وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

  • Radio Online

  • Larangan Fanatik Buta

    Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

  • Mutiara Alquran

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

  • Admin Setting

  • Maaf Komentar Yang Dicurigai Bervirus Diblokir

  • Mutiara Sunnah

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau akan dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jika seandainya dunia ini di sisi Allah dianggap ada nilainya dengan selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi

  • Mutiara Ulama Salaf’

    أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ "Wahai Saudaraku Kalian Tidak Bisa Mendapatkan Ilmu Kecuali Dengan 6 Syarat Yang Akan Saya Beritahukan" 1.Dengan Kecerdasan, 2.Dengan Semangat , 3.Dengan Bersungguh-sungguh , 4.Dengan Memiliki bekal (biaya), 5.Dengan Bersama guru dan , 6.Dengan Waktu yang lama, (Imam Syafi'i Rahimahulloh)

Archive for the ‘Info Kristenisasi’ Category

Info Kristenisasi Indonesia Kisah Mualaf Suku Lauje Sulawesi Tengah

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 18, 2014

Kabar Tentang Para Muallaf
Akhir bulan Muharram 1435 H, seorang teman dari Poso mengabarkan bahwa beberapa orang suku terasing di Desa Dongkalan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (PARIMO), Sulawesi Tengah telah memeluk Islam. Mereka adalah suku terasing Lauje atau yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan sebutan “Orang Bela”, walaupun Bupati PARIMO lebih menganjurkan untuk memanggil mereka dengan sebutan “Orang Lauje Asli”, agar lebih menghargai mereka.

IMG-20140315-WA0001

Mereka mendiami pegunungan Pantai Timur (istilah untuk wilayah pesisir timur Provinsi Sulawesi Tengah). Mayoritas dari mereka memang sudah dikristenkan karena adanya kegiatan misionaris Kanada atau Amerika Serikat. Alhamdullillah, beberapa orang dari mereka yang tersentuh hidayah untuk memeluk Islam sehingga menjadi muallaf.

Tentu saja para muallaf ini sangat membutuhkan bimbingan demi memperkuat keimanan mereka. “Kami tidak ingin berislam sekadar Islam KTP,” kata salah seorang muallaf. Akan tetapi sayang, mereka belum mendapatkan penanganan serius. Kondisi yang seperti ini membuat mereka rentan kembali lagi kepada kekafiran. Berdasarkan pengalaman, banyak warga muallaf yang tidak terbina kembali murtad.

 

Perjalanan Menuju Kampung Muallaf
Mendengar berita keislaman beberapa orang tersebut, sejumlah da’i Ahlus Sunnah di Poso dan Palu menyambut bahagia dengan menemui para muallaf. Jarak dari Poso menuju menuju Kecamatan Palasa sekitar 300 km, sedangkan dari Palu sekitar 200 km. Rombongan da’i Poso sepakat untuk bertemu dengan rombongan da’i Palu di Parigi. Kemudian mereka bersama-sama menuju Kecamatan Palasa.

IMG-20140315-WA0002

Dengan bermodalkan nomor HP, pada pukul 14.30 WITA, rombongan meluncur dari Parigi menuju tempat tinggal para muallaf. Pada pukul 18.30 WITA, rombongan sudah tiba di desa Dongkalan. Kemudian rombongan langsung disambut ramah oleh Pak Arsyad (lebih akrab disapa Pak Acat). Beliau merupakan warga desa Dongkalan yang sering berinteraksi dengan orang-orang Bela. Dari Pak Acat inilah informasi awal tentang para muallaf ini didapat.

 

Beberapa Orang Bela Menjadi Muallaf
Setiap hari Sabtu (hari pasaran Dongkalan), orang Bela turun membawa barang dagangan dari gunung, seperti: kayu manis, rotan, bawang merah, dan hasil bumi lainnya untuk dijual di pasar. Uang yang didapat mereka gunakan untuk membeli ikan asin, garam, minyak goreng, dan keperluan lainnya.

Sehari sebelum hari pasar, orang Bela yang turun gunung berinteraksi dengan kaum muslimin, termasuk Pak Arsyad. Sebagian mereka masuk Islam lantaran interaksi tersebut, tanpa paksaan. Mereka masuk Islam dengan dibimbing imam masjid setempat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dimandikan oleh Imam Masjid. Sebagian mereka juga masuk Islam lantaran pernikahan dengan warga muslim di sekitar desa Dongkalan.

IMG-20140315-WA0005

Namun, setelah mereka masuk Islam, mereka belum mendapatkan pembinaan intensif dari tokoh setempat sehingga keadaan mereka cukup memprihatinkan. Kebanyakan mereka belum mengerti dan mengamalkan amal ibadah wajib.  Seorang warga yang sudah masuk Islam sejak satu/dua tahun lalu bahkan masih belum mengerti shalat, puasa, dan dasar-dasar Islam yang lain.

Penulis juga mendapati seseorang yang masih terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kami baru bersyahadat satu kali saja pak,” ujar salah seorang muallaf.

Jumlah para muallaf desa Dongkalan hingga sekarang ada 18 KK atau sekitar 60 jiwa. Semuanya membutuhkan bimbingan. Kehidupan mereka yang di bawah garis kemiskinan membuat mereka sangat rawan untuk kembali murtad ke ajaran Nasrani.

Taklim Bersama Para Muallaf
Keesokan hari, sekitar jam 08.00 WITA, rombongan naik ke SD Punsung Lemo guna bertemu langsung dengan para muallaf dengan menggunakan motor ojek. Karena medan terjal, jalanan naik turun, dan jarak yang jauh (sekitar 8 km), tarif ojek pun menyesuaikan. Tarif pulang pergi sejumlah Rp70.000,00, sekali antar Rp40.000,00.

IMG-20140315-WA0004

Setelah menaiki banyak tanjakan, tak terlihat perkumpulan rumah layaknya perkampungan. Akan tetapi, yang terlihat rumah-rumah yang terpencar di antara kebun yang terjal. Jarang sekali didapati tanah yang rata. Itulah tempat tinggal mereka, layaknya gubuk-gubuk tempat beristirahat di kebun. Hanya saja, mereka telah mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga atapnya sudah terbuat dari seng dan berdinding papan. Rumah mereka yang masih asli hanya berdinding kulit kayu dan beratap daun rotan tanpa paku, sebatas diikat dengan rotan.

IMG-20140315-WA0003

Rombongan tiba di SD Terpencil Punsung Lemo. Terlihat sekumpulan warga yang berjalan menaiki bukit. Merekalah para muallaf yang hendak menghadiri taklim (pengajian) di SD Punsung Lemo. Di antara mereka ada pula warga Bela yang memang sudah muslim sejak lahir. Tidak lama, mereka masuk ke ruangan kelas untuk mendengarkan kajian. Disampaikan saran agar jamaah wanita dipisah di ruang sebelahnya, mereka memahaminya; sementara anak-anak mereka bermain di halaman sekolah.

Taklim pun dimulai. Salah satu dari rombongan menyampaikan beberapa materi kajian Islam: Makna dan Keutamaan Dua Kalimat Syahadat, Rukun Islam, Tata Cara Thaharah, Berwudhu, Tata Cara Shalat, dan beberapa adab Islam lain. Setiap 4—5 menit penyampaian materi, Pak Andi menerjemahkannya ke bahasa Lauje, karena memang kebanyakan mereka belum paham bahasa Indonesia.

Alhamdulillah, mereka mendengarkan dengan saksama. Seusai kajian, salah satu dari rombongan membagikan mie instan kepada muallaf.

Kristenisasi di Tinombo, Palasa, dan Sekitarnya
Menurut warga, misionaris dari Kanada sudah melakukan misi kristenisasi di Pantai Timur sejak sekitar tahun 40-an. Awal mulanya, ada beberapa penginjil bule yang datang ke kecamatan Tinombo (sebelah Kec. Palasa). Mereka meminta salah seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah setempat untuk menulis kamus Inggris-Lauje sampai akhirnya mereka menguasai bahasa Lauje. Mereka kemudian menerjemahkan injil ke dalam bahasa Lauje.

Para penginjil Kanada tersebut tinggal bertahun-tahun di pegunungan suku terasing La Uje. Dahulu mereka sempat menggunakan helikopter untuk menjangkau daerah terpencil dalam menjalankan misi kristenisasi. (Alhamdulillah, sekarang helikopter tersebut sudah tidak terlihat lagi, wallahu a’lamapa sebabnya). Setelah itu, mereka mulai mendekati beberapa tokoh dan kepala suku orang Bela. Dengan diiming-imingi pakaian dan makanan, mereka berhasil mengkristenkan tokoh-tokoh orang Bela tersebut. Ketika kepala sukunya sudah masuk Kristen, dengan mudah masyarakat mengikutinya. Lebih-lebih mereka juga membagikan beras dan pakaian kepada masyarakat gunung
tersebut.

Beberapa kepala suku yang berhasil mereka rekrut ada yang dikirim ke Kanada. Akhirnya, kepala suku tersebut menjadi pendeta dan penginjil di gunung. Beberapa pemuda/pemudi orang Bela juga mereka kirim ke Perguruan Theology, seperti ke Manado, Tentena (Poso), atau tempat lainnya. Pada akhirnya mereka pulang menjadi pendeta di gunung.

Seorang Mantan Penginjil Yang Menjadi Muallaf
Setiba rombongan berada di rumah Pak Acat, beliau langsung menelepon salah satu muallaf untuk turun ke rumah beliau. Sepulang dari shalat Isya, rombongan sudah mendapati dua orang duduk di teras rumah Pak Acat. Mereka langsung menyalami keduanya, Pak Andi dan Pak Asmin.

Pak Andi adalah seorang mantan penginjil yang baru satu pekan masuk Islam. Beliau sempat mengenyam pelatihan Penginjil di Manado selama sebulan. Sementara itu, Pak Asmin sudah berislam sejak lahir, hanya saja istri beliau adalah seorang muallaf. Dalam kesempatan berjumpa dengan muallaf itu, salah seorang rombongan menawarkan untuk menyampaikan beberapa ajaran Islam. Keduanya pun mengiyakan. Sambil berbincang santai, salah seorang di antara mereka menyampaikan makna dua kalimat syahadat secara ringkas, rukun Islam lainnya, tata cara thaharah, dan adab Islam lainnya.

Dua orang tersebut mendengarkan dengan saksama. Bahkan, Pak Andi sempat merekam beberapa penjelasan tersebut dengan HP-nya. Dengan harapan bisa didengar ulang nanti di rumahnya. Kemudian mereka menyampaikan kepada Pak Andi, rencana akan naik ke gunung besok pagi, insya Allah. Rencana tersebut disambut baik Pak Andi, bahkan beliau meminta diadakan pengajaran Islam di gunung untuk warga muallaf lainnya.

Tidak berapa lama, datanglah Sekdes dan Ketua P3N. Pembicaraan beralih ke topik kondisi orang-orang Bela. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WITA, kedua orang Bela tersebut berpamitan untuk pulang ke rumahnya di gunung.

 

Semangat Belajar Seorang Muallaf
Walaupun malam mulai larut, Pak Andi dan Pak Asmin tetap berangkat pulang ke gunung. Dengan sebuah motor bebek, keduanya menaiki jalan terjal di kegelapan malam sejauh 8 km untuk sampai di rumahnya.

Setibanya di rumah, Pak Andi bukannya langsung tidur, tetapi membangunkan keluarganya yang sudah tertidur. “Bangun-bangun, ini ada rekaman pelajaran agama Islam dari Pak Ustadz. Mari kita dengarkan!”

Mereka pun bangun dan mendengarkan rekaman tersebut. Pak Andi mengatakan, “Kami mengulang-ulang mendengarkan rekaman tersebut hingga jam 2 malam, baru kami tidur.” Waktu itu istri Pak Andi masih Nasrani. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, beberapa pekan kemudian masuk Islam.Masya Allah, demikianlah semangat seorang muallaf yang ingin mengetahui ajaran Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan iman Pak Andi sekeluarga.

Esok harinya, masih pagi sekali, Pak Andi dan Pak Asmin berjalan naik turun bukit untuk menyampaikan undangan taklim kepada para muallaf lainnya yang akan dilaksanakan di Ruang Kelas SD terpencil Punsung Lemo.

Sekilas Tentang Kampung Muallaf
Dusun Solongan dan Pungsu, adalah dua dusun yang bersebelahan, keduanya masih di bawah pemerintahan Desa Dongkalan. Solongan berjarak sekitar 8 km dari jalan poros, sementara Pungsu terletak di bawah Solongan. Mayoritas warga Solongan beragama Nasrani, sementara Pungsu mayoritas muslim. Di kedua dusun inilah para muallaf tinggal.  Warga Bela di sana hidup dari sektor pertanian.

Secara geografis, kedua dusun tersebut terletak di atas perbukitan terjal dan berbatu. Lereng-lereng gunung yang sangat terjal mereka olah menjadi kebun-kebun. Mereka bercocok tanam ubi, singkong, padi ladang, bawang, cabai, coklat atau cengkih. Pengetahuan mereka tentang pertanian sangat minim sehingga hasil panennya pun sangat terbatas. Hal inilah yang melatarbelakangi program pembinaan pertanian kepada mereka demi lebih menambah produktivitas hasil pertanian. Makanan pokok mereka adalah talas, ubi, singkong, kadang nasi.
Ubi/singkong kadang dibakar atau direbus. Lauk yang paling mereka sukai adalah ikan asin. Kalau tidak ada ikan asin mereka makan dengan lauk garam dicampur cabai.

Tidak ada masjid di sana, demikian pula gereja.

Sekilas Tentang Dusun Salamayang
Salamayang adalah dusun yang sangat terpencil, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah hari bagi orang Bela yang sudah biasa.  Adalah Pak Nani Hati, beliau adalah warga Salamayang yang sudah masuk Islam dua tahun lalu. Hanya saja, beliau masih belum mengenal Islam. Anak dan istrinya masih belum dibimbing bersyahadat oleh Imam Dongkalan.

Beliau adalah satu-satunya guru di sana. Sekolah yang beliau kelola hanya beratap terpal, berlantai papan, tanpa ada dindingnya. Jumlah siswanya 120 orang. Di sana ada 400 KK atau sekitar 3.000 jiwa yang mayoritasnya masih beragama Nasrani. Hanya saja kegiatan gereja sudah tidak aktif lagi. Dahulu pernah ada pendeta Kanada yang tinggal menetap di sana. Akan tetapi, karena suatu kasus, dia diusir dari Salamayang.

Pak Nani Hati menjelaskan bahwa jika warga Salamayang disentuh dengan bantuan, insya Allahmereka bisa diajak masuk Islam. Beliau siap menjembatani untuk sampainya program dakwah kepada suku terasing di sana.

Pernah ada seorang warga Solongan yang pernah bertemu dengan sepuluh laki-laki Salamayang yang baru pulang dari kampung Dongkalan. Ketika ditanya keperluan mereka dari Desa Dongkalan, mereka menjawab, “Kami ada 10 keluarga ingin masuk Islam, tetapi tidak ada tanggapan dari Pak Imam.” Kesepuluh keluarga ini dengan penuh kesedihan pulang ke Salamayang tidak jadi masuk Islam.

Sungguh ironis, sepuluh keluarga tersebut tidak tersalurkan keinginannya untuk memeluk Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan mereka dengan hidayah.

Dari sisi mata pencaharian, mayoritas warga Salamayang bercocok tanam bawang merah. Bagi yang pernah berkunjung ke Palu, mungkin sudah mengenal oleh-oleh Bawang Goreng renyah. Dari Salamayang-lah asal bawang goreng itu ditanam. Mereka berjalan selama setengah hari memikul hasil panen dari Salamayang menuju pasar. Terkadang bawang hasil panen mereka muat dengan rakit menyusuri sungai Palasa menuju jalan raya.

Keadaan Salamayang yang sangat terpencil tersebut membuat petugas pemerintah merasa kesulitan dalam membina mereka. Pembinaan dari para misionaris Kristen yang sempat menyentuh mereka sehingga mereka sekarang memeluk agama Kristen.

Pembangunan Gereja Ilegal
Sekitar 3 tahun lalu, masyarakat Desa Dongkalan sedang disibukkan dengan kerja bakti membangun pasar Dongkalan. Mereka hampir tidak pernah naik ke kebun di gunung. Ternyata secara diam-diam, para penginjil Pantekosta di Dusun Pungsu membangun sebuah gereja, tanpa izin pemerintah dan warga setempat. Warga dikagetkan dengan adanya undangan kebaktian dari seorang pendeta perempuan bernama Selvi. Warga bertambah kaget lagi ketika jemaat gereja yang datang itu ternyata dari luar daerah, seperti dari tentena (Poso), Bondoyong (Tinombo), dan Manado.

Warga sangat tersinggung dengan perbuatan para penginjil tersebut. Spontan warga langsung naik ke gunung dan merobohkan gereja ilegal tersebut. Konon kabarnya, gereja itu adalah yang terbesar di kecamatan tersebut. Tidak lama kemudian Danramil, Camat, dan Kades naik ke lokasi. Mereka juga menyalahkan tindakan para penginjil tersebut yang membangun gereja tanpa izin pemerintah dan warga setempat.

Akhirnya, Pendeta Muda Itu Masuk Islam
Para penginjil ternyata sudah menyiapkan seorang pendeta muda perempuan untuk memimpin jemaat gereja pantekosta di dusun Pungsu. Arina, seorang gadis belia suku Bela yang telah mereka kirim ke sebuah sekolah Theology di Manado. Dia mengenyam pendidikan Pendeta sekitar 3 Tahun di Manado. Mereka harap Arina bisa melanjutkan misi di dusun Pungsu. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala memusnahkan impian mereka.

Walaupun gereja ilegal tersebut sudah dirobohkan warga, Pendeta Selvi masih ngotot terus melakukan kebaktian di rumah seorang warga. Hanya saja Pendeta Arina sudah tidak begitu aktif memimpin jemaat lagi. Entah apa yang menyebabkan pendeta Arina tidak aktif memimpin jemaat.

Karena kevakumannya, Pendeta Selvi sempat memukul Pendeta Arina. Kurang lebih dua bulan yang lalu, kaum muslimin Dongkalan mendapat kabar gembira dengan masuk Islamnya Pendeta muda Arina, menyusul dua kakaknya yang terlebih dahulu masuk Islam. Ada seorang pria muslim dari dusun Tingkulang yang mempersunting mantan Pendeta Arina. Akhirnya, mereka berdua dinikahkan
oleh imam di masjid setempat.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menambah keimanan beliau. Sekarang, mantan pendeta Arina berpindah ikut sang suami tinggal di Tingkulang.

Keinginan Membangun Masjid
Para muallaf sangat mendambakan berdirinya sebuah masjid di Dusun Pungsu-Solongan. Mereka sangat menginginkan bisa belajar Islam bersama anak dan istri mereka di masjid tersebut. Akan tetapi, karena kurang mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait, keinginan mulia ini belum tercapai.

Sepulang rombongan da’i Ahlus Sunnah dari kampung muallaf itu, mereka terus menyampaikan kabar tentang kondisi para muallaf tersebut kepada kaum muslimin di Poso, Parigi, dan Palu. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala gerakkan hati kaum muslimin untuk membantu para muallaf dalam meraih cita-cita mulia tersebut.

IMG-20140315-WA0000

Tidak lama, terkumpullah belasan karung pakaian pantas pakai serta sejumlah dana dakwah dan pembangunan masjid. Sekarang program pembangunan masjid kayu dengan ukuran 8x8m secara bertahap. Kerangka bangunan dan atap seng sudah terpasang. Karena keterbatasan tenaga tukang, pembangunan belum berlanjut. Tahap selanjutnya adalah pemasangan lantai kayu dan dinding kayu.

Program Dakwah yang Lain
Berikut ini rencana program dakwah yang akan dilaksanakan di kampung muallaf.

1. Rencana pengadaan sarana MCK, tempat wudhu, dan pengadaan air bersih. Mengingat langkanya sumber air, pengadaan air bersih rencana diambil dari sebuah mata air di bukit yang berjarak sekitar 600 m. Dibutuhkan selang air sebanyak 12 rol dan dua buah tandon penampungan air.

2. Program pemberangkatan 5 guru ngaji setiap pekan sekali bergiliran. Mengingat jarak Poso-Palasa sekitar 300 km, dibutuhkan biaya akomodasi para ikhwah Poso yang mengajar mengaji.

3. Program pembagian santunan rutin (bulanan) kepada 18 keluarga muallaf. Banyaknya isu fitnah yang ditebarkan orang yang tidak bertanggung jawab, menyebabkan beberapa keluarga muallaf terhasut dan tidak mau menghadiri taklim lagi. Dakwah kepada mereka dilanjutkan dalam bentuk bantuan santunan rutin atau pembagian sembako dalam rangka melembutkan hati-hati mereka.

Tatkala penulis menyerahkan santunan sejumlah uang kepada seorang muallaf terlihat matanya berkaca-kaca.
Sampai sekarang, belum ada santunan rutin yang diberikan kepada tiap warga muallaf, selain pembagian pakaian pantas pakai, sabun, dan garam dapur. Itu pun baru terlaksana satu kali.

Demi meredam berbagai isu fitnah, program santunan juga ditujukan kepada beberapa tokoh adat dan kepala dusun (orang Bela yang sudah muslim sejak lahir) yang hidup di bawah garis kemiskinan.

4. Program biaya belajar santri La Uje, alhamdulillah, ada dua santri muallaf yang sudah dikirim ke Poso untuk belajar di Ma’had al-Manshurah dan Pra Tahfizh Poso. Insya Allah, ada beberapa anak muallaf lain yang ingin menyusul mereka untuk belajar di Poso.

5. Pembebasan tanah untuk tempat tinggal imam masjid dan beberapa keluarga muallaf.

6. Program pembangunan beberapa unit rumah kayu untuk beberapa orang Bela. Aji, seorang muallaf yang tinggal di dusun Silongkohung. Jika hendak ke lokasi masjid, dia mesti berjalan kaki sekitar empat puluh menit. Dia sangat menginginkan berpindah ke dekat masjid agar lebih intensif belajar Islam. Hanya saja karena terkendala biaya, Aji masih belum bisa membangun rumah dekat
masjid. Selain Aji, masih ada beberapa warga Bela yang menginginkan mendekat ke lokasi Masjid.

Setelah masjid dibangun, insya Allah akan diresmikan oleh pemerintah setempat: Camat, Kepala KUA, atau Kepala Desa. Sekaligus diadakan bakti sosial sunatan masal, pengobatan gratis, dan pembagian santunan terhadap para muallaf.

Perizinan Dakwah Kepada Para Muallaf
Sudah menjadi prinsip dakwah Ahlus Sunnah, setiap langkah dakwahnya selalu berkoordinasi dengan pemerintah. Sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah dalam hal ma’ruf. Para du’at yang hendak berdakwah kepada para muallaf ini menemui Kepala Desa Dongkalan, Camat, dan Kapolsek Palasa. Para pejabat tersebut secara umum mendukung program mulia ini.

Proses perizinan dilanjutkan ke tingkat lebih tinggi dengan menghadap Kapolres Parimo, Sekda Parimo, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Parimo. Dengan kemudahan dari Allahsubhanahu wa ta’ala, surat izin kegiatan dakwah dari Polres dan Kankemenag Kab. Parimo telah keluar.
Demikian gambaran singkat dakwah kepada para muallaf suku terasing Lauje.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan keimanan mereka semua. Amin.

(al-Ustadz Abu Hafsh Umar al-Atsari, Poso)

 

Bagi Anda yang ingin membantu kelanjutan program dakwah ini, dapat disalurkan melalui:

Bank BRI Poso No. Rek. 0072-01-006008-53-0  a.n. SARMIN PAROSO

ATAU

Bank Syariah Mandiri Poso No. Rek. 70-699-3950-8 a.n. ATJO ISHAK ANDI MAPATOBA

 

CP: al-Ustadz Umar Abu Hafsh (081 383 314 075)

 

Laporan donasi yang masuk bisa dilihat di sini.

Posted in Info Dunia Islam, Info Kristenisasi | 1 Comment »

Info Kristenisasi: No Rekening Donasi Kegiatan Pemberantasan Kristenisasi (AYO STOP KRISTENISASI)

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Maret 22, 2014

Dengan memohon taufik dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, insya Allah Ma’had as-Salafy Jember akan mengirimkan beberapa thullab yang akan membantu kaum muslimin di beberapa tempat. Mereka akan bertugas dakwah selama kurang lebih satu bulan. Tugas dakwah dimulai pada tanggal 1 Februari hingga tanggal 28 Februari 2014. Beberapa daerah yang menjadi sasaran dakwah adalah;

  1. Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Sekitar 20 thullab akan diberangkatkan ke Kampung Laut. Mereka berasal dari thullab I’dadi/Takhashshush kelas Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebelumnya mereka adalah para pengajar TA dan musyrif MTP maupun Tahfizh. Sejumlah ini akan dibagi menjadi kelompok-kelompok yang masing-masingnya akan dipandu oleh salah seorang mas’ul. Masing-masing kelompok dan pemandu akan ditempatkan di titik-titik dakwah yang dibutuhkan (antara 4 – 5 titik dakwah).

  • Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Adapun untuk daerah Poso, ada 4 nama yang akan diberangkatkan.

Persiapan Pengiriman Para Dai

Di antara hal yang perlu sebagai persiapan keberangkatan:

  1. Pembekalan Dai, meliputi; niat, fisik, mental, materi, semangat, gambaran medan, dll.

  2. Peralatan dan Perlengkapan, meliputi; peralatan umum dan pribadi, peralatan dakwah, perangkat pendidikan, dll

  3. Agenda dan Program Kegiatan Dakwah, meliputi; kegiatan apa saja yang akan dilakukan di sana, kajian, olahraga, baksos, kerja bakti, pendirian perpus, dll.

  4. Apakah perlu penggalangan bantuan sebelum keberangkatan, semisal pengumpulan pakaian bekas pantas pakai, buku-buku bacaan Islami untuk  anak-anak, remaja, dan orang tua, mushaf, iqra’, alat tulis, olahraga?

Secara umum kegiatan di sana antara lain;

  1. Membantu dan melanjutkan program Ma’had  an-Nur al-Atsari.

  2. Mengajar orang-orang tua dalam bentuk taklim/pengajian dengan materi akidah, thaharah, shalat, dll serta al-Qur’an.

  3. Mengajar anak-anak melalui format TPA/TPQ.

  4. Melakukan pendekatan kepada muallaf dan menanamkan kecintaan terhadap Islam, bisa dengan Baksos dan kegiatan olahraga. Olahraga favorit mereka adalah bulutangkis dan sepak bola.

  5. Membantu para muallaf dalam kegiatan kerja bakti dan masyarakat.

NB: Bagi pembaca yang ingin memberikan dukungan donasi untuk kelancaran pelaksanaan program ini, kami sediakan jalur donasi di:
Rekening Mandiri a.n Sunnu Pradipta, no. rek 1370010382410
Rekening BNI a.n Winarno, no. rek 0241011406
Rekening BCA a.n Winarno, no. rek 2000347160
Rekening BRI a.n Winarno, no. rek 752501000039505

Mohon konfirmasi jika sudah men-transfer donasi untuk program dakwah ini via SMS ke 085257638931 (Abu Sa’id Abdurrahman).
Dengan menyebutkan nama pengirim, nominal, dan di-transfer ke rekening mana..

Kepada seluruh pihak yang telah menyalurkan donasi untuk terlaksananya program ini, kami mengucapkan Jazaakumullaahu khayran katsiira.. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi antum, keluarga, umur, serta harta antum..

Baarakallaahu fiikum..

Jazaakumullaahu khairan.

Publised : http://mahad-assalafy.com/

Posted in Info Kristenisasi | Leave a Comment »

Informasi Kristenisasi : Laporan Perkembangan Dakwah di Kampung Laut (1) (AYO STOP KRISTENISASI )

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Maret 22, 2014

PERIODE PERTAMA 1 – 14 FEBRUARI 2014

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam, si ular besi berkaki seribu “Logawa” yang menggendong rombongan dai Ma’had as-Salafy Jember secara perlahan menurunkan kecepatannya. Kereta ini dipastikan telah berhenti setelah kami mendengar seorang operator dengan lantang mengucapkan kata-kata melalui pengeras suara di stasiun, “Selamat datang, perjalanan anda telah sampai di stasiun Kroya. Periksa barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal.”

Betul, kami lantas memeriksa semua barang bawaan kami. Jangan anda bayangkan barang yang kami bawa sebatas tas ransel dengan satu cangklong besar. Tetapi ada sekitar 40 kardus ditambah dua karung beras berisi rambutan sebagai bekal perjalanan. Rasa-rasanya seperti mudik lebaran saja. Itu pun sebenarnya sudah dikurangi satu kardus pisang yang ludes kami bagi-bagikan kepada penumpang di kereta. Ketika kami membagi-bagikan pisang perbekalan kami kepada penumpang lain, salah seorang penumpang bertanya, “Berapa mas harganya?” Dalam hati, kami ketawa, dikiranya kami ini adalah pedagang asongan yang sedang menawarkan pisang. “Oh, enggak pak… Pisang ini gak dijual, silakan dinikmati saja!”

Perjalanan yang lumayan jauh, dan bagi penulis, ini adalah perjalanan kereta api yang paling jauh yang biasanya hanya menempuh jarak Jogja-Jember. Sabtu sore menjelang malam, tepatnya tanggal 1 Februari 2014, kami berhenti di stasiun Kroya lalu transit semalam di Ma’had Mujur, merebahkan badan sembari memulihkan kekuatan, karena kami masih dalam separuh perjalanan.

Keesokan harinya, Ahad tanggal 2 Februari 2014, rombongan bergerak menuju stasiun Kroya untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju stasiun Banjar Patroman di Ciamis, Jawa Barat. Jadi rute yang kami tempuh untuk menuju Kampung Laut adalah Jember – Kroya – Ciamis – Kampung laut. Tepat jam 10.17 stasiun Banjar Patroman sudah berada di depan mata. Ini adalah stasiun terakhir untuk bisa mencapai Kampung Laut via Ciamis.

Ada banyak hal yang bisa diceritakan ketika kami melakukan perjalanan ini. Suatu ketika kami ngobrol dengan penumpang lain dalam kereta. Di antara yang membuat hati kami terketuk adalah ketika ada seorang pria separuh baya, usianya sekitar 30 – 38 tahun, yang berdiskusi dengan kami. Dalam kesempatan itu kami menjelaskan tujuan keberangkatan kami ke kampung laut, bagaimana kondisi masyarakat yang membutuhkan siraman rohani, anak-anak yang haus terhadap tarbiyah islamiyah, dan pernak-pernik program pengiriman dai ke kampung laut. Sejenak setelah mendengar penuturan kami, pria paruh baya itu langsung merogoh sakunya dan memberikan infak kepada kami. Tanpa ragu lima lembar kertas bergambar pak karno itu disumbangkan oleh pria yang tidak kami kenal dan tidak mengenal kami sebelumnya. “Hanya ini mas yang bisa saya berikan,” ujarnya. Pertemuan dengan pria tersebut terhenti seiring dengan berhentinya si ular besi yang kami tumpangi. Semoga Allah membalas kebaikan pria ini.

Di stasiun ini, Banjar Patroman, kami menunggu jemputan dari ma’had an-Nur al-Atsary Ciamis.

Sebelumnya, penulis sudah berkomunikasi dengan Pak Malik, salah seorang ikhwan yang ditugasi untuk menjemput rombongan. Mungkin sekitar 10 menit kami menunggu, mobil tua berwarna coklat dengan santun mendekat. Di dalamnya ada sosok seorang ikhwan yang dengan senyumnya memberi isyarat bahwa dialah yang akan menjemput kami. Benar juga, begitu turun dari mobil, pria berjenggot itu segera mendatangiku dan menyalamiku. “Abu Abdillah?” Katanya dengan nada bertanya. “Iya, pak Malik ini?” jawabku sambil membalas dengan pertanyaan.

Setelah berbincang sebentar dan saling menanyakan kabar, datanglah mobil truk bak tertutup yang sudah dipotong separuh bagian atasnya. Kalau mau membayangkan bayangkan saja gerbong kereta batu bara. Bedanya truk ini beratap. Ternyata benar, truk bak tertutup ini dimodifikasi sebagai mobil pengangkut barang dan orang. Pak Malik segera menyodori selembar kertas yang berisi jadwal kegiatan rombongan dai Ma’had as-Salafy Jember di Ciamis.

Barang segera dinaikkan ke atas truk bersama rombongan. Ternyata truk tersebut tidak menampung semua rombongan. Sisanya masuk ke dalam mobil tua berwarna coklat. Berangkatlah rombongan menuju ma’had an-Nur al-Atsari Banjarsari Ciamis Jawa Barat. Namun, aku dan satu orang ikhwan terpaksa naik angkot karena memang truk dan mobil tua berwarna coklat itu tidak muat. Kami berdua ditemani oleh salah seorang pelajar Ma’had an-Nur al-Atsari. Sebut saja Saeful, nama pelajar tersebut. Santri kelahiran tahun 1993 itu dengan sabar menemani kami menunggu angkot yang akan mengantar ke ma’had. Bahasa Sunda yang digunakan Saeful rupa-rupanya berhasil menggambarkan kepada kami bahwa dia asli Ciamis. Namun ternyata, ia adalah pemuda bermarga jawas, Jawa Tengah Asli, tepatnya Klaten.

Setibanya di Ma’had an-Nur al-Atsary rombongan Ma’had as-Salafy disambut dengan meriah oleh pengurus. Di antara hal yang membuat kami terharu adalah ketika salah seorang petugas dapur pondok yang bernama Abul Faruq tetap menyatakan untuk bertugas kendati saat itu adalah hari liburan ma’had. Beliau rela mengorbankan waktu liburnya untuk menjamu rombongan Ma’had as-Salafy. Dan pada hari Senin, Abul Faruq mengambil lauk untuk kami. Qaddarallah, beliau jatuh dari sepeda motor. Abul Faruq segera dilarikan ke puskesmas. Sebenarnya, tidak ada luka luar akibat kecelakan sepeda motor itu. Pertolongan segera diberikan kepadanya. Namun apa daya kekuatan manusia tak mampu membendung ketentuan dan ketetapan sang Penguasa. Abul Faruq dipanggil oleh Allah setelah jatuh dari sepeda motor demi menjamu rombongan Ma’had as-Salafy. Semoga Allah merahmati dan membalas kebaikan Abul Faruq serta memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggal. Rombongan termasuk yang ikut menyalatkan jenazah dan mengiringinya ke pekuburan.

Selebihnya, rombongan dai Ma’had As-Salafy mendapatkan pengarahan dan penjelasan medan dakwah Kampung Laut. Perlu diketahui bahwa Ma’had an-Nur al-Atsary adalah pengampu dakwah di Kampung Laut. Sehingga seluruh dakwah di Kampung Laut di bawah koordinasi Ma’had an-Nur al-Atsary. Peserta antusias mendengar penjelasan dari Ustadz Khathib, Ustadz Abu Jundi, Ustadz Abu Abdi Rabbih dan Ustadz Aan. Selanjutnya, rombongan Ma’had as-Salafy melakukan rapat koordinasi bersama penanggung jawab dakwah Kampung Laut, Ustadz Abu Abdi Rabbih. Kesimpulannya, bahwa para dai akan ditempatkan di enam titik dakwah; Ujung Gagak sebagai sentral, Ujung Alang, Solok Jero, Muara Dua, Binangun, dan Cikadim.

Ketua rombongan, Ustadz Muh. Noer segera menggelar rapat konsolidasi membagi para dai ke masing-masing titik beserta koordinator masing-masing. Setelah ditentukan koordinator dan anggota masing-masing titik, perbekalan yang kita bawa segera kita bagi menjadi enam. Perbekalan dibagi di Ciamis karena ini adalah pertemuan terakhir sebelum kita berpisah di masing-masing titik dakwah. Setelah dirasa cukup persiapan dan belanja perbekalan selesai maka ba’da Ashar hari Senin, berangkatlah rombongan dai Ma’had as-Salafy menuju Kampung laut via dermaga Majingklak. Truk dengan bak seperti gerbong kereta batu bara tapi beratap dengan setia membawa barang kami dan beberapa orang dari kami. Selebihnya naik mobil. Tercatat dua mobil yang mengantarkan kami ke dermaga. Barang yang kami bawa bertambah banyak karena kebutuhan logistik selama di Kampung laut kami beli di Jawa, sebab harga-harga di Kampung Laut melangit dan itu pun terbatas.

Kali ini, penulis mendapatkan kehormatan untuk naik mobil tua berwarna coklat. Rombongan meluncur. Satu truk gerbong kereta batu bara, satu mobil lagi lumayan bagus dan mobil tua berwarna coklat. Kampung Laut yang hanya di benak, kini sebantar lagi akan kami pijak. Tak sabar saja rasanya ingin segera sampai di Kampung Laut itu. Namun penulis berpikir bahwa kami harus bersabar, sebab yang penulis naiki adalah mobil tua berwarna coklat yang kali ini disopiri oleh Saeful Jawas. Mungkin saja, kami akan tertinggal oleh rombongan yang sedari tadi sudah melaju kencang di depan. Tapi tak disangka si Saeful Jawas itu tiba-tiba memacu mobil tua berwarna coklat sejadi-jadinya. Tiga mobil yang mengangkut para dai itu saling susul-menyusul untuk segera sampai. Truk gerbong kereta batu bara paling depan, satu mobil lagi di belakangnya, dan mobil tua berwarna coklat paling bontot. Masing-masingnya melaju kencang seperti semangat kami yang menggebu-gebu untuk bisa segera mencapai Kampung Laut. Tak disangka, mobil tua berwarna coklat dengan sopir akh Saeful segera melaju dan melampaui dua mobil di depannya. Dugaanku terhadap mobil ini ternyata meleset. Ternyata, mobil tua berwarna coklat ini masih saja seperti inova. Terus melaju dan melesat, hingga di dermaga Majingklak kamilah yang pertama sampai. Tentu, karena pertolongan Allah kemudian mobil tua berwarna coklat bersama si Saeful.

Sungai Citandeuy membentang di mata kami. Lebar sungainya, deras arusnya dan coklat airnya. Jujur saja, sebagai orang gunung, baru kali ini aku melihat sungai seluas ini dengan puluhan perahu bersandar di tepiannya. Subhanallah, sebuah pemandangan menakjubkan. Setengah jam kemudian, dua mobil kami yang lain akhirnya datang juga. Jarak kami terpaut lumayan jauh, memang mobil tua berwarna coklat yang disopiri akh Saeful itu tak boleh diremehkan. Di dermaga ini, berdirilah masjid besar nan megah dengan kubah coklat keemasan. Sayang, kemegahan masjid ini tak semegah jamaahnya. Menurut penuturan salah satu ikhwan, masjid ini sepi jamaah. Jangankan pengajian atau taklim, adzan lima waktu saja jarang terdengar dari masjid ini, Allahul musta’an.

Dermaga Majingklak sebagai saksi atas perpisahan sebagian kami yang segera bertolak ke titik-titik dakwah. Wajar saja, karena untuk bertemu lagi antar kami merupakan sesuatu yang mahal lagi sulit. Antar titik harus ditempuh dengan perahu dengan biaya yang relatif tidak sedikit. Untuk komunikasi juga lumayan terbatas, karena di sebagian titik sinyal HP sulit ditemukan. Berangkatlah dengan barakah dari Allah wahai teman, kami hanya bisa mendoakan. Itulah awal perpisahan kami tepatnya pada Senin sore menjelang Maghrib. Dua perahu siap mengantarkan kami ke masing-masing titik dakwah….

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kami tuturkan, namun kiranya di waktu lain kisah itu kami sampaikan. Yang jelas, Kampung Laut menyimpan sejuta cerita dan tentunya mereka membutuhkan kita semua. Berikut ini beberapa ringkasan laporan dakwah di Kampung Laut.

 

UJUNG GAGAK

(Pusat Kampung Laut)

Koordinator  : Abu Abdillah Wates

Anggota       :

  1. Umar Bafadhol

  2. Taufik Jambi

  3. Zakariya Padang

  4. Abdullah Kendari

  5. Murtadho

  6. Zumar Rofiqi

Laporan Kegiatan

  • Setelah datang kita melakukan:

  1. Kunjungan ke Lurah/KADES, Kunjungan ke RT, dan Kunjungan ke Kadus.

Dalam kunjungan tersebut kami menjelaskan program dan tujuan kedatangan kami disertai harapan dukungan dan saran maupun arahan. Kegiatan dakwah selama itu (4 hari pertama) belum berjalan karena target kita adalah berbaur dengan masyarakat terlebih dahulu.

  • Sosialisasi ke Masyarakat:

Pengumpulan warga ba’da shalat Jumat tanggal 7 Februari, sekaligus perkenalan dan penjelasan program-program. Kami menamakan kegiatan kami sebagai santri PKL PONPES AS-SALAFY JEMBER JAWA TIMUR. Dalam kesempatan tersebut kami juga mengharapkan dukungan dari warga, orang tua, tokoh pendidikan. Alhamdulillah, tanggapan warga positif dan mendukung baik dari orang-orang tua, maupun tokoh pendidikan.

Program yang dilaksanakan

  1. A.   Pendekatan kepada Warga.

  • Kunjungan ke warga, ngobrol, menanyakan pekerjaan atau bantuan, ramah-tamah. Cara ini jitu untuk berbaur dengan masyarakat. Perlu diketahui bahwa dahulu pihak kristen mengirimkan siswa-siswi sebuah sekolah kristen di Jakarta ke Kampung Laut. Jumlah mereka 8 bus. Mereka ditugaskan untuk masuk ke dalam rumah-rumah warga dan berbaur dengan mereka. Mereka membantu tugas sehari-hari warga. Tugas mereka adalah menggambarkan kepada masyarakat bahwa Kristen itu baik. Bertolak dari itu, maka kami berusaha untuk “memasyarakat”.

  • Membantu pekerjaan warga:

  1. Memotong rumput di sawah.

  2. Menguras tandon air.

  3. Mengangkut batu bata.

  4. Membuat pondasi.

  5. Melaut/mencari ikan bersama warga.

  6. Membasmi rumput rumah warga.

  • Setiap berkunjung kita meninggalkan oleh-oleh berupa buletin saku, buku, dan kalender.

  • Kunjungan dan bantuan kerja dilaksanakan:

ü  Jam 06.00 – Zhuhur.

ü  Jam 14.00 – Ashar.

ü  Ba’da maghrib.

ü  Ba’da Isya.

  1. B.   TPA/TPQ anak-anak setiap ba’da Ashar.

ü  Tempat di Masjid Jami’ al-Barakah.

ü  Jumlah santri sekitar 50 anak (jumlah ini sebelum ada les kelas enam di SD. Namun setelah ada les kelas 6, mulai tanggal 10 Feb, maka jumlah santri berkurang, karena waktu les bertabrakan dengan jadwal TPA). Sampai berita ini diturunkan jumlah peserta TPA semakin hari semakin bertambah. Sekarang bisa mencapai 70-an.

ü  Fasilitas Modul, dll. Jadwal pelajaran lengkap lihat pada lampiran.

ü  Pembuatan lapangan sepak bola di belakang masjid al-Barakah.

  1. C.   Pengajian Ibu-ibu.

ü  Dilakukan 2 kali seminggu, Ahad jam 14.00 Fikih dan Jumat jam 14.00 nasihat keluarga.

ü  Jumlah peserta 30-an orang.

ü  Semula bertempat di mushala-mushala, tetapi dengan kedatangan kita, tempat kajian difokuskan ke Masjid al-Barakah.

ü  Ibu-ibu sangat antusias dan aktif.

  1. D.   Taklim Umum ba’da Maghrib.

ü  Peserta adalah bapak-bapak sepuh, sebagian ikhwan, ibu-ibu dan anak-anak.

ü  Materi bebas.

ü  Taklim tidak usah terlalu lama, maksimal 45 menit.

  1. E.   Taklim Ikhwan ba’da Isya’.

ü  Peserta adalah ikhwan (sekitar 4 orang).

ü  Materi Qowa’idul Arba’ dan Nahwu (Ust. Zakariya PDG) dan Tahsin (Ust. Ahmad PCT).

  1. F.   Kultum ba’da Shubuh. Jadwal kegiatan lengkap bisa dilihat pada tabel kegiatan.

ü  Diisi secara bergilir oleh santri.

ü  Durasi maksimal 15 menit.

 

PR yang harus segera dikerjakan:

  1. Mendirikan TPA di mushala tengah.

–      Kita sudah dipersilakan oleh Pak Kirman (mantan kepala sekolah SD).

–      Alhamdulillah, kita diberi kepercayaan oleh pihak SD untuk menggunakan fasilitas komputer dsb yang berada di ruang kantor (hubungi Pak Kirman, Agus, Rahmat).

–      Pihak SD melalui pak Kirman juga mengalokasikan 1 jam belajar aktif agar kita mengajar pelajaran agama pada jam tersebut untuk kelas 1 – 6. Namun permintaan ini belum kita realisasikan karena beberapa pertimbangan.

  1. Mendirikan TPA di mushala timur.

–      Pak Arif Sugiri mempersilakan kita untuk masuk ke mushala timur. Di mushala ini sudah terbentuk TPA dan yang ngajar adalah akhwat salafiyah ba’da Ashar, namun terkadang kosong.

–      Harapannya, kita bisa mengadakan TPA ba’da Maghrib di mushala ini atau setidaknya mengoptimalkan TPA yang sudah ada (ba’da Ashar) dengan cara menyamakan materi pengajaran, yaitu dengan memberikan modul dan iqra’ kepada mereka.

–      Terucap dari seorang warga/jamaah mushala timur (Pak Edi) agar kita mengisi kajian di mushala tersebut. Tawaran-tawaran kajian semacam ini adalah hasil dari kunjungan kita ke rumah-rumah warga Ujung Gagak.

  1. Mengadakan pembinaan mualaf.

–      Mualaf yang aktif adalah Pak Puji, rumahnya sebelah selatan masjid.

–      Pembinaan mualaf belum berjalan, tetapi salah seorang mualaf sudah aktif dan sebenarnya siap untuk diajari.

  1. Yang perlu untuk dikunjungi berikutnya:

–      Pak Kades, kadus, RT/RW dan aparat desa lainnya.

–      Pak Arif Sugiri, Pak Jemu, Pak Mul, Pak Sipon, Jasmin, Pak Sutrisno (timur gereja Katholik yang sudah runtuh) dan tokoh-tokoh masyarakat lain.

–      Ikhwan-ikhwan yang sudah futur/jarang taklim, seperti Anto, Abdurrahim, Sofyan, Warsito dll.

–      Para mualaf: Pak Puji, Pak Marto, Pak Murja (mualaf), pak Sugiarto (mualaf), dll.

–      Dan seluruh warga. Ingat bahwa semakin kita berkunjung ke warga maka image dan pandangan masyarakat yang dahulu kurang baik terhadap kita insya Allah sedikit demi sedikit akan terkikis.

–      Secara umum, mualaf di sini masuk Islam karena iming-iming materi dan hadiah.

  1. Tanggal 15-17 Feb kita diminta membantu Pak Warso belakang rumah untuk membuat pondasi rumah.

  2. Mendirikan perpustakaan mini, di mushala tengah (Pak Kirman) maupun di Masjid al-Barakah. Semua buku distempel terlebih dahulu.

  3. Pendirian PAUD/TK/TA untuk menampung pendidikan anak-anak kaum muslimin.

 

Kendala:

  1. Warga/ikhwan terhambat oleh waktu pekerjaan (nelayan) yang tidak menentu, sehingga kadang-kadang tidak bisa hadir dalam shalat berjamaah maupun taklim.

  2. Untuk taklim sepuh-sepuh dan ibu-ibu lebih disukai yang berbahasa jawa atau minimalnya campuran.

  3. Ikhwan setempat kurang kompak, jadi kita sendiri yang harus pro aktif melakukan kegiatan terjun ke masyarakat.

  4. Pembangunan gereja kristen ilegal masih terus berjalan, bahkan tinggal pemasangan keramik. Penghentian pembangunan ini kurang mendapatkan perhatian serius dari seluruh warga muslim sebab paham pluralisme dalam beragama sudah kian santer di masyarakat dan ada indikasi bahwa pihak kristen “main uang” agar masyarakat muslim diam. Masyarakat yang imannya rendah akan tergiur dengannya sehingga rasa cemburu terhadap Islam semakin berkurang. Untuk membendung arus kristenisasi berupa pembangunan gereja ilegal ini, sebagian masyarakat yang masih bersemangat berupaya membangun mushala di daerah gereja tersebut. Namun pembangunan mushala ini terhambat oleh biaya. Sampai sekarang ini, pembangunan mushala terhenti dan baru sampai pada pondasi saja. Maka dari itu mohon dukungan doa dan bantuan dari kaum muslimin semuanya. Hingga berita ini diturunkan, kami mendengar bahwa pihak Nasrani bergerilya yang mendatangi para mualaf untuk mengajak murtad kembali. Dari hasil gerilya itu, ada satu mualaf yang murtad lagi.

 

Saran dan kritik:

  1. Usahakan untuk sering berkunjung ke warga, siapapun dia. Tipe dan karakteristik warga Ujung Gagak itu suka diajak ngobrol dan senang bila dikunjungi. Tuduhan teroris masih santer di tengah-tengah masyarakat. Judi dan sabung ayam adalah hal biasa baik tua muda, pria dan wanita.

  2. Setiap kali berpapasan hendaknya kita memberi salam kepada mereka atau setidaknya menyapa mereka. Dengan menghidangkan dua potong senyum kepada mereka, mereka akan senantiasa menghargai kita. Jangan sungkan-sungkan untuk mengucapkan, “Assalamu’alaikum, ndherek langkung, monggo, atau yang semisalnya.”

  3. Ketika ngobrol dengan warga, sering-seringlah menanyakan kabar, pekerjaan apa yang bisa kita bantu, dll.

 

BINANGUN

Koordinator  : Salim

Anggota       :

  1. Zakariya BWI

  2. Ardhi

  3. Syahroni

  4. Haritsah

 

v TPA kurang lebih 15 anak (Ba’da Maghrib).

v Bapak-bapak mulai belajar Iqra.

v Ziarah.

v Kerja bakti.

v Tanggapan masyarakat bagus.

 

CIKADIM

(3 – 9 Februari 2014) Ust. Muhammad Noer.

Koordinator  : Muslim (10 Februari 2014)

Anggota       :

  1. Muh. Ali Ridha.

  2. Faishal.

  3. Mudzakkir.

  4. Abdillah Jenggawah

 

v Semula dakwah marak di tempat tersebut (sebelum ada masjid).

v Perkembangan tersebut membuat tokoh setempat iri, yang pada akhirnya dia memprovokasi atau mempengaruhi, dan melarang warga taklim terkhusus anak-anak mereka (sebelum kedatangan santri-santri Jember). Tidak boleh berbicara dengan ikhwan, menolak pemberian, tidak menerima tamu dari kita.

v Kesyirikan marak di tempat tersebut.

v Ketika ikhwan Jember datang, mereka langsung membuat program amal jama’i, kajian setiap hari, dan TPA/TPQ.

v Untuk ziarah. Karena posisi masjid jauh dari rumah penduduk sekitar 400 m, ketika hujan jalan sulit untuk dilalui.

v Ziarah belum sempat dilakukan. Karena beberapa ikhwan masih trauma/khawatir menimbulkan efek dakwah.

v Program yang perlu dilakukan.

  • Ziarah ke masyarakat (perlu ditekankan).

 

Contoh Permusuhan tokoh ormas di sana:

Melengserkan RT yang ngaji ke kita dengan membuat tanda tangan palsu dan menggantikan dengan tukang sabung ayam.

v Kajian.

  • Kajian sudah berjalan dengan peserta kurang lebih 11 orang setiap ba’da Maghrib.

  • Pengajian ibu-ibu 3x seminggu. Ada tambahan peserta kurang lebih 10 orang.

  • TPA/TPQ kurang lebih 7 orang. Sebelumnya Ust. Yusuf (Fikih).

v Mayoritas warga adalah petani, nelayan, nderes kelapa (nira). Ibadah ke masjid kurang.

 

 

UJUNG ALANG

(baru bisa masuk sejak tanggal 10 Febuari 2014)

Koordinator  : Muh. Noer

Anggota       :

  1. Razi Medan

  2. Muadz Medan

  3. Abu Muhammad Malang

  4. Hasan Medan

  5. Fauzan Malang

v Semangat para mualaf sangat tinggi untuk belajar Islam.

v Miras/judi/sabung ayam adalah kebiasaan sehari-hari masyarakat, baik tua, muda, pria wanita.

v Antipati masyarakat terhadap dakwah ini sebagai dampak kecerobohan dalam beramar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan oleh seorang da’i dari madura pada saat acara hajat laut/sedekah laut.

v Tuduhan teroris masih santer di tengah-tengah masyarakat.

v Masyarakat terkhusus para mualaf lebih senang untuk dituntun dalam memahami permasalahan/hukum agama daripada sistem doktrin atau langsung tembak.

Kegiatan yang berjalan.

v Taklim ba’da maghrib, peserta mayoritas mualaf (kurang lebih 17 orang) di mushala Muhajirin.

v Ba’da Isya’ Iqra’ bapak-bapak.

v Kuliah subuh.

v Latihan adzan (mualaf banyak yang belum bisa/hafal adzan).

v TPA/TPQ ba’da maghrib di masjid tengah ba’da Maghrib (sebelumnya dipegang Arifin Madura; kadang ada kadang kosong).

 

MUARA DUA

Koordinator  : Abdullah Imam

Anggota       :

  1. Muh. Mughna

  2. Abdul Malik

  3. Amin Medan

  4. Usamah Kebumen

 

v Taklim bada shalat Maghrib peserta dari warga alhamdulillah baru 1 – 2 orang.

v Bada maghrib TPA, alhamdulillah 1 -2 orang.

v Pagi kerja bakti.

v Bada dhuhur – malam ziyarah.

v Satu mualaf sudah mulai ke masjid, anak-anak mulai mendekat.

 

 

Ternyata dakwah itu berat. Dakwah itu sulit. Menjadi seorang murabbi itu tidak gampang. Namun kita tidak pernah putus asa. Dengan segala kekurangan yang ada pada kami, alhamdulillah, dan dengan pertolongan Allah tak terasa 2 minggu sudah kami terjun di Kampung Laut. Ada yang menerima ada yang menolak. Sebagian besar mereka antusias. Butuh uluran tangan dari kita, dari kami dan dari antum. Masih banyak kekurangan yang harus kami benahi. Siapakah yang akan peduli dengan mereka lagi selain kita? Kaum muslimin, mualaf dan anak-anak selalu menunggu antum semua di kampung ini…. Kami menanti antum di sini . . .

Barakallahufikum . . .

 

Berat bagi kami meninggalkan Kampung Laut. Kami tidak ingin estafet dakwah ini hanya berjalan selama satu bulan lalu berhenti begitu saja tanpa ada yang melanjutkan. Terlampau kasihan anak-anak yang sudah dekat dengan kita, dengan shalat jamaah, dengan pengajian, dengan iqra’ dengan ilmu lalu kita tinggal begitu saja. Sayang bila dakwah ini berhenti sampai di sini. Siapa yang akan mengajari mereka iqra’? Siapa yang akan membina mereka dalam ibadah? Tidak adakah yang terketuk hatinya?

 

Laskar Bahari Ujung Gagak[1] menanti kita . . .

 

Laskar Bahari semakin menggelora seperti gelombang pasang pantai selatan!

 

Mualaf Ujung Alang selalu menunggu . . .

 

 

 


[1] Demikian kami menyebut sebagian santri aktif TPA/TPQ masjid al-Barakah Ujung Gagak. Ada sejuta cerita dan kisah yang bisa kami rangkai tentang mereka. Di antara semangat ibadah mereka adalah bahwa jam pulang sekolah mereka sekitar jam 12-an lebih, tetapi para Laskar Bahari meminta ijin kepada guru untuk ikut shalat jamaah dulu bersama kami, padahal mereka masih berada pada jam belajar aktif

Publised : http://mahad-assalafy.com/

 

Posted in Info Kristenisasi | Leave a Comment »

Info Kristenisasi :Matahari Terbit Di Kampung Laut Cilacap ” Sepenggal Kisah Perjalanan Dakwah” (Bagian 2)

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juni 20, 2012

Kegembiraan para da`i Ponpes An Nur Al Atsary semakin bertambah, ketika dua orang stasi (tangan kanan) pendeta sekte Bethel dan Advent datang ke Ponpes An Nur Al Atsary untuk masuk Islam. Dua orang ini mengutarakan bahwa keduanya telah dijadikan para pendeta untuk “ menjaring domba-domba tuhan “ (pen : ini adalah ungkapan para pendeta ketika melakukan program kristenisasi). Selama menjalankan misi tersebut keduanya telah berhasil mengkristenkan sekitar 160 orang dan telah membangun sekitar lima gereja di wilayah kampung laut.

Sebab pertama yang membuat mereka berkeinginan untuk keluar dari agama Kristen adalah kecurangan para pendeta kepada mereka berdua dan kepada umatnya.  Ketika keduanya bekerja keras mewujudkan keinginan pendeta, namun ketika ada bantuan materi yang seharusnya mereka terima ternyata “ dimakan” oleh para pendeta, dan  ketika mereka diminta oleh sang pendeta utuk mengajukan proposal pengadaan mobil operasional, setelah mobil tersebut turun ternyata mobil tersebut dipakai sendiri untuk kepentingan pendeta, tapi sang stasi (tangan kanan pendeta) hanya diberikan sepeda untuk operasionalnya.

Ketika jamaah Kristen ada keperluan untuk menghadiri sebuah acara mereka di perintahkan oleh pendeta untuk iuran, agar bisa menyewa sebuah mobil, dan  hal ini sering mereka alami. Kemudian mereka mengutarakan bahwa ketika  melihat adanya sekelompok ummat Islam yang sedang berdakwah di kampung laut dan berhasil mengembalikan sejumlah warga yang murtad menjadi Islam kembali, mulailah mereka berfikir untuk masuk Islam. Karena mereka melihat adanya persaudaraan (ukhuwah) hakiki antar para muallaf dengan sekelompok yang berdakwah tersebut, yang mana hal ini tidak mereka dapatkan di agama Kristen.

Akhirnya mereka pun memberanikan diri untuk datang, dan pada waktu itulah mereka paham bahwa perbedaan Agama Islam dengan Kristen bukan hanya dalam hal persaudaraan namun juga  dalam  prinsip ketuhanan. Setelah prosesi masuk Islam selesai mereka berdua menyatakan, “ Sekarang saya tahu siapa itu Tuhan”. Alhamdulillah, kini mereka paham bahwa Robbul Alamin adalah Dzat yang Maha Esa, tidak memiliki anak dan satu-satunya Dzat yang berhak untuk  diibadahi, adapun selain-Nya adalah makhluk tidak pantas diibadahi.  Mereka berdua pun bertekad untuk mendakwahi orang-orang yang dulu mereka murtadkan, Alhamdulillah melalui dua orang tersebut sudah ada beberapa orang yang kembali ke islam. Semoga Allah mengokohkan keislaman mereka dan menolong perjuangan mereka.

Terkadang kisah lucu yang mengundang tawa muncul dari tingkah laku para muallaf, sebagaimana yang pernah terjadi ketika serombongan warga kampung laut datang ke Ponpes an Nur Al-Atsary  dengan maksud untuk masuk Islam. Setelah mendapatkan wejangan dan bimbingan  tentang Agama Islam mereka pun bersyahadat, kemudian mandi. Pada saat masuk waktu sholat mereka pun hadir dalam barisan jamaah sholat, dan ternyata mereka betul-betul belum tahu tentang tata cara sholat. Sehingga ketika sholat pandangan mereka tidak lepas dari gerakan jamaah yang lain dan mereka ikuti semua gerakannya. Ketika sujud mereka pun ikut sujud,lalu ketika jamaah bangkit dari sujud.

Sebagian mereka ikut bangkit namun sebagian lagi tetap dalam posisi sujud, maka salah satu muallaf yang bangkit dari sujud mencoba mengingatkan temannya yang tetap sujud, sambil menedang –nendang dengan kakinya ia berkata, “ kang….kang….tangi ! kang…kang …..tangi ! liane uis podo menyat “ (kang….kang…bangun! kang..kang ..bangun! yang lain sudah berdiri). Tentu saja kejadian ini membuat jamaah yang ada di samping mereka harus menahan tawa karena sedang sholat, seandainya tidak sedang sholat niscaya ia akan tertawa terbahak-bahak, sebagaimana hal ini dituturkan oleh Pak Ade Muslih, salah seorang jamaah sholat yang waktu kejadian tersebut ada disamping mereka.

Bimbingan terus menerus dilakukan, hal ini memang dibutuhkan oleh para muallaf. Kebanyakan dari mereka belum mengetahui perkara-perkara mendasar dalam Islam, apakah Aqidah, Akhlaq, ataupun Fiqh. Sampai-sampai tata cara wudlu dan sholat pun banyak yang belum mengetahuinya. Sampai-sampai ada yang melaksanakan sholat sambil dia membaca buku tata cara sholat di tangannya.  Alhamdulillah saat ini, telah berjalan pengajian rutin untuk mereka selain khutbah dan sholat Jum`at. Para muallaf yang berada di daerah Solok jero mereka bisa mengikuti pengajian setiap hari jumat setelah sholat Jum`at di masjid Al-Muwahidin Solok Jero.

Untuk para Muallaf yang berada di Desa Ujung gagak (karang Anyar) bisa mengikuti kajian rutin setiap malam Jum`at di masjid Al barokah Ujung Gagak. Semangat mereka dalam tholabul Ilmi mulai nampak, segaimana hal ini terlihat ketika diadakan pengajian, mereka antusias untuk hadir dalam acara tersebut sampai bisa memenuhi masjid dan semangat ibu-ibu petani Solok Jero dalam menimba ilmu Agama tidak kalah dengan para suaminya. Setiap hari Jum`at setelah selesai sholat Jumat mereka turun dari bukit-bukit berjalan kaki sambil membawa buku tulis dan pena menuju masjid untuk mengikuti pengajian rutin.

Pada awalnya, banyak dari mereka yang tidak memggunakan kerudung. Namun sekarang, Alhamdulillah  mereka sudah terbiasa mengenakan pakaian muslimah yang lebar-lebar. Pak  Hasan Makarim salah seorang Tokoh MUI Cilacap ketika kunjungannya ke Kampung Laut dan melihat ibu-ibu petani Solok Jero, merasa Takjub dengan semangat mereka dalam mengenakan pakaian muslimah bahkan merasa tidak percaya kalau yang dilihatnya itu adalah muallaf.  Bahkan pernah suatu ketika seorang da`i ponpes an Nur Al Atsary memberikan pengajian bagi ibu-ibu petani di Solok Jero,ia  sempat kaget ketika salah seorang ibu –ibu petani sudah ada yang berani mengenakan pakaian hitam lengkap dengan cadarnya.

Dan Sekarang sebagian ibu-ibu petani belajar agama Islam secara rutin setiap bada Sholat maghrib kepada seorang istri kader da`i yang ditempatkan di masjid Solok jero. Saat menjelang waktu maghrib  terlihatlah ibu-ibu petani tersebut turun dari pebukitan dengan mengenakan mukena putih dan membawa lampu obor menuju masjid. Mereka pun ikut mengerjakan sholat maghrib berjamaah, kemudian belajar hingga waktu sholat Isya. Setelah sholat isya mereka kembali ke ke rumahnya masing-masing. Sebuah Pemandangan yang sudah sangat jarang ditemukan, ternyata tinggal di hutan pun tidak menghalangi  seseorang untuk menuntut ilmu agama.

Alhamdulillah, kesadaran orang tua untuk menanamkan Ilmu agama Islam bagi anak-anak pun mulai muncul di hati masyarakat kampung laut. Saat ini, sebagian anak-anak petani mengikuti program belajar khusus bagi anak-anak yang diadakan di masjid Solok Jero dari pagi hari hingga sore hari, bahkan sekitar empat anak petani telah dikirimmkan ke Ponpes An Nur Al Atsary Ciamis untuk belajar Ilmu agama, dan beberapa Ahlu Sunnah di daerah lain segera menyambut berita gembira ini. mereka menyatakan kesedian untuk menanggung biaya anak-anak tersebut selama belajar di Pesantren.

Pendidikan Agama Islam untuk putera puteri Kampung laut memang sangat penting karena Insya Allah Ta`ala merekalah yang akan menjadi penerus Dakwah Tauhid di kampung halamannya. Oleh karena itu kesempatan belajar harus dibuka lebar-lebar untuk mereka , terlebih jika mengingat para misionaris Kristen yang gencar membuka program bea siswa bagi putera-puteri kampung laut untuk disekolahkan di lembaga-lembaga pendidikan mereka seperti Yos Sudarso, Akademi Maritim Nusantara, dan yang lainnya.

`Izzatul Islam (kemulyaan Islam) mulai dirasakan oleh masyarakat Kampung Laut. Hal ini nampak ketika pada tanggal 21 April 2012 lalu, diadakanlah acara Tabligh akbar di Desa Ujung Gagak (karang Anyar) Kecamatan Kampung laut dengan tema “ Menggapai kebahagiaan Dengan Islam” dan sebagai pematerinya adalah Al ustadz Muhammad Umar As Sewwed –hafidzahullah-. Acara ini dihadiri oleh Tokoh MUI Cilacap Pak Hasan Makarim, Kepala Kecamatan Kampung laut, Kapolsek Kawunganten, dan beberapa orang anggota Marinir. Suatu hal yang luar biasa, acara ini dihadiri oleh sekitar 1500 peserta yang berasal dari luar Kecamatan kampung laut selain peserta yang berasal dari kampung laut.

Lebih dari 30 perahu yang digunakan para peserta Tabligh akbar bersandar di dermaga Ujung Gagak, sehingga sebagian nelayan menahan keberangkatannya ke laut karena merasa takjub dengan pemandangan yang baru terjadi ini. Selama hidup di Kampung laut mereka baru melihat sekitar 1500 orang hadir dalam sebuah Tabligh Akbar dalam keadaan berpakaian jubah dan gamis. Tanpa sadar salah seorang penduduk berseloroh ,” akeh banget…..” (banyak sekali…). Setelah acara selesai banyak penduduk yang mencari pakain Jubah dan gamis, mereka merasa senang dan ingin meniru para tamu peserta yang kemarin hadir di acara Tabligh Akbar. Mudah-mudahan pakaian tersebut menjadi sebuah model yang terus mereka cintai.

Laa haula wa laa quwwata illa billah, tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan segala apa yang telah diperoleh Ahlu Sunnah ketika berdakwah di kampung laut. Puji dan Syukur hanya bagi Allah Rabbul Alamin yang telah memilih sebagian hambanya untuk menjadi sebab terbukanya pintu hidayah dan kebaikan bagi suatu kaum yang dianggap lemah dan tak berharga. Hal ini adalah sesuatu yang sangat berharga jauh lebih berharga dari kekayaan yang mewah , sebagaimana sabda Rasululloh –Shalallahu alaihi wa sallam- bahwa jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebab dirimu, maka hal itu lebih baik dari pada onta-onta merah (kendaraan yang paling mewah).  Kini saatnya bagi Ahlus sunnah untuk bergandeng tangan merapatkan barisan menyusun langkah yang pasti untuk mengibarkan panji Dakwah Tauhid menyongsong  kemenangan yang Allah janjikan. Sungguh wajah-wajah bercahaya yang merindukan Islam kini mulai muncul, bagaikan Matahari Terbit Di kampung laut .

Wahai Ahlus Sunnah ! Siapa lagi yang paling pantas  berbelas kasih kepada manusia kalau bukan kalian ?! Dunia dan keindahannya jangan sampai memperdaya kalian, semua itu akan sirna, namun akan tetaplah amalan sholih menyertai hingga kalian berjumpa dengan Robbul `Alamin……………..

( Abu Jundi;  ma’had An- Nuur Al- Atsaty Ciamis)

www.salafy.or.id

Posted in Info Kristenisasi | 1 Comment »

Info Kristenisasi : Matahari Terbit Di Kampung Laut Cilacap” Sepenggal Kisah Perjalanan Dakwah” (Bagian 1)

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juni 20, 2012

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu berjalan demikian cepat. Tidak terasa satu tahun lebih telah berlalu menjalani dakwah tauhid di kampung Laut. Ketegangan, kesulitan, senyuman, dan tangisan semuanya teralami ketika mengibarkan panji dakwah tauhid di daerah ini. Semula tatapan pesimis muncul dari sebagian kaum muslimin yang mendengar bahwa Ahlus sunnah mulai melangkahkan kaki untuk berdakwah di daerah ini. Mereka merasa tidak percaya diri kalau masyarakat Kampung laut yang terkenal dengan kehidupan keras , amoral, bodoh, dan miskin mau menerima dakwah tauhid. Karena dahulu pernah ada beberapa ormas yang berupaya mencurahkan dakwah Islam dengan menjalankan berbagai program sosial dan pembangunan masjid namun hasilnya jauh dari yang mereka harapkan. Sehingga ungkapan keputusasaan muncul dari mereka.

Allah Rabbul `Alamin adalah Dzat yang Maha Berkehendak. Namun, ketika Allah menghendaki suatu kaum untuk mendapatkan Hidayah-Nya, maka tidak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya. Demikian pula jika menghendaki kesesatan suatu kaum, maka tidak ada seorang pun yang menghalanginya. Alhamdulillahilladzi bi ni`matihi tatimmu Ash Sholihat, segala puji bagi Allah yang mana dengan Nikmat-Nya menjadi sempurnalah berbagai amalan shalih. Berbekal tawakkal, do`a dan semangat menteladani generasi salaf dalam berdakwah, Ahlus Sunnah yang berada di sekitar Ponpes An Nur Al-Atsary Ciamis terjun untuk mempelopori dalam mengkibarkan panji dakwah tauhid di Kampung Laut dengan sebuah harapan besar bahwa hal ini akan menjadi sebab Hidayah dan Ukhuwah bagi masyarakat Kampung laut juga bagi Ahlu Sunnah yang ada di berbagai daerah.

Sampai saat ini, kita melihat adanya tanda-tanda dikabulkannya do`a dan harapan tersebut oleh Allah Ta`ala, karena dengan sebab dakwah ini sekitar 100 orang masyarakat kampung laut telah kembali masuk Islam, setelah sebelumnya murtad mengikuti seruan misionaris Kristen. Selain itu, masjid-masjid jami di wilayah tersebut meminta untuk dikunjungi dan diadakan pembinaan rutin, dan Ahlus Sunnah yang ada di berbagai daerah kini mulai bangkit untuk sama-sama berta`awun. Semua ini menunjukan adanya respon baik yang bisa dijadikan sebagai suatu kekuatan dan peluang untuk melanjutkan dakwah tauhid yang mulia ini. Rasa penat dan letih yang terkadang muncul ketika menjalani dakwah ini, namun rasa tak terasa hilang begitu saja ketika mendengar ucapan Syahadat yang keluar dari lisan seorang muallaf. Betapa tidak sebelumnya ia adalah seorang yang murtad kemudian memusuhi dakwah tauhid.

Pernah suatu ketika rombongan da`i dari Ponpes An Nur Al Atsary mengunjungi sebuah lokasi wakaf di Desa Ujung Gagak yang telah direncanakan untuk dilakukan pembangun masjid di atasnya, namun pihak misionaris kristen mendahuluinya dengan membangun sebuah gereja tepat di samping tanah tersebut. Ketika bangunan gereja itu diambil gambarnya maka tiba-tiba ada seorang lelaki hitam berbadan kekar dengan bertelanjang dada berlari menghampiri. Kemudian membentak rombongan da`i tersebut, belakangan diketahui bahwa lelaki itu adalah seoarang yang murtad dan menjadi pendukung utama para misionaris Kristen. Namun sungguh tidak disangka, berapa waktu kemudian lelaki itu datang ke Ponpes an Nur Al Atsary ditemani beberapa orang masyarakat Kampung Laut lainnya untuk menyatakan keislaman, Alhamdulillah. Rasa haru pun kerap hadir, ketika melihat beberapa orang yang menyatakan bahwa dirinya ingin bertaubat dari segala perbuatan dosa yang ia sering lakukan kemudian ia menjalaninya dengan jatuh bangun sementara kondisi lingkungan belum mendukung keinginannya.

Teringatlah seorang pemuda Karang Anyar yang mana masyarakat telah mengenalnya sebagai “ jagoan” yang ditakuti, hampir setiap hari miras ditenggaknya. Pada suatu hari ia dan sekitar sepuluh orang teman-temanya yang “ se-profesi” datang ke Ponpes An Nur Al Atsary bersama dengan orang yang mau masuk Islam. Para pemuda “ singa-singa kampung Laut” yang berwajah garang tersebut menyatakan bahwa mereka masih beragama Islam namun ingin bertaubat dan ingin memperbaiki jalan hidupnya, maka mereka pun mendapatkan wejangan dan bimbingan dari asatidz Ponpes An Nur Al Atsary. Kemudian setelah berbicara banyak hal yang menunjukan adanya keinginan baik mereka pun pamit untuk pulang. Beberapa waktu kemudian, serombongan da`i dari Ponpes An Nur Al-Atsary berkunjung ke Karang anyar setelah selesai berdakwah di daerah Ujung Alang.

Ketika sedang berjalan di jalan kampung menuju rumah sebuah penduduk, rombongan da`i tersebut melihat salah seorang “ singa Kampung Laut” yang pernah datang ke Ponpes an Nur Al Atsary dalam keadaan sedang berjalan limbung, maka dugaan pun muncul bahwa ia sedang mabuk karena miras. Ketika ia melihat ke rombongan, ia segera berlari dengan sempoyongan menuju rombongan da`i. Melihat kejadian ini beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya segera berhamburan karena ketakutan, khawatir jika pemuda itu mau mengamuk. Namun setelah sampai di hadapan rombongan ia pun mengucapkan salam dan mengacung-acungkan kedua tangannya ke atas kepala sambil berkata, “ maaf ustadz…..maaf ustadz….”. Ucapan ini terus ia ulang-ulang sambil mengawal rombongan da`i menuju sebuah rumah penduduk, bahkan ketika rombongan berjalan kea rah dermaga untuk pulang ia tetap bersikeras untuk mengawal, walaupun keadaannya sempoyongan.

Karena sudah masuk waktu Maghrib rombongan memutuskan untuk sholat di sebuah mushola yang ada di sana, pemuda itu pun berinisiatif mencarikan tempat yang bisa dijadikan untuk berwudlu. Ia berlari ke pinggiran dermaga lalu mendorong beberapa perahu yang sedang bersandar lalu ia ia bersihkan sampah-sampah di tepian sungai tersebut, kemudian ia berkata, “ silahkan wudlu Ustadz…..!”, rasa takjub dan haru pun belum berhenti sampai disana, ternyata ia memaksakan diri untuk ikut sholat bersama rombongan, ia belum memahami kalau orang yang mabuk tidak boleh mendekati sholat, ternyata ia mengikuti sholat maghrib berjama’ah sampai selesai. Ketika rombongan sedang menjama Sholat isya, pemuda itu pun mulai kelihatan tidak bisa mengalahkan rasa mabuknya, akhirnya ia pun jatuh terbanting ke belakang kemudian tergeletak tak sadarkan diri.

Di saat rombongan bersiap-siap pulang salah seorang warga membangunkannya dan mengatakan kalau rombongan para ustadz akan pulang, ternyata di luar dugaan ia tiba-tiba bangkit dan memaksakan diri untuk mengantar rombongan menuju perahu yang bersandar di dermaga. Kemudian ia memegang perahu tersebut supaya rombongan bisa naik ke atasnya. Tidak lama setelah rombongan mengucapkan salam kepadanya, perahu pun laju meninggalkan pemuda tersebut yang melambaikan tangannya. Rombongan da`i pun merasa takjub dan terharu dengan kejadian tersebut, mereka menyadari bahwa sebenarnya telah muncul kecintaan dan keinginan baik dari pemuda tersebut, namun apa daya ia belum bisa mengalahkan lingkungan dan pertemanan jelek yang ada di sekitarnya. Alhamdulillah, kini pemuda tersebut sering terlihat hadir di masjid mengerjakan sholat Jumat.

Bahkan ketika acara Tabligh Akbar yang diadakan di Karang Anyar pada tanggal 21 April 2012 lalu, pemuda tersebut mengenakan pakaian gamis panjang, dan di dadanya tersemat tanda panita tabligh akbar. Hidayah Taufiq benar-benar ada di tangan Allah Ta`ala,kegembiraan yang tiada terhingga akan dirasakan oleh para da`i jika melihat orang yang didakwahinya dengan idzin Allah Ta`ala menyambut dan menerima dakwah tersebut. Demikianlah yang dirasakan ketika para da`i Ponpes An Nur Al-Atsary melakukan gebrakan awal untuk masuk ke Solok Jero sebuah daerah terpencil di wilayah kampung laut yang berbatasan dengan pulau Nusakambangan Bara. disanalah para Misionaris sekte Bethel dan Advent telah berhasil memurtadkan sekitar 40 kk petani. Bertemulah ketika itu dengan salah seorang koordinator kelompok petani yang berada di sana. Pembicaraan pun terjadi, dia menanyakan maksud rombongan Ponpes An Nur al Atsary masuk ke daerah tersebut dengan membawa tiga ekor kambing dan sejumlah bahan bangunan, dijelaskanlah kepadanya bahwa tiga ekor kambing itu adalah hewan qurban yang akan disembelih dan dibagikan kepada para petani muslim disana, kemudian bahan bangunan tersebut adalah untuk membantu para petani memperluas mushola mereka yang sangat kecil.

Orang tersebut pun paham dan merasa senang dengan kedatangan rombongan. Satu hal yang membuat rombongan Ponpes an Nur Al Atsary merasa heran. Ketika itu orang tersebut mengaku beragama Islam namun beberapa ucapanya persis ucapan kaum nashrani, seperti kalimat-kalimat “ puji tuhan” dan “ rumah tuhan” sering ia tuturkan. Ternyata dikemudian hari dia mengaku kalau ia sering diundang oleh Romo Carolus ke Cilacap dengan alasan rapat kerja namun sebelumnya ia diajak untuk mengikuti acara ritual mereka.

Kemudian Setelah dakwah Tauhid digencarkan di daerah Solok Jero, orang tersebut sering menghadiri sholat Jumat dan mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di masjid. Secara perlahan perubahan pun terjadi pada dirinya. Alhamdulillah, saat ini orang tersebut terlihat sering mengenakan pakaian gamis, memelihara jenggot dan senang beraktivitas di masjid,bahkan ketika ia sempat mengirimkan sms kepada salah seorang da`i Ponpes An Nur Al Atsary ia katakan, “ Alhamdulillah, Semoga Kehadiran beliau Ustadz Muhammad banyak ilmu yang nanti ana timba, karena tentang ilmu agama, jujur ana masih awam.” Subhanallah, jauh sekali ucapannya tersebut dengan ucapan ketika pertama kali bertemu.

( Abu Jundi;  ma’had An- Nuur Al- Atsaty Ciamis)

www.salafy.or.id

Posted in Info Kristenisasi | 4 Comments »

Dakwah Salafiyah di Daerah Rawan Kristenisasi, Kesyirikan, Bid’ah dan Premanisme Memerlukan Dukungan

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada April 4, 2012

بسم الله الرحمن الرحيم

Dakwah Salafiyah di Daerah Rawan Kristenisasi,

Kesyirikan, Bid’ah dan Premanisme

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah tabaraka wa ta’ala, dengan taufiq dari-Nya semata-mata, para Asatidzah dan Ikhwan Salafiyin dari Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis, dibantu oleh Ma’had Al-Ihsan Sindangkasih Ciamis, Ma’had Al-Manshuroh Kroya Cilacap, Masjid Al-Jihad Gumilir Cilacap dan dari berbagai daerah serta lembaga lainnya, masih terus berdakwah di daerah rawan Kristenisasi, kesyirikan dan bid’ah. Tepatnya di desa-desa miskin yang terletak di Nusakambangan Barat, perbatasan antara Kabupaten Ciamis Jawa Barat dan Cilacap Jawa Tengah.

Daerah Kristenisasi LSM Asing, Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap

Sampai saat ini alhamdulillah kurang lebih ada 100 KK kaum muslimin yang tadinya murtad ataupun yang memang beragama Kristen telah kembali memeluk Islam, termasuk beberapa orang yang tadinya bertugas sebagai misionaris Kristen dan telah berhasil memurtadkan ratusan kaum muslimin dan membangun sejumlah gereja. Akan tetapi, walaupun telah banyak yang kembali masuk Islam, kami telah mendata masih ada ratusan kaum muslimin yang murtad dan tersebar di beberapa desa, sebagian desa telah berhasil kami jangkau dan sebagian lagi belum terjangkau.

Dan juga alhamdulillah, dengan adanya dakwah salafiyah di daerah ini Allah ta’ala memberikan hidayah kepada puluhan Preman dan ahli-ahli ibadah Sufiyah untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dan mulai mempelajari ajaran Islam yang benar.

Masjid Al-Barokah Kampung Laut, Lokasi Kegiatan Dakwah dan Sosial

Demikian pula, Ma’had An-Nur Al-Atsari telah menempatkan seorang da’i di desa Selok Jero untuk terus membina para mu’allaf dan anak-anak mereka, dan insya Allah ta’ala dalam waktu dekat juga akan ditempatkan seorang da’i di desa Ujung Gagak.

Gelombang masuk Islam yang terus bergulir akhirnya mengusik para misionaris hingga ke Jakarta dan Eropa, sampai beberapa hari lalu ada kunjungan dua orang Misionaris Kristen Eropa bersama Misionaris lokal, disusul dengan telepon dari para pendeta Jakarta kepada umat nasrani Nusakambangan Barat yang dibocorkan oleh mereka sendiri, “Tetaplah dalam agama kalian, kami akan memberikan bantuan-bantuan, kami juga mampu membelikan sapi dan kambing untuk kalian, dan tidak lama lagi “anak-anak tuhan” akan datang kepada kalian,” kurang lebih seperti itu pesan dari Jakarta, dan ucapannya, “anak-anak tuhan” adalah ucapan kekufuran. Maha suci Allah dari ucapan mereka yang sangat buruk, dan sesungguhnya Allah ta’ala akan menyempurnakan cahaya-Nya meskipun mereka tidak suka.

Inilah salah satu tantangan dakwah yang terbesar, yaitu usaha para Pendeta dan Misionaris Kristen untuk memurtadkan umat Islam dan mengajak kembali masuk Kristen dengan mengandalkan kekuatan finansial mereka.

 

MOHON DO’A DAN DUKUNGAN KAUM MUSLIMIN

Maka dengan semakin banyaknya orang-orang Kristen yang masuk Islam dan alhamdulillah terus bertambah hari demi hari sampai kami pun merasakan beban semakin berat untuk membina mereka dalam keadaan kekurangan SDM dan sumber dana, padahal para mu’allaf masih sangat membutuhkan bimbingan, pengawasan langsung di lapangan secara terus menerus dan bantuan finansial, baik untuk mencukupi kebutuhan mereka, terutama di saat-saat paceklik, ataupun untuk mengikat hati mereka agar lebih mencintai Islam dan kaum muslimin, dan juga untuk membangun dan mengembangkan sarana-sarana belajar dan ibadah mereka.

Oleh karena itu kami mohon do’a dan dukungan kaum muslimin agar para mu’allaf, mantan preman dan sufi yang telah bertaubat dan masuk Islam tetap istiqomah di atas Islam dan Sunnah sampai akhir hayat. Dan tidak kalah penting untuk mendo’akan para Asatidzah dan Ikhwan Salafiyin yang membina mereka senantiasa dalam lindungan Allah ta’ala dan tetap istiqomah membina mereka di atas Islam dan Sunnah.

Adapun yang sangat diperlukan oleh para mu’allaf saat ini:

  1. Bantuan buku-buku agama. Mohon kepada Ikhwan untuk mengirimkan buku-buku agama ataupun majalah-majalah yang sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

  2. Pakaian muslim dan muslimah.

  3. Pembangunan masjid atau musholla kecil (saat ini sangat mendesak dibutuhkan 5 masjid untuk beberapa desa, masjid ini sangat penting untuk sarana ibadah dan pembinaan para mu’allaf).

  4. Pembangunan Pondok Pesantren atau Sekolah Islam (saat ini banyak sekali anak-anak kaum muslimin yang belajar di sekolah-sekolah Kristen).

  5. Pembukaan lapangan kerja.

  6. Bantuan dana.

Bagi kaum muslimin yang mau menyalurkan bantuannya dalam bentuk hadiah, sedekah maupun zakat bisa melalui rekening:

  1. BRI: 3153-0100-2706-507 an. Ojan Paojan.

  2. BNI: 002654-2376 an. Agus Iskandar.

Setelah transfer mohon konfirmasi ke nomor 0852-5684-2111, dengan menyebutkan tanggal transfer, nama dan jumlahnya, dan jika diniatkan utk zakat mohon diberitahukan.

Bagi yang mau mengirim buku-buku, pakaian maupun material untuk pembangunan masjid dapat dikirimkan ke: Pondok Pesantren Salafi AN-NUR AL-ATSARI, Dusun Kedung Kendal RT.13/04, Desa Sindangsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat Indonesia, HP. 0852 5684 2111.

Bagi kaum muslimin yang ingin mendapatkan keterangan-keterangan lain tentang dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di daerah-daerah rawan pemurtadan, kesyirikan dan bid’ah dapat melihat pada link-link terkait.

Posted in Info Kristenisasi | Leave a Comment »

[Download Nasihat dan Dialog] Masuk Islamnya Mantan Penginjil dan Anaknya Didaerah Kristenisasi

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Desember 30, 2011

Allahu Akbar, takbir kembali bergema di Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis atas masuk Islamnya seorang Penginjil; Bapak Warsito, seorang yang sebelumnya telah banyak mengajak kaum muslimin untuk murtad, disusul oleh anak perempuannya; Lastri, yang sebelumnya begitu tekun mempelajari Injil.

Ucapan syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat yang besar ini, disertai sebuah harapan, semoga menjadi amal shalih dan pemberat timbangan kebaikan pada hari kiamat bagi kaum muslimin yang terlibat langsung dalam kegiatan dakwah di daerah-daerah rawan Kristenisasi.

Adapun bagi mereka yang tidak terlibat langsung, namun telah membantu dengan doa, tenaga dan donasi, maka begembiralah dengan pahala yang sama dengan orang-orang yang terlibat langsung. Karena Nabi kita yang mulia, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا

“Barangsiapa yang membantu perlengkapan orang yang berjihad di jalan Allah maka sungguh dia juga telah ikut berjihad, dan barangsiapa yang membantu keluarga seorang yang berjihad di jalan Allah dengan suatu kebaikan maka dia juga telah ikut berjihad.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu’anhu]

Al-Imam Ath-Thobari rahimahullah berkata:

وفيه من الفقه أن كل من أعان مؤمنًا على عمل بر فللمعين عليه أجر مثل العامل

“Dan dalam hadits ini terdapat fiqh (pemahaman) bahwa setiap orang yang menolong seorang mukmin dalam melaksanakan satu amalan kebaikan maka orang yang menolong tersebut mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [Syarh Shahih Al-Bukhari Libnil Batthol, 5/51]

Al-Imam An-Nawawi As-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث : الْحَثّ عَلَى الْإِحْسَان إِلَى مَنْ فَعَلَ مَصْلَحَة لِلْمُسْلِمِينَ ، أَوْ قَامَ بِأَمْرٍ مِنْ مُهِمَّاتهمْ .

“Dan dalam hadits ini ada sebuah dorongan untuk berbuat baik kepada orang yang melakukan suatu amalan demi kemaslahatan kaum muslimin atau melakukan suatu perkara demi kepentingan kaum muslimin.” [Syarh Muslim Lin Nawawi, 13/40]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ويؤخذ من هذا أن كل من أعان شخصا في طاعة الله فله مثل أجره فإذا أعنت طالب علم في شراء الكتب له أو تأمين السكن أو النفقة أو ما أشبه ذلك فإن لك أجرا أي مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا وهكذا أيضا لو أعنت مصليا على تسهيل مهمته في صلاته في مكانه وثيابه أو في وضوئه أو في أي شيء فإنه يكتب لك في ذلك أجر فالقاعدة العامة أن من أعان شخصا في طاعة من طاعة الله كان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا

“Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini, bahwasannya setiap orang yang menolong orang lain dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang ditolongnya.

Maka jika engkau menolong seorang penuntut ilmu dalam membeli buku-buku baginya, atau menyediakan asramanya, atau memberi infak kepadanya, atau yang semisal dengannya, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti penuntut ilmu tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

Demikian pula jika engkau membantu seorang yang melaksanakan sholat agar mudah baginya melakukan sholat, baik tempat sholatnya, pakaiannya, air wudhunya dan apa saja yang dapat memudahkannya untuk melakukan sholat, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti pahalanya.

Maka ini merupakan kaidah umum; barangsiapa yang menolong orang lain untuk melakukan suatu ketaatan kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang melakukan ketaatan tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” [Syarh Riyadhus Shalihin, 2/375]

Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih; jazaakumullahu khairon kepada seluruh kaum muslimin dari berbagai daerah yang telah membantu kami dalam berdakwah di daerah-daerah rawan pemurtadan, semoga Allah ta’ala menjadikan setiap amal kita ikhlas, semata-mata mengaharapkan keridhoan-Nya.

Inilah rekaman masuk Islamnya orang-orang yang tadinya murtad, satu persatu kembali memeluk Islam:

Masuk Islamnya Bapak Paiman, Slamet dan Anto

Link: http://www.4shared.com/audio/9TD4miJ0/Masuk_Islamnya_Bapak_Paiman_Sl.html

Masuk Islamnya Bapak Sito, Mantan Penginjil

Link: http://www.4shared.com/audio/zlRgPI2B/Masuk_Islamnya_Bapak_Sito_Mant.html

Masuk Islamnya Sdr Ponijan, Ibunya Sariyah dan Lastri [Anak Bapak Sito]

Link: http://www.4shared.com/audio/MgSAZvAo/Masuk_Islamnya_Sdr_Ponijan_Ibu.html

Alhamdulillah, seperti biasa setelah masuk Islam kami menyalurkan bantuan kaum muslimin kepada mereka berupa uang tunai, sembako, pakaian muslim dan muslimah, dan masing-masing dua ekor kambing jantan dan betina. Semoga bantuan tersebut semakin mengokohkan mereka dalam Islam dan menguatkan tali persaudaraan antara sesama muslim.

Mereka juga masih membutuhkan bantuan berupa:

  1. Bangunan masjid permanen
  2. Pembangunan Pondok Pesantren
  3. Pakaian muslim dan muslimah
  4. Buku-buku agama
  5. Pembukaan lapangan kerja

Semoga Allah tabaraka wa ta’ala memberikan taufiq kepada kaum muslimin untuk dapat membantu mereka.

Oleh Al Ustadz Sofyan Chalid

http://nasihatonline.wordpress.com/2011/11/29/download-nasihat-dan-dialog-masuk-islamnya-mantan-penginjil-dan-anaknya/

 

Posted in Info Kristenisasi | 2 Comments »

[Download Rekaman] Kaum Muslimin yang Murtad Kemudian Satu Persatu Kembali Memeluk Islam Di Daerah Kristenisasi

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Desember 30, 2011

 Daerah Kristenisasi LSM Asing, Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap

Allahu Akbar, segala puji hanya bagi Allah jalla wa ‘ala, dengan pertolongan-Nya, dakwah Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis disertai ta’awun kaum muslimin dari berbagai daerah masih terus berjalan di daerah-daerah rawan pemurtadan, sehingga alhamdulillah satu persatu kaum muslimin yang murtad di desa Selok Jero Nusa Kambangan telah kembali memeluk Islam.

Alhamdulillah, bantuan dari kaum muslimin dari berbagai daerah telah disalurkan oleh Ma’had An-Nur Al-Atsari sehingga menjadi salah satu sebab yang memudahkan masuknya dakwah ke daerah-daerah miskin yang rawan pemurtadan. Maka disamping menyebarkan dakwah kepada tauhid dan sunnah, Ma’had An-Nur Al-Atsari juga menyalurkan zakat, sedekah dan hadiah kepada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan pemurtadan.

Inilah salah satu metode dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam riwayat berikut:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasannya ada seseorang meminta kambing sebanyak satu lembah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau pun memberikannya. Maka orang tersebut kembali kepada kaumnya seraya berkata, “Wahai kaumku masuklah ke dalam Islam, demi Allah sesungguhnya Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- memberikan sesuatu tanpa takut dengan kefakiran”.”

Anas berkata, “Meskipun orang tersebut tidaklah masuk Islam kecuali karena dunia, namun ketika dia berada dalam Islam jadilah Islam lebih dia cintai dibanding dunia dan isinya.” [HR. Muslim, no. 6161]

Asy-Syaikh Al-’Allamah Faqihul ‘Ashr Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata:

كان أكرم الناس، وكان يبذل ماله فيما يقرب إلى الله سبحانه وتعالى ومن ذلك أنه صلى الله عليه وسلم إذا سأله شخص على الإسلام يعني على التأليف على الإسلام والرغبة فيه إلا أعطاه مهما كان هذا الشيء حتى إنه سأله أعرابي فأعطاه غنما بين جبلين أي أنها غنم كثيرة أعطاه إياها الرسول عليه الصلاة والسلام لما يرجو من الخير لهذا الرجل ولمن وراءه .

ويؤخذ من هذا الحديث وأمثاله: أنه لا ينبغي لنا أن نبتعد عن أهل الكفر وعن أهل الفسوق وأن ندعهم للشياطين تلعب بهم بل نؤلفهم ونجذبهم إلينا بالمال واللين وحسن الخلق حتى يألفوا الإسلام فها هو الرسول عليه الصلاة والسلام يعطي الكفار يعطيهم حتى من الفيء .

بل إن الله جعل لهم حظا من الزكاة نعطيهم لنؤلفهم على الإسلام حتى يدخلوا في دين الله والإنسان قد يسلم للدنيا ولكن إذا ذاق طعم الإسلام رغب فيه حتى يكون أحب شيء إليه .

“Adalah Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam- orang yang paling dermawan, beliau membelanjakan hartanya pada sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Diantara bentuknya, tidaklah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam apabila dimintai harta oleh seseorang demi Islam, yakni demi menguatkan hatinya dalam Islam dan semakin mencintai Islam kecuali beliau berikan berapa banyak pun yang diminta, sampai-sampai ketika beliau dimintai harta oleh seorang Arab dusun maka beliau memberikan kepadanya kambing sebanyak (satu lembah) diantara dua gunung, yakni sejumlah kambing yang sangat banyak diberikan kepadanya oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam karena beliau mengharapkan kebaikan (Islam) bagi orang tersebut dan kaumnya.” [Syarah Riyadhus Shalihin, 3/405] 

Beliau rahimahullah juga berkata:

ويؤخذ من هذا الحديث وأمثاله: أنه لا ينبغي لنا أن نبتعد عن أهل الكفر وعن أهل الفسوق وأن ندعهم للشياطين تلعب بهم بل نؤلفهم ونجذبهم إلينا بالمال واللين وحسن الخلق حتى يألفوا الإسلام فها هو الرسول عليه الصلاة والسلام يعطي الكفار يعطيهم حتى من الفيء .

بل إن الله جعل لهم حظا من الزكاة نعطيهم لنؤلفهم على الإسلام حتى يدخلوا في دين الله والإنسان قد يسلم للدنيا ولكن إذا ذاق طعم الإسلام رغب فيه حتى يكون أحب شيء إليه .

“Dan pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya, bahwasannya tidak sepatutnya kita menjauhi (tidak mendakwahi) orang-orang kafir dan kaum muslimin yang fasik (pelaku dosa besar), dan kita biarkan mereka dipermainkan oleh setan-setan. Akan tetapi hendaklah kita mengikat dan menarik mereka kepada kita dengan harta, sikap lemah lembut dan akhlak yang baik sampai mereka menyenangi (dakwah) Islam, maka inilah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau memberikan harta kepada orang-orang kafir sampai dari harta rampasan perang.

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan bagian zakat untuk orang-orang kafir, kita berikan zakat kepada mereka untuk membuat hati mereka cinta kepada Islam sampai mereka masuk ke dalam agama Allah ini. Dan seseoramg itu bisa jadi masuk Islam karena dunia, akan tetapi jika dia telah merasakan (indahnya) Islam maka dia akan mencintainya melebihi segala sesuatu.” [Syarah Riyadhus Shalihin, 3/405] 

Kami panjatkan syukur kepada Allah tabaraka wa ta’ala pada hari Ahad, tanggal 24 Dzulhijjah 1432 H bertepatan dengan tanggal 20 November 2011 telah kembali memeluk Islam di Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis; Bapak Tunut dan isteri beliau, Ibu Narti hafizhahumullah.

Disusul oleh Bapak Suminta dan isteri beliau, Ibu Wagiyem hafizhahumullah yang berasal dari desa Selok Jero Nusa Kambangan pada hari Selasa 26 Dzulhijjah bertepatan dengan tanggal 22 November 2011, juga di Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis.

Berikut ini rekaman proses masuk Islamnya dua keluarga tersebut:

Download Rekaman: Masuk Islamnya Bapak Tunut dan Ibu Narti

Link: http://www.4shared.com/audio/IHc-V0G9/Masuk_Islamnya_Keluarga_Bapak_.html

Download Rekaman: Masuk Islamnya Bapak Suminta dan Ibu Wagiyem

Link: http://www.4shared.com/audio/p-ZS5rmq/Masuk_Islamnya_Keluarga_Bapak_.html

Setelah masuk Islam, kami menyalurkan bantuan kaum muslimin kepada dua keluarga tersebut berupa sejumlah uang, sembako, pakaian muslim dan muslimah, dan masing-masing diberikan dua ekor kambing jantan dan betina.

Sumber Al Ustadz Sofyan Cholid

http://nasihatonline.wordpress.com/2011/11/23/download-rekaman-kaum-muslimin-yang-murtad-satu-persatu-kembali-memeluk-islam/

Posted in Info Kristenisasi | Leave a Comment »

Dakwah Salafiyah di Daerah Rawan Kristenisasi dan Kesyirikan

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Desember 30, 2011

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Peta Kampung Laut Versi Google, Banjarsari daerah Pondok, Pangandaran daerah Wisata

Informasi Penting Seputar Wilayah dan Masyarakat Kampung Laut dan Sekitarnya

1. Keadaan Umum Wilayah dan Masyarakat Kampung Laut dan Sekitarnya

Kampung Laut adalah sebuah nama Kecamatan di wilayah kabupaten Cilacap yang terletak di Muara Sungai Citanduy yang dikenal dengan nama Segara Anakan. Kecamatan Kampung Laut secara administratif meliputi empat desa yaitu Ujung Gagak (Karang Anyar), Ujung Alang (Motean), Klaces, dan Panikel, juga meliputi sebuah pulau yang berukuran panjang sekitar 36 km dengan lebar 6 km yang mana pulau ini dijadikan oleh Pemerintahan RI sebagai wilayah Lembaga Pemasyrakatan (Lapas) yang dikenal dengan nama Nusa Kambangan. Namun pulau ini secara khusus dibawah kewenangan Menteri Kehakiman dan Perundang-undangan (Menkumdang).

Keadaan mayoritas penduduk Kampung Laut beragama Islam, namun pengetahuan mereka tentang agamanya sangat minim, dan sangat diwarnai aliran Kejawen. Sampai-sampai ketika kami melakukan kunjungan, ada seorang warga yang mengaku beragama Islam namun tidak mampu mengucapkan kalimat Syahadat. Jika ditinjau dari perekonomian dan pendidikan, mayoritas mereka bertaraf menengah ke bawah dan berpendidikan rendah. Adapun profesi utama sebagian besar dari mereka adalah nelayan. Keadaan paceklik sering mereka alami khususnya ketika musim sulit ikan, hal inilah yang mendorong sebagian dari mereka berangkat ke daerah lain untuk mencari nafkah.

Walaupun Kampung Laut adalah termasuk wilayah perairan, namun masyarakat di sana memiliki kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang layak untuk digunakan makan dan minum, serta MCK. Di musim hujan mereka menampung air hujan untuk keperluan tersebut, namun ketika musim kemarau mereka harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk mendapatkan air bersih. Di musim kemarau mereka membeli air bersih yang diambil dari mata air yang berada di wilayah Nusa Kambangan dengan menggunakan perahu. Harga air bisa mencapai Rp 100.000,- / perahu yang mana jumlahnya sekitar 1,5 kubik.

2. Gerakan Misionaris Kristen di Kampung Laut dan Sekitarnya

Rupanya kondisi seperti di atas ini dijadikan kesempatan besar oleh para misionaris Kristen dari berbagai sekte untuk menjalankan misi Kristenisasi kepada masyarakat Kampung Laut dengan kedok awal “Kegiatan Sosial”. Upaya mereka ini telah membuahkan hasil, sejumlah warga muslim telah dimurtadkan, juga telah berdiri tiga buah gereja (satu belum sempurna) di desa Ujung Gagak, tiga buah gereja di Desa Ujung Alang, dan satu buah Gereja darurat di Selok Jero Nusa Kambangan. Selain itu, misionaris Kristen sekte Katholik sekitar tahun 2001, telah berhasil mengklaim sebuah Goa yang bertempat di desa Klaces yang mereka namakan Goa Maria, padahal sebelumnya masyarakat menamai Goa tersebut dengan nama Goa Bendu. Menurut sebuah sumber, Goa ini bisa menampung sekitar 1000 orang, dan mempunyai susunan interior bebatuan yang menarik. Goa ini jadikan sebagai tempat sakral guna melakukan pemujaan kepada patung Bunda Maria oleh Kristen Katholik, sehingga sering sekali penganut Kristen Katholik datang dari berbagai daerah ke tempat ini dalam jumlah yang besar.

Upaya  Kristen Katholik ini rupanya selaras dengan program besar mereka di bumi Indonesia, sebagaimana dituturkan oleh salah seorang rekanan pemerintah dalam bidang Pariwisata, bahwa Kristen (Katholik) sedang mengupayakan untuk membuat Goa Maria di setiap pulau di Indonesia. Sebuah sekte Kristen lain ada yang bergerak dengan cara membuat sebuah organisasi yang bercabang, di tingkat kecamatan dikenal dengan nama GSM dan ditingkat desa dikenal dengan nama BMM. Kinerja organisasi ini adalah membuat perencanaan kegiatan-kegiatan “sosial” dan “pendidikan” bagi masyarakat. Di bidang pendidikan mereka membuat program beasiswa untuk anak-anak, dan menurut sebuah sumber saat ini ada sekitar 500 KK yang anak-anaknya mendapatkan bea siswa dari mereka. Suatu waktu BMM Ujung Gagak pernah mengadakan kegiatan pelatihan bagi guru-guru sebuah sekolah dasar di Ujung Gagak, yang mana kegiatan pelatihan ini dilakukan di sebuah lembaga pendidikan Kristen di Salatiga yang bernama Pondok Remaja Salib Putih.

Daerah Selok Jero Nusa Kambangan pun tidak luput dari incaran para misionaris Kristen untuk menyebarkan misi kristenisasi di sana. Sebenarnya warga yang berada di Selok Jero itu berjumlah sekitar 250 KK dan mereka adalah para perambah hutan Nusa Kambangan yang berasal dari berbagai daerah, baik Jawa Barat maupun Jawa Tengah, yang semula keberadaan mereka dianggap ilegal namun saat ini mereka secara struktural di bawah pembinaaan YSBS. Para misionaris inipun benar-benar memanfaatkan keadaan, di selok Jero ini mereka telah berhasil memurtadkan sekitar 40 hingga 50 KK, dan mereka masih gencar mendatangi tempat ini secara rutin dua kali dalam sepekan, mereka adakan pembagian makanan, juga sekaligus acara pembaptisan. Dan bagi warga yang mau beragama Kristen, para misionaris memberikan imbalan uang Rp 150.000,00 / orang. Bahkan kata warga yang masih muslim seringkali  para misionaris melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga di Selok Jero. Hal ini sangat membahayakan bagi kaum muslimin, karena jika seandainya mayoritas warga Selok Jero berhasil di murtadkan oleh para misionaris tersebut, mereka akan kembali ke daerah masing-masing dan tentunya akan mengajak keluarga, atau kerabat yang lainnya, (dan ini telah terjadi di desa Cikadim), wal’iyadzu billah.

Dari pemantauan yang kami lakukan di wilayah tersebut, kami menduga ada dua sekte Kristen yang berambisi mengencarkan misi Kristenisasi di Selok Jero Nusa Kambangan. Yang pertama sekte Katholik yang tampil dalam bentuk sebuah yayasan sosial yang bernama Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), dan yang kedua Sekte Gereja Bethel Indonesia (GBI). YSBS telah mendapatkan Tender Program Reboisasi Nusa Kambangan dari Kanwil Departemen Hukum dan Perundang-undangan Jawa Tengah, dalam hal ini mereka telah memiliki legitimasi untuk melakukan pembinaan para perambah hutan di wilayah Nusa Kambangan, secara halus dan perlahan mereka melancarkan misi Kristenisasi dengan menyalahgunakan amanah pemerintah untuk program reboisasi. Sehingga saat ini sebagian besar para perambah hutan merasa kalau YSBS telah membela dan melindungi kelanggengan mereka untuk tetap tinggal di wilayah Nusa Kambangan, bahkan pembagian bibit tanaman produksi pun kerap dibagikan oleh YSBS kepada para petani perambah hutan, hal ini benar-benar menimbulkan kesan di hati para petani perambah hutan bahwa YSBS murni kegiatan sosial. Padahal hakikatnya hal ini hanyalah sebuah upaya untuk melunturkan sikap wala dan baro’ kaum muslimin, sehingga mereka harapkan dengan hal ini akan muncul loyalitas di hati kaum muslimin kepada para misionaris Katholik tersebut. Adapun Sekte Bethel (GBI), sekalipun tidak memiliki legitimasi pembinaan kepada para petani perambah hutan, namun mereka berani tampil secara lebih terbuka. Para pendeta dari sekte ini melakukan kunjungan rutin sebanyak dua kali dalam satu pekan untuk pembagian makanan bahkan pembaptisan jika sudah ada warga yang siap dibaptis.

Sepak terjang para misionaris Kristen tersebut pun telah melebar ke daerah Cikadim, sebuah dusun di desa Rawa Apu, kecamatan Patimuan. Semakin hari semakin banyak warga yang murtad dari agama Islam, bahkan saat ini terdengar  kabar bahwa pihak gereja sudah membeli sebidang tanah yang mereka siasati dengan tujuan untuk mendirikan sebuah gereja. Ada keterkaitan antara program Kristenisasi di daerah Cikadim dengan daerah Nusa kambangan, dikarenakan sebagian petani penggarap di Nusa Kambangan berasal dari Cikadim dan diantara mereka ada yang sudah murtad kemudian menjadi kaki tangan pendeta dalam merekrut anggota dan mengupayakan pendirian gereja di daerah mereka sendiri; Cikadim.

Jika kita melihat fenomena diatas, maka tergambarlah oleh kita bagaimana sebenarnya keadaan kaum muslimin yang berada di daerah Kampung Laut, Nusa Kambangan dan sekitarnya. Sebagian besar dari mereka minim dengan ilmu agama, dan juga harta, sementara dihadapan mereka para misionaris Kristen yang “kelaparan,” maka jadilah mereka bagaikan sebuah hidangan tersaji yang diperebutkan oleh para penyantapnya. Siapa yang lebih banyak menaruh jasa dan perhatian kepada mereka, maka dialah yang akan menyantapnya, ‘iyaadzan billah!!

3. Musuh Dari Dalam Yang Mengancam Kaum Muslimin Kampung Laut dan Sekitarnya

Selain musuh yang menyerang dari luar berupa gerakan Kristenisasi, warga muslim Kampung Laut dan sekitarnya terancam pula oleh musuh dari dalam, berupa kebiasaan dan keyakinan syirik yang terbungkus dalam ritual (seolah-olah) Islami. Setiap bulan Suro mereka melakukan ritual syirik berupa hajat laut, yang mereka yakini bahwa kegiatan ini akan mendatangkan keberkahan dan rezeki kepada mereka. Ritual ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun bahkan dijadikan sebagai momen dan objek wisata. Di wilayah Kampung Laut juga terdapat sebuah tempat yang dianggap keramat dan diyakini bisa mendatangkan keberkahan bagi para peziarahnya, tempat ini dikenal dengan nama Masigit Sela. Tempat ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. Bagi Ahlus Sunnah hal ini tentunya memunculkan kesedihan yang mendalam, betapa rapuhnya keadaan iman mayoritas kaum muslimin Kampung Laut, padahal musuh-musuh Islam sangat bersemangat dan berlomba untuk menghancurkan mereka dan generasi penerusnya.

4. Perlunya Ta’awun Ahlus Sunnah Untuk Berdakwah di Kampung Laut dan Sekitarnya

Setelah memperhatikan dan memahami kondisi yang saat ini dialami oleh kaum muslimin Kampung Laut dan Sekitarnya, Ahlus Sunnah semakin terpanggil untuk terjun melakukan pembelaan dan pembinaan terhadap mereka dalam rangka menjalankan konsekuensi keimanan. Keimanan yang benar kepada Allah Ta’ala menuntut seorang muslim untuk berdakwah mengajak manusia ke jalan-Nya, membela agama-Nya, juga membantu dan meringankan beban kesulitan muslim lainnya.

Berdakwah di wilayah Kampung Laut sangat membutuhkan adanya ta’awun diantara Ahlus Sunnah, yakni diantara para du’at, para ahli di bidang keilmuan duniawi, para agniya bersama dengan pemerintah. Hal ini dikarenakan kondisi muslimin Kampung Laut dan sekitarnya yang sudah sekian lama banyak mendapatkan jasa baik dari para misionaris Kristen sehingga telah memunculkan rasa simpati bahkan loyalitas kepada mereka, kemudian di satu sisi telah tertanam pada mereka sebuah kekhawatiran dan ketakutan kepada Ahlus Sunnah bahwa mereka adalah teroris. Oleh karena itu termasuk hal yang dipandang perlu bagi Ahlus Sunnah dalam menjalankan dakwah kepada mereka untuk mengawalinya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat Ta’liful Qulub, sehingga akan terjalinlah suasana kedekatan dan keterbukaan, bahkan kepercayaan mereka kepada Ahlus Sunnah. Kita berharap setelah hal ini terwujud akan semakin mudahlah bagi mereka untuk menerima bimbingan dan pengajaran dari para du’at Ahlus Sunnah, bi idznillahi Ta’ala.

5. Beberapa Bentuk Kegiatan Ta’liful Qulub yang Sesuai untuk Dilaksanakan di Daerah Kampung Laut dan Sekitarnya

1. Pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang rutin

2. Pelatihan wira usaha di bidang pertanian, peternakan dan perdagangan

3. Bantuan atau penanaman modal usaha

4. Kerjasama usaha (misal: pemasaran hasil pertanian dan peternakan)

4  Penyediaan air bersih

5. Beasiswa bagi putera daerah yang mau belajar di Ma’had Ahlus Sunnah

6. Pembagian sembako

Laporan Kegiatan Iedul Adlha di Kampung Laut, Cikadim dan Nusa Kambangan

 

Alhamdulillah wa laa haula wa laa quwwata illa billah, itulah kalimat yang tepat bagi kami Ma’had An-Nur Al-Atsary ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan dan pertolongan-Nya sehingga kami bisa berhari raya Iedul Adlha 1432 H bersama kaum Muslimin di daerah Kampung Laut, Cikadim, dan Nusa Kambangan yang secara administratif merupakan wilayah kabupaten Cilacap. Di samping itu sebagian dari kami pun tetap bisa berhari raya Iedul Adlha di daerah sendiri bersama ikhwah Salafiyin dan warga muslimin sekitar Ma’had. Sungguh ini adalah kenikmatan besar yang Allah Ta’ala telah berikan kepada kami, kami bersyukur dan memuji-Nya.

Pada kegiatan ini, sebagian dari kami melaksanakan Sholat dan Khutbah Iedul Adlha bersama kaum muslimin di desa Ujung Gagak kecamatan Kampung Laut dan sebagian lagi melakukannya di Ma’had kami, kemudian diteruskan dengan menyembelih hewan kurban pada hari tersebut dan tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan qurban yang disembelih di Ma’had An-Nur Al-Atsary semuanya berjumlah 3 ekor sapi dan 6 ekor kambing. Adapun di kecamatan Kampung Laut semuanya berjumlah 6 ekor sapi, dan 4 ekor kambing. Hewan Qurban tersebut setelah disembelih di Desa Ujung Gagak, kemudian disebar ke tiga desa lainnya, yaitu Desa Ujung Alang (Motean) sebanyak satu ekor sapi dan 4 ekor kambing. Desa Klaces sebanyak satu ekor sapi, Desa Penikel sebanyak satu ekor sapi. Untuk desa Ujung Gagak sendiri sebanyak 3 ekor sapi, termasuk dua dusun yang jauh yaitu Cibeureum dan Pelindukan. Adapun hewan kurban yang disembelih pada hari raya Iedul Adlha di dusun Cikadim desa Rawa Apu kecamatan Patimuan semuanya berjumlah 2 ekor sapi dan 12 ekor kambing, kemudian disebar hingga mencukupi satu desa Rawa Apu, Alhamdulillah.

Semula kami hanya merencanakan untuk melaksanakan kegiatan ini di daerah Kampung Laut dan Cikadim saja, selain di lingkungan Ma’had. Namun satu hal yang tidak terduga pada hari tasyriq yang pertama (tgl 11 Dzulhijjah), kami mendengar informasi bahwa di daerah Selok Jero Nusa Kambangan ada kaum muslimin yang melaksanakan sholat Ied namun tidak satupun hewan kurban yang disembelih disana. Juga kami mendengar bahwa di sana para misionaris Kristen tengah gencar menjalankan program Kristenisasi sehingga sekitar 50 KK telah murtad. Setelah bermusyawarah kami berazam untuk menyempurnakan hari tasyriq yang ketiga dengan menyembelih hewan kurban di daerah tersebut. Alhamdulillah, kami bisa membawa 3 ekor kambing ke daerah tersebut, kemudian setelah disembelih dagingnya bisa diberikan kepada sekitar 70 KK petani penggarap yang tinggal di sana. Pada kesempatan ini pula kami menyerahkan sebagian bahan-bahan yang diperlukan oleh para petani penggarap untuk memperluas musholla yang telah mereka miliki.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Disusun oleh Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah sebagai bahan laporan, evaluasi, dan perencanaan.

Banjarsari, 15 Dzul Hijjah 1432 H / 11 November 2011.

Editor: Admin http://nasihatonline.wordpress.com/

Posted in Info Kristenisasi | 1 Comment »

Download Kajian Menghadapi Gerakan Kristenisasi dan Foto-foto Daerah Kristenisasi

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada November 14, 2011

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Daerah Kristenisasi LSM Asing, Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap

Daerah Kristenisasi LSM Asing, Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap

 

Perahu Nelayan Penduduk Desa

Perahu Nelayan Penduduk Desa

Masjid Al-Barokah Kampung Laut, Lokasi Kegiatan Dakwah dan Sosial

Masjid Al-Barokah Kampung Laut, Lokasi Kegiatan Dakwah dan Sosial

Kantor Kepala Desa Ujung Gagak

Kantor Kepala Desa Ujung Gagak, Tempat Kegiatan Pelayanan Kesehatan dan Khitan Gratis

Jalanan Desa Ujung Gagak

Jalanan Desa Ujung Gagak

Gereja Dicurigai Ilegal, Tanpa IMB dan Tanpa Memenuhi Syarat Pembangunan Rumah Ibadah Sesuai Aturan Pemerintah

Gereja Dicurigai Ilegal, Tanpa IMB dan Tanpa Memenuhi Syarat Pembangunan Rumah Ibadah Sesuai Aturan Pemerintah

 

Penyaluran Bantuan Sembako dari Kaum Muslimin di Berbagai Daerah

Penyaluran Bantuan Sembako dari Kaum Muslimin di Berbagai Daerah

Sekolah Dasar Negeri Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap

Sekolah Dasar Negeri Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap

Mobil Ambulans Tim Medis RS Siaga Medika Banyumas yang Turut Serta dalam Kegiatan Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis

Mobil Ambulans Tim Medis RS Siaga Medika Banyumas yang Turut Serta dalam Kegiatan Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis

Bantuan Obat-obatan Gratis dari Kaum Muslimin

Bantuan Obat-obatan Gratis dari Kaum Muslimin

Gereja yang juga Dicurigai Ilegal, Mirip Rumah

Gereja yang juga Dicurigai Ilegal, Mirip Rumah

Perairan Kampung Laut, Nampak Pulau Nusakambangan

Perairan Kampung Laut, Nampak Pulau Nusakambangan

Peta Kampung Laut Versi Google, Banjarsari daerah Pondok, Pangandaran daerah Wisata

Peta Kampung Laut Versi Google, Banjarsari daerah Pondok, Pangandaran daerah Wisata

Pembangunan Gereja yang juga Diurigai Ilegal, Di Samping Tanah Wakaf untuk Musholla

Pembangunan Gereja yang juga Diurigai Ilegal, Di Samping Tanah Wakaf untuk Musholla

Alhamdulillah, dengan taufiq dari Allah ta’ala, saat ini Pondok Pesantren An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis sedang berjuang menghadapi GERAKAN KRISTENISASI oleh sebuah LSM berbendera asing yang telah mendapatkan dukungan sebagian masyarakat di desa UJUNG GAGAK, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. 

Desa ini adalah sebuah desa miskin dunia dan iman sekaligus, sehingga menjadi ladang empuk bagi KEGIATAN PEMURTADAN ummat Islam. Terletak di wilayah Kabupaten Cilacap, namun lebih mudah dijangkau melalui Ciamis dengan menyeberang lewat Pelabuhan Majingklak, kurang lebih 1,5 jam dari Pondok kami.

Dengan 2-3 kilogram beras mereka telah berhasil membeli iman sebagian umat Islam di desa ini, sehingga telah berhasil dimurtadkan beberapa keluarga dan telah berdiri 2 bangunan gereja yang kemungkinan besar tanpa IMB dan tanpa persetujuan masyarakat di sekitarnya.

Saat ini sementara dibangun gereja yang ketiga di lokasi yang berdekatan dengan tanah wakaf untuk pembangunan musholla, sebidang tanah yang telah diwakafkan beberapa tahun yang lalu namun belum dibangun karena tidak adanya dana.

Alhamdulillah, kegiatan Dakwah dan Bakti Sosial di daerah Kristenisasi, desa Ujung Gagak, Kampung Laut, Cilacap berjalan lancar. Pengajar dan santri Pondok Pesantren An-Nur Al-Atsari Ciamis turun dengan “kekuatan penuh” dibantu oleh santri dari Ponpes Al-Ihsan Sindangkasih Ciamis asuhan Ustadz Ayip Syafruddin, Lc dan Ponpes Al-Manshuroh Kroya Cilacap bersama Ustadz Tsanin Hasanuddin hafizhahumullah.

Kegiatan pada Jum’at pertengahan Dzulqa’dah 1432 H bertepatan dengan Oktober 2011, dimulai dengan khutbah Jum’at oleh Ustadz Khotib Muwahhid hafizhahullah, kajian ba’da ashar oleh Ustadz Fauzan hafizhahullah dan kajian & tanya jawab bersama masyarakat ba’da isya’ oleh salah seorang pengajar ghafarallahu lahu, dan dirangkaikan dengan kunjungan silaturahmi ke rumah-rumah masyarakat.

Pada hari Sabtu, diadakan Pembagian Sembako dan Khitan Massal, Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis, bekerjasama dengan Pemerintah Desa Ujung Gagak dan Tim Medis RS Siaga Medika Banyumas.

Insya Allah ini hanyalah langkah awal, semoga dapat dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan berikutnya baik di daerah ini maupun di daerah-daerah lain di sekitar perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang ternyata sangat marak dengan kegiatan Kristenisasi yang mendapat dukungan dana dari kekuatan asing.

Kami sangat berterima kasih kepada Ikhwan yang telah menyebarkan info kegiatan ini sebelumnya, sehingga alhamdulillah cukup banyak bantuan dari kaum muslimin dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Singapura juga sempat menghubungi Panitia.

Kepada kaum muslimin yang telah membantu baik dengan tenaga, harta maupun doa untuk kelancaran kegiatan ini semoga Allah ta’ala membalas semuanya dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Jazaakumullahu khairon.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا ، نَفَّسَ الله عَنْهُ كُربَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّر عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، والله في عَونِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ في عَونِ أخِيهِ

“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin maka Allah ta’ala akan melepaskan satu kesusahannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa memudahkan orang yang kesusahan maka Allah ta’ala akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah ta’ala akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu] 

Berikut Link Download salah satu kajian dan tanya jawab bersama kaum Muslimin Desa Ujung Gagak Kampung Laut Cilacap yang diadakan di Masjid Al-Barokah:

Nasihat Kepada Kaum Muslimin dalam Menghadapi Gerakan Kristenisasi

Link: http://www.4shared.com/audio/AmInUoHE/Nasihat_Kepada_Kaum_Muslimin_d.html?

 وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Posted in Info Kristenisasi | Leave a Comment »