وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

  • Radio Online

  • Larangan Fanatik Buta

    Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

  • Mutiara Alquran

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

  • Admin Setting

  • Maaf Komentar Yang Dicurigai Bervirus Diblokir

  • Mutiara Sunnah

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau akan dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jika seandainya dunia ini di sisi Allah dianggap ada nilainya dengan selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi

  • Mutiara Ulama Salaf’

    أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ "Wahai Saudaraku Kalian Tidak Bisa Mendapatkan Ilmu Kecuali Dengan 6 Syarat Yang Akan Saya Beritahukan" 1.Dengan Kecerdasan, 2.Dengan Semangat , 3.Dengan Bersungguh-sungguh , 4.Dengan Memiliki bekal (biaya), 5.Dengan Bersama guru dan , 6.Dengan Waktu yang lama, (Imam Syafi'i Rahimahulloh)

Tahlilan Dalam Timbangan Islam

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Mei 9, 2011

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur’an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.

Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.

Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.

Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid’ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.

Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):
“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)

Historis Upacara Tahlilan
Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam
Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:

Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua: Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?
Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)
Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):
“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)
Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)
Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ

“Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

2. Penyajian hidangan makanan.
Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).

Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?

Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.

http://assalafy.org/artikel.php?kategori=aqidah6

7 Tanggapan to “Tahlilan Dalam Timbangan Islam”

  1. Yie'Kin said

    masuk akal juga….

    Insyalloh kalau au jujur masuk akal, barokallohufikum.

  2. hamba yang lemah muh. Muslih Kosidin dan Pribadi. said

    saya mau tanya,
    =apakah sama kedudukannya tahlilan dan yasinan yang dilakukan kebanyakan orang dalam hajat walimah atau syukuran, seperti syukuran ketika menempati rumah baru, syukuran 4 atau 7 atau bahkan 9 bulan kehamilan, akikah dan sejenisnya yang bukan kematian? Karena acara2 spt ini sering dilakukan oleh tetangga kami.

    =sehingga ketika kami tidak pernah ikut menghadiri undangannya maka kebanyakan mereka tidak paham lalu ada yang mengatakan bahwa kami tidak mau bermasyarakat dan kalau mati siapa yang akan menggotong kekuburan kalau bukan tetangga. Padahal kami sudah beberapa kali memberikan lembaran2 tapi rupanya td pernah dibaca mengenai amal2 ibadah yg tidak sesuai dg sunnah.
    Lalu bagaimana argumen untuk membantah perkataan tersebut? Mohon dijelaskan kepada kami. Terima kasih atas perhatian pak ustadz.

    Abuamincepu:

    Abuamincepu:

    Bismillah, Saudaraku yang budiman,
    1. Kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
    Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
    Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

    2.Yasinan adalah kebiasaan yang didalamnya dibacakan Surah Yasin pada acara – acara tertentu dan malam malam tertentu, maka yang demikian itu pula adalah termasuk mengkhususkan peribadatan yang Alloh dan Rosulnya tidak mengkhususkan (walau untuk malam-malam jum’at ada beberapa hadits dho’if dan palsu tentang disyariatkanya baca yasin), Artinya jikalau Yasin ini dibaca kapan saja tanpa ditetapkan waktu dan sebabnya serta dikerjakan sesuai adab membaca alqur’an (tidak bersama-sama,tapi satu membaca yang lain menyimaknya) maka tidak mengapa, karena membaca Alqur’an termasuk amalan yang sangat mulia disisi Alloh Aza Wajalla. Adapun untuk walimahan,menempati rumah baru dan syukuran kehamilan, maka ini adalah peribadatan yang tidak dicontohkan Rosul Sholollohualaihi wassalam.maka kita sebagai kaum muslimin yang jujur terhadap agamanya harus meninggalkanya

    3.Perlu antum Fahami wahai saudaraku, Bahwasanya “RIDHO SELURUH MANUSIA TIDAK MUNGKIN BISA DICAPAI” artinya jika anda ingin disenangi semua kalangan tidak akan mungkin MAKA CARILAH RIDHLO ALLOH TA’ALA, karena biar bagaimanapun sudah menjadi kepastian kalau ada yang mau menegakan kebenaran maka lawanya adalah kebatilan, selama masih jadi insan yang benar keimananya maka bersiap siaplah untuk menjadi orang yang paling bahagia yaitu yang senantiasa Alloh akan uji dengan
    sedikit gangguan (Tidak melebihi batas kemampuan antum),MAKA BERSABARLAH.

    قال الله تعالى ” يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ” آل عمران (Ali Imron 200)
    قال تعالى ” ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ” البقرة (Albaqoroh-153-157)
    قال تعالى ” إنما يوفي الصابرون أجرهم بغير حساب ” الزمر (Azumar 10)

    : قال علي رضي الله عنه: ” إن الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد – ثم رفع صوته- فقال: ألا إنه لا إيمان لمن لا صبر له “.
    Berkata Shohabat Ali Bin Abi Tholib : Sesungguhnya kesabaran didalam keimanan kedudukanya adalah sebagaimana kepala dalam jasad, kemudian beliau meninggikan suaranya dengan mengatakan : Ketahuilah Tidak ada keimanan bagi orang-orang yang tiada kesabaran padanya.

    4.Ana menyarankan antum tidak usah-berbantah bantahan kepada mereka, cukup antum jelaskan dengan hikmah (lemah lembut) bahwa yang demikian itu kami belum mendapatkan dasar hukumnya, dan yang kami yakini adalah seperti ini yang sesuai dengan sunnah Rosul,insyalloh jika antum berahklak mulia kepada mereka kita semua yakin tidak akan terjadi apa apa, kita tahu bahwa manusia secara fitrah adalah baik maka merekapun akan menyadari bahwa agama ini bukan milik nenek moyang akan tetapi MILIK ALLOH artinya setiap perkataan siapaun Boleh diterima dan boleh ditolak kecuali perkataan Rosul).

    Kemudian tidak mungkin kaum muslimin yang mengaku muslim ketika saudaranya mukmin tetangganya meninggal kemudian tidak mau menguburkan dikarenakan berbeda masalah diatas “ITU HANYA PERKATAAN MEREKA SAJA” agama ini adalah TAUFIQIYAH (MASALAH YANG SUDAH PATEN) wahai saudaraku bukan pemaksaan pendapat dari selain Rosul, sehingga mereka pun faham akan hal ini bahwa agama ini bukan paksaan pendapat(KECUALI YANG DATANG DARI ROSUL). JADI BERBESAR HATILAH DENGAN SUNNAH WAHAI SAUDARAKU DAN NANTILAH PEMBELAAN ALLOH

    :إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ
    Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.(Qs.Alhaj ayat 38)

    Akan tetapi jika antum ingin menjelaskan kepada mereka untuk mematahkan hujah mereka sebaiknya antum mengirim email keana saja.

    Wallohu A’lam Bishowab
    Abu Amin Aljawiy
    Ma’had Salafiyah Annashihah Cepu

    .

  3. hamba yang lemah muh. Muslih Kosidin said

    saya mau tanya,
    1. masyarakat tetangga saya sering melakukan tahlilan, yasinan, do’a bersama dan pasti td ketinggalan baca al-fatihah untuk arwah dalam acara syukuran biasa yang bukan kematian. Spt.: akikah, menempati rumah baru, syukuran kehamilan, walimah pernikahan dan sunatan. Tetapi saya tidak pernah ikut menghadiri undangannya. Apakah perbuatan saya benar?

    2. kebanyakan mereka tidak paham lalu ada yang mengatakan bahwa saya tidak mau bermasyarakat dan kalau mati siapa yang akan menggotong kekuburan kalau bukan tetangga.
    Bagaimana membantah perkataan tersebut? Mohon dijelaskan kepada. Terima kasih atas perhatian pak ustadz.

    Abuamincepu:

    Bismillah, Saudaraku yang budiman,
    1. Kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
    Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
    Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

    2.Yasinan adalah kebiasaan yang didalamnya dibacakan Surah Yasin pada acara – acara tertentu dan malam malam tertentu, maka yang demikian itu pula adalah termasuk mengkhususkan peribadatan yang Alloh dan Rosulnya tidak mengkhususkan (walau untuk malam-malam jum’at ada beberapa hadits dho’if dan palsu tentang disyariatkanya baca yasin), Artinya jikalau Yasin ini dibaca kapan saja tanpa ditetapkan waktu dan sebabnya serta dikerjakan sesuai adab membaca alqur’an (tidak bersama-sama,tapi satu membaca yang lain menyimaknya) maka tidak mengapa, karena membaca Alqur’an termasuk amalan yang sangat mulia disisi Alloh Aza Wajalla. Adapun untuk walimahan,menempati rumah baru dan syukuran kehamilan, maka ini adalah peribadatan yang tidak dicontohkan Rosul Sholollohualaihi wassalam.maka kita sebagai kaum muslimin yang jujur terhadap agamanya harus meninggalkanya

    3.Perlu antum Fahami wahai saudaraku, Bahwasanya “RIDHO SELURUH MANUSIA TIDAK MUNGKIN BISA DICAPAI” artinya jika anda ingin disenangi semua kalangan tidak akan mungkin MAKA CARILAH RIDHLO ALLOH TA’ALA, karena biar bagaimanapun sudah menjadi kepastian kalau ada yang mau menegakan kebenaran maka lawanya adalah kebatilan, selama masih jadi insan yang benar keimananya maka bersiap siaplah untuk menjadi orang yang paling bahagia yaitu yang senantiasa Alloh akan uji dengan
    sedikit gangguan (Tidak melebihi batas kemampuan antum),MAKA BERSABARLAH.

    قال الله تعالى ” يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ” آل عمران (Ali Imron 200)
    قال تعالى ” ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ” البقرة (Albaqoroh-153-157)
    قال تعالى ” إنما يوفي الصابرون أجرهم بغير حساب ” الزمر (Azumar 10)

    : قال علي رضي الله عنه: ” إن الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد – ثم رفع صوته- فقال: ألا إنه لا إيمان لمن لا صبر له “.
    Berkata Shohabat Ali Bin Abi Tholib : Sesungguhnya kesabaran didalam keimanan kedudukanya adalah sebagaimana kepala dalam jasad, kemudian beliau meninggikan suaranya dengan mengatakan : Ketahuilah Tidak ada keimanan bagi orang-orang yang tiada kesabaran padanya.

    4.Ana menyarankan antum tidak usah-berbantah bantahan kepada mereka, cukup antum jelaskan dengan hikmah (lemah lembut) bahwa yang demikian itu kami belum mendapatkan dasar hukumnya, dan yang kami yakini adalah seperti ini yang sesuai dengan sunnah Rosul,insyalloh jika antum berahklak mulia kepada mereka kita semua yakin tidak akan terjadi apa apa, kita tahu bahwa manusia secara fitrah adalah baik maka merekapun akan menyadari bahwa agama ini bukan milik nenek moyang akan tetapi MILIK ALLOH artinya setiap perkataan siapaun Boleh diterima dan boleh ditolak kecuali perkataan Rosul).

    Kemudian tidak mungkin kaum muslimin yang mengaku muslim ketika saudaranya mukmin tetangganya meninggal kemudian tidak mau menguburkan dikarenakan berbeda masalah diatas “ITU HANYA PERKATAAN MEREKA SAJA” agama ini adalah TAUFIQIYAH (MASALAH YANG SUDAH PATEN) wahai saudaraku bukan pemaksaan pendapat dari selain Rosul, sehingga mereka pun faham akan hal ini bahwa agama ini bukan paksaan pendapat(KECUALI YANG DATANG DARI ROSUL). JADI BERBESAR HATILAH DENGAN SUNNAH WAHAI SAUDARAKU DAN NANTILAH PEMBELAAN ALLOH

    :إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ
    Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.(Qs.Alhaj ayat 38)

    Akan tetapi jika antum ingin menjelaskan kepada mereka untuk mematahkan hujah mereka sebaiknya antum mengirim email keana saja.

    Wallohu A’lam Bishowab,

  4. Pribadi said

    pak ustadz
    1. saya menghaturkan banyak terima kasih atas jawaban pak ustadz yang luas
    2. saya mohon dimaafkan yang sebesar-besarnya, karena kejahilan saya dalam masalah internetan ini sehingga terjadi dua pertanyaan yang sama maksudnya. Benar-benar hal ini krn kejahilan saya shg dua-duanya masuk. Yg benar adl yg kedua yaitu yg sdh diperbaiki susunan kalimatnya.
    3. adapun pertanyaan: “Bagaimana membantah perkataan tersebut?”, mohon maaf krn yang saya maksudkan bukan untuk berbantah-bantahan dan saya selama ini lebih baik diam karena saya masih sangat bodoh dan takut salah yg bisa menjadi bumerang bagi saya
    4. saran ustadz untuk mengirim email, sekali lagi atas kebodohan saya dalam hal internetan, maka saya belum tahu caranya. Oleh krn itu saya sudah merasa sangat bersyukur dengan kesabaran pak ustd yang telah berkenan meluangkan waktu memberikan jawaban yang gamblang, yang akan saya gunakan sebagai tambahan ilmu.
    Saya mohon maaf sekali lagi krn minimnya perbendaharaan kata saya jika terdapat kejanggalan susunan bahasa saya.
    Saya adlah orang tua tak berguna yg baru usia 66th ini daya pikirnya sdh lemah, oleh krn itu saya sangat membutuhkan nasehat para ustadz terutama yg bermanhaj salaf. Saya baru mengenal manhaj salaf ini sejak 2004 ketika saya hanya bisa duduk atau berbaring dikamar ditemani sebuah radio. Baru th 2011 ini saya mencoba mendatangi kajian bila badan sedang sehat.
    Sekali lagi saya mohn maaf atas keterus terangan saya ini, dgn maksud agar ustadz td mengira bahwa saya seorang muda yg cerdas. Nama saya yg sebenarnya Pribadi, sedangkan muh. Muslih Kosidin adalah teman/tetangga dekat saya yg sepaham dan dia yg keluarganya mdp subhat perkataan dalam pertanyaan no.2 diatas.
    Nasehat ustadz saya terima dgn lapang dada insya Allah.
    Sekian komentar saya dan mohon maaf serta terima kasih atas semuanya.


    Abuamincepu:

    Bismillah, Bapak pribadi yang budiman, Semoga antum digolongan sebagai hamba yang senantia bersabar dari berbagai ketentuan Alloh Aza Wajalla, Bersabar untuk mentaatiNya, dan bersabar untuk menjauhi larangaNya,
    Dan kesabaran ini adalah yang lebih baik dari semua yang ada dari keduniaan, Karena Rosul Bersabda :

    رواه أحمد ومسلم. وللبخاري ومسلم مرفوعا: ” ما أعطي أحد عطاء خيرا وأوسع من الصبر ” .

    “Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada anugerah kesabaran” (Rowahu Mutafaqun Alih wa Ahmad)

    إذا أراد الله بعبده الخير عجل الله له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة ”

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hambanya, maka Ia percepat hukuman baginya di dunia, dan apabila Ia menghendaki keburukan pada seorang hambanya, maka Ia tangguhkan dosanya sampai ia penuhi balasannya nanti pada hari kiamat.”(HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

    Dijaman seperti ini agak susah mencari orang-orang yang bersifat tawadzu’ semoga bapak diberi kekuatan untuk senantiasa istiqomah didalam mengarungi manhaj Rosul Sholollohualaihi Wassalam,
    Kita harus ketahui bersama bahwa “INNAMAL A’MALU BI KHOWATIM” Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada penutup umurnya, jadi tidak cukup kegemilangan itu diwaktu muda saja.

    Salam kami untuk keluarga bapak dan saudara kami semuslim disana, Kami sangat senang bisa membantu bapak kalau itu memang bermanfaat.

    Barokallohufiekum,
    Abu Amin Aljawiy

  5. Zuraidah Zaddah Fa'idullah said

    Alhamdulillah…ada pengetahuan baru….:D

    Alhamdulillah, semoga menambah keberkahan ilmu dan amal antum.

  6. gusjan said

    Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

    meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

    beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

    dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLILan koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Semua Sahabat Nabi SAW yg jumlahnya RIBUAN,

    Tabi’in dan Tabiut Tabi’in yg jumlahnya jauh lebih

    banyak, ketika meninggal, tdk ada 1 pun yg

    meninggal kemudian di TAHLIL kan.

    cara mengurus jenazah sdh jelas caranya dalam

    ISLAM, seperti yg di ajarkan dalam buku2 pelajaran

    wajib dr SD – Perguruan tinggi.

    Termasuk juga tata cara mendo’akan Orang tua yg meninggal dan tata

    cara mendo’akan orang2 yg sdh meninggal dr kaum

    muslimin.

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,
    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan
    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…(Diedit)

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

    “Semoga Alloh menambah ilmu antum dan demikian juga kaum muslimin untuk jujur dan ilmiah dengan ilmunya,Abu Amina Aljawiy”

  7. Saya mau nanya,,,Pada zaman Rosululloh Zakat menggunakan Gandum, Apakah Anda menggunakan Gandum ? Pada Zaman Rosululloh kendaraan yang digunakan untk beribadah menggunakan Onta, Apakah anda menggunakan Onta ? Pada zaman Rosululloh tidak ada Al-Quran seperti zaman sekarang, Apakah anda menggunakan Al-Qur’an seperti saat ini ? Dan Jika anda mengganggap bahwa do’a do’a kami untuk orang tua kami hususnya dan umumnya untuk orang mu’min tertolak, bagaimana dengan hadits ini :

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) ? Pada zaman Rosululloh Tidak ada 1 orang pun yang berda’wah menggunakan internet,saat ini anda berda’wah menggunakan internet, bagaimana pendapat anda ? Ketahuilah sadaraku, selain Al-Qur’an dan Hadits kita juga harus bepegang pada Qiyas dan Ijma’,,,karena itu rosul pernah bersabda

    عن العرباض بن سارية قال: صلى بنا رسول الله ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
    “Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll)

    Semoga Allah Mengampuni Ke alfaan Kita…amiiiin

    Jawaban :
    Bismillah.Kami tidak suka berdebat tanpa ilmu, Insyalloh kami bisa menerangkan secara gamblang kepada saudara, tentang beberapa point pertanyaan/komentar saudara diatas.

    1.Adapun Pertanyaan saudara : Saya mau nanya,,,Pada zaman Rosululloh Zakat menggunakan Gandum, Apakah Anda menggunakan Gandum ?

    Jawaban: Hadits dibawah ini cukup untuk menjawab pertanyaan Saudara , ana tidak perlu menambah perkataan para ulama untuk menjelaskan ini, karena sangat gamblang dalam hadits tersebut menyebut “ZAKAT DENGAN MAKANAN POKOK” jadi apa yang anda pikirkan sudah terkalahkan ( Walaupun kami faham maksud anda adalah berkisar pada Bi’dah Fidien tapi sayangnya anda tidak memahami makna bid’ah itu sendiri), semoga membuat anda merenung dan menjadi hamba ilmiah serta berfikiran luas:

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا
    مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarhi Al ‘Amiriy bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha’ dari Makanan pokok atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari keju (mentega) atau satu sha’dari kismis (anggur kering) “Rowahu Bukhariy No:1410

    2.Adapun Pertanyaan saudara: Pada zaman Rosululloh tidak ada Al-Quran seperti zaman sekarang, Apakah anda menggunakan Al-Qur’an seperti saat ini?

    Jawaban :
    Kami tidak mengerti maksud penanya dengan mengatakan Alquran zaman Sekarang Tidak Sama Dengan Alquran Dizaman Rosul Shollollohualai wassalam, Terus yang dimaksud bagaimana?
    -Apakah kita semua umat islam memakai Alquran palsu?
    -Apakah ada alquran yang lain?
    -Dan tentu alquran dari dulu ya seperti yang kita baca sekarang ini.
    -Atau mungkin maksud penanya tentang harokat dan pengumpulan lembaran-lembarannya?Jika ini yang dimaksud sebagaimana hujahnya ahlul jahil untuk melegalkan pengamalan ajaran-ajaran baru mereka,
    Dengan mengatakan “ALQURAN DIZAMAN NABIKAN BELUM DIKUMPULKAN DAN DITULIS Kemudian Para sahabat menulis dan mengumpulkanya bukankan ini Dasar adanya Bi’dah Hasanah?”

    أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رِضْوَانُ اللَّهُ عَلَيْهِ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ جَالِسٌ عِنْدَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ عُمَرَ جَاءَنِي فَقَالَ: إِنَّ الْقَتْلَ قَدِ استحرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بقُرّاء الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَستَحِرَّ الْقَتْلُ فِي الْمَوَاطِنِ كُلِّهَا فَيَذْهَبُ مِنَ الْقُرْآنِ كَثِيرٌ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟! فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ يُرَاجِعُنِي فِي ذَلِكَ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ عُمَرَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى فَقَالَ لِي أَبُو بَكْرٍ: إِنَّكَ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نتَّهمك وَقَدْ كُنْتَ تُكْتَبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ قَالَ زَيْدٌ: فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنَ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ: فَكَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ قَالَ: فتتبَّعت الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنَ الرِّقَاعِ واللِّخاف والعُسُب وَصُدُورِ الرِّجَالِ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التَّوْبَةِ مَعَ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ لَمْ أَجِدْهَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرِهِ {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ} [التوبة: 128]ـ خَاتِمَةُ {براءة} [التوبة: 1][ص:476] قَالَ: فَكَانَتِ الصُّحُفُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ

    Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengutus seseorang kepadaku (untuk memanggilku) tatkala peristiwa peperangan Yamamah. Tiba-tiba Umar radhiallahu ‘anhu duduk di sisinya. Lalu Abu Bakar berkata, “Umar telah datang kepadaku dan berkata, “Bahwasanya peperangan sangat sengit terhadap para qoori’ al-Qur’an dari kalangan para sahabat tatkala peperangan Yamamah (yaitu peperangan melawan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab si nabi palsu, yang mengakibatkan meninggalnya sekitar 700 para sahabat atau lebih-pen). Aku khawatir jika terjadi peperangan yang sengit di seluruh peperangan maka akan hilang banyak dari ayat-ayat al-Qur’an. Menurutku hendaknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan al-Qur’an.” Lalu aku (Abu Bakar) berkata, “Bagaimana aku melakukan suatu perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka Umar berkata, “Demi Allah ini adalah perbuatan yang baik”. Dan Umar terus menasehati aku untuk melakukannya hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku terhadap perkara yang Allah telah melapangkan dada Umar terhadapnya. Dan aku lalu berpendapat sebagaimana pendapat Umar”
    Lalu Abu Bakar berkata kepadaku (Zaid bin Tsaabit), “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang kami tidak menuduh/mencurigaimu, dan engkau dulu telah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaknya engkau menelusuri al-Qur’an dan kumpulkanlah”.
    Zaid berkata, “Demi Allah kalau seandainya Abu Bakar menugaskan aku untuk memindahkan sebuah gunung dari kumpulan gunung maka hal itu tidaklah lebih berat dari tugas Abu Bakar kepadaku untuk mengumpulkan al-Qur’an”. Aku berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Abu Bakar berkata, “Demi Allah ini merupakan perkara yang baik”. Dan Abu Bakar terus mendatangiku dan menasehatiku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku terhadap perkara yang Allah lapangkan dada Abu Bakar dan Umar terhadapnya”. Maka akupun menelusuri al-Qur’an yang paling lengkap dari lembaran-lembaran (baik kertas atau kulit), dari batu-batu tulis, dari pelepah korma, dan dari dada-dada para lelaki (penghapal al-Qur’an), hingga aku mendapati akhir dari surat At-Taubah ada pada Khuzaimah bin Tsaabit Al-Anshooriy, aku tidak menemukan dari selain beliau…… Maka lembaran-lembaran Al-Qur’an tersebut berada di Abu Bakar hingga akhirnya Allah mewafatkan beliau, lalu berada di Umar hingga Allah mewatkan beliau lalu berada di Hafshoh binti Umar” (HR Al-Bukhari no 4679, At-Thirmidzi no 3103, Ibnu Hibban no 4506)

    Apakah anda tidak melihat dari hadits diatas siapa yang bersepakat ?para Khalifah yang rasyid bukan ? Kalau iya bukankan Ahlu Sunnah Sepakat : Sumber Hukum Itu Adalah Alquran, Sunnah Nabi, Dan Ijma’/Kesepakatan Sahabat Serta Qiyas Dengan Syarat-yaratnya. Lalu apakah anda tidak melihat dalam hadits diatas siapa yang bersepakat? Saya Ulangi lagi mereka adalah Khalifah yang rasyid Dan MEREKA BUKAN KYAI YANG DIKYAIKAN AHKI, MEREKA BUKAN USTADZ YANG MENJUAL AQIDAHNYA DENGAN WANITA, HARTA DAN PEMAHAMAN SYIAH, JADI JANGAN DISAMAKAN KESEPAKATAN MEREKA( PARA SAHABAT ) DENGAN KESEPAKATAN KYAI-KYAI YANG DIKYAIKAN ATAU ORAGANISASI TERTENTU (ORANG AWAMPUN PAHAM SIAPA KYAI SIAPA SAHABAT NABI DAN SIAPA KHALIFAH)

    Mereka para sahabat mulia yang rosul berwasiat sebagaimana hadits yang anda bawa diatas yaitu :
    و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)

    Aku wasiatkan kaitan untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dar-i Habsyi.” Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba’ kepada sunnahnya dan sunnah para khalifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: “Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap kebid’han adalah sesat.” (HR Tirmidzi).

    Dalil untuk TAAT mengikuti kepada mereka Khalifah yang rasyid , bukan sebagai pelegalan untuk mengikuti PAK KYAI YANG DIKYAIKAN YANG MEMBUAT AJARAN – AJARAN BARU YANG ADA : SEMISAL TAHLILAN DLL, (SEKALI LAGI ANDA SIAPA DAN MEREKA PARA SAHABAT SIAPA? HENDAKNYA KITA SEMUA BERCERMIN DIRI)

    Coba anda perhatikan Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang penulisan dan pengumpulan Alquran :
    لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ
    “Janganlah kalian menulis dariku, barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an maka hapuslah” (HR Muslim no 3004).
    Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur’an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hadits ini menunjukan dengan gamblang bolehnya mencatat Alquran dan Kalau dicatat tentu dikumpulkan disuatu tempat dan lembaran,

    Perhatikan Makna kata كتب :

    Kata “kitab” (كتاب) adalah mashdar (bentuk ketiga) dari kata : كتب – يكتب – كتابا – و كتابة – وكتباً

    Dan arti kata ini berkisar pada makna “mengumpulkan”

    Seperti ucapan تكتب بنو فلان berarti “Bani Fulaan berkumpul”

    Itu semua menunjukan dengan jelas bahwa Alquran Dijaman Rosul telah dikumpulkan dan ditulis akan tetapi tidak selengkap dalam satu tempat seperti sekarang (30 juz lengkap),Karena ada kekhawatiran Alloh Ta’ala akan menghapus beberapa perintah dan larangan sebagaimana penjelasan para ulama.

    Perhatikan Sabda Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُسَافَرَ بِالْقُرْآنِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ
    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa al-Qur’an ke negeri musuh (HR Al-Bukhari no 2990 dan Muslim no 1869)
    Ini merupakan isyarat bahwasanya al-Qur’an akan ada terkumpulkan di umat ini dan akan mudah di bawa dalam safar. (Lihat Ahkaamul Qur’aan karya Abu Bakr Ibnul ‘Arobi)

    Kesimpulan : Bahwa menulis dan mengumpulkan Alquran bukan “Bid’ah” tapi sudah ada isyarat dari zaman nabi dan diteruskan khalifah yang rasyid, Akan tetapi para sahabat sangat hati-hati karena takut terjatuh kedalam sesuatu yang nabi belum memerintahkanya mengumpulkan menjadi satu.

    Tambahan: Adapun perkataan Umar Ibnu Khotob tentang “BID’AH HASANAH” yang dalam beberapa hadits beliau ucapkan, Semisal dalam Atsar SHALAT TARAWIH BERJAMAAH DIZAMAN BELIAU. Apakah anda pake juga untuk melegalkan bi’dah hasanah anda? padahal telah jelas bahwa Rosul Sholollohualaihi wassalam telah melakukan sholat tarawih berjamaah dimasa belaiu, Maka dapat disimpulkan Bid’ah hasanah yang dimaksud Umar Ibnu Khotob adalah Yang sudah lama terputus dikerjakan dan tidak kerjakan lagi kemudian dikerjakan lagi pada zamanya beliau, Ini menunjukan ungkapan secara bahasa saja, Bukan melegalkan setiap orang boleh membuat tata cara sendiri dalam beribadah, Kami kawatir anak cucu kita tidak kebagian sunnah nabi karena banyaknya PENCIPTA AJARAN BARU. Wallohu A’lam.

    3.Untuk jawaban berikutnya karena kami ada keperluan, insyalloh dilanjut nanti…

    Note :Sebagai tambahan pengetahuan, Coba saudara pemberi komentar klik link dibawah ini saja fahami komentar-komentar kami dan saudara-saudara pemberi komentar lainya yang sudah mengaku salah dan berterima kasih kepada kami, akan ketergesaan didalam berkomentar dan semangat tanpa ilmunya dalam masalah-masalah yang anda sebutkan diatas= semisal tahlilan dll . Wallohul Musta’an

    https://abuamincepu.wordpress.com/2009/07/03/ahlussunnah-wal-jamaah-siapakah-mereka/?preview=true&preview_id=1011&preview_nonce=7e76095765

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s