALAUPUN DIA MENGAKU BERMANHAJ SALAF MAKA SECARA OTOMATIS DIA AKAN TERNODAI PENISBATANYA DAN BISA MENGELUARKAN PENISBATANYA DARI THORIQUL HAQ YANG SATU ATAU MENYIMPANG DARI PARA SALAFU SHALIH, TENTU PENYIMPANGAN INI DALAM MASALAH USHUL DIEN.
    Allohua’lam Bishowab

  2. syaikh said

    BISMILLAHI RAHMANI RAHIIM..Masya Allah akhii..(fulan yang menambahkan dan membantu postingan ana)….Allahu Akbar…kenapa akhii tidak meninggalkan alamat/user name? agar kita bisa bersahabat.Kalau semua salafi seperti akhii.. maka terbebaslah kita dari taklid yang sesungguhnya..Manhajul fikri Salaf itu sesungguhnya metode yang sangat mulia yang menghantarkan kita merdeka dalam berpikir,wara’ dalam memilih,mengambil manfaat akal dan menjinakkannya agar tidak liar dalam mengimani suatu pemahaman,menjadikan dalil shohiha sabagai satu-satu jalan untuk pemenangan pemahaman dan keilmuan untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.Sesungguhnya banyak salafi yang sendirian dan terus memerdekakan diri dari siapapun serta memperjuangkan Diin ini dengan pendekatan yang persuasif edukatif.Sesungguhnya taklid itu harus selalu diwaspadai oleh para Salafi,taklid itu bisa samar bisa jelas!!,dan hendaknya juga para salafi lebih mamahami taklid itu secara komprehensif.Gejala taklid ini bisa saja terjadi dilingkungan salafi dan bukan suatu yang mustahil dapat menghinggapi para salafi.Kiranya Allah SWT terus mencucurkan perlindungannya kepada kita,.. para salafi untuk istiqomah memerangi bid’ah yang merupakan sumber dari penyakit-penyakit Agama dan terus memperjuangkan As-Sunnah shohiha sebagai pegangan dan pedoman dalam beribadah walaupun harus menggigit akar pohon..!!.Cukuplah Manhajul Fikri Salaf ini sebagai senjata untuk “memukul KO”para ahlul bid’ah.Dan kita terbebas dari apa yang mereka kerjakan.Jazaakallahu khoiron..Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

    Allohul Musta’an, Insyalloh Antum Sudah Bersahabat Dengan Kami. Dan Kewajiban Kita Bersama untuk Berta’awun dalam ketakwaan Serta dalam memberantas kemungkaran.Insyalloh Ta’ala.

  3. jumatil said

    Maaf mau bertanya, apakah kelompok-kelompok seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Hizbu Tahrir, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dapat dikategorikan sebagai “salafi”?

    Sepengetahuan saya mereka semua tidak komitmen diatas sunnah dalam masalah pokok, Perhatikan ibadah mereka mencocoki rosul apa tidak, cara mendidik anak mereka di madrasah-madrasah masih tabaruj ihktilat kholwat,mereka demo dan membuat partai dan membesarkan kelompok bukan dakwah murni, ada sebagaian yang antum sebut mereka berbaiat kepada pemimpinya.
    Berkata Al-Fudhail Bin ‘Iyadh Rahimahullah : وقال الفضيل بن عياض إذا رأيت رجلا من أهل السنة فكأنما رأيت رجلا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وإذا رأيت رجلا من أهل البدع فكأنما رأيت رجلا من المنافقين
    “Bila engkau melihat seorang ahlus sunnah, seakan-akan engkau melihat salah seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bila engkau melihat seorang ahli bid’ah, seakan-akan engkau melihat salah seorang kaum munafik (dengan ciri-cirinya,pent).”

    Walaupun sesama kaum muslimin tidak dibolehkan sembarangan untuk menfonis sifulan munafiq atau sifulan mubtadi'(ahlu bi’ah) akan tetapi perhatikanlah ciri cirinya dari dzhoir amal perbuatan mereka. Wallohu A’lam

  4. awan said

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    Segala Puji Bagi Allah, Dan Sholawat serta Salam Semoga disanjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W,

    saya Motanya,

    و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار
    Apakah makna كل ? coba terangkan berdasarkan ?, Bagaimana dengan perilaku Saidina Umar bin khotob yang mengerjakan Sholat tarawih 20 Rakaat, apakah itu termasuk bid’ah dholalah, padahal, dan Rasulullah mendiamkannya bahkan menganjurkannya kepada umatnya, ” kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh ku dan sahabat-sahabatku”, terus tentang sholat tarawih, rasull mengatakan kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh Umar. dan ini merupakan bid;ah hasanah ?, bagaimana antum mengartikan كل disini ?

    Terima kasih

    Wasalam mualaikum.

    Abu Amin Cepu :

    Waalaikumussalam Warohmatulloh,

    Bismillah
    Jika antum katakan adanya bid’ah hasanah dengan dalil, ucapan ‘Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu

    نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ

    “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari)

    Dalil ini tidak bisa digunakan sebagai penetapan adanya bid’ah hasanah dikarenakan beberapa alasan:
    ALASAN PERTAMA:

    Anggaplah kita terima dalalah (pendalilan) ucapan beliau seperti yang mereka maukan – bahwa bid’ah itu ada yang baik, namun sesungguhnya, kita kaum muslimin mempunyai satu pedoman; kita tidak boleh mempertentangkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; dengan pendapat siapapun juga (selain beliau). Tidak dibenarkan kita membenturkan sabda beliau dengan ucapan Abu Bakar, meskipun dia adalah orang terbaik di umat ini sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dengan perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ataupun yang lainnya.

    Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan:

    “Hampir-hampir kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; bersabda demikian…demikian, (tapi) kalian mengatakan: Kata Abu Bakr dan ‘Umar begini…begini….”

    ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah mengatakan:

    “Tidak ada pendapat seorangpun di atas suatu sunnah yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalaninya.” (I’lamul Muwaqi’in 2/282)

    Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

    “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena pendapat (pemikiran) seseorang.” (I’lamul Muwaqi’in 2/282)

    Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan:

    “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia (sedang) berada di tepi jurang kehancuran.” (Thobaqot Al Hanabilah 2/15, Al Ibanah 1/260)

    ALASAN KEDUA:

    Bahwasanya Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengatakan: نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ (sebaik-baik bid’ah adalah ini) ketika beliau mengumpulkan manusia untuk mengerjakan shoat tarawih, padahal shalat tarawih berjamaah ini bukanlah suatu bid’ah. Bahkan perbuatan tersebut termasuk sunnah dengan dalil yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; pada suatu malam shalat di masjid, kemudian orang-orang mengikuti beliau. Kemudian keesokan harinya jumlah mereka semakin banyak. Setelah itu malam berikutnya (ketiga atau keempat) mereka berkumpul (menunggu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam;). Namun beliau tidak keluar. Pada pagi harinya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat bersama kalian) kecuali kekhawatiran (kalau-kalau) nanti (shalat ini) diwajibkan atas kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 1129)

    Secara tegas beliau menyatakan di sini alasan mengapa beliau meninggalkan shalat tarawih berjamaah. Maka tatkala ‘Umar radhiallahu ‘anhu melihat alasan ini (kekhawatiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sudah tidak ada lagi, beliau menghidupkan kembali shalat tarawih berjamaah ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa tindakan khalifah ‘Umar radhiallahu ‘anhu ini mempunyai landasan yang kuat yaitu perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.

    Hadits Aisyah ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa sejak zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sholat tarawih berjamaah telah disunnahkan, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh pendebat.

    ALASAN KETIGA:

    Jika sudah jelas bahwa yang dikerjakan Umar radhiyallahu’anhu ini bukan termasuk Bid’ah, maka apakah makna bid’ah dalam ucapan beliau tersebut?

    Sesungguhnya yang dimaksud bid’ah dalam ucapan Umar radhiyallahu’anhu adalah makna bid’ah SECARA BAHASA, bukan makna secara syar’i. Adapun bid’ah menurut bahasa adalah “Apa-apa yang dikerjakan tanpa ada contoh sebelumnya.” (Lisanul Arab 8/6)

    Ketika sholat tarawih dengan berjamaah ini tidak dikerjakan pada masa Abu Bakar dan pada awal masa Umar, maka kata “bid’ah” pada ucapan Umar adalah menurut bahasa. Maksudnya tidak ada contoh yang mendahuluinya.

    Sedangkan menurut syar’I jelas bukan, karena sholat ini ada asalnya, yaitu dari apa yang telah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

    Berkata Imam Asy Syatibi rahimahullah:

    “Barangsiapa yang menamakan bid’ah dengan ibarat ini, maka tidak ada masalah dalam hal penamaan. Akan tetapi hal itu tidak dapat dijadikan dalil untuk mendukung adanya bid’ah yang sedang kita bicarakan (bid’ah hasanah). Karena hal tersebut merupakan pemindahan kalimat dari tempat yang semestinya.

    Berikut kami kemukakan sebagian pendapat para Imam sebagai bukti terhadap yang telah kami sebutkan:

    Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

    “Bid’ah itu ada dua macam:

    Pertama: adakalanya bid’ah itu secara syar’I sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

    “Sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

    Kedua: adakalanya bid’ah itu secara lughoh, sebagaimana perkataan ‘Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu tentang pengumpulan mereka untuk melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah dan dilakukan demikian seterusnya, yakni:

    نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ

    “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari) (Tafsir Ibnu Katsir: surah Al Baqarah: 117)

    Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

    “Adapun sesuatu yang terjadi dari perkataan salaf tentang adanya sebagian bid’ah hasanah, yang dimaksud adalah bid’ah secara lughoh bukan menurut syar’I, seperti perkataan Umar radhiyallahu’anhu (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits 28) Wallohu A’lam

  5. rusmanjay said

    assalamualaikum
    artikel yg bagus. alhamdulillah saya sudah mulai belajar tentang manhaj salaf ini.

    Walaikumusalam Warohmatulloh,
    Semoga tambahan ilmu nafi’ dan amal sholeh buat antum ahki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s