وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

  • Radio Online

  • Larangan Fanatik Buta

    Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي
    “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

    Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

    Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا
    “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

    Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan):
    لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

  • Mutiara Alquran

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

  • Admin Setting

  • Maaf Komentar Yang Dicurigai Bervirus Diblokir

  • Mutiara Sunnah

    وعن أبي العباس سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلني على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس فقال ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

    Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berzuhudlah di dunia, tentu engkau akan dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما ومتعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.”Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

    وعن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافرا منها شربة ماء رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

    Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jika seandainya dunia ini di sisi Allah dianggap ada nilainya dengan selembar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi

  • Mutiara Ulama Salaf’

    أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ "Wahai Saudaraku Kalian Tidak Bisa Mendapatkan Ilmu Kecuali Dengan 6 Syarat Yang Akan Saya Beritahukan" 1.Dengan Kecerdasan, 2.Dengan Semangat , 3.Dengan Bersungguh-sungguh , 4.Dengan Memiliki bekal (biaya), 5.Dengan Bersama guru dan , 6.Dengan Waktu yang lama, (Imam Syafi'i Rahimahulloh)

Archive for the ‘Ringkasan Fiqih’ Category

🌷Tanya jawab ringkas ✅Pertanyaan: Barokalloohu fiik Ustadz Kapan sunnahnya waktu pelaksanaan tarwih, apakah langsung setelah sholat Isya berjamaah atau setelah tidur dan bangun di sepertiga malam sebelum shubuh?

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juni 15, 2016

🌷Tanya jawab ringkas

✅Pertanyaan:

Barokalloohu fiik Ustadz,

Pertanyaan Ustadz ,

1. Kapan sunnahnya waktu pelaksanaan tarwih, apakah langsung setelah sholat Isya berjamaah atau setelah tidur dan bangun di sepertiga malam sebelum shubuh?

2. Apakah wanita juga disunnahkan sholat tarwih berjamaah dimasjid atau dirumah?

3. Apakah i’tiqaf dilakukan disepanjang Ramadhan atau 10 malam terakhir saja?

4. Apakah saat i’tiqaf boleh pulang kerumah?

Jazaakalloohu khoir ustadz

✅Jawaban :

1⃣.Mengenai waktu pelaksanaan sholat tarawih ataupun sholat qiyamul lail  Disebutkan hadist Anas bin Malik mengatakan:

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

“Tidaklah kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula” ( Hadits Riwayat Imam Bukhariy)

Dan para ulama menyimpulkan dengan hadits ini bahwa rosul terkadang sholat malam di awal waktu kadang ditengah malam terkadang diahkir malam. Dan yg paling utama adalah diahkir sepertiga malam.

2⃣    Lajnah Da’imah Ditanya :

وهل صلاة المرأة التراويح في بيتها أفضل أو في المسجد؟

ج:  وصلاة المرأة في بيتها خير لها من صلاتها في المسجد، سواء كانت فريضة أم نافلة تراويح أم غيرها…

Pertanyaan : Manakah Yang Lebih utama bagi wanita sholat dirumah apa dimasjid?

Jawab: Dan shalat tarawih untuk wanita lebih baik dilakukan di rumah daripada di masjid. Sama saja yg wajib2 atau yg sunnah2, tarawih atau selainya…

3⃣I’tikaf bisa dikerjakan diawal, dipertengahan.dan yg dianjurkan terbanyak dalam hadits adalah di sepuluh malam terahir bulan ramadhan, sebagaimana hadits -hadits berikut ini:

✅Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Sungguh saya beri’tikaf di di sepuluh hari awal Ramadhan untuk mencari lailat al-qadr, kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan, kemudian Jibril mendatangiku dan memberitakan bahwa malam kemuliaan terdapat di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang ingin beri’tikaf, hendaklah dia beri’tikaf . Maka para manusia pun beri’tikaf bersama beliau” HR. Muslim 1167

✅Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, dan beliau bersabda:

تَحَرُّوْا لَيْلةَ الْقَدَرِ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” Hadits Riwayat imam Bukhariy

✅Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرُّوا لَيْلةَ الْقَدَرِ فيِ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah Lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan”Shahih Riwayat Imam Bukhariy

4⃣Jika keluar nya dikarenakan ada keperluan yg mendesak semisal menyiapkan makanan, minum. Mandi, buang hajat mak tak mgapa

✅Dari Ummul Mu’minin radhiyallahu anha, beliau berkata:

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لاَ يَعُودَ مَرِيضًا وَلاَ يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلاَ يَمَسَّ امْرَأَةً وَلاَ يُبَاشِرَهَا وَلاَ يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلاَّ لِمَا لاَ بُدَّ مِنْهُ وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ بِصَوْمٍ وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ

“Termasuk sunnah bagi seorang mu’takif adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh atau bercumbu dengan istri, tidak keluar dari masjid untuk urusan apapun kecuali memang urusan yang harus diselesaikan di luar masjid , tidak ada i’tikaf  kecuali dengan puasa, dan tidak ada i‘tikaf kecuali dilakukan di masjid jami’.” (Shahih Sunan Abi Dawud, karya Asy-Syaikh Al-Albani)

Wal ilmu indalloh.

Posted in Ringkasan Fatwa, Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

🌷Tanya jawab ringkas : Fatwa dan dalil tentang formasi jumlah rakaat pada sholat sunnat tarawih

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juni 15, 2016

🌷Tanya jawab ringkas

✅Pertanyaan:

Bismillaah,

Afwan tanya Ustadz,

Boleh bantu dipostingkan dalil tentang formasi jumlah rakaat pada sholat sunnat tarawih baik yang 2,2,2,2,2,1 atau 2,2,2,2,3 ataupun yang lainya jika ada.

Barokalloohu fiikum

Abu Hafidz Maluku

✅Jawaban :

#Adapun dalil pelaksanaan Shalat Tarawih 2 rakaat yakni :

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat antara shalat Isya’ dan shalat Shubuh sebanyak 11 raka’at. Beliau salam setiap dua raka’at dan berwitir dengan satu raka’at”Hadits riwayat imam muslim no 736.

✅ Kesimpulan bahwa para ulama fiqh menyebutkan yg paling utama adalah  mengerjakan dg pola dua rakaat salam, ini juga  diperkuat dalil yg lain yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.”Riwayat imam muslim no 749.

#Berkata syeikh Bin Bazz Rahimahulloh :

فالأفضل للمأموم أن يقوم مع الإمام حتى ينصرف سواء صلى إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة أو ثلاثاً وعشرين أو غير ذلك. هذا هو الأفضل…

Maka yang paling utama bagi seorang ma’mum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, atau jumlah rakaat yang lain. Inilah yang paling baik ( karena ditulis baginya seperti sholat semalaman pent ).

 لكن إذا اقتصر الإمام في التراويح على إحدى عشرة أو ثلاث عشرة كان أفضل يسلم من كل ثنتين؛ لأن هذا هو الغالب من فعل النبي صلى الله عليه وسلم …

Akan tetapi yang lebih utama jika imam mengerjakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat atau 13 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat. Karena inilah yang paling sering dipraktekan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada shalat malamnya…( Majmu fatawa Ibnu Bazz rahimahulloh)

Wallohu a’lam bishowab.

Posted in Ringkasan Fatwa, Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

🌷Kajian Fiqh Ringkas 🍃Hukum Melunasi Hutang adalah Wajib

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Mei 19, 2016

🌷Kajian Fiqh Ringkas

🍃Hukum Melunasi Hutang adalah Wajib

✅ إنه يجب على المقترض الاهتمام بأداء ما عليه من دين القرض ورده إلى صاحبه؛ من غير مماطلة ولا تأخير حينما يقدر على الوفاء؛

 لقول الله تعالى: {هل جزاء الأحسان إلا الأحسان} 

✅وبعض الناس يتساهل في الحقوق عامة، وفي شأن الديون خاصة، وهذه خصلة ذميمة، جعلت كثيرا من الناس يحجمون عن بذل القروض والتوسعة على المحتاجين، مما قد يلجئ المحتاج إلى الذهاب إلى بنوك الربا والتعامل معها بما حرم الله؛ لأنه لا يجد من يقرضه قرضا حسنا، حتى ضاع المعروف بين الناس.

✅Sesungguhnya wajib Hukumnya bagi peminjam untuk memperhatikan pengembalian hutang- hutangnya kepada yg menghutangi, tanpa ditunda – tunda apabilah telah mampu melunasinya.Dikarenakan Alloh ta’ala berfirman :

هل جزٓاءالإحسان الا الإحسان.

“Bukankan balasan kebaikan adalah kebaikan pula ?” Arrahman ayat 60

✅Sebagian manusia menggampangkan hak orang lain secara umum, terlebih permasalahan hutang-piutang.Dan ini adalah sikap tercela yang menjadikan banyak orang enggan memberi pinjaman kepada yg membutuhkan, Sehingga kadang- kadang mendorong orang yg kepepet untuk pergi ke bank bank yg bernuansa riba kmudian bekerja bersama dengan bank tersebut dengan cara yg diharamkan Alloh ta’ala.Dikarenakan tidak ditemui lagi orang yg mau memberi pinjaman dg sistem hutang-piutang yg baik.Sehingga sirnalah sikap tolong menolong dalam kebaikan diantara manusia.

📝Akhukum Fillah Dipondok Yatim non Yatim Annashihah Cepu Dikutip dari Kitab Mulakhos Fiqh Syeikh Fauzan Hafidzahulloh.

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

🌷Kajian Fiqh Ringkas 🍃 Jika Peminjam memberikan tambahan secara suka rela tanpa dipersyaratkan diawal boleh apa tidak?

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Mei 5, 2016

🌷Kajian Fiqh Ringkas

🍃 Jika Peminjam memberikan tambahan secara suka rela tanpa dipersyaratkan diawal boleh apa tidak?

 ✅وينبغي أن يعلم أن الزيادة الممنوع أخذها في القرض هي الزيادة المشترطة؛ كأن يقول: أقرضك كذا وكذا بشرط أن ترد علي المال بزيادة كذا وكذا، أو أن تسكنني دارك أو دكانك، أو تهدي إلي كذا وكذا، أو لا يكون هناك شرط ملفوظ به، ولكن هناك قصد للزيادة وتطلع إليها؛ فهذا هو الممنوع المنهي عنه.

✅أما لو بذل المقترض الزيادة من ذات نفسه، وبدافع منه، بدون اشتراط من المقرض، أو تطلع وقصد؛ فلا مانع من أخذ الزيادة حينئذ؛ لأن هذا يعتبر من حسن القضاء، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم استسلف بكرا فرد خيرا منه، وقال: “خيركم أحسنكم قضاء”…

✅Dan seyogyanya yang perlu diketahui bahwasanya tambahan yg terlarang dalam hutang-piutang yaitu tambahan yg dipersyaratkan sebelumnya, Seperti dengan perkataan ” Saya pinjami kamu uang sekian dengan syarat kamu kembalikan dengan tambahan sekian, atau kamu beri saya tumpangan nginap dirumahmu atau kamu beri aku nanti hadiah ini dan itu. Atau mungkin tidak ada syarat yg terucap denganya tapi tapi dalam hati ada maksud untuk diberi tambahan maka ini terlarang atau tidak boleh.

✅Namun, jika peminjam memberi dg suka rela ( tanpa diduga) dg keinginan pribadinya.tanpa ada syarat atau maksud atau harapan dari pemberi hutang, maka tambahan seperti ini boleh diambil, karena ini bagian dari cara pengembalian yg baik, dan dikarenakan dahulu nabi sholallohu alaihi wassalam pernah meminjam unta yg usianya muda kmudian beliau menggantinya dg yg lebih baik, dan sambil bersabda : 

“Sebaik – baik kalian adalah yg paling baik membayar hutang” Rowahu Imam Bukhariy.

📝Akhukum Fillah  Dikutip dari Mulakhos Fiqh Syeikh Fauzan Hafidzahulloh

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

🌷Kajian Figh Ringkas Diantara Syarat Sahnya Hutang Piutang

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada April 25, 2016

🌷Kajian Figh Ringkas

✅Diantara Syarat Sahnya Hutang Piutang :

1⃣ أن يكون المقرض ممن يصح تبرعه؛ فلا يجوز لولي اليتيم مثلا أن يقرض من مال اليتيم، 

2⃣ معرفة قدر المال المدفوع في القرض، ومعرفة صفته؛ ليتمكن من رد بدله إلى صاحبه؛ فالقرض يصبح دينا في ذمة المقترض، يجب عليه رده إلى صاحبه عندما يتمكن من ذلك من غير تأخير.

1⃣Bahwa pemberi pinjaman harus orang yg boleh (memiliki hak) untuk minjamkan harta. Maka wali yatim misalnya tidak boleh meminjamkan harta anak yatim asuhanya (karena wali ini tidak berhak).

2⃣ Mengetahui jumlah dan ciri- ciri serta sifat- sifat harta yg dipinjamkan. Agar pemimjam bisa mengembalikan gantinya sesuai yg dipinjamnya kepada pemiliknya.maka pinjaman ini akan menjadi hutang yg ditanggung peminjam.Dan peminjam wajib mngembalikan pinjaman tersebut jika telah mampu tanpa mengundur – undur.

📝Akhukum Fillah Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu dikutip dari mulakhos Fiqhih Syeikh Sholeh Fauzan Hafidzahulloh. Pada Group WA pesantren salaf online 

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

🌷Kajian Fiqh Ringkas : 🍃Bab Hutang dan Hukum- Hukumnya.

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Februari 16, 2016

🌷Kajian Fiqh Ringkas

🍃Bab Hutang dan Hukum- Hukumnya.

✅باب في أحكام القرض

✅القرض لغة: القطع؛ لأن المقرض يقطع شيئا من ماله يعطيه للمقترض،

✅وتعريفه شرعا: أنه دفع مال لمن ينتفع به ويرد بدله.

✅وهو من باب الإرفاق وقد سماه النبي صلى الله عليه وسلم منيحة؛ لأنه ينتفع به المقترض، ثم يعيده إلى المقرض.

✅والإقراض مستحب وفيه أجر عظيم؛ قالصلى الله عليه وسلم: “ما من مسلم يقرض مسلما قرضا مرتين إلا كان كصدقة مرة”، رواه ابن ماجه.

✅وقد قيل: إن القرض أفضل من الصدقة؛ لأنه لا يقترض إلا محتاج، وفي الحديث الصحيح: “من نفس عن مسلم كربة من كرب الدنيا؛ نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة”.

✅فالقرض فعل معروف، وفيه تفريج للضائقة عن المسلم، وقضاء لحاجته.

وليس الاقتراض من المسألة المكروهة؛ فقد اقترض النبي صلى الله عليه وسلم.

✅ Pengertian Hutang ( Al-Qardh) secara bahasa adalah Al-Qath’u yang berarti memotong. Seorang Yang memberi pinjaman memotong sebagian hartanya untuk diserahkan kepada orang yang meminjam,

✅Sedangkan secara istilah syar’i makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta  kepada orang lain yang akan memanfaatkannya kemudian orang tersebut mengembalikan  sebagai gantinya.

✅Pinjaman merupakan bentuk tolong menolong dan kasih sayang. Rosul Menamainya dengan Maniihah / Anugerah sebab peminjamnya mendapat manfaat kemudian mengembalikan kepada yg meminjamkan.

✅Memberi pinjaman hukumnya sunnah dan memperoleh pahala besar, Nabi SholalAlloh alaihi wassalam bersabda :

: “ما من مسلم يقرض مسلما قرضا مرتين إلا كان كصدقة مرة”، رواه ابن ماجه.

Artinya : Tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada sesamanya dua kali pinjaman. Melainkan seperti bersedekah satu kali kepadanya” Hadits Hasan Riwayat Ibnu Majah No 2430.

✅Bahkan ada yg menyebutkan pinjaman itu lebih utama dari sedekah , sebab seseorang tidak akan menghutang melainkan sangat butuh.

Dalam Hadits Shahih Disebutkan :

من نفس عن مسلم كربة من كرب الدنيا؛ نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة”

Artinya “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Alloh akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat” Hadits Riwayat Bukhariy No 2442.

✅Jadi Memberi pinjaman adalah perbuatan yg baik yg dapat menyelesaikan kesulitan sesama muslim dan memenuhi keperluanya. Meminjam bukanlah perbuatan meminta- minta yg tercela karena rosul sholallohu alaihi wassalam juga pernah melakukanya.

📝Akhukum Fillah Mahad Annashihah Cepu, Dikutip dari Kitab Mulakhos Fiqh Syeikh Sholeh Bin Fauzan Hafidzahulloh.

WA group Santri Online

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Seputar Hewan Qurban الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Oktober 9, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Hukum Qurban

Pengertian  Udh-hiyyah ( Hewan Qurban)

Qurban adalah hewan yang disembelih pada hari an-nahr (Idul Adha 10 dzulhijjah) dan (hari-hari tasyriq:11.12.13 Dzhulhijjah) dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Hukum Qurban
Bagi orang yang mampu, maka ia wajib melaksanakannya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa memiliki kemampuan dan tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami.” 

Segi pengambilan dalil dari hadits di atas yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang mampu dan tidak berkurban untuk mendekati tempat shalat, hal itu menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang wajib , seolah-olah tidak ada manfaatnya bagi hamba ini mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan shalat disertai meninggalkan kewajiban ini.

Dari Mukhaffaf bin Salim Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami berdiri di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di ‘Arafah, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya wajib atas setiap keluarga untuk melaksanakan kurban dan ‘atirah setiap tahun. Apakah kalian tahu apakan ‘atirah itu? Itulah yang dinamakan oleh manusia dengan rajabiyah.’” 

Namun ‘atirah telah dihapus dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Tidak boleh far’ dan atirah.”

(Far’ adalah anak pertama unta atau kambing yang disembelih oleh orang Jahiliyyah untuk persembahan kepada tuhan mereka. Sedangkan atirah ada-lah binatang yang mereka sembelih sebagai sesajen bagi tuhan mereka.Pent)

Dan dihapuskannya hukum Far dan  ‘atirah tidak mengharuskan dihapuskannya kurban juga (Sehingga Qurban Tetap Disyariatkan,Pent).

Dari Jundub bin Sufyan al-Bajali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Aku pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari raya kurban: ‘Barangsiapa menyembelih sebelum shalat (‘Idul Adh-ha), maka hendaklah ia menyembelih (hewan) lainnya sebagai gantinya. Dan barangsiapa belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih.’”

Hadits ini sangat jelas menunjukkan kewajiban kurban, terutama lagi karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengulanginya.

Apa Saja Yang Bisa Dijadikan Hewan Kurban?
Kurban tidak boleh kecuali dari sapi, kambing dan unta, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut Nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizqikan Allah kepada mereka [Al-Hajj: 34]

Unta Dan Sapi Cukup untuk Berapa Orang?
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tibalah hari raya kurban maka kami berpatungan, seekor unta untuk 10 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.”

Seekor Kambing Cukup Bagi Seorang Dan Keluarganya
Dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, ‘Bagaimanakan cara berkurban pada zaman Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Pada zaman Rasulullah, seseorang menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka memakannya dan memberi makan orang lain, kemudian manusia pun saling berbangga diri sehingga seperti yang engkau lihat sekarang.’

Binatang Yang Tidak Boleh Digunakan Untuk Berkurban
Dari ‘Ubaid bin Fairuz, ia berkata, “Aku berkata kepada al-Bara’ bin Azib, ‘Beritahukanlah kepadaku apa saja binatang kurban yang dibenci atau dilarang Rasulullah?’ Dia berkata, ‘Rasulullah mengisyaratkan dengan tangan beliau begini, namun tanganku lebih pendek daripada tangan beliau: ‘Ada empat binatang yang tidak boleh digunakan untuk kurban, yaitu (1) binatang yang sangat nampak kebutaannya, (2) binatang sakit yang sangat nampak sakitnya, (3) binatang pincang yang sangat jelas kepincangannya, serta (4) binatang tua yang tidak lagi bersum-sum.’”

Berkata ‘Ubaid, ‘Aku benci kalau binatang itu telinganya cacat’” Al-Bara’ berkata, “Apa yang engkau benci, tinggalkanlah, namun jangan haramkan atas orang lain.”

Kambing kacangan yang kurang dari setahun tidak sah untuk kurban, berdasarkan hadits al-Bara’ bin Azib, ia berkata, “Pamanku yang bernama Abu Burdah menyembelih sebelum shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Kambingmu itu hanya kambing untuk dimakan dagingnya saja.’ Lalu Abu Burdah berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai kambing kacangan yang umurnya kurang dari setahun, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sembelihlah, hanya saja tidak sah bagi selain engkau.’ Kemudian beliau bersabda,

‘Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri. Namun barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (‘Id), maka sungguh telah sempurna sembelihannya dengan mendapatkan sunnahnya kaum muslimin.’”

(Beberapa Baris Kami Diringkas Terjemahanya,Pent)

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Yatim Non Yatim Annashihah Cepu

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Zakat Fitrah, Hukum,Hikmah,Siapa Yang Diwajibkan,Ukuranya, Waktu Mengeluarkanya Dan Siapa Yang Menerimanya الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 31, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz Zakat Fitrah Setelah Puasa Ramadhan

Hukumnya Zakat Fitrah:
Zakat fitrah, hukumnya wajib atas setiap muslim, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas orang yang merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan, besar maupun kecil dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan shalat (‘Idul Fithri).” (Muttafaq ‘alaih) 

Hikmahnya :
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, Beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ‘Id fitri, maka ia zakat yang diterima. Dan barang-siapa yang mengeluarkannya setelah shalat maka itu termasuk sedekah dari sedekah biasa” Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 148 da Lainya

Kepada Siapa Diwajibkan
Zakat fitrah diwajibkan atas seorang muslim yang merdeka yang memiliki kelebihan dari bahan makanan pokok untuk diri dan keluarganya selama sehari semalam, maka wajib baginya mengeluarkan zakat untuk dirinya dan untuk orang-orang yang didalam tanggung jawabnya, seperti isteri, anak-anak, dan budaknya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak kecil dan dewasa, orang merdeka, dan budak yang kalian beri nafkah.”Irwaa-ul Ghaliil no. 835 dan Lainya

Ukuran Zakat Fitrah
Setiap orang wajib mengeluarkan setengah sha’ dari qamh (gandum) atau satu sha’ dari kurma atau kismis atau sya’ir (gandum), keju atau bahan makanan yang lain yang semisal dengan yang tadi, seperti beras, jagung dan yang lainnya yang termasuk makanan pokok.

(Pent: Satu Sha’=empat mud=diperkirakan satu cakupan dua telapak tangan yang perawakan sedang= sekitar 2.04kg sampai 3kg sebagaimana pendapat syeikh Utsaimin rahimahulloh dan Lajnah Daimah Saudi Arabia  )

Adapun tentang wajibnya mengeluarkan setengah sha’ dari qamh (Gandum Berkualitas Tinggi), maka berdasarkan hadits ‘Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu, bahwasanya Asma’ binti Abi Bakar Radhiyalahu anhu mengeluarkan zakat pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk keluarganya -baik yang merdeka ataupun budak -sebanyak dua mud hinthah (gandum) atau satu sha’ kurma dengan ukuran sha’ dan mud yang mereka biasa gunakan pada masa itu. Ath-Thahawi (II/43)

Sedangkan tentang wajibnya mengeluarkan satu sha’ dari bahan makanan selain qamh (Gandum Berkualitas Tinggi), berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, Beliau berkata, “Kami selalu mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ makanan atau satu sha’ sya’ir atau satu sha’ kurma atau satu sha’ keju atau satu sha’ kismis.” Muttafaq ‘alaihi

Dan kebanyakan ulama melarang mengeluarkan harga (Uang Kertas) dari zakat fitrah tersebut, sedangkan Abu Hanifah membolehkan hal ini. Masalah ini disebutkan oleh an-Nawawi di dalam kitab Syarah Shahiih Muslim (VII/60).

Saya (pngarang kitab) katakan “Pendapat Abu Hanifah ini tidak bisa diterima, karena Allah tidak akan pernah lupa, jika nilai harga dari zakat fitrah bisa mencukupi, niscaya Allah dan Rasul-Nya akan menerangkan hal tersebut. Dan wajib atas setiap muslim untuk memahami dalil sesuai dengan dhahirnya, tanpa diubah dan di ta’wil”

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz Zakat Fitrah Waktu Penyerahan Dan Kepada Siapa

Waktu Mengeluarkannya:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Belaiu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar zakat fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan shalat (‘Idul Fithri). (Muttafaq ‘alaih) 

Boleh menyerahkannya kepada amil zakat lebih cepat sehari atau dua hari dari hari Idul Fithri.

Diriwayatkan dari Nafi’ Beliau berkata “Ibnu ‘Umar menyerahkan zakat fitrah kepada panitia zakat, kemudian mereka membagikannya sehari atau dua hari sebelum hari ‘Idul Fithri.” Rowahu Shahih Bukhari

Dan diharamkan mengakhirkan pengeluarannya (Setelah Sholat Ied) dari waktunya dengan tanpa ada udzur.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tak berguna dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Sehingga barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ‘Id, maka ia zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang mengeluarkannya setelah shalat, ia menjadi sedekah biasa.” Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 148 da Lainya

Orang yang Berhak Menerimanya
Zakat fitrah tidak boleh diberikan kecuali kepada orang miskin, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,

“Dan zakat fitrah sebagai makanan bagi orang-orang miskin”Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 148 da Lainya

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Cepu.

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Berpuasa الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 8, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz  Waktu Waktu Dilarang Puasa

Waktu – Waktu Terlarang Dari Puasa Atasnya: 

1. Hari Raya Yang Dua
Dari Abu Ubaid bekas budak Ibnu Azhar dia berkata “Saya pernah menghadiri  hari raya bersama Umar bin Khattab Radhiallohuanhu lalu Beliau berkata “Ini adalah dua hari yang Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam melarang puasa pada keduanya yaitu hari kamu berbuka( iedul fitri) dari puasamu dan hari yang lain yaitu (hari) di mana kamu sekalian makan dari sembelihan kurbanmu.” (Muttafaqun’alaih .

 

2. Hari-Hari Tasyriq (1-3 hari setelah kurban)

Dari Abu Murrah bekas budak Ummu Hani  bahwa ia pernah bersama Abdullah bin Amr masuk ke rumah bapaknya, Amr bin ‘Ash Radhiallohuanhu lalu ia menyuguhi makanan kepada mereka berdua seraya berkata: “Makanlah!” Jawab Abdullah bin Amr,  saya sedang berpuasa, “Maka Amr mengulangnya “Makanlah, karena ini adalah hari-hari yang Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam memerintah kita untuk berbuka dan melarang kita berpuasa padanya.” Malik Menjelaskan “Yaitu hari-hari tasyriq.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2113).

Dari Aisyah dan Ibnu Umar Radhiallohuanhu keduanya mengatakan “Tidak diberi keringanan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan binatang sebagai sembelihan. (Shahih: Shahih Mukhtashar Bukhari 978 )

3. Puasa di Hari Jum’at Bersendirian
Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu ia berkata, Saya pernah mendengar Nabi Sholollohualaihi Wassalam bersabda “Janganlah seorang diantara kamu beribadah puasa pada hari Jum’at, kecuali dengan sehari sebelum atau sesudahnya” (Muttafaqun ‘alaih).

4. Puasa di hari Sabtu Bersendirian

Dari Abdullah bin Bisr Assilmi dari dari saudaranya Ash Shamak Radhiallohuanhu bahwa Nabi Sholollohualaihi Wassalam bersabda“Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali apa yang telah diwajibkan atas kalian dan, jika seorang di antara kalian tidak mendapatkan kecuali kulit sebutir buah anggur atau dahan pohon maka kunyahlah” (Shahih Tirmidzi II: 123 Dan Lainya).

5. Setelah (Pertengahan) dari bulan Syaban bagi orang yang tidak biasa mengerjakannya
Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda “Jika bulan Syaban sampai pada pertengahan, maka janganlah kalian berpuasa” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1339 Dan Lainya).

Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda “Janganlah sekali-kali seorang diantara kamu berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali bagi orang biasa yang melakukan puasa tersebut, maka berpuasalah pada hari itu” (Muttafaqun’alaih Dan Lainya).

6. Hari yang diragukan
Dari ‘Ammar bin Yasir Radhiallohuanhu ia berkata, “Barang siapa yang berpuasa pada hari yang masih diragukan (Belum Jelas Munculnya Hilal) maka sungguh ia telah durhaka kepada Abul Qasim Sholollohualaihi Wassalam

” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:961 dan Lainya). 

7. Puasa sepanjang tahun, sekalipun berbuka pada hari-hari yang dilarang berpuasa padanya 
Dari Abdullah bin Amr Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah bersabda kepadaku   Sholollohualaihi Wassalam

“Ya Abdullah bin Amr, sesungguhnya di malam hari, sesungguhnya jika engkau melaksanakan hal itu, berarti engkau telah menyerang dan menyiksa mata untuknya. Tidak ada puasa bagi orang yang berpuasa selama-lamanya.” (Muttafaqun’alaih ).

Dari Abu Qatadah bahwa ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi  Sholollohualaihi Wassalam bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara engkau berpuasa?” Seketika itu, Rasulullah marah terhadap pertanyaannya. Kemudian tatkala Umar melihat sikap beliau itu, ia berkata “Kami ridha Allah sebagai Rabb , Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami; kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya dan dari murka Rasul-Nya” Umar terus mengulang-ulang pernyataan tersebut hingga amarah Rasulullah  Sholollohualaihi Wassalam mereda. Kemudian ia Umar berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana tentang orang berpuasa terus menerus?” Maka jawab beliau, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka.”(Shahih: Shahih Abu Daud no: 2119 Dan Lainya).

8. Wanita dilarang melakukan puasa sunnah, Ketika suaminya dirumah, kecuali mendapat izin dari suaminya 

Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu  bahwa Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda “Janganlah seorang isteri berpuasa ketika suaminya di rumah, kecuali mendapat izin darinya.” (Muttafaqun’alaih)

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Cepu

 

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Cara Menetapkan Awal Ramadhan (Cukup Satu Saksi Adil) dan Awal Syawal (Minimal Dua Saksi Adil), Serta Anjuran Untuk Menjaga Persatuan Dengan Berhari Raya Bersama Pemerintah الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 6, 2013

 

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz Anjuran Berhari Raya Dengan Pemerintah

Dengan Apa  Menetapkan Awal Bulan Ramadhan Dan Syawal

Ditetapkanya awal bulan Ramadhan  dengan melihat hilal tanggal satu bulan Ramadhan walaupun hanya bersumber dari satu orang laki-laki yang adil, terpercaya, atau dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari  

Dari Ibnu Umar Radhiallohuanhu berkata, “Orang-orang pada memperhatikan hilal bulan Ramadhan, lalu saya informasikan kepada Rasulullah bahwa sesungguhnya saya telah melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintah segenap sahabat untuk berpuasa.“ (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 908).

 Jika hilal bulan Ramadhan tidak terlihat karena tertutup mendung atau semisalnya, maka hendaklah menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, berdasar hadits riwayat Abu Hurairah di yang lampau.

Adapun hilal bulan Syawal  maka tidak boleh ditetapkan  kecuali dengan dua orang saksi laki-laki yang adil

Dari Abdurrahman bin Zaid bin Khattab, bahwa ia pernah berkhutbah pada hari yang masih diragukan  ia berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya aku pernah duduk dan bertanya kepada para sahabat Rasulullah , lalu mereka menyampaikan kepadaku bahwa Rasulullah  bersabda, “Berpuasalah kamu bila sudah melihat hilal (bulan Ramadhan), dan berbukalah kamu bila sudah melihat hilal (bulan syawal), serta beribadahlah (maksudnya: berhajjah atau berkorbanlah). Padanya. Jika mendung menyelimuti kamu, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari. Dan jika ada dua orang muslim yang menyaksikan , maka hendaklah kamu berpuasa dan berbukalah( Syawal)” (Shahihul Jami’us Shaghir no:3811).

Peringatan:

Barang siapa yang melihat hilal satu Ramadhan atau syawal, sendirian maka ia tidak diperbolehkan berpuasa sebelum masyarakat kaum muslimin berpuasa dan tidak pula dan tidak pula berbuka hingga masyarakat berbuka.

Hal ini didasarkan pada hadits dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu bahwa Nabi Sholollohualaihi Wassalam  bersabda, “Puasa adalah pada hari kamu sekalian berpuasa, berbuka/idul fitri adalah pada hari kamu sekalian berbuka, dan hari kurban adalah hari kamu sekalian menyembelih binatang korban.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3869 Dan lainya)

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Anjuran I’tikaf, Lailatul Qadr, Sepuluh Hari Terakhir Dibulan Ramadhan(Ini membantah pemahaman sebagaian organisasi yang tidak meyakini Adanya Lailatul Qadr pada zaman sekarang) الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 5, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz  I'tikaf Ramadhan

I‘tikaf

I‘tikaf di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan merupakan termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan, karena melewati malam tersebut dengan kebaikan dan demi mendapatkan Lailatul Qadr 

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya al-qur’an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat, terutama malaikat Jibril dan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Al-Qadr Ayat 5.

Dari Aisyah Radhiallohuanha berkata, adalah Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam beri’tikaf pada ahkir  bulan ramadhan Ramadhan, dan beliau bersabda “Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan”(Shahih: Mukhtashar Bukhari  Dan Lainya).

 Dari (Aisyah) Radhiallohuanha bahwa Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam bersabda”Carilah lailatul qadr pada  bilangan yang ganjil di sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan!” (Muttafaqun’alaih )

Adalah Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam  sangat menganjurkan dan amat menekankan shalat malam di malam lailatul qadr, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiallohuanha Nabi

Sholollohualaihi Wassalam  bersabda“Barangsiapa yang shalat malam di malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala di sisi Rabnya, niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun’alaih)

I’tikaf harus dilaksanakan di masjid, berdasar firman Allah Ta’ala “Janganlah kamu campuri mereka itu, padahal kamu sedang beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah: 187).

Dan, karena Rasulullah Sholollohualaihi Wassalam  senantiasa beri’tikaf di masjid.

Dianjurkan bagi orang yang i’tikaf (mu’takif, Pent)agar menyibukkan diri dengan berbagai ketaatan keapda Allah, seperti shalat, membaca Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istiqhfar, shalawat, do’a, kajian ilmu, dan semisalnya.

Orang yang i’tikaf dianggap makruh menyibukkan dirinya dengan perkataan atau perbuatan yang tidak berguna, sebagaimana ia dipandang makruh juga menahan diri tidak berbicara karena menyangka bahwa yang demikian itu termasuk dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala

Bagi orang yang i’tikaf diperbolehkan keluar dari tempat i’tikafnya  manakala ada hajat yang harus dilakukan, sebagaimana ia dibolehkan menyisir dan menggundul rambutnya, memotong kukunya dan membersihkan badannya.

I’tikaf akan menjadi batal karena sang mu’takif keluar dari masjid tanpa ada hajat atau karena menggauli isterinya

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu

Posted in Ringkasan Fiqih | 1 Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Apakah Boleh Membasahi Kepala Dengan Air, Gosok Gigi, Berbekam,Obat Tetes Mata Dllالوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 4, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz  perkara perkara yang dibolehkan ketika Berpuasa Ramadhan

Apa-Apa Yang Dibolehkan Bagi Yang Sedang Berpuasa :

1. Mandi agar segar

Dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari sebagian sahabat Nabi Sholollohu Alaihi Wassalam Bersabda “Sungguh saya benar-benar pernah melihat Rasulullah di daerah Arj  beliau menuangkan air diatas kepalanya padahal beliau berpuasa karena haus dahaga atau karena suhu sangat panas.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2072).

2. Berkumur-kumur dan istinsyaq secukupnya
Dari Luqaith bin Shabirah Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Sholollohu Alaihi Wassalam

bersabda “Bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq (Memasukan Air Ke Hidung) kecuali bila kamu berpuasa!” (Shahih Abu Daud no: 129).

3. Bekam 
Dari Ibnu Abbas Radhiallohuanhu  ia bersabda “Nabi Sholollohu Alaihi Wassalam  pernah berbekam di saat beliau berpuasa” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2079).

Dan dipandang makruh bagi orang yang khawatir lemah fisiknya karena berbekam :

Dari Tsabit al-Banani, ia berkata: Anas bin Malik Sholollohu Alaihi Wassalam pernah ditanya, “Apakah kamu memandang makruh berbekam bagi orang yang sedang beribadah puasa?” Dijawab, “Tidak, kecuali kalai dikhawatirkan mengakibatkan lemahnya fisik. (Fathul Bari IV: 174 no:1940) Dan Juga Hukum berbekam ini sama dengan hukum donor darah jika seorang penyumbang darah khawatir lemah, maka dia tidak melaksanakannya di siang hari kecuali  dalam kondisi sangat darurat

4. Mencium dan bermesraan dengan isteri bagi yang mampu mengendlaikan nafsunya
Dari Aisyah Radhiallohuanhu ia berkata, “Adalah Nabi Sholollohu Alaihi Wassalam

 sering mencium dan bermesraan dengan isterinya ketika berpuasa; namun  beliau adalah orang yang paling kuat di antara kalian dalam mengendalikan nafsunya.” (Muttafaqun ‘alaih Dan Lainya).

5. Memasuki waktu shubuh dalam keadaan junub
Dari Aisyah Radhiallohuanhu dan Ummu Salamah Radhiallohuanhu  bahwa Rasulullah Sholollohu Alaihi Wassalam pernah mendapati waktu shubuh dalam keadaan junub karena selesai berhubungan dengan isterinya, kemudian Beliau mandi junub, lantas berpuasa”. (Muttafaqun ‘alaih Dan Lainya).

6. Menyambung puasa sampai tiba waktu sahur 
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallohuanhu bahwa ia mendengar Rasulullah Sholollohu Alaihi Wassalam bersabda, “Janganlah kamu menyambung puasa; barang siapa diantara kalian yang ingin menyampung puasa, maka sambunglah puasanya sampai tiba waktu sahur, “Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, namun Engkau  mengerjakan puasa wishal?! Jawab Beliau, “Aku tidak sama seperti kalian; sesungguhnya saya tidur malam, sedangkan saya ada pemberi makan yang memberiku makan dan pemberi minum yang memberiku minum.” (Shahih : Fathul Bari IV:208 Dan Lainya).

7. Membersihkan mulut dengan menggunakan siwak, memakai wangi-wangian, minyak rambut, celak mata, obat tetes, dan suntikan.

Dasar dibolehkannya beberapa hal di atas adalah kembali kepada hukum asal, bahwa segala sesuatu pada asalnya boleh. Kalau ada beberapa hal yang termaktub di atas terkategori sesuatu yang diharamkan atas orang yang berpuasa, niscaya Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskannya..

Allah berfirman, “Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam ayat 64)

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu.

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam: Adab-Adab Puasa Ramadhan (Sahur, Doa Buka Yang Shahih,Tadarus Alquran, Menahan Dari Sesuatu Yang Tak Bermanfaat Dan Ahklak Buruk Lainya)الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 4, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz Adab-Adab  Berpuasa Ramadhan

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz  Do Buka Puasa

Dianjurkan Bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan adab-adab berikut ini :

1. Santap Sahur 
Dari Anas Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam bersabda,“Sahurlah  karena di dalam  sahur itu terdapat barakah” (Muttafaqun ‘alaih DanTirmidzi II: 106 no: 703 Dan Lainya).

Makan Sahur  dianggap sudah dianggap walaupun dengan seteguk air, berdasar hadits dari Abdullah bin Amr Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam

bersabda, “Bersahurlah, walaupun hanya dengan seteguk air “(Shahi: Sahihul Jami’us no:2945 dan Sahih Ibnu Hibban ). 

Dianjurkan  mengakhirkan  makan sahur, sebagaimana ditegaskan dalam hadits, dari Anas dari Zaid bin tsabit

Radhiallohuanhu ia berkata: Kami pernah makan sahur bersama Nabi , kemudian beliau mengerjakan shalat, lalu aku bertanya  “Berapa lama antara waktu adzan dengan waktu sahur?”  Beliau Menjawab “Sebanding dengan membaca lima puluh ayat. “(Muttafaqun ‘alaih  Dan Lainya).

Apabila kita mendengar suara adzan, sementara makanan atau minuman berada di tangan, maka hendaknya melanjutkan memakan atau meminumnya. Ini sebagaimana hadits, dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu

 bawah Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam bersabda, “Apabila seorang diantara kamu mendengar suara adzan , sedangkan bejana berada ditangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga ia memenuhi kebutuhannya.”(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 607 Dan Lainya).

2. Menahan diri agar  tidak  melakukan  perbuatan  yang  sia-sia,  perkataan  kotor dan  semisalnya yang termasuk hal-hal yang bertentangan dengan ma’na puasa 
Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam

bersabda “Apabila seorang diantara kamu bepuasa, maka janganlah mengeluarkan perkataan kotor, jangan berteriak-teriak dan jangan pula melakukan perbuatan jahiliyah jika ia dicela atau disakiti oleh orang lain maka katakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa,” (Muttafaqun ‘alaih Dan Lainya). 

Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu  bawah Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam

bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan pelaksananya, maka tidak ada gunanya ia meninggalkan makan dan minumnya” (Shahih: Mukhtashar Bukhari no:921) 

3. Rajin melaksanakan berbagai kebajikan dan membaca al-Qur’an (saling menyemak)
Dari Ibnu Abbas Radhiallohuanhu

  ia berkata, “Adalah Nabi Shalollohu alaihi wassalam orang yang paling dermawan dalam hal kebajikan, lebih dermawan lagi manakal Beliau berada dalam bulan Ramadhan ketika bertemu dengan malaikat Jibril. Malaikat Jibril alaihisalam bertemu dengan beliau setiap malam pada bulan Ramadhan sampai akhir bulan, Nabi  membaca al-Qur’an di hadapannya. Maka apabila Beliau bertemu dengan Jibril , beliau menjadi orang yang lebih dermawan dalam hal kebaikan daripada angin kencang yang dihembuskan” (Muttafaqun ‘alaih).  


4.  Segera Berbuka
 

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallohuanhu bahwa Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam

 bersabda “Orang-orang senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih dan Lainya). 


5. Berbuka seadanya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut  ini:
Dari Anas Radhiallohuanhu ia berkata, “Adalah Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam

biasa berbuka dengan beberapa biji ruthab =kurma masak , sebelum shalat maghrib; jika tidak ada maka memakan kurma kering ,Jika tidak mendapati pula maka Beliau minum beberapa tegukan air.” (Hasan  Shahih Abu Daud no:2065,Dan Lainya). 


6. Membaca doa ketika akan berbuka sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut :

Dari Ibnu Umar Radhiallohuanhu berkata,

“Adalah Rasulullah Shalollohu alaihi wassalam apabila akan berbuka mengucapkan “

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

DZAHABA DZHOMA’U WABTALLATIL  URUUKU WA TSABATAL AJRU INSYAA ALLAH”

artinya Telah hilang rasa haus dahaga dan telah basah urat tenggorokan, dan semoga tetaplah pahala  insya Allah).” (Hasan Shahih Abu Daud no:2066 Dan Lainya). 

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam:Pembatal-Pembatal Puasa Ramadhan الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 3, 2013

Kitab Alwajiz Fi Figh Sunnah Wal Kitabil Aziz Pembatal Pembatal Puasa Ramadhan

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA ITU ADA ENAM

1 dan 2. Makan dan minum dengan sengaja.

Maka jika makan atau minum karena lupa, maka yang bersangkutan tidak wajib mengqadha’nya dan tidak perlu membayar kafarah.

Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu bahwa Nabi Sholollohualaihi wassalam. bersabda:

 “Barangsiapa lupa, padahal ia berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya,  karena sesungguhnya ia diberi makan dan minum oleh Allah.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:6573, Muslim II,809 )

3. Muntah dengan sengaja

Maka jika seseorang terpaksa muntah, maka ia tidak wajib mengqadha’nya dan tidak usah membayar kafarah. 

Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu bahwa Nabi Sholollohualaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang terpaksa yang terpaksa muntah, maka tidak ada kewajiban qadha’ atasnya dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka haruslah mengqadha” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 6243, Tirmidzi II: 111 no: 716).

4 dan 5. Haidh dan nifas, walaupun itu terjadi mendekati waktu menghrib. Hal ini berdasar ijma’ ulama atas perkara ini

6. Jima’, yang karenanya orang yang bersangkutan wajib membayar kafarah sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut  :  

Dari Abu Hurairah Radhiallohuanhu berkata, tatkala kami sedang duduk-duduk di samping Nabi Sholollohualaihi wassalam, tiba-tiba ada seorang laki-laki  bertutur, “Ya Rasulullah saya celaka,” Beliau bertanya, “Ada apa?” Jawabnya, “Saya berjima’ dengan isteriku, padahal saya sedang berpuasa (Ramadhan), “Maka sabda Rasulullah “Apakah engkau mampu memerdekakan seorang budak?” Jawabnya, “Tidak” Beliau bertanya (lagi),“Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Jawabnya “Tidak” Beliau bertanya (lagi),“Apakah engkau mampu memberi makan enampuluh orang miskin? “Jawabnya “Tidak”. Maka kemudian Nabi diam termenung ketika kami sedang duduk termenung, tiba-tiba dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma kering. Lalu beliau bertanya, “Di mana orang yang tanya itu?” Jawabnya “Saya ya Rasulullah. “Sabda Beliau  “Bawalah sekeranjang kurma ini, lalu shadaqahkanlah (kepada orang yang berhak).” Maka (dengan terus terang) laki-laki itu berujar, “Akan kuberikan kepada orang yang lebih fakir daripada saya ya Rasulullah ? sungguh, di antara dua perkampungan itu tidak ada keluarga yang lebih fakir daripada keluargaku,” Maka kemudian Rasulullah  tertawa hingga tampa gigi taringnya. Kemudian beliau bersabda kepadanya, “(Kalau begitu), berilah makan dari sekeranjang kurma ini kepada keluargamu.” (Muttafaqun ‘alaih , Tirmidzi II : 113 no: 720 dan lainya)

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu

Posted in Ringkasan Fiqih | Leave a Comment »

Kumpulan Ringkasan Fiqih Islam:Rukun Puasa (Disyariatkan Berniat Tapi Tidak Dilafadzkan Sebagaimana Dilakukan Sebagian Kalangan Dan Cukup “Nawaitu” itu ditekankan Dihati) الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu pada Juli 2, 2013

Rukun Puasa Ramadhan Kitab Ringkasan Fiqh

RUKUN PUASA :

1.Niat, ini Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala “Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalankan) agama dengan lurus.”(Al-Bayyinah:5).  Dan sabda Nabi Sholollohualaihi Wassalam “Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang telah diniatkannya.”(Muttafaqun ‘alaih). 

Niat yang tulus ini harus ditekankan dalam hati sebelum terbit fajar shubuh setiap malam (Tapi Tidak Dilafadzkan Sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin, Akan tetapi niat tempatnya dihati,pent). Hal ini ditegaskan dalam hadits dari Hafshah Radhiallohuanha bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menetapkan niat puasa sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 6538).

2.Menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai  malam.(Al-Baqarah: 187)

Dan Pembatal-Pembatal Puasa Itu Ada Enam Yaitu:

(Makan dan Minum Dengan Sengaja,Muntah,Jima’,Haid, Nifas, Pent)

Wallohu A’lam Bishowab

Abu Amina Aljawiy

Mahad Annashihah Cepu’

Posted in Ringkasan Fiqih | 1 Comment »